Rabu, 27 September 2017

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

Grobogan, Santri An Nur Slawi. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan melakukan amal ibadah lainnya. Bahkan puasa pada 10 Muharram diyakini menghapus doa yang lalu dan akan datang.

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

Kemuliaan bulan Muharram ini dihayati warga NU Grompol, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah. Di bawah pimpinan KH Imam Sujoto, mereka menggelar istighotsah dan tahlil setiap Kamis malam selama bulan Muharram di Masjid Baitus Salam, Kradenan, Grobogan. Kamis (28/11) kemarin menjadi puncak dari rutinitas istighasah dan tahlil di bulan Suro (Muharam) ini.

“Manusia hidup memiliki dua tas,” tutur Kiai Imam. “Tas plastik berguna untuk menampung harta, sementara tas qalb (hati) butuh siraman rohani. Manusia lebih sering memenuhi tas plastik dibanding tas qalb. Hal ini menimbulkan ketidakstabilan hidup dan kurang nyamannya hidup,” tegasnya

Santri An Nur Slawi

Ia menambahkan, dzikir sanggup menjadi penentram hati sekaligus bekal untuk kehidupan kelak. Selain itu, bagi anggota keluarga yang telah berpulang terlebih dahulu, doa sangat mereka butuhkan. Orang yang telah meninggal ibarat orang tenggelam. Melalui tahlil inilah, anak cucu saudara memberikan bantuan berupa “pelampung penyelamat”.

Santri An Nur Slawi

Selama lebih dari dua jam jamaah tampak khusyuk berdzikir dan berdoa. Meskipun di dalam masjid yang masih dalam tahap renovasi, jamaah larut dalam ibadah. Mereka juga berdoa, agar pembangunan masjid kebanggaannya segera rampung. (Hanif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pondok Pesantren, Meme Islam Santri An Nur Slawi

PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkomitmen terus mengawasi dan memberi masukan kepada DPR dan pemerintah dalam proses menjelang pengesahan rancangan undang-undang (RUU) Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Haji.

Komitmen tersebut direalisasikan dalam bentuk pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) secara berkala yang dimulai Senin (14/9) di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, dengan tema “Penyelenggaraan Ibadah Haji yang Ideal dan Efisien”.

PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kawal Revisi UU Penyelenggaraan Haji

Hasil diskusi akan dibukukan sebagai naskah akademik yang bisa dipertimbangkan para pemangku kebijakan atas RUU tersebut. “Saya sendiri yang akan mengawal naskah akademik ini nanti untuk dipasarkan kepada fraksi-fraksi mainstream,” kata Helmy Faisal Zaini, Sekjen PBNU.

Santri An Nur Slawi

Hadir dalam forum tersebut Achmad Djunaidi, mantan Kepala Biro Perencanaan Kemenag dan mantan Direktur Pengelola Dana Haji Dirjen Pelaksanaan Haji dan Umroh (PHU); Ahmad Kartono, mantan Direktur Pembinaan Ibadah Haji dan Umrah di Direktorat Jenderal PHU Kemenag; serta para ketua PBNU antara lain H marsudi Syuhud, H Eman Suryaman, H Andy Najmi, dan H Abdul Manan A Ghani. Forum juga diikuti perwakilan dari lembaga di PBNU.

Menurut Helmy, diskusi akan diselenggarakan secara tematik. Selain soal efisiensi, PBNU akan menyoroti misalnya tentang relevansi haji dikelola swasta, dan lainnya. Ia meyakinkan, sumbangan pikiran PBNU ini memiliki nilai signifikan.

Santri An Nur Slawi

“Kita harus optimis bahwa apa yang kita lakukan ini akan membawa perbaikan tata kelola ibadah haji ke depan,” ujarnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Amalan, Ubudiyah, Khutbah Santri An Nur Slawi

Selasa, 26 September 2017

Kunjungi Unipdu, Komikus Muslim Prancis Berikan Pelatihan

Jombang, Santri An Nur Slawi. Dakwah bisa dilakukan dengan banyak media, termasuk lewat komik. Bahkan bisa jadi hal ini akan lebih efektif dalam mengenalkan Islam. Sebuah tantangan baru baru penyebaran Islam di belahan dunia.

Menempati meeting room kampus Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), puluhan peserta mengikuti Workshop Pembuatan Komik (29/9).

Kunjungi Unipdu, Komikus Muslim Prancis Berikan Pelatihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Unipdu, Komikus Muslim Prancis Berikan Pelatihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi Unipdu, Komikus Muslim Prancis Berikan Pelatihan

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah siswa, mahasiswa serta santri di kampus yang berada di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang Jawa Timur ini.

Santri An Nur Slawi

Dalam paparan Ketua Yayasan PPDU, KH Zaimuddin Wijaya As’ad, SU bahwa komik dapat dijadikan media dakwah yang efektif . “Justru dengan komik ini, maka dakwah Islam dapat langsung aplikatif,” kata Gus Zuem, sapaan akrabnya selaku Ketua Yayasan PPDU.

Hal senada juga disampaikan oleh Dr HM Zulfikar As’ad, MMR. Dalam pandangan Gus Ufik, sapaan kesehariannya, keberadaan komik demikian populer di Prancis. Malah banyak karya komikus di negara mode ini yang justru menjadikan komik sebagai media syiar agama Islam.

Santri An Nur Slawi

“Ini adalah kesempatan langka karena Unipdu mendapat kehormatan menjadi tempat diselenggarakannya workshop dan merupakan satu-satunya kampus pesantren yang dipercaya,” tandas Gus Ufik.

Karenanya kepada peserta yang memang sebelumnya diseleksi ini sangat berharap dapat memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. “Mendapatkan pelatihan ini tentu sebuah kesempatan langka,” katanya. Karena itu, jangan sampai kesempatan istimewa tersebut disia-siakan, lanjutnya.

Pada kegiatan ini tampil sebagai pemberi materi yakni Greg Blondin dan Karim Allam,  komikus muslim dari Prancis. Dalam paparannya, keduanya menandaskan bahwa membuat komik bukanlah pekerjaan sulit. Langkah yang harus diperhatikan saat awal pembutan komik adalah memikirkan ide, kemudian diejawantahkan dalam gambar. Usai semuanya dibuat, maka silanjutkan dengan membuat sketsa, pewarnaan dan dekorasi secukupnya.

“Yang juga harus diingat adalah membuat dialog dari komik yang sudah ada,” katanya.

Masing-masing peserta diberikan kertas dan alat tulis untuk membuat komik. Mereka dipandu oleh dua komikus muslim ini yang tidak segan memberikan koreksi serta membimbing peserta agar bisa membuat komik dengan baik.

Kegiatan workshop ini sebagai kerjasama antara Lesehan Prancis, Pusat Studi Bahasa Unipdu dengan Pusat Kebudayaan Prancis yakni IFI atau Institut Francais Indonesia di bawah Kedutaan Besar Prancis.

Bahkan usai workshop pembuatan komik, juga dilanjutkan dengan presentasi Campus France yang dikhususkan kepada mahasiswa baru Unipdu. (syaifullah/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Halaqoh, Kajian Sunnah Santri An Nur Slawi

Senin, 25 September 2017

Pelantikan PCNU Kediri Dipenuhi Politisi

Kediri, Santri An Nur Slawi. Pelantikan Pengurus PCNU Kabupaten Kediri, dipenuhi politisi dan kental nuasa politik. Dari para tokoh yang hadir, khususnya PKB benar-benar turun gunung. Mulai dari Ketua Umum DPP PKB hingga ranting tumplek-blek. 

Acara yang berlangsung kemarin pagi (8/1) di Masjid An-Nur Pare Kediri misalanya, selain Muhaimin, ikut juga Sekejennya, Imam Nahrowi, Imam Anshori juga tampak duduk di panggung kehormatan. 

Pelantikan PCNU Kediri Dipenuhi Politisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelantikan PCNU Kediri Dipenuhi Politisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelantikan PCNU Kediri Dipenuhi Politisi

Bersama Ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Katib Suriyah PBNU KH Khafabih Mahrus Ali, H Syaifulloh Yusuf(Gus Ipul), Ketua PWNU Jatim KH Mutawakil Alalloh, Ketua DPW PKB Jatim, H Halim Iskandar dan lainnya.

Santri An Nur Slawi

Semua tokoh  yang hadir turut memberikan sambutan, termasuk Muhaminin. Ia menyampaikan proses politik terkait dengan Pilgub Jatim. Menurutnya, saat ini sedang digodok dua tokoh Jatim yang akan maju sebagai Bacagub Jatim, yakni Gus Ipul dan Hj Khofifah. 

“Kemarin pertemuan sudah kita lakukan. Dan dimediatori oleh Ketua PBNU," ungkap Muhaimin saat memberi sambutan pada acara itu.

Santri An Nur Slawi

Ketika itu, lanjut Muhaimin, belum ada keputusan final komposisi cagub dan wacabub, masih sebatas silaturrahim. “Pertemuan belum sampai pada final penempatan komposisi. Namun, masih  sebatas silaturahim," katanya. 

“Baru minggu depan pertemuan mungkin sudah mengarah ke komposisi. Teknisnya mungkin keduanya akan saya sediakan kamar. Kemudian ada rembukan. Kalau tidak clear biar keduanya sut saja. Siapa yang menang dan yang kalah biar legawa. Sehingga komposisi bisa ditentukan," tambahnya.

Sementara itu, Kiai Said Aqil pada kesempatan itu banyak mengupas makna jihad sesuai ajaran Ahlussunah wal Jamaah, serta amaliyah NU yang harus dilakukan oleh warga NU. Dan tentu saja, ia juga menyinggung soal suksesi kepemimpinan di Jawa Timur, dengan kelakar khas seorang mubalig. 

“Yang kami hormati Bapak Gubernur Jawa Timur Tahun 2013-2018, yakni Gus Ipul," ujar Kang Said itu disambut ger oleh ribuan warga NU yang hadir pada kesempatan itu. 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Imam Kusnin 

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Fragmen, Kajian Sunnah Santri An Nur Slawi

Minggu, 24 September 2017

Mahasiswa Berantas Buta Huruf Hijaiyah

Tegal, Santri An Nur Slawi . Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Bhakti Negara (STIBN) Tegal, mendapat apresiasi sendiri dari masyarakat, mereka itu yang telah selesai menempuh program Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau dalam perguruan tinggi tersebut disebut Praktik Ilmu Amalaiyah Lapangan (PIALA) . 

Mahasiswa Berantas Buta Huruf Hijaiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Berantas Buta Huruf Hijaiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Berantas Buta Huruf Hijaiyah

Salah satunya adalah kelompok yang diterjunkan di Desa Pacul Kecamatan Talang Kabupaten Tegal, rupannya masyarakat memiliki nilai lain terhadap sepuluh mahasiswa tersebut, pasalnya mahasiswa yang melakukan tugas di desa tersebut hubungan sangat dengan dengan masyarakat, terbukti program pemberantasan huruf hijaiyah bagi ibu-ibu lanjut usia dan anak-anak menjadi penyatu. Ratusan wanita Lansia dan anak-anak menjadi saksi kesuksesan dan keakraban mereka. Bahwa program tersebut berhasil dan memberikan efek manfaat bagi masyarakat, hal itu juga yang membuat masyarakat menginginkan agar praktik para mahasiswa di desa tersebut diperpanjang. 

“Ya memang Mas, ada dua program yang memang mendapatkan tempat sendiri di hati masyarakat pertama pemberantasan buta huruf huruf hijaiyah dengan metode yang kami gunakan qiroati dan yang kedua pemulasari jenazah bagi ibu-ibu Muslimat dan Fatayat, dengan dua program yang ini masyarakat kok kelihatanya butuh banget,” jelas salah satu Mahasiswa Aeni Fitria Azaen saat Santri An Nur Slawi bertandang ke Poskonya di dampingi ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) H Muslikh, Sabtu (28/7) . 

Santri An Nur Slawi

Aeni yang rupanya putri kaia Kondang asal kota Tegal itu juga tidak menampilkan bahwa keberhasilan programnya tidak lepas karena beberapa pihak yang berperan. “Ya walaupun program kami sebenarnya banyak banget Mas, tetapi mungkin ini yang menjadi kami dekat dengan masyarakat, terus terang saja dengan program pemberantasan huruf hijaiyah kami setiap malam harus keliling kekelompok-kelompok RT/RW dan daerah-daerah pedukuhan, jadi tidak ada hari yang tidak kami manfaatkan untuk itu,“ tambahnya.

Santri An Nur Slawi

 Mudah-mudahan, lanjut dia, kami bisa belajar lebih banyak dan apa yang telah kami lakukan disini dapat bermanfaat walaupun hanya sedikit “Yang penting manfaatnya bukan sedikit banyaknya,“ harapanya. 

Menanggapi hal itu ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) H Muslikh mengaku bangga apa yang telah dilakukan mahaiswanya karena telah melakukan sesuatu yang memang masyarakat membutuhkanya, jadi ke depan juga harus diperhatikan kepada semua mahasiswa jangan membuat program yang muluk tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi daerah tersebut, sehingga pada akhirnya tidak ada respon dari masyarakat, tetapi buatlah program yang memang masyarakat membutuhkan. 

“Lah kaya gini kan kelihatanya sepele tetapi masyarakat memang butuh dan ini yang saya anggap rasional, juga cerdas,“ katanya.

 Tetapi juga jangan sampai putus  sampai mahasiswa selesai tugas, karena tugas mahasiswa hanya sebagai stimulus atau perangsang sehingga ada sebagian masyarakat yang nantinya akan meneruskan dan hingga betul-betul berhasil. 

“Ketepatan, yang dihasilkan dari analisis yang tajam itulah yang nanti akan mempengaruhi peran mahaiswa dalam dunia yang akan mereka lakoni, untuk itu belajarlah dengan semesta agar kompetensi hidup dapat meningkat terus,“Pesan Muslikh, yang juga ketua PC LP Ma’arif NU Kabupaten Tegal. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz TGL                  

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi PonPes Santri An Nur Slawi

Sabtu, 23 September 2017

Ketika Sayyidina Umar Ketinggalan Shalat Jamaah

Sayyidina Umar bin Khattab suatu hari pergi ke kebun kurma miliknya. Ketika pulang ia mendapati sejumlah orang telah rampung menunaikan sembahyang Ashar.

Sontak mulut Sayyidina Umar berucap, "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, aku ketinggalan shalat jamaah!"

Khalifah kedua ini kecewa bukan main lantaran tak sempat menunaikan shalat jamaah bersama mereka. Sebagai pelunasan atas rasa bersalahnya ini, ia pun melontarkan sebuah pengumuman di hadapan mereka.

Ketika Sayyidina Umar Ketinggalan Shalat Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Sayyidina Umar Ketinggalan Shalat Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Sayyidina Umar Ketinggalan Shalat Jamaah

"Saksikanlah, mulai sekarang aku sedekahkan kebunku untuk orang-orang miskin," ujar pemimpin berjuluk "al-Faruq" ini. Sayyidina Umar merelakan kebun lepas dari kepemilikannya, sebagai kafarat atas keterlambatannya melaksanakan shalat jamaah.

Kisah ini diriwayatkan Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma seperti tertuang dalam kitab Anîsul Muminîn karya Shafuk Sadullah al-Mukhtar.

Santri An Nur Slawi

Sebenarnya, tak ada kewajiban bagi umat Islam untuk menghibahkan kekayaan sebesar itu hanya gara-gara telat shalat jamaah. Tapi Umar melakukan hal itu lantaran kecintaannya yang mendalam terhadap aktivitas ibadah.

Sikap Sayyidina Umar tersebut secara tersirat juga mencerminkan kezuhudan dalam dirinya. Lebih dari sekadar ketertarikan atas pahala berlipat dari sembahyang jamaah, keputusan ekstremnya itu menjadi penanda bahwa hatinya tak begitu terikat dengan kemewahan harta benda.

Hibah kebun kurma kepada kaum miskin, bagi Sayyidina Umar, adalah setimpal—atau bahkan terlalu kecil—untuk sebuah keteledoran yang membuatnya telat shalat jamaah. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian, Jadwal Kajian Santri An Nur Slawi

Kamis, 21 September 2017

PBNU Berharap KPK Profesional, Amanah dan Obyektif

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Setelah melalui proses yang panjang, komisioner baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya terpilih pada Kamis malam (17/12). Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berharap para komisioner baru ini profesional, amanah, dan obyektif dalam menjalankan tugasnya.?

“PBNU berharap mereka berusaha sekuat mungkin menegakkan keadilan dengan cara-cara yang elegan, yang bermartabat. Dengan bahasa yang tegas, tetapi tidak kelihatan emosional dan menggebu-gebu. Yang penting hasilnya baik,” katanya di gedung PBNU, Jum’at (18/12).

PBNU Berharap KPK Profesional, Amanah dan Obyektif (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Berharap KPK Profesional, Amanah dan Obyektif (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Berharap KPK Profesional, Amanah dan Obyektif

Kiai Said berpendapat, keberadaan KPK selama ini sudah menunjukkan hasilnya, meskipun belum maksimal karena tidak mungkin melaksanakan sesuatu yang sangat ideal, pasti banyak tantangan.?

Santri An Nur Slawi

“Saya acungi jempol, buktinya orang tidak sembarang mudah korupsi, mark up, dan menerima gratifikasi. Sudah mulai ada efeknya. Bahwa belum puas, ya memang belum semuanya puas,” imbuhnya.

Santri An Nur Slawi

Ditambahkannya, yang penting bukan menangkap, tetapi mencegah. “Pencegahan korupsi sama dengan pencegahan narkoba dan pencegahan teroris. Tidak hanya kewajibannya pemerintah, polisi atau penegak hukum. Tetapi kewajiban masyarakat semua,” tuturnya.?

Ia juga berharap para penegak hukum memiliki standar akhlak dan moral yang tinggi. Keberadaan hukum bukan untuk membalas dendam kepada pihak yang disenangi atau membela yang disenanginya, tetapi menggunakan prinsip keadilan.?

Walhasil, dalam menjalankan UU ini, harus seobyektif mungkin, kalau salah dikatakan salah. Kalau benar dikatakan benar. Lawan atau kawan, saudara atau orang lain, tetangga atau orang jauh, semuanya diperlakukan sama,” katanya.?

Selanjutnya, Kiai Said mengharapkan KPK menggunakan skala prioritas dalam menangani kasus. “Yang paling besar dulu atau yang paling prinsip dulu. Jangan hanya ngurusi korupsi yang 200 juta, tetapi yang sekelas BLBI, yang kasus Century,” katanya.?

Dijelaskannya, korupsi ada dua macam, yaitu yang merugikan negara dan membangkrutkan negara. Setiap korupsi merugikan negara, tetapi untuk korupsi yang kecil-kecil, tentu tidak sampai membangkrutkan negara. “Ini harus menjadi prioritas dan dihukum keras.”

Setuju revisi?

Kiai Said juga menyatakan persetujuannya atas usulan revisi UU KPK Karena UU tersebut sudah berusia lama sehingga harus menyesuaikan dengan kondisi kekinian.?

“Saya kira, asalkan tidak mengurangi atau mengendorkan upaya penindakan korupsi, oke-oke saja,” imbuhnya.

Ia menilai, ketika UU KPK dibuat, kondisi waktu itu dan sekarang sudah berbeda. Memang pembuatan UU tersebut waktu itu harus seperti yang ada sekarang. Tetapi kondisi sekarang sudah berbeda. Sekarang orang mulai hati-hati korupsi, jauh berbeda dengan sebelum ada KPK.?

“Jangan sampai karena takut ditangkap KPK, kepala dinas dan para pejabat pengguna anggaran tidak berani menyalurkan anggarannya, nanti pembangunan tidak jalan,” paparnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Sejarah, Olahraga, Aswaja Santri An Nur Slawi

Rabu, 20 September 2017

Upik Rofiqoh Pimpin Fatayat NU Majalengka

Majalengka, Santri An Nur Slawi

Konferensi Cabang (Konfercab) Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Majalengka, Jawa Tengah, secara aklamasi memilih Hj Upik Rifiqoh untuk mengomandani Fatayat NU setempat masa khidmah 2017-2023.

Forum tertinggi Fatayat NU tingkat cabang itu digelar di Pondok Pesantren Al Mizan Ciborelang, Jatiwangi. Konfercab dipimpin langsung Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Barat Hj Yayah Fijriyah. Dalam pengantarnya Yayah menekankan militansi dalam berorganisasi yang berhaluan Islam Ahlussunah wal Jamaah ini.

Upik Rofiqoh Pimpin Fatayat NU Majalengka (Sumber Gambar : Nu Online)
Upik Rofiqoh Pimpin Fatayat NU Majalengka (Sumber Gambar : Nu Online)

Upik Rofiqoh Pimpin Fatayat NU Majalengka

"Militansi ini penting agar Fatayat mampu mewujudkan generasi muda yang mandiri, cerdas dan professional," tegas perempuan asli Leuwimunding ini, Ahad (29/1).

Santri An Nur Slawi

Hadir pula memberi sambutan Nyai Hj. Minatul Maula, sesepuh dan ketua Muslimat NU Majalengka. Pengasuh Ponpes Raudhatul Mubtadiin Cisambeng, Palasah, Majalengka ini menekankan pentingnya keikhlasan dalam mengurus Fatayat.

Santri An Nur Slawi

Konfercab ini juga merumuskan agenda kerja ke depan. Di antaranya melakukan sosialisasi "Majalengka anti Kekerasan Perempuan dan Anak" yang akan diadakan di 10 titik bekerja sama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Jakarta. Fatayat pun akan kerja sama dengan Badan Kreatif Nasional untuk melatih keterampilan di beberapa titik daerah di Majalengka.

Dalam kesempatan tersebut hadir Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq memberi pesan tentang gerak NU ke depan. Ia menyebut Fatayat sebagai badan otonom NU sangat diandalkan untuk memberi pemahaman, keterampilan dan kemampuan kepada para pemudi Indonesia tentang pentingnya Islam yang toleran dan transformatif.

"Fatayat harus terus bergerak secara istiqamah demi terwujudnya generasi emas yang bisa melawan intoleransi, radikalisme dan kekerasan sexual yang dilakukan pihak yang bertanggung jawab," tegas Maman.

Pelantikan pengurus baru ini akan dilaksanakan pada pertengahan Februari sekalian dengan Peringatan Maulid Akbar, Peresmian Perpustakaan Masjid dan Lapang sepakbola di Panjalin Sumber Jaya yang akan dihadiri beberapa Menteri dan tokoh nasional. (Ade Duryawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kyai, Santri, Habib Santri An Nur Slawi

Banser: Jika Tak Bisa Dinasihati, Akun Penghina Kiai Dipolisikan

Jakarta, Santri An Nur Slawi?

Kepala Satuan Koordinasi Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) H Alfa Isnaeni mengatakan walaupun media sosial itu kadang sering disebut dunia remeh-temeh, tapi isinya bisa menjadi negatif juga bila isinya itu penghinaan.?

Banser: Jika Tak Bisa Dinasihati, Akun Penghina Kiai Dipolisikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser: Jika Tak Bisa Dinasihati, Akun Penghina Kiai Dipolisikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser: Jika Tak Bisa Dinasihati, Akun Penghina Kiai Dipolisikan





“Cara mengingatkan kepada orang yang menghina ulama itu banyak cara. Di antaranya didatangi dalam rangka tabayun (klarifikasi), dinasihati,” ujar Alfa ketika ditanya bagaimana seharusnya sikap kader GP Ansor dan Banser jika menemukan akun medsos yang menghina kiai di kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Jakarta, Selasa malam (10/1). ?



Santri An Nur Slawi



Kalau dinasihati masih tidak bisa, lanjutnya, harus dinasihati sampai tiga kali. Jika masih tidak menerima, tidak salah jika kader GP Ansor dan Banser melaporkan pemilik akun tersebut kepada pihak yang berwajib (polisi).?

Santri An Nur Slawi





Menurut dia, upaya tabayun dan menasihati kepada akun penghina seharusnya tidak hanya dilakukan kader Ansor dan Banser. Namun, seluruh pihak. ?





“Yang penting jangan melakukan kekerasan. Tapi tabayun pasti. Kalau sudah ditabayuni, lalu dinasihati,” lanjutnya.?





Ia mengimbau, sebaiknya siapa pun jangan melakukan penghinaan kepada siapa pun. Kalau terlanjur menghina, segeralah meminta maaf.?





“Kalau minta maaf saja tidak mau, tidak salah dong, terpaksa dilaporkan,” katanya.?





Menurut dia, tidak baik dan tidak benar peradaban sebuah bangsa dibangun dengan saling menghina satu sama lain.?





“Kami belajar juga dalam upaya memperbaiki diri. Kami juga mengajak pihak lain untuk sama-sama belajar dan berbuat baik. Jadi berimbang, kalau diajak berbuat baik tidak mau, hukumlah yang berbicara,” pungkasnya. (Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Cerita, Amalan Santri An Nur Slawi

Mengingat Ayat Kauniyah dalam Maulid Nabi

Tangerang Selatan, Santri An Nur Slawi. Bulan Rabi’ul Awal merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad. Momen tersebut dimanfaatkan oleh Himpunan Qori Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengadakan peringatan Maulid Nabi di Asrama Nawawi Ma’had Ali Ciputat, Tangerang Selatan pada Kamis malam, (30/11). Acara tersebut diselenggarakan atas kerja sama dengan Mahasiswa Ahlit Thariqah an-Nahdiyah (Matan) Ciputat dan Organisasi Mahasantri Mahad (OMM) Ciputat.

Mengingat Ayat Kauniyah dalam Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengingat Ayat Kauniyah dalam Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengingat Ayat Kauniyah dalam Maulid Nabi

Acara yang mengusung tema “Al-Qur’an Mukjizat Terbesar Rasul: Mengaji adalah Dakwah Akhlak era Milenial” itu menurut Ketua Umum HIQMA Dzulkarnaen Lana Saputra diadakan untuk mengingat kembali Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi.

“Dalam diri Rasulullah adalah Al-Qur’an. Semua akhlak yang tertera pada diri Rasulullah adalah manifestasi dari Al-Qur’an,” ujarnya.

Selain itu, Ketua Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah (Jatman) DKI Jakarta Wahfiudin Sakam mengaitkan pemilihan tema di atas dengan pemahaman ayat yang luas. Menurutnya, ayat itu dibagi menjadi dua, ayat kauniah dan ayat quraniyah. 

Santri An Nur Slawi

“Ayat-ayat yang ada di Al-Qur’an bisa jelas dipahami, kalau sudah memahami ayat-ayat yang ada di alam atau ayat kauniyah,”

Ia memaparkan, kalau seseorang belum mempelajari ayat-ayat yang ada di alam, jelas akan sulit memahami ayat-ayat yang di Al-Qur’an. Bahkan ia menjelaskan tentang  pembagian ayat di Al-Qur’an. Menurutnya, dari seluruh ayat yang berjumlah 6.236 ayat, hanya sekitar 700 ayat yang berbicara tentang fiqih.

“Itu artinya hanya sekitar 700 ayat yang berbicara tentang hukum, dan mayoritas hanya secara prinsip,” ujar pengurus pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu. 

Sisanya, menurutnya sekitar 85 persen ayat di Al-Qur’an justru berbicara tentang alam. Jadi menurutnya wajar, pemahaman seseorang terhadap ayat Al-Qur’an akan baik jika dia memahami ayat Allah yang ada di alam.

Santri An Nur Slawi

“Karena Al-Qur’an lebih banyak bicara tentang alam daripada tentang hukum. Yang dibahas di Al-Qur’an, hanya prinsip atau garis-garis besarnya saja,” ujar wakil sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) itu. 

Acara tersebut ditutup dengan promosi peluncuran DVD Maulid Al-Barzanji, Juz ‘Amma dan buku kompilasi naskah Syarhil Quran oleh kader HIQMA yang didampingi oleh pihak kampus UIN Jakarta. 

Turut hadir di acara tersebut qariah internasional Mastia Lestaluhu, juara 1 Hafidz Indonesia RCTI 2013 Hilya Qonita, pembina Ma’had Ali Utob Tobroni Wafiudin Sakam dan ketua Matan Ciputat Atmo Prawiro. (M. Ilhamul Qolbi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Islam, Habib, News Santri An Nur Slawi

Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Menurut Asia Development Bank (ADB), kelas menengah adalah mereka yang memiliki pengeluaran dua hingga dua puluh dollar Amerika atau dua puluh tujuh ribu hingga dua ratus tujuh puluh ribu rupiah per kapita per hari.

Berdasarkan data BCG tahun 2012, jumlah kelas menengah di Indonesia adalah tujuh puluh empat juta. Bahkan, ada yang menyebut kalau jumlah kelas menengah Indonesia adalah seratus empat puluh satu juta.

Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU

Sedangkan muslim adalah mereka yang memeluk agama Islam dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan Islam. Maka dengan demikian, kelas menengah muslim adalah mereka yang memiliki daya beli dan juga memiliki tingkat religiusitas yang tinggi.

Beberapa waktu lalu, Alvara Research Center melakukan survei terhadap kalangan muslim kelas menengah. Dalam survei tersebut ditemukan fakta bahwa mayoritas kelas menengah muslim tersebut dekat dan berafiliasi dengan ormas Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

Dengan masing-masing prosetase 40,6 persen mengaku berafiliasi terhadap NU dan 20,7 persen mengaku menjadi anggota NU. Sedangkan 13,3 persen berafiliasi dengan Muhammadiyah dan 7,8 persen responden mengaku sebagai anggotanya. 

Santri An Nur Slawi

Namun yang menarik adalah kelas menengah muslim yang mayoritas NU dan Muhammadiyah tersebut sebagian besar tidak menyalurkan dermanya ke lembaga amil zakat dua ormas tersebut. Lalu, ke lembaga mana mereka berderma?  

Santri An Nur Slawi

CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menjelaskan, sebetulnya kelas menengah muslim itu ringan tangan dalam berderma. Umumnya, mereka memiliki pendapatan dan jiwa sosial keagamaan yang tinggi. Maka dari itu, mereka tidak segan-segan untuk membantu sesama saudaranya yang seiman yang memang membutuhkan.

Hasil riset menunjukkan bahwa dari 1200 responden atau 100 persen menyatakan pernah menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui musholla, 40,5 persen menyalurkan langsung kepada yang membutuhkan, dan 20,9 persen pernah menyalurkan melalui lembaga zakat.

“Dari 20 persen kelas menengah yang menyatakan pernah menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui LAZIS mereka menyatakan menyalurkannya melalui Dompet Dhuafa 31,5 persen, Rumah Zakat 23,9 persen, dan Rumah Yatim 12,7 persen,” kata Hasan usai menyampaikan rilis hasil survei di Jakarta, Senin (23/10).

Dengan demikian, jika menyebut lembaga amil zakat di kalangan kelas menengah muslim, maka yang paling diingat adalah Dhompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Hal disebabkan karena dua lembaga amil zakat tersebut merupakan pelopor dalam transformasi lembaga zakat dengan pengelolaan yang profesional dan modern.

“Mayoritas NU dan Muhammadiyah, tapi mereka tidak meyalurkan zakatnya (infak dan sedekah) ke LAZISNU atau LAZISMU,” tandas Hasan. (Muchlishon Rochmat/Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hikmah Santri An Nur Slawi

Selasa, 19 September 2017

PBNU Tolak Wacana Ahok Soal Lokalisasi Prostitusi

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menolak keras wacana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang akan melokalisasi prostitusi di wilayah yang dipimpinnya. 

"(Lokalisasi prostitusi) itu sama saja dengan melegalkan perzinaan," kata Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (27/4).

PBNU Tolak Wacana Ahok Soal Lokalisasi Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tolak Wacana Ahok Soal Lokalisasi Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tolak Wacana Ahok Soal Lokalisasi Prostitusi

 Dijelaskan oleh Kiai Said, perzinaan, pembunuhan, pencurian, minuman keras, termasuk narkotika dan obat-obatan terlarang, adalah hal-hal yang larangannya sudah jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadist. 

Santri An Nur Slawi

"Jadi berbeda dengan permasalahan sosial lain yang masih bisa dicarikan solusi melalui ijma, qiyas, dan pembahasan-pembahasan lain dalam kaidah fiqih," lanjut Kiai Said. 

Ditanya mengenasi solusi mengatasi prostitusi, khususnya di Jakarta, Kiai Said salah satunya meminta agar hukum dalam hal ini diterapkan dengan baik dan benar. Maraknya prostitusi salah disebut salah satunya akibat penanganan setengah-setengah oleh aparat penegak hukum.

Santri An Nur Slawi

 

"Yang membuat undang-undangnya, penegak hukumnya, semua jangan setengah-setengah. PSK-nya, mucikarinya, penyedia tempatnya, bahkan kalau ada penegak hukum yang ternyata terlibat, ya dihukum sesuai aturan yang berlaku, saya rasa itu bisa mengurangi prostitusi," jelas kiai penyandang gelar akademik profesor di bidang tasawuf.

 

Solusi lain untuk mengatasi prostitusi, masih kata Kiai Said, adalah faktor ekonomi dan moralitas yang dibehani secara serius. 

"Sedini mungkin aspek moral harus ditanamkan, terutama dalam lingkungan keluarga. Kalau moral bagus, insya allah ekonomi juga akan bagus, dan orang tidak akan terjerumus dalam hal-hal negatif," pungkasnya.

 

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menggulirkan wacana lokalisasi prostitusi sebagai solusi atas maraknyak praktik bisnis haram tersebut di wilayah yang dipimpinnya. Ahok beralasan, dengan dilokalisasi Pemerintah akan dengan mudah melakukan kontrol. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Internasional, Tokoh Santri An Nur Slawi

Minggu, 17 September 2017

Pesantren Futuhiyyah Mranggen Gelar Expo Santri

Demak, Santri An Nur Slawi. Dalam rangka mengapresiasi Hari Santri Nasional 2016, Yayasan Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak menggelar Expo Futuhiyyah bertemakan ‘Cinta Tanah Air, 115 Tahun Kiprah Futuhiyyah untuk Bangsa’, Selasa (25/10).

Pesantren Futuhiyyah Mranggen Gelar Expo Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Futuhiyyah Mranggen Gelar Expo Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Futuhiyyah Mranggen Gelar Expo Santri

Kirab Bendera Merah Putih dan Resolusi Jihad mengawali kegiatan ini yang diikuti sekitar 6.000-an santri.

Acara pembukaan Expo Futuhiyyah dihadiri oleh para Pengasuh Pondok Pesantren di Mranggen, Ketua Yayasan, pejabat Muspida, Kepala Kantor Kemenag Demak, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Demak, para Kepala Madrasah se-Yayasan, anggota kepolisian/TNI dan para santri.?

Acara ? secara resmi dibuka oleh Bapak Wakapolres Demak, ? dimana sebelumnya bersama-sama terlebih dahulu menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars Syubbanul Wathon dengan penuh semangat dan pembacaan ikrar santri yang dibacakan oleh santri MA Futuhiyyah 2 Mranggen.

Menurut ketua panitia penyelenggara, H. Faizurrahman Hanif acara tersebut akan digelar dari tanggal 25 sampai 29 Oktober 2016.?

Santri An Nur Slawi

“Agenda kegiatan Expo Futuhiyyah ini meliputi Kirab Bendera, Seminar Nasional, Bahtsul Masa’il, pameran produk, lomba-lomba, bakti sosial, bedah buku, penyuluhan kesehatan dan akan ditutup dengan Maulid Nabi,” jelasnya pada pembukaan Expo Futuhiyyah di Halaman pondok pesantren Futuhiyyah.

Lanjutnya, bakti sosial meliputi donor darah, khitan masal, pengobatan gratis dan santunan sosial juga santunan anak yatim. Sedangkan lomba-lomba meliputi lomba tingkat TK yakni lomba menggambar, mewarnai dan hafalan doa harian se-Kabupaten Demak. Tingkat SD/MI meliputi ? lomba cerdas cermat se-Kabupaten Demak.?

Tingkat SMP/MTs meliputi lomba kaligrafi, MTQ, dan cerdas cermat se karisedanan Semarang-Pati. Tingkat SMA/SMK/MA yakni lomba rebana, baca kitab kuning se karisedanan Semarang-Pati. Juga lomba tenis meja, baca puisi dan pidato se-Yayasan Futuhiyyah.

“Dan insyaAllah pada puncak acara penutupan akan hadir ketua PBNU, KH. Said Aqil Sirodj,” tuturnya.

Santri An Nur Slawi

Sementara ketua Yayasan Futuhiyyah, KH. Said Lafif Hakim dalam sambutannya menuturkan bahwa santri memiliki peran historis dalam dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk peran besar dalam memperjuangkan Kemerdekaan RI.

“Kegiatan ini adalah refleksi sebuah gambaran rasa terima kasih atas perjuangan para pejuang dan sesepuh pesantren dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa keluarga dan santri akan terus berkomitmen meneruskan perjuangan para sesepuh dari pendiri pesantren yakni KH. Abdurrahman Qoshidil Haq, KH. Muslih Abdurrahman, KH. MS. Lutfil Hakim Muslih sampai KH. Muhammad Hanif Muslih melalui jalur dakwah pendidikan.

“Kami punya slogan, cinta satu hati, cinta tanah air, cinta Indonesia,” imbuhnya ?

Mahbub Alwi, salah seorang santri menyambut positif ? kegiatan ini karena hal ini menunjukkan kiprah Pondok Pesantren untuk kemajuan bangsa sangat besar dan membuat para ustadz dan seluruh santri termotivasi berjuang mengisi kemerdekaan lewat pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (Ben Zabidy/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Budaya Santri An Nur Slawi

Sabtu, 16 September 2017

Fatayat Bojonegoro Juarai Lomba Desainer Gaun Berbahan Batik

Bojonegoro, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Cabang Fatayat NU Bojonegoro, Jawa Timur, berhasil mengukir prestasi di ajang lomba Fatayat NU Jawa Timur, yang digelar di gedung Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (16/5) malam. Para kader perempuan Bojonegoro sukses menjuarai desainer pakaian pesta berbahan kain batik.

Fatayat Bojonegoro Juarai Lomba Desainer Gaun Berbahan Batik (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Bojonegoro Juarai Lomba Desainer Gaun Berbahan Batik (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Bojonegoro Juarai Lomba Desainer Gaun Berbahan Batik

Perlombaan tersebut diikuti seluruh pengurus PC Fatayat NU se-Jawa Timur, yang datang dari sekitar 44 kabupaten/kota. Kegiatan tersebut dibuka langsung Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur Hikmah Bafaqih.

"Awalnya tidak menyangka, kalau Fatayat NU Bojonegoro meraih juara di ajang desainer pakaian pesta berbahan batik. Pasalnya peserta lainnya juga bagus-bagus," ujar Sekretaris PC Fatayat NU Bojonegoro Sulistyowati.

Santri An Nur Slawi

Di depan dewan juri profesional, Nurisshikah, sang desainer asal Kecamatan Kepohbaru, menyatakan tema Ratu Jati, sebagai representasi kualitas jati di Kabupeten Bojonegoro yang terkenal itu.

Santri An Nur Slawi

Berangkat dari inspirasi jati ini, sang desainer lalu menuangkannya lewat karya desain baju Batik Jenogoroan motif daun jati. Hasilnya, ketua PC Fatayat NU Bojonegoro, Hj Ifa Khoiria Ningrum, mengangkat tropi juara di depan ratusan peserta yang hadir.

"Dengan diperolehnya prestasi ini, berharap dapat mengangkat produk batik Jenogoroan kepasar lebih luas. Serta memberi manfaat kepada masyarakat Bojonegoro, secara menyeluruh," pungkasnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi News Santri An Nur Slawi

Jumat, 15 September 2017

Beramal Baiklah di Segala Medan

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Beramal Baiklah di Segala Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Beramal Baiklah di Segala Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Beramal Baiklah di Segala Medan

Suatu hari Rasulullah ditanya oleh seorang dari suku Baduwi tentang hijrah. Maksudnya, si Baduwi hendak ikut berjuang bersama umat Islam lainnya dengan bermigrasi dari Makkah menuju Madinah. Nabi pun menjawab dengan nada agak keras:

Santri An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Santri An Nur Slawi

“Celakalah, sungguh itu sangat berat. Apakah kamu memiliki unta yang sudah sampai nishab yang dikeluarkan zakatnya?” Orang Baduwi itu menjawab “Ya.” Rasulullah pun membalas, “Beramalah dari balik perkampungan. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan amal baikmu sedikt pun.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abi Said al-Khudri. Dalam pertanyaan orang Baduwi itu tersimpan niat baik untuk berjihad di jalan Allah dengan cara turut serta hijrah ke daerah lain. Hijrah kala itu merupakan pekerjaan yang tidak sederhana.

Lebih dari sekadar menempuh perjalanan jauh, hijrah mengandaikan seseorang bersiap secara fisik dan mental menghadapi berbagai tantangan selama perjalanan, juga tantangan bertemu dengan kehidupan sosial yang baru di tanah orang. Hijrah juga merupakan momen berpisah dengan keluarga dalam waktu cukup lama dan karenanya memastikan bekal dan kesejahteraan bagi orang-orang yang ditinggal.

Mungkin sadar akan keterbatasan orang Baduwi itu untuk melaksanakan itu semua, Rasulullah memberikan alternatif lain tentang cara berjihad. Karena si Baduwi adalah orang yang berpunya, Nabi pun menyarankan dia berbuat baik melalui harta. Si Baduwi dianjurkan tetap berada di kampung halaman dengan memperbanyak sedekah.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Cerita tentang orang Baduwi tersebut mengungkapkan pesan bahwa medan amal ibadah memang sangat luas. Ketika orang-orang kala itu menganggap hijrah sebagai jalan amal yang primadona, Nabi menampiknya dengan menunjukkan jalan-jalan lain yang juga sama baiknya. Rasulullah sadar, kemampuan umatnya berbeda-beda, sebab itu cara berbuat baik pun tidak harus sama.

Petunjuk Nabi ini juga selaras dengan pesan Al-Qur’an sebagaimana tertuang dalam Surat at-Taubah ayat 122:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Demikianlah lagi-lagi Nabi tak mengharuskan jihad perang atau hijrah sebagai satu-satunya pilihan. Rasulullah menilai pendalaman ilmu dan menjadi pembimbing masyarakat pun bagian dari jihad yang tak kalah penting. Dalam bahasa lain, pola semacam ini bisa kita sebut sebagai “distribusi tugas”. Orang-orang tidak dipaksa bekerja dalam satu bidang tertentu tetapi dibiarkan menduduki porsi masing-masing lalu berperan positif sesuai dengan fungsinya.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Lalu bagaimana bila kita tidak memiliki kekayaan yang cukup? Pertanyaan ini kadang kita temukan dari sejumlah orang yang menyesali dirinya tidak bisa berbuat baik banyak (misalnya) hanya karena ia seorang pegawai rendahan, gajinya sedikit, penghasilannya pas-pasan.

Mereka mungkin lupa bahwa sumber kebaikan tidak selalu ditentukan oleh harta. Bahkan, dalam banyak kasus banyaknya harta kerap malah menjerumuskan. Betapa banyak orang-orang yang berharap peningkatan nasib, namun ketika kenikamatan tersebut hadir orang itu justru menjadi kufur: lupa bersyukur, lupa berbagi kepada sesama.



(Baca: Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah)


Banyak jalan menuju kebaikan. Selain harta, berbuat baik juga bisa disalurkan melalui tenaga dan pikiran. Menjenguk orang sakit, berbakti kepada orang tua, berpatisipasi dalam donor darah, mengajar, memperhatikan orang lemah di sekitar kita, andil dalam kerja bakti, dan lain-lain adalah sedikit contoh dari jalan beribadah atau beramal baik.

Terlebih lagi, amal perbuatan yang tampak biasa bisa berubah menjadi amalan “luar biasa” dengan cara memperbaiki niat. Hal ini dapat terjadi karena niat berpusat di hati, dan hati adalah sumber yang sangat menentukan dalam segenap aktivitas manusia. Tentang memperbaiki niat ini Syekh az-Zarnuji dalam kitab Ta’lîmul Muta‘allim mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Betapa banyak amal perbuatan yang bercirikan amal perbuatan duniawi, tetapi karena niat yang bagus menjadi amal perbuatan akhirat. Betapa banyak perbuatan yang bercirikan amal perbuatan akhirat, tetapi menjadi perbuatan dunia karena niat yang buruk”.

Bekerja, berolah raga, makan, minum, tidur, atau aktivitas sejenis lainnya hanya sekilas hanya rutinitas belaka. Dengan mengimbuhinya niat yang positif, misalnya untuk menunaikan tanggung jawab, untuk kesehatan fisik demi menghamba kepada Allah, rutinitas tersebut menjadi bernilai ibadah. Sebaliknya bila yang demikian diniatkan semata untuk memenuhu sifat tamak, akan menjadi rutinitas yang tidak bernilai baik apa-apa.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Jangan pernah mengabaikan niat, jangan pula meremehkan posisi kita sekarang selamat tak menyalahi syariat. Karena semua orang mampu menata niatnya dan semua orang berpotensi berbuat yang terbaik sesuai dengan posisi dan porsinya masing-masing. Apalagi, kata orang bijak, manusia tidak dicela karena tidak mencapai kebaikan maksimal, melainkan karena tidak mau berikhtiar berbuat baik padahal ia memiliki kemampuan. Wallahu a’lam.

Khutbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Alif Budi Luhur)



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Makam Santri An Nur Slawi

Kamis, 14 September 2017

Pagar Nusa Gelar Pengobatan Alternatif Gratis

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS NU) atau Pagar Nusa akan menggelar pengobatan alternatif gratis pada saat Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, 14-17 September.

Menurut Ketua Pimpinan Pusat Pagar Nusa Aizzuddin Abdurahman, pengobatan alternatif itu dikoordinasi Dewan Ketabiban Pagar Nusa yaitu Ustad Azis. 

Pagar Nusa Gelar Pengobatan Alternatif Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Gelar Pengobatan Alternatif Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Gelar Pengobatan Alternatif Gratis

“Pengobatan itu terdiri dari konsultasi kesehatan dari beragam penyakit,” ujarnya.

Santri An Nur Slawi

Ketua Pagar Nusa yang akrab disapa Gus Aiz ini menambahkan, akan diadakan pula pengobatan gratis. Salah satunya pijat refleksi yumeiho yang dikoordinasi Kang Ayip Abbas dari Pesantren Buntet. 

“Konsultasi kesehatan dan pengobatan gratis ini untuk peserta Munas dan Konbes serta masyarakat umum,” tambahnya. 

Santri An Nur Slawi

Stand pengobatan gratis Pagar Nusa berada di sekitar pesantren Kempek sehingga bisa dijangkau peserta Munas dan masyarakat umum yang turut hadir (penggembira).  

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi   

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Meme Islam, Pertandingan Santri An Nur Slawi

Rabu, 13 September 2017

Membumikan Humor

Oleh Aswab Mahasin

Masyarakat kita sebenarnya mempunyai selera tinggi dalam “humor”. Buktinya, acara-acara humor di televisi seringkali booming, seperti: Extravaganza, Opera Van Java, dan Lenong. Selain itu, kebanyakan acara sekarang, musik, talk show, dan sejenisnya dikemas dengan selingan humor. Humor di Indonesia merupakan pasar yang menarik, buktinya film dengan penonton terbanyak adalah Warkop DKI Reborn.

Dalam hal acara tv saya tidak akan membahas acara tv itu bermutu atau tidak dan humornya cerdas atau tidak. Yang ingin saya munculkan dalam tulisan iniialah humor itu penting bagi kesehatan politik kita, humor penting bagi kesehatan kesatuan kita, dan humor juga penting untuk mendidik pegiat Medsos agar tidak spaneng.

Membumikan Humor (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Humor (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Humor

Sesungguhnya Presiden Joko Widodo sudah memancing-mancing masyarakatnya untuk membumikan humor sebagai salah satu alat komunikasi dari kegetiran zaman medsos ini. Pak Jokowi pada salah satu sesi sudah mencontohkannya dengan mengeluarkan kata-kata, “Dua aset berharga kita telah diambil oleh Asing”. Maksud dari Pak Jokowi adalah dua artis cantik Indonesia telah dinikahi oleh pria keturunan Asing (bukan Indonesia).

Selain itu, kalau kita mau memaknainya lebih rilek lagi, ujaran-ujaran di Medsos itu humor, seperti; golongan satu memberi label pada kelompok yang cepat terbakar amarah dengan sebutan “sumbu pendek”. Yang katanya ‘sumbu pendek’ membalasnya dengan kata-kata “masih mending ana punya sumbu, daripada antum sumbu pun tak punya, langsung kompor bledug”. Kalau kita cermati, bahasa-bahasa tersebut bahasa humor, coba deh liat bagaimana orang guyonan, mirip seperti itu.

Lain lagi, belum lama ini Ustadz Arifin Ilham yang ramai di Medsos, gara-gara mem-posting istri ke-tiga-nya, yang konon belum lama dinikahi. Orang-orang ramai menceramahi, menghujat, bahkan menanggapinya dengan serius, sampai jadi viral. Sebenarnya, yang harus di viralkan bukanlah Ustadz Arifin, tetapi mereka para jomblo, yang sama sekali belum dapat satu pun. Kasihan para jomblo (kaum proletar asmara), harus meratapi efek dari borjuis asmara, ini jelas penindasan terhadap kaum jomblo. Ya, ini hanya sekedar humor.

Santri An Nur Slawi

 

Mengutip Anis Sholeh Baasyin, “Bangsa ini hilang selera humor, makanya sering berselisih, lanjut Habib Anis, orang suka humor adalah orang bijak, mampu melihat dari luar realitas. Dengan begitu orang yang penuh humor menyadari tidak ada orang yang sempurna. Hal itu kemudian yang membuatnya tidak mudah marah apalagi sampai terjadi perselisihan. Karena sadar sama lemahnya, akhirnya perlu saling menguatkan”. 

(Baca: Bangsa Ini Hilang Selera Humor, Makanya Sering Berselisih)

Santri An Nur Slawi

Benar kata Habib Anis, hilangnya humor jaman now, menjadi susah memaknai humor di jaman now. Humor jaman now itu sepihak, bukan bertujuan saling menguatkan, akan tetapi menunjukan kekuatan, yang tertawa hanya menertawakan, Anda bisa memaknainya sendiri bagaimana kondisi politik kita sekarang, siapa yang menang ia yang tertawa dan menertawakan, dan yang ditertawakan mencari celah untuk menertawakan, begitu seterusnya, satu sama lain ingin menertawakan, alias menjatuhkan.

Di sinilah membumikan humor dirasa penting, humor jangan hanya dimaknai sebagai aktivitas cengengesan belaka, tidak. Humor sebagai sifat lain dalam diri manusia agar tidak kaku dalam menerima hal apapun. Entah itu berupa informasi yang menjatuhkan, berita yang menyulut kebencian, atau bahkan dituding kafir.

Anda pasti sering mendengar Cak Nun selalu menanggapi tudingan-tudingan kafirnya dengan nyeleneh, “Cak Nun, kafir!” Cak Nun menanggapinya, “Lho, kamu baru tahu kalau saya kafir?” dan Cak Nun juga sering ditanya, “Cak, kalau habis sholat salaman boleh apa tidak?” dan Cak Nun menjawab, “bukan hanya salaman, langsung ngising (BAB) saja boleh.” Kemudian Gus Dur selalu menyatakan, “Gitu aja kog repot”.

Kita sering mendengung-dengungkan “Islam ramah bukan Islam marah”—definisi lain dari Islam ramah itu Islam humor, seperti dalam salah satu riwayat Rasulullah Saw pernah bergurau dengan Nenek yang datang kepadanya, dan berkata, “Doakan aku kepada Allah supaya aku dimasukkan ke surga”.

Nabi Saw berkata kepadanya, “Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua.” Maksudnya, ketika nenek itu masuk surga, tidak sebagai nenek-nenek, melainkan berubah menjadi muda belia dan cantik. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita-wanita surga) itu dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (QS: Al-Waqiah: 35-37)

Kita juga bisa mengambil kisah humor hikmah dari dua orang sufi yang masyhur di Media Online, kedua sufi itu bertukar fikiran, satu menyatakan, “semoga majelis kita ini banyak berkahnya.” Namun, satu-nya lagi berpandangan lain, “saya malah takut, kalau majelis kita tidak berkah dan banyak dosa.” “Lho kenapa?” Ia pun menerangkan, “karena pembicaraan kita berdua satu sama lain saling menghias kata-kata, dan saling menunjukan ke-aku-an, saya dan Anda sama-sama menunjukan diri dan saling berbasa-basi, apalagi kalau di depan banyak orang, kita semua saling unjuk gigi. Sungguh ini hakikat riya dan bagian dari kemunafikan.”

Dalam dunia yang semakin menegang sekarang, humor itu memiliki fungsi untuk mengendorkan saraf dan otot yang kaku, fungsi humor sebagai kritik terhadap mundurnya dunia pendidikan kita, yang disampaikan sama sekali tidak menyinggung siapapun namun ‘nonjok’ seperti yang dipernah dikatakan Cak Lontong, “Dulu Indonesia banyak mengirim guru untuk Malaysia, namun sekarang Indonesia lebih banyak mengirim Pembantu ke Malaysia. Ini bukan karena pendidikan Indonesia yang tidak berkembang, melainkan selera Malaysia yang turun, dulu sukanya guru, sekarang sukanya pembantu.”

Ada juga kritik mengenai praktik korupsi yang dilakukan oleh pejabat, “Sebenarnya koruptor itu tidak ada. Lho kog bisa? Koruptor itu ada kalau ada yang ketangkap korupsi, kalau tidak ada yang ketangkap, tidak mungkin ada koruptor.”

Begitupun dengan kebiasaan kita dalam menanggapi tudingan-tudingan bid’ah, “Ini-itu di zaman Rasulullah tidak ada.” Dan kita sering menjawab, “Sendok, garpu di zaman Rasul juga tidak ada, makan bakso yang panas itu harus pakai tangan. Zaman Rasul tidak ada pesawat, naik haji pakai onta.”

Sering juga kita mendengar, “Ziarah kubur itu haram hukumnya, karena punya “potensi” syirik, karena itu makam-makam harus dihancurkan. Pihak lain menanggapinya dengan santai dan lucu, kamu punya kelamin bukan? Dia menjawab, “Iya”. “Sini, kelamin kamu saya potong, karena kelamin kamu itu punya “potensi” maksiat.” Bukankah keduanya sama-sama punya potensi buruk? Kalau kita hanya memandang buruk terhadap sesuatu.

Itu hanya beberapa contoh saja, masih banyak pemahaman-pemahaman lain di luar realitas ini, yang sejatinya memiliki nilai lebih dari sekedar realitas. Karena itu humor harus dibumikan di Indonesia, karena humor sekarang sudah terlalu tinggi untuk digapai, mungkin sudah berada di awang-awang, kita bumikan lagi, kita pulangkan ke tempat asalnya, yaitu bumi pertiwi.

Anda pasti ingat juga, bagaimana cara Gus Dur membangun komunikasinya dengan pendekatan humor dan anekdot yang berwawasan, sampai-sampai Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton tertawa lebar saat ngobrol berduaan bersama Gus Dur. Begitupun dengan Raja Arab Saudi, Raja Fahd sampai ngakak gara-gara gaya komunikasi Gus Dur dan itu baru pertama kali Raja Arab tertangkap ketawa terbahak-bahak. Dan Gus Dur berhasil juga melepaskan TKI yang akan dihukum pancung.

Gaya komunikasi seperti itulah yang harus dimiliki oleh para pemimpin kita, entah itu pemimpin negara, pemimpin agama, pemimpin organisasi, dan pemimpin dalam level/kategori apapun—sebagai carabergaul akrab dengan rakyatnya, massa-nya, dan anggotanya. Yang harus digarisbawahi adalah humor berbeda dengan ngelawak. Humor itu penuh wawasan dan kecerdasan.

Perdana Mentri Indira Gandhi, pernah ditanya mengapa dia tidak mau bertemu dengan Presiden Pakistan Yahya Khan. Gandhi Menjawab, “Kita kan tidak bisa bersalaman dengan tangan terkepal.” Khan yang kerap mengirimkan isyarat perang, memang seringkali menunjukkan perilaku bermusuhan. Namun tanggapan Gandhi yang selalu ‘asyik’ membuat emosi Pakistan turun, sehingga terjadi pertemuan antara Pakistan dan India—merundingkan perdamaian. Dalam berbagai era sejarah, humor sering dilakukan sebagai cara pemimpin melakukan pendekatan dengan pemimpin lain untuk mengurai hal-hal yang sulit diurai. 

Maka, inilah kesempatan kita bertanya dan mecoba menjawab kembali: mengapa disetiap tradisi keagamaan, kebudayaan, dan kemasyarakatan kita selalu ada humor? Apa hubungannya dengan realitas komunikasi sosial kita? lantas kenapa kita sekarang menjadi gagap untuk memaknai perbedaan kita sebagai humor, demi pendekataan persatuan? Padahal hidup kita sendiri adalah humor, Tuhan menyuruh Anda untuk menggoda dan menertawakan hidup Anda sendiri, karena Tuhan menyuruh Anda untuk selalu bersyukur dan ikhlas. 

Penulis adalah Pembaca Setia Santri An Nur Slawi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi RMI NU, Humor Islam Santri An Nur Slawi

Selasa, 12 September 2017

Pesantren Maslakul Huda Kajen Adakan Pelatihan Menulis

Pati, Santri An Nur Slawi. Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyoso Pati mengadakan pelatihan menulis bertempat di aula Pondok Pesantren, Jum’at (11/12/). Dengan narasumber Khoirun Niam dari Ketua Komite Dewan Kesenian Pati. Pelatihan ini dikhususkan untuk penulisan cerpen dan puisi. Penulisan cerpen dan puisi tersebut dipilih sebab sebagian santri menyukai sastra.

“Rencana setelah pelatihan ini, para santri akan membuat sebuah antologi bersama baik cerpen atau pun puisi,” jelas Muhammad Wafa, Ketua Pondok Pesantren Maslakul Huda.

Pesantren Maslakul Huda Kajen Adakan Pelatihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Maslakul Huda Kajen Adakan Pelatihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Maslakul Huda Kajen Adakan Pelatihan Menulis

“Yang perlu dibutuhkan seorang penulis adalah konsisten dan pembiasaan dan suka membaca. Jika kita sudah terbiasa menulis maka suatu saat nanti akan menikmati hasilnya. Tak ada cara yang jlimet atau rumit dalam menulis, sebab menulis ya menulis,” ujar Khoirun Niam sebagai narasumber.

Santri An Nur Slawi

Lanjut Niam, puisi bisa dikatakan sebuah karya sastra yang sangat mudah ketimbang cerpen dan novel, karena puisi lahirnya dari hati dan perasaan. Apa yang kita rasakan dapat kita puisikan. Agar pembuatan diksi dalam puisi menjadi bagus dan indah maka sering-seringlah membaca karya puisi penyair terdahulu. Soal baik buruknya karya puisi kita biarlah para kritikus sastra yang menilai.

Santri An Nur Slawi

Acara dimulai pukul 08.00 WIB hingga 10.30 WIB, selain penjelasan secara materi para peserta pun disuruh praktik menulis puisi dan ke tiga puisi yang terbaik hasil seleksi narasumber akan di berikan buku secara gratis.

“Setiap saya mengisi acara, tidak pernah lupa untuk membagi-bagikan buku gratis kepada peserta hal tersebut saya lakukan sebagai salah satu strategi untuk memperjuangkan minat baca dan mendorong orang lain menyukai dunia menulis,” pungkas Niam. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Habib Santri An Nur Slawi

Sabtu, 09 September 2017

Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan

Jakarta, Santri An Nur Slawi
Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat pada 8-10 Oktober bukan merupakan muktamar tandingan, karena tidak membicarakan figur, melainkan justru memberi masukan materi kepada forum muktamar.

"Itu bukan muktamar tandingan, tapi membicarakan NU ke depan untuk direkomendasikan kepada muktamar, kami tidak akan bicara figur, meski ada beberapa pimpinan PBNU yang bersedia hadir," kata anggota OC Mubes Warga NU Abdul Quddus Salam di Surabaya.

Di sela-sela persiapan keberangkatannya ke Cirebon bersama satu bus rombongan asal Jatim, ia menjelaskan beberapa pimpinan PBNU yang bersedia hadir antara lain Gus Dur dan KH Ilyas Ruchiyat (mustasyar), Masdar F Masudi (Katib Syuriah PBNU), dan Masykur Maskub (Lakpesdam).

"KH Sahal Mahfudh (Rois Aam Syuriah PBNU) dan Gus Mus (Syuriah PBNU) sudah menyatakan tidak hadir, tapi KH Muhaiminan Gunardo, Mbah Liem, KH Yahya Masduqi (tuan rumah), dan beberapa kyai kultural siap hadir, sedangkan KH Abdullah Abbas (Buntet) dan KH Abdullah Faqih (Langitan) masih dikonfirmasi," katanya.

Menurut dia, 500-1.000 peserta Mubes dari Jatim, Jateng, Jabar, DKI Jakarta, Banten, Bali, Lampung, DIY Yogakarta, Sulsel, Sumut, Jambi, Maluku, dan Aceh itu meliputi kiai kultural, kiai muda, kaum muda NU (KMNU), petani, nelayan, kaum miskin kota, dan buruh migran.

"Dari situ sudah jelas bahwa kami akan memperbincangkan persoalan warga NU yang selama ini kurang terperhatikan dan memperteguh posisi NU sebagai organisasi keagamaan dan sosial yang mengurus pendidikan, keagamaan, sosial, sektor informal, HAM, dan budaya, bukan politik," katanya.

Hasilnya, katanya, akan disumbangkan kepada Muktamar ke-31 NU di Solo pada 28 Nopember-2 Desember mendatang dalam bentuk buku untuk muktamirin, rekomendasi kepada panitia materi Muktamar ke-31, dan beberapa paper usulan untuk pilot project formasi gerakan NU ke depan.

"Karena itu, format kegiatan Mubes Warga NU itu akan dikemas dalam bentuk semaan Al-Quran, pengajian, bahtsul masail, pentas seni budaya, bazar dan pameran produksi warga NU. Untuk dana pun, kami kumpulkan secara swadaya," katanya.

Bahkan, katanya, kegiatan yang diperkirakan menelan dana Rp205,2 juta itu akan dibiayai dengan iuran dari beberapa peserta, iuran dari panitia lokal di Pesantren Babakan, dan partisipasi warga NU Cirebon dalam bentuk uang, beras, dan logistik lainnya.

Tentang kegiatan pokok, ia mengatakan bahtsul masail dan bedah buku akan menjadi acara pokok dengan materi ke-NU-an, Gerakan Sosial Warga NU, Pesantren dan Pendidikan, Capital Resources NU, Seni dan Budaya Pesantren, Demoralisasi, Khittah NU, dan Pembaruan.

"Semuanya akan dibahas sejumlah pembicara, diantaranya KH Tholhah Hasan, DR Mahasin, Agus Sunyoto, MM Billah, DR M Ali Haidar, Gus Dur, Ahmad Tohari, DR Mochtar Masud, KH Malik Madani, DR Thoha Hamim, A Gaffar Rahman, D Zazawi Imron, dan sebagainya," katanya.

Mengenai kesiapan Jatim sendiri, ia menambahkan peserta dari Jatim akan berangkat dengan bus (satu bus), mobil (puluhan), dan kereta api (perorangan). "Ada yang sudah berangkat, tapi paling akhir akan berangkat sore ini," katanya. (Mi/Cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Doa, Sholawat Santri An Nur Slawi

Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mubes Warga NU Bukan Muktamar Tandingan

Jumat, 08 September 2017

Pelajar NU di Brebes Wajib Hafal Mars Syubhanul Wathan

Brebes, Santri An Nur Slawi

Pimpinan Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPNU-IPPNU) Kecamatan Ketanggungan Brebes, mewajibkan peserta Pendidikan dan Pelatihan Utama (Diklatama) CBP dan KPP menghafal Mars Syubanul Wathan. Lagu kebangsaan karangan KH Wahab Chasbullah ini diyakini mampu menginspirasi para pelajar NU untuk lebih mencintai tanah air.

“Saya yakin para pelajar NU akan termotivasi lebih mencintai tanah air ketika menyanyikan Mars Syubhanul Wathan,” ucap Ketua PAC IPNU Ketanggungan Abdul Aziz di sela-sela pendidikan dan latihan utama Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Lembaga Korps Pelajar Putri (KPP) Kecamatan Ketanggungan di SMK Islam Bustanul Ulum, Karangmalang, Ketanggungan, Brebes, Ahad (5/6).

Pelajar NU di Brebes Wajib Hafal Mars Syubhanul Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU di Brebes Wajib Hafal Mars Syubhanul Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU di Brebes Wajib Hafal Mars Syubhanul Wathan

Setiap peserta, lanjut Azis, untuk bisa lulus Diklatama wajib setor mars tersebut dihadapan para fasilitator dan instruktur. “Kalau belum bisa, maka akan diulang-ulang terus hingga hafal sehingga dinyatakan lulus diklatama,” tuturnya.

Diklatama diikuti 43 peserta yang nantinya akan kembali menjalani seleksi sebagai pengurus Dewan Kerja Anak Cabang (DKAC) CBP-KPP Ketanggungan sehingga menjadi kader yang tangguh dan militan.?

Diklatama digelar selama tiga hari dengan materi ideologisasi berupa paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja), Ke-NU-an, Ke-IPNU/IPPNU-an, ? Ke-CBP/KKP-an.?

Santri An Nur Slawi

Materi Wajib meliputi peraturan baris–berbaris dan tata laksana upacara, latihan dasar bela diri, manajemen perjalanan, medical first responder basic, pengetahuan SAR, wawasan kebangsaan dan bela negara, pelestarian alam dan lingkungan hidup, komunikasi dan kerjasama Tim, serta sosiologi pedesaan.

Untuk materi teknis lapangan meliputi basic ropes (dasar tali temali), prusicking dan rappelling, navigasi darat I, dan survival.

Santri An Nur Slawi

Alfiyatun Hasanah dari Ranting Cikeusal Kidul terpilih menjadi peserta terbaik untuk KPP dan Abdul Rohman dari Ranting Kubangsari berhasil menjadi peserta terbaik CBP.

“Sebagai generasi muda wajib hukumnya meneruskan perjuangan para ulama NU dalam mempertahankan NKRI dan Pancasila dari rongrongan para pemberontak yang ingin meruntuhkan NKRI dan berusaha mengganti Pancasila dengan Khilafah,” kata salah satu peserta, Abdul Rohman. (Wasdiun/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi News, Ahlussunnah, PonPes Santri An Nur Slawi

Pelantun Syiir Tanpo Waton Dijadwalkan Hadir

Jombang, Santri An Nur Slawi. Pesantren Tebuireng, bakal menggelar peringatan 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Kegiatan yang digelar 27 hingga 29 mendatang bakal menghadirkan KH Moh Nizam Ashhofa  pelantun sekaligus pencipta Syiir “Tanpo Waton” yang lebih dikenal dengan Syiir Gus Dur.

" Panitia sudah menghubungi beliau (Gus Nizam), insyaallah beliaunya siap hadir,"ujar Lukman Hakim ketua Panitia saat ditemui disela sela persiapan di PP Tebuireng kemarin.

Pelantun Syiir Tanpo Waton Dijadwalkan Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelantun Syiir Tanpo Waton Dijadwalkan Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelantun Syiir Tanpo Waton Dijadwalkan Hadir

KH Moh Nizam Ashhofa, yang biasa di kenal dengan Gus Nizam adalah pengasuh Pesantren Darul Shofa Wal Wafa Desa Tanggul Simoketawang,Wonoayu Krian Sidoarjo. Gus Nizam merupakan cucu dari guru mursyid tarekat (almarhum) Hadhratus as-Syaikh al-Mukarram KH. Sahlan Thalib, Krian, Sidoarjo.

Santri An Nur Slawi

Disamping menghadirkan Kyai muda asal Sidoarjo ini,  dalam peringatan 1000 hari Gus Dur rencananya juga akan dihadiri KH Maimun Zubair, Mantan Menteri Agama, Prof Dr Tholhah Hasan serta KH Mustofa Bisri. Untuk Gus Mus awalnya menyatakan kesediaannya untuk hadir namun tidak memberikan ceramah." Beliaunya mungkin datang sebentar, karena juga diundang acara yang sama di Ciganjur Jakarta," tandasnya.

Santri An Nur Slawi

Lukman Hakim menambahkan, pada peringatan 1000 wafatnya presiden RI ke 4 tahun  ini, agendanya dimulai sejak 26 hingga 29 September mendatang dengan beberapa agenda diantaranya adalah kegiatan Bakti Sosial di Desa Banyuasin Kecamatan Ngusikan Jombang yang dilanda kekeringan.

“Bantuan yang bakal dibagi adalah  air mineral sebanayak 1000 dus dan  tambah tangki air bersih akan dimulai besuk (hari ini), kita sudah lakukan survei ke lokasi dan memang disana membutuhkan air bersih,” ujarnya seraya mengatakan pihaknya akan mengirim 8 tangki air bersih dan sekitar 1000 air mineral, dan semuanya diambilkan dari kotak amal Gus Dur.

Disamping bakti sosial dan pengajian, agenda kegiatan yang menyertai peringatan wafatnya cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari ini adalah khotmil qur’an, diskusi pemikiran Gus Dur dan lounching Ensiklopedia Gus Dur. 

“Satu lagi kegiatan Parade Barongsai se Indonesia, sampai hari ini masih dilakukan pendataan peserta. Karena setiap hari masih banyak yang menyatakan keikutsertaannyya untuk tampil,”tandas Kaswani salah satu panitia mengatakan. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nasional Santri An Nur Slawi

Kamis, 07 September 2017

Pentingnya Sertifikasi Keterampilan Kerja untuk Hadapi MEA

Sidoarjo, Santri An Nur Slawi. Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), masyarakat yang memiliki keterampilan kerja harus memiliki sertifikasi. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa pada kegiatan pembagian sembako di Kureksari Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (30/8).

Pentingnya Sertifikasi Keterampilan Kerja untuk Hadapi MEA (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Sertifikasi Keterampilan Kerja untuk Hadapi MEA (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Sertifikasi Keterampilan Kerja untuk Hadapi MEA

Khofifah juga meminta kepada Bupati Sidoarjo Saiful Ilah agar memfasilitasi masyarakat yang memiliki keterampilan kerja. Selain itu, dirinya juga meminta kepada orang nomor satu di kota Delta itu supaya memberikan setifikasi keterampilan kerja guna mengahadapi Masyarakat Ekonomi Asian (MEA).

"Pak Bupati, bagi warga Sidoarjo yang memiliki keterampilan supaya ditunjang kemampuannya. Selain itu, bagi mereka yang mempunyai keterampilan kerja dan UKM-nya agar diberikan setifikasi keterampilan kerja, karena di negara-negara lain, seperti Australia dan negara asia lainnya, sertifikasi itu sangat berguna untuk menghadapi MEA nanti," pinta Khofifah.

Santri An Nur Slawi

Dia juga berpesan kepada warga Pra Sejahtera di desa Kureksari Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang menerima bantuan paket sembako supaya dimanfaatkan dan digunakan dengan sebaik mungkin.

Bupati Sidoarjo, Saiful Illah sangat mengapresiasi kegiatan bagi paket sembako yang diberikan pada masyarakat kurang mampu di desa Kureksari, Kecamatan Waru Sidoarjo. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dari Kementrian Sosial RI bekerjasama dengan PT Alfamart dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.

Santri An Nur Slawi

“Semoga paket sembako yang dibagikan kepada masyarakat Pra Sejahtera seharga Rp 150 ribu ini dapat membantu dan bisa bermanfaat bagi yang menerimanya," doa Saiful Ilah. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul, Meme Islam, Ahlussunnah Santri An Nur Slawi

Syahadat Sunny, Syahadat Syiah

"Sampeyan tahu berpedaan antara Sunny dengan Syiah dalam mengikrarkan Syahadat?" tanya D. Zawawi Imron, penyair asal Madura pada saya.

"Wah, belum pernh denger, Pak. Emang ada bedanya? Bagaimana bunyinya?" saya penasaran.

Syahadat Sunny, Syahadat Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Syahadat Sunny, Syahadat Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Syahadat Sunny, Syahadat Syiah

"Dengarkan baik-baik!" perintah Zawawi.

"Asyhadu an-laa ilaaha illallaah, Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Ini yang Sunny" terang Zawawi.

Santri An Nur Slawi

"Lalu syahadat orang Syiah bagaimana?" aku makin penasaran.

"Buka telingamu lebar-lebar. Asyhadu an-laa ilaaha illallaah, Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah," Pak Zawawi bersuara dengan jelas.

Santri An Nur Slawi

"Lho, kok sama? Di mana bedanya? Tadi kan bilang perbedaannya?" tanyaku heran.

"Ya berbedaannya ada pada orang yang baca," jawabnya enteng. (Hamzah Sahal)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Olahraga, Cerita, Lomba Santri An Nur Slawi

Selasa, 05 September 2017

Bangsa Kita Seperti Kehilangan Nalar Publik untuk Hidup Bersama

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur mengatakan, sebagai sebuah bangsa besar yang majemuk dan telah berdiri 70 tahun, kita seperti kehilangan nalar publik untuk hidup bersama, berjuang bersama atas dasar semangat kesatuan dan persatuan nasional.

Bangsa Kita Seperti Kehilangan Nalar Publik untuk Hidup Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangsa Kita Seperti Kehilangan Nalar Publik untuk Hidup Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangsa Kita Seperti Kehilangan Nalar Publik untuk Hidup Bersama

Hal itu ia sampaikan dalam diskusi bertajuk Membangkitkan Spirit Kepahlawanan, Kamis (10/11) di Gedung PBNU Jakarta bersama Wasekjen Perhimpunan Indonesia dan Tionghoa (INTI) Ulung Rusman, Ketua Gerakan Kebangkitan Nusantara Moses Latui Hamallo, dan anak-anak muda lintas iman dan etnis.

Menurut Ghopur, semua persoalan yang terjadi sesungguhnya sinyal lemahnya ketahanan dan kedaulatan bangsa. Selain itu pula, banyak variabel yang memengaruhi lemahnya ketahanan dan kedaulatan bangsa. Variabel tersebut antara lain: marjinalisasi di bidang ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya. 

“Pada gilirannya, beramai-ramai masyarakat menghimpun diri dalam suatu paguyuban atau kelompok-kelompok kedaerahan atau bahkan keagamaan. Hal ini diyakini bersumber dari ketidakadilan sosial, budaya, ekonomi, politik dan hukum,” jelas intelektual muda NU ini.

Di dalam ketiadaan keadilan, lanjutnya, keamanan dan perlindungan hukum bagi individu untuk mengembangkan dirinya, orang lebih nyaman berlindung di balik  warga-tribus (tribalisme, premanisme, koncoisme dan sektarianisme) ketimbang warga-negara. 

Santri An Nur Slawi

Persoalan ekonomi-politik yang bersumber dari manajemen negara yang korup menyisakan kelangkaan dan ketimpangan alokasi sumberdaya di rumah tangga kebangsaan. 

Santri An Nur Slawi

“Jika aparatur negara hanya sibuk mengamankan kekuasaan dan dapurnya sendiri, maka individu akan segera berpaling ke sumber-sumber tribus sebagai upaya menemukan rasa aman,” terang Ghopur.

Di sini, tandasnya, persoalan ekonomi-politik yang objektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitias yang subjektif. Inilah problem Indonesia sesungguhnya, tak lain adalah keberlangsungan manajemen negara pasca-kolonial yang tak mampu menegakkan kedaulatan hukum, memberikan keamanan dan keadilan bagi warganya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nasional, Meme Islam, RMI NU Santri An Nur Slawi

Hari Sumpah Pemuda, Aktivis NU Buka Madrasah di Pedalaman Papua

Sorong, Santri An Nur Slawi. Bertepatan dengan peringatan Hari sumpah Pemuda, Rabu (28/10), para pemuda yang di kirim dua komunitas NU, Persaudaraan Profesional Muslim Aswaja dan Sarkub, secara resmi membuka madrasah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama Islam di kawasan pedalaman di Papua.

Madrasah yang dibuka di Kampung Malakabu, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat ini diberi nama "Madrasah Nigeiyah Ibadurrohman". Nama tersebut adalah kolaborasi dua bahasa antara bahasa asli suku setempat dan bahasa Arab.

Hari Sumpah Pemuda, Aktivis NU Buka Madrasah di Pedalaman Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Sumpah Pemuda, Aktivis NU Buka Madrasah di Pedalaman Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Sumpah Pemuda, Aktivis NU Buka Madrasah di Pedalaman Papua

Nama “Nigeiyah" yang berarti “cahaya” diperoleh dari tokoh setempat di Suku Kokoda, sedangkan "Ibadurrohman" diberikan Gus Munawir Bogor. Nigeiyah Ibaadurrohman kira-kira memiliki arti cahaya hamba-hamba Dzat Yang Maha Pengasih.

Santri An Nur Slawi

Acara pembukaan Madrasah diawali dengan pembacaan kasidah dan shalawat oleh para aktivis NU di Papua. Anak-anak calon santri madrasah tampak sangat antusias dan gembira. Mereka dengan semangat mengikuti lantunan shalawat yang disenandungkan grup hadrah.

Anak-anak yang tak kurang dari 40 itu diberi pesan, wawasan, cerita dan pengertian betapa pentingnya mengaji dari tokoh-tokoh yang hadir. Abdul Wahab selaku koordinator aktivis NU Papua dalam kesempatan ini memotivasi para calon santri tentang pentingnya pendidikan.

Santri An Nur Slawi

"Bila ingin bahagai di dunia kita? harus punya ilmu, kalau ingin bahagia di akhirat pun harus punya ilmu. Begitu pula bila ingin bahagia di dunia dan akhirat, harus punya ilmu," katanya mengutip sebuah hadits Nabi SAW.

Abdul Wahab mewakili PPM? Aswaja dan Sarkub berharap dengan dibukanya madrasah di Kampung Malakabu bisa membantu syiar Agama dan bisa membuat? semangat anak dalam menuntut ilmu hususnya ilmu agama.

"Kami juga mengucapkan trimakasih kepad warga dan kepala kampung yang sudah sangat mendukung pembukaan madrasah ini," tuturnya.

Apresiasi Tokoh Lokal

Tampak hadir dalam acara ini Sudin Simurut selaku kepala Kampung Malakabu. Ia mengapreasi dan mendukung kegatan yang di selenggarakan para aktivis NU. "Kami sebagai orang tua atau sebagai ketua kampung mengucapkan ribuan terima kasih sebanyak-banyaknya. Kami punya anak ditinggal begitu saja, tidak tahu mengaji, tidak tahu ilmu shalat, maka kami sangat berterima kasih dengan dibukanya madrasah ini," ucap Kepala Kampung Malakabu.

Sudin sependapat dengan Abdul Wahab. Ia berharap anak-anak bisa membagi waktu. Boleh bermain sepulang sekolah, akan tetapi harus pulang dan mandi bila waktu sudah menunjukkan ashar. Lalu pergi ke masjid untuk mengaji.

Begitu pula Ustadz Zaenal Arif, kepala SD Maarif. Ia mengimbau kepada anak-anak agar rajin mengaji dan tidak membolos. Selain itu, beliau juga meminta dan mengharap kepada para orang tua untuk mendorong dan mengawal anak-anaknya untuk mengaji.

Seakan menjawab permintaan dan pengharapan Ustadz Zaenal Arif, seorang warga yang diberi kesempatan untuk sambutan, Hamzah, mengatakan bahwa beliau akan selalu mengingatkan anak-anak bila waktu mengaji hampir tiba. Bahkan, akan memukul anak-anak yang masih bermain bila waktu mengaji sudah tiba, tapi mereka masih tetap bermain.

Karena madrasah ini baru pembukaan, Ketua Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Sorong Muhammad Yahya mengajak warga untuk mendukung semampunya. "Siapa tahu akan ada orang terhebat se-Sorong, se-Papua, se-Indonesia, atau sedunia yang berasal dari Malakabu Kokoda ini," ujarnya.

Sedangkan tokoh agama setempat, Abdul Ghani Tagate, menceritakan bagaimana sulitnya dirinya sekolah dan mengaji pada masa lalu. Ia harus berjalan kaki jauh terlebih dahulu untuk itu.

"Oleh karena itu, saya berharap agar kalian (anak-anak) memanfaatkan betul madrasah ini. Kalian (anak-anak) tak perlu menempuh jalan kaki yang jauh terlebih dahulu untuk bisa mengaji seperti saya. Saya berharap kalian (anak-anak) bisa lebih pintar dari saya," tutur pria yang pernah menjuarai MTQ se-Kabupaten Sorong itu.

Turut hadir pula dalam acara tersebut Marfuah? (Sekertaris PC IPPNU Kabupaen Sorong), dan aktivis NU Ustadz Taufiq dan Ustadz Agus.

Acara? di tutup dengan doa dan? menyayikan lagu Indonesia Raya yang di pandu oleh Abdul Wahab. Sesuai dengan namanya, Madrasah Nigeiyah Ibadurrohman diharapkan memberi cahaya bagi warga sekitar, cahaya dunia dan cahaya akhirat dari Sang Maha Cahaya. Mereka saling berbagi kasih dengan sesama dengan cahaya-cahaya itu. Kasih yang bersumber dari Dia yang Maha Pengasih. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kyai Santri An Nur Slawi