Jumat, 18 Maret 2016

Pembibitan Sepak Bola Profesional Rasa Pesantren

Bantul,Santri An Nur Slawi. Wakil Ketua Panitia Nasional Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 Syaifuddin Munis mengatakan, pertandingan sepak bola antarpesantren yang diselenggarakan Kemenpora bekerja sama dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU ini, memiliki kualitas pembeda dari liga-liga pembibitan yang lain.

Pembibitan Sepak Bola Profesional Rasa Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembibitan Sepak Bola Profesional Rasa Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembibitan Sepak Bola Profesional Rasa Pesantren

Menurut dia, LSN selain memupuk pemain dengan pendidikan skill sepak bola, juga menonjolkan sisi moralitas karena lahir dari kalangan santri dan pesantren. Hal itu supaya para pemain seimbang antara skill dan moralnya. ?

“Cium tangan kepada wasit; jika terkena hukum tidak protes keras dan tidak melakukan tindakan anarkis; kalau menjatuhkan lawannnya harus segara dibangunkan dan salaman; itu yang terjadi di Liga Santri,” ungkapnya selepas pertandingan semifinal Seri Nasional di stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta pada Sabtu (29/10).

Santri An Nur Slawi

Ia menambahkan, menonjolkan sisi moralitas sebetulnya tidak menjadi regulasi, tapi menjadi trade mark LSN sejak awal bergulir. Dan itu berlaku sampai sekarang.

Karena, katanya, regulasi itu lebih pada norma-norma pertandingan sesuai ketentuan yang berlaku secara internasional di bidang sepak bola. Rujukannya adalah standar FIFA. Sementara moralitas adalah kultur pesantren yang dibawa santri ke lapangan sepak bola.

Santri An Nur Slawi

Lebih lanjut ia mengatakan, pada sisi pembibitan dan pendidikan pun, Liga Santri sangat serius mengupayakannya. Pada sisi ini LSN serius dalam? regulasi sepak bola yang didampingi langsung M Kusnaeni, seorang profesional di bidang itu. Sementara keseriusan pada sisi pembibitan, Liga Santri didampingi pemandu bakat oleh pemain legendaris nasional, Robby Darwis.

“Sehingga para santri tidak ala tarkam yang tidak ada ujung capaian prestasi di masa yang akan datang,” tambah Direktur Lembaga Antidoping Indonesia (LADI) untuk olahraga prestasi.

Dengan demikian, ia berharap Liga Santri ini merupakan agenda jangka panjang. Jika hari ini dikatakan sebagai pendidikan dan pembibitan, maka harapannya adalah prestasi di masa yang akan datang.

“Liga Santri bisa menyumbangkan pemain di liga profesional di nasional maupan di event-event internasional. Dan jangan lupa mereka pemain yang sudah digembeleng pada sisi moralitas dan spiritual pesantren yang sangat militan,” jelasnya.? ? ?

Ia juga memberi catatan, penonton Liga Santri berbeda dengan penonton pada sepak bola yang lain. Mereka tertib di pinggir lapangan menyanyinyakn mars persantren dengan tertib dan membacakan shalawat Nabi. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ahlussunnah Santri An Nur Slawi

Rabu, 16 Maret 2016

Kisah Misnun Dapat Hadiah Umrah dari Anaknya

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Tahun 1982 silam, Misnun bersama keluarganya berangkat dari Banyuwangi Jawa Timur ke Papua sebagai transmigran. Di Papua, yang saat itu masih disebut Irian Jaya, Misnun seperti warga transmigran lainnya, mendapat sebidang tanah dan dikelola sebagai lahan pertanian.

Kisah Misnun Dapat Hadiah Umrah dari Anaknya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Misnun Dapat Hadiah Umrah dari Anaknya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Misnun Dapat Hadiah Umrah dari Anaknya

“Waktu itu tanah yang kami olah masih hutan yang baru ditebang pohonnya. Sekarang sudah ramai dan menjadi pusat distrik (kecamatan),” cerita Misnun.

Perkembangan kemajuan Kabupaten Sorong, juga seiring dengan keberhasilan Misnun dalam menghidupi keluarganya. Kedua anaknya dapat dikatakan menjadi orang-orang sukses dengan mengabdikan diri kepada masyarakat. Anak pertama Misnun saat ini menjadi Kepala Puskesmas, sedangkan anak kedua berprofesi sebagai bidan.

Awal Maret lalu, kedua anaknya menghadiahi Misnun dan istrinya dengan membiayai perjalanan umrah. Misnun lalu mencari informasi bagaimana mengikuti perjalanan umrah yang tepat dan nyaman serta cocok bagi dirinya yang warga nahdliyin.

“Sekitar dua bulan sebelumnya anak saya bilang ingin membiayai ibadah umrah saya dan istri. Lalu saya carilah info. Kebetulan saya kenal dan sering berkomunikasi dengan Pak Sutejo, Ketua PCNU Kabupaten Sorong. Beliau lalu mengajak saya umrah bersama ASBIHU,” kata Misnun.

Santri An Nur Slawi

Bersama 38 jamaah lainnya, Misnun dan istrinya merupakan pasangan umrah ASBIHU dari Kabupaten Sorong yang berangkat umrah awal Maret ini. Ia pun mengungkapkan rasa senangnya dapat melaksanakan ibadah umrah.

“Anak-anak tahu perjuangan kami membesarkan dan menyekolahkan mereka. Saat sudah ada rizki mereka membiayai saya dan istri berangkat umrah. Saya senang sekali bisa ikut umrah bersama ASBIHU. Karena dari ASBIHU juga pelayanannya baik sekali,” Misnun melengkapi ceritanya.

Santri An Nur Slawi

Kala itu, ASBIHU memang memberikan bonus tambahan bagi rombongan umrah asal Kabupaten Sorong. Sebelum diterbangkan ke tanah suci, mereka diajak mengunjungi sejumlah tempat di Jakarta, antara lain Taman Mini Indonesia Indah, Gedung PBNU, Monas dan Masjid Istiqlal.

“Alhamdulillah, kami mendapat bonus kejutan. Dan kami sangat senang, karena diajak berkeliling Jakarta. Terima kasih kepada PBNU dan ASBIHU. Ini menjadi kebanggaan dan kebahagiaan bagi kami,” ungkap Misnun. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Khutbah, Jadwal Kajian Santri An Nur Slawi

Jumat, 11 Maret 2016

Lagi, Koleksi Kitab Kuno di Masjid Agung Solo Rusak

Solo, Santri An Nur Slawi. Beberapa waktu lalu, diwartakan koleksi kitab-kitab kuno peninggalan jaman Paku Buwono (PB) X yang ada di Perpustakaan Masjid Agung Surakarta rusak akibat dimakan rayap. Sebagian dari kitab tersebut, kemudian dapat diselamatkan dan diperbaiki.

Namun, ternyata hal tersebut bukan menjadi penyelesaian akhir dari masalah ini. Rabu (24/6) lalu, pengurus Masjid Agung Surakarta kembali memeriksa semua koleksinya. Hasilnya, sungguh memprihatinkan, buku bahkan berikut rak buku yang terbuat dari kayu pun telah rusak dimamah rayap.

Lagi, Koleksi Kitab Kuno di Masjid Agung Solo Rusak (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Koleksi Kitab Kuno di Masjid Agung Solo Rusak (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Koleksi Kitab Kuno di Masjid Agung Solo Rusak

Takmir Masjid Agung Surakarta, KRT Tafsir Anom Muh. Muhtarom, saat ditemui di lokasi mengatakan kondisi koleksi kitab serta buku yang ada di perpustakaan memang sudah cukup parah dan ada beberapa yang sudah tidak bisa dibaca lagi.

Santri An Nur Slawi

Menurutnya, hal tersebut perlu segera dipikirkan untuk dicari solusinya. “Solusinya itu perlu ada penataan ruangan dan digitalisasi kitab-kitab kuno, ini sekaligus membedakan mana yang rusak dan mana yang tidak,” terang Ketua MWCNU Pasar Kliwon itu.

Santri An Nur Slawi

Lebih lanjut, dikatakan Kiai Muhtarom, terkait penanganan digitalisasi koleksi ini pihaknya akan bekerjasama dengan IAIN Surakarta. Sedangkan untuk perbaikan rak, rencananya akan diganti dengan rak yang terbuat dari alumunium.

Hasil pemeriksaan koleksi pada hari itu, selanjutnya akan dipilah dan diinventarisir, buku mana yang rusak berat tidak bisa dibaca dan mana yang rusak ringan masih bisa dibaca. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hikmah Santri An Nur Slawi

Kamis, 10 Maret 2016

Kiai Juga Dorong Berwirausaha

Yogyakarta, Santri An Nur Slawi

“Orang yang selalu mendorong saya dalam berwirausaha itu Mbah Warsun. Mbah Warsun itu sangat respek pada santri yang punya jiwa mandiri. Sehingga beliau sering memberikan dorongan dan motivasi.”

Kiai Juga Dorong Berwirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Juga Dorong Berwirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Juga Dorong Berwirausaha

Demikian dikatakan H Suhadi Khozin, penasehat HIPSI Yogyakarta, saat ditemui Santri An Nur Slawi di gedung PWNU DIY, Jl MT Haryono 41-42, usai mengikuti acara Pembentukan pengurus HIPSI Cabang Yogyakarta, Sabtu (1/6) sore.

Orang terdekat almarhum Mbah Warsun itu pun menceritakan perjalanan wirausaha yang telah digelutinya sejak lulus SMA, sekitar tahun 1982. 

Santri An Nur Slawi

Dikatakan bahwa Mbah Warsun adalah orang yang selalu mendorongnya dalam berwirausaha.

Santri An Nur Slawi

“Saat kuliah pun, Bapak jarang sekali menanyakan kuliahnya bagaimana. Yang ditanyakan justru adalah bagaimana usahanya?” papar H Suhadi sembari berkaca-kaca ketika mengenang pengarang kamus Al-Munawwir tersebut.

Wakil Katib Syuriyah PWNU DIY itu kemudian menyatakan keprihatinannya kepada generasi muda sekarang, dimana mayoritas dari mereka ketika selesai kuliah, bingung akan ‘menjual’ ijazahnya ke mana. Belum lagi ditambah dengan mindset yang terbangun selama ini, bahwa ketika selesai dari sekolah dan kuliah, jadi pegawai, itu sudah selesai.

“Hal seperti itu saja sebenarnya tidak cukup. Maka cobalah berwirausaha, sekecil apapun. Mbah Warsun sering memberikan nasehat untuk berwirausaha dengan dimulai dari usaha-usaha kecil. Istilahnya itu gege mongso, yaitu harus dimulai dari kecil dan bertahap, tidak perlu langsung besar,” tandasnya.

Pemilik usaha sablon LU Grafika Yogyakarta tersebut berharap, dengan adanya pembentukan pengurus HIPSI Yogyakarta nantinya dapat muncul kemandirian dari santri, sesuai dengan kapasitas masing-masing. Agar nantinya juga memiliki kemandirian berfikir.

Kemudian, ia pun berpesan kepada generasi muda NU yang akan atau sedang menekuni bidang wirausaha, tentang empat hal. Pertama, agar memunculkan jiwa kemandirian yang dilandasi oleh motivasi yang kuat, amanah serta istiqamah. Kedua, harus ada keseriusan untuk melangkah dalam usaha, sekecil apapun. Ketiga, tidak usah terlalu bermimpi yang tinggi-tinggi dahulu.

“Yang terakhir, orang berwirausaha itu harus tahan banting,” pungkasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Tegal, Pesantren Santri An Nur Slawi