Rabu, 31 Oktober 2012

Hadiri Peluncuran Fragmen Sejarah NU, Hanif Dhakiri: Sejarah Perlu Ditulis

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Di tengah konstelasi gerakan Islam ? yang semakin dinamis sekarang ini, perlu komitmen yang kuat dalam mempertahankan ideologinya. Dalam hal ini, NU menurut Menakertrans M. Hanif Dhakiri dibutuhkan militansi kuat dalam memegang ideologi pergerakan.?

"Dibutuhkan militansi yang lebih dari kader-kader NU untuk menampilkan wajah Islam yang kontributif baik bagi dinamisasi kehidupan beragama, berbangsa dan beragama," katanya dalam Peluncuran buku Fragmen Sejarah NU karya Wakil Sekjen PBNU KH Abdul Mun’im DZ di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Kamis (16/3).?

Hadiri Peluncuran Fragmen Sejarah NU, Hanif Dhakiri: Sejarah Perlu Ditulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Peluncuran Fragmen Sejarah NU, Hanif Dhakiri: Sejarah Perlu Ditulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiri Peluncuran Fragmen Sejarah NU, Hanif Dhakiri: Sejarah Perlu Ditulis

Militansi tersebut bisa terwujud jika pengkaderan-pengkaderan terus dilakukan. Khususnya pengkaderan dalam memahami sejarah NU dan penulisannya.?

Menurut Hanif, Buku Fragmen Sejarah NU terbitan Pustaka Compass ini memberi optimisme bagi pemuda Nahdliyin. "Dengan adanya buku ini kesadaran sejarah di kalangan kaum muda NU jadi lebih kuat," katanya.?

Hanif mencontohkan ketika ia bertemu dengan sejarawan nasionalis yang menulis tentang pertempuran Surabaya 10 November dan tidak mencantumkan peran kiai NU.?

Santri An Nur Slawi

"Kok bisa-bisanya anda menulis tentang 10 November tidak ada NU nya tidak ada kiai NU-nya. Yang menarik dia menjawab, mas saya menulis apa yang saya tahu, kalau sampean tahu yang lain, tulis saja" cerita politisi PKB ini.?

Dari situ ia menyimpulkan bahwa sejarah adalah apa yang kita tulis hari ini, jadi kalau ada peristiwa dulu yang tidak ditulis bisa dianggap tidak pernah terjadi. "Ini salah satu nilai penting dari buku Fragmen Sejarah NU,” tandasnya.?

Santri An Nur Slawi

Dalam peluncuran buku ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh sebagai pemberi testimoni, di antaranya KH As’ad Said Ali, Purwo Santoso, Ahmad Muqowwam, Zastrouw Al-Ngatawi, Zaini Rahman, Zainul Milal Bizawie, para kader muda NU dari Ansor, PMII, IPNU dan lainnya. (DamarPamungkas/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Cerita, Ahlussunnah Santri An Nur Slawi

Jumat, 26 Oktober 2012

Rakerwil, IPNU Jatim Kuatkan Sinergitas dan Integritas Organisasi

Malang, Santri An Nur Slawi

Sejak dilantik pada November 2015 lalu, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur terus memacu kinerjanya. Sabtu (31/1), PW IPNU Jatim menggelar rapat kerja wilayah (rakerwil) yang fokus mengoptimalkan aspek sinergitas dan integritas organisasi.

Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami mengatakan, sinergitas dan integritas merupakan dua nilai penting yang menjadi modal utama untuk menggerakkan roda organisasi. Pengurus dari tingkat pimpinan wilayah hingga pimpinan anak cabang (PAC) harus sinkron, terutama dalam menerjemahkan visi dan misi organisasi menjadi sebuah program kerja yang bermanfaat.

Rakerwil, IPNU Jatim Kuatkan Sinergitas dan Integritas Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakerwil, IPNU Jatim Kuatkan Sinergitas dan Integritas Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakerwil, IPNU Jatim Kuatkan Sinergitas dan Integritas Organisasi

“Sebagai organisasi terdepan kaderisasi di tubuh NU, IPNU berkomitmen untuk memfasilitasi sekaligus menjadi wadah bagi pengembangan potensi individu kader. Selain itu, tidak hanya unggul di satu bidang, namun juga dapat mengabdikan diri di berbagai lini,” tuturnya usai Pembukaan Rakerwil IPNU Jatim di Aula Pondok Pesantren Teknologi Ma’arif Singosari, Malang, Jawa Timur.

Santri An Nur Slawi

Lebih lanjut ia menjelaskan, merujuk pada visi dan misi organisasi IPNU, tugas utama IPNU adalah mampu menjadi organisasi pembelajar. Artinya, IPNU harus mampu menjadi pusat pembelajaran bagi segmen garapnya, yaitu santri, pelajar dan mahasiswa dalam mengembangkan segenap potensinya.

Haikal tidak menampik bahwa kondisi objektif IPNU dewasa ini memang belum sepenuhnya optimal. Hal ini ditandai dengan belum sinergisnya gerak organisasi yang masih cenderung linear, maka kreativitas dan inovasi menjadi hal yang wajib dilakukan dalam mengarungi masa bakti dua tahun ke depan.

Santri An Nur Slawi

“Bila dibiarkan berlarut hal ini akan berdampak pada stagnasi gerakan. Di sisi lain, modal gerakan IPNU masih sangatlah memadai,” terang Haikal yang juga aktif sebagai peneliti di The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP).

Rakerwil yang mengangkat tema “Meningkatkan Sinergitas Menuju Tata Kelola Organisasi Berintegritas”, sambung Haikal, harus menjadi momentum seluruh jajaran pengurus untuk memeras pikiran guna menjawab problem tersebut. Salah satu langkah awal adalah membingkai ulang pola pikir. Hal ini dinilai penting untuk menakar formulasi gerakan yang tepat sehingga dapat terbangun sebuah ritme gerakan yang strategis dan terukur.

Menurutnya, tugas IPNU ke depan tidak ringan. Problem radikalisasi dan narkoba adalah dua isu utama yang membutuhkan peran serta IPNU untuk membentengi generasi muda. Apalagi dewasa ini  kedua masalah tersebut telah banyak menyasar pelajar, santri dan mahasiswa. Maka gerakan yang sinergis, inovatif, dan mampu cepat berdaptasi dengan perubahan adalah hal yang tak bisa ditawar.

Ia menegaskan gerakan IPNU harus senapas dengan kegigihan komitmen dan loyalitas pada lingkup gerakan moral yang berlandas pada Islam Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah. Sehingga terbentuknya kader pelajar, santri, dan mahasiswa yang memeiliki keteguhan prinsip dan moral, beraklaqul karimah, serta memiliki ketajaman nalar dan kesadaran sekaligus tanggung jawab yang tinggi akan tugas membentuk tatanan mayarakat madani bukan lagi sekedar mimipi.

Rakerwil dibuka tokoh NU Prof KH Muhammad Tolhah Hasan yang juga Menteri Agama era Presiden Abdurahman Wahid. (Lukman Hakim El Baqeer/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Habib, AlaNu, Syariah Santri An Nur Slawi