Selasa, 07 November 2006

Banser Diminta Aktif Bantu Jaga Ketertiban Wilayah

Tegal, Santri An Nur Slawi

Komandan Satkorcab Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Tegal Zaeni Mashadi meminta anggota Banser untuk berperan aktif membantu ketertiban di wilayah masing-masing. Hal itu ditegaskan Zaeni saat pertemuan Rutin Banser se-Kabupaten Tegal di Desa Padasari Kecamatan Jatinegara, Selasa (14/11) lalu.

Banser Diminta Aktif Bantu Jaga Ketertiban Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Diminta Aktif Bantu Jaga Ketertiban Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Diminta Aktif Bantu Jaga Ketertiban Wilayah

"Untuk itu, Banser harus selalu koordinasi dengan aparat terkait yakni Kepolisian Sektor dan Koramil setempat. Dan kepada pak Camat, saya titip untuk membimbing dan mengemong (membina.red) Banser Jatinegara," tandas Zaeni.

Menurut Zaeni, ada PR besar bagi Ansor dan Banser, khususnya di Jatinegara, yakni adanya satu desa di Kecamatan Jatinegara yang masyarakatnya tidak ada Shalat Jumat.?

"Ini menjadi perhatian kita (Banser). Banser harus mendirikan tenda di sana, untuk bersama berjuang, berdakwah supaya masyarakat seneng ngaji dan jamaah shalat," ujar Zaeni.

Santri An Nur Slawi

Zaeni juga meminta, Banser sebagai pemuda inti Ansor untuk terus menjaga kekompakan dan soliditas.

"Banyak sekali isu-isu di media sosial ini yang harus dihadang oleh kita semua. Banser harus tetap kompak dan solid menjaga ulama, NU dan NKRI," tegas Zaeni

Sekretaris Camat Jatinegara Abdul Basit yang hadir dalam kesempatan itu menyampaikan, Banser dapat berperan aktif dalam mensukseskan dan mendukung program pemerintah Kabupaten Tegal.

"Jadilah corong yang bersinar untuk menjadi garda depan dalam mendukung program pemerintah," ujar Abdul Basit.

Santri An Nur Slawi

Sementara itu, Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Jatinegara, KH Tasripin Salim mengungkapkan, laron itu selalu mengelilingi cahaya yang terang. Kalau cahayanya redup, laron itu akan menjauh mencari cahaya yang terang.

"Itu sebuah ibarat, Banser sekarang ini cahaya yang di kelilingi laron dimana sekarang Banser itu sedang bersinar," ungkapnya mengibaratkan.

Hadir dalam rutinan Banser tersebut Satkorcab Banser Kabupaten Tegal, Badan Otonom NU Kecamatan Jatinegara dan perwakilan Satkoryon Banser se-Kabupaten Tegal. (Hasan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Anti Hoax, Internasional Santri An Nur Slawi

Selasa, 24 Oktober 2006

Mahfud MD dan Ahmad Dani, Jajaran Nama Beken Pengurus Lembaga NU

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Sejumlah nama yang beken dan akrab di telinga publik ternyata masuk dalam struktur kepengurusan PBNU. Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) diisi oleh sejumlah nama orang yang sering muncul di layar kaca seperti Ahmad Dani, Opick, Puput Novel, Arzeti Bilbina selain penyair seperti Acep Zamzam Noer, dan lainnya.?

Mahfud MD dan Ahmad Dani, Jajaran Nama Beken Pengurus Lembaga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfud MD dan Ahmad Dani, Jajaran Nama Beken Pengurus Lembaga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfud MD dan Ahmad Dani, Jajaran Nama Beken Pengurus Lembaga NU

Mantan Ketua MK Mahfudh MD juga masuk dalam struktur kepengurusan Lembaga Pelayanan dan Bantuan Hukum (LPBHNU) sebagai penasehat. Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi M Nasir bahkan menjadi ketua Lembaga Pendidikan Tinggi (LPTNU) sedangkan Menteri Desa Marwan Jakfar menjadi ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU). Belum lagi sejumlah tokoh NU yang menjadi anggota DPR, komisioner atau lembaga negara lain.

KH Said Aqil Siroj menjelaskan, para tokoh yang masuk dalam berbagai lembaga NU tersebut sejak awal tidak diniatkan untuk aktif dalam operasional kegiatan lembaga, tetapi lebih pada bantuan pemikiran atas pengalaman yang mereka miliki serta aksesnya yang luas.?

Santri An Nur Slawi

“Yang paling penting adalah aksesnya, yang di lapangannya nanti wakil-wakilnya sehingga program kita bisa berjalan,” tandasnya.

Ia menjalaskan, M Nasir dijadikan ketua LPTNU karena salah satu program penting PBNU saat ini adalah pengembangan universitas NU sehingga ia diharapkan mampu membantu dalam hal pemikiran atau saat berhubungan dengan pemerintah.?

Santri An Nur Slawi

“Tentu dengan tidak melanggar ketentuan UU,” tandas Kiai Said.

Mengenai banyaknya pengurus lembaga yang berasal dari daerah, hal ini dilakukan agar lembaga serupa yang ada di daerah bisa jalan.?

“Kalau ada pengurus Lembaga Ekonomi di daerah bisa cepat komunikasi dengan lembaga di tingkat PW dan PC jika ada program ekonomi. Ini bukan untuk menyaingi kepengurusan di daerah, tapi untuk membangun sinergi,” tuturnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail, Doa, Jadwal Kajian Santri An Nur Slawi

Rabu, 20 September 2006

Kiai Muzani Bunyamin dan Kafarat Ucapan ‘Bodoh’

Sore itu seorang guru dipanggil Kiai Muzani. Suasana pesantren berubah sedikit tegang. Ada kecemasan di wajah guru yang dipanggil itu. Ketika guru itu telah sampai di ndalem kiai, Ia duduk sembari menundukkan kepalanya. Kakinya tidak bersila, tapi menyamping seperti posisi duduk perempuan.

Tak lama kemudian, Kiai Muzani keluar dari ruang tengah membawa nampan yang berisi dua piring nasi dan dua gelas teh hangat. Beliau duduk di hadapan santri yang telah menjadi guru itu dan menyodorkan nampan itu.

Kiai Muzani Bunyamin dan Kafarat Ucapan ‘Bodoh’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Muzani Bunyamin dan Kafarat Ucapan ‘Bodoh’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Muzani Bunyamin dan Kafarat Ucapan ‘Bodoh’

Monggo didahar, kang—silahkan dimakan, kang,” ujarnya dengan lembut.

Kulo sampun.—saya sudah,”jawabnya terbata-bata.

Mboten kerso tho dahar sareng kulo?—tidak berkenan makan bersama saya?”tanya Kiai Muzani dengan tersenyum.

Santri An Nur Slawi

Monggo didahar—silahkan dimakan,”lanjutnya sembari menggeser satu piring nasi itu di depan santrinya.

Nggih Kiai—baik kiai,”santri yang telah menjadi guru dan pengurus pondok itu makan dengan penuh ketidak-nyamanan.

Setelah selesai makan, Kiai Muzani bertanya: “Benar tadi pagi njenengan mengumbar kata ‘bodoh’ pada salah seorang santri yang tidak lancar menyetorkan hafalannya?”

Santri An Nur Slawi

“Benar, Kiai,” jawabnya terbata-bata.

“Jangan lakukan itu lagi,” kata Kiai Muzani. “Dalam proses belajar, kita tidak boleh mengumbar kata ‘bodoh’. Para santri itu orang yang sedang berporses, dari kurang tahu menjadi sedikit tahu, kemudian bertambah pengetahuannya. 

Ada yang cepat, ada pula yang lambat. Jika seorang guru, seperti njenengan, dengan mudah mengatakan muridnya bodoh, apa artinya pengajaran dan pendidikan?”

Santri itu diam, tertunduk tanpa berani memandang wajah kiainya. “Perlu diingat, tidak ada orang bodoh, yang ada hanya orang yang sedang berusaha menghilangkan kebodohannya.

Jadi, jangan dilakukan lagi, ya? Memberikan label bodoh kepada mereka, sama saja dengan mengendurkan keinginan belajar mereka,” ujarnya perlahan dan jelas. “Tapi ya, karena sudah terlanjur, njenengan harus pilih kafaratnya, sedekah atau puasa.”

Puasa mawon, Kiai—puasa saja, Kiai,” katanya dengan kepala masih tertunduk.

“Baik, tapi ada syaratnya, buka dan sahurnya harus bersama saya di sini,” ucap Kiai Muzani dengan senyum yang terus mengembang.

Santri itu hanya menunduk, tak mampu berkata apa-apa lagi. Di wajahnya menampakkan rasa malu dan segan yang luar biasa.

Jauh-jauh hari, ketika masih menjadi santri di Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Kebumen, saya sering mendengar Romo Kiai Muzani dawuh: “Pesantren itu bukan sekedar tempat pengajaran, tapi tempat pendidikan.

Karenanya pesantren menerima semua orang. Anak nakal ketika masuk pesantren diharapkan kenakalannya bisa berkurang. Anak baik-baik ketika masuk pesantren diharapkan kebaikannya bertambah.

Maka dari itu, untuk para ustadz, hati-hatilah dalam mendidik dan mengajar, jangan sampai kata-kata ‘bodoh’ dan ‘nakal’ keluar dari kemarahan kalian. Jika ada yang melakukannya, harus bayar kafarat. Bukan sebagai kewajiban hukum, tapi kewajiban moral kita sebagai pendidik, bahwa untuk sesaat kita telah lalai dan marah, sehingga mengeluarkan kata-kata tak bijak semacam itu.”

Di waktu lain, beliau dawuh: “Ucapan ‘bodoh’ itu bisa menjadi pemutus keinginan belajar santri. Dikhawatirkan Ia akan memandang belajar tidak lagi berguna, toh saya orang bodoh, tidak ada harapan untuk saya, guru agama saya sendiri memvonis saya sebagai orang bodoh.

Jika itu terjadi, kita telah mencegah kewajiban thalâb al-‘ilm (menuntut ilmu). Jangan sampai tindakan dan ucapan kalian sebagai guru, menjadi benih keputus-asaan murid dalam menuntut ilmu.”

Kiai Muzani menerapkan kebijakan kafarat tidak lain sebagai pendidikan spiritual untuk para guru di pesantrennya. Selama mereka tinggal di pesantren, mereka adalah santri yang memerlukan pendidikan. Karena itu, Kiai Muzani biasanya mendampingi pelaksanaan kafarat santri atau puteranya sendiri yang kadung melontarkan kata-kata itu.

Jika mereka memilih kafarat puasa, maka Kiai Muzani akan berpuasa bersama mereka. Ini adalah bentuk pendidikan yang diterapkan Kiai Muzani sebelum melepas para guru itu di lingkungannya masing-masing.

Dasar pandangan Kiai Muzani adalah, anak yang menerima hardikan ‘bodoh’ akan meninggalkan bekas di hatinya. Kepercayaan dirinya memudar. Bahkan tidak sedikit yang meyakini bahwa dirinya memang bodoh, tak perduli seberapa keras mereka belajar, Ia tetap bodoh sebagaimana perkataan gurunya.

Rasulullah saja menegur seorang ibu yang membentak anaknya ketika Ia mengencingi baju Rasulullah. Beliau berkata: “Mengapa kau memarahi dan merenggutnya dengan kasar?” Kemudian beliau melanjutkan: “Baju yang kotor ini bisa dicuci dan dihilangkan kotorannya, tapi siapa yang bisa menghilangkan kekeruhan jiwa seorang anak atas bentakan dan renggutan kasar kepadanya?”

Karena itu, bagi Kiai Muzani kultur yang sehat dan lingkungan yang baik dalam aktivitas didik-mendidik sangat penting. Salah satu pendekatan yang beliau ambil adalah dengan menerapkan kebijakan kafarat untuk guru yang mengatai muridnya ‘bodoh’.

Kebijakan kafarat itu bersifat tarbiyyah akhlaqiyyah (pendidikan keakhlakan), sebagai sebuah proses pembiasaan dalam menerapkan akhlak yang baik sehari-hari, khususnya bagi para guru dan pendidik.

Mereka adalah pemeran utama dalam pembangunan lingkungan yang sehat, jika gurunya baik, insya Allah muridnya pun baik, seperti kata pepatah: “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Semoga amal ibadah beliau (al-Maghfûrlah, KH. Imam Muzani Bunyamin) diterima di sisi Allah dan seluruh dosanya diampuni olehNya. Lahu al-fâtihah...

Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pondok Pesantren, Nahdlatul, Budaya Santri An Nur Slawi

Rabu, 08 Maret 2006

Ulama Thailand Ungkap Hubungan Erat Islam di Indonesia dan Thailand

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ulama Thailand Ali Matih menjelaskan bahwa Indonesia memiliki hubungan panjang dengan Thailand terkait dengan sejarah Islam di Nusantara. Bahkan, ia mengatakan bahwa salah satu guru Wali Songo Sunan Gresik adalah orang Campa Thailand.

Ulama Thailand Ungkap Hubungan Erat Islam di Indonesia dan Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Thailand Ungkap Hubungan Erat Islam di Indonesia dan Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Thailand Ungkap Hubungan Erat Islam di Indonesia dan Thailand

“Sunan Gresik dari Surabaya gurunya di Gresik Pattani (Thailand), namanya Syekh Said Al Basisa. Makamnya masih di sana,” kata Ustadz Ali.

Hal tersebut disampaikan Ali Matih saat ikut menghadiri International Summit of the Moderate Islamic Leaders (Isomil) kepada Santri An Nur Slawi di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (10/5).

Ia menduga bahwa nama Gresik yang ada di Indonesia dan yang ada di Thailand merupakan yang dicetuskan oleh Sunan Gresik dan Gurunya tersebut. Saat terjadi peperangan, ia mengatakan bahwa ada orang Indonesia yang juga ikut berjuang bersama kaum muslim di sana.?

“Yaitu Syaikh Abdussomad Al Falimbani. Syahidnya di Pattani. Dia adalah seorang ulama yang mengarang kitab Hidayatus Solihin,” jelas laki-laki yang mahir berbahasa Thailand, Arab, dan Melayu tersebut.

Santri An Nur Slawi

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa banyak orang Thailand yang pindah ke Indonesia setelah kaum muslim sana dikalahkan oleh Kerajaan Siam. “Ke Demak, ke Kudus, ke Aceh, dan wilayah-wilayah lainnya,” terangnya

Santri An Nur Slawi

“Ada juga pahlawan yang hebat Cut Nyak Dien, dia itu ayahnya dari Gresik Pattani,” lanjutnya.

Laki-laki yang juga aktif menjadi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Thailand ini berharap hubungan yang sudah lama terjalin antara Indonesia dan Thailand tersebut bisa terus dijaga dan diperkuat ke depannya dengan melakukan beberapa kerja sama.

“Diantaranya satu memberikan beasiswa kepada pelajar-pelajar Pattani atau Thailand Selatan untuk belajar di Indonesia,” katanya.

Karena dengan semakin banyaknya pelajar Islam Thailand yang belajar ke Indonesia, ia yakin bahwa Islam moderat Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana yang Nahdlatul Ulama praktikkan bisa menyebar di Thailand. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Fragmen, Kyai Santri An Nur Slawi

Sabtu, 21 Januari 2006

Ansor Waykanan Distribusikan Ratusan Buku Migrasi Aman

Waykanan, Santri An Nur Slawi. Pengurus harian GP Ansor Waykanan bersama sejumlah pihak membagikan secara bertahap buku referensi yang memuat panduan migrasi aman kepada 227 kepala kampung, 14 camat dan 89 SMA sederajat di daerah setempat. Penyebaran buku yang memuat informasi pasar tenaga kerja, dan panduan praktis migrasi ini, diharapkan memberikan informasi yang memadai terkait migrasi dan risikonya.

"Buku Migrasi Aman disampaikan Gerakan Pemuda Ansor untuk seluruh aparatur kampung dan camat di daerah ini tentu akan memberikan pencerahan gamblang bagaimana sebetulnya orang itu mau bekerja ke luar negeri atau pindah dari satu tempat ke tempat lain," ujar Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (PMK) Waykanan Rudi Joko Kurnianto di Blambangan Umpu, Kamis (10/9).

Ansor Waykanan Distribusikan Ratusan Buku Migrasi Aman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Waykanan Distribusikan Ratusan Buku Migrasi Aman (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Waykanan Distribusikan Ratusan Buku Migrasi Aman

Pihak lain yang ikut mendistribusikan buku ini antara lain alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), dan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Waykanan. Buku dari International Organization for Migration (IOM) dibagikan sebagai strategi preventif utama IOM untuk mempromosikan budaya migrasi yang aman di tingkat akar rumput.?

Santri An Nur Slawi

"Masyarakat Waykanan melalui aparatur kampung yang telah membaca buku ini nanti akan tahu dokumen apa saja yang harus disiapkan, termasuk fisik dan mental dan seterusnya. Informasi seperti migrasi aman di Waykanan selama ini tidak pernah ada. Dengan adanya upaya GP Ansor bekerja sama dengan pihak-pihak terkait mulai pertengahan 2014 tentu akan menjadi pencerahan," ujar mantan Kepala Bappeda Waykanan itu pula.

Rudi mengapresiasi upaya GP Ansor Waykanan ini. "Keberadaan dan upaya-upaya positif dilakukan GP Ansor Waykanan merupakan keuntungan bagi pemerintah," demikian Rudi. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Khutbah, Doa, Makam Santri An Nur Slawi