Senin, 30 Mei 2016

PBNU: IPNU Harus Menjawab Peran NU ke Depan

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, bahwa organisasi pelajar di lingkungan Nahdlatul Ulama (IPNU) harus bisa menjawab peran-peran NU di masa yang akan datang dengan tantangan yang semakin berat.

PBNU: IPNU Harus Menjawab Peran NU ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: IPNU Harus Menjawab Peran NU ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: IPNU Harus Menjawab Peran NU ke Depan

“Mari kita lihat kira-kira seratus tahun yang akan datang, NU masih ada apa tidak? Kalau ada, masih berguna apa tidak? Kalau masih berguna, berperan di belakang, atau di pinggir atau di depan?”

Ia bertanya seperti itu di hadapan para pengurus dan anggota IPNU pada peringatan hari lahir organisasi pelajar itu yang ke-60 di aula Perpustakaan Nasional Jakarta, Senin malam (24/2).

Santri An Nur Slawi

Kiai yang masuk IPNU di tahun 1966 pada saat Ketua Umum KH Asnawi Latif itu mengaku, bahwa dirinya tak bisa menjawab pertanyaan itu. Yang bisa menjawab adalah IPNU, organisasi termuda dalam jenjang kaderisasi NU.

Kiai asal Cirebon itu kemudian mengimbau  supaya para anggota IPNU berperan dan berkarya sejak masa muda. Ia mencontohkan seperti apa yang dilakukan Rais Aam PBNU yang belum lama wafat, KH Sahal Mahfudh. Menurut dia, Kiai Sahal sudah berkarya menulis kitab Thariqatul Hushul ala Ghayatul Wushul. “Waktu menulis kitab itu beliau pada usia 24 tahun,” tegasnya.

Santri An Nur Slawi

Soal peran, kiai yang akrab disapa Kang Said itu menukil firman Allah dalam Al-Quran Surah al-Baqarah 143 tentang ummatan washatan. Menurut penafsiran dia, kalimat itu adalah umat yang berkualitas yang berperan sebagai penopang, pendorong, penguat peradaban, budaya, intelektual, pendidikan, moral, ekonomi, dan politik.

Kang Said bersyukur, kiai-kiai NU hingga saat ini masih berperan di tengah-tengah masyarakat. “Walaupun ulama-ulama kita, Rais MWC itu kalau berdoa kebalik-balik, tapi masih berperan di tengah-tengah masyarakat,” katanya disambut tepuk tangan dan gelak tawa hadirin.

Hal itu, menurut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak tersebut, berbanding terbalik dengan ulama-ulama di Timur Tengah. “Syekh Wahbah zuhaili itu punya karangan tafsir belasan jilid, fiqhnya 8 jilid, usul fiqihnya dua jilid, orangnya masih hidup, tapi ulama sebesar itu, tidak mampu menjadi penengah konfflik di Syria,” ungkapnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Tegal Santri An Nur Slawi

Minggu, 22 Mei 2016

Abu Madyan Al Ghauts, Sufi Agung dari Andalusia

Oleh Idris Sholeh



Abu Madyan Al Ghauts, siapa yang tidak kenal dengan nama ini? Dialah sufi agung dari wilayah Islam paling barat. Nama lengkapnya adalah Abu Madyan Syuaib bin Husein Al Anshari Al Andalusi. Para pengagumnya menyebut dia sebagai sang sufi terbesar sepanjang sejarah, dia dianggap sebagai syaikhul masyayikh (mahaguru) karena keberhasilannya dalam menggabungkan antara syariat dan hakikat. Dia termasuk salah satu wali abdal pada masanya, dan sangat dikenal karena memiliki sifat takwa, wara, dan zuhud. Ia lahir di kota Qunthiyanah Sevilla Andalusia pada tahun 509 H. Pernah menempuh pendidikan di kota Fez Maroko, dan menetap di kota Bejaia.

Abu Madyan terlahir menjadi anak yatim dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana sehingga telah membentuk kepribadian yang memiliki tekad sangat kuat. Al Tadili meriwayatkan cerita dari Muhammad Al Anshari yang mendengar langsung dari Abu Madyan tentang awal mula kehidupannya. "Aku adalah seorang anak yatim dari Andalusia, saudara-saudaraku mempekerjakanku sebagai penggembala ternak mereka. Setiap kali aku melihat orang shalat atau membaca Al-Quran, aku selalu tertarik dan terpesona, maka aku mendekati dan memperhatikan mereka. Namun, aku seringkali berduka lantaran tidak bisa menghafal Al-Quran dan tidak tahu cara shalat. Seketika itulah muncul keinginan yang sangat kuat dalam diriku untuk meninggalkan gembalaan agar aku bisa belajar Al-Quran dan mempelajari syariah."

Abu Madyan Al Ghauts, Sufi Agung dari Andalusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Abu Madyan Al Ghauts, Sufi Agung dari Andalusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Abu Madyan Al Ghauts, Sufi Agung dari Andalusia

Salah satu guru Abu Madyan di kota Fez adalah seorang pakar fikih bernama Abu Hasan Ali bin Ghalib (w 592 H), kepada beliau juga, Abu Madyan belajar ilmu hadits yaitu kitab As-Sunan karya Abu Isa Al Tirmizi. Sedangkan mengenai ilmu tasawuf, beliau berguru kepada Abu Abdullah Al Daqqaq dan Abu Yaza Yalnur bin Maimun. Tentang guru-gurunya, Abu Madyan pernah bercerita "Saya mendengarkan cerita-cerita orang shaleh sejak zaman Uwais Al Qarni hingga sekarang, tidak ada yang menakjubkan bagiku selain tentang sosok Abi Yaza, dan tidak ada kitab yang menakjubkan bagiku selain kitab Ihya Ulumuddin karya Al Ghazali."

Karena kemasyhuran Abu Madyan atas keluasan ilmu dan karamahnya, akhirnya banyak orang-orang yang menimba ilmu kepadanya. Di antara murid-murid beliau adalah : 

Santri An Nur Slawi

1. Abdurrazaq Al Jazuli, kuburan beliau terletak di kota Alexandaria Mesir. Seperti dilansir oleh Ibnu Qanfazd dalam kitab Al Wafayat, beliau adalah salah satu guru dari Sidi Abi Muhammad Abdul Aziz Al Mahdawi dan Abi Baqa Abdullah.

2. Jafar bin Sidi Bunnah Al Khazai. Murid Abu Madyan ini pernah yang disebutkan oleh Lisanudin Ibnu Khatib dalam kitab Al Ihathah fi Akhbar Al Gharnathah.

3. Abdussalam bin Masyisy, beliau adalah salah satu guru dari tokoh besar yaitu Abu Hasan Al Syazili.

Diakhir hidupnya, beliau difitnah oleh orang-orang yang dengki dan iri atas kemasyhuran namanya, sehingga mereka memprovokasi penguasa Muwahidin pada saat itu yaitu Yakub Al Mansur dengan menyematkan kepadanya sebutan ulama Zindiq. Akhirnya beliau meninggalkan kota Bejaia menuju kota Tlemcen sampai akhir hayatnya pada tahun 594 H.

Salah satu karya beliau yang sangat terkenal adalah qasidah Ma Lazdah Al Isy . Berikut sebagian kutipan dan pesan-pesan yang terkandung didalamnya :

Santri An Nur Slawi

1. ? ? ? ? ? ? *** ? ? ? ?

Tidak ada kenikmatan hidup kecuali berteman dengan orang-orang fakir

Mereka adalah para sultan, para pemimpin dan para penguasa



2. ? ? ? ? *** ? ? ? ? ?

Maka bertemanlah dan bersikap baiklah di dalam majelis-majelis mereka

Dan tinggalkanlah kepentingan pribadimu sekalipun mereka menawarkan kepadamu



3. ? ? ? ? ? *** ? ? ? ? ? ?

Manfaatkanlah waktu, dan hadirlah selalu bersama mereka

Ketahuilah! sesungguhnya keridhaan itu tercurahkan khusus bagi orang yang hadir



4. ? ? ? ? ? *** ? ? ? ? ?

Ikutilah seorang guru dalam segala hal, semoga

Kebaikannya akan memberikan pengaruh kepadamu.

Penulis adalah wakil ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), kepala Pondok Pesantren Luhur Al Tsaqafah Ciganjur Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul, Kyai, Makam Santri An Nur Slawi

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Beberapa tahun terakhir ini kita saksikan pergulatan yang hebat di kalangan berbagai kelompok Islam di Tanah Air. Banyak muncul berbagai organisasi baru yang mengajukan klaim sebagai perwadahan organisasi kaum ulama Indonesia, baik yang berstatus swasta maupun setengah resmi. Ada yang didirikan khusus untuk menampung aspirasi kelompoknya saja, tetapi ada yang didirikan sebagai wadah dialog (musawarah) para ulama berbagai kelompok.

Di samping bertemunya segala macam ajaran dari berbagai kelompok di lingkungan perguruan-perguruan tinggi agama dan non-agama, organisasi-organisasi keulamaan itu akhirnya membawakan kebutuhan untuk melakukan perumusan kembali pengertian aqidah Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan Nahdlatul Ulama sendiri. Ini tercetus antara lain dalam bentuk membatasi pengertian ke-ahlussunnah-an hanya pada satu ajaran saja. Yaitu ajaran tauhid kedua imam Asy’ari dan Al-Maturidi saja. Asa yang selama ini menjadi dasar keputusan bersama (ijma’ = konsesus) tentang madzhab fiqh dan akhlaq al-tasawwuf diminta agar ditinjau kembali karena ada kemungkinan keduanya tidak termasuk asa ke-ahlussunnah-an.

Kita dapat menghargai dan mengerti munculnya keinginan seperti itu yang didasarkan kepada niat baik untuk mencari pendekatan sejauh mungkin antara warga Nahdlatul Ulama dan warga organisasi-organisasi lain, sebagai reaksi atas perpecahan hebat yang terjadi dalam batang tubuh umat Islam sendiri selama ini. Kita dapat memahami munculnya gagasan islaf (meniru kaum salaf) hingga kepada masa sebelum perbentukan madzhab fiqh, sebagai ikhtiyar penghayatan kembali masa keemasan Khulafaur Rasyiddin. Kita dapat memahami peningkatan kecenderungan untuk istidlal langsung kepada nushush manqulah yang menjadi sumber utama hukum agama kita, dengan mengurangi pengambilan langsung dari aqwal fi qutubihim al-muqarrarah, demi tercapainya kesatuan dan persyatuan di kalangan umat Islam. Semuanya akan kita korbankan dan kita persembahkan kalau diperlukan untuk memelihara kesatuan dan persatuan itu.

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU

Tetapi kenyataan yang ada tidaklah semudah impian di atas. Andai kita tinggalkan perumusan yang sudah ada tentang al-Usus al-tsalatsah fi I’tiqadi ahlissunnah wal Jamaah (bertauhid mengikuti Imam al-Asy’ari dan al-Maturidi, berfiqh mengikuti salah satu madzhab empat dan berakhlaq sesuai dengan perumusan Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali) dan kita ambil patokan paling sederhana seperti yang diusulkan di atas, dapat dipastikan persatuan dan kesatuan umat Islam tetap belum terwujud. Perpecahan hebat di lingkungan umat Islam diakibatkan oleh perbedaan besar dalam soal-soal luar aqidah, maka yang terjadi adalah perbedaan dalam penerapan aqidah itu sendiri dalam masalah-masalah nyata yang timbul dalam kehidupan. Kaum Ahlussunnah wal Jam’ah di lingkungan Nahdlatul Ulama menggunakan segala kelengkapan (alat) dan istimbath al-ahkam, termasuk usulul al-fiqh, qawaid al-fiqh, dan hikmat al-tasry’ dalam merumuskan keputusan hukum agama mereka, sedangkan orang lain hanya menggunakan istinbath dari (pengambilan lnagsung dari dalam naqli tanpa terlalu mementingkan penggunaan alat-alat tersebut di atas dalil naqli itu) dalam mengambil keputusan. Biar bagaimanapun juga, tiak akan ada kesepakatan cara (wasail, metode) di kalangan kaum muslimin, dan tetap akan ada perbedaan pendapat (ikhtilaf al-ara’) di antara mereka sebagai akibat sebagaimana diperkuat oleh kaidah ikhtilaf al-ummah rahmah.

Menciptakan Saling Penghargaan

Santri An Nur Slawi

Pemecahan persoalannya bukanlah dengan cara mempersatukan semua wasail yang berbeda-beda itu, melainkan menciptakan saling penghargaan di antara kelompok yang berlainan pandangan itu. Kesamaan sikap hidup dan pandangan umum tentang kehidupan adalah alat utama untuk menghilangkan perbedaan pendapat, atau setidak-tidaknya usaha menghindarkan perbedaan yang tajam. Sikap hidup dan pandangan umum tentang kehidupan yang bersamaan secara nisbi, dapat dikembangkan melalui penyusunan dasar-dasar umum penerapan aqidah masing-masing guna maslahah bersama. Kalau kita perbincangkan pengembangan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, maka caranya bukanlah dengan mengembangkan (perumusan kembali) aqidah yang sudah muttafaq ‘alaih semenjak berabad-abad, melainkan dengan mengembangkan dasar-dasar umum penerapan aqidah yang sudah diterima secara umum di lingkungan Nahdlatul Ulama itu. Biarkanlah al-usus al-tsalatsah yang sudah menjadi konsesus itu tetap pada keasliannya, sesuai dengan kaidah “al-ashlu baqau ma kana ala makana”. Yang terpenting adalah bagaimana merumuskan dasar-dasar umum penerapan ketiga usus itu dalam kehidupan nyata sekarang.

Dua Bentuk Kerja Utama

Santri An Nur Slawi

Pengembangan dasar-dasar umum penerapan aqidah yang sudah ada, tanpa mengubah aqidah itu sendiri, dapatlah dirumuskan sebagai upaya pengembangan ajaran (ta’lim) Ahlussunnah wal Jamaah. Pengembangan ajaran itu mengambil bentuk dua kerja utama berikut.

Pertama, pengenalan pertumbuhan kesejarahan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang meliputi pengkajian kembali sejarah pertumbuhan Ahlussunnah wal Jamaah dan dasar-dasar umum penerapannya di brbagai negara dan bangsa, semenjak masa lalu dan sekarang. Ini meliputi pengkajian wilayah (dirasat al-aqalim al-muslimah/area studies of Islamic people), dari Afrika Barat hingga ke Oceania dan Suriname. Kekhususan dasar umum masing-masing wilayah harus dipelajari secara teliti, untuk memungkinkan pengenalan mendalam dan terperinci atas praktik-praktik ke-ahlussunnah-an.

Kedua, perumusan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, meliputi bidang-bidang berikut;

1.? Pandangan tentang tempat manusia dalam kehidupan alam

2.? Pandangan tentang ilmu, teknologi, dan pengetahuan

3.? Pandangan ekonomis tentang pengaturan kehidupan masyarakat

4.? Pandangan tentang hubungan individu (syakhs) dan masyarakat (mujtama’)

5.? Pandangan tentang tradisi dan penyegarannya melalui kelembagaan hukum, pendidikan, politik dan budaya

6.? Pandangan tentang cara-cara pengembangan masyarakat, dan

7.? Asas-asa penerapan ajaran agama dalam kehidupan.

Secara terpadu, perumusan akan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat itu akan membentuk perilaku kelompok dan perorangan yang terdiri dari sikap hidup, pandangan hiup, dan sistem nilai (manhaj al-qiyam al-mutsuliyyah) yang secara khusus akan memberikan kebulatan gambaran watak hidup Ahlussunnah wal Jamaah (syakhsyiyatu ma tamassaka bi aqidati Ahlissunnah wal Jamaah).

Kehidupan Masa Kini

Perumusan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat yang dibagi dalam tujuh bidang di atas, akan dapat dilakukan dalam sebuah dialog terbuka di kalangan warga Nahdlatul Ulama, tidak hanya terbatas di lingkungan tertentu saja. Untuk memungkinkan pembicaraan terbuka yang eifisien, diperlukan sebuah kerangka umum pandangan Nahdlatul Ulama atas masalah-masalah kehidupan masa kini. Kerangka umum itu, menurut hemat penulis, haruslah memasukan unsur-unsur berikut.

Pertama, pandangan bahwa keseluruhan hidup ini adalah peribadatan (al-hayatu ‘ibadatun kulluha). Pandangan ini akan membuat manusia menyadari pentingnya arti kehidupan, kemuliaan kehidupan, karena itu hanya kepadanya lah diserahkan tugas kemakhlukan (al-wadhifat al-khalqiyyat) untuk mengabdi dan beribadat kepada Allah SWT. Demikian berharganya kehidupan, sehingga menjadi tugas umat manusia lah untuk memelihara kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, termasuk memelihara kelestarian sumber-sumber alam, memelihara sesama manusia dari pemerasan oleh segolongan kecil yang berkuasa melalui cara-cara bertentangan dengan perikemanusiaan, meningkatkan kecerdasan bangsa guna memanfaatkan kehidupan secara lebih baik, dan seterusnya.

Kedua, kejujuran sikap hidup merupakan sendi kehidupan bermasyarakat sejahtera. Kejujuran sikap ini meliputi kemampuan melakukan pilihan antara berbagai hal yang sulit, guna kebahagiaan hidup masa depan; kemampuan memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri (sehingga tidak terjadi aturan permainan hidup bernegara yang hanya mampu menyalahkan orang lain dan menutup mata terhadap kesalahan sendiri); dan kemampuan mengakui hak mayoritas bangsa dan umat manusia untuk menentukan arah kehidupan bersama. Kejujuran sikap ini akan membuat manusia mampu memahami betapa terbatasnya kemampuan diri sendiri, dan betapa perlunya ia kepada orang lain, bahkan kepada orang yang berbeda pendirian sekalipun. Ini akan membawa kepada keadilan dalam perlakuan di muka hukum, penegakan demokrasi dalam arti yang sebenarnya, dan pemberian kesempatan yang sama untuk mengembangkan pendapat masing-masing dalam kehidupan bernegara.

Ketiga, moralitas (akhlaq) yang utuh dan bulat. Akhlaq yang seperti ini, yang sudah dikembangkan begitu lama oleh para ulama kita, tidak rela kalau kita hanya berbicara tentang pemberantasan korupsi sambil terus-menberus mengerjakannya; tidak dapat menerima ajakan hidup sederhana oleh mereka yang bergelimang dalam kemewahan tidak terbatas yang umumnya diperoleh dari usaha yang tidak halal; dan menolak penguasaan seluruh wilayah kehidupan ekonomi oleh hanya sekelompok kecil orang belaka.

Secara keseluruhan, kerangka umum di atas akan membawa Nahdlatul Ulama kepada penyusunan sebuah strategi perjuangan baru yang akan mampu memberikan jawaban kepada tantangan-tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama sendiri dewasa ini dan di masa mendatang, strategi perjuangan itu, yang unsur-unsurnya sudah banyak dibicarakan dan dirumuskan dalam berbagai kesempatan oleh banyak kalangan Nahdlatul Ulama sendiri, perlu dirumuskan dan disusun, jika kita ingin melakukan perjuangan yang lebih terarah dengan cara yang lebih tepat.

Dua Sendi

Untuk keperluan penyusunan strategi perjuangan itu, di bawah ini akan dikemukakan kedua sendi yang tidak boleh tidak harus dimiliki.

Pertama, pendekatan yang akan diambil oleh strategi itu sendiri, yang seharusnya ditekankan pada penanganan masalah-masalah kongkret yang dihadapi oleh masyarakat melalui kerja-kerja nyata dalam sebuah proyek rintisan, baik di bidang pertanian, perburuhan, industri kecil, kesehatan masyarakat, pendidikan keterampilan, dan seterusnya.

Kedua, organisasi atau arah yang akan ditempuh oleh strategi itu sendiri, yang seyogianya dipusatkan pada pelayanan kepada kebutuhan pokok mayoritas bangsa, yaitu kaum miskin dan yang berpenghasilan rendah.

?

?

*) Tulisan ini pernah dimuat sebagai kata pengantar dalam buku “Ahlussunnah wal Jamaah: Sebuah Kritik Historis” karya ? KH Said Aqil Siroj (Jakarta: Pustaka Cendikia Muda, 2008).

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Tegal Santri An Nur Slawi

Minggu, 15 Mei 2016

Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis

Batang, Santri An Nur Slawi



Menyambut Ramadhan tahun ini, Unit Pengelola Zakat Infak Sedekah Kecamatan Limpung, Batang, Jawa Tengah menggelar pengobatan gratis Sabtu (19/5) di halaman Masjid Al Barokah Desa Tembok Kecamatan ? Limpung.?

Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis

Direktur ? UPZIS ? Limpung M Sofa menyampaikan pengobatan gratis dilaksanakan dengan menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, yang dalam pelaksanaanya ditangani oleh UPT Puskesmas Kecamatan Limpung.?

“UPZIS Limpung berada di bawah binaan LAZISNU, selain mengadakan pengobatan gratis, di tempat dan waktu yang sama juga dilakukan penyerahan paket sembako untuk fakir miskin,” ujarnya.

Ia menambahkan kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab kepada para muzakki dan donatur, khususnya di Kecamatan Limpung.

Santri An Nur Slawi

“Tujuannya agar dalam menjalankan kewajiban puasa nanti masyarakat menjalankannya dengan dapat khidmat, sehat jasmani dan rohani,” imbuh Sofa. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Olahraga, Hadits Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi

Dilantik, Ini Konsentrasi GP Ansor Gerokgak Bali 2016

Buleleng,Santri An Nur Slawi. Pengurus Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, masa khidmah 2015-2018 resmi dilantik Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Bali Amron Sudarmanto pada Kamis 4 Februari 2016 lalu.

Dalam sambutannya, Amron berpesan agar kader-kader Ansor untuk terus berperan aktif dalam mengawal keberadaan Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah, sekaligus mempertahankan Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa Indonesia.

Dilantik, Ini Konsentrasi GP Ansor Gerokgak Bali 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Ini Konsentrasi GP Ansor Gerokgak Bali 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Ini Konsentrasi GP Ansor Gerokgak Bali 2016

“Dalam menjalankan itu semua, kader Ansor harus tetap patuh kepada para ulama dan sesepuh. Jangan pernah mengabaikan nasihat ulama,” pintanya.

Santri An Nur Slawi

Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Gerokgak Abdul Karim Abraham mengatakan, konsentrasi kepengurusannya setahun ke depan adalah penataan organisasi, yakni konsolidasi dan kaderisasi.

Santri An Nur Slawi

“Konsolidasi untuk membangkitkan kembali ranting-ranting yang vakum. Setelah itu melakukan jenjang kaderisasi melalui pelatihan-pelatihan. Intinya meningkatkan pengetahuan tentang keorganisasian dan ideologi Islam ala Nahdlatul Ulama,” tegas ketua yang terpilih pada Konferensi Anak Cabang Agustus 2015. ?

Selain dihadiri jajaran pengurus Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang Buleleng, Pimpinan Ranting dan para tokoh masyarakat, juga dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur KHR. Ach. Azaim Ibrahimy. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Internasional, Khutbah, Daerah Santri An Nur Slawi

Rabu, 11 Mei 2016

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’

Oleh A Mustofa Bisri



Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa shahabat Umar Ibn Khatthab (40 S.H. – 23 H.) itu “faqih” mujtahid dan fatwa-fatwanya dibukukan orang dan dikenal sebagai fiqh Umar. Mungkin juga tak banyak yang tahu bahwa khalifah kedua ini muhdats (gampangnya, wali besar menurut istilah di kita sekarang). Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar mesjid di Medinah; pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah, hingga ‘nurut’—memberi manfaat manusia tanpa minta imbalan kurban perawan seperti semula—sampai sekarang ini; sering dengan firasatnya, shahabat Umar menyelamatkan orang. Bahkan khalifah yang pertama-tama dijuluki Amirul mukminien ini, pendapatnya sering selaras dengan wahyu yang turun kemudian kepada Rasulullah SAW (Misalnya pendapat beliau tentang tawanan Badr, tentang pelarangan khamr, tentang adzan, dsb.). Namun manakibnya jarang atau mungkin malah tidak pernah dibaca orang. Umumnya orang hanya mengenal beliau sebagai pemimpin yang al-Qawwiyul Amien, yang kuat dan amanah. Pemimpin kelas dunia (bahkan Michael Hart memasukkan beliau dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia) yang sering di elu-elukan sebagai Bapak Demokrasi yang penuh toleransi.

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’

Boleh jadi juga banyak yang tidak tahu bahwa shahabat Abu Bakar Siddieq (51 S.H.–13 H.) adalah waliyullah paling besar sepanjang zaman. Kebesarannya tampak sekali saat Rasulullah SAW wafat. Ketika semua orang, bahkan shahabat Umar yang perkasa, terpukul dan panik penuh ketidakpercayaan, Shahabat Abu Bakar –yang pasti paling sedih dan paling merasa kehilangan dengan wafatnya sang kekasih agung itu—sedikit pun tidak kelihatan guncang, apalagi kehilangan keseimbangan. Shahabat nomor wahid itu bahkan masih sempat mengingatkan shahabat Umar dan yang lain tentang firman Allah, Wamaa Muhammadun illa Rasuul qad khalat min qablihir rusul …yaitu bahwa betapa pun besarnya Muhammad SAW dia tetap manusia yang bisa mati. Hanya Allah yang hidup dan tak mati. “Man kaana ya’budu Muhammadan fainna Muhammadan qad maat; waman ya’buduLlaaha fainnaLlaha Hayyun la yamuut;” kata beliau saat itu menyadarkan shahabat Umar dan yang lain. Wali mana yang lebih besar dari orang yang disebut Rasulullah SAW sebagai kekasihnya, Abu Bakar Shiddiq ini? Sebagaimana shahabat Umar, juga jarang yang mengingat bahwa shahabat Abu Bakar juga mujtahid dalam arti yang sesungguhnya. Umumnya orang hanya mengenal shahabat abu Bakar sebagai shahabt yang mulia budi bahasanya, negarawan dan khalifah pertama Khulafa-ur Rasyidien.

Santri An Nur Slawi

Demikian pula shahabat-shahabat besar yang lain seperti sayyidina Utsman Ibn ‘Affan (47 S.H. – 35 H.) dan sayyidina Ali Ibn Abi Thalib (W. 40 H.), kebanyakan orang hanya mengenal sebagian dari sosok mereka yang paling menonjol; sehingga sisi-sisi kelebihan yang lain bahkan sering terlupakan. Dalam kitabnya Thabaqaat al-Fuqahaa, imam Abu Ishaq as-Syairazy menempatkan Khulafa-ur Rasyidien –secara berurutan-- di deretan pertama tokoh-tokoh faqih dunia. Tapi siapakah yang tersadar bahwa tokoh-tokoh khulafa itu ‘ahli fiqh’ juga?

Santri An Nur Slawi

Hal yang sama, dengan pencitraan yang berbeda-beda, terjadi pada tokoh-tokoh berikutnya. Imam Syafi’i (150 H.- 204 H.) misalnya, karena sudah terlanjur beken di bidang fiqh, apalagi menciptakan kaidah fiqh yang sangat jenius dan spektakuler, banyak orang yang lupa bahwa beliau sebenarnya juga menguasai ilmu hadis dan sastrawan yang handal; beliau mempunyai antologi puisi yang kemudian dikenal dengan Diewan Asy-Syafi’i. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Muhammad Ibn Idris ini juga mengerti tentang musik. Setiap orang berbicara tentang imam Syafi’i boleh dikata hanya sebagai sosok faqih mujtahid belaka.

Lebih malang lagi adalah imam Ibn Taimiyah yang hanya gara-gara kemononjolannya dalam hal menentang tawasul, oleh sebagian banyak orang –khususnya pengagum Imam Ghazaly—ditolak seluruh pemikirannya dan tidak dianggap sebagai imam yang alim dan mumpuni.

Syeikh Abdul Qadir Jailany (atau Jiely atau Kailany, 470-561 H. ) yang dijuluki Sulthaanul ‘Auliyaa, Raja Para Wali, barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa beliau sebenarnya menguasai tidak kurang dari 12 ilmu. Beliau mengajar ilmu-ilmu Qiraah, Tafsir, Hadis, Perbandingan madzhab, Ushuluddin, Ushul Fiqh, Nahwu, dlsb. Belia berfatwa menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali. Namun karena orang melihat sosok akhlaknya yang sangat menonjol, maka orang pun hanya melihatnya sebagai seorang sufi atau wali besar.

Demikianlah umumnya tokoh besar, sering ‘divonis’ harus menjadi ‘hanya sebagai’ atau ‘dikurangi’ kebesarannya oleh citra kebesarannya sendiri yang menonjol. Masyarakat tentu sulit diharapkan akan dapat melihat kebesaran seseorang tokoh secara utuh, paripurna; karena justru masyarakatlah yang pertama-tama terperangkap dalam sisi kebesaran yang menonjol dari sang tokoh dan kemudian tidak bisa melepaskan diri. Karena bagi mereka cukuplah apa yang mereka ketahui dari sang tokoh itu sebagai keutuhan kebesarannya. Barangkali disinilah pentingnya buku biografi seperti yang sekarang ada di tangan Anda. Biografi Almarhum wal maghfurlah Kiai Haji Abdul Hamid yang dikenal dengan Kiai Hamid Pasuruan ini.

***

Saya ‘mengenal’ secara pribadi sosok Kiai Abdul Hamid, ketika saya masih tergolong remaja, sekitar tahun 60-an. Ketika itu saya dibawa ayah saya, KH Bisri Mustofa, ke suatu acara di Lasem. Memang sudah menjadi kebiasaan ayah, bila bertemu atau akan bertemu kiai-kiai, sedapat mungkin mengajak anak-anaknya untuk diperkenalkan dan dimintakan doa-restu. Saya kira ini memang merupakan kebiasaan setiap kiai tempo doeloe. Waktu itu, di samping Kiai Hamid, ada Mbah Baidlawi, Mbah Maksum, dan kiai-kiai sepuh lain. Dengan mbah Baidlawi dan mbah Maksum, saya sudah sering ketemu, ketika beliau-beliau itu tindak Rembang, atau saya dibawa ayah sowan ke Lasem. Dengan kiai Hamid baru ketika itulah saya melihatnya. Wajahnya sangat rupawan. Seperti banyak kiai, ada rona ke-Arab-an dalam wajah rupawan itu. Matanya yang teduh bagai telaga dan mulutnya yang seperti senantiasa tersenyum, menebarkan pengaruh kedamaian kepada siapa pun yang memandangnya.

Ayah saya berkata kepada Kiai Hamid, “Ini anak saya Mustofa, Sampeyan suwuk!” Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba, kiai kharismatik itu mencengkeram dada saya sambil mengulang-ulang dengan suara lembut: “Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!”. Telinga saya menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk, tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah saya sendiri di notes saya: “Liyakun waladul asadi syiblan laa hirratan.” (“Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!”). Apalagi dalam beberapa kali petemuan selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diam-diam saya selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu.

Kemudian ketika saya sering berjumpa dalam berbagai kesempatan, apalagi setelah saya mulai mengenal putera-putera beliau –Gus Nu’man, Gus Nasih, dan Gus Idris— , Kiai Hamid pun menjadi salah satu tokoh idola saya yang istimewa. Pengertian idola ini, boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang dipahami kebanyakan orang yang mengidolakan beliau. Biasanya orang hanya membicarakan dan mengagumi karomah beliau lalu dari sana, mereka mengharap berkah. Seolah-olah kehadiran Kiai Hamid –Allah yunawwir dhariihah— hanyalah sebagai ‘pemberi berkah’ kepada mereka yang menghajatkan berkah. Lalu beliau pun dijadikan inspirasi banyak santri muda yang –melihat dan mendengar karomah beliau-- ingin menjadi wali dengan jalan pintas. Padahal berkah beliau, paling tidak menurut saya –dengan alasan-alasan yang akan saya kemukakan melalui kisah-kisah di belakang—lebih dari itu.

Pernah suatu hari saya sowan ke kediaman beliau di Pasuruan. Berkat ‘kolusi’ dengan Gus Nu’man, saya bisa menghadap langsung empat mata di bagian dalam ndalem. Saya melihat manusia yang sangat manusia yang menghargai manusia sebagai manusia. Bayangkan saja; waktu itu ibaratnya beliau sudah merupakan punjer-nya tanah Jawa, dan beliau mentasyjie’ saya agar tidak sungkan duduk sebangku dengan beliau. Ketawaduan, keramahan, dan kebapakan beliau, membuat kesungkanan saya sedikit demi sedikit mencair. Beliau bertanya tentang Rembang dan kabar orang-orang Rembang yang beliau kenal. Tak ada fatwa-fatwa atau nasihat-nasihat secara langsung, tapi saya mendapatkan banyak fatwa dan nasihat dalam pertemuan hampir satu jam itu, melalui sikap dan cerita-cerita beliau. Misalnya, beliau menghajar nafsu tamak saya dengan terus menerus merogoh saku-saku beliau dan mengeluarkan uang seolah-olah siap memberikannya kepada saya (Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu ‘hoby’ Kiai Hamid adalah membagi-bagikan uang). Atau ketika beliau bercerita tentang kawan Rembang-nya yang dapat saya tangkap intinya: setiap manusia mempunyai kelebihan di samping kekurangannya.

Ketika ‘krisis’ melanda NU di tahun 80-an, saya nderekke para rais NU Wilayah Jawa Tengah, Almarhum Kiai Ahmad Abdul Hamid Kendal, Almarhum Kiai A. Malik Demak, dan Kiai Sahal Machfudz Kajen, sowan ke kediaman kiai saya, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogya –Allah yarhamuh—yang waktu itu Rais ‘Am. Kebetulan pada waktu itu Kiai Hamid sudah ada disana. Seperti biasa dengan nada berkelakar, Pak Ali –demikian santri-santri Kiai Ali selalu memanggil beliau—berkata kepada Kiai Hamid: “Iki lho, Mustofa kandani, seneni!” (“Ini lho Mustofa dinasihati, marahi!”). Memang ketika itu saya sedang ada ‘polemik’ dengan kiai saya yang ‘liberal’ itu. Sekali lagi saya saksikan Kiai Hamid –dalam memenuhi permintaan sahabat-karibnya itu—dengan kelembutannya yang khas, hanya bercerita. “Saya tidak bisa bernasihat; mau menasihati apa? Tapi saya ingat dulu Syaikhuna …” demikian beliau memulai. Dan, masya Allah, dari cerita beliau, semua yang hadir merasa mendapat petuah yang sangat berharga; khususnya bagi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Prinsip-prinsip penting organisasi, beliau sampaikan --dengan metode cerita— sama sekali tanpa nada indoktrinasi atau briefing; apalagi menggurui. Luar biasa!

Sengaja saya ceritakan beberapa pengalaman pertemuan saya dengan Kiai Hamid di atas, selain sebagai tahadduts bin-ni’mah, saya ingin menunjukkan bahwa beliau memiliki ‘karomah’ yang lain, yang lain dari yang dipahami banyak orang. Sebenarnya buku yang sekarang ada di tangan Anda, sudah cukup memberikan gambaran agak utuh tentang sosok beliau; khususnya yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanan beliau. Tentang penguasaan ilmu, akhlak, dan perhatian beliau terhadap umat. Pendek kata tentang hal-hal yang di masa kini sudah terbilang langka.

Yang kiranya masih perlu dibeber lebih luas adalah proses yang berlangsung, yang membentuk seorang santri Abdul Mu’thi menjadi Kiai Abdul Hamid. Tentang ketekunan beliau mengasah pikir dengan menimba ilmu; tentang perjuangan beliau mencemerlangkan batin dengan penerapan ilmu dalam amal dan mujahadah; dan kesabaran beliau dalam mencapai kearifan dengan terus belajar dari pergaulan yang luas dan pengalaman yang terhayati. Sehingga menjadi kiai yang mutabahhir, yang karenanya penuh kearifan, pengertian, dan tidak kagetan. Kiai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. ‘Wali Tiban’, kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara ‘muttafaq ‘alaih’. Bahkan ayah saya, Kiai Bisri Mustofa dan guru saya Kiai Ali Maksum –keduanya adalah kawan-karib Kiai Hamid-- yang paling sulit mempercayai adanya wali di zaman ini, harus mengakui, meskipun sebelumnya sering meledek kewalian kawan-karib mereka ini.

Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf, Balaghah, ‘Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya sastra. Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya ‘hanya’ untuk membaca kitab dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu peninggalan Kiai Hamid–rahimahuLlah—adalah naskah lengkap berupa antologi puisi.

Banyak kiai yang karena ke-amanah-annya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai Hamid, seperti bisa dibaca di buku biografi ini, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus keluarganya sendiri.

Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di kalangan tokoh-tokoh yang alim.

Waba’du; sebelum saya menulis pengantar ini, saya sudah salat sunah dua raka’at; namun saya masih tetap merasa tidak sopan dan tidak sepantasnya berbicara tentang Kiai Hamid seperti ini dan khawatir kalau-kalau beliau sendiri tidak berkenan. Kelembutan dan kearifan beliau seperti yang saya kenallah yang membuat saya berani menuruti permintaan Gus Idris dan pihak Yayasan Ma’had As-Saafiyah Pasuruan untuk menulis. Semoga tulisan saya ini termasuk menuturkan kemuliaan orang salih yang dapat menurunkan rahmat Allah. Idz bidzikrihim tatanazalur rahamaat. Dan mudah-mudahan masyarakat tidak hanya mendapat berkah dari manakib beliau ini, tapi lebih jauh dapat menyerap suri tauladan mulia dari sierah dan perilaku beliau. Allahumma ‘nfa’naa bi’uluumihil qayyimah wa akhlaaqihil kariemah. Amin.

Rembang, 1 Shafar 1424

Tulisan ini merupakan kata pengantar KH A Mustofa Bisri atas buku biografi Almarhum KH A Hamid Pasuruan, dan dipublikasikan di dinding akun facebook miliknya.



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pertandingan, Sholawat Santri An Nur Slawi

Sabtu, 07 Mei 2016

PMII Blitar Kecam Keras Tindakan Represif Kepolisian di Madura

Blitar, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Blitar, Jawa Timur mengutuk dan mengecam keras tindakan aparat kepolisian yang menangkap kader PMII se-Madura. Polisi menangkap mereka saat menyampaikan aspirasi dan pendapat  terkait kunjungan Presiden SBY ke Madura.

PMII Blitar Kecam Keras Tindakan Represif Kepolisian di Madura (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Blitar Kecam Keras Tindakan Represif Kepolisian di Madura (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Blitar Kecam Keras Tindakan Represif Kepolisian di Madura

Kami menggugat tindakan aparat keamanan yang telah merampas hak penyampaian aspirasi dan pendapat di depan publik, ujar Ketua PC PMII Blitar Mahatir Muhammad kepada Santri An Nur Slawi, Jumat (6/12).

Menurutnya, tindakan represif polisi telah menciderai nilai-nilai demokrasi dalam bernegara dan melanggar hukum khususnya UU No. 9 Tahun 1998. “Seharusnya pihak aparat keamanan menjunjung tinggi  nilai-nilai demokrasi dan penyampaian aspirasi sahabat PMII se-Madura yang menyuarakan aspirasi rakyat,’’ katanya.

Santri An Nur Slawi

“Apabila dalam waktu 24 jam sahabat-sahabat PMII Madura tidak dilepaskan, maka PMII Blitar siap mengerahkan ratusan kadernya untuk menjemput sahabat-sahabat kami yang ditangkap,” tegas Mahatir Muhammad.

Santri An Nur Slawi

Ia menambahkan, PMII Blitar meminta rezim SBY-Boediono mundur bila mereka antikritik. Rezim ini harus sadar diri, mereka dibiayai rakyat untuk menjalankan pemerintahan. Jadi, apabila kinerjanya dinilai kurang baik, maka sangat wajar kalau rakyat menyampaikan aspirasi, kritik, maupun saran kepada rezim SBY-Boediono. (Ika/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ulama Santri An Nur Slawi

Jumat, 06 Mei 2016

Kemenag Jakpus Salurkan Bantuan untuk Rohingya lewat AKIM

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Krisis kemanusiaan Rohingya di Rakhine State, Myanmar, mendorong masyarakat Indonesia bahu-membahu membantu warga terdampak konflik. Kementerian Agama Wilayah Jakarta Pusat turut berpartisipasi salurkan bantuan melalui AKIM (Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar).

Penyaluran bantuan senilai Rp55 juta diserahkan langsung oleh Kepala Kemenag Jakarta Pusat, Wahyudin, kepada Ketua AKIM M Ali Yusuf, Rabu (20/09) siang, di aula Kemenag, Jakarta Pusat.

Kemenag Jakpus Salurkan Bantuan untuk Rohingya lewat AKIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Jakpus Salurkan Bantuan untuk Rohingya lewat AKIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Jakpus Salurkan Bantuan untuk Rohingya lewat AKIM

Wahyudin menuturkan bantuan yang terkumpul berasal dari semua unit di bawah naungan Kemenag Jakarta Pusat.

“Alhamdulillah, bantuan ini merupakan kesadaran dari semua unit yang ada di bawah naungan Kemeterian Agama. Dari karyawan, dan juga dari murid-murid yang ada di madrasah, baik itu negeri maupun swasta. Dari empat jenjang pendidikan: RA, MI, MTs, dan MA,” papar Wahyudin.

Bantuan dari Kemenag Jakarta Pusat berkelanjutan dan dilakukan secara bertahap. “Sampai saat ini terkumpul kurang lebih 60 juta. Tahap pertama 55 juta kita salurkan, yang 5 juta itu insyaallah buat memancing pengumpulan donasi yang kedua,” ungkap Wahyudin.

Santri An Nur Slawi

Ia berharap manfaat bantuan yang disalurkan bisa dirasakan oleh saudara-saudara etnis Rohingya.

Santri An Nur Slawi

Sementara itu, Ketua AKIM M Ali Yusuf mengapresiasi sikap dan langkah masyarakat Indonesia dalam membantu warga terdampak konflik di Negara Bagian Rakhine seperti  yang dilakukan oleh Kementerian Agama Jakarta Pusat.

“Saya kira ini wujud kepedulian bersama, kepedulian semua komponen masyarakat Indonesia. Hal ini kita apresiasi. Ini berarti masyarakat Indonesia sangat peduli, dan tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu saudara kita, etnis Rohingya,” ucap Ali.

Ia menekankan, kita tidak bisa hanya mengecam sikap Pemerintah Myanmar dan junta militer pada etnis Rohingya. 

“Tidak mungkin kita hanya mengecam. Yang paling penting adalah bantuan langsung untuk warga terdampak konflik,” tegasnya.

AKIM, kata Ali, akan segera mengirimkan 30 relawan dan melakukan distribusi bantuan dengan nominal lima miliar rupiah ke pengungsian warga.

“Insyaallah, Ahad (24/9) besok kita akan ke lokasi. Di sana, saat ini sudah ada lima anggota AKIM. Dan besok kita kirim 30 relawan serta bantuan sekitar 5 miliar. Ini bantuan pertama. Akan menyusul bantuan kedua, setelah kita kaji kebutuhan warga,” pungkas Ali.(Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nusantara, Halaqoh, Cerita Santri An Nur Slawi

Senin, 02 Mei 2016

Sarbumusi Desak Pemerintah Perbaiki Sistem Perburuhan

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Federasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia bidang Listrik, Logam, Energi, Elektronik, dan Mesin, melihat ketidakseriusan pemerintah dalam mengatasi perburuhan/ketenagakerjaan mulai dari kebijakan hingga tahap implementasinya. Keadaan ini menambah suram nasib buruh Indonesia di tengah ketidaksiapan pemerintah menghadapi perdagangan bebas negara ASEAN 2015 dan APEC 2020.

Lewat sebuah forum terbatas di Gedung Joang 45, Jakarta Pusat, Kamis (11/9) siang, Federasi Sarbumusi-Lem dengan melibatkan unsur Lemhannas, Kemenakertrans, Pengusaha, dan pihak buruh, mencoba melihat problematika Perburuhan/Ketenagakerjaan secara utuh.

Sarbumusi Desak Pemerintah Perbaiki Sistem Perburuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Desak Pemerintah Perbaiki Sistem Perburuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Desak Pemerintah Perbaiki Sistem Perburuhan

Ketua Sarbumusi Lem Mustika Ali Sani menekankan sisi musyawarah efektif pada sila keempat Pancasila oleh pihak pemerintah, serikat buruh, dan asosiasi pengusaha dalam menyelesaikan masalah.

Santri An Nur Slawi

“Kita butuh hadirnya wadah di mana pihak Tripartit bekerja secara intensif mengatasi persoalan buruh dan mengantisipasinya. Sedangkan forum Tripartit yang ada kini tidak efektif. Karena, mereka berembug kalau ada masalah. Hujan sudah taraf bahaya, baru ribut cari payung,” kata Mustika Ali Sani.

Santri An Nur Slawi

Sementara utusan buruh Sukitman Sudjatmiko lebih menyoroti implementasi dari kebijakan yang dibuat pemerintah.

“Pada tahap ideologi Pancasila dan falsafah perburuhan, kita semua sudah sepakat. Yang perlu dikawal bersama ialah implementasi dari undang-undang itu sendiri,” kata Sukitman yang juga salah seorang narasumber diskusi. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Budaya, AlaSantri, Santri Santri An Nur Slawi