Senin, 30 Januari 2017

Menggerakkan Tradisi Rebana

“Baiklah, Jang, ambillah rebana itu! Dendangkan tetabuhan sampai rampak! Sampai semua orang tahu bahwa kita masih punya harga diri untuk dipertahankan. Pukullah dengan semangat anak muda kau!”

Demikian anjuran Salam Said kepada anak muda bernama Ujang Rumansyah. Salam Said adalah seorang tua penabuh rebana. Ia putus asa karena tradisi tetabuhan yang lekat di tanah kelahirannya itu, tak lagi diminati khalayak.?

Menggerakkan Tradisi Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggerakkan Tradisi Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggerakkan Tradisi Rebana

Salam Said tak bisa berbuat banyak. Ia hanya geleng-geleng kepala ketika teman-temannya di tim rebana, minggat. Dia terpukul telak ketika seorang anggotanya yang muda, Saman Hudi, ditolak mentah-mentah calon mertunya lantaran ia seorang penabuh rebana tak bermasa depan.?

Dalam keadaan demikian, pihak-pihak yang seharusnya membantu, seperti pemerintah, entah dimana keberadaannya. ?

Santri An Nur Slawi

Kisah itu adalah satu adegan dalam monolog Fikri MS berjudul Rebana dari Sanggar Teater Gendhing (STG), Muara Enim, Sumatera Selatan, di Bengkel Teater Rendra, Depok Jawa Barat beberapa waktu lalu.?

Fikri, alumnus pesantren Darul Ulum Jombang ini, mementaskan monolog di beberapa kota; mulai dari Februari hingga akhir Mei. Kota-kota itu diantaranya di Depok, Yogyakarta, Jombang, Kediri, Gresik, Makasar, serta beberapa kota di Sumatera, termasuk Muara Enim, tanah kelahirannya.

Santri An Nur Slawi

Dalam pementasan, pemenang Juara I Kompetisi Liga Monolog Indonesia di STSI Bandung, Jawa Barat ini, dibantu 4 orang kru pendukung yaitu Dodi Irawan, sebagai penata musik, Hendrik K, Adeh Arianto dan Dodi Penalosa pemain musik.

Rebana di Muara Enim

Persoalan dalam monolog Fikri ? itu, tak lain gambaran tradisi rebana tanah kelahirannya, Muara Enim. Bahkan persoalan umum di setiap daerah. Pegiat seni tradisi rata-rata kalangan tua, dan regenerasi terhambat. Situasinya: orang tua, anak muda dan tradisi dekat namun jauh. Yang tua menunggu, yang muda tak mau tahu.?

Dulu, di Muara Enim, rebana dijadikan tetabuhan pengiring arak-arakan dalam berbagai resepsi. Diantaranya pengiring mempelai ke pelaminan, khitanan,syukuran, aqiqah, menyambut tamu besar. Juga pengiring pencak silat kuntaw, seni beladiri yang dipengaruhi Cina.

Arak-arakan itu sambil mendendangkan lagu-lagu Melayu misalnya Yale-Yale, Antan Delapan, atau Candi Bumiayu dan lagu-lagu diambil dari cerita rakyat Melayu, berbasis balas pantun.?

Menurut temuan Fikri, rebana di kampungnya ini diperkenalkan Mustofa Kamal dari Timur Tengah. Tradisi ini merupakan tafa’ul pada arakk-arakan menyambut Nabi Muhammad ketika datang di suatu tempat. “Kunci tetabuhan itu menyambut dengan gembira. Esensinya memeriahkan,” ujarnya.?

Namun, tradisi ini, hampir mati. “Sebelum mati, saya ingin tahu persoalannya apa,” ungkapnya. Kemudian ia melakukan penelitian ke lapangan dan menemukan banyak data.

“Tepukan rebana di Muara Enim disebut Beulideu. Asal kata Melayu artinya temberang atau berbicara. Maksudnya, tetabuhan rebana itu mengisayaratkan adanya arak-arakan.?

“Belideu terdapat 16 ketukan, sampai sekarang pun belum lunas semuanya hingga 16 ketukan. Kalau di Muara Enim dikenal dengan “tum” itu bas dan “ta” itu rytem. Tum ta-tum ta. Tum ta tum ta ta ta tum tum ta ta tum tu tm tum.”?

Selain itu Ada yang ta ta ta tum tum ta ta ta tum tum ta ta tum tum ta ta tum tum. “Orang dulu mampu menciptakan 16 variasi ketukan. Padahal itu satu daerah saja,” jelas Fikri sambil menggeleleng-geleng, takjub. ?

Anak Muda?

Fikri yakin, pihak yang paling mungkin diajak bekerja sama adalah anak muda. Hal itu tercermin dalam sosok Ujang Rumansyah dalam monolog itu, “Supaya kalangan anak muda masuk? ke dalam tradisi, harus? dicari tahu celahnya apa nih? Saya yakin mereka bisa dan punya keinginan untuk masuk, tapi dimana celahnya?”?

Ia kemudian mendirikan sanggar bernama Sanggar Teater Gending, “Menarik anak muda itu harus disediakan punya tempat dulu. Kemudian alat–alat musik; gitar, perkusi, biola,” jelasnya. “Kemudian di tempat itulah anak muda di kampungnya berkumpul, mulai dari anak anak SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa.”

Lalu mereka diajak bermain rebana. Tapi dengan kemasan yang berbeda, yaitu dipadu dengan berbagai alat musik lain diantaranya, gitar, dan biola. Tapi tetap, penanda paling kuat adalah rebana.

“Biola, gitar itu kan alat musik luar. Tetapi kan dia mengiring lagu-lagu daerah, ia akan menjadi alat musik daerah. Gitar juga begitu. Rebana tidak bisa ditinggalkan tetapi sangat terbuka dengan berbagai unsur musik,” simpulnya

Dengan sajian semacam itu, tradisi rebana kembali bergeliat, “Arak-arakan di sana jauh lebih panjang lagi. Biasanya hanya mungkin lima atau enam meter. Hari ini sudah 20 meter lagi. Rebana semakin populer, arak-arakan semakin meriah.”?

Di sisi lain, tanggapan masyarakat sekitar juga luar biasa,“Mereka nyumbang genset, nyumbang gerobak, nyumbang ide, ‘coba deh pakaiannya begini, begini.’ Masyarakat mendukung. Itulah tradisi, milik bersama, milik masyarakat.”?

Kunci menyapa anak muda adalah kepercayaan dan tanggung jawab. Selama ini mereka tidak mendapat kepercayaan atau reward dari guru, dan orang tua di rumah “Selalu dimarahi, dianggap nakal. Maka kasihlah mereka tanggung jawab, supaya mereka betul-betul merasa ada.”?

Selain meemopulerkan kembali tradisi rebana di kampungnya, Fikri juga menjadikannya sebagai pengiring musik di Sanggar Teater Gending, termasuk dalam pertunjukan monolog bertajuk Rebana tersebut.

Kreativitas Fikri, senada dengan yang ditegaskan penyair pesantren asal Cipasung Acep Zamzam Noor. Menurutnya, mengapresiasi seni tradisi adalah dengan cara menampilkannya, supaya kembali populer di masyarakat.

"Di Sunda, ada alat musik tradisional bernama Karinding. Kini makin dikenal masyarakat ? karena sering dipentaskan,” katanya. ?

Budayawan Lesbumi NU Agus Sunyoto juga menegaskan, tradisi Nusantara harus digerakkan, “karena globalisasi menghendaki leburnya identitas.”?

Menurutnya, seluruh budaya Nusantara harus segera direkonstruksi dengan berbagai cara; menginvetarisirnya, menuliskannya, mendokumentasikannya, supaya tradisi itu tetap hidup.?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Warta, Daerah, Berita Santri An Nur Slawi

Sabtu, 28 Januari 2017

Anak Muda, Ayo Ikuti Kompetisi Film Dokumenter

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ketua Panitia Muktamar ke-33 NU H Imam Azis kembali mengimbau kalangan anak muda untuk mengikuti kompetisi film pendek dokumenter. Kompetisi yang diluncurkan di PBNU Jakarta, (27/5) lalu tersebut, akan ditutup 10 Juli 2015 nanti.

Anak Muda, Ayo Ikuti Kompetisi Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Muda, Ayo Ikuti Kompetisi Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Muda, Ayo Ikuti Kompetisi Film Dokumenter

Menurut salah seorang Ketua PBNU ini, film di NU bukanlah barang baru. Tokoh-tokoh film nasional merupakan aktivis Lesbumi NU seperti Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, Asrul Sani, Misbach Yusa Biran. “Belakangan Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), Alex Komang, juga dari NU,” katanya.

Itu artinya, kata dia, NU sedari awal sangat sadar bahwa film adalah efektif untuk dakwah, untuk menyampaikan sesuatu, untuk sosialisasi paham Islam Nusantara yang menebarkan rahmat, bukan kekerasan.

Santri An Nur Slawi

Sayangnya, menurut dia, alat yang efektif untuk dakwah tersebut tidak diperhatikan dengan baik. NU tidak menciptakan generasi pelanjut dalam bidang itu. Kalaupun ada, tidak atas nama NU.

Santri An Nur Slawi

Oleh karena itu, kata dia, Panitia Muktamar mengharapkan supaya anak-anak muda NU di pesantren atau dimana saja untuk mengikuti kompetisi tersebut. (Abdullah Alawi)

Persyaratan mengikuti kompetisi tersebut:

Kompetisi terbuka  untuk warga  negara Indonesia. Usia sutradara dan penulis naskah minimal 15 tahun, maksimal 35 tahun. Bebas tahun produksi. Film tidak berupa profit lembaga/perusahaan, iklan layanan masyarakat, trailer film dan video musik. Film utuh tanpa disertai potongan jeda untuk iklan. Materi film (obyek, musik, stock shoot, dan lain—lain) tidak melanggar hak cipta. Pelanggaran dan gugatan atas hak cipta terhadap karya yang diikutkan dalam kompeflsi ada diluar tanggungjawab panifla. Format materi  karya yang dikirim berupa DVD Video  PAL atau dalam  bentuk sohcopy file minimal  120 x720 H264 (Bit rate minimum 6 Mbps). Durasi film maksimal 30 menit termasuk end credit title. Hak Cipta tetap dimiliki oleh peserta.

Ketentuan lebih lengkap bisa diunduh di sini



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ahlussunnah, Daerah, Doa Santri An Nur Slawi

Selasa, 24 Januari 2017

Realisasikan Program Kesehatan, IPNU Bangkalan Gandeng Dinkes

Bangkalan, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Bangkalan melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Bangkalan, Senin (21/12) lalu terkait program Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan dalam hal merealisasikan program kesehatan khususnya dikalangan pelajar.

Rombongan PC IPNU Bangkalan disambut dan diterima langsung oleh Kadinkes Kabupaten Bangkalan, dr Nur Aida Rahmawati, MKes diruang kerjanya. Dalam audiensi tersebut, Mahsus R HM, Ketua PC IPNU Bangkalan memaparkan, banyak hal terkait kesehatan yang selama ini menjadi problem di kalangan pelajar.

Realisasikan Program Kesehatan, IPNU Bangkalan Gandeng Dinkes (Sumber Gambar : Nu Online)
Realisasikan Program Kesehatan, IPNU Bangkalan Gandeng Dinkes (Sumber Gambar : Nu Online)

Realisasikan Program Kesehatan, IPNU Bangkalan Gandeng Dinkes

“Hal ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya adalah kurangnya sosialisasi tentang pentingnya kesehatan  pelajar dan kurangnya kesadaran di kalangan pelajar itu sendiri,” terangnya.

Santri An Nur Slawi

Nur Aida Rahmawati mengatakan, pihaknya siap bekerja sama dengan PC IPNU Bangkalan untuk merealisasikan terwujudnya pelajar yang sehat khususnya di daerah-daerah terisolir. (Dedi Hermanto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi RMI NU, Sholawat, Daerah Santri An Nur Slawi

Jumat, 20 Januari 2017

Dana Muktamar NU akan Dikelola Transparan dan Dapat Dipertanggungjawabkan

Surabaya, Santri An Nur Slawi. Untuk bisa menyukseskan Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama, memang dibutuhkan biaya. Namun tidak seperti yang dituduhkan sebagian kalangan bahwa permusyawarahan tertinggi di NU ini memerlukan biaya sangat besar tetapi seluruh dana dikelola secara transparan dana dapat dipertanggungjawabkan.

Bantahan disampaikan Sekretaris Panitia Daerah (Panda) Muktamar NU Jawa Timur, H Thoriqul Haq. Kepada Santri An Nur Slawi, Gus Thoriq, sapaan akrabnya memastikan bahwa seluruh biaya yang dibutuhkan dalam jumlah yang wajar serta bisa dipertanggungjawabkan.

Dana Muktamar NU akan Dikelola Transparan dan Dapat Dipertanggungjawabkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dana Muktamar NU akan Dikelola Transparan dan Dapat Dipertanggungjawabkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dana Muktamar NU akan Dikelola Transparan dan Dapat Dipertanggungjawabkan

"Kami tandaskan bahwa Muktamar ke-33 NU yang akan berlangsung di Jombang dari tanggal 1 hingga 5 Agustus memang memerlukan biaya yang tidak sedikit," katanya saat dikonfirmasi usai rapat Panda Muktamar, Selasa (24/2) malam.

Santri An Nur Slawi

Melayani kebutuhan peserta muktamar dari seantero Nusantara dan ditambah utusan dari luar negeri tentu harus menggunakan pembiayaan yang tidak kecil. "Namun dapat dipastikan seluruh anggaran yang digunakan demi kelancaran muktamar dapat dipertanggungjawabkan," tandas Ketua Komisi C DPRD Jatim ini.

Santri An Nur Slawi

Sejumlah kebutuhan peserta selama muktamar memang telah dibahas secara teknis. Penjemputan peserta dari bandara Juanda Sidoarjo, demikian juga kendaraan untuk mengangkut peserta demi keperluan persidangan telah disiapkan dengan seksama.

"Belum lagi tambahan fasilitas seperti kamar mandi baru yang harus dibangun lantaran keberadaan fasilitas tersebut di pesantren yang bersangkutan tidak memadai," kata mantan Presiden BEM Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

Fasilitas baru yang akan diterima masing-masing pesantren selaku tuan rumah muktamar disamping toilet baru, juga karpet dan bantal berlogo muktamar. "Semua nantinya akan kembali ke pesantren setempat sebagai kenang-kenangan dari muktamar," tandas bapak tiga anak ini.

"Apa yang disampaikanj pihak luar bahwa muktamar akan menghabiskan biaya hingga 15 Milyar adalah tuduhan tidak berdasar," tandas Gus Thoriq. Apalagi mereka tidak mengetahui secara detail kebutuhan panitia muktamar, lanjut alumnus pasca sarjana Universitas of Malaya Malaysia ini.

Karena itu baik H Saifullah Yusuf selaku Ketua Panda dan dirinya tidak terlampau menanggapi tuduhan berbagai kalangan tersebut. "Fokus kami selaku Panda adalah berkoordinasi dengan Panitia Pusat dan Panitia Lokal demi melayani para muktamirin, sehingga kegiatan berjalan khidmat dan sukses," ungkapnya.

Seperti diketahui, seluruh peserta Muktamar ke-33 NU akan ditampung di 4 pesantren besar di Jombang. Yakni Pesantren Tebuireng (Diwek), Pondok Pesantren Bahrul Ulum (Tambakberas), Pondok Pesantren Mambaul Maarif (Denanyar) serta Pondok Pesantren Darul Ulum (Peterongan).

Di 4 pesantren tersebut juga akan berlangsung sidang komisi dari mulai program, organisasi dan rekomendasi. Di salah satu pesantren juga akan dilangsungkan bahtsul masail yang dibagi menjadi masalah waqiiyah, maudluiyah serta qanuniyah.

Khusus untuk sidang pembukaan dan penutupan muktamar, termasuk sidang pleno pemilihan rais am dan ketua umum akan dilangsungkan di Alon-alon Jombang yang dipermak menjadi bangunan semi permanen. (syaifullah/mukafi niam)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nasional, Kajian Islam, Fragmen Santri An Nur Slawi

Makna Selembar Bendera

Selembar bendera berlambang NU yang dibuat secara manual pada tahun 1962 masih tersimpan rapi di kediamaan KH Thola’ Al-Badr Karim, pengasuh Pesantren Al-Karimiyah, Pungangan, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat. ?

Bendera yang berukuran 150 cm x 60 cm itu berwarna hijau tua dengan lafadh Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab warna putih. Di bawah lambang itu tertulis “Tjabang NU Subang”.?

Makna Selembar Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Selembar Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Selembar Bendera

Kata cabang masih ditulis “tjabang” karena aturan “tj” menjadi “c” diberlakukan sejak tahun 1972 dalam aturan Ejaan Yang Disempurnakan. Sementara kata “NU” sudah tidak lagi “NO” karena pada tahun 1947 pun sudah diubah.

Bendera tersebut milik pribadi Mama Ajengan KH Syamsuddin. Kata “mama” adalah panggilan akrab “rama” yang berarti ayah. Sebagaimana di Jawa, penyematan “mama”, digunakan juga kepada tokoh agama, di samping untuk ayah.?

Mama Syamsuddin adalah tokoh NU di MWC Pabuaran, ketika Subang masih menjadi bagian Kabupaten Purwakarta. Ia adalah tokoh agama yang lari dari Garut karena tidak mau menerima tawaran bergabung menjadi bagian DI/TII. Kemudian ia tinggal daerah Subang, dan bekerja di perkebunan tebu.

Kendati ia menyembunyikan diri, karena prilakunya berbeda dengan pekerja lain, lama kelamaan ia tercium juga sebagai seorang ahli agama. Kemudian ia diambil warga Pungangan untuk mengajar masyarakat. ?

Santri An Nur Slawi

Menurut Kiai Thola’ Al-Badr Karim bendera dibuat oleh kakeknya sendiri, Mama Syamsuddin dengan alat tulis kapas. Selain itu, sambil puasa juga. Bahkan bendera terebut pernah “dijiad” atau diberi bacaan-bacaan bertuah oleh kiai di Buntet.

Kemudian bendera tersebut disimpan di kamar pribadi Mama Syamsuddin. ? Setelah ia wafat, bendera itu raib tanpa jejak.

Bertahun-tahun Kiai Thola’ Al-Badr Karim mencari bendera itu. Usahanya membuahkan hasil sebelum bulan puasa tahun ini. Bendera tersebut rupanya diamanatkan kepada Kiai Munir, seorang santri Mama Syamsuddin.

Selain itu, KH Thola’ Al-Badr juga menyimpan dua surat dan satu SK struktur kepengurusan NU Kabupaten Subang pada tahun 1979. (Abdullah Alawi)

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Cerita, IMNU, RMI NU Santri An Nur Slawi

Minggu, 15 Januari 2017

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU

Jakarta, Santri An Nur Slawi



Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama menyelenggarakan Tasyakuran Harlah Fatayat NU Ke-67 di Gedung Serbaguna RJA DPR RI Jakarta, Jumat (28/4) sore. Acara tersebut bertemakan Memperteguh Islam Nusantara Melalui Penguatan Organisasi Perempuan.?

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU

Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini menuturkan, ada berbagai rentetan kegiatan yang sudah dilakukan untuk menyambut dan memeriahkan Hari Lahir organisasi perempuan NU tersebut.?

Anggia menjelaskan, Fatayat sudah menyelenggarakan acara Ayo Bershalawat dan membentuk Forum Daiyah Fatayat (Fordaf) NU pada 21 April lalu di Bandung. “Itu adalah bagian dari rangkaian Harlah kita,” ucapnya.

Adapun hari ini, lanjut Anggia, Fatayat menyelenggarakan berbagai macam agenda seperti pasar murah, lomba tumbeng Fatayat NU se-Jabodetabek, seminar, lomba mewarnai dan paduan suara untuk anak-anak sekolah tingkatan TK dan SD, dan lomba antar pengurus bidang PP Fatayat untuk menyanyikan lagu mars Fatayat dan lagu syubbanul wathon.?

“Dengan mengadakan lomba-lomba, kita kenalkan anak-anak sejak usia dini dengan lambang-lambang NU dan Fatayat. Kita kenalkan agar mereka mencintai NU dan Fatayat,” terangnya.

Santri An Nur Slawi

Ia menceritakan, dari berbagai kegiatan itu yang paling seru adalah lomba antar pengurus bidang untuk menyanyikan lagu mars Fatayat dan lagu syubbanul wathan. Menurutnya, lomba ini bertujuan untuk memastikan agar mereka bisa menyanyikan mars Fatayat dan syubbanul wathon.?

Santri An Nur Slawi

“Ada yang sampai menangis karena ada yang belum hafal,” jelasnya.

Anggia mengungkapkan, salah satu inovasi yang dikembangkan oleh Fatayat NU adalah kegiatan menjual barang bekas yang masih bagus dengan harga yang murah. Baginya, ini adalah salah satu cara untuk membangun kemandirian organisasi.

“Sahabat-sahabat yang memiliki barang-barang bekas yang masih layak dijual murah. Dan lumayan laris manis,” katanya.

Ia menyatakan, puncak dari Harlah Fatayat NU akan diselenggarakan berbarengan dengan Rakernas Fatayat pada 4 Mei di Palangkaraya.?

Di usianya yang ke-67 ini, Anggia berharap Fatayat NU bisa menjadi yang diperhitungkan baik di tingkat nasional maupun di tingkat global.?

Saat ini, Fatayat NU memiliki 34 pengurus wilayah, 480 pengurus cabang, 2 ribu pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Doa Santri An Nur Slawi

PMII Universitas Subang Buka Bimbel Gratis Setiap Hari

Subang, Santri An Nur Slawi. Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Subang (Unsub) melayani bimbingan belajar secara gratis untuk pelajar SD dan SMP di sekretariat PMII setempat Jalan Nyimplung, Kelurahan Wanareja, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang. Layanan gratis ini dibuka untuk membantu kesulitan pelajar setempat dalam belajar.

Ketua PMII Universitas Subang Aep Saepuloh mengatakan, bimbel ini dimaksudkan untuk membantu pelajar dalam menguasai mata pelajaran di masing-masing sekolahnya.

PMII Universitas Subang Buka Bimbel Gratis Setiap Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Universitas Subang Buka Bimbel Gratis Setiap Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Universitas Subang Buka Bimbel Gratis Setiap Hari

"Rata-rata anak-anak enggan mengikuti les karena adanya biaya. Padahal les itu penting untuk menambah wawasan dan memahami mata pelajaran di sekolahnya. Untuk itulah, kami buka bimbel gratis agar anak-anak lebih semangat dalam belajar," ujar Aep kepada Santri An Nur Slawi, Jumat (16/1).

Peserta bimbel kebanyakan berasal dari sekitar lokasi. Layanan ini dibuka setiap hari pukul 15.00 WIB.

Santri An Nur Slawi

"Setiap harinya memang peserta bimbel ini mulai bertambah. Sejak mulai digelarnya bimbel sepekan lalu. Yang semula ada 5 orang, sekarang pesertanya bertambah sekitar 25 orang," kata Aep.

Kendati diselenggarakan dalam keadaan serba terbatas, pihaknya tetap akan memberikan layanan bimbel kepada anak-anak di masyarakat sebagai wujud partisipasi dalam mencerdaskan masyarakat.

"Dalam bimbel ini, sejumlah mata pelajaran yang ada di masing-masing sekolahnya akan diperdalam khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika," jelas Aep.

Dalam waktu dekat pihaknya berencana akan membuka perpustakaan untuk masyarakat sekitar. "Ini dibuka untuk umum sehingga para pelajar, mahasiswa, dan warga lainnya berhak membaca buku-buku di sini secara gratis," ujarnya.

Santri An Nur Slawi

Salah seorang orang tua peserta bimbel Karnadi menyambut baik atas kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa aktivis pergerakan ini. "Daripada waktunya digunakan untuk bermain, mending diisi kegiatan belajar untuk menambah wawasan," kata Karnadi. (Ade/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail, Warta, Ahlussunnah Santri An Nur Slawi

Kamis, 12 Januari 2017

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI

Pontianak, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Kalimantan Barat menggembleng para kadernya melalui Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) II di Pondok Pesantren Darul Faizin, jalan Danau Sentarum Kota Pontianak, Kalbar, 12-15 Juni 2014. Para peserta didorong untuk setia membela tanah airnya.

"Dengan pengkaderan ini akan muncul kader-kader militan yang siap menjaga keutuhan NKRI dan Islam Ahlussunah wal Jamaah, sebagai Islam rahmatan lil alamin," terang Ketua PW GP Ansor Kalbar M Nurdin, Senin (16/6).

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI

Menurutnya, PKL merupakan kegiatan wajib bagi pengurus PW GP Ansor, sebagai proses pengkaderan di tingkat wilayah. Subro, Sekretaris PW GP Ansor Kalbar, mengatakan, ada 33 orang peserta yang dibaiat untuk tetap setia kepada NKRI.

Santri An Nur Slawi

Subro menambahkan, ke-33 peserta tersebut berasal dari pengurus Pimpinan Wilayah GP Ansor Kalbar, dan utusan dari beberapa Pimpinan Cabang GP Ansor, antara lain Kota Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Kubu Raya.

Kegiatan PKL ini mendapat sambutan positif dari pengasuh Pesantren Darul Faizin, Ust. Rudhy Abdullah Faiz. Ia berharap, dengan program ini hubungan antara GP Ansor dan pondok pesantren terus berlanjut dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya generasi mudanya.

Santri An Nur Slawi

Ungkapan serupa disampaikan Faisal Attamimi, instruktur PKL. Ia menekankan pentingnya kaderisasi bagi anggota GP Ansor di seluruh Indonesia.

"Ini juga menjadi syarat bagi sahabat-sahabat untuk menjadi pengurus GP Ansor dan mendapatkan pengesahan dari pimpinan pusat. Kalau ada pengurus belum ikut kaderisasi maka SK kepengurusannya tidak akan dikeluarkan," pesan kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini kepada para peserta PKL. (Yadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hikmah, Kyai, Berita Santri An Nur Slawi

Rabu, 11 Januari 2017

Katib Syuriyah NU Jember: Para Pengusaha Termasuk Pengikut Tarekat Syadziliyah

Jember, Santri An Nur Slawi. Ada banyak jalan menuju surga. Salah satunya dengan jalan kedermawanan (sakha’). Sifat sakha’ inilah yang menyebabkan orang masuk surga. Sakha’? setara dengan birrul walidain, mengajar (ta’lim), silaturahmi, berpuasa dan sebagainya.?

Demikian disampaikan Katib Syuriyah PCNU Jember, Dr Harisudin di hadapan ratusan peserta yang hadir dalam acara Buka Bersama Jember Entreprenuer Community (Jeco), di Rumah Makan Dapur Ibuku, Jl Riau Jember, Jum’at, (10/6).

Katib Syuriyah NU Jember: Para Pengusaha Termasuk Pengikut Tarekat Syadziliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Syuriyah NU Jember: Para Pengusaha Termasuk Pengikut Tarekat Syadziliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Syuriyah NU Jember: Para Pengusaha Termasuk Pengikut Tarekat Syadziliyah

Menurut Harisudin, jalan yang ditempuh oleh para pengusaha ini kalau dalam tarekat dimulai dengan syukur. “Ada tarekat untuk taqarrub pada Allah Swt. yang dimulai dengan sabar. Ini namanya tarekat Naqsyabandiyah. Dan ada tarekat yang dimulai dengan syukur. Ini disebut dengan tarekat Syadziliyah. Menurut saya, jama’ah Jeco cocok dengan tarekat Syadziliyah yang dimulai dengan syukur”, kata Dosen Pascasarjana IAIN Jember tersebut.?

Dalam pandangan Harisudin, doa Nabi Muhammad Saw. untuk senantiasa hidup dan mati sebagai orang miskin serta dikumpulkan bersama orang miskin, harus dimaknai bahwa Nabi Saw mampu hidup dengan dua keadaan tersebut. “Nah, kalau umat Muhammad ini beda, hanya mampu hidup dalam keadaan kaya dan tidak miskin. Wajar kalau doa yang seperti ini jarang yang baca. Ini sunah nabi yang tidak laku. Sunah nabi yang laku keras itu ya poligami”,? kata MN Harisudin yang juga Pengurus Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Jember yang disambut geeer peserta.?

Ketua Jeco, Rueko membenarkan apa yang disampaikan Kiai Harisudin. Menurutnya, bulan Ramadhan ini menjadi momentum yang tepat untuk menyebar kebaikan seperti sedekah dan bagi-bagi takjil.?

Rencananya, acara ini akan digelar kembali pada hari Jum’at, 24 Juni 2016 bekerja sama dengan RRI Jember. “ Saya berharap, semua anggota Jeco hadir. Mari kita bayangkan ini Ramadlan yang terakhir. Kita harus berusaha sebaik-baiknya di Ramadlan ini. Nanti kita iuran bersama baik itu berupa sedekah ataupun zakat untuk kegiatan tersebut,” kata Rueko.? (Anwari/Zunus)

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi News Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi

Senin, 09 Januari 2017

Bangun Sinergi, Pergunu Jatim Rangkul Pemerintah Terkait Guru NU

Mojokerto, Santri An Nur Slawi - Persatuan Guru NU (Pergunu) Jawa Timur menggelar pelantikan di Institut KH Abdul Chalim Pacet, Mojokerto, Ahad (5/11). Pelantikan dan rapat kerja ini dihadiri oleh 35 Cabang Pergunu se-Jawa Timur. Selain itu, hadir Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur.

"Kami sengaja menghadirkan para pemangku kebijakan di bidang pendidikan agar ada sinergi program dan kebijakan untuk Guru NU," kata Ketua PW Pergunu Jawa Timur H Sururi.

Bangun Sinergi, Pergunu Jatim Rangkul Pemerintah Terkait Guru NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Sinergi, Pergunu Jatim Rangkul Pemerintah Terkait Guru NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Sinergi, Pergunu Jatim Rangkul Pemerintah Terkait Guru NU

H Sururi mengatakan, program kerja yang akan disinergikan dengan pemerintah adalah tentang profesionalitas, kompetensi, kesejahteraan Guru NU dan pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan. "Nahdlatul Ulama harus menunjukkan sikap profesionalitas anggotanya mendorong sumberdaya manusia dan meningkatkan kesejahteraan anggota Pergunu," terang Sururi. ?

Santri An Nur Slawi

Mantan Ketua Pergunu Kabupaten Gresik ini mengatakan, Pergunu Jatim mendorong pembentukan cabang Pergunu di semua kabupaten dan kota hingga ke akar rumput seperti anak cabang dan ranting.

Isu perkembangan radikalisme yang sudah masuk ranah sekolah menjadi salah satu fokus utama Pergunu. Pergunu berkomitmen untuk membentengi para guru dan siswa dari paham radikalisme. "Para guru akan dibekali dengan wawasan keaswajaan An-Nahdliyah untuk dapat menyebarkan dan memberikan pemahaman pada siswa bahaya radikalisme yang mengancam bangsa," kata Sururi.

Santri An Nur Slawi

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur H Saiful Rahman memberikan apresiasi kepada organisasi profesional di lingkungan NU dan siap membuka seluas-luasnya kerja sama dengan Pergunu. Guru harus meningkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan, terutama penguatan pendidikan karakter.

"Saat ini banyak anak didik kita yang dipengaruhi obat terlarang narkoba. Saya berharap peran Pergunu harus dilibatkan," harap Saiful Rahman.

Saiful mengatakan, Pergunu mempunyai hak yang sama, mempunyai anggaran yang sama dengan organisasi profesi guru lainnya. Dinas Pendidikan Jawa Timur mengupayakan adanya dana 1,3 T untuk guru se-Jatim. "Sepuluh ribu beasiswa untuk guru madin madrasah dan TPQ yang belum memiliki ijazah S1," terangnya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur Samsul Bahri mengatakan, Pergunu adalah organisasi yang berbasis akademis. "Apa yang dilakukan itu harus semuanya bermuara ilmiah. Maka performa harus dijaga," tutupnya. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pertandingan Santri An Nur Slawi

Jumat, 06 Januari 2017

IPNU-IPPNU UINSA Kaji Kritis Relasi Media dan Kekuasaan

Surabaya, Santri An Nur Slawi - Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdalatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar diskusi tentang relasi media dan kekuasaan. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para kader agar menjadi konsumen media yang kritis.

Pimpinan Redaksi (Pimred) Majalah Pelajar Santri Berprestasi (PASTI) sekaligus Jurnalis Kominfo Jatim, Lukman Hakim yang diundang menjadi narasumber dalam kesempatan ini mengatakan, ada tiga hal yang harus dipahami untuk membedah relasi media dan kekuasaan, di antaranya posisi? pemerintah, pengusaha (kapital), dan media. Idealnya, tiga komponen tersebut saling menjalankan fungsinya secara optimal.

IPNU-IPPNU UINSA Kaji Kritis Relasi Media dan Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU UINSA Kaji Kritis Relasi Media dan Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU UINSA Kaji Kritis Relasi Media dan Kekuasaan

“Sayangnya, hari-hari ini mudah kita jumpai pengusaha memiliki media, kemudian masuk ke pemerintahan. Akhirnya yang terjadi konten yang disajikan bias dan cenderung mengarah pada kepentingan tertentu,” paparnya, Kamis (7/4), di Selasar Masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel.

Ia menjelaskan, media seringkali disebut sebagai salah satu dari empat pilar demokrasi. Melalui demokrasi, distribusi kekuasaan dengan mudah dapat dilakukan, baik kekuasaan politik maupun ekonomi. Media, idealnya berperan sebagai sebuah alat kontrol sosial yang dapat mencegah munculnya monopoli kekuasaan oleh pihak tertentu.

Santri An Nur Slawi

Sebagai mahasiswa, Lukman yang juga pengurus PW IPNU Jatim ini mengajak IPNU-IPPNU untuk tidak mudah terpengaruh oleh terpaan media. Sebaliknya, memahami isu yang dikembangkan media harus proporsional. Membiasakan diri untuk melakukan check and balance dengan melakukan komparasi berbagai media.

Ketua PKPT IPNU UIN Sunan Ampel, Ahmad Deni Saputra mengatakan, hasil dari diskusi ini akan ditindaklanjuti dengan mengoptimalkan media buletin dan media sosial. Seluruh kader diupayakan dapat mengasah kemampuan menulis. Dengan begitu, tidak hanya tunduk dan berdiam diri terhadap media mainstream namun juga bisa menawarkan gagasan melalui media independen milik sendiri.

Santri An Nur Slawi

Ia menambahkan diskusi? mengenai isu aktual dan asah nalar kritis memang menjadi agenda rutin mingguan. Selain itu, setiap hari Senin juga dilaksanakan kajian keaswajaan. Seluruh kegiatan yang dilaksanakan memang berorientasi pada penanaman nilai-nilai Islam rahamatan lil alamin dan memaksimalkan potensi intelektual.

“Sebagai garda terdepan pengkaderan di NU, kami berkomitmen untuk berkontribusi dalam memecahkan persoalan yang dihadapi bangsa. Tentu dengan kapasitas yang kami miliki,” tandasnya.? (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail, News Santri An Nur Slawi

Website IPNU-IPPNU Jawa Tengah Siap Diluncurkan

Purworejo, Santri An Nur Slawi. Situs Resmi Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Tengah telah rampung dikerjakan, dengan alamat: ipnujateng.or.id. Situs dengan format muda, personal dan kekinian tersebut rencananya akan diluncurkan bersamaan dengan pelantikan pengurus, Ahad (5/2) depan di Semarang.

Menurut Wakil Ketua Bidang Teknologi dan Informasi PW IPNU Jateng Muhammad Hidayatullah, website ini dirancang khusus untuk menyasar kaum muda.

Website IPNU-IPPNU Jawa Tengah Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Website IPNU-IPPNU Jawa Tengah Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Website IPNU-IPPNU Jawa Tengah Siap Diluncurkan

"Kita desain dengan format yang simple, muda dan gaul, agar para pemuda dan pelajar betah bertamu ke situs ini. Insya Allah, kita siap bersaing secara nasional di dunia maya," ungkapnya kepada Santri An Nur Slawi di Purworejo (3/3).

Selain itu, imbuh Dayat, timnya juga menyiapkan sarana media sosial dari facebook, twitter dan instagram sebagai instrumen pendukung.

"Nutizen (sebutan untuk netizen NU) bisa login dan ikut berkontribusi di situs ini. Kita juga sediakan kolom untuk alumni," imbuh Doyok, sapaan akrabnya.

Santri An Nur Slawi

Dalam penyiapannya sebelum launching, Doyok mengaku telah membentuk tim cyber dan kontributor daerah agar konten terus aktual atau update.

"Kita sudah bentuk kontributor resmi di 36 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sebagian mereka sudah aktif. April depan akan kita adakan training di Solo, agar lebih agressif dan professional," ungkap anak muda yang jago bikin website dan desain grafis ini.

PW IPNU dan IPPNU Jawa Tengah periode 2017-2020 akan dilantik, Ahad (5/3) di Wisma Perdamaian Jawa Tengah.?

Menurut Ketua Panitia Irchamuddin, selain pelantikan, panitia juga menyiapkan berbagai agenda tambahan. "Ada seminar, sarasehan bareng alumni, deklarasi konten melawan hoax dan fitnah, juga peluncuran website resmi,” jelasnya.

Santri An Nur Slawi

Tak ketinggalan, dalam acara yang sama, website resmi PW IPPNU Jateng juga akan di-launching secara bersamaan. Dengan alamat ippnujateng.or.id, IPPNU juga siap mengudara. (Ahmad Naufa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nusantara Santri An Nur Slawi

Senin, 02 Januari 2017

As’ad Said Ali Ingatkan Guru NU soal Bahaya Liberalisme Barat

Mojokerto, Santri An Nur Slawi. Penasehat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) KH Asad Said Ali mengingatkan para Guru NU tentang bahaya liberalisme. Islam yang muncul pada era sekarang, ia menyebut di dunia Barat, sopan santun seorang anak kepada orangtuanya tidak terjaga.?

Misalnya anak menyebut orang tuanya dengan panggilan nama langsung. Sedangkan di Indonesia, anak dibiasakan memanggil dengan sebutan ayah, bapak, ibu, dan sebutan-sebutan sejenis.?

As’ad Said Ali Ingatkan Guru NU soal Bahaya Liberalisme Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
As’ad Said Ali Ingatkan Guru NU soal Bahaya Liberalisme Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

As’ad Said Ali Ingatkan Guru NU soal Bahaya Liberalisme Barat

Liberalisme semacam itu menjadi tantangan yang harus dikendalikan oleh para guru NU. Kiai Asad mengatakan hal tersebut pada Forum Silaturahim di ajang Kongres Ke-2 Pergunu di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (27/10) pagi.

Liberalisme Barat menurutnya, merupakan penjajahan bagi masyarakat Indonesia. Bila dibiarkan, masyarakat akan terbawa pada perilaku, pola pikir, dan berpakaian seperti masyarakat Barat.

Liberalisme dalam tahap tertentu bisa berwujud perbedaan pemahaman. Dalam menghadapi Liberalisme, guru-guru NU harus mengedepankan toleransi agar tidak timbul perpecahan.?

Santri An Nur Slawi

“Namun untuk kalangan sendiri (Nahdliyin, santri, dan murid NU) harus ditegaskan bahaya serta peringatan agar tidak terbawa kepada kelompok liberal,” ucap penulis buku Al-Qaeda ini.

Hal tersebut juga sepadan dengan karakteristik NU yang tampil sebagai penengah dan solusi dalam setiap persoalan. Begitu juga mengenai radikalisme yang menyebabkan wajah Islam terlihat eksklusif (tertutup) dan kaku. Di titik inilah sikap wasathiyah (moderatisme) NU menjadi penengah antara liberalisme dan radikalisme atau fundamentalisme.

Santri An Nur Slawi

"Ajaran agama harus dikedepankan, dengan mendasarkan diri pada ketentuan Al-Qur’an, Hadits, ijma, dan qiyas. Namun, ukhuwah Islamiyah juga harus ditegakkan," tegas As’ad yang juga Mustasyar PBNU ini.





Dalam forum tersebut, KH Asad Said Ali didampingi Ketua Umum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim, Katib Syuriyah PBNU KH M. Mujib Qulyubi, dan para narsumber lain.? (Nurdin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul Santri An Nur Slawi