Minggu, 26 Februari 2017

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata

Keberhasilan dalam sebuah berorganisasi bisa dilihat dari dua hal, pertama adalah perencanaan yang baik dan kedua adalah eksekusi yang baik dari perencanaan atau program-program yang dibuat. Rencana saja tanpa kerja atau kerja tanpa perencanaan, dua-duanya tidak mampu memberi hasil optimal. Dari aspek tersebut, salah satu perangkat NU yang layak mendapat apresiasi adalah Muslimat NU. Aksi nyata dari badan otonom NU bisa dilihat dari banyaknya layanan organisasi yang diberikan kepada masyarakat tanpa terlalu banyak ramai terlibat dalam berbagai isu “bising” yang menghabiskan energi, tetapi minim hasil.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi dan teladan apa yang bisa diambil oleh perangkat kelembagaan NU lain atau organisasi di luar NU? Tentu tidak ada faktor tunggal karena keberhasilan adalah kombinasi dari banyak upaya-upaya sistematis dalam memanfaatkan peluang dan tantangan yang menghadang. Tetapi hal penting yang patut dicontoh adalah kerja yang dilakukan oleh Muslimat NU adalah kerja-kerja riil yang bisa terukur dengan baik hasilnya seperti mendirikan taman kanak-kanak, koperasi, klinik dan rumah sakit, panti asuhan, dan lainnya.

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata

Dalam organisasi keagamaan atau pengembangan masyarakat, modal keuangan yang dimiliki sangat minim. Yang menjadi dasar adalah semangat untuk merubah kondisi masyarakat agar lebih baik. Tetapi, dengan berjalannya waktu, maka akan ada proses pembelajaran, ada akumulasi modal keuangan dan peningkatan ketrampilan mengelola lembaga tersebut. Muslimat NU juga memulai dari hal-hal kecil tapi nyata dan dari situlah mereka berkembang. Sebagaimana proses pertumbuhan manusia. Saat bayi dan anak-anak, kita semua meniru perilaku orang dewasa sampai akhirnya usia kita beranjak dan mampu bertindak atas kemampuan diri sendiri. Proses kemajuan sebuah negara juga menggunakan pola yang sama. Jepang, sebelum menjadi sebuah negara industri maju merupakan peniru dari produk-produk Barat, tetapi dengan berjalannya waktu, kualitas produksinya meningkat sampai akhirnya berhasil mengungguli produk dari Eropa dan Amerika. Strategi yang sama dikembangkan oleh Korea Selatan yang kini produknya juga sudah menguasai dunia. Dan hal yang sama kini dilakukan oleh China. Meskipun kini dikenal dengan produk dengan kualitas rendah, tetapi di masa depan, ada proses pembelajaran dan peningkatan kualitas yang akhirnya bisa saja mengalahkan negara-negara lain di mana sebelumnya menjadi tempat belajar.

Muslimat NU juga belajar dengan meniru mereka yang lebih sukses, sampai akhirnya menemukan sebuah pola sendiri yang paling sesuai dengan budaya dan karakter organisasi. Muslimat tidak merancang program-program yang bombastis tapi minim aksi nyata. Hanya bermain dalam tataran wacana tetapi tidak ada eksekusi. Yang paling penting adalah memulai dari hal yang kecil tetapi nyata, dari situ bisa menjadi tempat untuk belajar banyak hal dan dari situlah proses pengembangan diri dimulai. Sampai akhirnya dengan berjalannya waktu, maka kemajuan dan kematangan diperoleh. Organisasi Islam yang berhasil di Indonesia, juga menggunakan pola sebagaimana yang dijalankan oleh Muslimat NU. Mereka memfokuskan diri untuk melakukan kerja-kerja nyata dengan perspektif jangka panjang. ?

Santri An Nur Slawi

Hal lain yang perlu dicermati dari Muslimat NU adalah perannya sebagai madrasah pertama bagi para putra-putrinya. Peran ini kini mendapat tantangan dalam era baru ketika banyak sekali ibu muda yang harus keluar rumah sehari penuh untuk bekerja sementara anak-anaknya dalam pengasuhan orang lain. Hal lain adalah perkembangan teknologi informasi yang menerobos tanpa batas ke seluruh keluarga. Bagaimana Muslimat NU menyiapkan ibu-ibu dalam situasi baru, hal inilah yang mungkin harus dibahas dalam kongres ke-17 pekan ini yang berlangsung di Jakarta.

Dari sekian banyak prestasi yang telah dicapainya, ada satu persoalan penting yang juga perlu mendapat perhatian Muslimat NU. Sebuah organisasi, ditujukan untuk mampu terus bertahan sepanjang masa atau terus berkembang dari waktu ke waktu. Karena itu, mekanisme pergantian kepemimpinan harus disiapkan setiap saat. Puncak dari keberhasilan kepemimpinan bukan terjadi pada saat pemimpin saat ini masih berkuasa, tetapi adalah saat para penggantinya berhasil mempertahankan atau bahkan mengembangkan kesuksesan yang sudah diraihnya. Jangan sampai apa yang sudah dibangun dengan susah payah pada hari ini, runtuh di kemudian hari karena tidak ada penyiapan tongkat estafet kepemimpian.

Santri An Nur Slawi

Tradisi yang berjalan di banyak organisasi masa kini adalah pembatasan masa kepemimpinan. Ini akan memaksa pemimpin periode yang sedang berjalan, untuk menyiapkan calon penggantinya. Ini juga akan mendorong, orang-orang paling potensial untuk berkompetisi dan menunjukkan potensi terbaiknya agar bisa berada dalam posis tertinggi. Ini juga akan mendorong para pemimpin saat ini untuk tidak selalu berada dalam area nyaman. Ia harus berusaha meraih posisi lebih tinggi yang lebih menantang di tempat lainnya jika ingin tetap mengaktualisasikan diri. Jika situasi seperti ini bisa berjalan dengan baik, organisasi akan menjadi sehat dan dinamis. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail, PonPes, Kiai Santri An Nur Slawi

Sabtu, 25 Februari 2017

IPNU-IPPNU Sayung Kembangkan Komisariat di Sekolah-sekolah

Demak, Santri An Nur Slawi. Sebanyak 50 pelajar di lingkungan Madrasah Aliyah (MA) Nurul Qur’an Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, serta beberapa perwakilan MA mengikuti jenjang kaderisasi awal Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Sabtu (21/2), di madrasah setempat.

Ketua Pimpinan Anak Cabang IPNU Kecamatan Sayung Faidhul Qobir menyatakan, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memaksimalkan pelajar di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU agar mulai berkiprah di IPNU-IPPNU.

IPNU-IPPNU Sayung Kembangkan Komisariat di Sekolah-sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sayung Kembangkan Komisariat di Sekolah-sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Sayung Kembangkan Komisariat di Sekolah-sekolah

Sebagaimana disampaikan Abdul Halim Ketua PC IPNU Demak, bahwa pihaknya telah mendapat izin dari PC LP Maarif NU Demak untuk mulai memasuki sekolah atau madrasah di bawah naungan LP Maarif NU. Langkah ini, menurut Faidhul, harus ditindaklanjuti oleh semua level kepengurusan IPNU-IPPNU baik cabang maupun anak cabang.

Santri An Nur Slawi

Senada dengan PAC IPNU Sayung, Nurul Indana selaku Ketua PAC IPPNU Kecamatan Sayung menegaskan, timnya mulai intensif menjalin komunikasi dengan kepala sekolah atau kepala madrasah di Kecamatan Sayung agar jajarannya diperkenankan mendirikan Komisariat IPNU-IPPNU.

“Selain di MA Nurul Qur’an, jika pihaknya juga telah mengadakan Makesta di Nahdlatus Syubban Purwosari, Al-Fatah Tambakroto, An-Nidham Kalisari,” Imbuh dara berkacamata ini .

Santri An Nur Slawi

Dalam agenda tersebut turut dihadiri dataran PC IPPNU Demak, yang diwakili Kholifah selaku bendahara, dan Wakil Ketua LBMNU Jawa Tengah KH Hudallah Ridwan. (Rohman Asy-Syauqi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pertandingan, Quote, Sholawat Santri An Nur Slawi

Rabu, 22 Februari 2017

Mabincab: PMII NTT Harus Dekat dengan Semua Kalangan

Kupang,Santri An Nur Slawi?

Sekretaris Majelis Pembina Cabang (Mabincab) Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Samsudin Ridwan, meminta organisasi yang didirikan tahun 1961 di Surabaya tersebut dekat dengan semua kalangan.?

Mabincab: PMII NTT Harus Dekat dengan Semua Kalangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mabincab: PMII NTT Harus Dekat dengan Semua Kalangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mabincab: PMII NTT Harus Dekat dengan Semua Kalangan

Samsudin merinci hubungan dengan semua kalangan tersebut adalah PMII harus menjalin komunikasi demgam semua elemen organisasi, baik organisasi nasional maupun organisasi lokal, bahkan perorangan.?

“Sehingga PMII lebih disenangi, PMII lebih disukai oleh semua kalangan,” ujarnya di sekretariat Pengurus Willayah Nahdlatul Ulama (PWNU) pada acara buka puasa bersama yang digelar PC PMII Kupang di Kupang, NTT, Senin (22/7).

Santri An Nur Slawi

Samsudin kemudian bercerita proses penderian PMII di NTT yang penuh dengan rintangan. Tapi berbagai cara dan gerakan dilakukan supaya bisa dikenal semua orang.?

Santri An Nur Slawi

“Ada tujuh orang pendiri berjuang menghadapi semua cobaan yang datang silih berganti,” katanya.

Walaupun sedikit ilmu, pengalaman yang minim, tetapi dengan niat tulus mensiarkan organisasi ini, akhirnya PMII bertubuh besar mampu menembus semua kalangan.?

Sementara itu, sekretaris PC PMII Kupang, Sam Alfarabi mengatakan, panji gerakan PMII akan terus disiarkan sampai dikenal dimana-mana.?

“Jika PMII sudah kenal dimana-mana, maka kejayaan akan muncul. Sebagai kader harus mampu melanjutkan sejarah ini,” katanya.

Hadir dalam dialog dan buka puasa bersama, pengurus Mabincab, pengurus Cabang, Pengurus Komisariat, dan beberapa Rayon.?

Redaktur ? ? : Abdullah Alawi?

Kontributor: Ajhar Jowe

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ubudiyah, Berita, Nahdlatul Ulama Santri An Nur Slawi

Sabtu, 18 Februari 2017

Islam Tak Larang Buka Warung di Bulan Puasa

Jember, Santri An Nur Slawi - Peraturan Daerah (Perda) yang melarang warung buka di siang hari selama Ramadhan di Serang yang menjadi perbincangan nasional. Berbagai komentar baik yang setuju dan menolak bertebaran di media sosial.

"Saya kira regulasi soal itu adalah kearifan lokal. Boleh-boleh saja. Asalkan peraturan tersebut tidak bertentangan dengan empat pilar kebangsaan, yakni NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika. Jika bertentangan dengan empat pilar itu, regulai tersebut perlu dievaluaisi atau dicabut," tukas Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch. Eksan menjawab Santri An Nur Slawi di sela-sela sebuah acara di aula PSBB MAN 1 Jember, Ahad (19/6).

Islam Tak Larang Buka Warung di Bulan Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Tak Larang Buka Warung di Bulan Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Tak Larang Buka Warung di Bulan Puasa

Menurut Eksan, menutup warung di siang hari selama bulan Ramadhan, bukan perintah syariat Islam. Yang diatur dalam Islam adalah larangan makan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa tanpa ada sebab yang membolehkannya berbuka seperti perempuan haid atau musafir.

Santri An Nur Slawi

Menghormati orang yang berpuasa, lanjut dia, tidak harus dengan menutup warung. Sebab, warung juga berguna bagi orang yang udzur, musafir dan sebagainya. "Bahwa kita harus menghormati orang yang berpuasa, itu kita sepakat. Tapi melarang warung buka di siang hari, apalagi dengan cara yang kuang baik, itu jua tidak bagus," tegasnya.

Mantan aktivis IPNU Jember itu mengimbau agar pemilik warung juga harus sadar dan menjaga perasaan orang yang berpuasa. Tidak harus menutup warung karena mencari nafkah harus tetap jalan. Namun orang yang berpuasa juga harus dihormati, minimal dengan tidak terlalu vulgar membuka warungnya. "Kesadarn seperti inilah yang sebenarnya harus dibangun," ucapnya. (Aryudi AR/Abdullah Alawi)

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Islam, Kiai, Daerah Santri An Nur Slawi

Kamis, 16 Februari 2017

Kang Said Tanggapi Santai Berbagai Fitnah terhadap Dirinya

Jakarta, Santri An Nur Slawi

Belakangan ini santer beredar sejumlah fitnah dan tudingan miring yang dialamatkan kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kiai asal Cirebon ini mengaku tak terganggu dengan ‘serangan’ itu dan beraktivitas sebagaimana biasanya.

“Biarkan saja,” kata guru besar ilmu tasawuf UIN Sunan Ampel Surabaya ini di kantor PBNU, Jakarta, Senin (2/1).

Kang Said Tanggapi Santai Berbagai Fitnah terhadap Dirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Tanggapi Santai Berbagai Fitnah terhadap Dirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Tanggapi Santai Berbagai Fitnah terhadap Dirinya

Belakangan, beredar fitnah melalui media massa kepada bahwa pria yang akrab disapa Kang Said ini menjadi makelar jual-beli tanah dan menjanjikan di atas tanah itu akan dibangun Islamic Center. Menurut si pemfitnah, ternyata tanah itu kini dibangun seminari.

Santri An Nur Slawi

Belum sampai fitnah itu diklarifikasi Kang Said, pembeli tanah tersebut Denny M Syafullah datang ke kantor PBNU lalu mengeluarkan bantahan atas tuduhan itu sekaligus pembelaan terhadap Ketum PBNU. Dalam pertemuannya dengan Denny, Kang Said tampak santai dan lebih banyak bercanda.



Santri An Nur Slawi

(Seribu Persen Bohong Kiai Said Makelari Tanah di Malang)




Begitu pula ketika menanggapi tuduhan sebagai pendukung calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok karena tak memberi dukungan kepada para pendemo Ahok atas kasus dugaan penistaan agama. Menurut Kang Said, tuduhan itu muncul karena ketidakpahaman menangkap maksud PBNU secara utuh.



(Baca juga: Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November)


“Mereka menganggap, karena saya menghalangi demo itu artinya membela Ahok. Enggak. Demi Allah, wallahi, saya tidak ‘kenal’ Ahok. Saya tahu Ahok pas acara haul Gus Dur,” paparnya. Kata kenal yang dimaksud adalah lebih dari sekadar tahu nama dan sosoknya.

“Dia tidak pernah datang ke sini (kantor PBNU), saya pun tidak pernah datang ke kantornya. Pas ada keributan belakangan saja, Ahok ingin datang ke kantor PBNU, tapi saya tolak,” imbuhnya.

Menurutnya, dari latar belakang ini saja tampak tidak masuk akal pihaknya mendukung mantan bupati Belitung Timur itu, di samping tentu saja menyalahi Khittah NU yang mengharuskan sikap netral dalam setiap pemilihan umum.

Meski tampak tenang, Kang Said tetap mengimbau kepada masyarakat dalam mencerna informasi. Kemudahan teknologi informasi yang mengandung sisi negatif mesti disikapi dengan hati-hati. “Tiap ada informasi harus dicek, tabayun, apakah benar atau tidak sehingga tidak ada pihak yang dirugikan,” tuturnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Sejarah, Jadwal Kajian Santri An Nur Slawi

Selasa, 14 Februari 2017

IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan

Cilacap, Santri An Nur Slawi. Bulan Ramadhan selalu mendapat tempat yang istimewa di hati umat Islam. Hampir semua kegiatan positif dilakukan di bulan ini, Tak terkecuali bagi Pengurus Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Gandrungmangu Cilacap Jateng.

Di sepertiga terahir Ramadhan ini, mereka menyelenggarakan “Pesantren Ramadhan” dengan tema Mencari Berkah di Bulan Penuh Hikmah.

IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Sekolah MI Ma’arif I Muktisari Kecamatan Gandrungmangu. Pesantren Ramadhan ini diikuti oleh lebih dari 200 santri, yang merupakan delegasi 14 Ranting dan 8 komisariat. Acara tersebut diselenggarakan selama dua hari, sejak Sabtu pagi (3/8) sampai Ahad sore (4/8), bertepatan dengan 25-26 Ramadhan 1434 H.

Santri An Nur Slawi

Para Santri Pesantren Ramadhan ini diberi pengetahuan tentang aswaja, keorganisasian, kepemimpinan, kesehatan remaja, dan diklat da’i- da’iyah.

Santri An Nur Slawi

“Pesantren Ramadhan berguna untuk menambah pengetahuan agama bagi kader, sekaligus ajang silaturahim,“ ujar M Ali Mahfudz, ketua PAC IPNU setempat.

Hal ini senada juga diamini oleh Ulun Najah, ketua IPPNU Gandrungmangu. Selain hal tersebut di atas, pengetahuan seperti kesehatan remaja juga penting diketahuai oleh kader. Pengetahuan semacam ini jarang diberikan di kegiatan sejenis. Sabtu malam juga akan dilaksanakan lailatul ijtima’ dan sholat tarawih bersama.

Kegiatan ini merupakan hasil kerja perdana masa kepengurusan PAC IPNU–IPPNU yang baru saja dilantik pada bulan Juni 2013.

 

Kegiatan ini dibuka oleh KH Tabingan SQ selaku Ketua Tanfidziyah MWC NU Kec. Gandrungmangu dan rencananya akan ditutup oleh Rais Syuriyah, K. Ngadziman.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ulama, Syariah, Cerita Santri An Nur Slawi

Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja

Pamekasan,Santri An Nur Slawi. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menggelar talk show keaswajaan dengan tema Mengokohkan Faham Aswaja di Tengah Benturan Peradaban (Tradisionalis, Modernis dan Kebangsaan pada Ahad (23/2).  

Kegiatan yang diselenggarakan di Pendopo Kecamatan Tlanakan ini dihadiri oleh Pengurus MWC NU Tlanakan, lembaga, lajnah, Badan Otonom beserta seluruh jajaran Penguruss Ranting (PR) NU se-Kecamatan Tlanakan dan diikuti pemuda, mahasiswa, santri dan pelajar.

Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja

Moh. Wahyudi, S.Pd Ketua PAC. GP. Ansor Tlanakan dalam sambutannya mengatakan, talk show ini dilaksanakan untuk membentengi kader NU, juga untuk mematahkan pendapat-pendapat Salafi Wahabi yang mengusung jargon berdiri diatas sunnah yang menganggap salah amaliah yang dilakukan oleh warga NU.

Santri An Nur Slawi

Acara tersebut dilaksanakan dalam dua sesi, pada sesi pertama hadir sebagai narasumber adalah Dr. H. Nor Hasan M.Ag (Dosen STAIN Pamekasan)yang memaparkan tentang sosio historis dan sumber ajaran aswaja An-Nahdliyah dan Drs. H. Zainol Hasan, M.Ag (Pengurus PC. NU Pamekasan) yang berbicara Aswaja dari sisi tradisionalis moderenis.

Santri An Nur Slawi

Pada sesi kedua, hadir sebagai pembicara adalah Badrut Tamam, S.Psi (Sekretaris F-KB DPRD 1 Jawa Timur) yang mengupas Aswaja dari sisi Kebangsaan. Dalam pemaparannya, Ra Badrut, begitu dia biasa disapa, mengharapkan supaya kader NU pada umumnya, dan Ansor pada khususnya bisa menjadi faktor kepemimpinan pada level kabupaten, propinsi hingga nasional dan bisa membawa misi kemakmuran untuk NKRI. (Ach. Mudani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hikmah Santri An Nur Slawi

Minggu, 12 Februari 2017

Dua Kader Korban Longsor, IPNU Ungkapkan Duka Mendalam

Banjarnegera,Santri An Nur Slawi. Bencana longsor yang terjadi pada 12 Desember 2014 di Dusun Jemplung Banjarnegara telah memakan korban jiwa yang cukup banyak. Dua korban di antaranya adalah kader Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Karangkobar.

Dua Kader Korban Longsor, IPNU Ungkapkan Duka Mendalam (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kader Korban Longsor, IPNU Ungkapkan Duka Mendalam (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kader Korban Longsor, IPNU Ungkapkan Duka Mendalam

Kedua korban itu adalah Muhammad Alwi Aji Athoillah dan Ahmad Fauzi, pengurus yang aktif dalam pelbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi pelajar Nahdlatul Ulama itu.

Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat IPNU H. Muhammad Nahdhy hari ini, Rabu, 17 Desember 2014 mengunjungi lokasi longsor. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan duka sedalam-dalamnya kepada kedua korban yang merupakan kader-kader terbaik IPNU yang ada di Banjarnegara.

Santri An Nur Slawi

“Kami dari Pimpinan Pusat IPNU menyampaikan bela sungkawa kami yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya dua kader IPNU dalam musibah ini,” ungkapnya.

Santri An Nur Slawi

Ia menambahkan, Pimpinan Pusat mendoakan semoga arwah keduanya mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Kemudian, kami juga berdoa semoga pengabdiannya di IPNU dan semua amal baiknya diterima Allah SWT.

Dalam kesempatan itu pula, Sekjend IPNU mengimbau kepada seluruh kader-kader IPNU di seluruh Indonesia untuk melakukan shalat ghaib untuk seluruh korban longsor, khususon untuk kedua kader PAC IPNU Karangkobar tersebut.

Ia juga mengimbau kepada PC IPNU yang berada di sekitar Kabupaten Banjarnegara untuk membantu baik moril maupun materiil kepada seluruh korban longsor.

“Kedatangan Sekjend IPNU ke lokasi longsor membuat kami semakin bersemangat untuk terus membantu proses evakuasi dan kegiatan lainnya di lokasi bencana,” komentar salah seorang anggota DKC CBP Banjarnegara.

Berdasarkan laporan Ketua PC IPNU Banjarngera, Mad Solihin, jenazah Aji telah ditemukan pada hari senin lalu, sedangkan jenazah Ahmad Fauzi sampai saat ini masih dalam proses pencarian.

“Keduanya merupakan kader yang aktif dan telah mengabdikan dirinya untuk IPNU Banjarnegara, kami merasa sangat kehilangan.” Ucap Mad Solihin. (Slamet Ng/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail Santri An Nur Slawi

Jumat, 10 Februari 2017

Dilantik, Pelajar NU Tasikmalaya Langsung Rumuskan Gerakan

Tasikmalaya, Santri An Nur Slawi. Sesaat setelah dilantik, kepengurusan IPNU-IPPNU kabupaten Tasikmalaya masa bakti 2014-2016 mengadakan rapat kerja pengurus selama dua hari, Sabtu-Ahad (29-30/11).

Dilantik, Pelajar NU Tasikmalaya Langsung Rumuskan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pelajar NU Tasikmalaya Langsung Rumuskan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pelajar NU Tasikmalaya Langsung Rumuskan Gerakan

Pada pertemuan yang berlangsung di pesantren Baitul Hikmah, Haur Kuning, Salopa, Tasikmalaya, mereka menghasilkan sejumlah catatan sebagai acuan bergerak untuk dua tahun ke depan.

Ketua PCNU Tasikmalaya H Noor Cholis Tisnawan berpesan agar IPNU-IPPNU memerhatikan aspek akhlaq dalam kaderisasi terutama komitmen terhadap AD-ART organisasi.

Santri An Nur Slawi

“Jangan sampai mereka mencederai nama baik organisasi karena tidak mengerti peraturan,” pesan H Noor. 

Tampak ribuan santri dan para tamu undangan menyaksikan pelantikan Ketua baru IPNU Tasikmalaya Fikri Nursyamsi dan Asti Nurfitri sebagai Ketua IPPNU Tasikmalaya.

Santri An Nur Slawi

Fikri menyebutkan, IPNU Tasikmlaya ke depan akan menggarap antara lain kaderisai, pembenahan database anggota, menuntaskan problem radkalisasi, dan penyalahgunaan narkoba dan asusila oleh pelajar.

“Kita akan mengevaluasi Kurikulum 2013,” tegas Fikri. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ahlussunnah, IMNU, Nahdlatul Santri An Nur Slawi

Kamis, 09 Februari 2017

Haji Bangun Kesalehan Individual dan Sosial

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Sebagai salah satu rukun Islam, haji mendapat perhatian penting umat Islam untuk menjalaninya, meskipun lokasinya sangat jauh dari Arab Saudi, seperti di Indonesia ini. Salah satu nilai haji yang sangat bermanfaat adalah membangun kesadaran individual dan sosial.

Hal ini disampaikan oleh ketua umum PBNU KH Said Aqil Siradj ketika menyampaikan pidato pembukaan pada Konferensi Internasional “Peran Haji dalam Memperkuat Kerjasama dan Persatuan Umat Islam” di Jakarta, 2-3 Oktober.

Haji Bangun Kesalehan Individual dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Bangun Kesalehan Individual dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Bangun Kesalehan Individual dan Sosial

Haji pada saat ini perannya sudah tereduksi sekedar sebagai ritual ibadah, padahal pada masa lalu, haji menjadi sarana pertemuan para ulama sedunia untuk saling belajar. Ini terutama terjadi ketika waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan ibadah haji sangat lama mengingat sarana transportasi masih tradisional.

Santri An Nur Slawi

“Banyak ulama mukim di Makkah selama musim haji agar bisa bertemu dengan ulama lainnya dari seluruh dunia,” katanya.

Para ulama Indonesia banyak juga yang belajar dan besar setelah menempuh pendidikan di Makkah dan Madinah seperti Nawawi Al Bantani, Mahfudz Termas, Syeikh Yasin Padang, Hasyim’ Asy’ari, Arsyad al Banjari dan lainnya.

Santri An Nur Slawi

Karena menjadi pusat pertemuan umat Islam sedunia setiap tahunnya, banyak pula aktifitas ekonomi yang berjalan serta terjadinya pertukaran budaya.

Acara konferensi ini menghadirkan para pembicara dari beberapa negara, seperti ustadz Syarief, deputi Syeikh al Islam Thailand, Dr Mahmud Syamsuddin, Ilmuwan China, Dr Muhammad Hammoud, Ilmuwan Lebanon, Pangeran Zaini, mufti Brunei Darussalam, Ust, Muhammad Fitriz Bakaram, mufti Singapura, Prof Dr Zulkifli, deputi Menteri Agama Malaysia selain pembicara dari Indonesia dan Iran.

Beberapa tema besar yang dibahas diantaranya adalah Unity of Ummah and Responsibility of All, Hajj and Character Building, dan Hajj Role in Strengthening Cooperation of Islamic World. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Islam Santri An Nur Slawi

Rabu, 08 Februari 2017

Kabalitbang dan Diklat: Jaringan Santri Harus Terus Bergerak

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Para alumni madrasah dan pesantren adalah motor penggerak utama dalam perubahan sosial masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat dengan citra keagamaan yang kuat. Para alumni madrasah dan pesantren dapat berperan dalam kehidupan sosial masyarakatnya tanpa peduli latar belakang pekerjaan profesionalnya.

Kabalitbang dan Diklat: Jaringan Santri Harus Terus Bergerak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabalitbang dan Diklat: Jaringan Santri Harus Terus Bergerak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabalitbang dan Diklat: Jaringan Santri Harus Terus Bergerak

Demikian dinyatakan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia Abdurrahman Mas’ud di hadapan ratusan alumni Madrasah Qudsiyyah se-Jabodetabek dan sekitarnya dalam acara Roadshow Satu Abad Qudsiyyah, Ahad (22/5). Menurut Abdurrahman, para alumni madrasah dan pesantren mewarisi corak perjuangan Islam di Indonesia yang telah dirintis sejak zaman Walisongo hingga masa-masa awal pendirian Nahdlatul Ulama.

“Sebagai alumni madrasah yang didirikan oleh salah seorang pendiri NU, KH Raden Asnawi, kita berkewajiban untuk terus bergerak meneruskan perjuangan para ulama yang telah mewariskan ilmu dan semangat perbaikan masyarakat. Tradisi kemadrasahan dan kepesantrenan harus terus kita tumbuhkan untuk menata perkembangan masyarakat,” tutur Abdurahman yang juga tokoh alumni Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus ini.

Lebih lanjut Abdurrahman menjelaskan, para alumni madrasah dan pesantren juga senantiasa terlibat aktif dalam membentengi akidah ummat Islam menurut pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah dari sebuan akidah-akidah yang berpotensi merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ketaatan hukum masyarakatnya.?

Santri An Nur Slawi

“Dengan menghidupkan tradisi-tradisi amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya amaliyah warga NU seperti pembacaan Al-Barzanji, dzikir-tahlil bersama dan istighotsah para alumni madrasah terus memupuk semangat persatuan dan kebangsaan di tengah-tengah masyarakat. Melalui kegiatan-kegiatan ini para alumni madrasah dapat terus memberikan bimbingan-bimbingan dalam mendampingi masyarakat,” tandas mantan aktivis PMII ini.

Madrasah Qudsiyah Menara Kudus menggelar roadshow peringatan Satu Abad Qudsiyyah di enam propinsi pulau Jawa selama tiga bulan. Kegiatan ini diselenggarakan dan diikuti oleh para alumni Madrasah Qudsiyyah yang sekarang berbadan hukum Yayasan pendidikan Islam Qudsiyyah di setiap lokasinya. Akhir pekan ini, roadshow diselenggarakan di Jabodetabek dan sekitarnya dengan dihadiri oleh para guru dan pengurus Yayasan seperti KH Em. Nadjib Hassan, KH Halim Mahfudh Asnawi, KH Fatkhurrahman dan KH Ihsan dan M. Rikza Chamami dari perwakilan alumni Qudsiyyah Semarang. (Syaifullah Amin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Khutbah Santri An Nur Slawi

Minggu, 05 Februari 2017

Perempuan Majalengka Diminta Partisipasi dalam Gerakan Perempuan NU

Majalengka, Santri An Nur Slawi. Pengurus Muslimat NU dan Fatayat NU Majalengka sebulan sekali turun mengunjungi kadernya di tingkat kecamatan. Mengambil lokasi di pesantren Raudlatul Mubtadiin Cisambeng, Palasah, Majalengka, Sabtu (6/9) pagi, mereka berupaya melibatkan lebih banyak perempuan di Majalengka untuk aktif dalam gerakan Muslimat, Fatayat, dan IPPNU.

Perempuan Majalengka Diminta Partisipasi dalam Gerakan Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan Majalengka Diminta Partisipasi dalam Gerakan Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan Majalengka Diminta Partisipasi dalam Gerakan Perempuan NU

Ketua Fatayat NU Majalengka Hj Atun Minatul Maula menuturkan tujuan kegiatan rutin di awal ini untuk mengonsolidasi kader dan pengurus Fatayat dan Muslimat di tingkat kecamatan.

“Kegiatan dari pesantren ke pesantren ini diharapkan mendorong lebih besar partisipasi perempuan pesantren dalam gerakan perempuan NU. Selain mengaji dan aktivitas rutin harian, peran perempuan pesantren sangat dibutuhkan Muslimat NU dan Fatayat NU,” harap Hj Atun.

Santri An Nur Slawi

Hj Atun juga mengimbau Fatayat NU dan Muslimat NU Majalengka untuk berjejaring dengan banom-banom lainnya seperti IPPNU. Dari situ, kaderisasi perempuan di lingkungan NU Majalengka berjalan lancar. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Pahlawan, Kajian Islam Santri An Nur Slawi

Sabtu, 04 Februari 2017

Pengemudi Taksi di Iran Ubah Mobilnya Jadi Perpustakaan

Teheran, Santri An Nur Slawi

Seorang pengemudi taksi di Kota Rasht, Iran Utara, telah mengisi mobilnya dengan buku untuk mendorong penumpangnya membaca di dalam taksinya, kata kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Selasa (26/4).

Pengemudi Taksi di Iran Ubah Mobilnya Jadi Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengemudi Taksi di Iran Ubah Mobilnya Jadi Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengemudi Taksi di Iran Ubah Mobilnya Jadi Perpustakaan

Sahel Filsoof, yang telah mengubah taksinya menjadi perpustakaan mobil, percaya orang dapat menyelesaikan banyak masalah mereka dengan membaca.

"Gagasan untuk mengisi taksi saya dengan buku muncul di benak saya sudah cukup lama," kata Filsoof kepada IRNA, sebagaimana dikutip Xinhua.?

Ia menambahkan, membaca buku bisa memberi asupan mental ke dalam diri masyarakat.

Santri An Nur Slawi

Taksinya berisi sebanyak 50 buku dengan bermacam topik, termasuk psikologi, anak-anak dan sejarah, dan kebanyakan penggemar taksinya adalah perempuan dan pemuda, kata Filsoof.

Menurut pengemudi taksi tersebut, ia meminta wewenang dari pengelola perpustakaan umum di seluruh Provinsi Gilan di Iran Utara untuk mendukung tindakannya dan ia diberi sejumlah buku untuk menambah kualitas perpustakaan bergeraknya.

"Ketika saya ada penumpang saya yang meminta buku untuk dibaca, saya baru menyadari bahwa saya melakukan pekerjaan yang baik," kata Filsoof. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Kajian Sunnah, Internasional, Aswaja Santri An Nur Slawi

Rabu, 01 Februari 2017

Dimeriahkan Sepakbola Api, NU Semarang Siapkan 15 Rangkaian Acara

Semarang, Santri An Nur Slawi - Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional, Pengurus Cabang Nadlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang mempersiapkan lima belas rangkaian kegiatan. Salah satu kegiatan yang akan menjadi daya tarik masyarakat luas adalah sepakbola api.

“Sepakbola api sengaja kami hadirkan dalam memeriahkan hari santri, sebab tradisi ini menjadi seni persepakbolaan khas pesantren,” kata Agus Fathuddin Yusuf, Ketua Panitia Hari Santri Kota Semarang, Sabtu (8/10).

Dimeriahkan Sepakbola Api, NU Semarang Siapkan 15 Rangkaian Acara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dimeriahkan Sepakbola Api, NU Semarang Siapkan 15 Rangkaian Acara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dimeriahkan Sepakbola Api, NU Semarang Siapkan 15 Rangkaian Acara

Sepakbola api akan dilaksanakan pada 21 Oktober 2016, pukul 19.00 WIB, di halaman plaza Masjid Agung Jawa Tengah sebelum acara Istighotsah Kebangsaan dan Pembacaan Satu Miliar Shalawat Nariyah. Peserta sepakbola api berasal dari Pondok Pesantren Darunnajah, Pondok Pesantren Azzuhri dan segenap santri Semarang.

“Bagi masyarakat Kota Semarang yang ingin menikmati sensasi panasnya bola api juga diperbolehkan untuk bergabung meramaikan permainan ini,” tegas Agus.

Santri An Nur Slawi

Peringatan Hari Santri Nasional, lanjutnya, bukan upacara dan hura-hura semata. Tetapi lebih merupakan bentuk syukur anak bangsa masih diberi kesempatan mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah ala thariqati Nahdlatul Ulama dan mengawal kedaulatan NKRI sebagai harga mati. “Momentum ini sekaligus sebagai perenungan anak bangsa apa yang akan dilakukan dari santri untuk bangsa dan negeri ini di masa mendatang,” tegas Agus.

Santri An Nur Slawi

Ketua Tanfidziyah PCNU KH Anasom mengajak kepada seluruh masyarakat agar bersama-sama merayakan hari santri dengan kegiatan-kegiatan positif. “PCNU bersama Pemerintah Kota dan seluruh komponen masyarakat kompak menyambut hari santri,” ungkap Anasom.

Kegiatan hari santri kali ini mengambil tema “Merajut Kebhinekaan dan Kedaulatan Indonesia” sebagai wujud kecintaan kita pada Indonesia dalam bingkai persatuan. Santri berkomitmen kuat menjaga persaudaraan di negeri ini.

Jangan sampai negara kita diinjak-injak dan dikoyak oleh musuh bangsa yang merusak kerukunan masyarakat. “Kegiatan sepakbola api ini menjadi simbol tradisi, bahwa betapa panasnya api yang ditendang namun tidak diarahkan menyakiti tubuh pemain lainnya,” ungkap Anasom. Artinya bahwa panasnya api akan tetap memiliki manfaat asal dikelola dengan baik sesuai manfaatnya.

“Simbol api adalah semangat membangun negeri dan nasionalisme Indonesia dengan mencintai? tradisi” imbuh Anasom. Semua permainan santri sangat memiliki nilai filosofis dan ini akan kita persembahkan untuk menghibur masyarakat Kota Semarang. (Red: Mahbib)

Rangkaian acara hari santri Kota Semarang adalah sebagai berikut:

Ahad, 16 Oktober 2016

Musabaqah Santri (Lomba Mars Ya Lal Wathan & Lomba Menulis "Surat Kagem Mas Hendi")

Masjid Agung Jawa Tengah Semarang

Jam 08.00-15.00 WIB

Sabtu - Ahad, 15-16 Oktober 2016

Liga Futsal Santri Lapangan Merdeka Sekaran Semarang

Jam 08.00-15.00 WIB

Selasa, 18 Oktober 2016

Workshop Jurnalistik Santri

Aula SMA Nasima Gandanegara

Jam 09.00-12.00 WIB

Rabu, 19 Oktober 2016

Bedah Buku "KH Muhammad Sholeh Darat Al Samarani: Maha Guru Ulama Nusantara"

Auditorium Kampus II Universitas Wahid Hasyim

Jam 13.30-15.30 WIB

Narasumber: Amirul Ulum (Penulis Buku)

Kamis, 20 Oktober 2016

Ziarah Penggerak Aswaja KH Muhammad Sholeh Darat &

Ziarah Pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Ridwan Mujahid

Makam Bergota Semarang

Jam 15.00-16.30 WIB

Jumat, 21 Oktober 2016

Istighatsah Kebangsaan

Serambi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Jam 19.30-22.00

KH Kharis Shodaqah, KH Dzikron Abdullah, Habib Dja’far Al Musawwa,

KH Hanief Ismail Lc, KH Ahmad Darodji

Jumat, 21 Oktober 2016

Sepakbola Api

Genderang Shalawat Kasidah Modern YPI Nasima

Halaman Plaza Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Jam 19.00-19.30

Sabtu, 22 Oktober 2016

Upacara Hari Santri

Halaman Balaikota Semarang

Jam 06.30-08.00

Sabtu, 22 Oktober 2016

Festival Santri Hebat, Pameran Karikatur Santri,

Atraksi Barongsai Naga Doreng, Drum Band Baladika Arhanudse 15 Semarang,

Drum Band TK Muslimat NU, Drum Band MTs Hidayatus Syubban Genuk,

Pentas Seni Budaya Santri, Donor Darah & Konsultasi Hukum Gratis

Halaman Balaikota Semarang

Jam 08.00-10.00

Sabtu, 22 Oktober 2016

Kirab Santri

Ziarah Pahlawan

Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang

Jam 09.00-10.00

CP Panitia:

Jumarno 085799994774 & Rikyat 085726719342

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kiai, Quote Santri An Nur Slawi

Sepuluh Hal yang Sia-sia Menurut Sayyidina Utsman

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?: ? ? ? ? ?

Sepuluh Hal yang Sia-sia Menurut Sayyidina Utsman (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Hal yang Sia-sia Menurut Sayyidina Utsman (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Hal yang Sia-sia Menurut Sayyidina Utsman

Alhamdulillah, kita masih dikarunia nikmat hidayah dari Allah subhanahu wata’ala sehingga hingga kini kita memiliki kesadaran untuk beribadah, di antaranya shalat Jum’at seperti yang kita laksanakan siang ini. Nikmat ini sungguh tak ternilai meskipun kita mesti terus-menerus introspeksi diri, karena manusia gudangnya lupa dan kesalahan, untuk menjaga agar petunjuk Allah senantiasa ada dalam diri kita dan semakin hari kian bertambah.

Santri An Nur Slawi

Khatib al-faqir juga mengajak kepada jamaah sekalian untuk selalu berikhtiar meningkatkan kualitas ketakwaan: tak henti-hentinya mengasah kesadaran ketuhanan kita yang kian mendekatkan diri kita kepada-Nya. Ketakwaan adalah modal pokok karena orang yang paling mulia di sisi Allah bukan orang paling kaya, paling pintar, paling cantik, atau paling tinggi jabatan, melainkan yang paling bertakwa.

Santri An Nur Slawi

Jamaah shalat jum’at yang mudah-mudahan dirahmati Allah,

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani pernah menulis pernyataan Sayyidina Utsman bin Affan dalam kitab Munabbihât ‘alâs –ti‘dâddi li yaumil Mî‘âd tentang sepuluh hal yang paling sia-sia.

? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pertama, orang ‘alim yang tidak ditanya mengenai ilmunya. Tentang hal ini ada dua kemungkinan, yakni karena orang alim itu enggan mensyiarkan ilmunya atau karena orang-orang awam di sekitarnya menjadi orang alim sebagai sumber rujukan. Kedua-duanya merupakan perilaku negatif karena ilmu seyogianya menjadi pedoman agar tiap langkah dalam kehidupan ini berjalan sesuai dengan rel yang tepat.

Kedua, ilmu yang tak diamalkan. Senada dengan yang pertama tadi, ini adalah gejala di mana orang-orang tak terlalu menghargai ilmu. Bukan saja pemilik ilmu, bahkan juga ilmu itu sendiri. Ilmu diperoleh namun tidak dilaksanakan. Fenomena ini sangat sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak di antara kita yang mengerti bahwa berbohong adalah dosa, namun di saat yang sama kita melanggarnya. Betapa banyak pejabat pintar yang korupsi. Dan betapa banya orang yang mengerti hukum yang terjerat kasus hukum. Semua ini dikarenakan ilmu yang ada dalam diri mereka sia-sia belaka, tak memberi kemanfaatan bagi kebaikan hidup mereka.

Ketiga, pendapat yang benar namun ditolak. Islam sangat menganjurkan para pemeluknya untuk bermusyawarah. Ajaran ini didorong oleh ajakan agar manusia terbuka dengan pendapat orang lain. Ketika pendapat itu benar maka harus diakui benar. Kebenaran tidak ada kaitannya dengan siapa yang mengatakannya. Karena itu menjadi salah bila kita menolak pendapat yang benar hanya karena yang mengemukakannya adalah orang yang kita benci. Kebenaran dan kebencian adalah dua hal yang berbeda dan harus dipisahkan.

Keempat, senjata yang tidak digunakan. Senjata dalam pengertian hari ini bisa dianalogikan sebagai kekuasaan. Ketika kita memiliki kewenangan untuk menekan, misalnya jabatan politik atau posisi strategis lainnya, dan tidak dimanfaatkan untuk kebaikan, maka kewenangan itu akan sia-sia. Senjata adalah simbol kekuatan dan sungguh sayang sekali orang yang tak mampu memanfaatkan kekuatan tersebut dengan baik.

Jamaah shalat jum’at hadâkumullah,

Hal sia-sia yang kelima adalah masjid kosong dari orang shalat. Esensi masjid adalah tempat untuk bersujud. Jika fungsi ini hilang, hilang pula hakikat ia sebagai masjid. Keterangan ini juga bisa dimaknai masjid yang mulai dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan jangka pendek segelintir saja, semisal politik praktis.? Atau bisa pula dijadikan kritik terhadap keadaan ironis masa kini, di mana masjid kian banyak dan dibangun secara megah namun tidak kian menarik jamaah untuk lebih nyaman di dalamnya. Masjid menjadi tempat yang kian asing. Aktivitas-aktivitas keagamaan semakin sepi.

Keenam, Al-Qur’an yang tidak dibaca. Kitab suci sekadar menjadi kitab yang disucikan, bukan sekaligus dibaca lalu diamalkan. Padahal, membaca Al-Qur’an meski si pembaca tidak mengerti artinya bernilai pahala. Apalagi bila ia mau belajar kandungan makna di dalamnya untuk kemudian mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berkenaan dengan hubungan kepada Allah maupun sesama makhluk.

Jamaah shalat jum’at hadâkumullah,

Hal sia-sia berkutnya, ketujuh, adalah harta yang tidak diinfakkan. Sayyidina Utsman secara tersirat hendak mengingatkan bahwa harta yang digunakan untuk keperluan sehari-hari lantas lepas dari status sia-sia. Sebab, harta juga mesti diinfakkan. Ketika tanggung jawab yang kedua ini hilang, maka hilang pula nilai kemanfaatan dari harta tersebut. Itulah alasan mengapa Islam mewajibkan zakat dan menekankan keutamaan bersedekah. Infak dari sebuah kekayaan sekecil apa pun jumlahnya bernilai berkah dan menyucikan harta secara keseluruhan.

Kedelapan, kendaraan yang tidak ditunggangi. Kendaraan adalah alat untuk menuju tujuan tertentu. Karena? ia adalah wasilah (perantara). Di zaman serbacanggih ini wujud wasilah begitu banyak, mulai dari alat transportasi, media sosial, alat komunikasi, dan lain-lain. Tingkat kemudahannya mungkin ratusan kali lipat dari “kendaraan” yang ada pada era Nabi. Namun, apakah wasilah-wasilah di zaman sekarang lebih bermanfaat daripada zaman itu? Ini menjadi bahan renungan kita bersama.

Kesembilan, ilmu zuhud di hati orang yang cinta dunia. Artinya, sia-sia seseorang berlajar ilmu tentang zuhud tapi hatinya belum bisa lepas dari cinta dunia. Sebab zuhud bukan semata berurusan dengan pengetahuan, melainkan tentang olah batin untuk mendudukkan segala hal selain Allah dalam posisi yang tidak prioritas.

Kesepuluh, umur panjang yang tak dimanfaatkan untuk mencari bekal (ke akhirat). Ini namanya penyia-nyiaan kesempatan. Peluang hidup di dunia hanya sekali, dan umur yang telah dilewati juga tak akan pernah kembali. Begitu usia kita habis hanya untuk perkara duniawi dan urusan diri sendiri, sia-sialah kita usia kita. Apalagi dalam Al-Qur’an kita sudah dingatkan bahwa kehidupan di akhirat adalah lebih utama ketimbang kehidupan di dunia. Wallahu alam bish shawab.

Semoga khatib pribadi dan jamaah sekalian diberikan kesanggupan untuk menjaga segala karunia yang Allah berikan agar bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan.

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur


Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pesantren, Jadwal Kajian, Ahlussunnah Santri An Nur Slawi