Rabu, 14 Maret 2018

Tangani HIV/AIDS, Kemensos Dirikan Tiga Panti ODHA

Surabaya, Santri An Nur Slawi. Kementerian Sosial mendirikan tiga panti ODHA untuk memberikan layanan rehabilitasi sosial orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menyusul semakin mengkhawatirkannya tingkat penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia. 

Ketiga panti tersebut masing-masing adalah Panti Sosial Rehabilitasi Sosial Wasana Bahagia yang merupakan transformasi dari Panti Sosial untuk penyakit kronis di Ternate. Kedua, Panti Sosial Rehabilitasi Sosial Bahagia yang merupakan transformasi dari panti Sosial Rehabilitasi Sosial Bina Daksa di Medan. Dan, ketiga Panti Sosial Rehabilitasi Sosial Kahuripan Sukabumi yang semula adalah shelter.

Tangani HIV/AIDS, Kemensos Dirikan Tiga Panti ODHA (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangani HIV/AIDS, Kemensos Dirikan Tiga Panti ODHA (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangani HIV/AIDS, Kemensos Dirikan Tiga Panti ODHA

"Ini ikhtiar pemerintah melalui Kementerian Sosial ditengah makin menggunungnya masyarakat yang terinveksi virus HIV AIDS," ungkap Khofifah saat menutup Pentas Sahabat ODHA dalam rangka Hari AIDS Sedunia, di Surabaya, Ahad (3/11) lalu. 

Khofifah menjelaskan, ketiga panti tersebut bertugas memberikan bimbingan, pelayanan dan rehabilitasi sosial dalam bentuk bimbingan pendidikan, fisik, metal, sosial, pelatihan keterampilan,resosialisasi, bimbingan lanjut bagi orang dengan HIV agar mampu mandiri dan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Santri An Nur Slawi

"Dalam UU No 23 Tahun 2014 tegas menyebutkan bahwa tanggung jawab penanganan ODHA baik dalam maupun luar panti menjadi kewenangan Kementerian Sosial," imbuhnya. 

Sementara untuk penderita HIV/AIDS anak, lanjut Khofifah, Kementerian Sosial telah menyiapkan Panti rehabilitasi sosial anak yang dikenal dengan Anak Dengan HIV/AIDS (ADHA) di Surakarta. Panti tersebut nantinya hanya akan melayani penderita HIV/AIDS khusus anak. 

Santri An Nur Slawi

Khofifah menerangkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan secara kumulatif hingga triwulan I 2017, jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 320.152. Jumlah tersebut menurutnya, bisa jadi jauh lebih kecil dari angka sebetulnya mengingat banyak ahli yang menyebut ini sebagai fenomena gunung es. Mengingat data tersebut tercatat yang telah melakukan akses layanan rumah sakit.

"Persoalan ini harus menjadi perhatian semua pihak. Tidak cuma pemerintah, namun juga masyarakat umum mengingat virus ini bisa menular kepada siapa saja, terutama ibu rumah tangga yang terinveksi dari suami " tuturnya. 

Khofifah menjelaskan HIV merupakan virus yang menurunkan dan merusak kekebalan tubuh. Akibatnya, penderitanya mudah terinfeksi penyakit lain. HIV ditularkan melalui hubungan seksual, dalam darah, jarum suntik, dan ASI. Penyakit ini umumnya menurunkan sistem kekebalan tubuh dan membutuhkan waktu tahunan untuk memperlihatkan gejalanya, yaitu sekitar 5-10 tahun

Kukuhkan 1000 Sahabat Peduli AIDS

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengukuhkan 1000 orang sahabat peduli AIDS yang berasal dari Ternate, Medan, dan Jawa Timur. Sahabat Peduli AIDS yang terdiri dari berbagai unsur ini bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai seluk beluk penyakit HIV/AIDS. 

Menurutnya, masalah yang sering terjadi adalah perlakuan yang kurang baik hingga diskriminasi hak hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Kondisi ini terjadi umumnya karena masyarakat kurang mendapat informasi tentang penyakit HIV/AIDS secara menyeluruh. 

"Seharusnya yang dijauhi penyakitnya, bukan orangnya. Tapi di masyarakat, yang terjadi justru sebaliknya," tuturnya.

"Tugas kita bersama adalah berupaya membangun pengetahuan dan pemahaman yang memadai ke masyarakat luas akan kesehatan reproduksi," tambah dia. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail Santri An Nur Slawi

Sabtu, 10 Maret 2018

Gairah Seni dari Pesantren Al-Mukhtariyah

Subang, Santri An Nur Slawi. Malam mulai beranjak di perkampungan Caracas, Subang, Jawa Barat. Ketika anak-anak kota nongkrong di pinggir jalan atau di depan tivi, sejumlah anak di kampung itu bernyanyi bersama. Suaranya nyaris dengung tawon hijrah.

Suara tawon hijrah itu bersumber dari majelis ta’lim Pondok Pesantren A-Mukhtariyah. Di situ, santriwan dan santriwati sedang melantunkan pupujian (Sunda) atau pujian (Jawa) pada kegiatan rutin muhadhorohan.

Gairah Seni dari Pesantren Al-Mukhtariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gairah Seni dari Pesantren Al-Mukhtariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gairah Seni dari Pesantren Al-Mukhtariyah

Pupujian yang dilantunkan adalah Anak Adam, sebuah pujian yang menceritakan kehidupan umat manusia di dunia. Pujian tidak diketahui pengarangnya, tapi tersebar di hampir seluruh Jawa Barat. Kemudian pujian Eling-eling Umat, silsilah leluhur Nabi Muhammad, dan pujian lain.

Santri An Nur Slawi

Muhadhorohan tersebut menjadi ajang kreativitas para santri. Biasanya diisi dengan pidato, pembacaan puisi, bercerita, “Bisa mendongeng, pengalaman pribadi, atau menceritakan hasil membaca buku,” kata Irbah Fikriyah, salah seorang santriwati, di komplek pesantren, Selasa, (19/3).

Santri An Nur Slawi

Jika ada santri yang mengikuti kegiatan seperti Makesta (Masa Kesetiaan Anggota, jenjang penerimaan pertama di IPNU-IPPNU, red.) atau pelatihan jurnalistik harus bisa berbagi dengan santri-santri lain di acara tersebut.

Irbah menambahkan kadang seorang peserta membacakan cerpen. Cerpen tersebut bisa hasil karya sendiri, teman atau didapat dari koran. “Kemudian menyanyi, tapi bukan lagu pop atau dangdut, nyanyi religi,”tambahnya.

Bahkan sambung Irbah, pada acara tersebut ada yang pernah ada santri yang mempromosikan produk sabun.

Ajengan Anis Hisyam Karim, salah seorang pengajar mengatakan di antara mereka ada juga yang tampil dengan menabuh alat musik alakadrnya seperti galon dan kendang. “Kami juga sedang memesan alat musik tiup khas Sunda Karinding,” tambahnya.

Kegiatan tersebut merupakan penempaan mental santri untuk bisa tampil di muka umum pada acara muludan atau rajaban serta di masyarakat ketika mereka lulus dari pesantren.

Lebih jauh ia menceritakan, kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2009. Biasanya dimulai ba’da maghrib sampai pukul 20.30.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Halaqoh, Tegal Santri An Nur Slawi

Rabu, 07 Maret 2018

Menag Ajak Masyarakat Terusan Tradisi Maghrib Mengaji

Serang, Santri An Nur Slawi?

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengajak umat Muslim untuk meneruskan tradisi magrib mengaji sebagai warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan,

"Melalui momentum MTQ ini kami mengajak semua kalangan Pemda dan masyarakat untuk terus dekatkan diri terhadap Al-Quran dan mengamalkan isi yang terkandung di dalamnya. Mari kembangkan tradisi mengaji Al-Quran selepas magrib, ramaikan mesjid-mesjid dengan mengaji Al-Quran karena itu warisan luhur nenek moyang," kata Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin saat membuka MTQ ke-XIII tingkat Provinsi Banten di Serang, Kamis malam.

Menag Ajak Masyarakat Terusan Tradisi Maghrib Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Ajak Masyarakat Terusan Tradisi Maghrib Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Ajak Masyarakat Terusan Tradisi Maghrib Mengaji

Menag mengatakan, MTQ bertujuan untuk membentuk masyarakat cinta Al-Quran dan sebagai sarana pembelajaran serta syiar Islam, jadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dan menjadi imam.

"Al-Quran bukan benda pusaka yang terletak rapi di atas lemari, tetapi Al-Quran harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan," katanya.

Oleh karena itu, kata Menag, ia mengajak umat Muslim untuk terus dekatkan diri dengan Al-Quran dan mengembangkan tradisi mengaji Al-Quran selepas magrib. Apalagi masyarakat Banten yang sangat dekat dengan tradisi keislaman.

Santri An Nur Slawi

"Gerakan masyarakat magrib mengaji atau gemar mengaji, menjadi media bagi keluarga untuk menyediakan waktu selepas magrib membiasakan diri mengaji dan mengkaji isi kandungan Al-Quran sehingga terwujud akhlaqul karimah sesuai tuntunan Al-Quran," katanya.

Sementara Gubernur Banten Rano Karno meminta kepada para dewan hakim untuk bekerja secara objektif dan profesional dalam memberikan penilaian. Sehingga hasil dari MTQ tersebut benar-benar merupakan hasil penilaian yang objektif dan prestasi yang baik untuk mewakili Banten di MTQ nasional maupun internasional.

"Kita ingin peserta dari Banten nanti di nasional bahkan di internasional, menjadi peserta yang berprestasi bukan sekedar partisipasi," kata Rano.?

Santri An Nur Slawi

Pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Banten berlangsung mulai 7 sampai 11 2016 dengan jumlah peserta 464 orang dari delapan kabupaten/kota. Adapun cabang yang dilombakan sebanyak 9 cabang diantaranya tilawah, tahfidz, tafsir sahril, fahmil dan qiroatul qutub. (Antara/Mukafi Niam)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Halaqoh, Pertandingan, Aswaja Santri An Nur Slawi

NU Tak Perlu Ngos-ngosan Cari Panggung Dunia

Bandung, Santri An Nur Slawi 



Katib ‘Aam PBNU KH Yahya C. Staquf menegaskan, saat ini NU tidak perlu ngos-ngosan mencari peluang internasional. Bahkan saat ini NU justru yang ngos-ngosan memenuhi undangan dunia. 

“Undangan itu sudah tidak karu-karuan. Orang-orang itu ingin mendengar apa yang dikatakan NU. Semakin lama, kantor ini semakin sepi. Apa tidak terasa?” tanyanya di ruangannya, di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/1). 

NU Tak Perlu Ngos-ngosan Cari Panggung Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Perlu Ngos-ngosan Cari Panggung Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Perlu Ngos-ngosan Cari Panggung Dunia

Menurut dia, saat ini, Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin pergi ke luar negeri untuk memenuhi undangan-undangan. Begitu juga Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Ia diundang ke mana-mana untuk memenuhi permintaan ke luar negeri. 

“Semua ingin mendengar tentang NU. Bukan cuma itu, ada Pak Marsudi ke mana-mana, Savic Ali ini sekarang ke London. Sekarang ini kita tidak perlu ngos-ngosan mencari platform (rencana kerja; program), panggung untuk internasional,” jelasnya. 

Santri An Nur Slawi

Nah, sekarang tinggal bagaimana kita konsisten dengan artikulasi tentang NU. 

“Jangan bolak-balik, ke sana ke mari; sudah, NU adalah Khittah Nahdliyah, Pembukaan UUD 45, Pancsila, Bhineka Tunggal Ika, itu sudah. Jangan ngomong yang enggak-enggak,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Kajian Islam Santri An Nur Slawi

Selasa, 06 Maret 2018

Tujuh Anggota Ahwa Ini Pilih Rais Syuriyah PWNU Jakarta

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud memimpin sidang pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi pada Konferensi Wilayah NU DKI Jakarta di Museum Listrik, TMII, Jakarta, Sabtu (26/3) sore. Ia membacakan tujuh nama kiai yang diusulkan oleh enam PCNU di Jakarta.

Mereka adalah KH Ibnu Abidin, KH Ahmad Zahari, KH Saifudin Rowi, KH Abdurrahman Shoheh, KH Nurjali, KH Lukman Hakim, dan KH Mahfud Asirun.

Tujuh Anggota Ahwa Ini Pilih Rais Syuriyah PWNU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Anggota Ahwa Ini Pilih Rais Syuriyah PWNU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Anggota Ahwa Ini Pilih Rais Syuriyah PWNU Jakarta

Mereka akan memilih Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta untuk periode kepengurusan lima tahun mendatang.

Sidang pemilihan tujuh anggota Ahwa ini diawali dengan tawassul kepada almarhum para kiai NU Jakarta.

Santri An Nur Slawi

"Alhamdulillah relatif nggak ada kendala," kata Ketua PBNU H Imam Aziz yang bertugas mengoordinasi PWNU DKI Jakarta.

Mereka kini sedang bermusyawarah untuk menentukan nama Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta. Nama ini akan diumumkan sebelum pemilihan Ketua PWNU DKI Jakarta malam ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Habib, Anti Hoax Santri An Nur Slawi

Minggu, 04 Maret 2018

Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dalam sebuah khutbah mengatakan, “Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis. Para sahabat yang lainnya pun heran. Hingga akhirnya diketahui bahwa hamba yang dimaksud Nabi itu tak lain adalah Abu Bakar. Mereka memeng mengakui keutamaan pribadi sahabat yang juga mertua Rasulullah itu.

Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq

Dalam kesempatan lain, Nabi menyebut orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. "Andai saja aku diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Tapi cukuplah antara aku dengan Abu Bakar ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam," kata Rasulullah.

Sayyidina Abu Bakar termasuk kelompok orang yang paling awal masuk Islam (as-sâbiqûnal awwalûn). Selain loyalitasnya yang sangat tinggi terhadap Rasulullah, ia juga dikenal sebagai sosok yang amat zuhud dan punya keistimewaan lebih dari para sahabat lain. Reputasi di mata Nabi dan sahabat-sahabat inilah yang membuatnya dipercaya mengemban amanat sebagai khalifah pertama selepas Rasulullah wafat.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan Sayyidina Abu Bakar, baik melalui keteladanannya atau petuah-petuah yang disampaikannya. Salah satu yang bisa ditimba adalah cerita tentang saat-saat beliau menjelang wafat. 

Seperti ditulis dalam kitab Anîsul Muminîn karya Shafuk al-Mukhtar, suatu kali Sayyidah Aisyah, putri beliau yang juga istri Rasulullah, datang kepada Abu Bakar yang kala itu sedang sakit.

Santri An Nur Slawi

"Wahai Ayah, bagaimana bila aku panggilkan dokter?" tanya Aisyah.

"Ayah sudah ditangani dokter."

Santri An Nur Slawi

"Lalu apa kata dokter?" tanya Aisyah penasaran.

"Ayah boleh melakukan apa yang Ayah inginkan." Pernyataan dokter semacam ini menunjukkan bahwa sakit Abu Bakar cukup parah dan mendekati kematian. 

"Dengan kain mana aku nanti mengafani jenazah Ayah?"

"Dengan baju yang biasa aku pakai saat makmum shalat bersama Rasulullah."

"Baju itu sudah usang. Apa tidak sebaiknya aku belikan kain kafan yang baru?" tanya Aisyah.

Jawab Abu Bakar, "Orang hidup lebih berhak atas sesuatu yang baru ketimbang orang mati."

Dialog Aisyah dan Abu Bakar tersebut membuktikan kematangan psikologi mereka dalam menyikapi fenomena kematian. Kematian bukan hal yang menyeramkan. Mati pasti terjadi sebagai jembatan berjumpa seorang hamba kepada Rabb-Nya, lalu mempertanggungjawabkan apa yang manusia perbuat selama di dunia.

Pilihan Abu Bakar agar dikafani menggunakan baju lusuh yang biasa dikenakan saat shalat berjamaah dengan Nabi mengesankan setidaknya dua hal. Pertama, kecintaan beliau yang begitu mendalam terhadap Rasulullah. Kedua, bukti kebersahajaan Abu Bakar yang istiqamah, saat hidup hingga maut menjemput.

Yang paling menarik adalah saat ia menjawab tawaran Aisyah yang hendak membelikan kain kafan baru. Ia menampiknya dengan alasan bahwa barang baru hanya layak untuk orang hidup, bukan orang mati. Pernyataan yang terakhir ini sejatinya bukan sekadar penolakan, melainkan pula pesan untuk mereka yang masih hidup bahwa gemerlap duniawi tak lagi relevan ketika jasad seseorang sudah tertimbun di dalam tanah. Wallahu alam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Halaqoh, Kyai, Nusantara Santri An Nur Slawi

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel

 Jakarta, Santri An Nur Slawi

NU merupakan faktor penting tidak terjadinya kekerasan antarmasyarakat sipil di Kalimantan Selatan ketika pecah peristiwa politik pada tahun 1965. Pernyataan ini dikemukakan oleh Toga Tambunan, ketika bertindak sebagai salah seorang pembahas dalam diskusi buku “Berlayar di Tengah Badai: Misbach Tamrin dalam Gemuruh Politik-Seni” yang berlangsung di Galeri Nasional.

Di dalam buku yang membahas kehidupan perupa Misbach Tamrin, kelahiran tahun 1941 di Amuntai, Kalimantan Selatan, yang pernah mendekam selama 13 tahun di penjara Orde Baru karena tuduhan komunis, terungkap bahwa di Kalimantan Selatan relatif tidak terjadi kekerasan antar masyarakat sipil pada tahun peralihan politik tersebut.

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel

Memang ada penangkapan-panangkapan dan kemudian juga penahanan-penahanan tanpa pengadilan –seperti yang dialami Misbach Tamrin dan Toga Tambunan—tetapi berbeda dengan di beberapa daerah di Jawa, Bali atau bahkan Kalimantan Tengah. Di Kalsel tidak ada misalnya perburuan, penyerangan, penangkapan, atau bahkan pembantaian masyarakat sipil terhadap masyarakat sipil lainnya, dalam hal ini para aktivis PKI dan atau yang dianggap terkait dengannya. “Tidak ada yang namanya ‘dibon’ seperti di Jawa seperti yang saya dengar belakangan,” demikian pengakuan Misbach seperti dikemukakan dalam buku.

Acara yang berlangsung akhir pekan lalu (22/11) itu dihadiri Hairus Salim HS dan Hajriansyah yang merupakan penulis buku, dan E. Z. Halim, Sihar Ramses Simatupang, dan Sulistyono yang juga turut menjadi pembahas. 

Misbach sendiri beranggapan  bahwa relatif tidak adanya kekerasan itu karena faktor Jenderal Amir Machmud, Pangdam Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan kala itu, yang menurutnya merupakan pengagum Sukarno. Namun anggapan itu diragukan oleh Toga Tambunan. Menurutnya, ada tiga faktor mengapa masyarakat setempat yang bukan PKI tidak turut mengejar-ngejar atau menumpas orang yang dianggap PKI.

Pertama, lanjutnya, di kalangan masyarakat Banjar saat itu sangat kuat ikatan kekeluargaan. Mereka mengenal istilah bubuhan, artinya anggota keluarga besar. Beberapa orang Banjar sendiri banyak yang aktif di PKI atau pun organisasi yang dekat dengannya. Jadi kekerabatan ini mampu mencegah kekerasan. Tapi selain itu, tambah Toga, orientasi keagamaan orang Banjar sangat moderat. Kebanyakan mereka orang NU. Jadi NU dan juga peran seorang tuan guru di Martapura yang sangat dihormati masyarakat setempat saat itu, punya pengaruh besar tidak terjadinya kekerasan.

Santri An Nur Slawi

Toga menceritakan bahwa sebelum ia tertangkap ia sempat bersembunyi dari satu daerah ke daerah lain di pelosok Kalimantan Selatan dan bertemu dengan banyak orang. Toga yakin mereka tahu siapa tahu siapa sebenarnya ia, tetapi mereka seperti tidak peduli. Bahkan sebagian ada yang membantu, tambahnya.      

Santri An Nur Slawi

Memang Kalimantan Selatan tercatat sebagai basis Partai NU di luar Jawa saat itu, bahkan hingga kini. Ketua Umum NU saat itu adalah KH. Idham Chalid yang berasal dari Kalimantan Selatan. Tak heran kalau di Kalimantan Selatan NU merupakan partai terbesar pada tahun 1965 itu.

Apa yang dikemukakan Toga bisa disebut sebagai kesaksian. Toga bercerita datang ke Banjarmasin tahun 1962 sebagai pegawai kesehatan yang dikirim pemerintah pusat untuk ikut menangani penyakit malaria yang menyebar di kawasan tersebut. Karena senang menulis dan berkesenian, ia kemudian turut mengelola LEKRA Kalimantan Selatan bersama Misbach Tamrin. Hal itulah yang menyeretnya ke tahanan selama 14 tahun, meski ia mengaku bukanlah anggota PKI. “Saya sebenarnya anggota Partindo (Partai Indonesia),” katanya. “Sebelum ke Banjarmasin, saya redaktur kebudayaan Bintang Timur, milik Partindo,” tambahnya seusai diskusi.

Kesaksian Toga Tambunan yang dikemuakan dalam diskusi buku ini cukup menarik perhatian peserta diskusi. Diskusi buku ini sendiri sebenarnya merupakan bagian dari Pameran Tunggal Misbach Tamrin berjudul “Arus Balik” yang pembukaannya berlangsung pada 20 November dan dihelat hingga 30 November 2015 di Galeri Nasional. (Red: Mahbib)

 

Foto: Ilustrasi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Khutbah, Jadwal Kajian, Daerah Santri An Nur Slawi

Gelar Safari, Nusantara Mengaji Ajak Tadarus Al-Quran

Lampung, Santri An Nur Slawi - Nusantara Mengaji menggelar safari dakwah (Safda) bersama Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) di Pesantren Roudlotul Quran Kota Metro, Kamis (26/1). Dihadiri ribuan santri dan masyarakat, safari dakwah diisi dengan khataman Al-Quran 30 juz.

Ketua Koordinator Nasional Nusantara Mengaji Jazilul Fawaid Al-Hafidz mengajak agar masyarakat kembali pada Al-Quran.

Gelar Safari, Nusantara Mengaji Ajak Tadarus Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Safari, Nusantara Mengaji Ajak Tadarus Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Safari, Nusantara Mengaji Ajak Tadarus Al-Quran

"Kita syiarkan lagi gerakan membaca Al-Quran. Kalau masyarakatnya cinta Al-Quran, insya Allah akan lahir pemimpin-pemimpin yang berjiwa Qurani," katanya.

Santri An Nur Slawi

Kegiatan yang dirangkai dengan Haflah Qori-Qoriah ini bertujuan menggerakkan masyarakat untuk cinta dan gemar membaca Al-Quran. Safari ini juga merupakan bentuk penghargaan kepada para penghafal Al-Quran dan napak tilas daerah-daerah yang mempunyai tradisi melahirkan para penghafal dan pembaca Al-Quran.

Santri An Nur Slawi

"Dewasa ini alhamdulillah penghargaan kepada para hamalatil Quran mulai tumbuh di masyarakat, walaupun mereka tidak minta dihargai. Namun dengan memuliakan mereka semoga kita mendapat keberkahan Al-Quran," lanjutnya.

Jazilul yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (Ikaptiq) Jakarta itu mengatakan, selain mengadakan khataman Al-Quran, perjalanan Safda Nusantara Mangaji menelusuri daerah Kalianda, Pringsewu, dan Metro.

Safari ini bertujuan untuk napak tilas ulama-ulama penghafal Al-Quran dan telah banyak berdiri pesantren-pesantren yang berbabasis Al-Quran. (Fa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pertandingan, Khutbah Santri An Nur Slawi

Inilah Beda Puasa Ular dan Puasa Ulat

Jakarta, Santri An Nur Slawi - Wakil Ketua PCNU Sugiarso pada ceramah Tarawih menyampaikan perlunya membaca ayat kauniyah, berupa aktivitas belajar dari alam raya termasuk hewan. Menurutnya, semua hewan pernah berpuasa dengan caranya masing-masing. Ayam berpuasa untuk meneruskan keturunannya dengan cara mengerami telur hingga pecah dan keluar anak ayam.

“Ada dua jenis hewan yang mejadi pelajaran puasa, yakni puasa ular dan ulat. Ulat jika ingin panjang umurnya, maka harus ganti kulit dengan cara berpuasa. Ulat pun sama, jika ingin lebih lama umurnya maka berpuasa yang dalam istilah ilmiahnya mengalami metamorfosis,” terang Wakil Ketua PCNU pada tarawih berjamaah yang diawali dengan buka puasa bersama di Masjid Al-Haq, Pomako, Distik Mimika Timur, Mimika, Ahad (4/6).

Inilah Beda Puasa Ular dan Puasa Ulat (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Beda Puasa Ular dan Puasa Ulat (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Beda Puasa Ular dan Puasa Ulat

Sebelum puasa namanya ular juga ular. Setelah puasa namanya juga ular. Sebelum puasa makanan ular adalah katak. Setelah puasa makanan ular juga katak. Sebelum puasa perilaku ular adalah melata. Setelah puasa ular juga tetap melata.

Santri An Nur Slawi

Ini berbeda dengan ulat. Sebelum puasa namanya ulat. Setelah puasa namanya menjadi kupu-kupu. Sebelum puasa makanan ulat adalah daun. Setelah puasa, makanan ulat sari putik bunga. Sebelum puasa, cara jalan ulat menggeliat. Setelah puasa ulat dapat terbang. ”Bapak dan ibu mau seperti apa, ulat atau ular kah?”

”Ini ular dan ulatnya mau shalawatan ya. Coba kita ikuti ya?” ajak Kang Sugiarso untuk melantunkan Syair Puasa Ulat dan Ulat dengan nada Shalli wa Sallim Da’iman.

Ibu Bapak semua puasa dijaga // jangan sampai tidak dapat apa-apa // dapatnya hanya lapar dan dahaga.

Santri An Nur Slawi

Itu model puasa ular namanya // tidak mengubah itu namanya // tidak mengubah itu bentuknya.

Tidak mengubah itu makanannya //tidak mengubah itu wataknya // tidak mengubah mutu hidupnya.

Beda dengan ulat lalu jadi kupu // telah berubah itu namamu // telah berubah itu makananmu.

Indah bentukmu wahai kupu-kupu //menjadi terbang cara jalanmu // semua orang suka padamu.


Acara ditutup dengan pengumuman program wakaf tanah untuk Kantor PCNU Mimika dengan Bapak? Hamid dan H Taher sebagai petugas wakaf di Daerah Pomako. Panitia juga membagikan lembaran tuntunan shalat malam (qiyamul lail), berupa zzikir, shalat tahajud, shalat tobat, shalat tasbih, dan shalat hajat. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul, Kyai Santri An Nur Slawi

Jumat, 02 Maret 2018

Kisah Kiai Masduqie Machfudh Berdialog dengan Dosen Antiziarah

Ketika Almarhum Kiai Masduqie Machfudh masih kuliah di Jogja, ada salah satu dosennya yang anti terhadap ziarah kubur. Dosen tersebut menyatakan secara terang-terangan bahwa hukum ziarah kubur adalah haram.

Suatu saat Kiai Masduqie Machfudh mendapatkan kesempatan untuk berdialog dengan dosen itu seputar hukum ziarah yang hingga kini masih diperdebatkan itu.

Kisah Kiai Masduqie Machfudh Berdialog dengan Dosen Antiziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kiai Masduqie Machfudh Berdialog dengan Dosen Antiziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kiai Masduqie Machfudh Berdialog dengan Dosen Antiziarah

“Kalau ada ‘amr jatuh setelah nahyi itu hukumnya apa, Pak?” Abah membuka dialog dengan pertanyaan. Dalam kaidah usuhul fiqih, redaksi perintah (‘amr) yang datang setelah adanya larangan (nahy) membuat status hukum suatu perbuatan menjadi boleh.

Sang dosen mengerti tentang kaidah ini dan menjawab, “Mubah.”

Santri An Nur Slawi

“Kalau amr-nya ada qarinah-nya bagaimana, Pak?” Qarinah merupakan keterangan nash yang memperjelas status hukum.

Santri An Nur Slawi

“Ya, sunnah.”

“Pak, mengharamkan suatu hal yang sunah itu hukumnya bagaimana?”

“Ya kufur, dong.”

“Sekarang saya tanya, bagaimana hukumnya ziarah kubur, Pak?”

“Haram.”

Kiai Masduqie lantas menunjukkan bahwa sang dosen sedang mengharamkan perbuatan yang berstatus sunnah. Dengan logika itu, dosen ini secara otomatis masuk dalam kategori orang yang kufur.

Mendengar kata-kata tersebut, sang dosen bertanya keheranan, “Lho, kok gitu?”

Kiai Masduqie lalu menyodorkan hadits shahih yang menunjukan bahwa ziarah kubur itu adalah sunnah, alias mendapat pahala bagi yang mengamalkannya. Dalam hadits tersebut termuat amr yang jatuh setelah nahyi dan amr tersebut juga disertai qarinah yang memberi kesan bahwa perbuatan bersifat positif.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Aku (Nabi SAW) dulu melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah karena yang demikian itu mengingatkan akan kehidupan akhirat.”

Ternyata sang dosen tidak mengetahui keberadaan hadits ini. Sehingga ketika Kiai Masduqie menyodorkan hadits tersebut, sang dosen hanya diam.

Tak semua perbedaan pendapat disebabkan perilaku “asal beda”, atau karena hasrat ingin memusuhi. Seringkali perbedaan dipicu oleh ketakseragaman cara persepsi atau lantaran tidak tahu. Di sinilah pentingnya kemauan untuk terus belajar, berdialog dan tabayun (klarifikasi), sehingga perbedaan yang merupakan rahmat menjadi kian indah karena disikapi secara dewasa tanpa saling membenci.

Indirijal Lutofa, Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Nurul Huda Mergosono Malang asuhan Almarhum Kiai Masduqie Machfudh;? mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Islam, Budaya, Kiai Santri An Nur Slawi