Selasa, 29 September 2015

Asal Tahu Aja, Mahasiswa Gaul itu Rajin Membaca

Temanggung, Santri An Nur Slawi 



Era digital, membuat mahasiswa terserat ke dalam gelombang teknologi informasi dan dimanjakan dengan media sosial, gadget, juga bahan bacaan yang berbasis elektronik. Semua dikonversikan menjadi elektronik, mulai dari adanya e-book, e-paper, e-journal,  dan lainnya. 

Akan tetapi, bahan bacaan cetak tetap menjadi prioritas nomor satu bagi mahasiswa, dan perpustakaan adalah benteng terakhir bagi masyarakat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan mendapatkan informasi.

Asal Tahu Aja, Mahasiswa Gaul itu Rajin Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)
Asal Tahu Aja, Mahasiswa Gaul itu Rajin Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)

Asal Tahu Aja, Mahasiswa Gaul itu Rajin Membaca

Di sisi lain, gaya hidup modern juga menjalar di kalangan mahasiswa. Sehingga yang disebut mahasiswa gaul tidak lagi yang intelektual, rajin baca buku, punya IPK tinggi, namun mahasiswa gaul sudah melekat pada mereka yang bermotor keren, memiliki ponsel mahal, baju bagus dan juga mereka yang memiliki alat-alat modern mulai dari laptop, gadget dan sejenisnya. 

Namun bagi Kepala Perpustakaan STAINU Temanggung, Jawa Tengah, Gufi Ulfah Inasari, hal itu justru tidak lah makna mahasiswa sebenarnya. Menurut dia, mahasiswa harus selalu dekat dengan literasi, terbukti dengan aktivitas membaca dan menulis yang berdekatan dengan ilmu pengetahuan.

"Mahasiswa Gaul adalah mahasiswa yang tahu hal baru, up to date dan punya rasa ingin tahu tentang hal-hal baru," ujar Gufi Ulfah Inasari Kepala Perpustakaan STAINU Temanggung, Sabtu (7/10).

Santri An Nur Slawi

Usaha untuk menjadi mahasiswa gaul, menurut dia, salah satunya adalah datang ke perpustakaan, untuk membaca buku atau mencari berita baru (koran).

"Perpustakaan STAINU Temanggung punya koleksi 3845 judul dan 4885 ekslempar buku dan difasilitasi dengan koran harian," beber dia di sela-sela melayani mahasiswa yang meminjam buku.

Ia juga menandaskan, bahwa kemampuan literasi mahasiswa tidak lain dimulai dari perpustakaan meski sekarang zamannya sudah milenial. Bahkan, perempuan berkerudung ini menegaskan bahwa mahasiswa gaul adalah yang sering ke perpustakaan.

Santri An Nur Slawi

"Bisa disebut bahwa mahasiswa gaul adalah mereka yang sering keperpustakaan. Oleh karena itu, mahasiswa harus menumbuhkan literasi membaca, selain untuk memenuhi tugas dari dosen saja," tegas dia.





Menumbuhkan Budaya Literasi

Sebagai pegiat literasi, ia juga memiliki beberap trik untuk menumbuhkan budaya literasi mahasiswa.  

"Menumbuhkan budaya literasi mahasiswa memang harus digalakkan sejak dini. Pertama, membuat program seperti 15 menit membaca (boleh buku atau koran). Kedua, perlombaan membuat karya tulis seperti artikel, puisi dan dimuat di mading perpustakaan," beber dia.

Ketiga, kata dia, menyediakan koleksi/bahan pustaka yang lengkap juga berkualitas. Keempat, bedah buku (kegiatan ini harus diagendakan 1 bulan sekali).

"Kelima, yaitu diskusi dosen juga diskusi antarmahasiswa dan keenam memberikan hadiah bagi mahasiswa yang aktif keperpustakaan," lanjut dia.

Ia juga mengakui, ada beberapa masalah atau kendala dalam menumbuhkan budaya literasi. Mulai dari biaya yang minim untuk menjangkau toko buku, tidak punya media/alat untuk mendapatkan/ mengakses bahan bacaan seperti HP, laptop, dan motor dan ketiga kurang tersedianya bahan bacaan yang dibutuhkan mahasiswa di perpustakaan.

Sampai saat ini, Perpustakaan STAINU Temanggung punya koleksi 3845 judul dan 4885 ekslempar buku dan difasilitasi dengan koran harian.

"Koleksi yang dimiliki sampai tahun 2017 yaitu koleksi buku  Bahasa Indonesia 3796 judul 4823 ekslempar, lalu koleksi buku Bahasa Arab 39 judul, 40 ekslempar. Sementara koleksi Bahasa Inggris ada 10 judul, 22 ekslempar," jelas dia.

"Minat baca mahasiswa STAINU memang kurang, karena mahasiswa yang datang ke perpustakaan untuk mencari dan membaca buku di luar ada tugas dari dosen," tandasnya.

Oleh karena itu, ke depan ia berharap agar mahasiswa STAINU Temanggung melek budaya literasi. Hal itu, menurut dia, tidak bisa dimulai jika tidak dimulai dari perpustakaan, cinta buku dan menjadikan membaca buku sebagai candu. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ulama, Nusantara, Sejarah Santri An Nur Slawi

Rabu, 23 September 2015

KH Masyhuri Malik: Masa Depan Aswaja Ada di Tangan Kader Muda

Kediri, Santri An Nur Slawi. Ketua Pelaksana Program Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik berkesempatan menyampaikan ceramah di Sekolah Tinggi Agama Islam Badrus Sholeh (STAIBA) Purwoasri Kediri di sela kegiatan Pendidikan Kader Penggerak NU di Jombang, Ahad (8/3).

Di hadapan puluhan mahasiswa, ia mengingatkan bahwa era reformasi di Indonesia ditandai dengan eforia kebebasan, tidak hanya bebas menyampaikan aspirasi tetapi juga bebas mengimpor berbagai ideologi dan paham keagamaan yang berkembang di luar negeri.

KH Masyhuri Malik: Masa Depan Aswaja Ada di Tangan Kader Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masyhuri Malik: Masa Depan Aswaja Ada di Tangan Kader Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masyhuri Malik: Masa Depan Aswaja Ada di Tangan Kader Muda

“Berbagai organisasi garis keras yang dilarang di beberapa negara, termasuk Timur Tengah di sini dibiarkan bebas-sebebas-bebasnya,” kata Masyhuri Malik yang didampingi instruktur kaderisasi PBNU Abdul Mun’im DZ dan Ketua STAIBA Hj. Lilik Nur Kholidah.

Santri An Nur Slawi

Dikatakannya, di era reformasi ini ada sekolompok orang mewacanakan apa yang disebut Negara Islam Indonesia atau NII. Di bagian lain bahkan ada yang mendeklarasikan sebuah negara khilafah islamiyah yang jelas-jelas bertentangan dengan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang telah digariskan dan disepakati oleh pendiri bangsa, yang tidak lain adalah para ulama Ahlusssunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Mantan Ketua PCNU Bekasi ini mengingatkan, beberapa kelompok baru ini juga seringkali menamakan diri kelompok Aswaja dan sering melakukan pendekatan kepada warga NU. Maka anak-anak muda dan mahasiswa NU diharapkan lebih aktif dalam melakukan kegiatan pendampingan masyarakat, agar tidak terpengaruh kelompok-kelompok baru itu.

Santri An Nur Slawi

“Tantangan ada di depan mata kita. Masa depan Aswaja dan masa depan NU ada di tangan para kader muda ini bukan di tangan orang-orang tua seperti saya,” kata KH Masyhuri Malik di hadapan para mahasiswa. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Santri, Cerita, Ubudiyah Santri An Nur Slawi

Kamis, 17 September 2015

Hari-hari Terakhir Rasulullah SAW

Anas bin Malik meriwayatkan, pada Hari Senin, ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shalat Subuh –sementara sahabat Abu Bakar RA sedang mengimami mereka—Nabi SAW tidak menemui mereka, tetapi hanya menyingkap tabir kamar Aisyah dan memperhatikan mereka yang berada di shaf-shaf shalat. Kemudian beliau tersenyum.

Abu Bakar mundur hendak berdiri di shaf, karena dia mengira Rasululah SAW hendak keluar untuk shalat. Selanjutnya Anas menuturkan bahwa kaum muslimin hampir terganggu di dalam shalat mereka, karena bergembira dengan keadaan Rasulullah SAW.

Hari-hari Terakhir Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari-hari Terakhir Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari-hari Terakhir Rasulullah SAW

Namun, beliau memberikan isyarat dengan tangan beliau agar mereka menyelesaikan shalat. Kemudian, beliau masuk kamar dan menurunkan tabir.

Setelah itu, Rasulullah SAW tidak mendapatkan waktu shalat lagi.

Santri An Nur Slawi

Ketika waktu Dhuha hampir habis, Nabi SAW memanggil Fatimah, lalu membisikan sesuatu kepadanya, dan Fatimah pun menangis. Kemudian memanggilnya lagi dan membisikan sesuatu, lalu Fatimah tersenyum.

Santri An Nur Slawi

Aisyah berkata, setelah itu, kami bertanya kepada Fatimah tentang hal tersebut.

Fatmah Ra menjawab, ”Nabi SAW membisikiku bahwa beliau akan wafat, lalu aku menangis. Kemudian, beliau membisiku lagi dan mengabarkan aku adalah orang pertama di antara keluarga beliau yang akan menyusul beliau.” (Shahihul Bukhari, II: 638).

Nabi SAW juga mengabarkan kepada Fatimah bahwa dia adalah kaum wanita semesta alam.

Fatimah melihat penderitaan berat yang dirasakan oleh Rasulullah SAW sehingga dia berkata,”Alangkah berat penderitaan ayah!” tetapi beliau menjawab,”Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi.”

Beliau memanggil Hasan dan Husain, lalu mencium keduanya, dan berpesan agar bersikap baik kepada keduanya. Beliau juga memanggil istri-istri beliau, lalu beliau memberi nasehat dan peringatan kepada mereka.

Sakit beliau semakin parah, dan pengaruh racun yang pernah beliau makan (dari daging yang disuguhkan oleh wanita Yahudi) ketika di Khaibar muncul, sampai-sampai beliau berkata,”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang kumakan ketika di Khaibar. Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut.”

Beliau juga memberi nasehat kepada orang-orang ,”(perhatikanlah) shalat; dan budak-budak yang kalian miliki!” Beliau menyampaikan wasiat ini hingga beberapa kali.

Saat Terakhir

Tanda-tanda datangnya ajal mulai tampak. Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah ke pangkuannya.

Aisyah lalu berkata,” Sesunguhnya di antara nikmat Allah yang dikaruniakan kepadaku adalah bahwa Rasulullah SAW wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan di pangkuanku, serta Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Ketika aku sedang memangku Rasulullah SAW, Abdurahman dan Abu Bakar masuk dan di tangannya ada siwak. Aku melihat Rasulullah SAW memandanginya, sehingga aku mengerti bahwa beliau menginginkan siwak. Aku bertanya ,’Kuambilkan siwak itu untukmu?’

Beliau memberi isyarat “ya” dengan kepala, lalu kuambilkan siwak itu untuk beliau. Rupanya siwak itu terasa keras bagi beliau, lalu kukatakan,’kulunakkan siwak itu untukmu?’ Beliau memberi isyarat”ya” lalu kulunakan siwak itu. Setelah itu aku menyikat gigi beliau dengan sebaik-baiknya siwak itu. Sementara itu, di hadapan beliau ada bejana berisi air. Beliau memasukan kedua tangannya ke dalam air itu, lalu mengusapkannya ke wajah seraya berkata,’La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekarat nya.” (Shahih Bukhari II, 640).

Seuasi bersiwak, beliau mengangkat kedua tangan beliau yang mulia, atau jari-jarinya mengarahkan pandangannya ke langit-langit, dan kedua bibirnya bergerak-gerak. Aisyah mendengarkan apa yang beliau katakan itu, beliau berkata,”Ya Allah ampunilah aku; Rahmatillah aku; dan pertemukan aku dengan Kekasih yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi.” (Ad Darimi, Misykatul Mashabih, II: 547)

Beliau mengulang kalimat terakhir tersebut sampai tiga kali, lalu tangan beliau lunglai dan beliau kembali kepada Kekasih Yang Maha Tinggi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Peristiwa ini terjadi ketika waktu Dhuha sedang memanas, yaitu pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H. Ketika itu beliau berusia 63 lebih empat hari. (Aji Setiawan/Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Daerah, Tegal Santri An Nur Slawi

Senin, 14 September 2015

Adakah yang Lebih Kuat Dibanding Gunung?

Di dunia ini, Gunung dianggap oleh sebagian orang, sebagai sebuah simbol kekuatan. Bentuknya yang kokoh dan menjulang, semakin menegaskan anggapan tersebut.

Namun, tahukah anda, kekuatan gunung tersebut ternyata dapat dikalahkan oleh seorang anak Adam. Manusia seperti apakah yang dapat menandingi kekuatan gunung, bahkan lebih dari itu?

Dalam sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa ketika Allah swt. menciptakan Bumi, pada awalnya Bumi terus bergoyang tidak stabil. Maka, Allah pun menciptakan gunung-gunung di atas bumi, sehingga bumi menjadi tenang.

Adakah yang Lebih Kuat Dibanding Gunung? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah yang Lebih Kuat Dibanding Gunung? (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakah yang Lebih Kuat Dibanding Gunung?

Para malaikat pun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk-Mu yang lebih kuat dari gunung?”

Pertanyaan serupa ‘Adakah yang lebih kuat’, terus diulangi oleh para malaikat, dan dijawab Allah swt. dengan jawaban yang berbeda.

Gunung rata oleh besi. Besi leleh dengan api. Api padam dengan air. Air dapat digerakkan kemanapun oleh angin. Hingga pertanyaan terakhir: ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada angin?”

Santri An Nur Slawi

Allah menjawab, ”Ada, yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Inilah dahsyatnya kekuatan ikhlas. Manusia yang ikhlas, meskipun mungkin dlohirnya terlihat lemah, namun di sisi Allah, ia adalah orang yang lebih kuat dibanding gunung dan lainnya.

Dengan keikhlasan pula, seseorang akan mendapatkan kemudahan, meskipun mesti melewati kesusahan. (Ajie Najmuddin)

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hadits, AlaNu Santri An Nur Slawi

Kamis, 10 September 2015

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng

Kudus, Santri An Nur Slawi. Kejuaraan Daerah (Kejurda) II  Pagar Nusa Jateng-DIY Yogyakarta di pesantren Azzuhri, Semarang (11-14/1), menobatkan kontingen Kudus sebagai juara umum. Mengungguli daerah lain, Pagar Nusa Kudus mengantongi  14 emas, 3 perak, dan 3 perunggu.

Dari daftar hasil Kejurda yang dirilis panitia, kontingen Kudus sangat mendominasi pada kategori remaja dengan meraih 10 emas, 1 perak, 2 perunggu. Sedangkan sisanya diperoleh dari kategori dewasa 4 emas dan 2 perak. Satu perunggu diraih pada semua kelas.

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng

Bahkan, salah satu pesilat Kudus Arum Maharani memperoleh predikat pesilat putri terbaik kategori remaja.

Santri An Nur Slawi

Wakil Ketua Pagar Nusa Kudus Miftah Baidhowi mengatakan. hasil juara umum yang diraih merupakan hasil kerja keras kesungguhan, keseriusan, dan kebersamaan antara atlet dan pelatih dalam menghadapi ajang bergengsi itu.

Santri An Nur Slawi

“Saya bangga anak-anak mampu menjaga diri baik kondisi maupun mental sehingga meraih prestasi luar biasa,” terang Miftah kepada Santri An Nur Slawi di sela-sela porseni IPNU-IPPNU Kudus, Selasa (14/1).

Menghadapi kejurda ini, Pagar Nusa Kudus mempersiapkan sejak dini dengan menggembleng setiap hari latihan serius di kantor NU Kudus.

Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi mengapresiasi hasil yang diraih Pagar Nusa. Prestasi ini, menurutnya, harus dijaga dan dilanjutkan melalui konsistensi latihan dan kedisiplinan.

“Yang lebih penting lagi, Pagar Nusa harus mampu menjadi benteng Aswaja, NU dan para kiai. Termasuk pula Pagar Nusa harus istiqomah mengembangkan diri untuk menjadi lebih besar memasyarakat di kalangan nahdliyyin,” harapnya kepada Santri An Nur Slawi.

Setelah Kudus, peraih juara umum kedua dan ketiga pada kejurda yang diikuti 236 atlet wiralaba dan 23 kontingen seni jurus ini adalah kontingen Pagar Nusa Demak dengan 3 emas, 6 perak, 8 perunggu dan Pati 2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Habib Santri An Nur Slawi

Jumat, 04 September 2015

Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai

Oleh Ali Romdhoni

Pada pertengahan Januari 2016 lalu saya mengunjungi perpustakaan di Gedung Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jalan Kramat Jakarta Pusat. Oleh pengelola, saya ditunjukkan koleksi berupa literature tua karya ulama-ulama Nusantara tahun 1600 hingga 1800-an. Terdapat tidak kurang dari 21 judul kitab.

Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai

Uniknya, kitab-kitab—yang semuanya ditulis dengan bahasa Melayu dan sebagian lagi dengan bahasa Jawa—ini telah diproduksi secara massal oleh penerbit di Mesir yang berjaya di tahun 1950 hingga 1970-an, Musthafa al-Babi al-Halabi.

Ada beberapa hal yang perlu penulis tegaskan di sini. Pertama, karya ulama Nusantara selama ini diidentifikasi sebagai karya lokal. Bahkan sebagian kita inferior karena hal itu. Namun masyarakat akademik dunia (atau setidaknya Asia) justru melihat dan mengapresiasi karya itu dengan baik.

Santri An Nur Slawi

Dalam penelusuran penulis, tahun 1930-an jumlah masyarakat Asia Tenggara yang tinggal di Mekah untuk kepentingan ibadah haji dan studi Islam cukup signifikan. Kementerian Agama RI mencatat, tahun 1930 jamaah haji Indonesia berjumlah 4.385 orang. Jumlah ini terus naik pada tahun 1936 mencapai 14.976 orang. Jumlah ini masih ditambah dengan masyarakat muslim yang berada di Mekah dari Negara Malaysia, Brunei Darussalam, Pattani (Thailand), dan Singapura.

Karya ulama Nusantara yang memiliki pasar pembaca cukup fanatik, dibaca oleh pengusaha percetakan ternama di Mesir kala itu sebagai peluang. Ini artinya, pengaruh ulama Nusantara sudah diakui oleh masyarakat Asia, bahkan popular di Timur Tengah.

Santri An Nur Slawi

Kedua, karya literature merupakan rekaman fenomena dan kondisi masyarakat di sekitar sang penulis. Khusus kitab keislaman tulisan ulama Indonesia, ia merupakan hasil interpretasi terhadap ajaran agama Islam. Sebagai generasi muda, kita harus melihat dan mengkaji manuskrip-manuskrip itu.

Langkah pertama adalah melacak dan mendata sebaran karya para intelektual muslim Indonesia. Kenapa ini penting kita lakukan. Karakter muslim di Indonesia unik dan tidak tumbuh di tempat lain. Ke depan, Islam Indonesia berpotensi menjadi rujukan bagi kehidupan keberagamaan di dunia.

Pembaacaan terhadap karya-karya keislaman masa lalu sangat dibutuhkan dalam rangka merumuskan bangunan keilmuan (epistemology) Islam yang khas, yang telah ada dan berkembang di Nusantara. Ini alasan bagi pentingnya melacak manuskrip karya para kiai masa lalu.

PELAJARAN DARI YUNANI

Catatan sejarah menginformasikan, pada masa kepemimpinan Bani Umayyah di Damaskus masyarakat muslim merintis gerakan penerjemahan ilmu pengetahuan. Pada masa ini sejumlah karya ilmuwan Yunani dan Koptic tentang ilmu kimia diterjemahkan. Di bawah kekuasaan Umar II (717-720), Masarjawaih, seorang Yahudi dari Basra menerjemahkan buku kedokteran dari bahasa Siria ke dalam bahasa Arab.

Buku lain yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab adalah tentang astronomi, fisika, dan matematika. Raja juga mengirim sarjana-sarjana ke berbagai tempat, termasuk ke Byzantium untuk mencari manuskrip.

Bernard Lewis dalam The Arabs in History menulis, beberapa periode kemudian lahir generasi penulis muslim orisinil, terutama dari bangsa non-Arab, seperti sejarawan dan teolog al-Thabari (m. 310 H/923 M), ahli fisika al-Razi (865-925), dokter dan filsuf Ibnu Sina (980-1037), serta astronom dan ilmuawan ensiklopedik al-Biruni (970-1048).

Penerjemahan khazanah pengetahuan Yunani mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan al-Mamun? (memerintah 198-219 H/ 813-833 M) di Baghdad. Raja ini dikenal sangat mencintai ilmu pengetahuan. Dia memprakarsai pendirian Bait al-Hikmah, semacam pusat riset dan lembaga ilmu pengetahuan Islam. Pusat kajian ilmiah ini kemudian menciptakan suasana kondusif bagi berkembangnya pemikiran rasional.

Hingga pada masa itu, para intelektual muslim telah berhasil menyerap khazanah keilmuan bangsa lain dan menyajikan kembali kepada masyarakat dalam bentuk buku berbahasa Arab. Kerja-kerja ini adalah upaya penting dalam rangka mempermudah akses keilmuan bagi masyarakat muslim. Bila sebelumnya pengetahuan Yunani hanya bisa diakses masyarakat Yunani, maka setelah terjemahan bahasa Arab-nya terbit, komunitas Arab bisa menyerap informasi yang lahir dari negeri itu.

Capaian kedua yang merupakan hasil dari program pemerintah kala itu adalah, generasi muslim telah mampu menuliskan informasi yang diperoleh dari buku-buku asing dalam bentuk ikhtisar. Prestasi ini selangkah lebih maju, bila dibandingkan dengan sekedar menerjemahkan. Meskipun keduanya memiliki orientasi dan kelebihan masing-masing. Namun yang lebih penting lagi, pasca itu lahir generasi penulis muslim, seperti al-Razi, Ibn Sina dan al-Biruni. Saat itulah, proses hegemoni ilmu pengetahuan oleh kaum intelektual muslim dimulai.

Nurcholish Madjid menandaskan, karena ketertarikan umat Islam yang begitu tinggi terhadap para filsuf Yunani, sampai terdapat satu buku filsafat yang menafsirkan pemikiran-pemikiran Aristoteles, Fi al-Khair al-Mahdh, yang aslinya hanya diketahui dalam bahasa Arab. Bahkan beredar dugaan, pengarangnya adalah seorang muslim, kalau bukan seorang Yahudi atau Kristen yang berbahasa Arab. Kelak, buku ini diterjemahkan ke dalm bahasa Latin, Liber de Causis. Artinya, saat itu ilmuwan muslim telah menjadi kunci bagi tradisi dan keilmuan dunia. Masyarakat Latin pun harus menerjemahkan buku-buku filsafat dari karya ilmuwan Islam.

Kelak sejarah mencatat, umat Islam menjadi pewaris tunggal bagi tradisi panjang sejak zaman Yunani-Romawi, Iran, Firaun, dan Assyria-Babilonia. Philip K. Hitti menggambarkan, dengan bekal rasa ingin tahu yang kuat ilmuwan muslim mulai berasimilasi, mengadaptasi dan menghasilkan khazanah intelektual dan estetikanya sendiri.

Di Ctesiphon, Edessa, Nisibis, Damaskus, Yerusalem, dan Iskandariyah, mereka menyaksikan, mengagumi dan meniru karya-karya para arsitek, seniman, perajin, dan pengusaha intan. Ke pusat-pusat peradaban kuno itulah mereka datang, melihat, dan kemudian menang.

Jelas, pengaruh gerakan penerjemahan sangat besar, melambungkan Islam hingga dikenal seluruh penghuni dunia.

Dalam konteks manuskrip kiai Nusantara, ulama al-Jawi pada masa lalu ternyata sudah mendunia. Perhatian dan tema tulisan mereka menembus batas teritorial benua. Di sana misalmya terdapat terjemahan kitab berjudul Nuzhat al-Ikhwan fi Ta’lim al-Lughat wa Tafsir Ikhtilaf al-Lisan, mengkaji gramatika empat bahasa: Melayu, Aceh, Arab dan Turki.

Selain itu ada Ikhtisar Kitab al-Hikam karya Ahmad Ibnu Atha’illah oleh pujangga besar muslim Indonesia, Kiai Haji Sholeh Darat (m. 1903), Semarang. Juga terdapat al-Shirath al-Mustaqim fi Fiqh Madzhab al-Syafi’I, karya Nuruddin Muhammad al-Raniri (m. 1658).

Belajar dari sejarah Yunani dan pekerjaan ambisius yang sudah pernah dilakukan para ilmuwan muslim, karya para ulama Nusantara harus kita rawat dan warisi. Merawat khazanah ini berarti mempelajari bangunan keislaman masa lalu yang kokoh di bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia, untuk selanjutnya mengenalkan kepada anak dan cucu kita. Mewarisi berarti menjaga keutuhan bangunan bangsa dan nilai-nilai agama yang menjadi ikat-pinggangnya.

Bila demikian, mengabaikan manuskrip Nusantara sama halnya dengan membiarkan negeri ini terancam oleh orang-orang yang bersiap memberangus keutuhan bangsa. Penulis mengajak kepada kaum muda untuk segera memulai kerja besar ini.



ALI ROMDHONI

Penulis buku Al-Qur’an dan Literasi

Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang


Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul, AlaNu, Santri Santri An Nur Slawi