Selasa, 23 Agustus 2016

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli

Solo, Santri An Nur Slawi. Ribuan jamaah memadati ruangan Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Surakarta, Sabtu (28/11) malam. Mereka menghadiri acara bertajuk “Kupas Tuntas Aswaja” yang diselenggarakan PCNU Solo bekerja sama dengan Ta’mir Masjid Assegaf Solo.

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli

Ketua pelaksana kegiatan Sofwan Faisal Sifyan menjelaskan, acara ini bertujuan untuk mengupas tuntas tentang ajaran Aswaja. “Kami akan saling berdialog mengenai bagaimana sesungguhnya paham yang dikenal dengan sebutan Sunni,” terang pengurus PCNU Sukoharjo itu.

Dalam kesempatan tersebut, sebelum diadakan sesi dialog, para jamaah yang hadir mendengarkan penjelasan dua narasumber Ustadz H M Idrus Ramli dari pesantren Sidogiri dan Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi.

Santri An Nur Slawi

Keduanya sama-sama menjelaskan pentingnya sanad dalam mata rantai ilmu agama. “Kalau bukan karena sanad, orang akan berkata seenaknya. Sanad ini harus bersambung dari seorang guru kepada gurunya terus hingga kepada Nabi Muhammad saw,” papar Habib Alwi.

Santri An Nur Slawi

Sedangkan Ustadz Idrus menegaskan pentingnya keberadaan seorang guru dalam mempelajari ilmu agama. “Dalam soal ilmu agama, harus mempunyai guru serta wajib bermazhab. Sanad guru inilah yang menjadi salah satu ciri dari ajaran Aswaja,” terangnya.

Di akhir acara, dalam sesi dialog para jamaah dipersilakan untuk bertanya mengenai persoalan Aswaja. Ketua PCNU Solo A Helmy Sakdillah berharap penyelenggaran acara ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat untuk lebih mengenal ajaran Aswaja. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pahlawan, Aswaja, Hikmah Santri An Nur Slawi

Senin, 15 Agustus 2016

Masjid Agung Brebes Raih Juara 1 Masjid Percontohan Nasional 2015

Brebes, Santri An Nur Slawi. Masjid Agung Brebes yang terletak di sebelah barat alun-alun Kota Brebes mewakili Provinsi Jawa Tengah sebagai Masjid Agung Percontohan Nasional 2015. Keunggulan masjid agung ini antara lain masih mempertahankan bangunan kuno dan pelayanan umat 24 jam non stop.

“Alhamdulillah, keberadaan Masjid Agung Brebes mendapat apresiasi dari Tim Penilaian Provinsi menjadi juara 1 dan berhak maju ke tingkat Nasional,” ujar Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kantor Kementerian Agama Brebes H Imam Gozali di kantornya, Kamis (17/9).

Masjid Agung Brebes Raih Juara 1 Masjid Percontohan Nasional 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Agung Brebes Raih Juara 1 Masjid Percontohan Nasional 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Agung Brebes Raih Juara 1 Masjid Percontohan Nasional 2015

Masjid Agung Brebes, kata Imam, mendapat nilai 295 sehingga menjadi juara 1 dari 35 Masjid Agung se-Jawa Tengah. Juara 2 diraih Masjid Agung Purbalingga dengan nilai 245, dan juara 3 Masjid Agung Semarang dengan angka 197.

Santri An Nur Slawi

Menurut Imam, penilaian dilakukan tim provinsi Jateng yang bertujuan menilai model tipologi yang menjadi rujukan dalam pengelolaan masjid. “Penilaian dilakukan melalui beberapa tahap meliputi visitasi dokumen, visitasi dan wawancara lapangan,” ungkapnya.

Santri An Nur Slawi

Lomba ini digelar Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI. Saat ini, pengurus takmir masjid tengah mempersiapkan segala sesuatunya, dengan harapan bisa menjadi yang terbaik di tingkat nasional. “Dengan penilaian ini, pelayanan umat diharapkan makin meningkat pula,” tegasnya.

Menurut Imam Besar Masjid Agung Brebes Drs KH Rosyidi, Masjid Agung Brebes dibangun tahun 1836 pada zaman Bupati Raden Adipati Ariya Singasari Panatayuda I (Kiai Sura). Masjid ini mengalami beberapa kali renovasi. Antara lain pada 1932, 1979 dan 2007.

“Bangunan asli masjid yang berarsitektur Jawa kuno, dengan kubah berbentuk limas, tetap dipertahankan hingga sekarang,” ujarnya.

Awalnya, masjid itu dibangun di atas tanah seluas 666 m2 dengan ditopang kayu jati pilihan dan fondasinya ditinggikan 1 meter. Tapi kini luasnya menjadi 2000 M2. Keaslian Masjid Agung terus dipertahankan terutama bangunan utama di bagian depan. Bangunan ini sudah menjadi cagar budaya dan tidak boleh diutak-utik,” terangnya.

Dia mengungkapkan, mempertahankan bangunan lama diharapkan karomah dan kharismatik masjid itu masih tetap utuh. Terbukti, sampai sekarang masih banyak dikunjungi peziarah.

Masjid yang letaknya tidak jauh dari pendopo Kabupaten Brebes tepatnya di jalan Ustad Abbas Brebes terbuka penuh 24 jam. Hal tersebut dengan pertimbangan untuk memberi ruang ibadah seluas-luasnya pada masyarakat yang habis melaksanakan ziarah di sejumlah daerah di Jateng atau Jatim. “Sepulangnya dari sana, dan sebelum melanjutkan perjalanan kembali lebih dulu singgah di Masjid Agung, begitu pun sebaliknya,” paparnya.

Masjid berlantai dua ini dilengkapi dengan menara setinggi 33 meter. Kamar mandi dan wudlu lengkap untuk putra dan putri. Juga di sediakan kantor sekretariat. Masjid sengaja tidak berpintu gerbang, untuk memberikan keleluasaan para jamaah dan area parkir. Tersedia juga ruang perpustakaan untuk menambah khasanah keislaman masyarakat pembaca. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Tokoh Santri An Nur Slawi

Selasa, 02 Agustus 2016

Pelajar NU Cianjur: Kaderisasi adalah Kunci

Cianjur, Santri An Nur Slawi. Pengurus Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan pelajar putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Cianjur mengadakan kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Pondok Pespesantren Al-Khodijiyyah Kampung Kadudampit, Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Ahad (19/2).

Ketua IPPNU Cianjur Siti Latifah mengatakan, kegiatan tersebut memang diagendakan setiap tahun untuk merekrut kader yang banyak utamanya di tatanan pelajar NU. Bagi pelajar NU, kaderisasi adalah kunci organisasi.

Pelajar NU Cianjur: Kaderisasi adalah Kunci (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Cianjur: Kaderisasi adalah Kunci (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Cianjur: Kaderisasi adalah Kunci

"Selama dua tahun terakhir ini kami sudah melakukan makesta di 21 sekolah dan pesantren di Kabupaten Cianjur, salah satunya seperti yang kita lakukan hari ini di Ponpes Al-Khadijiyah," katanya.

Santri An Nur Slawi

Dikatakannya, IPNU dan IPPNU yang juga salah satu organisasi kepemudaan terbaik dalam bidang administrasi se-Indonesia. Di Cianjur sendiri, kata Siti, sudah mempunyai sebanyak 2368 anggota.

Santri An Nur Slawi

"Memang kami melakukan kaderisasi sudah sejak lama, bahkan sudah banyak alumni yang sudah dicetak dalam organisasi kami dan Insyaallah semua bisa dikatakan sukses di berbagai segmen, ada yang jadi guru, dosen, kiai, juga profesi lain dengan tetap memegang teguh nilai-nilai Ahlisunnah Wal Jamaah," pungkasnya.

Di pihak lain ketua IPNU Cianjur, M. Fahri, mengatakan bahwa kaum santri memang dalam semanggat juang jihad cenderung mudah di sentuh, atau peka. Akan tetapi pihaknya dengan mengadakan kegiatan tersebut melakukan pemahaman arti dari pada jihad yang sebenarnya.

"Upaya ini, adalah salah satu upaya yang kami lakukan untuk meminimalisir pihak-pihak yang tak bertanggungjawab melakukan penyelewengan ajaran, tidak sedikit santri hari ini direkrut untuk di selewengkan kepada ajaran-ajaran yang tidak benar," tegasnya.

Sementara, Ketua PCNU Kabupaten Cianjur KH Khairul Annam mengatakan, kegiatan tersebut merupakan peroses kaderisasi NU yang dalam hal ini dilaksanakan oleh organisasi badan otonom NU yaitu IPNU dan IPPNU, yang bergerak di pelajar dan santri, dalam rangka mengamalkan paham Ahlusunnah wal-Jamaah An-nahdliyah.

"Itu bisa ditularkan menjadi aqidah yang melekat bahkan tidak diragukan lagi dalam hati para pelajar dan santri. Kaserisasi ini juga termasuk sebagai salah satu penyikapan upaya pencegahan radikalisasi kanan dan liberalisasi kiri," kata Kiai Anam.

Lebih lanjut Kiai Anam mengatakan, untuk menangkal isu radikalisme dan liberalisme tersebut harus dilakukan pengamalan sebagai salahsatu usaha untuk menggambarkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

"Islam dan mengamalkan semangat NU yang sebenarnya itu bagaimana kita mengemban semangat Islam dan nasionalisme dengan metode dakwah yang santun sesuai yang dicontohkan rosul, dakwah yang mengajak bukan mengejek, dakwah yang merangkul bukan memukul," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kiai, Hadits, Quote Santri An Nur Slawi

Senin, 01 Agustus 2016

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Panti Sosial Asuhan Anak “Harapan Remaja” yang dikelola oleh Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU telah berhasil menapaki sejarah dan eksis selama lebih dari 30 tahun. Syukuran atas keberhasilannya ini diabadikan dengan menerbitkan sebuah buku berjudul “Mengantar ke Pintu Gerbang”

Peluncuran buku ini dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada hari Senin, 21/7) di asrama panti yang berlokasi di Jl. Tenggiri 37 Jakarta Timur dan dihadiri oleh para donator dan alumni.

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya

Buku ini menceritakan proses berdirinya panti dan segala dinamika perjuangannya sampai perkembangannya saat ini dan visi pengembangannya di masa yang akan datang. Sejumlah data anak asuh dan alumni, program serta biografi para pendirinya juga tercantum dalam buku ini. Tak ketinggalan, foto-foto kegiatan turut menghiasi buku setebal 136 halaman ini.

Santri An Nur Slawi

Panti ini didirikan pada tanggal 4 Desember 1976 diatas tanah seluas 1.680 meter persegi oleh para pengurus Muslimat waktu itu seperti Ny Solichah Wahid Hasyim, Ny Solichah Syaifuddin Zuhri, Hj Soetarjih Rachmat Muylomiseno, Hj Madillah Himpuni Suparman dan Hj. Aisyah Hamid Baidlowi yang kini menjadi satu-satunya pendiri yang masih hidup.

Dimulai dengan tujuh anak binaan, kini sudah meluluskan ratusan alumni. Batas maksimal ditetapkan usia 21 tahun dengan pendidikan SLTA. Selain memperoleh pendidikan formal, tak lupa pendidikan agama wajib dijalani oleh semua anak asuh. Mereka juga mandapatkan pendidikan ketrampilan yang semuanya ditanggung oleh panti.

Santri An Nur Slawi

Untuk pendidikan agama, mereka mendapatkan pelajaran Al Qur’an, Hadist, Bahasa Arab, akidah, akhlaq, fiqh, tafsir dan sejarah Islam. Mereka secara temporer juga diwajibkan untuk embaca tahlil, yasin, rawi dan latihan pidato.

Mereka yang diterima harus berusia sekolah dan berstatus yatim-piatu, anak terlantar atau tidak mampu. Apabila selesai menjalani proses pembelajaran, panti mengusahakan adanya pekerjaan, mengusahakan beasiswa atau mengembalikan kepada wali atau orang tua.

Terdapat 16 orang karyawan dan 11 orang guru yang mengelola panti ini. Sementara itu anak asuh yang tinggal di asrama sebanyak 50 orang dan yang tinggal di luar asrama sebanyak 50 orang. Kini, sedang diusahakan proses pembangunan gedung Madrasah untuk tingkat ke dua.

Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU Ny Farida Salahuddin Wahid menjelaskan saat ini lembaganya sudah mengelola 102 panti asuhan, 57 rumah sakit dan klinik bersalin, 1 klinik hemodialisis, 5 panti lansia dan 16 asrama putri. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Khutbah Santri An Nur Slawi