Selasa, 27 Oktober 2015

Kitab "Al-Muqtathofat" Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi

Tradisi tahlilan, ziarah kubur, istighotsah, dibaan atau maulidan dan sejenisnya sudah mendarah daging di tengah masyarakat. Namun ketika ditanya mengenai dalil, sebagian masyarakat awam tidak tahu, dan itu dijadikan senjata kaum Salafi Wahabi untuk mengkafir-kafirkan banyak orang.

Adalah Kitab “al-Muqtathofat li Ahlil Bidayat” yang ditulis oleh KH Marzuki Mustamar, Ketua PCNU Kota Malang memberikan pedoman bagi masyarakat jika suatu ketika ada pihak-pihak yang tidak suka dengan tradisi itu.

Kitab Al-Muqtathofat Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Al-Muqtathofat Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab "Al-Muqtathofat" Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi

Semestinya tidak perlu menanggapi mereka yang tidak suka dengan tradisi. Namun ketika mereka mempertanyakan, menyerang, apalagi sampai mengkafirkan, maka kita juga perlu menyiapkan jawaban.

Santri An Nur Slawi

Al-Muqtathofat li Ahlil Bidayat” atau “catatan untuk para pemula” tidak lain untuk menyelamatkan masyarakat yang kerap mendapat tudingan sesat, sekaligus menyadarkan pihak-pihak tertentu agar tidak mudah mengkafirkan orang lain.

Semua tradisi keagamaan yang dijalankan oleh masyarakat itu ada dasaranya, “Semua itu ada dalam kitab yang berlandasakan Ahlussunnah wal jamaah,” kata Kiai Marzuki di Masjid Mujahidin, Jalan Ikan Hiu, Lowokwaru, Malang, Selasa (30/5).

Santri An Nur Slawi

Kitab tersebut dikaji secara rutin di beberapa Masjid di Kota Malang, tepatnya setiap Selasa pukul 19.00 ba’da shalat Isyak. Tidak hanya di satu tempat, jadwal rutin tersebut berjalan di seluruh Masjid Malang secara bergilir.

Hadirnya kitab ini diharapkan memberikan informasi mengenai keabsahan tradisi ubudiyah masyarakat secara syar’i. Dengan kata lain, buku ini memupuk kepercayaan masyarakat Muslim Indoensia secara umum, khususnya bagi kalangan nahdyiyin, bahwa tradisi ritual ubudiyyah seperti tahlilan, haul, upacara selatan kelahiran, ritual empat dan tujuh bulan kandungan, peringatan Maulid Nadi, qunut dan shalat, dan yang lainnya, tidak melenceng dari aqidah dan termasuk bagian dari sunnah Nabi Rasulullah SAW.?

“Semua itu ada dasarnya, tidak asal caplok,” seru pengasuh Pondok Pesantren Sabulur Rosyad, Malang itu sembari memaparkan dalil-dalil yang sudah ditulis dalam kitab karangannya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi PonPes, Kyai Santri An Nur Slawi

Selasa, 20 Oktober 2015

NU Sudan Gelar Seminar Internasional Bahas Metodologi Fatwa

Khartoum, Santri An Nur Slawi

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Sudan Sabtu (5/03) lalu menyelenggarakan Seminar Ineternasional bertajuk Metodologi Fatwa, dengan tema “Metodologi Fatwa Perspektif Majma’ Fiqih Sudan dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama’.?

NU Sudan Gelar Seminar Internasional Bahas Metodologi Fatwa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sudan Gelar Seminar Internasional Bahas Metodologi Fatwa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sudan Gelar Seminar Internasional Bahas Metodologi Fatwa

Bekerjasama sama dengan Majma’ Fiqih Sudan, sebuah lembaga nasional yang menangani perkara fatwa hukum Islam di Sudan, Seminar yang diselenggarakan di Aula Muktamar Holy Quran Society Khartoum Sudan ini menghadirkan narasumber dari Majma’ Fiqih pada bidang fatwa Syekh Muhmmad Ibrahim Muhammad Hamid sebagai perwakilan dari Syekh Prof Dr Ishom al Bashir, mufti Sudan yang dijadwalkan menjadi narasumber akan tetapi ? berhalangan hadir karena sedang sakit.?

Sedangkan narasumber dari pihak Nahdlatul Ulama adalah Dr Muhammad Afifullah al Rifa’i, yang juga sebagai salah satu Mustasyar PCINU Sudan. Dan hadir sebagai Moderator Ribut Nur Huda, selaku ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama Sudan (Lakpesdam).

Acara yang berlangsung sekitar tiga setengah jam tersebut diawali dengan penampilan Jamiyyah Syifaul Qulub, grup Rebana PCINU Sudan. Kemudian pembukaan dari pembawa acara, setelah itu pembacaan ayat suci al Quran dan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh H. Sidik Ismanto Rais Syuriah PCINU Sudan. Dan sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Djumara Supriadi yang mewakili Duta Besar RI untuk Sudan.

Aula Muktamar yang berkapasitas kurang lebih seratus tujuh puluhan orang tersebut penuh dengan peserta yang hadir dari berbagai Negara selain dari Indonesia sendiri, seperti Syria, Thailand, Filipina, Sudan, Nigeria, Somalia dan Negara Afrika yang secara umum adalah kalangan Mahasiswa. Adapun WNI yang hadir adalah sebagian staf KBRI Sudan, perwakilan PPI Sudan, delegasi kekeluargaan yang terdapat di Sudan dan seluruh warga Nahdliyin Sudan.?

Santri An Nur Slawi

Seminar yang bertepatan dengan rangkaian Hari Lahir Ke-90 Nahdlatul Ulama oleh PCINU Sudan, juga sebagai penutupan proyek kajian mingguan Lakpesdam tentang Metodologi Istinbath (Ushul Fiqih) Madzhab empat, yang mana makalah hasil kajian tersebut akan dibukukan di akhir periode.?

Narasumber pertama Syekh Muhammad Ibrahim menyampaikan bahwa Indonesia dan Sudan sama-sama memegang madzhab tasawuf. Dia yang pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 2011 ke PBNU Jakarta atas nama oraganisasi Darul Arqom Sudan mengenal dengan baik oraganisasi NU di Jakarta. Disamping itu dia juga menyampaikan bahwa NU merupakan organisasi terbesar di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Menurutnya jumlah warga NU jauh lebih banyak dari jumlah penduduk Sudan sebanding dua kali lipat atau bahkan lebih. ?

“Saya telah berkunjung ke Indonesia, dan juga ke Kantor Nahdlatul Ulama di Jakarta atas nama Organisasi Darul Arqam beberapa tahun lalu, dan saya melihat bahwa Nahdlatul Ulama adalah Organisasi Keagamaan terbesar di Dunia yang anggotanya melebihi penduduk Sudan dua kali lipat,” ujar Direktur Utama Organisasi Darul Arqam tersebut...

Santri An Nur Slawi

Fathoni, Santri An Nur Slawi | Senin, 07 Maret 2016 19:02

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pahlawan, Anti Hoax, Hikmah Santri An Nur Slawi