Sabtu, 21 Desember 2013

Islam Itu Mudah, Tapi Jangan Disepelekan

Bandung, Santri An Nur Slawi. Pada pengajian mingguan PCNU Kota Bandung, KH Imron mengatakan, bahwa agama itu mudah, misalnya shalat, jika dalam perjalanan bisa dijamak-qashar. Bila dalam keadaan sakit, bisa shalat sambil duduk. Jika tak mampu, bisa sambil tiduran.

“Jadi agama itu tak memberatkan, tapi jangan sampai agama itu dienteng-enteng. Maksudnya menyepelekan perintah agama,” tutur Ketua Lembaga Kajian Aswaja ini saat mengaji kitab Mukhtarul Hadits di Kantor PCNU Kota Bandung, Jalan Sancang 6, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung.

Islam Itu Mudah, Tapi Jangan Disepelekan (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Itu Mudah, Tapi Jangan Disepelekan (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Itu Mudah, Tapi Jangan Disepelekan

Pengajian tersebut diikuti sekitar 150 orang dari daftar semestinya yang mencapai 250 orang. Mereka adalah kiai, pengurus dan jamaah NU. Dalam pengajian yang dimulai pukul 07.00 WIB ini, empat kiai turut mengisi. Mereka mengaji sekitar 45 menit.

Santri An Nur Slawi

Pengajian kitab at-Tadzhib diasuh oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung KH Tajuddin Subki, kitab Ibanatul Ahkam oleh Ketua PCNU Kota Sukabumi KH Maftuh Kholil, kitab Tafsir Jalalain oleh KH Asep Syarif Hidayat, dan kitab Mukhtarul Hadits oleh KH Imron.

Santri An Nur Slawi

Menurut Ketua PCNU Kota Bandung KH Maftuh Kholil, pengajian ini membawa beberapa manfaat. Pertama, silaturahim antarpengurus, jamaah, dan kiai. Kedua, sosialisasi program-program NU kepada jamaah.

“Kalau kita keliling, belum tentu selesai selama 7 bulan. Kalau melalui pengajian ini, bisa langsung sampai dengan cepat, sebab yang mengikuti pengajian (juga) memiliki jamaahnya sendiri di masjid-masjid dan majelis talim,” jelasnya.

Juga, tambah Kiai Maftuh, pengajian yang berlangsung sejak 2008 tersebut menunjukkan bahwa syiar NU di Kota Bandung itu hidup, berkembang, dan tumbuh. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Lomba, Pondok Pesantren, RMI NU Santri An Nur Slawi

Rabu, 11 Desember 2013

400 Warga Malang Antre Pengobatan Gratis

Malang, Santri An Nur Slawi. Pengobatan gratis yang diselenggarakan GP Ansor kabupaten Malang disambut secara anusias oleh warga di desa Dawuhan Poncokusumo kabupaten Malang, Jawa Timur, Ahad (1/12) pagi. Sedikitnya 400 warga memadati antrean untuk mengambil nomor urut.

Gerakan sosial ini dilakukan atas dasar kepedulian PC GP Ansor Malang terhadap warga pelosok yang membutuhkan perawatan dan penanganan kesehatan dasar.

400 Warga Malang Antre Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
400 Warga Malang Antre Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

400 Warga Malang Antre Pengobatan Gratis

“Kegiatan ini akan terus digalakkan minimal 2 kali dalam sebulan. Gerakan ini menjadi wujud nyata kepedulian PC GP Ansor Malang,” ujar Direktur Dokter Rakyat dr Umar Usman, Ahad (1/12) siang.

Santri An Nur Slawi

Dalam pengobatan gratis itu, PC GP Ansor Malang melibatkan siswa jurusan keperawatan dari beberapa SMK di bawah naungan LP Maarif NU Malang. Selain mereka, PC GP Ansor Malang juga mengandeng beberapa badan otonom NU.

Salah seorang pasien Saropah (60) mengatakan, saya sangat terbantu sekali dengan adanya pengobatan gratis ini.

Santri An Nur Slawi

“Kami jarang sekali berobat ke dokter karena biaya yang lumayan mahal dan akses jarak ke kota terdekat sangat jauh,” tutur Saropah dengan nada lirih. (Abdul Basyit/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Aswaja, Syariah Santri An Nur Slawi

Sabtu, 07 Desember 2013

Ketika Subhan ZE Bertemu Jenderal Soeharto

Saat ini, nama Subhan ZE sayup-sayup terdengar. Kisah tentang pemuda kelahiran Kepanjen, Malang Jawa Timur, yang besar dan tumbuh di Kudus, tidak banyak dikisahkan dalam ruang publik. Seolah, nama Subhan ZE hanya menjadi penghias dari gerakan politik NU pada masa transisi kekuasaan, dari Soekarno ke Soeharto. Bagaimana kisah-kisah Subhan ZE mewarnai panggung politik negeri ini? ?

Pada detik-detik menjelang tragedi 1965, Subhan ZE dekat dengan Harry Tjan Silalahi. ? Subhan menggerakkan massa di bawah gerbong KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September Tiga Puluh), yang dikoordinasi bersama Harri Tjan dan beberapa rekan. Harry Tjan merupakan Sekretaris Jenderal Partai Katolik. Baik Subhan ZE maupun Harry Tjan sering bertemu Soeharto, yang pada waktu itu menjadi Pangkostrad/Pangkopkamtib.?

Bersama Subhan ZE, Harry Tjan pada suatu kesempatan, menemui Soeharto di Markas Kostrad. Keduanya berdiskusi tentang kemungkinan aksi massa untuk mendukung Gestapu. Menjelang akhir pertemuan, Subhan menyampaikan aksi massa berikutnya dengan mengucapkan kata Insya Allah. Mendengar itu, Soeharto amat terganggu: "Mengapa harus pakai Insya Allah?". Ketika sudah keluar dari ruangan, Subhan yang berasal dari keluarga santri, berkomentar kepada Harry: "Wah, Soeharto ini memang abangan tulen". Kisah ini dilukiskan oleh Salim Haji Said, dalam bukunya Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (Mizan, 2016).

Ketika Subhan ZE Bertemu Jenderal Soeharto (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Subhan ZE Bertemu Jenderal Soeharto (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Subhan ZE Bertemu Jenderal Soeharto

Kisah Subhan ZE memang unik. Ia berada di garda depan dalam gerakan politik menjelang 1965, akan tetapi tersingkir dari panggung republik ketika Soeharto tampil sebagai presiden. Subhan tidak sejalan dengan visi politik Orde Baru. Dalam dinamika sejarah, NU pernah mengalami masa rumit, terutama pada transisi Orde Lama menuju Orde Baru.?

Ketika itu, Subhan ZE menggalang kekuatan untuk menurunkan presiden Soekarno dan membubarkan Partai Komunis Indonesia. Pihak Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) mendukung penuh langkah Subhan, yang menggerakkan pemuda dan massa dalam komando KAP-Gestapu. Kalangan militer dan NU menjalin hubungan mesra, karena kepentingan yang sama. Namun, ironisnya hubungan manis antara militer dan NU berubah menjadi ketegangan politik, ketika Subhan ZE justru sering mengkritik Jenderal Soeharto, yang menjadi presiden menggantikan Soekarno.?

Figur Subhan ZE sebagai representasi gerakan NU, menjadikan organisasi ini terkena dampaknya. Ketika pemerintah Orde Baru berusaha membatasi ruang gerak politik Subhan, NU juga terkena dampaknya. Betapapun, Subhan ZE berjasa besar dalam menggiring isu strategis serta bermain sebagai figur utama pada masa krusial dalam sejarah negeri ini. Subhan menjadi jaminan dari gerak politik pemuda, pada masa itu. Meski, jika dibaca pada konteks zaman sekarang, langkah Subhan tidak bisa menjadi stempel dari gerakan NU pada masa 1965, terutama sikapnya terhadap gerakan komunis dan PKI. Beberapa kiai NU, juga tidak serta merta mendukung langkah frontal yang dilakukan Subhan. ?

Santri An Nur Slawi

Karir Subhan ZE di Nahdlatul Ulama, bermula ketika ia memimpin Lembaga Pendidikan Maarif Cabang Semarang, pada 1953. Sejak itu, nama Subhan ZE melesat cepat menjadi bintang gemerlap yang disukai anak-anak muda NU, juga disegani aktifis muda dari organisasi lain. Pada saat Kongres NU di Medan pada 1956, Subhan diangkat menjadi Ketua Departemen Ekonomi PBNU.?

Santri An Nur Slawi

Kemudian, pada 1962, ketika NU menyelenggarakan Kongres di Solo, ia menjadi Ketua IV PBNU. Pada rentang waktu itulah, menjadi masa keemasan Subhan ZE di pentas politik dan ormas negeri ini. Subhan ZE menjadi idola baru bagi pemuda-pemuda ketika negeri ini sedang mencari referensi, mencari panutan dalam gerakan kepemudaan.

Kisah-kisah Subhan ZE masih banyak yang tersimpan dalam memori, dalam laci sejarah bangsa ini. Meski telah ada beberapa buku yang mengulas, tapi sejarah hidup dan pemikiran Subhan ZE masih menjadi misteri. Sudah saatnya, ingatan akan Subhan ZE dibongkar, disegarkan kembali sebagai referensi politik pemuda santri masa kini. Tentu, dengan konteks zaman dan arah politik yang berbeda, namun dengan visi dan integritas yang sama: menjaga bangsa, menjaga marwah gerakan kita.***?

Munawir Aziz, Esais dan peneliti (Twitter: @MunawirAziz).

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Halaqoh, Syariah Santri An Nur Slawi