Sabtu, 17 Februari 2007

Mainstream Perempuan dalam Karya Sastra

Mendung menggelayuti langit Jogja saat acara Saresehan Sastrawan Perempuan resmi dibuka, Ahad (17/3). Acara yang diselenggarakan atas hasil kerja sama antara PW Fatayat NU, Gadjah Wong Cinema, dan LKiS ini berlangsung di Pendopo Yayasan LKiS, Jl. Pura No 203 Sorowajan, Yogyakarta.

“Tujuan kami mengadakan acara ini ya agar menumbuhkan kesadaran kesetaraan gender,” ungkap Panitia penyelenggara.

Mainstream Perempuan dalam Karya Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Mainstream Perempuan dalam Karya Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)

Mainstream Perempuan dalam Karya Sastra

“Selain itu juga untuk mengeksplorasi karya-karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan perempuan. salah satu,” tambahnya.

Acara yang dimulai pukul 09.30 WIB tersebut menghadirkan tiga narasumber sekaligus, yakni Abidah El-Khalieqy, cerpenis asal Pati, Ulfatin ch, dan perwakilan dari komunitas mata pena, Isma Kazee.

Santri An Nur Slawi

Dalam acara tersebut, Abidah El-Khalieqy menyatakan bahwa ada kesamaan tema dengan novel perempuan berkalung surban yang pernah ia tulis.

“Ketika nanti saya akan membahas novel perempuan berkalung surban, maka nanti kita akan menemui bahasan yang sesuai degan tema tersebut”

Santri An Nur Slawi

Selain itu, Abidah juga menyoroti tentang hak-hak perempuan yang masih belum banyak diperhatikan.

“Kebanyakan dari kita, ketika berbicara tentang reproduksi, maka kita hanya akan berbicara tentang kehamilan, kelahiran dan sebagainya. Padahal di sana ada hak-hak perempuan yang harus ditegakkan,” ujarnya.

Berbeda dengan Abidah, Ulfatin Ch lebih menyoroti dunia pendidikan untuk mengubah pola pikir masyarakat yang masih menganggap laki-laki itu lebih mulia daripada perempuan. Menurutnya, bangsa ini masih hanya sebatas bisa membaca huruf saja. Bangsa ini belum bisa membaca fenomena di sekitarnya sendiri.

Sedangkan, Isma Kazee yang mewakili Komunita Mata Pena lebih banyak berbicara tentang bagaimana untuk melakukan mainstream perempuan dalam sebuah karya sastra.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengupayakan mainstream perempuan dalam sebuah karya sastra adalah dengan terus-menerus melakukan regenerasi penulis-penulis perempuan,” ujar Isma Kazze.

Setelah kurang lebih 3 jam, acara sarasehan yang mengambil tema “Pengarusutamaan Gender Dalam Karya Sastra” tersebut akhirnya selesai.

Selanjutnya, para peserta pelatihan disuguhi film tentang kepenulisan oleh Gadjang Wong Cinema. Gadjah Wong Cinema merupakan salah satu bioskop miliki Lesbumi DIY yang memiliki tempat pemutaran film di Ngeban Resto, Jl. Cendrawasih, Gaten, Depok, Sleman. (Rokhim Bangkit)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Cerita Santri An Nur Slawi

Sabtu, 10 Februari 2007

STAINU Jakarta Telusuri Jejak Islam Nusantara di Banten

Banten, Santri An Nur Slawi. Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mengunjungi sejumlah jejak penyebaran Islam di Banten. Mereka memilih provinsi ini karena Banten merupakan jaringan penyebaran Islam di Nusantara oleh Sunan Gunung Jati.

Mereka menuju kota Serang di mana terdapat makam raja pertama Banten Sultan Maulana Hasanuddin yang wafat pada 1552 M. Mereka juga menyempatkan ziarah dan tahlilan di makam yang dikelilingi makam keluarga Sultan Hasanuddin, Sabtu (25/1).

STAINU Jakarta Telusuri Jejak Islam Nusantara di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Telusuri Jejak Islam Nusantara di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Telusuri Jejak Islam Nusantara di Banten

“Untuk mengisi liburan semester awal ini kami sepakat menuju Banten salah satu wilayah penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati melalui anaknya, Sultan Hasanuddin untuk menaklukkan Portugis di Banten,” terang ketua rombongan Ahmad Iftah Sidik kepada Santri An Nur Slawi, Sabtu (25/1).

Santri An Nur Slawi

Dari Serang, mereka bergerak menuju Pandeglang. Di situ mereka menyambangi Batu Qur’an peninggalan Syekh Mansur dan pemandian sebelas sumur barokah peninggalan Syekh Demang Lancar, mertua Syekh Mansur.

“Kegiatan seperti ini akan kami teruskan di semester-semester mendatang untuk menggali informasi dan fakta-fakta sejarah Islam di wilayah Nusantara,” pungkas Iftah aktivis Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-muktabarah Ala Thariqatin Nahdliyyah (JATMAN). (Ahmad Fathoni/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Pesantren, Ahlussunnah Santri An Nur Slawi