Senin, 27 Maret 2017

KH Miftahul Ahyar: Soal Khilafah, NU telah Belajar dari Sejarah

Surabaya, Santri An Nur Slawi. Sikap para tokoh Nahdlatul Ulama (NU) atas gerakan penegakan khilafah islamiyah bukan tanpa alasan. NU telah belajar sejarah dan tidak gegabah meneriakkan penegakan khilafah secara membabi-buta di tengah masyarakat Islam Indonesia.

Demikian disampaikan KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur kepada Santri An Nur Slawi di Surabaya, Selasa (14/8).

KH Miftahul Ahyar: Soal Khilafah, NU telah Belajar dari Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Miftahul Ahyar: Soal Khilafah, NU telah Belajar dari Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Miftahul Ahyar: Soal Khilafah, NU telah Belajar dari Sejarah

Bila melihat sejarah masa lalu, sebenarnya kelahiran NU pada tahun 1926 masih ada kaitan erat dengan konflik khilafah dunia. Kala itu (1924) Saudi Arabia baru saja dikuasai kelompok Wahabi ingin menjadi tuan rumah Muktamar Dunia Islam dan ingin meneruskan sistem klilafah yang terputus di Turki pascajatuhnya Daulah Utsmaniyah oleh hegemoni Barat.

Namun sayang, saat itu para kiai pesantren “ditilap” oleh kelompok yang seide dengan Wahabi di Indonesia dari calon utusan yang mewakili umat Islam Indonesia. Peristiwa menyakitkan itu tidak pernah dilupakan oleh NU.

Selain itu, dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, banyak ditemukan organisasi yang punya latar belakang Islam, tetapi sikapnya tidak islami. Itulah salah satu sebab yang melatarbelakangi Hadratusy Syeikh KH Hasyim Asy’ari mendirikan NU.

“Siapa yang tidak ingin syariah Islam terlaksana dengan baik, semua ingin. Hanya saja cara mainnya yang cantik, tidak setengah matang gitu,” kata Kiai Miftah.

Santri An Nur Slawi

Dalam pandangan NU, kata pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah Surabaya itu, penyumbang terbesar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah para ulama. Negara dijadikan sebagai lahan dakwah yang potensial. Kalau dasarnya diungkit-ungkit lagi kemudian sampai NKRI pecah menjadi negara-negara federal, akan semakin menyulitkan gerakan dakwah yang sudah dibangun para ulama itu.

Dalam konteks Indonesia, kata Kiai Miftah, model dakwah yang tepat adalah gaya Walisongo, yang membina masyarakatnya lebih dulu secara mantap. “Perlu kita ingat, umat kita ini masih umat dakwah, belum umat ijabah, ini yang harus dimengerti lebih dulu,” tegasnya.

Alumnus Pesantren Sidogiri Pasuruan itu mengaku tidak alergi dengan gerakan penegakan Khilafah yang diusung kelompok Hizbut Tahrir. Hanya saja jalan yang ditempuh dinilai terlalu frontal sehingga bisa dimungkinkan akan mendatangkan kemungkaran yang lebih besar.

“Sebab konsep sebaik apapun, kalau tidak dipersiapkan masyarakat dan instrumennya secara matang, akan gagal, malah yang tidak kita inginkan, bisa-bisa dinilai jadi mungkar,” kata Kiai Miftah menambahkan.(sbh)

Santri An Nur Slawi



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul, Daerah Santri An Nur Slawi

Belajar Perdamaian pada Gus Dur

Buku ini merupakan hasil tesis penulis yang kemudian digubah menjadi buku populer sehingga setiap pembaca mampu mencerna dengan renyah. Selain itu, penulis buku ini menjadi aktifis Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dimana Gus Dur menjadi bagian dari pendiri lembaga ini. Lembaga yang lahir pada 12 Juli 2000 ini berusaha menyebarkan tradisi dialog dalam pengembangan kehidupan keberagamaan yang humanis dan pluralis di tanah air. Selain itu, misi ICRP ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang damai, berkeadilan, setara, persaudaraan dalam pluralisme agama dan kepercayaan, dan penghormatan kepada martabat manusia.

Pendidikan menjadi jembatan penting menuju hal yang ingin kita capai. Dengan perdamaian yang berorientasi pada pengurangan konflik dan mencegah terjadinya kekerasan. Maka, kita tak bisa lepas dari kurikulum pendidikan mencakup subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan etno-kultural dan agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi dan pemahaman atas kemajemukan (pluralitas), kemanusia universal dan subjek-subjek lain yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Abdurrahman Ad-Dakhil sebagai santri genuine mengawali pendidikan dasarnya di pesantren. Berbagai literaratur baik Islam hingga Barat menjadi konsumsinya sejak usia muda. Dengan bacaan yang kuat inilah Gus Dur mampu mengaktualisasikan keilmuan menjadi tindakan kongkret. Sepanjang perjalanan hidupnya, Gus Dur kemudian dikenal sebagai pembela kaum minoritas, penggerak demokrasi, mendorong terwujudnya kehidupan nirkekerasan. (hal. 138)

Tak hanya berhenti pada tataran konsep belaka banyak gerakan yang telah dikerjakan beliau, mulai pembelaan terhadap Jemaah Ahmadiyah, kelompok yang dituduh komunis, kasus tabloid Monitor, peristiwa Banyuwangi dan pembunuhan di Jawa Timur tahun 1998, persoalan etnis Tionghoa dan teorisme (hal 193-206) Pembelaan dan gerakan ini tak lepas dari orientasi kemanusiaan, kebersamaan, kesejahteraan, nilai proporsionalitas, pengakuan terhadap pluralitas dan heterogenitas dan antihegemoni dan antidominasi.

Belajar Perdamaian pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Perdamaian pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Perdamaian pada Gus Dur

Gus Dur memahami bahwa pendidikan Islam tak bisa diejawantahkan dengan baik tanpa menggunakan strategi yang baik. Strategi politik menjadi jalan pertama yang ditempuh. Kedua, strategi kultural; yang menekankan pada basis pesantren sebagai lembaga, satuan, sistem, dan struktur pendidikan yang bisa menyelenggarakan pendidikan secara mandiri. Ketiga, strategi sosio-kultural dengan cara mengembangkan cara berfikir masyarakat dengan mempertahankan nilai-nilai keislaman.

Dalam karangan langsung Gus Dur "Islamku, Islam Anda dan Islam Kita" (2005) secara panjang lebar menerangkan tentang Islam perdamaian dan permasalahan internasional. Walaupun Gus Dur memegang teguh nilai-nilai kepesantrenan dengan kuat beliau mampu memberikan analisis yang kuat mengenai peta perpolitikan dunia internasional. Memberikan pandangan dan alternatif untuk perang Irak, memberikan jalan kerjasama antara Indonesia-Muangthai, memberikan pendapat di forum internasional dan kontribusi lain untuk perdamaian.

Santri An Nur Slawi

Perdamaian menurut Gus Dur bisa diciptakan dan dihapuskan dengan jalan penanganan secara tuntas persoalan utama berupa kesalah pahaman dasar antara ideologi negara dan aspirasi keagamaan. Bila hal pokok ini mampu terselesaikan niscaya para pemegang kekuasaan bisa mengejawantahkan dalam bentuk paket kebijakan prinsipil. Harapan inilah yang disampaikan dalam "Islam Kosmopolitan" (2007) sehingga pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah memahami hal prinsip yang perlu dipegangi dalam menjalankan sebuah kebijakan.

Melihat perdamaian tak bisa dilepaskan dari latar belakang presiden keempat ini beragama Islam. Islam berakar kata dari salam yang berarti perdamaian. Maka Islam adalah perdamaian itu sendiri. Dengan kesadaran penuh Gus Dur mampu mengejawantahkan makna Islam menjadi perdamaian dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita ingin lebih detil menyimak kehidupan cucu pendiri Nahdlatul Ulama ini dari kecil sudah mengenal pluralitas bahkan, Gus Dur mengakui bahwa leluhurnya juga memiliki latar belakang yang beragam.

Dengan kesantrian yang mendarah daging dan referensi keilmuan kitab kuning menjadi pijakan dalam menentukan arah pembicaaan Gus Dur. Permasalahan yang menimpanya mampu diurai dan dicarikan solusi dengan berbagai macam variannya. Kemudian diaktualisasikan dalam implementasikan dalam gerakan sosial, politik dan kemasyarakatan.

Santri An Nur Slawi

Dalam menulis Gus Dur walaupun tak menggunakan footnote sebagaimana kajian ilmiah. Tulisannya menunjukkan kelas seorang yang berpengetahuan luas, banyak tokoh Islam atau non-muslim yang menjadi pijakannya dalam berargumentasi. Hal ini juga dikuatkan bahwa Gus Dur memiliki sederet gelar honouris causa dalam bidang bidang Filsafat Hukum, Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora, kemanusiaan dari berbagai universitas dunia.

Putra menteri agama pertama ini layak menjadi guru bangsa yang baik. Bila kita melihat Gus Dur secara utuh kita bisa mengambil pelajaran yang bisa kita kloning bagi masa-masa kita. Setidaknya terdapat tiga karakter kuat yang tak lepas dari Gus Dur. Pertama, gerakan sosial. Kedua, nilai-nilai luhur yang bisa menerobos apapun sebab nilai ini telah menjadi norma. Ketiga, Gus Dur sebagai seorang aktivis; dia memiliki target dan tujuan yang harus tercapai dalam tiap langkah dan geraknya.

Guru bangsa yang meninggal 30 Desember 2009 selalu memberikan kejutan dalam tingkah lakunya. Berbagai golongan membuat acara doa bersama untuk mengenang jasa dan pemikirannya. Begitu pula buku ini memberikan tambahan kekayaan referensi mengenai perdamaian. Perdamaian itu sendiri bukan sekadar menumpuk sebagai ilmu di universitas namun, menjadi ilmu aplikasi yang terus berkembang dan dikembangkan untuk meminimalkan konflik yang ada Indonesia. Semoga.





Info Buku

Judul : Peace Education dan Pendidikan Perdamaian Gus Dur

Penulis : Ahmad Nurcholish

Penerbit : Elex Media Komputindo

Cetakan : 2015

Tebal : 236 halaman dan xxviii





Peresensi

Mukhamad Zulfa

Pegiat Diskusi Rabu Sore IDEASTUDIES Semarang aktif di jaringan pesantren Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nasional Santri An Nur Slawi

Minggu, 26 Maret 2017

Kompaknya Dua Anggota Banser Ayah dan Anak Ini

Pekanbaru, Santri An Nur Slawi. Ada fakta unik dalam Majelis Maulid Akbar bersama Buya Yahya dari Cirebon di Masjid Raya, Senapelan Pekanbaru Kamis (15/1) malam. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Riau sengaja turut aktif mengamankan acara tersebut.

Dari beberapa Banser yang hadir ternyata ada dua sosok yang masih satu keluarga, yakni Ibadullah Tengku (42) dan anaknya, Bayu Hasan (20). Mereka adalah satu-satunya ayah dan anak yang jadi Banser dan menunaikan tugas pengamanan bersama dalam satu kegiatan malam itu. Pemandangan ini amat jarang ditemukan di tempat lain.

Kompaknya Dua Anggota Banser Ayah dan Anak Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Kompaknya Dua Anggota Banser Ayah dan Anak Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Kompaknya Dua Anggota Banser Ayah dan Anak Ini

Pengamanan terhadap pengajian Maulid Akbar Buya Yahya itu bagi ayah dan anak tersebut adalah tugas perdana mereka. Ibadullah dan Bayu sebelumnya mengikuti pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) bersama di Ponpes NU Madinatul Ulum al Ishlah, Kampar 12 sampai 14 Desember bulan lalu.

Santri An Nur Slawi

Apa tanggapan keduanya di tugas perdananya? Ibadullah mengaku senang dan bangga bisa mengawal kegiatan Buya Yahya dan Majelis Al Bahjaj di Pekanbaru. "Sekaligus kita minta didoakan Buya Yahya biar istiqomah menjadi Banser yang selalu siap ditugaskan menjaga ulama dan panji-panji NU," kata Ibadullah.

Senada dengan sang Ayah, Bayu Hasan juga mengaku senang bisa menjadi bagian dari Banser Riau. Apalagi mereka masuk generasi pertama yang kembali menghidupkan Banser Riau setelah lebih dari 10 tahun seperti "mati suri". "Alhamdulillah rasanya senang sekali, bisa bersama-sama dengan ayah tugas jadi Banser," ujar Bayu.

Santri An Nur Slawi

Ia juga memuji Ayahnya yang mau menyisihkan rezekinya buat belikan seragam Banser buat Bayu dan dua orang temannya. "Ayah nabung dan akhirnya bisa beli seragam Banser buat kami," katanya.

Dalam majelis Maulid Akbar oleh Buya Yahya yang digelar di Masjid peninggalan Sultan Abdul Jalil (pendiri kota Pekanbaru dari kesultanan Siak) dihadiri ratusan jamaah. Buya Yahya menyambut gembira keterlibatan Banser Riau dan berharap bisa terus ikut majelis pengajian yang rutin sebulan sekali digelar itu. (Purwaji/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi RMI NU Santri An Nur Slawi

Kamis, 23 Maret 2017

Fatayat NU Jatim Bekali Calon Pasangan Muda Wawasan Pernikahan

Surabaya, Santri An Nur Slawi. Prihatin dengan minimnya pemahaman pasangan muda terhadap hakikat pernikahan, Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Timur akan melangsungkan diskusi dengan melibatkan sejumlah pihak di Kantor PCNU Jember, Jawa Timur akhir bulan ini.

Yenny Luthfiana kepada Santri An Nur Slawi menandaskan bahwa kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada para calon pasangan muda ketika akan melangsungkan pernikahan.

Fatayat NU Jatim Bekali Calon Pasangan Muda Wawasan Pernikahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jatim Bekali Calon Pasangan Muda Wawasan Pernikahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jatim Bekali Calon Pasangan Muda Wawasan Pernikahan

“Mulai dari pengetahuan yang menyangkut aturan formal yang harus dilalui saat hendak menikah, permasalahan reproduksi, hingga kesetaraan gender,” kata Sekretaris PW Fatayat NU Jawa Timur ini, Rabu (20/8).

Santri An Nur Slawi

Untuk bisa mendapatkan gambaran yang utuh terhadap hal ini, sejumlah narasumber dihadirkan. “Nantinya akan hadir narasumber dari PP Fatayat NU,? PW Fatayat NU Jawa Timur serta dari Kementerian Agama,” katanya.

Masing-masing pihak akan memberikan gambaran tentang hal-hal yang harus difahami oleh setiap calon pasangan yang hendak menikah. “Karenanya kami juga mengundang para stakeholder yang berhubungan dengan pernikahan,” terangnya. Dari mulai kementerian kesehatan yang membawahi sejumlah bidan dan perawat, maupun kementerian agama yang memiliki jaringan para penyuluh agama di berbagai jenjang, lanjutnya.

Santri An Nur Slawi

Pada kesempatan ini juga akan diberikan pemahaman terhadap hakikat kesetaraan gender yang selama ini kurang difahami secara baik. Termasuk bagaimana terjadinya kekerasan yang kerap menimpa rumah tangga.

“Sejumlah permasalahan yang acap menimpa pasangan berupa kekerasan fisik maupun psikhis hingga berujung perceraian akan disampaikan dalam diskusi tersebut,” kata Yenny, sapaan akrabnya. Hal ini sebagai bagian dari pembelajaran dan pembekalan agar tingginya perceraian bisa ditekan.

Dalam pandangannya, pemicu perceraian yang menimpa pasangan muda terjadi lantaran sejak awal kurang memiliki pemahaman yang menyeluruh terhadap hakikat pernikahan. “Menikah tidak semata pengetahuan agama yang menyangkut ijab qabul sebagai prasyarat sah tidaknya sebuah pernikahan,” tandasnya. Namun yang lebih jauh adalah bagaimana setiap pasangan dapat memahami sekaligus memiliki persepsi yang sama dalam membangun mahligai rumah tangga, lanjutnya.

Dari diskusi tersebut, diharapkan juga akan menambah jaringan Fatayat NU di sejumlah daerah. Kemitraan strategis dalam kerja produktif yang menyangkut isu keperempuanan juga akan didalami baik antar instansi pemerintah maupun dengan organisasi yang memiliki perhatian terhadap masalah ini. “Ini juga dalam rangka melebarkan sayap agar kiprah Fatayat NU semakin dirasakan manfaatnya,” pungkas Yenny. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Sunnah, Ulama, Pondok Pesantren Santri An Nur Slawi

Senin, 13 Maret 2017

Halal Bihalal, Muslimat NU Peduli Anak Nasional

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) menggelar Halal Bihalal, Sabtu (23/7) di Pusdiklat Kemensos, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Penyelenggaraan kegiatan bersamaan dengan Hari Anak Nasional yang jatuh pada hari ini.?

Halal Bihalal, Muslimat NU Peduli Anak Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal, Muslimat NU Peduli Anak Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal, Muslimat NU Peduli Anak Nasional

Oleh karena itu, Mulimat NU mengundang ratusan anak untuk menghadiri kegiatan ini. Tak lupa, Muslimat NU juga mengundang Arya Permana (10). Bocah asal Karawang yang terkena obesitas ekstrim. “Ada 200 anak yang kita undang sebagai apresiasi kepada mereka dalam memperingati Hari Anak Nasional,” ujar Ketua Panitia Hj Sri Mulyati kepada Santri An Nur Slawi.

Dalam acara yang dipenuhi suasana baju merah muda yang dikenakan sebagai dresscode para ibu Muslimat NU, Sri Mulyati menyampaikan substansi kegiatan yang ditekankan pada perhatian lebih yang harus diberikan oleh para orang tua kepada anak-anaknya.

“Kami mengajak kepada para ibu Muslimat NU dan para orang tua di seluruh Indonesia agar memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya. Merekalah masa depan kita dan bangsa Indonesia,” tutur dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini yang juga menjelaskan sekitar 500 undangan hadir dalam acara ini yang terdiri dari pengurus wilayah dan cabang yang ada di wilayah Jabodetabek.

Muslimat NU memberikan bantuan dan apresiasi kepada anak-anak yang diundang dalam kegiatan ini. Menurut keterangan Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa, ratusan anak-anak ini berasal dari Yayasan Dinamika Indonesia yang berada di sekitar TPA Bantar Gebang, Bekasi.

Santri An Nur Slawi

“Mereka adalah anak-anak yang luar biasa dengan kondisi dan keadaan yang tidak mendukung,” ujar Khofifah saat memberikan sambutan. Dalam acara ini, Muslimat NU juga menghadirkan Qori pembaca ayat Al-Qur’an dari seorang anak.?

Santri An Nur Slawi

Oleh Muslimat NU, ratusan anak diberikan bantuan berupa tas dan alat belajar lainnya. Selain itu, Muslimat juga memberikan penghargaan khusus kepada sejumlah anak berprestasi disamping kepada para guru dan kepala sekolahnya.?

Kepada bocah Arya, Khofifah juga memberikan penghargaan atas prestasi Arya di sekolah. Sebelumnya, kedatangan Arya dalam acara ini menarik perhatian para undangan yang hadir. Semua terlihat prihatin melihat kondisi Arya yang menanggung berat badan yang tidak wajar disaat dirinya masih anak-anak. Arya Permana hadir didampingi kedua orang tuanya.

Dalam kegiatan ini hadir Dewan Penasihat PP Muslimat NU Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Hj Aisyah Hamid Baidlowi, Hj Mahfudzah Ali Ubaid. Hadir juga Dewan Pakar PP Muslimat NU Hj Huzaemah Tahido Yanggo, Hj Zaitunah Subhan, Hj Nabilah Lubis, serta para pengurus PP Muslimat NU. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Sejarah, Budaya, Kyai Santri An Nur Slawi

Dilantik, Muslimat NU Sulsel Digawangi 63 Doktor, 70 Magister

Makassar, Santri An Nur Slawi - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Hj Khofifah Indar Parawansa melantik Pimpinan Wilayah Muslimat NU Sulawesi Selatan masa khidmah 2016-2021. Kegiatan tersebut yang berlangsung di auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar pada Ahad (31/7) tersebut dirangkai dengan Rapat Kerja dan Halal bihalal.

Hj Khofifah dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus Muslimat NU Sulsel yang baru dilantik. Ia berharap agar pengurus baru mampu membawa Muslimat NU Sulawesi Selatan lebih baik.

Dilantik, Muslimat NU Sulsel Digawangi 63 Doktor, 70 Magister (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Muslimat NU Sulsel Digawangi 63 Doktor, 70 Magister (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Muslimat NU Sulsel Digawangi 63 Doktor, 70 Magister

"Menurut catatan saya, susunan pengurus Muslimat NU Sulsel saat ini kurang lebih ada 63 yang bergelar doktor dan 70 orang bergelar magister sehingga sumber daya manusia lebih dimudah diarahkan kemana, peta dakwahnya seperti apa," katanya.

Dengan sumber daya seperti itu, lanjut Menteri Sosial RI di Kabinet Kerja, ini Muslimat NU Sulawesi Selatan harus bisa menjawab problema masyarakat saat ini, diantaranya radikalisme agama, penyalahgunaan narkoba, pemberantasan korupsi, dan problema masyarakat yang ada.

Santri An Nur Slawi

Sementara Ketua PW Muslimat NU Sulsel Majdah MZ Agus Arifin Numang dalam sambutannya berterima kasih kepada seluruh pengurus cabang yang telah mengamanahkannya kembali sebagai pucuk pimpinan Muslimat NU. Ia menganggap amanah tersebut tentunya adalah amanah yang sangat mulia.

"Muslimat NU tentunya memiliki tugas mengatasi persoalan bangsa kekinian sehingga saya berharap kepada seluruh pengurus untuk menjadi garda terdepan atas persoalan bangsa karena Muslimat dan ibu adalah madrasah awal bagi anak-anak bangsa.”

Santri An Nur Slawi

Pelantikan tersebut PW Muslimat NU Sulsel bersama seluruh ketua dan Pengurus PC Muslimat NU Kabupaten/Kota, Wakil Gubernur Sulsel, Ketua Umum PP Muslimat NU, Ketua NU Sulsel, Ketua IPNU Sulsel, Ketua GP Ansor Makassar, para Ketua Lembaga NU Sulsel menandatangani dan mendeklarasikan Laskar Anti-Narkoba Muslimat NU Sulawesi Selatan. Turut menandatangani Ketua PW Aisiyah Sulsel, para ketua ormas Islam dan seluruh perwakilan ormas keagamaan. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Cerita Santri An Nur Slawi

Minggu, 12 Maret 2017

Catatan di Sekitar Puasa Senin dan Kamis

Bagi pekerja kantoran atau pelajar, Senin menjadi hari menjenuhkan. Senin merupakan hari mereka mengawali aktivitas setelah libur. Senin pagi yang padat menjadi bayangan menyeramkan. Namun, bagi Nabi Muhammad SAW Senin dan Kamis istimewa. Nabi Muhammad SAW memilih dua hari itu untuk ibadah puasa. Apa sebab?

Mungkin karena Senin merupakan hari kelahiran Beliau SAW. Lalu bagaimana dengan Kamis? Masak Rasulullah SAW dilahirkan di hari Kamis juga?

Kutipan hadist oleh Syekh Abu Zakariya Al-Anshori berikut ini dalam karyanya Fathul Wahhab? setidaknya membantu menjawab,

Catatan di Sekitar Puasa Senin dan Kamis (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan di Sekitar Puasa Senin dan Kamis (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan di Sekitar Puasa Senin dan Kamis

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Santri An Nur Slawi

Rasulullah SAW bersabda, “Amal itu diperlihatkan di hadapan Allah pada hari Senin dan hari Kamis. Aku gembira sekali amalku diperlihatkan di saat aku sedang berpuasa.” HR Turmudzi dan selainnya.

Santri An Nur Slawi

Mengenai jam berapa amal itu diperlihatkan, kita tidak menemukan keterangan waktu pada hadits di atas. Apakah jam 8 pagi, jam 10, atau waktu Zhuhur? Syekh Bujairimi dalam karyanya Attajrid Linaf‘il Abid, Hasyiyah ala Fathil Wahhab mengatakan,

? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ungkapan “Di saat aku sedang berpuasa” maksudnya, berdekatan dengan aktivitas puasa. Karena, amal perbuatan diperlihatkan selepas matahari terbenam saat orang sudah membatalkan puasanya.

Syekh Bujairimi masih dalam kitabnya memberi keterangan tambahan,

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pemberitahuan: amal perbuatan seseorang diperlihatkan di hadapan Allah SWT pada hari Senin dan hari Kamis. Di hadapan para nabi, ayah, dan ibu yang bersangkutan sendiri, amal diperlihatkan pada hari Jum’at. Sementara di hadapan Rasulullah, amal seseorang diperlihatkan setiap hari. Dikutip dari Tsa’alabi.

Untuk itu, baik-baiklah berperilaku. Minimal menjaga puasa Senin-Kamis. Karena, segala bentuk aktivitas kita diantarkan malaikat di hadirat Allah, Nabi Muhammad SAW, para nabi, ayah dan juga ibu kita yang terlebih dahulu wafat. Betapa malunya kita bila mereka semua mendapati catatan amal kita hitam kotor? Dan betapa bangganya mereka bila melihat catatan baik amal kita? Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Amalan Santri An Nur Slawi

Sabtu, 11 Maret 2017

Lagi, LD PBNU Bimbing Dua Mualaf Ikrarkan Syahadat

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) untuk ke sekian kalinya membimbing Non-Muslim mengikrarkan dua kalimat syahadat. Kali ini dua orang perempuan bernama Tjindrawati (54) dan Tan Ke Moy (65) memilih NU sebagai tempat ikrarnya menjadi Muslimah pada Jumat (13/10) di Kantor LD PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Lagi, LD PBNU Bimbing Dua Mualaf Ikrarkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, LD PBNU Bimbing Dua Mualaf Ikrarkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, LD PBNU Bimbing Dua Mualaf Ikrarkan Syahadat

Seusai dibimbing salah satu Pengurus LD PBNU, KH Nur Hasyim Ilyas, Tjindrawati mengungkapkan kebahagiaannya setelah resmi menjadi Muslimah. Perempuan yang saat ini tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan itu ingin meneruskan perjuangan suaminya yang juga bergama Islam.

“Senang sekali, soalnya suami saya yang sudah meninggal juga seorang Muslim. Saya bertekad semaksimal mungkin belajar Islam secara mendalam ke depannya,” ujar Tjindrawati diamini Tan Ke Moy.

Tjindrawati saat ini bekerja sebagai wiraswasta di daerah Glodok Jakarta Barat ini mengaku harus berkompromi dengan keluarga terlebih dahulu sebelum ikrar syahadat. Ia merupakan satu-satunya yang beragama Islam di dalam keluarganya yang sekarang sebagian besar beragama Buddha.

“Pada akhirnya mereka mengizinkan dan diserahkan ke diri pribadi masing-masing,” ungkap ibu satu anak ini.

Santri An Nur Slawi

Setelah resmi menjadi mualaf, Tjindrawati bertekad menjalankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya, baik shalat lima waktu, puasa, dan lain-lain.

Santri An Nur Slawi

“Kami memilih NU untuk mengikrarkan syahadat karena kami mengetahui NU mempunyai pandangan keagamaan yang baik,” terang perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat ini. 

Sementara itu, KH Nur Hasyim Ilyas mengatakan, dengan menjadi Mualaf, kedua perempuan yang dibimbingnya itu didorong menyesuaikan dengan ajaran-ajaran Islam, baik soal cara berpakaian, makanan, dan menunaikan kewajiban-kewajiban ibadah.

“Belajar bertahap, tidak harus sekaligus 100 persen berubah. Cari guru yang tepat dalam membimbing dan belajar agama Islam,” ujar Kiai Nur Hasyim sesaat setelah membimbing mengikrarkan dua kalimat syahadat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Doa, Pemurnian Aqidah Santri An Nur Slawi

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

KHA Musallim Ridlo adalah satu mubalig alias singa podium dari Kabupaten Banyumas. Almarhum dikenal sosok ulama yang moderat, guru santri, praktisi politik, dan menjabat Ketua NU Banyumas selama tiga dekade. Beliau wafat seratus hari silam, tepatnya tanggal 1 Mei 2014, pada usia 84 tahun.

“Warga Nahdliyin merasa sangat kehilangan beliau. Kiai Musallim adalah sosok yang sangat konsisten dalam memperjuangkan dan membela NU,” kata Drs H Taefur Arofat, salah satu pengurus PCNU Kabupaten Banyumas.

?

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

Tokoh kelahiran 27 Februari 1932 ini tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Musallim kecil mendapat didikan agama langsung dari sang ayah Almaghfurlah KHA Masruri. Ketika para santri lain masih terlelap tidur, remaja Musallim mengaji seorang diri di bawah penerangan lampu minyak. “Dulu ayah mengaji dari jam 3 dini hari hingga waktu Subuh tiba,” tutur M Ibnu Ridlo (50), putera sulung almarhum.

Santri An Nur Slawi

Selain mengaji ilmu agama, Musallim muda juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (setara SD). Ternyata, kepiawaian Musallim dalam ilmu agama telah diakui sang ayah sekaligus guru saat usianya relalif muda. Suatu hari KHA Masruri akan mengimami salat jamaah seperti hari-hari biasa namun beliau merasa was-was saat hendak takbiratul ihram. Lantas, beliau memilih mundur dan meminta Musallim menggantikannya sebagai imam.

Setamat SR, pemuda Musallim melanjutkan nyantri ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Di sana dirinya banyak belajar dan menimba ilmu dari KH Wahid Hasyim, ayah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “KH Wahid Hasyim adalah inspirator ayah dalam banyak hal,” kata M Ibnu Ridlo.

Santri An Nur Slawi

Kepergian KH Wahid Hasyim yang begitu tiba-tiba dalam sebuah kecelakaan lalu lintas sungguh memukul hatinya. Konon, semangat pemuda Musallim sempat drop sepeninggal Kiai Wahid. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, beliau melanjutkan studi ke pesantren asuhan KH Bisri Mustofa di Rembang, JawaTengah. Sepulang nyantri dari Tebuireng dan Rembang, Kiai Musallim mulai berkiprah di bidang dakwah, pendidikan, dan politik.

Beliau mendapat amanah sebagai Ketua Partai NU Cabang Kabupaten Banyumas, saat itu partai politik sebelum berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam dunia pendidikan, almarhum turut serta merintis berdirinya Yayasan Perguruan Al-Hidayah yang berkantor pusat di Karangsuci Purwokerto bersama KH Muslich, KHM Sami’un, dan sejumlah ulama lain.

?

Politik dan Dakwah

Kiprah sebagai wakil rakyat dimulai saat beliau terpilih sebagai anggota DPR-GR Jawa Tengah (1971). Selanjutnya menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyumas hingga tahun 1992. Semasa Ketua DPRD Kabupaten Banyumas dijabat Kisworo, dirinya menjabat Wakil Ketua DPRD bersama Agus Taruno.

Pada 1992-1997 KHA Musallim duduk sebagai anggota DPR-RI dari PPP. “Dalam dunia politik, Kiai Musallim dikenal sebagai sosok yang lurus ibarat penggaris; lempeng kaya garisan,” ujar Bupati Achmad Husein, seperti ditirukan M Ibnu Ridlo.

Aktivitas dakwah dan politik dilakoninya secara tulus dan penuh sukacita. Mengisi ceramah pengajian hingga pelosok pedesaan adalah hal dinantikan umat. Bahasa ceramahnya blakasuta alias lugas, tanpa tedheng aling-aling, sehingga mudah dicerna oleh kalangan awam sekalipun.

Sekadar catatan, beberapa tahun silam, Eyang Singa setiap malam Jumat Kliwon mengisi acara Gendu-Gendu Rasa di RRI Purwokerto. Hal ini diakui banyak pihak sebagai kiprah nyata dalam upaya nguri-nguri (baca: melestarikan) Bahasa Jawa dialek Banyumasan.

Demikian halnya dengan KHA Musallim Ridlo. Dalam aktivitas dakwahnya beliau sangat konsisten dengan dialek Banyumasan. Dalam konteks ini, Kiai Musallim adalah sosok ulama moderat-visioner yang layak menyandang gelar Pelestari Dialek Ngapak.

KHA Musallim Ridlo telah berpulang ke hadirat Allah, Kamis (1/5) silam. Jenazah almarhum dikebumikan di komplek Pondok Pesantren Al-Masruriyah Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. Dari pernikahannya dengan Nyai Solihah, beliau dikaruniai lima orang putra: M Ibnu Ridlo, Niswati Amanah, M Aman Ridlo, HM Maskun Ridlo, dan M Hanif Ridlo. Kini dakwah beliau di Pesantren Al-Masruriyah dilanjutkan HM Maskun Ridlo alias Gus Maskun. (Akhmad Saefudin)

Foto: KHA Musallim Ridlo (kanan) saat bersama KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi AlaNu, Meme Islam, Khutbah Santri An Nur Slawi

Kamis, 09 Maret 2017

Sebulan Penuh, IPNU-IPPNU Pangkah Gelar Ngaji Jelang Buka Puasa

Tegal, Santri An Nur Slawi - Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada Ramadhan ini Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal mengadakan tadarus Al-Quran di sambung dengan buka puasa bersama.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk ibadah dan ikhtiar untuk tetap menjaga komunikasi antarpengurus IPNU-IPPNU di tingkat anak cabang dan ranting, serta segenap badan otonom NU selama bulan Ramadhan.

Sebulan Penuh, IPNU-IPPNU Pangkah Gelar Ngaji Jelang Buka Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebulan Penuh, IPNU-IPPNU Pangkah Gelar Ngaji Jelang Buka Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebulan Penuh, IPNU-IPPNU Pangkah Gelar Ngaji Jelang Buka Puasa

“Namun momen Ramadhan kali ini ada yang berbeda, di mana kegiatan yang dipusatkan di gedung MWCNU Kecamatan pangkah Kabupaten Tegal ini diadakan satu bulan full selama bulan suci Ramadhan dan diikuti oleh seluruh Pimpinan Ranting/Pimpinan Komisariat se-Kecamatan Pangkah,” tutur ketua IPNU Kecamatan Pangkah Moh Naenul Rizqoni, Rabu (8/6).

Santri An Nur Slawi

Tadarus rutin setiap bada ashar sampai dengan waktu maghrib ini juga diselingi dengan Kuliah Ashar yang diisi oleh jajaran kepengurusan MWCNU setempat dengan tema kajian yang bebeda-beda.

Rizqoni mengatakan, kegiatan ini menjadi wahana pelajar NU untuk mengaji ilmu dan diskusi sebagai modal untuk pengabdian masyarakat di masing-masing desa. Menurutnya, pengabdian tersebut merupakan tanggung jawab seorang kader intelektual muda Ahlussunah wal Jamaah.

“Alhamdulillah, program yang awalnya dijalankan atas dasar intruksi dari MWCNU Pangkah ini mendapat apresiasi oleh Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat yang ada, serta mendapat dukungan penuh dari Dewan Pembina (IPNU-IPPNU setempat) dan segenap jajaran pengurus MWCNU Pangkah,” ujarnya.

Santri An Nur Slawi

Hal senada disampaikan Nurrofiudin selaku Pembina PAC IPNU Kecamatan Pangkah yang juga pernah menahkodai IPNU di Kecamatan Pangkah. Ia menyampaikan rasa bangga ketika melihat semangat kader-kader muda NU. Menurutnya, semangat persatuan dan kekompakan pengurus merupakan harga mati yang harus di miliki oleh suatu organisasi.

Ketua MWCNU Kecamatan Pangkah H M.Muntoyo berharap adanya komitmen IPNU-IPPNU dari tingkat desa untuk bersama-sama bersinergi membantu syiar Ahlussunah wal Jamaah dan membangun NU Kecamatan Pangkah yang lebih bermartabat.

“Mari satukan tekad membangun NU Pangkah dengan penuh semangat dan keikhlasan untuk kemaslahatan bersama,” ajak Ketua MWCNU. (Abdul Wahab/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian, Syariah, IMNU Santri An Nur Slawi

Sabtu, 04 Maret 2017

1000 Personel Keamanan Muktamar Digembleng ala Marinir

Jombang, Santri An Nur Slawi. Seribu personil dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Pencak Silat NU Pagar Nusa, dan Corps Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar NU akan mendapat gemblengan oleh Marinir di Mako Marinir Karang Pilang Surabaya. Mereka dipersiapkan untuk menjaga keamanan pada Muktamar ke-33 NU yang bakal digelar di Jombang, 1-5 Agustus mendatang.

"Untuk keamanan muktamar ini, sesuai rencana melibatkan 1000 personel. Mereka akan mendapat pelatihan di Mako Marinir, Karang Pilang, Surabaya. Pelatihan khusus berlangsung selama satu minggu, peserta akan dikirim secara bertahap," ujar Zulfikar D Ikhwanto Ketua GP Ansor Jombang.

1000 Personel Keamanan Muktamar Digembleng ala Marinir (Sumber Gambar : Nu Online)
1000 Personel Keamanan Muktamar Digembleng ala Marinir (Sumber Gambar : Nu Online)

1000 Personel Keamanan Muktamar Digembleng ala Marinir

Dikatakan, 1000 personel tim keamanan muktamar itu terdiri dari 750 anggota Banser, 50 personel dari Corps Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar NU, dan 200 pendekar PSNU Pagar Nusa. "Panitia memprediksi jumlah peserta dan pengunjung muktamar mencapai 40 ribu orang, sehingga butuh tenaga keamanan yang memiliki kemampuan memadai sekaligus persiapan matang," tandasnya.

Santri An Nur Slawi

Personel keamanan Muktamar ke 33 NU ini lanjutnya diambilkan dari kader-kader terbaik badan otonom NU.  Mereka direkrut melalui seleksi ketat, untuk bisa bergabung sebagai tim keamanan muktamar. "Menu pelatihan nanti meliputi fisik dan mental, sehingga bisa menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan muktamar," jelas Zulfikar.

Muktamar ke-33 NU rencananya bakal dihadiri Presiden Joko Widodo serta Wapres Jusuf Kalla. Sebagai tuan rumah, Pemkab Jombang tidak ingin tamu yang datang mendapat kesulitan, baik akomodasi maupun transportasi. Adapun lokasi Mukamar bakal menempati lima tempat. "Alun-alun Jombang sebagai lokasi utama, kemudian Pesantren Tebuireng, Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, dan Pesantren Darul Ulum Rejoso, serta Pesantren Mambaul Maarif Denanyar," kata Mundjidah Wahab, Wakil Bupati Jombang.

Santri An Nur Slawi

Menurut rencana, sebanyak 1.200 orang peserta menempati Pesantren Tebuireng, Kemudian Pesantren Bahrul Ulum sebanyak 1.200 peserta. Sementara pesanten Darul Ulum Rejoso sebanyak 1000 peserta, dan pesantren Mambaul Maarif sebanyak 500 peserta. (Muslim Aburrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Tokoh, AlaNu, Hikmah Santri An Nur Slawi

Jumat, 03 Maret 2017

Gus Yahya Baca Skema Politik Saudi atas Ketegangannya dengan Iran

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf memandang ketegangan Saudi-Iran sengaja diciptakan oleh pihak Saudi. Gus Yahya menganggap Saudi membutuhkan situasi tegang sebagai pintu masuk untuk merekatkan kembali negara-negara sekutunya yang kini dirasa mengendur di tengah konflik panjang Timur Tengah.

“Saya menduga, Saudi memang sengaja memicu dan membangun skenario konflik ini. Masuknya Rusia dan Cina ke dalam pertarungan militer seputar Syiria telah mengubah peta secara dramatis sampai-sampai kepemimpinan dan arahan Saudi mulai diragukan oleh sekutu-sekutunya sendiri,” kata Gus Yahya dalam akun fesbuknya, Kamis (7/1).

Gus Yahya Baca Skema Politik Saudi atas Ketegangannya dengan Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yahya Baca Skema Politik Saudi atas Ketegangannya dengan Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yahya Baca Skema Politik Saudi atas Ketegangannya dengan Iran

Ia melihat barisan sekutu Saudi yang mengendur. Saudi tidak ingin kepercayaan sekutunya semakin memudar dan bergerak ke arah yang lebih parah. Makanya Saudi membutuhkan momentum untuk rekonsolidasi.

Santri An Nur Slawi

Dengan konflik belakangan ini dengan Iran, Saudi mencoba menggalang kebersamaan dari sekutunya. Lewat isu Suni-Syiah, Saudi menarik garis pemisah antara sekutu dan pesaingnya. Karenanya Saudi mencari jalan untuk bersitegang dengan Iran, kata Gus Yahya.

Konflik kedua negara bertetangga ini awalnya dipicu oleh eksekusi Al-Nimri yang disusul demonstrasi sampai lempar bom molotov ke gedung kedutaan Saudi.

Santri An Nur Slawi

Spekulasi Gus Yahya ini cukup beralasan. Menurutnya, Al-Nimri sudah bertahun-tahun mengumbar agitasi keras terhadap penguasa Saudi. Kalau mau, Saudi bisa dan punya alasan untuk memancungnya sejak dahulu.

“Kenapa sekarang? Apakah lemparan bom molotov sudah cukup jadi alasan pemutusan hubungan? Sepele amat? Kalau jadian betul perang Saudi-Iran, kekacauan di kawasan itu memang akan gila benaran,” tandas Gus Yahya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi RMI NU Santri An Nur Slawi

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

(Surat Terbuka untuk Ketua Umum PB PMII 2005-2008)

Oleh: Kholilul Rohman Ahmad*


Muktamar ke-2 Partai Kebangkitan Bangsa di Semarang bulan lalu menjadi salah satu ruang strategis untuk mengkaji dinamika kontemporer gerakan mahasiswa di bawah payung Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dalam even nasional itu terjadi interaksi warga PMII antar generasi. Dunia mahasiswa yang penuh dengan idealisme ternyata tidak kemudian menanggalkan minat dalam hiruk pikuk politik praktis. Hal ini mungkin lantaran beberapa alumni PMII yang sudah menjadi politisi di Senayan sebagai wakil rakyat dari berbagai partai politik ikut nimbrung dalam pesona nostalgis itu. Tak pelak, di tengah perhelatan itu PMII memanfaatkan menggelar acara temu warga dan alumni.

Tak ayal dalam forum informal itu muncul pertanyaan tentang siapa yang dinilai kuat menjadi ketua Umum Pengurus Besar PMII menggantikan sahabat A Malik Haramain yang akan habis jabatan. “Siapa yang kira-kira kuat menggantikan Malik,” tanya salah seorang warga PMII. Tiba-tiba warga lain spontan nyelethuk: “Tergantung siapa nanti yang jadi ketua PKB.” Entah jawaban spontan itu guyonan  atau serius. Penulis husnudzon saja dengan jawaban itu dan menilainya sebagai guyonan  tanpa tendensi apa-apa. Namun penulis menangkap di balik jawaban itu tersimpan kenyataan politik bahwa di tubuh PMII telah ada yang beberapa warganya yang terkontaminasi “virus” politik praktis. Atau jawaban itu dapat ditangkap sebagai penanda bahwa realitas politik praktis telah merambah di dunia pergerakan mahasiswa.

Celethukan itu dapat diartikan dengan dua analisa. Pertama, memang sebagai guyonan. Dalam arti hal itu tidak perlu dianggap serius, terlebih ia muncul di tengah gelak tawa dan ketimpangan nasib beberapa alumni yang berhasil menjadi politisi dan tidak. Kedua, bisa jadi suara itu memang representrasi atas kenyataan yang tengah terjadi di tubuh PMII(?). Jika yang pertama menjadi kenyataan, tentu tak jadi soal. Namun jika yang kedua yang tengah menjangkiti PMII, harus dimaknai sebagai refleksi bahwa selama ini gerakan intelektualitas PMII sedang mengalami krisis.

Oleh sebab itu, jika dalam pasca kongres ke-XV ini tidak ada upaya merevitalisasi PMII kepada khittah-nya sebagai organ pergerakan mahasiswa bersama rakyat, tidak ada upaya serius mengembalikan ruh PMII sebagai pendamping rakyat, maka tamatlah riwayat PMII sebagai gerbong gerakan mahasiswa yang gagasannya selama ini dinilai senantiasa konsisten di jalur politik non partisan alias selalu berpihak kepada nasib rakyat.

Harus diakui dewasa ini, setidaknya sejak reformasi bergulir tahun 1998, kiprah PMII sebagai organ mahasiswa sejati banyak dipertanyakan, baik oleh sesama aktivis mahasiswa maupun di kalangan internal PMII sendiri. Pasalnya kecenderungan yang cukup mewabah bahwa, misalnya, seorang kader untuk bisa menjadi “orang” harus mempunyai patron yang kuat di atasnya, baik politisi senior maupun pengusaha. Seolah untuk sukses meniti karir pasca mahasiswa harus melewati jalur politik patronase seperti jaman Orde Baru. Padahal sesungguhnya dunia mahasiswa harus meninggalkan sistem patronase seperti itu karena yang lebih kuat untuk dijadikan patron adalah rakyat.

Namun kenyataan ini tak bisa disalahkan pada salah satu pihak. Sebab kenyataan politik yang menggairahkan bagi siapapun untuk cepat meniti karir juga menjangkiti organisasi mahasiswa pada umumnya. Meskipun demikian bukan berarti di dunia pergerakan mahasiswa semuanya berperilaku seperti itu.

Yogyakarta sebagai sentral pergerakan PMII sepuluh tahun silam, dalam lima tahun belakangan telah kehilangan ruhnya. Kader-kader yang sering mewarnai media massa dengan artikel-artikel kritisnya, misalnya, telah banyak mengalami kemunduran dari segi kuantitas dan kualitas. Bahkan kota-kota lain lebih sibuk bagaimana warga PMII menjadi patron alumni atau “orang kuat lain” yang sedang menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif. Padahal menjadi kewajiban bagi PMII untuk tetap konsisten memposisikan dirinya sebagai insan kreatif di tengDari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Warta, Ulama Santri An Nur Slawi

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

Kamis, 02 Maret 2017

Rampak Bedug Semarakkan Makesta IPNU-IPPNU di Cisarua

Sumedang, Santri An Nur Slawi. Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan pembentukan Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sukses dilaksanakan selama dua hari pada 1-2 Februari 2014 di Madrasah Riyadul Jinaan Kecamatan Cisarua.

Rampak Bedug Semarakkan Makesta IPNU-IPPNU di Cisarua (Sumber Gambar : Nu Online)
Rampak Bedug Semarakkan Makesta IPNU-IPPNU di Cisarua (Sumber Gambar : Nu Online)

Rampak Bedug Semarakkan Makesta IPNU-IPPNU di Cisarua

Penampilan rampak bedug oleh para santri Madrasah Riyadul Jinaan Kecamatan Cisarua memeriahkan acara pembukaan kegiatan pengaderan IPNU-IPPNU kali ini. Makesta secara resmi dibuka MWCNU Kecamatan Cisarua Kiai Aceng Mahmud

Santri An Nur Slawi

Selain para para santri Madrasah Riyadul Jinaan yang tersebar di seluruh Kecamatan Cisarua, hadir pula pada kesempatan ini Ketua MUI Kecamatan Cisarua, Sekretaris MWCNU Kecamatan Cisarua Kiai Subhan Taufik, Ketua PC IPNU Sumedang Salman Al-Farishi, dan pimpinan Madrasah Riyadul Jinaan, Ustad Suryana.

Santri An Nur Slawi

Subhan Taufik berharap, PAC IPNU-IPPNU Cisarua menjadi motivator bagi para remaja di Kecamatan Cisarua, khususnya dalam hal organisasi. Pihaknya merasa terbantu dengan keberadaan organisasi beranggotakan para pelajar ini dalam hal pendidikan agama.

“Semoga ini menjadi awal kebangkitan yang manis bagi IPNU-IPPNU serta NU di kecamatan Cisarua,” ucapnya.

Di akhir acara, evaluasi dan pemilihan ketua PAC IPNU-IPPNU Cisarua pun dilakukan. Cepi terpilih sebagai ketua PAC IPNU Cisarua dan Linda Sri Wulandari sebagai ketua PAC IPPNU Cisarua. Dalam sambutan penutupan, Ketua PC IPNU Sumedang Salman Al-Farishi berpesan tentang tanggung jawab pelajar NU.

“Ingatlah bahwa kalian di IPNU-IPPNU itu sebagai anak dari para kiai, ulama, da ustadz-ustadz di sini, maka sudah menjadi kewajiban kalian untuk membantu para ayah-ayah kalian di NU dan membantu tugas mereka mengabdi pada masyarakaat dengan cara mengawal para pelajar di kecamatan ini agar tidak melakukan hal-hal yang negatif. Terus semangat, belajar, berjuang, bertaqwa!” ujarnya. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Sejarah, Humor Islam Santri An Nur Slawi