Jumat, 31 Mei 2013

Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel

Muktamar ke-33 di Kota Santri Jombang merupakan momentum untuk menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan yang berpegang teguh pada Islam yang wasathiyah (moderat), Islam Nusantara, Islam yang hidup ditengah-tengah ke-Bhineka-an. Tema yang diusungkan dalam Muktamar tersebut adalah Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Tema ini menegaskan komitmen NU untuk memajukan peradaban dari Indonesia untuk dunia dengan pendekatan yang harmonis (pendekatan agama, sosial) secara kultural dan dalam konteks ini NU sejak didirikan, sekarang, dan seterusnya akan mendukung peradaban.

Tema itu juga sejalan dengan doktrin Islam Aswaja Annahdliyyah yang sering diperdengarkan oleh organisasi Nahdlatul Ulama bertujuan agar hubungan antar manusia bisa bersikap tawasuth (moderat), tawazun (berimbang), i’tidal (tegak lurus dalam prinsip), dan tasamuh (toleransi). Hal ini sesungguhnya implementasi dari al-maslahah al-mu’tabarah (hifd din, nafs, ’aql, nasl, dan mal). Ketika lima tujuan ajaran universal Islam ini diintegrasikan dengan empat pilar kebangsaan, maka Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa akan menjadi negara yang maju dan berperadaban.

Terminologi “Islam Nusantara” mendapatkan respon yang hangat baik pro dan kontra atas istilah tersebut, di luar itu muncul banyak pendapat dan argumen untuk menegaskan bahwa istilah “Islam Nusantara” bukanlah model Islam atau aliran baru akan tetapi sebuah istilah yang memang hadir atas realita bahwa Islam di Indonesia adalah agama yang hidup di tengah-tengah agama-agama lain. Di luar perdebatan tersebut, layak untuk dibaca buku baru yang terbit awal tahun 2016 dengan judul Pemikiran Islam Lokal TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel.

Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel





Buku ini hadir menguraikan sejarah perjalanan intelektual seorang ulama dan tokoh besar Lombok NTB. TGH. M. Shaleh Hambali yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama Tuan Guru Bengkel (Bengkel merupakan nama sebuah desa tempat kelahiran dan dimakamkan TGH. M. Shaleh Hambali) merupakan salah satu perintis kebangkitan Islam di Lombok awal abad 20 dan merupakan Rais Syuriah pertama NU NTB. Tuan Guru Bengkel juga merupakan salah satu tokoh yang memformulasikan dakwahnya melalui tulisan atau seperti yang diistilahkan penulis buku “Era Fatwa” menuju “Era Baca”.?

Santri An Nur Slawi





Tuan Guru Bengkel dalam beberapa pemikiran dan fatwanya sering dianggap kontroversi karena beberapa pandangannya dalam persoalan agama berbeda dengan ulama pada masanya. Buku ini merupakan hasil penelitian yang didasari pada tugas akhir (disertasi) penulis ketika menempuh doktor di bidang Islamic Studies di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.?

Santri An Nur Slawi

Pemikiran-pemikiran Tuan Guru Bengkel dibagi menjadi tiga tema bidang pemikiran yaitu bidang tauhid, fiqih dan bidang tasawuf. Pemikiran Tuan Guru Bengkel dalam persoalan tauhid merepresentasikan bahwa Tuan Guru Bengkel adalah ulama yang memegang paham ahl-Sunnah wa al-Jama’ah An-Nahdlyah. Tema yang disajikan merupakan tema besar yang menjadi perhatian ulama ahl-Sunnah wa al-Jama’ah diantaranya 1) Masalah sifat Allah dan para rasul-Nya, 2) Masalah kekuasaan Allah dan perbuatan manusia, dan 3) Masalah keimanan dan keislaman (hal 134).

Adapun dalam bidang fiqih merupakan bidang kajian yang banyak menjadi bahan diskusi karena dianggap kontroversi, diantaranya masalah mati syahid dunia akhiratnya salah satu tokoh yang meninggal disebabkan oleh perisean. Perisean merupakan sebuah tradisi dalam masyakarat Sasak dimana dua orang pepadu saling mengadu ketangkasan (halaman 228). Masalah kedua yang dianggap kontroversi ? adalah tidak adanya Sorong Serah dalam perkawinan (halaman 238). Sorong Serah merupakan upacara yang dilakukan untuk membayar harga seorang perempuan dalam tradisi adat Sasak. Perkara lain dalam bidang fiqih adalah karya Tuan Guru Bengkel tentang haji yang terdapat dalam kitab Jamuan Tersaji pada Manasik Haji. Kitab ini menyajikan masalah haji lengkap yang diawali penjelasannya tentang masalah rukun Islam yang lima dan rukun iman yang enam.

Sedangkan dalam bidang tasawuf, ? Tuan Guru Bengkel mengajarkan salah satu bidang tasawuf yaitu tarekat. Tarekat yang dikembangkan adalah tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Khalwatiyah. Selain tarekat, topik pembahasan yang masih dalam kajian tasawuf adalah masalah lagu atau nyanyian dan tarian. Tuan Guru Bengkel menulis masalah ini dalam kitab Luqthatul Jawharah? yang ditulis pada tahun 1933. Kitab lainnya yang ditulis adalah tentang tasawuf, Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, Intan Berlian Perhiasan Laki Perempuan, dan Permaiduri.?





Walhasil bahwa buku karya Adi Fadli tentang sosok Tuan Guru Bengkel menjadi bahan bacaan dan kajian awal bahwa betapa produktifnya ulama yang hidup diparo abad ke-20 yang dianggap sebagai tokoh sang pembaru dalam model dakwah yaitu bil lisan, bil kitabah, dan bil hal. Selain itu buku ini menambah khazanah pengetahuan kita tentang teori masuknya Islam ke Lombok. Dalam penelitian Adi Fadli ini menjelaskan bahwa Islam masuk ke Lombok dengan tiga teori.?

Buku ini seperti yang dikatakan salah satu Guru Besar Sejarah UGM dalam pengantarnya layak untuk menjadi bacaan khalayak ramai, khususnya bagi mereka yang menggeluti kajian sejarah Islam di Indonesia, atau Islam di Nusantara, maupun sejarah lokal. Selain itu mereka yang tertarik pada persoalan sejarah keagamaan, sejarah sosial-budaya, dan segi-segi lainnya perlu untuk menjadikan buku ini sebagai salah satu referensi penting.

Info Buku

Judul Buku : Pemikiran Islam Lokal TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel

Penulis : Adi Fadli

Penerbit ? ? ? ? ? : Pustaka Lombok?

Cetakan ? ? ? ? ? : i, 2016

Tebal ? ? ? ? ? : xxvi – 358

Peresensi

Retno Sirnopati





Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Makam, Fragmen, Pahlawan Santri An Nur Slawi

Sabtu, 25 Mei 2013

Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PP Lakpesdam) NU ikut menyumbangkan ide, wacana, dan gagasan Islam Nusantara dengan menggelar diskusi bertajuk ‘Antara Agama Tradisi dan Tradisi Agama: Sebuah Upaya Meneguhkan Islam Nusantara’.

Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi

Acara yang digelar di lantai 8 Gedung PBNU, Selasa (7/7) ini menghadirkan Pakar Islam Nusantara, Drs Agus Sunyoto, dan Pengamat Kawasan Timur Tengah dan Maghrib Arabi, Dr Arwani Syaerozi dengan moderator Savic Ali, aktivis muda Nahdlatul Ulama dan Pimred Santri An Nur Slawi.

Dalam pengantarnya, Savic menjelaskan bahwa wacana Islam Nusantara semakin kaya dan berkembang. Kelompok yang kontra ditanggapi dengan baik oleh berbagai kalangan NU seperti para kiai, intelektual, maupun aktivis muda NU.?

Santri An Nur Slawi

Namun demikian, kata Savic, Islam Nusantara tetap mempunyai tantangan besar mengingat umat Islam di Indonesia masih ada yang menganggap bahwa Islam Nusantara bersifat Jawa sentris. Padahal menurutnya, Nusantara secara demografi mencakup seluruh wilayah Asia Tenggara.

Santri An Nur Slawi

Dalam pemaparannya, Agus Sunyoto menerangkan, bahwa Islam Nusantara harus melihat perjalanan sejarah. Selain memiliki paham inklusif, toleran, dan ramah, Agus menjelaskan bahwa Islam Nusantara mendorong kemajuan keilmuan dan peradaban seperti yang telah dibangun para Wali Songo.

“Seperti teknik metalurgi atau pengecoran, ilmu falak, palalindon atau ilmu gempa, ilmu fisionomi atau ilmu memahami karakter tubuh dan masih banyak lagi. Ilmu-ilmu yang kini modern itu justru dikembangkan oleh orang-orang Nusantara,” ungkap penulis buku Atlas Wali Songo itu.

Sementara itu, Arwani Syaerozi menjelaskan, bahwa masyarakat Indonesia yang multikultural dan lebih majemuk daripada masyarakat Timur Tengah (Asia Barat dan Afrika Timur) dan Maghrib Arabi (Afrika Utara) tidak tepat jika ber-Islam meniru corak Timur Tengah dan Maghrib Arabi.

“Konsep Islam Nusantara yang mengakomodir kearifan lokal dan memperhatikan nilai-nilai luhur bangsa sangat tepat diterapkan di Indonesia dan dijadikan model di negara-negara muslim di dunia,” jelasnya.

Menurutnya, Islam Nusantara mampu mengkombinasikan antara ber-Islam secara tekstual dan kontekstual. “Hal ini adalah konsep yang sejalan dengan Maqasid al-Syariah (tujuan-tujuan syariat),” tuturnya.?

Diskusi ini dihadiri oleh Ketua PP Lakpesdam NU, H Yahya Ma’shum beserta seluruh jajaran pengurus pusat lainnya dan peserta dari berbagai unsur organisasi NU dan aktivis Islam Nusantara. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Aswaja Santri An Nur Slawi

Selasa, 14 Mei 2013

LKNU: Kenali Diabetes Sedini Mungkin

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Wakil Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein mengatakan, penyakit diabetes mellitus harus dikenali sejak dini agar risiko lanjutan dari penyaki tersebut dapat dicegah.

LKNU: Kenali Diabetes Sedini Mungkin (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU: Kenali Diabetes Sedini Mungkin (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU: Kenali Diabetes Sedini Mungkin

Hal itu disampaikan Fariz saat mengisi seminar Waspada Diabetes; Dampak pada Tubuh dan Gigi di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta, Jumat (28/4) siang.

“Jumlah penderita diabetes mellitus (DM) ini meningkat sesuai pertambahan usia, jadi, termasuk progresif. Kemudian risikonya menyerang baik di kalangan masyarakat perdesaan maupun masyarakat perkotaan. Yang lebih memprihatinkan lagi, proporsi DM pada populasi dengan tingkat pendidikan yang rendah ternyata cukup tinggi,” papar Fariz.

Ia menambahkan data, pada tahun 2012 terdapat kurang lebih 1,5 juta kematian disebabkan oleh diabetes mellitus. Dan tahun 2014  ada 9 persen orang dewasa dari keseluruhan penduduk Indonesia terkena diabetes mellitus. Sementara sebanyak 80 persen kasus diabetes mellitus menimpa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Penderita diabetes juga dapat mengalami gangguan pada mulut dan gigi seperti sakit pada gusi, infeksi gigi dan mulut, gangguan rasa, infeksi jamur, disfungsi kelenjar getah bening, dan kerusakan gigi. 

Santri An Nur Slawi

Oleh karenanya, Fariz menekankan pentingnya kesadaran bersama untuk mencegah diabetes mellitus. Kesadaran bersama terhadap diabetes mellitus  merupakan tanggung jawab bersama. 

“Penguatan masyarakat secara aktif dalam mengendalikan faktor risiko DM, melalui advokasi pemerintah di tingkat desa dalam menggiatkan masyarakat peduli diabetes. Selain itu juga perlu dilakukan penyebaran informasi kesehatan dan edukasi mengenai deteksi faktor risiko secara dini,” tegasnya.

Bagi masyarakat sangat dianjurkan pemeriksaan kesehatan secara berkala yang meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, gula darah, lemak tubuh, termasuk kesehatan mulut dan gigi. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Ulama, Nusantara, Pertandingan Santri An Nur Slawi

Sabtu, 04 Mei 2013

Konferwil IPPNU Jabar Digelar Akhir Bulan Ini

Jakarta, Santri An Nur Slawi?

Konferensi Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) akan digelar pada 25 sampai 27 November 2016 di Pondok Pesantren Ashdiqiyah, Karawang, Jawa Barat. Konferwil tersebut mengangkat tema “Perempuan untuk Indonesia”.?

Konferwil XV ini, menurut Ketua PC IPPNU Ciamis Adiesti Mutia Ayu Fadhila?, tema tersebut sebagai upaya IPPNU Jawa Barat ikut serta dalam setiap derap pembangunan bangsa. "Wanita adalah tiangnya negara, apabila wanita itu baik maka baiklah suatu negara tapi apabila wanitanya hancur maka hancur pula suatu negara," ucap.

Konferwil IPPNU Jabar Digelar Akhir Bulan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferwil IPPNU Jabar Digelar Akhir Bulan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferwil IPPNU Jabar Digelar Akhir Bulan Ini

Adiesti menuturkan, pentingnya ? peranan perempuan dalam kehidupan dan pembangunan suatu bangsa. Namun dewasa ini, anggapan kualitas perempuan dalam pembangunan masih sangat rendah yang menyebabkan peran kaum perempuan tertinggal dalam segala aspek kehidupan.?

"?Dalam mengatasinya diperlukan upaya dan strategi, dengan mengintegrasikan gender ke dalam arus pembangunan dengan cara menempatkan perempuan sebagai subjek pembangunan," tuturnya.

Tambah dia, ? IPPNU merupakan wadah meliputi upaya dan strategi untuk memberdayakan perempuan dalam pembangunan. IPPNU hadir dalam potret meningkatkan kualitas, dan peran perempuan pada pembangunan semua aspek kehidupan baik mulai pembangunan karakter ditambah dengan terlibat dalam akselerasi proses pembangunan. "?Pemberdayaan kaum perempuan sebagai suatu proses kesadaran, dan pembentukan kapasitas karakter terhadap partisipasi yang lebih besar," tambahnya.?

Santri An Nur Slawi

Menurut dia, kekuasaan serta pengawasan dalam pembuatan keputusan, dan tindakan transformasi agar menghasilkan persamaan derajat yang lebih besar antara perempuan dan kaum laki-laki.?

IPPNU hadir sebagai partner pembanguan, ditambah isu gerakan dan pemberdayaan perempuan yang berkembang di masyarakat. "Perempuan sebagai sumberdaya pembangunan, dengan kata lain politik gender telah memakai pendekatan Women In Development dimana perempuan terintegrasi sepenuhnya dalam derap pembangunan nasional," pungkasnya. (Benny Ferdiansyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail, Internasional Santri An Nur Slawi