Budayawan Ahmad Tohari menilai Setya Novanto adalah sosok yang mengesankan.
“Mengesankan (bisa) karena kebaikannya atau karakternya yang menurut saya luar biasa,” kata dia kepada Santri An Nur Slawi di Jakarta, Rabu (20/12).
| Setya Novanto Sosok Mengesankan? (Sumber Gambar : Nu Online) |
Setya Novanto Sosok Mengesankan?
Menurut Tohari, ditelisik dari namanya Setya Novanto dari unsur budaya Jawa adalah pribadi yang sangat ambisius untuk berkuasa.“Dan dengan kekuasaannya, Novanto terbukti serakah sekali,” kata budayawan asal Banyumas itu.
Karakter kenegarawanan juga tidak kelihatan dari sosok Novanto. Hal tersebut lantaran Novanto terbukti sejak kasus terdahulu seperti Papa Minta Saham, sampai e-KTP kelihatan ambisi keserakahan yang luar biasa.
Santri An Nur Slawi
“Dia melakukan itu pada saat berada pada puncak kekuasaan di Indonesia sebagai Ketua DPR. Ketua DPR kan bisa dikatakan sejajar dengan Presiden posisinya. Nah, dia jauh dari karakakter kenegarawanan,” urai Tohari.Sayangnya, kata Tohari, Novanto bisa seperti itu bukan saja karena kesalahan sendiri. Tohari meyakini ada yang salah pada sistem yang berjalan di Indonesia.
“Sistem kita yang salah (kalau sampai Novanto) bisa mencapai puncak kekuasaan tertinggi,” tegas Tohari.
Santri An Nur Slawi
Ia mengindikasi pada proses pemilihan di Indonesa yang sangat jual beli.“Jadi anggota DPR, bupati, gubernur, orang mengeluarkan banyak uang. Pemilihan dalam arti sebenarnya tidak terjadi, karena terjadi jual beli antara uang dan jabatan,” Tohari menambahkan.
Hal itu menjadi taruhan kita sebagai bangsa Indonesia karena pemilihan umum menjadi ajang transaksional. Risikonya, masyarakat akan mengalami hal itu terus menerus begitu orang yang tidak mempunyai kapasitas tetapi menjadi lurah, bupati, gubernur, anggota DPR.
Solusi atas permasalahan tersebut, Tohari menyebut masyarakat harus kembali kepada fungsi dan makna atas pemilihan umum yang sejati, yakni bisa menetapkan pemilihan umum sebagai mandat dari orang yang dipercaya sehingga kita pilih.
“Lalu orang yang terpilih mengembalikan kepada pemilih berupa tanggung jawab. Jika dia seorang eksekutif benar-benar bekerja untuk kemajuan, bukan untuk dirinya sendiri. Lalau jika dia legislatif dia akan benar-benar menghasilkan undang-undang yang benar-benar untuk kepentingan rakyat," urainya lagi.
JIka pemilihan umum yang terjadi tidak bergeser dari sistem yang salah itu, Tohari mengatakan masyarakat dan bangsa ini juga tidak akan berubah.
"Pemilihan yang sebenernya orang memilih karena memercayai, tapi yang terjadi adalah karena hal lain misalnya materi atau uang. Ini akan repot sekali," imbuh dia.
Materi atau uang sebagai imbal balik kepada pemilih sangat menghilangkan makna pemilihan.
"Setelah pemilihan, orang yang dipilih tidak merasa harus mewakili karena yang memilih sudah dibeli," sesal Tohari. (Kendi Setiawan)
Dari Nu Online: nu.or.id
Santri An Nur Slawi Lomba, Santri, Amalan Santri An Nur Slawi