Senin, 31 Oktober 2016

Kenapa Gus Dur Membela Minoritas?

Jakarta, Santri An Nur Slawi?

Menteri Sekretaris Negara pada Kabinet Persatuan Nasional Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Bondan Gunawan bercerita, dirinya pernah memotong gembok gereja Yasmin di Bogor yang disegel kalangan tertentu.?

Kenapa Gus Dur Membela Minoritas? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Gus Dur Membela Minoritas? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Gus Dur Membela Minoritas?

Menurut dia, sebagai seorang muslim, apa yang dilakukakannya bukan membela Kristen, tapi menunjukkan bahwa hal itu adalah kewajiban seorang muslim. Seorang muslim yang ingin mewujudkan rahmatan lil alamin, hak umat lain harus dibela. “Itu dilakukan Abdurrahman Wahid,” katanya sembari mengatakan bahwa Gus Dur karena tindakannya tersebut sering disangka membela Kristen (minoritas).?

Menurut dia, pada Rambug Budaya yang diselenggarakan Lesbumi PBNU (29/12) di gedung PBNU, Jakarta tersebut, hal itu perwujudan dari keislaman Gus Dur yang rahmatan lil alamin sehingga ia mau membela kalangan minoritas.?

Apa yang dilakukan Gus Dur, lanjut Bondan, juga tidak berpikir kekuasaan. “Banyak orang ngomong Gus Dur itu punya cita-cita jadi presiden. Salah besar! Gus Dur tidak punya cita-cita jadi presiden. Saya ini temannya yang selalu bersama-sama dia, mengapa kita harus ? membuat Forum Demokrasi, kenapa melawan Soeharto,” jelasnya. ?

Jika seseorang memahami Gus Dur dengan salah (mengejar kekuasaan), maka orang tersebut sesungguhnya akan mencontoh Gus Dur dengan salah.?

Santri An Nur Slawi

“Saya mohon kepada generasi muda NU, Anda itu sudah punya panutan paripurna (Gus Dur). Saya tidak ingin apa yang digagas oleh Gus Dur ini ditanggapi keliru oleh pengikut Gus Dur,” lanjutnya.?

Ada sebagian pengikutnya mengatakan, Gus Dur itu seorang plurasis. Bukan! Gus Dur adalah seorang pejuang kebudayaan dunia. “Kalau kita bicara merajut kebudayaan enggak usah jauh-jauh, pelajari karakter Abdurrahman Wahid. Senda guraunya pun bermuatan dengan nilai-nilai kebudayaan yang sangat dalam,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Nahdlatul Ulama Santri An Nur Slawi

Sembilan Pakar Ekonomi Dilibatkan dalam Bidang Usaha Ansor Kaliori

Rembang, Santri An Nur Slawi. Pengurus GP Ansor Kaliori kabupaten Rembang menggandeng 9 pakar ekonomi di kalangan GP Ansor untuk mengawal unit usaha yang tengah dikembangkan. Pihak pengurus berharap sembilan kader potensial ini dapat menggerakkan unit usaha yang tengah dirintis.

Demikian disampaikan Ketua GP Ansor Kaliori Jasmani kepada Santri An Nur Slawi, Senin (5/10) pagi.

Sembilan Pakar Ekonomi Dilibatkan dalam Bidang Usaha Ansor Kaliori (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Pakar Ekonomi Dilibatkan dalam Bidang Usaha Ansor Kaliori (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Pakar Ekonomi Dilibatkan dalam Bidang Usaha Ansor Kaliori

Jalan ini ditempuh untuk menindaklanjuti gagasan Ansor Kaliori yang sedang menggagas ekonomi bagi anggota dan organisasi melalui program usaha.

Santri An Nur Slawi

Jasmani menyampaikan, sembilan pakar ekonomi merupakan kader Ansor Kaliori. Mereka sengaja dilibatkan untuk memberikan gagasan dalam rangka perintisan usaha yang sudah mulai berjalan di internal Ansor Kaliori.

Santri An Nur Slawi

"Kami sengaja melibatkan semua kader kami yang memiliki latar belakang keahlian di bidang ekonomi. Karena itu, peran sembilan ahli itu mampu mengembangan dan menggerakkan ekonomi kader dan organisasi GP Ansor Kaliori.”

Sementara itu Abdul Rosyid, salah satu dari sembilan pakar ekonomi menilai langkah yang diambil Jasmani momentumnya sangat pas dan tepat. Hal itu dikarenakan belum adanya bidang usaha yang didirikan di kalangan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kaliori.

"Momentum yang diambil Ketua baru PAC Ansor saya rasa sangat tepat dan cermat dalam mengambil keputusan dan membaca peluang. Di kalangan MWCNU Kaliori baik lembaga, ataupun banom belum ada yang mendirikan sebuah usaha,” tambah Rosyid.

Ia berharap usaha yang dirintis didukung oleh segenap keluarga besar NU di Kecamatan Kaliori, terutama kader dan anggota GP Ansor di semua tingkatan. Sembilan nama yang dilibatkan antara lain Abdul Rosyid, Karjani, Suyono, M Majiin, Abdul Khamid, Bitting, Ahmad Romli, Jasmani, dan salah satu pengusaha senior Ramsani. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Anti Hoax Santri An Nur Slawi

Sabtu, 15 Oktober 2016

Permata Kalung Barzanji Masih Dipentaskan Malam Ini

Jakarta, Santri An Nur Slawi  . Kalung Permata Barzanji, naskah karya WS Rendra yang dibawakan sekitar 50 santri dari 9 pesantren daerah Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, masih akan dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (8/2) pukul 20.00.

Malam sebelumnya, Jumat (7/2) dipentaskan di tempat yang sama. Beberapa minggu sebelumnya, sudah dipentaskan pula di Cirebon, Brebes, dan Tegal dengan penonton ribuan.

Permata Kalung Barzanji Masih Dipentaskan Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Permata Kalung Barzanji Masih Dipentaskan Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Permata Kalung Barzanji Masih Dipentaskan Malam Ini

“Keren banget, memukau, menggetarkan penonton sampai layar diturunkan,” komentar KH Husein Muhammad melalui akun pribadinya yang memang menonton tadi malam.

Santri An Nur Slawi

Kiai asal Cirebon ini menilai, pementasan para santri dengan sangat fasih, mendendangkan madah-madah kenabian Muhammad, kritik-kritik sosial-politik yang menggugah.

Santri An Nur Slawi

Seharusnya, dia menambahkan, karya kreatif seni budaya semacam ini, menjadi model dakwah ke depan, menggantikan dakwah orasi yang agitatif, kering makna dan provokatif. “Publik yang belum nonton, dianjurkan menontonnya nanti malam di tempat yang sama,” imbaunya.

Sementara sang sutradara, Ken Zuraida, mengemukakan kaget dengan capaian para santri yang tak biasa dengan pementasan seperti ini, “Bayangkan mereka hanya berlatih 10 jam dalam seminggu. Saya biasanya melatih untuk pementasan, 6 jam sehari,” ungkapanya, selepas pementasa, di TIM, Jakarta, Jumat (7/2).

HTM pementasan: Balkon 50rbu Kursi bawah 100 rbu, VIP 250rbu, CP: Alice 0852 2377 3456. Informasi pemesanan tiket juga bisa melalui: TIM (021) 3193 7325 / 3193 7357 Untung: 9735 9735, Hemma 0857 1935 1935. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian, Fragmen, AlaNu Santri An Nur Slawi

Jumat, 07 Oktober 2016

Menyambut Generasi Baru NU

89 memang tidak terlalu istimewa bagi kita yang sering memperhatikan angka-angka. Namun peringatan hari lahir (Harlah) ke-89 kali ini bisa menjadi sangat istimewa karena di tahun 2015 ini NU akan menyelenggarakan muktamar di Jombang. Setelah 32 kali berlangsung, baru kali ini muktamar diselenggarakan ‘ibukota’ NU.

Setelah 89 tahun, NU sudah tersebar di mana-mana. Generasi NU lama yang merantau di kota-kota sudah beranak-pinak menghasilkan generasi NU baru. Kalangan sosiolog khawatir bahwa setelah orang NU pindah ke kota, maka cara beragama dan ghiroh ke-NU-annya akan luntur seperti orang kota kebanyakan. Ternyata kekhawatiran itu tidak sepenuhnya benar. Orang-orang NU yang tinggal di kota tetap bisa berkumpul satu sama lain, melaksanakan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah ala NU, dan bahkan berhasil menarik tetangga dan teman-teman sekerjanya untuk ikut bergabung.

Ada hasil survey yang cukup menarik dilaporkan tahun lalu menjelang Pilpres 2014. Dari 1.400 responden muslim berusia 20-54 tahun di 10 kota besar di Indonesia: Jakarta, Bandung,Surabaya, Semarang, Medan, Palembang, Pekanbaru, Balikpapan, Banjarmasin dan Makassar menunjukkan bahwa sebanyak 58,8 warga muslim di perkotaan mengaku Nahdliyin. Jadi NU juga telah tersebar di kota-kota dengan caranya sendiri.

Menyambut Generasi Baru NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyambut Generasi Baru NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyambut Generasi Baru NU

Sebagian warga NU juga berpetualang ke luar negeri, baik untuk bekerja atau belajar. Hasilnya terbentuk komunitas-komunitas NU di luar negeri. Saat ini telah ada puluhan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCINU) yang tersebar di Timur Tengah, sampai Eropa dan Amerika.

Perkembangan teknologi informasi juga sebenarnya telah membuka sekat desa dan kota, atau dalam dan luar negeri. Yang tidak terpikirkan beberapa tahun yang lalu, generasi NU di kota dan desa, di luar negeri, bahkan di dalam bilik pesantren dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dengan sangat baik. Mereka saling bertukar informasi mengenai banyak hal mengenai agama. Pengajian-pengajian kitab kuning dari pesantren-pesantren juga secara cepat bisa disiarkan dan disebarkan lewat media-media informasi baru. Para “santri virtual” ini juga aktif melayani orang-orang yang haus ilmu dan sedang mencari guru agama di internet. Mereka menanggapi berbagai isu dan menjawab berbagai pertanyaan tentang agama secara cepat dari layar computer atau hanphone.

Santri An Nur Slawi

Setelah 89 tahun, pendidikan para santri pondok pesantren juga sangat beragam. Keputusan Menteri Agama KH Wahid Hasyim waktu itu untuk mengambil sebagian model pendidikan barat sebenarnya juga merupakan kelanjutan dari dinamika yang ada di Pesantren Tebuireng. KH Hasyim Asy’ari mengizinkan para santri belajar bahasa Belanda, huruf latin, ilmu bumi dan sejenisnya yang dikategorikan sebagai pelajaran umum. Beberapa tahun kemudian sebagian besar pesantren telah bermetamorfosa mengikuti berbagai kebijakan Kementerian Agama. Didirikan madrasah ibtidaiyah (SD), tsanawiyah (SMP) dan Aliyah (SMA) dan perguruan-perguruan tinggi Islam. Hasilnya, para alumni pesantren saat ini telah menduduki sektor-sektor formal.

Keputusan NU pada 1952 untuk berubah menjadi partai politik juga ada benarnya. Sejak itu banyak kader NU yang terjuh di gelanggang politik, bahkan sampai sekarang, setelah NU berusia 89 tahun. Pada 1984, bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) NU mendeklarasikan diri Kembali ke Khittah 1926, kembali menjadi jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah. Era Gus Dur ini juga menjadi penanda munculnya generasi NU baru yang aktif dalam berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sampai sekarang.

Sementara itu, sebagian generasi tua NU bahkan tokoh-tokoh utama NU sejak awal memilih menyekolahkan anak mereka di lembaga-lembaga pendidikan umum sampai perguruan-perguruan tinggi nasional terkemuka. Dan hasilnya adalah generasi-generasi baru NU lintas sektoral yang menduduki pos-pos penting di birokrasi, berbagai profesi dan bidang keahlian.

Santri An Nur Slawi

Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun ini akan menjadi momen ‘pulang kampung’ bagi generasi baru NU yang telah lama merantau entah kemana: ke kota-kota, ke luar negeri, berwiraswasta, ke dunia politik dan pemerintahan, serta berbagai profesi dan bidang keahlian. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Sejarah, Kiai, Tegal Santri An Nur Slawi