Kamis, 10 Desember 2009

Penerapan Ilmu Perawatan Mesin dalam Menjaga Keimanan

Oleh Rulli Rachman



Memahami agama bisa dengan berbagai cara. Paham tidak hanya secara literal tapi juga penghayatan dan pengamalannya. Penghayatan dan amal ini yang penting menurut saya, karena Islam adalah jalan hidup untuk mencapai taraf keberserahdirian yang hakiki. Yang utama tentu saja dengan mengkaji Al-Qur’an sebagai petunjuk umat Islam. Dalam ilmu yang saya tekuni, saya menemukan adanya korelasi tertentu antara ilmu perawatan mesin dengan agama. Berikut penjelasannya.

Penerapan Ilmu Perawatan Mesin dalam Menjaga Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Penerapan Ilmu Perawatan Mesin dalam Menjaga Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Penerapan Ilmu Perawatan Mesin dalam Menjaga Keimanan

Ilmu perawatan mesin mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Generasi pertama sekitar tahun 1940 s/d 1950 menerapkan metode perawatan breakdown maintenance – memperbaiki mesin hanya di saat mengalami kerusakan. Kemudian berkembang ke generasi kedua sampai tahun 1980. Generasi ini sudah mengenal konsep perencanaan dalam organisasi kegiatan perawatan dan mulai menggunakan alat bantu komputer tipe awal –komputer dengan ukuran besar dan lamban dalam proses data. Sampai akhirnya generasi modern memperkenalkan konsep perawatan mesin terbaru yang bernama Reliability Centered Maintenance (RCM)– perawatan mesin berbasis kehandalan (reliability). Konsep dasar dari sistem perawatan ini adalah melakukan berbagai teknik perawatan untuk menjaga supaya si mesin tetap berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. Strategi perawatan ini dikembangkan dari industri aviasi (penerbangan) yang menuntut performa dan faktor keselamatan (safety) yang tinggi.

Beberapa teknik perawatan yang termasuk di dalamnya misalnya perawatan harian (daily maintenance), perawatan berkala (preventive maintenance), perawatan korektif (corrective maintenance) dan pengamatan mesin berbasis kondisi (condition monitoring).

Ilmu perawatan mesin ini sesungguhnya bisa diterapkan dalam usaha kita untuk menjaga keimanan dan meningkatkan ketakwaan. Filosofinya juga sama: bagaimana caranya supaya manusia itu tetap menjalankan fungsinya dengan baik yakni menjadi khalifah di muka bumi.

Santri An Nur Slawi

Kita ambil contoh obyeknya adalah mesin diesel. Metode perawatan harian yang dilakukan pada mesin diesel terdiri dari pemeriksaan tekanan oli, mencatat temperatur air pendingin, pengamatan kondisi mesin secara visual dan lain-lain. Perawatan harian ini biasa disebut juga first line maintenance, karena gejala kerusakan mesin dapat dideteksi secara dini dari pengamatan rutin.

?

Sedangkan perawatan harian yang bisa kita lakukan untuk menjaga keimanan adalah tentu saja dengan menjalankan kewajiban shalat lima waktu, berzikir sesudah shalat, bertafakkur –merenungi kesalahan-kesalahan kecil yang mungkin kita perbuat dalam waktu seharian. Shalat malam pun sebaiknya dimasukkan dalam jadwal perawatan harian. Bukankah shalat termasuk dalam baris pertahanan pertama untuk mencegah dari perbuatan keji dan mungkar?

Perawatan berkala (preventive) yang dilakukan pada mesin diesel biasa dilakukan dalam kurun waktu 6 (enam) bulan atau satu tahun, tergantung dari kondisi si mesin. Beberapa task yang termasuk dalam perawatan berkala ini terdiri dari pembersihan filter udara (ganti apabila memang sudah kotor), penggantian oli berikut filternya, setel klep –katup isap dan katup buang- untuk memperoleh settingan pembakaran yang sempurna, periksa injektor bahan bakar dan sebagainya. Bahkan mungkin perlu dilakukan pemeriksaan pada ruang bakar yang sudah kotor akibat deposit dan kerak yang menempel.

Santri An Nur Slawi

Perawatan berkala atau perawatan yang sudah terjadwal waktunya untuk diri kita sebagai insan akan kita temui pada bulan Ramadhan ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, kewajiban puasa Ramadhan harus kita jalani sekali dalam waktu satu tahun. Dan waktunya sudah ditentukan pada bulan Ramadhan sehingga tidak dibenarkan apabila kita mengerjakan puasa sebulan penuh ini di waktu yang lain. Melalui puasa Ramadhan ini maka tubuh kita akan dibersihkan dari syahwat dan hawa nafsu, supaya jiwa kita kembali bersih, mencapai fitrah di hari raya nanti.

Mengeluarkan zakat juga bisa dimasukkan dalam kategori perawatan berkala. Kalau sudah masuk nishab-nya maka wajib dikeluarkan zakatnya.

?

Lain halnya dengan perawatan korektif. Moda perawatan ini dilakukan apabila mesin mengalami kerusakan minor sehingga perlu diambil tindakan. Sama seperti mesin yang mungkin saja tiba-tiba mengalami kerusakan ini, kita pun juga mengalami hal yang sama. Bisa jadi tanpa diduga kita mengalami musibah-musibah kecil yang sesungguhnya kejadian ini bisa dijadikan refleksi perbaikan ibadah kita.

Misalnya uang kita hilang, mungkin itu bentuk teguran bahwa kita masih kurang sedekahnya. Misalnya lagi usaha kita jadi bangkrut, mungkin ada yang salah dalam usaha kita entah kita melakukan kecurangan, praktik korupsi atau menikung orang lain. Atau perut kita sakit (mules) bisa jadi pertanda bahwa kita sudah mengkonsumsi makanan yang notabene bukan merupakan hak kita. Bisa jadi.?

Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi breakdown, kerusakan parah. Contoh, mesin diesel bisa saja mengalami overheat apabila air pendingin ruang bakar tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Kondisi ini berakibat pada tidak bisa beroperasinya mesin selama beberapa waktu. Tentu saja karena harus dilakukan perbaikan termasuk penggantian material dan suku cadang yang rusak. Belum lagi kalau ternyata suku cadang yang dibutuhkan tidak tersedia di gudang, maka harus menunggu pengiriman.

Kita pun bisa saja mengalami breakdown ini. Saat kita dianugerahi dengan penyakit sehingga mengharuskan kita untuk beristirahat selama beberapa hari, sebenarnya saat itulah Allah sedang melakukan pembersihan `terhadap dosa kita. Jadi jangan berburuk sangka pada Allah, dipikirnya kalau kita sakit itu berarti disiksa. Justru itu sebagai ujian untuk kita supaya naik level ke arah yang lebih baik.

Pada akhirnya bagaimana caranya kita menjaga supaya keimanan kita tetap dalam kondisi prima, bahkan meningkat. Pemeliharaan untuk menjaga kondisi mesin bisa diimplementasikan pada keseharian ibadah kita.?

Tidak ada mesin yang tidak bisa diperbaiki. Setiap jenis kerusakan pasti ada penyebabnya. Begitu pun dengan diri kita, kerusakan-kerusakan kecil (dosa) sebaiknya langsung ditanggulangi untuk mencegah kerusakan yang lebih besar. Minimal istighfar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, sejatinya adalah bentuk taubat yang paling kecil. Wallahualam?

Penulis adalah menikmat kopi, bola, dan buku. Bisa dihubungi di (https://www.facebook.com/rulli.rachman ), twitter @RulliSisko

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Olahraga, Kajian Santri An Nur Slawi

Senin, 14 September 2009

Habib Umar: Istighfar, Obat Segala Problema

Brebes, Santri An Nur Slawi. Problematika hidup manusia dapat diatasi dengan membaca istighfar. Lafal istighfar dapat menyapu dosa-dosa baik dosa besar maupun dosa kecil. Di samping menghapus dosa, istighfar dapat membuka pintu rezeki dan meningkatkan derajat manusia. Rasulullah SAW sendiri yang sudah dijamin diampuni dosanya tetap beristighfar sedikitnya 100 kali per hari.

Demikian disampaikan Habib Umar Muthohar saat mengisi Haul ke-3 KH Masruri Abdul Mughni dan Haul ke-18 Ny Hj Adziyah binti H Miftah di masjid Annur pesantren Al-Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes, Sabtu (25/10) sore.

Habib Umar: Istighfar, Obat Segala Problema (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Umar: Istighfar, Obat Segala Problema (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Umar: Istighfar, Obat Segala Problema

Menurut Habib Umat, perjalanan hidup manusia itu seperti aliran sungai yang kerap mendapatkan kotoran sehingga menghambat perjalanan air. Kotoran itu dosa-dosa yang harus kita keruk, bersihkan dengan istighfar. “Mintalah ampun kepada Allah SWT setiap saat, setiap waktu,” ajaknya.

Santri An Nur Slawi

Habib Umar juga mengajak warga belajar agama Islam di pesantren. “Untuk menjadi jenderal urusan agama, ya belajarlah ke pondok,” ucapnya. Jangan sampai mengaji hanya lewat radio-radio liar yang tidak dikenal kredibiltas keimanan dan keilmuannya.

Biasanya yang sering kita dengar di radio-radio liar itu senang membid’ah-bid’ahkan haul, tahlil, manaqib.

Santri An Nur Slawi

Lebih dari 10 ribu pengunjung memadati haul. Mereka datang dari seluruh penjuru Nusantara. Mereka terdiri atas alumni, keluarga alumni maupun orang tua santri, dan santri yang masih mondok di pesantren Al Hikmah 2. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Islam Santri An Nur Slawi

Sabtu, 15 Agustus 2009

IPPNU Pantura Diminta Proaktif dalam Pengkaderan

Pati, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), meminta agar pimpinan IPPNU di wilayah Pantura terus melakukan pengkaderan. Meskipun hanya terdiri dari tujuh cabang, IPPNU harus selalu solid di kawasan pantura.

IPPNU Pantura Diminta Proaktif dalam Pengkaderan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Pantura Diminta Proaktif dalam Pengkaderan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Pantura Diminta Proaktif dalam Pengkaderan

Hal itu disampaikan saat Ketua Umum IPPNU Farida Farikha di hadapan Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Lasem, Blora, DAN Grobogan yang tergabung dalam Pimpinan Wilayah Pantai Utara (PW Pantura) saat melakukan silaturrahim di Korda Pati, Selasa (13/8) kemarin.

Farida mengajak, kaderisasi yang dilakukan oleh tujuh cabang yang solid tersebut bisa terus dilakukan agar nantinya akan ikut serta mendukung dan membantu proses kaderisasi yang dilakukan oleh PW Pantura.

Santri An Nur Slawi

Sementara itu, Ketua Korda IPNU-IPPNU Pati, Muhamad Mubarok mengatakan, setelah bulan kemarin mengadakan Diklatmad, pihaknya berencana mengadakan Latpel dalam waktu dekat, sebagai ajang kaderisasi bagi para pelatih dari perwakilan se-Ekskarisidenan Pati.

“Panitia penyelenggara sudah terbentuk begitu juga waktu dan tempat telah ditentukan yaitu di Ponpes Sukolilo Kab Pati,” tambah Barok.

Santri An Nur Slawi

Barok juga berharap agar pelatihan tersebut bisa mendapatkan bimbingan dari Pimpinan Pusat sebagai mana pelatihan yang Diklatnad CBP-KPP yang di gelar di Kudus pada pertengahan bulan kemarin.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Asmu’i

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hikmah, Kiai, Hadits Santri An Nur Slawi

Jumat, 03 Juli 2009

KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa

Oleh Munawir Aziz

Jaringan ulama santri berjuang secara gigih dalam memperjuangkan negeri. Perjuangan para kiai dan santri pesantren dimulai embrionya sejak berabad silam. Catatan sejarah menunjukkan, bahwa jaringan pesantren berkontribusi penting dalam perlawanan kolonial pada masa Perang Jawa (1825-1830). Para kiai pesantren menjadi tulang punggung laskar pendukung Dipanegara dalam Perang Jawa.

KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa

Akan tetapi, fakta sejarah ini terkesan hanya samar-samar dituliskan. Narasi pengetahuan dan ilmu sosial di Indonesia, belum memberikan ruang yang lebar bagi aksi para kiai-santri dalam berjuang melawan penjajah serta mengawal kemerdekaan Indonesia. Dari riset tentang Perang Jawa mutakhir, yang tampil justru para ksatria yang dianggap berjuang dengan gagah. Sedangkan, para kiai-santri dikesampingkan dalam peranan menghadapi tentara Belanda (Carey, 2007; Djamhari, 2004).

Pada titik ini, jaringan ulama-santri perlu dibangkitkan kembali dalam narasi sejarah dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Penulisan ulang, dengan sudut pandang yang berimbang, serta memberi ruang bagi kisah-kisah para kiai pesantren perlu dihadirkan untuk dipahami pembaca.

Kisah para Kiai dalam jaringan Perang Jawa, memunculkan nama Kiai Hasan Tuqo serta putranya Syekh Abdurrauf yang menjadi panglima perang pada masa itu. Perjuangan Kiai Hasan Tuqo dan Syekh Abdurrauf, diteruskan oleh cucunya, Kiai Dalhar bin Abdurrahman yang berjuang dalam mengawal santri berjuang pada masa kemerdekaan. ?

Santri An Nur Slawi

Kiai Dalhar lahir di kawasan pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang. Beliau lahir pada 10 Syawal 1286 H/ 12 Januari 1870. Nama kecilnya adalah Nahrowi, nama pemberian orang tuanya.

Nasab Kiai Dalhar tersambung pada trah Raja Mataram, Amangkurat III. Ayah Kiai Dalhar bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo. Pada waktu perjuangan Perang Jawa, Kiai Abdurrauf membantu Dipanegara berjuang di tanah Jawa. Kiai Abdurrauf dikenal sebagai salah satu Panglima Perang Dipanegara, membantu laskar pada Perang Jawa. Dari silsilah Kiai Hasan Tuqo, tersambung kepada Raja Amangkurat III (memerintah 1703-1705), atau Amangkurat Mas. Kiai Hasan Tuqo memiliki nama ningrat, yakni Raden Bagus Kemuning.

Pada waktu itu, Kiai Hasan Tuqo tidak senang berada di kawasan Keraton, serta memilih untuk memperdalam ilmu agama. Kiai Hasan Tuqo kemudian memilih menyepi di kawasan Godean, Yogyakarta. Nama desa Tetuko sampai sekarang masih masyhur sebagai petilasan Kiai Hasan Tuqo.

Pada waktu Perang Jawa (1825-1830) meletus, Pangeran Dipanera dibantu oleh barisan kiai yang berjuang untuk melawan Belanda. Di antaranya, tercatat nama Kiai Modjo, Kiai Hasan Besari, Kiai Nur Melangi, serta Kiai Abdurrauf. Putra Kiai Hasan Tuqo, Kiai Abdurrauf inilah yang mendapat tugas sebagai panglima Perang Dipanegara, yang menjaga kawasan Magelang. Pada kisaran awal abad 19, kawasan Magelang menjadi jalur penting dalam ekonomi dan politik, karena menjadi titik pertemuan dari kawasan Yogykarta menuju Temanggung dan Semarang di daerah pesisiran. Kiai Abdurrauf menjadi panglima untuk menjaga wilayah Magelang, serta memberi pengaruh penting penganut Dipanegara di kawasan ini.

Demi menjaga kawasan Magelang dan mendukung pergerakan Dipanegara, Kiai Abdurrauf bertempat di kawasan Muntilan, yakni di Dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Muntilan. ? Di kawasan ini, Kiai Abdurrauf mendirikan pesantren untuk mengajar ilmu agama kepada pengikutnya dan warga sekitar. Dukuh Santren di Desa Gunungpring menjadi saksi perjuangan dakwah dan militer Kiai Abdurrauf.

Santri An Nur Slawi

Rihlah ilmiyyah Kiai Dalhar

Kiai Dalhar mewarisi semangat dakwah dan perjuangan dari ayah dan kakeknya. Sejak kecil, beliau haus akan ilmu agama, dengan mengaji dan belajar di pesantren. Pada umur 13 tahun, Nahrowi (Dalhar kecil) mulai belajar mondok. Ia mengaji kepada Mbah Kiai Mad Ushul di kawasan Mbawang, Ngadirejo, Salaman, Magelang. Di pesantren ini, Kiai Dalhar belajar ilmu tauhid selama 2 tahun.

Setelah itu, Dalhar kecil melanjutkan mengaji di kawasan Kebumen. Ayahnya menitipkan Kiai Dalhar di pesantren Sumolangu, di bawah asuhan Syaikh as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani, atau dikenal sebagai Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani. Ketika mengaji di pesantren Sumolangu, Kiai Dalhar mengabdi di ndalem sang Syaikh selaam delapan tahun. Hal ini, merupakan permintaah Kiai Abdurrahman kepada Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani.

Pada tahun 1314 H/1896, putra Syaikh Abdul Kahfi at-Tsani berniat untuk belajar di Makkah. Sang Syaikh memerintah Kiai Dalhar agar menemani putranya, yakni Sayyid Muhammad al-Jilani al-Hasani. Di Makkah, dua pemuda pengabdi ilmu ini, diterima oleh Syaikh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani, yang merupakan kerabat dari Syaikh Ibrahim al-Hasani. Syaikh Sayyid Muhammad Babashol, pada waktu itu merupakan Mufti Syafiiyyah Makkah. Di rubath kawasan Misfalah, Kiai Dalhar bersama Syaikh Muhammad al-Jilani al-Hasani bermukim selama mengaji di Makkah.

Pada tahun pertama Kiai Dalhar mengaji di Makkah, terjadi peristiwa penyerangan Hijaz oleh tentara Sekutu. Tanah Hijaz yang masuk dalam kuasa Turki Utsmani diserang oleh tentara sekutu. Syekh Muhammad al-Jilani mendapat tugas untuk berjuang membantu perlawanan tanah Hijaz, setelah 3 bulan mengaji. Sedangkan, Kiai Dalhar beruntung dapat terus mengaji selama 25 tahun di tanah suci.

Di tanah Hijaz, nama "Dalhar" menemukan sejarahnya, yakni pemberian dari Syaikh Sayyid Muhammad ? Babashol al-Hasani, hingga tersemat nama Nahrowi Dalhar. Kiai Dalhar memperoleh ijazah mursyid Thariqah Syadziliyyah dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani.

Dari jalur thariqah inilah, Kiai Dalhar dikenal sebagai mursyid, sufi, ulama alim, sekaligus penggerak perjuangan pada masa kemerdekaan di Indonesia. Kiai Dalhar menurunkan ijazah thariqah syadziliyyah kepada 3 orang muridnya, yakni Kiai Iskandar Salatiga, Kiai Dhimyati Banten, dan Kiai Ahmad Abdul Haq.

Ketika mengaji di Makkah, secara istiqomah Kiai Dalhar tidak pernah buang hadats di tanah suci. Ketika ingin berhadats, Kiai Dalhar memilih pergi di luar tanah Suci, sebagai bentuk penghormatan. Inilah bentuk tadzim sekaligus sikap istiqomah Kiai Dalhar yang telah teruji.

Kiai Dalhar dikenal menulis beberapa kitab, di antaranya: Kitab Tanwir al-Maani, Manaqib Syaikh as-Sayyid Abdul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar as-Syadzili al-Hasani, Imam Tariqah Saydziliyyah. Kiai Dalhar juga menjadi rujukan beberapa kiai yang kemudian menjadi pengasuh pesantren-pesantren ternama. Di antara murid Kiai Dalhar, yakni Kiai Mashum (Lasem), Kiai Mahrus Aly (Lirboyo), Abuya Dhimyati (Banten), Kiai Marzuki Giriloyo serta Gus Miek.

Gus Miek juga dikenal dekat dengan Kiai Dalhar. Dalam catatan Ibad (2007: 31), Gus Miek bisa membina hubungan dengan Mbah Jogoroso, Kiai Ashari, Gus Mad putra Kiai Dalhar, Kiai Mansyur dan Kiai Arwani. Kemudian, mata rantai berlanjut, dari Kiai Ashari, Gus Miek membina hubungan dengan Kiai Abdurrahman bin Hasyim (Mbah Benu) dan Kiai Hamid Kajoran. Lalu, dari Kiai Hamid Kajoran, Gus Miek berinteraksi dengan Mbah Juneid, Mbah Mangli dan Mbah Muslih Mranggen.

Perjuangan kebangsaan

Ketika era perjuangan melawan rezim kolonial, peran Kiai Dalhar tidak bisa dilupakan. Para pejuang di kawasan Magelang, Yogyakarta, Banyumas dan kawasan Bagelen-Kedu datang ke pesantren Kiai Dalhar untuk meminta doa. Oleh Kiai Dalhar, para pejuang diberi asma, doa dan ijazah kekebalan, serta diberi bambu runcing yang telah diberi doa. Dikisahkan, ketika para pejuang menggempur Belanda di kawasan Benteng Ambarawa, dimudahkan oleh Allah dengan semangat dan kekuatan. Dorongan doa dan semangat yang diberikan Kiai Dalhar serta beberapa kiai lainnya, menambah daya juang para santri untuk bertempur mengawal kemerdekaan.

Pertempuran laskar santri dan pemuda melawan tentara sekutu, meletus pada 21 November 1945. Atas desakan laskar dan tentara rakyat, yang dikomando oleh Jendral Soedirman, tentara sekutu mundur ke Semarang. Namun, mundurnya Sekutu juga membuat ribut di Ambarawa, yang kemudian disebut Palagan Ambarawa. Pada perang ini, Laskar Hizbullah dari Yogyakarta dan kawasan sekitar, bersatu dengan beberapa tentara rakyat mengepung Ambarawa. Laskar Hizbullah Yogyakarta mengirim Batalyon Bachron Edrees, tepatnya di kawasan Jambu dan Banyubiru.

Front Ambarawa dikepung dari beberapa penjuru. Kawasan Selatan dikepung pasukan gabungan dari Surakarta dan Salatiga. Utara ditempati pasukan Kedu dan Ambarawa, dari sisi Timur hadir pasukan Divisi IV BKR Salatiga. Pihak Belanda dan tentara Sekutu bermarkas di Kompleks Gereja Margo Agung, serta pos militer di perkebunan. Laskar santri di bawah komando Bachron Edress berhasil mengakses front Ambarawa. Laskar-laskar santri dan pemuda yang bertempur di Ambarawa, sebagian besar sowan ke Kiai Dalhar Watucongol dan Kiai Subchi Parakan untuk minta doa sebelum bergerilya.

Mbah Kiai Dalhar mencatatkan sejarah dalam jaringan ulama Nusantara, sebagai rujukan keilmuan, perjuangan serta sufisme dalam tradisi pesantren. Kiai Dalhar wafat pada 23 Ramadhan, bertepatan dengan 8 April 1959. Jasad Kiai Dalhar dikebumikan di pemakaman Gunungpring, Watucongol, Muntilan, Magelang. Kisah perjuangan dan keteladanan Kiai Dalhar menjadi bukti betapa penting jaringan ulama-santri dalam mengawal negeri, menjemput kemerdekaan Indonesia[]. ?

Penulis adalah Wakil Sekretaris LTN PBNU, Peneliti Islam Nusantara.

Referensi:

Carey, Peter. The Power of Propechy, Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855. Leiden: KITLV. 2007.

Djamhari, Saleh Asad. Strategi Menjinakkan Dipanegara: Stelsel Benteng, 1827-1830. Depok: Komunitas Bambu. 2004.

Hadi, Murtadho. Jejak Spiritual Abuya Dimyathi. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2009

__________________. Suluk Jalan Terbatas Gus Miek. Yogyakarta: LKIS. 2007.

Ibad, Muhammad Nurul. Pelajaran dan Ajaran Gus Miek. Yogyakarta: LKIS. 2007

Tim Buku PWNU Jawa Timur. Peranan Ulama Pejuang Kemerdekaan. Surabaya: PWNU Jawa Timur.

Thomafi, Muhammad Luthfi. Mbah Mashum Lasem. Yogykarta: LKIS. 2007

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hadits Santri An Nur Slawi

Minggu, 28 Juni 2009

LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU

Kudus, Santri An Nur Slawi. Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah menyebarkan ratusan kotak infaq. Hal ini untuk mempermudah masyarakat mendermakan uang infaq dan sedekah melalui lembaga di bawah naungan Pengurus Cabang NU (PCNU) Kudus ini.

Ketua LAZISNU Kudus Syaroni Suyanto menjelaskan, ratusan kotak infaq berlabel LAZISNU tersebut ditempatkan di beberapa toko maupun warung nasi, serta dibagikan kepada pengurus NU mulai ranting hingga cabang. Tiap satu bulan sekali, uang dari kotak akan diambil oleh petugas LAZISNU. ?

LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU

"Sebelumnya, LAZISNU izin dulu dengan pemilik toko atau warung untuk bisa titip kotak infaq. Alhamdulillah, semuanya memberi izin dan berkenan menjaga keamanan kotak," terangnya kepada Santri An Nur Slawi, Jumat (13/3).

Santri An Nur Slawi

Ia mengatakan, LAZISNU Kudus kini sedang menggerakkan empat program utama, yakni NUpreneur, NU Skill, NU Smart dan NU Care. Masing-masing program dimaksudkan untuk membantu kesejahteraan fakir miskin, kaum dhuafa, dan anak yatim piatu.

Santri An Nur Slawi

"Hasil pengumpulan dana zakat, infaq, sedekah, termasuk dari uang kotak infaq itu, akan dikelola dan disalurkan untuk program kepedulian sosial yang dikembangkan LAZISNU," ujarnya.

Hingga kini, imbuh Syaroni, LAZISNU telah menggerakkan berbagai program sosialnya di Kudus. Di antaranya, santunan anak yatim piatu hingga pemberian nasi kotak kepada kaum dhuafa. "Setiap Jumat kita membagikan 50 nasi kotak untuk kaum dhuafa di seluruh kecamatan secara bergantian," katanya.

Ia mengharapkan masyarakat yang ingin menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah atau CSR perusahaan, bisa menghubungi? kantor LAZISNU di Jalan Pramuka 20, Kudus, atau khusus sedekah bisa dimasukkan ke kotak yang tersedia. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pertandingan Santri An Nur Slawi

Minggu, 14 Juni 2009

MUI Semarang: Islam Jamin Kedamaian Semua Umat Beragama

Jakarta, Santri An Nur Slawi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang berupaya mengawal harmoni Islam dengan memegang teguh syariah dan dialog kebangsaan. Hal ini dalam rangka mewujudkan Kota Semarang yang kondusif dan bersahabat. Kalau Semarang kondusif, insya Allah Indonesia akan damai.

MUI Semarang: Islam Jamin Kedamaian Semua Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Semarang: Islam Jamin Kedamaian Semua Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Semarang: Islam Jamin Kedamaian Semua Umat Beragama

Demikian ditegaskan Ketua MUI Kota Semarang KH M Erfan Soebahar saat bertemu Pj Walikota M Tavif di Balaikota, Rabu (10/2), sebagaimana siaran pers yang diterima Santri An Nur Slawi. Jika ulama sebagai tokoh agama Islam kompak menjalin persaudaraan, lanjut Erfan, maka suasana Indonesia semakin nyaman.

"Pengurus MUI yang akan dikukuhkan 5 Maret 2015 disusun dari semua perwakilan tokoh ormas Islam," tegas Erfan didampingi Sekretaris KH Amin Farih dan delapan pengurus lainnya. Diharapkan para tokoh Islam ini terjalin komunikasi yang intens dalam mendorong Semarang lebih agamis dan maju dalam segala aspek.

Santri An Nur Slawi

Menyinggung maraknya aliran radikal yang menjurus para tindak terorisme, MUI akan berusaha merangkul semua masyarakat untuk menjauhi sikap itu. Sebab bangsa Indonesia berdiri tegak menjadi NKRI yang menyatukan segala macam perbedaan dengan cara silaturrahim.

Menanggapi hal itu, Tavip Supriyanto Pj Walikota menyambut baik pengurus baru MUI Kota Semarang yang selalu bersinergi pemerintantah. "Jalinan komunimasi umara dan ulama memang sangat penting. Dan Pemkot sebagai representasi umara dan MUI sebagai ulama memang harus selalu bermitra," tegas Tavip.

Santri An Nur Slawi

Dalam rangka itu, Pemkot akan membantu kegiatan MUI dan menginginkan MUI semakin aktif mengawal problem keagamaan khususnya Islam. Nasihat dari ulama sangat dibutuhkan oleh masyarakat Semarang. "Jadi ulama yang bergabung di MUI, selalu ditunggu oleh masyarakat luas peran aktifnya," imbuh Tavip yang akan mengakhiri jabatan Pj Walikota 17 Februari 2016.

Sekretaris MUI KH Amin Farih menambahkan, Islam yg terwadahi dalam MUI bertujuan untuk kedamaian umat dan bangsa khususnya masyarakat Semarang dengan pola Islam rahmatan lil alamamin. Yaitu Islam yang menjamin kedamaian tidak hanya untuk muslim saja, tapi untuk kedamaian semua umat dan Nusantara.

MUI dibangun dengan prinsip mengedepankan kesatuan bangsa dengan karakter Islam nusantara bercirikan agama Islam Indonesia. Sehingga dalam kepengurusan MUI memasukan juga muslim tionghoa. "Jadi semua Ormas kita wadahi" pungkas Amin.

Setelah beraudiensi dengan Pj Walikota, pengurus MUI bersilaturahim dengan walikota terpilih Hendi Hendrarprihadi di rumah pribadi Lempongsari. Hendi menyambut positif komitmen MUI dalam membangun ukhuwah islamiyah untuk mendukung program Pemkot lima tahun ke depan.

Hendi ingin Islam berkembang pesat di Semarang. Tentunya Islam yang moderat dengan cara selalu rembug bareng? dalam mengurus? umat dan warga Semarang. Semua isu agama harus diselesaikan dengan baik, jangan sampai ada konflik agama di Kota Semarang dan MUI yang bisa menjadi imamnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Budaya, Syariah, Nusantara Santri An Nur Slawi

Sabtu, 18 April 2009

Selain Insentif Bulanan, Guru Ngaji di Jember Gratis Biaya Kesehatan

Jember, Santri An Nur Slawi - Perhatian Pemkab Jember terhadap guru ngaji cukup tinggi. Selain memperoleh insentif Rp. 1,2 juta per tahun, sekitar 13.500 guru ngaji yang telah terverifikasi juga menerima insentif lain. Para guru ngaji berhak menerima layanan kesehatan gratis dari rumah sakit milik pemerintah daerah dan Puskesmas.

"Kalau bapak-bapak sakit, langsung ke rumah sakit. Gratis. Kalau petugas rumah sakit tidak mau melayani, silakan kasih tahu buku tabungannya," kata Bupati Jember Faida saat menyerahkan honor guru ngaji tahap kedua di Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Sukowono, Jember, Ahad (18/6).

Selain Insentif Bulanan, Guru Ngaji di Jember Gratis Biaya Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Insentif Bulanan, Guru Ngaji di Jember Gratis Biaya Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Insentif Bulanan, Guru Ngaji di Jember Gratis Biaya Kesehatan

Buku tabungan yang dimaksud adalah buku tabungan BRI yang telah diperoleh guru ngaji untuk mencairkan honor, dan itu menjadi identitas yang bersangkutan sebagai guru ngaji yang telah terverifikasi.

Santri An Nur Slawi

Selain insentif uang, Pemkab Jember juga membuka peluang bagi anak-anak guru ngaji untuk mendapatkan beasiswa pendidikan di perguruan tinggi. Sebab Pemkab Jember telah mengalokasikan anggaran beasiswa bagi 5.000 orang.

"Saya berharap dari 5.000 itu nantinya ada anak-anak dari para guru ngaji," jelasnya.

Santri An Nur Slawi

Itu semua, menurut Faida, merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada para guru ngaji yang telah berjuang untuk membentuk generasi yang Qurani.

"Sebab sejatinya, membangun Jember adalah membangun sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang unggul adalah sumber daya yang Qurani," kata Faida. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian, Daerah, Ulama Santri An Nur Slawi

Minggu, 12 April 2009

Munas NU Bahas Enam Rekomendasi Penting untuk Pemerintah

Lombok Barat, Santri An Nur Slawi. Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2017 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) membahas enam persoalan penting pada Komisi Rekomendasi, Jumat (24/11/2017).

Dalam sidang yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Labuapi, Lombok Barat itu, Masduki Baidlowi sebagai pimpinan sidang komisi menjelaskan enam persoalan penting tersebut.

Munas NU Bahas Enam Rekomendasi Penting untuk Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas NU Bahas Enam Rekomendasi Penting untuk Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas NU Bahas Enam Rekomendasi Penting untuk Pemerintah

Enam pokok persoalan tersebut ialah pertama, ekonomi dan kesejahteraan. Kedua, penanggulangan radikalisme. Ketiga, sosial dan kesehatan. Keempat, pendidikan. Kelima, politik dalam negeri dan internasional, dan keenam, perdamaian timur tengah.

“Keenam persoalan tersebut dibahas untuk mengerucutkan tema besar Munas dan Konbes NU 2017 di NTB ini,” jelas Masduki Baidlowi.

Santri An Nur Slawi

Sidang yang dihadiri oleh para pengurus PWNU dari seluruh Indonesia ini menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya, Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid, Komisioner Ombudsman RI Ahmad Suaedy, Ketua Lembaga Pedidikan Ma’arif NU KH Arifin Junaidi, dan Ketua PP Fatayat NU Anggiar Ermarini.

Gus Yahya dalam arahannya menegaskan, NU sebagai jam’iyah atau organisasi telah banyak berkiprah untuk kepentingan agama, bangsa, dan negara bahkan dalam skala global. Forum Munas dan Konbes NU ini, menurut keponakan Gus Mus tersebut merupakan salah satu wadah untuk menghasilkan keputusan-keputusan penting.

Ia menyinggung persoalan radikalisme sebagai persoalan pelik yang sampai saat ini masih perlu pencegahan, baik secara ideologis maupun identifikasi hal-hal yang menjadi dampak timbulnya gerkan-gerakan radikal.

“Bagi saya, penting untuk memahami persoalan radikalisme ini dari berbagai sisi, baik itu ekonomi, tatanan sosial, dan lain-lain,” kata Gus Yahya.

Ia sering melihat upaya propaganda radikal di berbagai kanal media. Kelompok radikal selalu menghadirkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis sebagai alat pembenaran gerakannya.

Santri An Nur Slawi

“Jadi, penting bagi kita untuk memahami dalil-dalil agama dan akar persoalan radikalisme itu sendiri,” terangnya.

Sampai berita ini ditulis, diskusi keenam item rekomendasi tersebut sedang dibahas secara serius untuk menghasilkan rumusan yang matang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Habib, AlaNu, Syariah Santri An Nur Slawi

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat

Majalengka, Santri An Nur Slawi. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) KH Abdul Manan A Ghani menegaskan fungsi masjid sebagai pusat ? pemberdayaan masyarakat. Kegiatan masjid harus bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat, termasuk khotbah Jumat.

Menurut Manan, tidak relevan seorang khotib yang gencar menggaungkan isu-isu internasional, dengan mengabaikan keterpurukan rakyat yang sedang dihadapi. Padahal, jamaah membutuhkan pencerahan dan solusi untuk memecahkan persoalan mereka.

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat

“Khotibnya bicara Osama bin Laden, Palestina, dan seterusnya. Padahal, jamaahnya bingung dikejar-kejar rentenir. Jadi khotbah perlu disesuaikan dengan masyarakatnya,” ujarnya saat memberikan materi Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) LTMNU Kabupaten Majalengka dan Kota Cirebon di Sumberjaya, Majalengka, Jawa Barat, Ahad (6/1) petang.

Santri An Nur Slawi

Manan menjelaskan, masjid tak sebatas tempat upacara peribadatan, seperti shalat. Seperti diteladankan Nabi, tempat suci ini juga berguna untuk menyelesaikan berbagai problem sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Santri An Nur Slawi

Manan menyayangkan khotbah di sejumlah masjid yang muatan materinya jauh dari persoalan konkret masyarakat sekitarnya. Alih-alih member solusi, para khotib justru menggaungkan wacana yang tidak kontekstual, atau bahkan provokasi permusuhan.

?

?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Internasional Santri An Nur Slawi

Senin, 09 Maret 2009

Kemenag Bojonegoro Gelar Aksioma Olahraga dan Seni

Bojonegoro, Santri An Nur Slawi . Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bojonegoro kembali menggelar Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) ke V tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI). Kegiatan untuk meningkatkan prestasi siswa siswi tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun.

Kemenag Bojonegoro Gelar Aksioma Olahraga dan Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Bojonegoro Gelar Aksioma Olahraga dan Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Bojonegoro Gelar Aksioma Olahraga dan Seni

Kegiaatan bertema “Dengan ajang kompetisi seni dan olahraga madrasah (aksioma), kita wujudkan tali persaudaraan, prestasi, sportivitas, kreativitas siswa madrasah untuk menggapai insan yang sehat, cerdas, terampil dan berakhlaqul karimah” dibuka pada dan dilaksanakan di halaman MAN 2 Bojonegoro, Sabtu (21/3).

Kepala Kemenag Kabupaten Bojonegoro, A. Munir mengaku, Aksioma tingkat madrasah ibtidaiyah yang kelima diikuti seluruh siswa siswi setelah seleksi tingkat kecamatan. "Kegiatan rutin ajang siswa untuk melakukan kreativitas meningkatkan prestasi di bidang seni dan olahraga, rutin dilaksanakan setiap tahun," jelasnya.

Santri An Nur Slawi

Tujuannya sebagai bentuk implementasi siswa dan melakukan kreasi bidang seni olahraga. Di samping itu Aksioma juga ajang KSM (sains). "Harapan kita anak-anak bisa melakukan kreatifitas olahraga dan seninya," jelas mantan Kepala Kemenag Paciran itu.

Warga Kecamatan Kepohbaru itu juga menuturkan, selain membangun silaturrohim antar mmadrasah dan lembaga, baik tingkat kecamatan, daerah, provinsi bahkan tingkat nasional nanti.

Santri An Nur Slawi

Sementara itu ketua panitia Aksioma Kabupaten Bojonegoro, Ali Mujahidin mengaku, pelaksanaanya olah raga dan seni secara teknis mengacu Aksioma Provinsi Jawa Timur. Tetapi masing-masing mengacu cabang perlombaan secara nasional.

"Setelah seleksi di tingkat Kabupaten Bojonegoro, akan dikirim ke tingkat provinsi Jawa Timur," ujarnya usai pembukaan di halaman MAN 2 Bojonegoro.

Ia menambahkan, ada beberapa perlombaan yang dipertandingkan. Di bidang olahraga termasuk bola volly, tenis meja, bulu tangkis, lari sprint, lompat jauh, tolak peluru dan catur. Sedangkan cabang kesenian, diantaranya Munasabah Tilawatil Quran (MTQ), baca puisi, melukis, kaligrafi, pidato resmi 3 bahasa (Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris)seni samroh dan paduan suara.

Rencananya Aksioma Provinsi akan dilaksanakan tanggal 25 sampai 27 Maret 2015 di Kabupaten Gresik. "Yang dikirim ke Provinsi, juara satu semua perlombaan," pungkasnya. [YaZid/Abdullah]

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Anti Hoax, Santri Santri An Nur Slawi

Minggu, 18 Januari 2009

Ketum PBNU: KH Hasyim Muzadi Sosok Panutan

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj ikut berduka secara mendalam atas meninggalnya KH Ahmad Hasyim Muzadi, Kamis (16/3) di kediamannya Komplek Pesantren Al-Hikam Malang, Jawa Timur.

Ketum PBNU: KH Hasyim Muzadi Sosok Panutan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: KH Hasyim Muzadi Sosok Panutan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: KH Hasyim Muzadi Sosok Panutan

Menurutnya, Kiai Hasyim merupakan tokoh ulama dengan kiprah yang baik sehingga menjadi seorang tokoh panutan. Tak ada yang mengelak kiprah kiai kelahiran Bangilan, Tuban 72 tahun yang lalu itu, baik secara nasional dan internasional.

“Inna lillahi wa inna ilayhi raajiun. Nahdliyin sangat kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, KH Ahmad Hasyim Muzadi, yang berpulang pada pagi ini. Beliau adalah sosok panutan yang telah banyak meninggalkan uswah hasanah,” ujar Kiai Said, Kamis (16/3) di Jakarta.

Menurutnya, dedikasi Kiai Hasyim untuk Nahdlatul Ulama sangat luar biasa dan tidak pernah surut. Kiai Hasyim merupakan tokoh NU, yang berkhidmah sejak dari tingkat ranting hingga Pengurus Besar.?

Santri An Nur Slawi

“Kematangan organisasi, pengabdian sekaligus kepemimpinan beliau tidak diragukan lagi,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Kiai Said tidak memungkiri dan bahkan dia menyaksikan sendiri kiprah gemilang Kiai Hasyim ketika memimpin organisasi.?

Santri An Nur Slawi

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana kiprah dan dedikasi beliau ketika mengayomi umat, mendampingi warga nahdliyin dan mengurus Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

“Saya sepuluh tahun mendampingi beliau, ketika berkhidmat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” imbuh Kiai Said.

Atas nama PBNU dan Nahdliyin, Kiai Said turut berduka cita dan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Kiai Hasyim, juga menyampaikan penghargaann yang setinggi-tingginya atas jasa-jasa beliau selama ini.

"Semoga beliau mendapatkan maghfirah dan lempang jalan cahaya menuju Allah SWT," tandas Kiai Said mendoakan.? (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Santri, Sholawat Santri An Nur Slawi

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru

Bojonegoro, Santri An Nur Slawi. Pasca Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur KH Misbah Syakur wafat, posisinya kosong sebelum diadakan pelantikan. Namun setelah diadakan rapat tertutup pengurus harian Syuriyah PCNU Bojonegoro di Kantor PCNU, jalan Ahmad Yani Bojonegoro, Sabtu (14/9), KH Maimun SyafiI terpilih sebagai Rais Syuriyah 2013-2018.

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru

Usai rapat Katib PCNU BOjonegoro sekaligus pemimpin rapat dan notulensi KH Moh Shofiyullah menerangkan pertemuan di sore itu terkait dengan pengisian posisi kosong, yakni Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro sepeninggal KH Misbah Syakur yang wafat beberapa waktu lalu. Rapat terbatas itu menghadirkan Wakil Rais Syuriyah KH Makmur Soelaiman, KH Munaamul Khoir, KH M Saifuddin Zuhri, KH Abdul Muhaimin Rifai, KH Masyhuri, KH Asfiror Ridlwan, KH M Ghufron Umar, dan Kiai Muhammad Harsono. 

Dari Katib Syuriyah, mereka yang hadir Wakil Katib Kiai Asyrofi, KH M Jauharul Maarif, Agus Sholahuddin, KH Muhammadun, KH Famudji, KH M Zuhri, H Syaroni, dan H Habrun Hasan. Rapat ini juga dihadiri Ketua Tanfidziyah terpilih 2013-2018 H Cholid Ubed.

Santri An Nur Slawi

Setelah ditawarkan proses pemilihan yang dilakukan secara demokrasi, berdasarkan AD/ART organisasi NU, disepakati voting tertutup. "Hasil kesepakatan rapat yang sesuai AD/ART ini terpilih KH Maimun Syafi sebagai Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro 2013-2018, yang sebelumnya menduduki Mustasyar," ujar KH Shofiyullah kepada Santri An Nur Slawi.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Rosyid Dander Bojonegoro itu, langkah selanjutnya yang akan dilakukan, mengajukan permohonan Surat Keputusan (SK) dan sekaligus membahas persiapan pelantikan.

Santri An Nur Slawi

Pasalnya pembahasan terkait pelantikan akan dibahas bersama dan tentunya membentuk kepanitiaan. "Rencananya pelantikan akan dilaksanakan setelah musim haji," terangnya. Namun kegiatan akan berjalan sesuai bidangnya masing-masing seperti halnya Aswaja Center yang terus mengadakan kegiatan.

Sementara dalam kesempatan terpisah, Cholid Ubed mengatakan jika pertemuan itu merupakan wilayah syuriyah untuk memilih rais pengganti. "Siapapun yang terpilih sebagai Rais Syuriyah atau Owner PCNU Bojonegoro, kita mengikuti," jelasnya.

Terpilihnya KH. Maimun Syafii sudah sesuai AD/ART dan sesuai kesepakatan seluruh pengurus yang mengikuti rapat. "Langkah selanjutnya keputusan ini akan dikirim ke PWNU Jatim untuk dilantik," ungkapnya.

Setelah pelantikan nanti, seluruh pengurus PCNU akan segera melaksanakan agenda program kerja yang dibuat dan kegiatan-kegiatan lainnya. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Halaqoh, Sunnah, Tokoh Santri An Nur Slawi