Jumat, 31 Oktober 2014

Ikhtiar Unifikasi Kalender Islam

Diskursus penentuan awal bulan komariah khususnya Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah telah lama dikenal bahkan dialami oleh masyarakat Islam Indonesia. Akibatnya hingga sekarang masih saja sering terjadi perbedaan dalam penetapannya. Tidak heran banyak kalangan menilai bahwa perbedaan ini adakalanya berhubungan dengan banyak hal mulai dari perbedaan dalam penafsiran hadist hingga persoalan sosial politik.?

Tidak dapat dipungkiri, sebenarnya akar dari perbedaan penetapan awal bulan antara NU dan Muhammadiyah muncul dari pemahaman hadis Nabi Shumu li ru’yatihi wa afthiru liru’yatihi fain ghumma alaihi fa istakmiluhu tsalatsina yauman (berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat tanggal, bila kamu tertutup oleh mendung maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban tiga puluh hari). Lafadz liru’yatihi yang artinya karena melihat bulan, NU memahami bahwa penentuan awal bulan komariah dilakukan berdasarkan metode rukyat (melihat bulan) secara langsung. Sehingga, sering kita sebut madzhab rukyat, sedangkan Muhammadiyah memahami lafadz liru’yatihi dimaknai bahwa kata melihat maksudnya dapat dilakukan secara perhitungan atau kita kenal juga dengan madzhab hisab.

Ikhtiar Unifikasi Kalender Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Unifikasi Kalender Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar Unifikasi Kalender Islam

Menurut data historis, meskipun Muhammadiyah menggunakan hisab namun dalam realitasnya tidak menolak rukyat. Begitu juga NU dan madzab rukyat lainya, walaupun dalam praktiknya memprioritaskan rukyat akan tetapi tidak mengesampingkan hisab. Artinya, pada mulanya perbedaan metodologi antara Muhammadiyah dan NU dalam menetapkan awal bulan komariah tidak menimbulkan konflik. Hal ini bisa dimengerti karena keputusan-keputusan yang dibuat keduanya bersifat elegan. Bahkan Muhammadiyah dalam setiap keputusannya tentang awal Ramadhan dan Syawal selalu menyertai kalimat “apabila rukyat mendahului hisab maka rukyatlah yang dipakai.”

Buku Kalender Hijriyah Universal ini mengkaji tentang sistem yang ada dalam kalender hijriyah universal dan prospek keberlakuannya di Indonesia. Sehingga ? perbedaan tidak lagi muncul dalam menetapkan awal bulan. Dalam pemaparannya buku yang awalnya merupakan hasil disertasi di IAIN Walisongo ini menjadikan teori tentang keberlakuan dan kemapanan sebuah kalender, yakni pertama adanya otoritas (penguasa) tunggal yang menetapkannya, kedua, adanya kriteria yang bersifat konsisten yang disepakati, ketiga, adanya batasan wilayah keberlakuan sebagai pisau analisisnya.

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi

Secara terperinci penulis memaparkan bahwa pertama, waktu magrib atau waktu terbenamnya matahari adalah waktu yang digunakan oleh kalender hijriyah universal sebagai permulaan hari dalam kalender hijriyah. Sedangkan tempat dimulainya hari adalah tempat yang hilal mungkin dilihat pertama kali saat sebuah hari dimulai. Mengenai konsep pergantian bulan, kalender hijriyah universal menjadikan imkanurrukyah, dengan kriteria visibilitas hilal Odeh, sebagai metode untuk menentukan pergantian bulan komariah, kedua, Kalender hijriyah universal dengan konsep dua zonanya sulit untuk diberlakukan di Indonesia. Belum tersosialisasikannya pemikiran tentang kalender internasional dan terlalu luasnya wilayah yang belum imkanurrukyah untuk dipaksa masuk ke dalam wilayah yang sudah imkanurrukyah dalam konsep dua zona adalah diantara sebabnya. Oleh karena itu salah satu solusi yang ditawarkan adalah menerapkan kriteria visibilitas hilal yang ada dalam kalender hijriyah universal dan menjadikan garis tanggal hijriyah yang dibentuk oleh kriteria visibilitas hilal dalam kalender tersebut dibelokkan sesuai batas politis negara untuk mempersempit pemaksaan masuknya wilayah yang belum imkanurrukyah ke dalam wilayah yang sudah imkanurrukyah. Oleh karena itu, penyatuan yang dapat diusahakan untuk saat ini adalah penyatuan kalender hijriyah secara nasional.( hal VII ).

Kehadiran buku ini mengupas secara gamblang menyoal penyatuan kalender universal dan merangsang perbincangan yang positif ke depan. Tidak hanya itu semoga semua usaha penulis dapat menyatukan penetapan awal bulan komariah yang sering terjadi di Indonesia. sehingga Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah, dapat dijalankan secara serempak demi tercapainya kebersamaan dalam beribadah.

Judul buku : Kalender Hijriyah Universal, (Kajian Atas sistem dan Prospeknya di Indonesia )?

Penulis : Muh. Nashirudin

Penerbit: EL-WAFA

Cetakan: April, 2013

Tebal: 244 halaman

ISBN: 978-602-7969-01-8

Harga: Rp 50.000,-

Peresensi: M Hanifan Muslimin, alumnus Pondok pesantren Tebuireng Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi IMNU, Pertandingan, Nahdlatul Ulama Santri An Nur Slawi

Rabu, 08 Oktober 2014

Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU

Probolinggo, Santri An Nur Slawi - A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin menyampaikan, dalam rangka menjawab tantangan organisasi NU dan dinamika perkembangan zaman, Banser sebagai kader penggerak dan satuan pengaman dari program GP Ansor harus mengubah mindset dan performancenya yang selama ini dianggap kurang memiliki nilai tawar.

Hal ini disampakan H Hasan Aminuddin ketika memberikan materi kepemimpinan dan enterpreneur dalam kegiatan kursus pelatih (Suspelat) I Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Jawa Timur di aula Pondok Pesantren Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Jumat (31/3) sore

Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU

Menurutnya, melihat fungsi dari Banser sebagai benteng ulama dan NKRI, Banser yang selalu menjadi garda terdepan disetiap gerak langkah GP Ansor bersama jam’iyah NU harus mampu menjalankan fungsinya secara profesional sesuai dengan pelatihan dan pendidikan yang sudah didapatnya.

“Jangan mau dijadikan alat oleh orang lain dalam urusan di luar prinsip NU, khususnya untuk kepentingan politik. Tetaplah menjadi benteng ulama NU dan menjaga keutuhan NKRI,” tegasnya.

Santri An Nur Slawi

Ia juga menekankan pentingnya kedisiplinan yang merupakan syarat utama untuk mencapai suatu keberhasilan di organisasi apapun, khususnya dalam keorganisasian Banser. Tugas pokok dan fungsinya adalah untuk menjaga Islam yang rahmatan lil alamin dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Santri An Nur Slawi

“Atribut dan seragam kalian sudah menyerupai seorang TNI, maka sifat, sikap dan perbuatan kalian harus seperti seorang TNI,” pungkasnya.

Kegiatan yang diikuti oleh 70 peserta perwakilan dari Satuan Koordinator Cabang (Satkorcab) Banser se-Jawa Timur ini mengambil tema Rapatkan Barisan Demi Terciptanya Indonesia Aman dan Sejahtera. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Santri Santri An Nur Slawi

Selasa, 07 Oktober 2014

Istighotsah Fatayat NU Pangkalan Lada Dihadiri Artis Ibu Kota

Pangkalan Bun, Santri An Nur Slawi

Istighotsah kubro yang diselenggarakan PAC Fatayat NU Kecamatan Pangkalan Lada, Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, Kamis (21/9) pagi, dihadiri ribuan masyarakat sekitar. Acara yang dihelat di lapangan Desa Melawen tersebut bertajuk  “Dengan Semangat Muharram, Kita Tingkatkan Kecintaan terhadap Tanah Air Indonesia.”?

Hadir pula Sofie Angel, artis ibu Kota Jakarta yang sekaligus menjadi MC pada acara tersebut. Dalam kesempatan itu ia juga menyanyi di hadapan ribuan masyarakat Pangkalan Lada. Sementara taushiyah sendiri diisi oleh Nyai Hj Dewi Ani seorang daiyah asal Jakarta sekaligus selaku pengurus Pimpinan Pusat Fatayat NU. 

Istighotsah Fatayat NU Pangkalan Lada Dihadiri Artis Ibu Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Istighotsah Fatayat NU Pangkalan Lada Dihadiri Artis Ibu Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Istighotsah Fatayat NU Pangkalan Lada Dihadiri Artis Ibu Kota

?Ketua panitia kegiatan, Maratusholikah mengatakan, kegiatan akbar ini bisa terlaksana berkat kerja sama seluruh masyarakat Desa Sungai Melawen. Maka ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut. Salah satunya adalah Majelis Lathoiful Istiqlal Jakarta dan sponsor lainya. 

 

Santri An Nur Slawi

“Kita mengadakan kegiatan ini dengan semangat syiar Islam dan bahu membahu antar masyarakat akhirnya bisa terlaksana,"tuturnya. 

?

Acara yang dihadiri Bupati dan wakil Bupati Kobar ini bertambah semarak ketika anggota DPRD Provinsi HJ Yustina Ismiati juga ikut hadir mendampingi suaminya Ujang Iskandar selaku ketua PCNU Kabupaten Kobar.

Dalam sambutannya, Ujang Iskandar mengapresiasi acara akbar tersebut. Ia juga mengobarkan semangat atas perjuangan para ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. 

Santri An Nur Slawi

 

"Semangat ini harus terus berkibar, demi syiar agama Islam. Terutama bagi warga NU harus meneladani perjuangan para ulama pendiri NU," tegas mantan orang nomor satu di Kobar. 

?

Senada juga disampaikan Bupati Kobar, Hj Nurhidayah, bahwa syiar agama harus terus digelorakan supaya bisa membentuk karakter masyarakat. Bupati juga meminta agar masyarakat tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Termasuk juga menjaga iman sehingga masyarakat Kobar bisa dilimpahi rahmat oleh Allah SWT.

Di hadapan ribuan hadirin, Bupati menyampaikan, di masa kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Ahmadi Riansyah, ia akan berkomitmen menjadi yang terdepan dalam kegiatan keagamaan.

?

“Kegiatan seperti ini harus kita dukung untuk mengibarkan semangat dalam menyebarluaskan syiar agama demi menuju Kabupaten yang agamis dan berakhlakul Karimah," ucap Nurhidayah.

?

Dalam tausiahnya Gus Ali Yusuf dari Ampel Surabaya selaku pembina Majelis Lathoiful Istiqlal mengajak kepada masyarakat untuk menggemakan semangat NU dan menghormati ulama. Karena kemerdekaan negara Indonesia tidak luput atas peran serta para ulama. 

 

“Dengan kegiatan ini semoga masyarakat Pangkalan Lada, Kabupaten Kobar secara umum semakin berkah dan masyarakatnya semakin menghormati para ulama serta mampu menghidupkan gerakan NU untuk membina umat," ujarnya. (Suhud Masud/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Lomba, Sholawat, Nahdlatul Ulama Santri An Nur Slawi

Maulid Nabi Eratkan Anggota IPNU-IPPNU Sekecamatan Jati

Kudus, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU Jati kabupaten Kudus memperingati maulid Nabi Muhammad SAW di Madin Darussalam desa Jati Wetan, Jati, Kudus, Jumat (23/1). Muludan yang bertepatan dengan pertemuan bulanan ranting dan komisariat IPNU-IPPNU sekecataman Jati ini, memperkuat jaringan struktural pelajar NU di Jati.

Muludan menjadi acara inti pertemuan bulanan IPNU-IPPNU sekecamatan Jati kali ini. Pertemuan kali ini adalah pertemuan terakhir di periode PAC IPNU-IPPNU kecamatan Jati yang dipimpin Slamet Riyadi dan Irlina Hikmawati.

Maulid Nabi Eratkan Anggota IPNU-IPPNU Sekecamatan Jati (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi Eratkan Anggota IPNU-IPPNU Sekecamatan Jati (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi Eratkan Anggota IPNU-IPPNU Sekecamatan Jati

Tampak hadir semua pimpinan ranting dan pimpinan komisariat pada kesempatan kali ini. Sementara itu mereka juga mempersiapkan Konferensi Anak Cabang. Pada Maret mendatang, kepengurusan IPNU-IPPNU akan berganti.

Santri An Nur Slawi

Selamet Riyadi mengatakan, “Mungkin ini adalah pertemuan terakhir bulanan bagi kita karena ini sudah di pengujung periode. Karena itu pertemuan ini tetap dilestarikan oleh periode-periode selanjutnya agar terjalin tali silaturahmi bagi ranting dan komisariat sekecamatan Jati.” (Dedi Hermanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Olahraga, AlaNu Santri An Nur Slawi

Minggu, 05 Oktober 2014

Kisah Remaja yang Ingin Membunuh Gus Dur

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Urusan penistaan dan penodaan agama selalu muncul dan berulang dari zaman ke zaman. Salah satu yang cukup menghebohkan era 90-an adalah ketika Tabloid Monitor yang dipimpin oleh Aswendo Atmowiloto menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan ke-11 sebagai tokoh yang dikagumi publik, kalah populer dengan artis-artis seronok asal Hollywood.?

Kisah Remaja yang Ingin Membunuh Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Remaja yang Ingin Membunuh Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Remaja yang Ingin Membunuh Gus Dur

Umat Islam merasa terhina dan sejumlah organisasi pemuda turun ke lapangan dan mengobrak-abrik kantor tabloid tersebut. Diantara yang ikut dalam rombongan pendemo tersebut seorang remaja tanggung usia SMP asal Priok, Abi, yang memiliki semangat besar membela Islam.

Bukan hanya di jalanan, Abi juga mengikuti berbagai pertemuan dan diskusi yang digelar membahas kasus tersebut. Semuanya dilakukan atas nama membela martabat Islam. Salah satu yang dihadiri adalah kajian Paramadina di hotel Kartika Chandra Jakarta. Abi menyaksikan perdebatan sengit antara Nurcholis Madjid dan Djalaluddin Rahmat dengan peserta bernama Hasan Dalil, yang dengan berapi-api menggugat sikap kedua tokoh tersebut yang dianggapnya membela Wendo.?

Santri An Nur Slawi

Hasan Dalil memanaskan situasi dengan berkali-kali meneriakkan kalimat takbir. Abi pun merasa terprovokasi dan semakin gemas ingin menyeret Aswendo.

Santri An Nur Slawi

Informasi lain, Abi juga mendengarkan selentingan dari kiri dan kanan bahwa Gus Dur di majalah Tempo menuliskan pandangannya dan pembelaannya atas apa yang dilakukan Aswendo, sebuah pemikiran yang tidak populer di kalangan aktifis yang pada saat itu umumnya sangat geram.

Ia sendiri mengaku tidak membaca tulisan tersebut, maklum masih SMP, hanya diceritakan oleh seorang novelis populer yang dikaguminya dan terlibat dalam aksi massa menentang Aswendo.

Di kediaman penulis tersebut di bilangan Utan Kayu Jakarta, malam tersebut, mereka berbincang tentang kasus tabloid tersebut dan rencana kelanjutan aksinya, termasuk membahas pembelaan Gus Dur terhadap Aswendo. Satu kata-kata yang diingat dari sahibul bait adalah “tokoh zionis yang wajib dibunuh itu bernama Gus Dur!"?

Sejak saat itulah tertanam kebencian di lubuk Abi pada sosok bernama Gus Dur, dan berbisik dalam hati, "Saya harus membunuhnya!"

Selang satu tahun kira-kira setelah kejadian itu, di kediaman duta besar Iran, diselenggarakan acara Majelis Taziyah Syahadah Al Husain. Ia merupakan salah satu pesertanya karena sedang bergelora mempelajari ajaran ahlul bait.?

Ketika sedang menunggu pintu utama dibuka, seseorang turun dari mobil dan berjalan mendekatinya, persis di sebelah kanannya, berkacamata tebal dengan rambut belah pinggir, gemuk, berkemeja lengan pendek, GUS DUR!

Ia merasa bergetar, salah tingkah, “Bukankah orang ini yang ingin saya bunuh?” bisiknya dalam hati, konyolnya ia malah menunduk taziem dan menarik telapak tangan kanan Gus Dur, seraya menciumnya dengan penuh rasa hormat.

Dan, hawa benci yang sempat tertanam itu rontok menjadi rasa kagum dan penuh penyesalan, apalagi di dalam Majelis Asyuro yang hanya dihadiri kurang lebih 50 orang itu, ia duduk persis di sebelah Gus Dur.

Ia tidak dapat mengikuti majelis dengan khusyu, karena perhatian hati dan pikirannya terampas oleh sosok di sebelahnya yang khusyu mendendangkan shalawat Nabi.

“Bagaimana mungkin orang yang sebegitu mencintai Nabi bisa saya benci?”

Pada hari itu pula, ia merasa terberkati, selain berada di majelis doa, tapi juga karena hingga tuntas majelis itu, ia berada di sisi ulama yang banyak disalahfahami orang, juga begitu banyak di cintai umat, sungguh sebuah perkenalan yang indah.

Apalagi setelah mendalami tasawuf, ia semakin menghormati Gus Dur dan menganggapnya sebagai orang yang alim dan mulia, yang tidak bisa dilihat dengan kaca mata biasa. Ia beberapa kali datang ke kediaman Gus Dur di Ciganjur dan dibantu dalam menyelenggarakan acara pengajian. “Gus Dur orang yang tabarruki.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Anti Hoax, Pesantren, Pendidikan Santri An Nur Slawi

Kamis, 02 Oktober 2014

Kiai Said Lantik PP Muslimat NU, 17 Ribu Kader Bakal Banjiri Istiqlal

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) akan menggelar pelantikan yang dirangkai dengan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-71, Selasa (28/3) di Masjid Istiqlal Jakarta. Kegiatan bertema Satukan Langkah Membangun Negeri, Menjaga NKRI ini bakal dihadiri oleh 17 ribu kader Muslimat NU dari sejumlah wilayah.

Terkait kegiatan tersebut, Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa melakukan audiensi kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Bersama para pengurus pusat lain, Khofifah bermaksud meminta Kiai Said berkenan hadir melantik para pengurus.

Kiai Said Lantik PP Muslimat NU, 17 Ribu Kader Bakal Banjiri Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Lantik PP Muslimat NU, 17 Ribu Kader Bakal Banjiri Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Lantik PP Muslimat NU, 17 Ribu Kader Bakal Banjiri Istiqlal

“Kami bermaksud meminta kesediaaan Kiai Said untuk melantik pengurus PP Muslimat NU yang akan digelar di Istiqlal sekaligus memperingati harlah. Sekitar 17.000 kader Muslimat akan hadir, mayoritas dari Jakarta,” ujar Khofifah usai audiensi.

Menteri Sosial RI ini juga menerangkan, pelantikan dan harlah dilaksanakan di Istiqlal tidak lebih yaitu untuk syiar Islam rahmatan lil alamin. Menurutnya, kehadiran para kader NU di Istiqlal penting untuk menjaga atmosfer Islam damai di masjid yang menjadi ikon nasional itu.

Santri An Nur Slawi

Sebelum acara pelantikan dan harlah, Muslimat NU akan mengadakan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Sentul, Bogor, Jawa Barat pada 24-26 Maret 2017. Rapimnas ini dihadiri oleh 34 pengurus wilayah dan 75 pengurus cabang.

“Kami berupaya merealisasikan berbagai program. Wilayah dan cabang unggulan kita prioritaskan agar memantik prestasi nyata kepada para pengurus lain di seluruh Indonesia,” jelas perempuan kelahiran Surabaya itu.

Dalam audiensi ini, Kiai Said menegaskan peran penting para pengurus NU dalam menggerakkan organisasi. Sebab itu, kualitas para pengurus di setiap level sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi.

“Kita berjuang bersama-sama untuk berkhidmah kepada umat untuk Indonesia yang lebih baik,” jelas Kiai Said.

Dalam audiensi tersebut, hadir jajaran Ketua PP Muslimat NU antara lain, Hj Sri Mulyati (Ketua I), Hj Nurhayati Said Aqil Siroj (Ketua II), Hj Yaniah Wardani (Ketua VI), Hj Erna Yulia Soefihara (Ketua VII), Hj Ariza Agustina (Ketua VIII).

Santri An Nur Slawi

Juga ikut mendampingi Khofifah, Sekretaris Umum PP Muslimat NU Hj Ulfah Masfufah, Sekretaris II Hj Tuty Nurbaity, dan Bendahara Umum Hj Andi Nurhiyari Djamaro Dulung.

Para pengurus PBNU juga hadir dalam audiensi tersebut di antaranya Wakil Ketua Umum PBNU H Maksoem Mahfudz, Ketua PBNU M. Nuh dan Hanif Saha Ghofur, serta Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hadits, Sejarah Santri An Nur Slawi

Rabu, 01 Oktober 2014

Kemnaker Manfaatkan Media Sosial untuk Sebar Informasi Ketenagakerjaan

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ketersediaan informasi ketenagakerjaan secara nasional akan berkontribusi positif terhadap proses perencanaan dan pembangunan. Agar informasi ketenagakerjaan dapat diterima masyarakat secara akurat, akuntabel, dan membawa nilai kemanfaatan, maka dibutuhkan sistem informasi yang terintegrasi antara pusat dan daerah.

?

"Pertemuan ini untuk meningkatkan koordinasi dan konsolidasi informasi ketenagakerjaan di tingkat pusat dan daerah, " kata Sekretaris Jenderal Kemnaker, Hery Sudarmanto saat membuka workshop "Integrasi informasi ketenagakerjaan pusat dan daerah melalui media sosial" di Jakarta, Selasa (15/8).

Kemnaker Manfaatkan Media Sosial untuk Sebar Informasi Ketenagakerjaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemnaker Manfaatkan Media Sosial untuk Sebar Informasi Ketenagakerjaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemnaker Manfaatkan Media Sosial untuk Sebar Informasi Ketenagakerjaan

"Integrasi data ketenagakerjaan ini juga harus didukung dengan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi yang mutakhir sehingga semakin mempercepat penyampaian informasi dan memperluas jangkauan," ungkap Hery.

Oleh karena itu, ? Sekjen juga mendukung pemanfaatan integrasi informasi ketenagakerjaan pusat dan daerah melalui penggunaan media sosial. Apalagi pengguna internet di indonesia mencapai 132 juta orang dan pengguna media sosial di Indonesia mencapai 106 juta orang.?

Santri An Nur Slawi

"Penggunaan media sosial dalam menyebarluaskan informasi merupakan langkah terobosan yang tepat untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, " kata Hery.

Hery mengatakan Presiden Jokowi telah menginstruksikan untuk mendigitalisasi pelayanan publik, pengadaan barang & jasa serta pelayanan investasi. Pemerintah harus memanfaatkan teknologi informasi untuk mempermudah dalam memberikan pelayanan publik.

Sekjen Hery memberikan contoh bahwa selama ini masyarakat masih bingung jika ingin bekerja di luar negeri. Mereka tidak tahu harus ke mana mencari informasi pasar kerja di luar negeri.?

Santri An Nur Slawi

?

"Hal tersebut tekadang membuat banyak TKI tertipu calo. Melalui integrasi pusat dan daerah kita bisa saling berbagi informasi, bahkan melalui media sosial yang mudah diakses" ungkap Sekjen Hery.?

"Kemnaker juga terus perkuat integrasi informasi ketenagakerjaan melalui media sosial agar mempermudah masyarakat untuk mengakses informasi dan ikut berperan menyebarluaskan," papar Hery.

?

Melalui forum integrasi informasi ketenagakerjaan, Hery berharap pengelolaan dan penyebarluasan informasi pembangunan ketenagakerjaan anatar pusat dan daerah terorganisir dengan baik. Sehingga bisa menjangkau seluruh wilayah di Indonesia.

"Jadi kita bisa mendapatkan gambaran data pembangunan ketenagakerjaan secara nasional dan masyarakat juga bisa mengikuti dan mendukung proses pembangunan ketenagakerjaan," pungkas Hery. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Khutbah, Aswaja Santri An Nur Slawi