Sabtu, 18 April 2009

Selain Insentif Bulanan, Guru Ngaji di Jember Gratis Biaya Kesehatan

Jember, Santri An Nur Slawi - Perhatian Pemkab Jember terhadap guru ngaji cukup tinggi. Selain memperoleh insentif Rp. 1,2 juta per tahun, sekitar 13.500 guru ngaji yang telah terverifikasi juga menerima insentif lain. Para guru ngaji berhak menerima layanan kesehatan gratis dari rumah sakit milik pemerintah daerah dan Puskesmas.

"Kalau bapak-bapak sakit, langsung ke rumah sakit. Gratis. Kalau petugas rumah sakit tidak mau melayani, silakan kasih tahu buku tabungannya," kata Bupati Jember Faida saat menyerahkan honor guru ngaji tahap kedua di Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Sukowono, Jember, Ahad (18/6).

Selain Insentif Bulanan, Guru Ngaji di Jember Gratis Biaya Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Insentif Bulanan, Guru Ngaji di Jember Gratis Biaya Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Insentif Bulanan, Guru Ngaji di Jember Gratis Biaya Kesehatan

Buku tabungan yang dimaksud adalah buku tabungan BRI yang telah diperoleh guru ngaji untuk mencairkan honor, dan itu menjadi identitas yang bersangkutan sebagai guru ngaji yang telah terverifikasi.

Santri An Nur Slawi

Selain insentif uang, Pemkab Jember juga membuka peluang bagi anak-anak guru ngaji untuk mendapatkan beasiswa pendidikan di perguruan tinggi. Sebab Pemkab Jember telah mengalokasikan anggaran beasiswa bagi 5.000 orang.

"Saya berharap dari 5.000 itu nantinya ada anak-anak dari para guru ngaji," jelasnya.

Santri An Nur Slawi

Itu semua, menurut Faida, merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada para guru ngaji yang telah berjuang untuk membentuk generasi yang Qurani.

"Sebab sejatinya, membangun Jember adalah membangun sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang unggul adalah sumber daya yang Qurani," kata Faida. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian, Daerah, Ulama Santri An Nur Slawi

Minggu, 12 April 2009

Munas NU Bahas Enam Rekomendasi Penting untuk Pemerintah

Lombok Barat, Santri An Nur Slawi. Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2017 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) membahas enam persoalan penting pada Komisi Rekomendasi, Jumat (24/11/2017).

Dalam sidang yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Labuapi, Lombok Barat itu, Masduki Baidlowi sebagai pimpinan sidang komisi menjelaskan enam persoalan penting tersebut.

Munas NU Bahas Enam Rekomendasi Penting untuk Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas NU Bahas Enam Rekomendasi Penting untuk Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas NU Bahas Enam Rekomendasi Penting untuk Pemerintah

Enam pokok persoalan tersebut ialah pertama, ekonomi dan kesejahteraan. Kedua, penanggulangan radikalisme. Ketiga, sosial dan kesehatan. Keempat, pendidikan. Kelima, politik dalam negeri dan internasional, dan keenam, perdamaian timur tengah.

“Keenam persoalan tersebut dibahas untuk mengerucutkan tema besar Munas dan Konbes NU 2017 di NTB ini,” jelas Masduki Baidlowi.

Santri An Nur Slawi

Sidang yang dihadiri oleh para pengurus PWNU dari seluruh Indonesia ini menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya, Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid, Komisioner Ombudsman RI Ahmad Suaedy, Ketua Lembaga Pedidikan Ma’arif NU KH Arifin Junaidi, dan Ketua PP Fatayat NU Anggiar Ermarini.

Gus Yahya dalam arahannya menegaskan, NU sebagai jam’iyah atau organisasi telah banyak berkiprah untuk kepentingan agama, bangsa, dan negara bahkan dalam skala global. Forum Munas dan Konbes NU ini, menurut keponakan Gus Mus tersebut merupakan salah satu wadah untuk menghasilkan keputusan-keputusan penting.

Ia menyinggung persoalan radikalisme sebagai persoalan pelik yang sampai saat ini masih perlu pencegahan, baik secara ideologis maupun identifikasi hal-hal yang menjadi dampak timbulnya gerkan-gerakan radikal.

“Bagi saya, penting untuk memahami persoalan radikalisme ini dari berbagai sisi, baik itu ekonomi, tatanan sosial, dan lain-lain,” kata Gus Yahya.

Ia sering melihat upaya propaganda radikal di berbagai kanal media. Kelompok radikal selalu menghadirkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis sebagai alat pembenaran gerakannya.

Santri An Nur Slawi

“Jadi, penting bagi kita untuk memahami dalil-dalil agama dan akar persoalan radikalisme itu sendiri,” terangnya.

Sampai berita ini ditulis, diskusi keenam item rekomendasi tersebut sedang dibahas secara serius untuk menghasilkan rumusan yang matang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Habib, AlaNu, Syariah Santri An Nur Slawi

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat

Majalengka, Santri An Nur Slawi. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) KH Abdul Manan A Ghani menegaskan fungsi masjid sebagai pusat ? pemberdayaan masyarakat. Kegiatan masjid harus bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat, termasuk khotbah Jumat.

Menurut Manan, tidak relevan seorang khotib yang gencar menggaungkan isu-isu internasional, dengan mengabaikan keterpurukan rakyat yang sedang dihadapi. Padahal, jamaah membutuhkan pencerahan dan solusi untuk memecahkan persoalan mereka.

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat

“Khotibnya bicara Osama bin Laden, Palestina, dan seterusnya. Padahal, jamaahnya bingung dikejar-kejar rentenir. Jadi khotbah perlu disesuaikan dengan masyarakatnya,” ujarnya saat memberikan materi Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) LTMNU Kabupaten Majalengka dan Kota Cirebon di Sumberjaya, Majalengka, Jawa Barat, Ahad (6/1) petang.

Santri An Nur Slawi

Manan menjelaskan, masjid tak sebatas tempat upacara peribadatan, seperti shalat. Seperti diteladankan Nabi, tempat suci ini juga berguna untuk menyelesaikan berbagai problem sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Santri An Nur Slawi

Manan menyayangkan khotbah di sejumlah masjid yang muatan materinya jauh dari persoalan konkret masyarakat sekitarnya. Alih-alih member solusi, para khotib justru menggaungkan wacana yang tidak kontekstual, atau bahkan provokasi permusuhan.

?

?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Internasional Santri An Nur Slawi