Jumat, 27 November 2015

Setya Novanto Sosok Mengesankan?

Jakarta, Santri An Nur Slawi

Budayawan Ahmad Tohari menilai Setya Novanto adalah sosok yang mengesankan.

“Mengesankan (bisa) karena kebaikannya atau karakternya yang menurut saya luar biasa,” kata dia kepada Santri An Nur Slawi di Jakarta, Rabu (20/12).

Setya Novanto Sosok Mengesankan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Setya Novanto Sosok Mengesankan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Setya Novanto Sosok Mengesankan?

Menurut Tohari, ditelisik dari namanya Setya Novanto dari unsur budaya Jawa adalah pribadi yang sangat ambisius untuk berkuasa. 

“Dan dengan kekuasaannya, Novanto terbukti serakah sekali,” kata budayawan asal Banyumas itu.

Karakter kenegarawanan juga tidak kelihatan dari sosok Novanto. Hal tersebut lantaran Novanto terbukti sejak kasus terdahulu seperti Papa Minta Saham, sampai e-KTP kelihatan ambisi keserakahan yang luar biasa.

Santri An Nur Slawi

“Dia melakukan itu pada saat berada pada puncak kekuasaan di Indonesia sebagai Ketua DPR. Ketua DPR kan bisa dikatakan sejajar dengan Presiden posisinya. Nah, dia jauh dari karakakter kenegarawanan,” urai Tohari.

Sayangnya, kata Tohari, Novanto bisa seperti itu bukan saja karena kesalahan sendiri. Tohari meyakini ada yang salah pada sistem yang berjalan di Indonesia.

“Sistem kita yang salah (kalau sampai Novanto) bisa mencapai puncak kekuasaan tertinggi,” tegas Tohari.

Santri An Nur Slawi

Ia mengindikasi pada proses pemilihan di Indonesa yang sangat jual beli.

“Jadi anggota DPR, bupati, gubernur, orang mengeluarkan banyak uang. Pemilihan dalam arti sebenarnya tidak terjadi, karena terjadi jual beli antara uang dan jabatan,” Tohari menambahkan.

Hal itu menjadi taruhan kita sebagai bangsa Indonesia karena pemilihan umum menjadi ajang transaksional. Risikonya, masyarakat akan mengalami hal itu terus menerus begitu orang yang tidak mempunyai kapasitas tetapi menjadi lurah, bupati, gubernur, anggota DPR.

Solusi atas permasalahan tersebut, Tohari menyebut masyarakat harus kembali kepada fungsi dan makna atas pemilihan umum yang sejati, yakni bisa menetapkan pemilihan umum sebagai mandat dari orang yang dipercaya sehingga kita pilih.





“Lalu orang yang terpilih mengembalikan kepada pemilih berupa tanggung jawab. Jika dia seorang eksekutif benar-benar bekerja untuk kemajuan, bukan untuk dirinya sendiri. Lalau jika dia legislatif dia akan benar-benar menghasilkan undang-undang yang benar-benar untuk kepentingan rakyat," urainya lagi.





JIka pemilihan umum yang terjadi tidak bergeser dari sistem yang salah itu, Tohari mengatakan masyarakat dan bangsa ini juga tidak akan berubah.

"Pemilihan yang sebenernya orang memilih karena memercayai, tapi yang terjadi adalah karena hal lain misalnya materi atau uang. Ini akan repot sekali," imbuh dia.

Materi atau uang sebagai imbal balik kepada pemilih sangat menghilangkan makna pemilihan.

"Setelah pemilihan, orang yang dipilih tidak merasa harus mewakili karena yang memilih sudah dibeli," sesal Tohari. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Lomba, Santri, Amalan Santri An Nur Slawi

Sabtu, 21 November 2015

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Tangerang, Santri An Nur Slawi

Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati oleh banyak elemen di berbagai daerah, tak terkecuali Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten.

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Sabtu (14/1), STISNU Nusantara menggelar acara tahunan ini di kampus setempat, Tangerang, dengan menghadirkan istri almarhum Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah Rahman Wahid.

H. Muhamad Qustulani, ketua panitia yang juga wakil ketua bidang akademik di STISNU Nusantara Tangerang, menjeleaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif Gusdurian Kota Tangerang bersama para mahasiswa STISNU Nusantara yang kangen terhadap Gus Dur.

Santri An Nur Slawi

"Iyah, jadi tema haulan Gus Dur di Tangerang (adalah) “Kangen Gus Dur”, kangen sosoknya yang mukhlis beragama, ajarannya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, pemikiran dan keilmuan yang tabahhur, luas dan penuh kemanfaatan, celotehannya penuh canda dan makna, sehingga kita semua kangen Gus Dur," ujarnya.

Santri An Nur Slawi

"Sebab itu, di tengah kondisi negeri yang sedang sakit, penuh fitnah, dan saling menghujat, apalagi di dunia maya (media sosial), maka pemikiran Gus Dur untuk Indonesia pantas kita gunakan dan aplikasikan, dengan mengedepankan persatuan dan penuh kasih sayang,” tambahnya.

Bu Sinta, sapaan akrab Nyai Sinta Nuriyah, mengaku tiap kali menghadiri haul Gus Dur ia merasa sedih dan haru. Sedih karena kangen dengan sosoknya, haru karena banyak orang masih cinta Gus Dur, termasuk orang-orang yang dahulu menghina dan mencaci Gus Dur.

Ia juga mengaku perihatin atas kondisi bangsa saat ini yang mudah disulut isu serta informasi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Rakyat saeakan sulit melakukan tabayun dan mencari informasi berimbang.

“Maka yang bisa dilakukan yaitu dengan cara kembali mengulang memori tentang ajaran-ajaran Gus Dur yang penuh kasih dan sayang, menunjukan Islam ramah bukan yang marah. NKRI harga mati," tegasnya.

KH Edi Junaedi Nawawi, Mustasyar PCNU Kota Tangerang dalam tausiyahnya menjelaskan tentang makna dari tahlilan, "la ilaha illallah", bahwa tidak ada Tuhan yang akan mengampuni kesalahan almagfurllah KH Abdurrahman Wahid bin KH Abdul Wahid Hasyim kecuali Allah. Sebab itu, insya Allah almarhum almagfurlah dalam kebahagiaan dan kesenangan di sisi Allah, dan ajaran-ajaranya pun dapat dirasakan untuk kita (rakyat), agama, bangsa, dan negara.

Acara ditutup? ? dengan doa oleh KH Edi Junaedi Nawawi. Hadir pada acara tersebut KH A. Syubakir Toyib (Pembina Gusdurian setempat), KH Aliyuddin Zen Pandawa (Murabbi Ruh STISNU Nusantara), KH Arif Hidayat (Katib Syuriah PCNU Kota Tangerang), KH A. Bunyamin (Ketua PCNU Kota Tangerang), KH Dedi Miftahudin (Ketua ISNU Kota Tangerang), Rudi (perwakilan Boen Tek Bio), Nur Asyik (Ketua Gusdurian Kota Tangerang), Khoirul Huda (Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang), dan para ulama lainnya bersama warga Nahdliyin serta mahasiswa STISNU Nusantara. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hadits Santri An Nur Slawi

Senin, 09 November 2015

33.347 Madrasah Sudah Terakreditasi

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Indonesia memiliki ribuan lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan madrasah. Data Direktorat Pendidikan Madrasah menunjukan bahwa ada 76.551 madrasah tersebar di seluruh pelosok negeri, baik Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).

33.347 Madrasah Sudah Terakreditasi (Sumber Gambar : Nu Online)
33.347 Madrasah Sudah Terakreditasi (Sumber Gambar : Nu Online)

33.347 Madrasah Sudah Terakreditasi

Untuk jenjang pendidikan anak usia dini, Kementerian Agama membina 26.098 RA. Sedangkan untuk jenjang pendidikan dasar dan menangah, ada 50.453 MI, MTs, dan MA.

Akreditasi RA belum menjadi target prioritas karena lembaga akreditasinya baru terbentuk 2015 (Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini/Non Formal atau BAN PAUD/NF). Sedangkan madrasah, sebanyak 33.347 madrasah sudah terakreditasi. Artinya, masih ada 17.106 madrasah yang belum terakreditasi.

Santri An Nur Slawi

Data ini terungkap pada pemaparan tim Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) di hadapan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin beserja jajarannya, Rabu (14/12).

Sebanyak 16.237 MI sudah terkareditas, sedang 8.693 MI lainnya belum. Untuk jenjang MTs, 11.573 madrasah sudah terakreditasi, sedang 6.009 madrasah belum. Adapun MA, 5.537 madrasah sudah terakreditasi, dan 2.404 madrasah belum.

Santri An Nur Slawi

Ketua BAN S/M Abdul Muti dalam paparannya berharap alokasi anggaran untuk mendukung pengembangan madrasah di Kementerian Agama RI dapat dinaikan, termasuk salah satunya untuk alokasi akreditasi madrasah.

Terkait hal ini, Dirjen Pendidikan Islam Kamarudin Amin mengakui bahwa tantangan madrasah memang sangat besar, baik dari pemenuhan standard sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, isi, dan standard lainnya. Tantangan tersebut semakin terasa seiring dengan terbatasnya anggaran yang tersedia.

"Pendidikan Madrasah adalah salah satu hal yang tidak didesentralisasi, sehingga tanggung jawabnya masih di bawah Kemenag. Mengingat anggarannya masih rendah, dibutuhkan peran Pemda untuk bersama-sama pemerintah pusat membantu madrasah," kata Kamaruddin Amin sebagaimana diberitakan laman Kemenag RI, kemenag.go.id Rabu (14/12).

Di hadapan BAN SM, Kamarudin Amin bertekad mempercepat akreditasi madrasah sehingga semua madrasah dapat terakreditasi dengan baik. Untuk itu, Kamaruddin memandang perlu penganggaran khusus berkaitan dengan percepatan akreditasi madrasah ke depan.

Salah satu anggota BAN SM, Toni Taharuddin, mensinyalir belum optimalnya akreditasi madrasah karena masih kurang optimalnya pemenuhan standard sarana dan prasarana. Selain itu, masih ditemukan adanya sarana pendidikan yang belum sesuai peruntukannya, misalnya, laboratorium IPA digunakan untuk ruang kelas. Ada juga madrasah tidak memiliki perpustakaan, dan lain sebagainya.

Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan berharap proses akreditasi madrasah yang belum terakreditasi bisa selesai pada tahun 2019. Menurutnya, setiap tahun Direktorat Pendikan Madrasah terus memberikan bantuan penyelenggaraan bimbingan teknis akreditasi madrasah.

"Seperti tahun 2016, anggaran langsung diletakkan di Kanwil, bukan di pusat," kata M. Nur Kholis.

"Proses bimbingan teknis akreditasi madrasah juga melibatkan tim Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah," tambahnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Budaya Santri An Nur Slawi

Kamis, 05 November 2015

"Semoga Ini Bukan karena Allah Murka kepada Kita"

Bantul, Santri An Nur Slawi. Pejabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH A Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus mengungkapkan keprihatinannya atas wafatnya kiai-kiai di lingkungan Nahdlatul Ulama akhir-akhir ini.

Semoga Ini Bukan karena Allah Murka kepada Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Semoga Ini Bukan karena Allah Murka kepada Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

"Semoga Ini Bukan karena Allah Murka kepada Kita"

“Saya itu, prihatinnya tumpuk-tumpuk. Prihatin terhadap Nahdlatul Ulama, kiai-kiai, pesantren, Gus Bik, diri saya sendiri dan prihatin terhadap Indonesia,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam acara Haul KH Ali Maksum yang ke-25, Senin (10/3) malam.

Gus Mus mengaku keprihatinannya terhadap bencana alam seperti letusan gunung dan banjir yang melanda sejumlah daerah di Indonesia tak lebih besar dari wafatnya ulama. “Yang membuat saya lebih prihatin adalah banyak kiai-kiai yang benar-benar kiai bukan kiai-kiaian dipanggil oleh Allah SWT,” ujar Gus Mus dengan mata berkaca-kaca.

Santri An Nur Slawi

“Berturut-turut, Rais Aam Nahdlatul Ulama, KH. Sahal Mahfudh; Rais yang paling rajin sendiri di PBNU, KH Masduqi Mahfudh; Pengasuh Pesantren Annuqayah, KH. Waris Ilyas. Krapyak sendiri juga berturut-turut, kiai-kiainya dipanggil oleh Allah SWT, KH. Dalhar Munawwir, KH Ali Maksum, KH Warsun Munawwir dan KH Zainal Abidin Munawwir. Semoga hal ini bukan karena Allah SWT murka kepada kita,” tambah Gus Mus yang diamini oleh jamaah yang hadir.

Santri An Nur Slawi

Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus juga mengungkapkan bahwa akibat dari wafatnya para kiai-kiai tersebut sangat luar biasa. “Mereka dipanggil oleh Allah SWT beserta ilmunya, akhlaknya dan teladan-teladannya. Mari kita semua berdoa agar kiai-kiai sepuh yang masih ada seperti Mbah Maimoen (KH Maimoen Zubair, red) ini panjang yuswonipun (usianya),” tutur Gus Mus yang sekali lagi diamini oleh jamaah yang hadir.?

Selain itu, Gus Mus juga menyindir banyaknya ustadz di televisi yang tidak memberikan keteladanan yang baik kepada umat. Bahkan, ustadz-Ustadz tersebut banyak menjadi bahan tertawaan masyarakat. Menurutnya, hal ini merupakan akibat dari dipanggilnya para kiai beserta ilmu dan akhlaknya.

Acara Haul KH. Ali Maksum yang ke-25 tersebut dihadiri tokoh-tokoh NU, di antaranya adalah Pengasuh Pesantren Sarang Rembang yang juga Mustasyar PBNU KH. Maimoen Zubair, Wakil Ketua Umum PBNU KH. As’ad Said Ali , Ketua PBNU Prof Maksum Mahfudh, dan Rais Suriah PWNU DIY KH Asyari Abta. (Nur Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ulama, Tegal Santri An Nur Slawi