Minggu, 31 Desember 2017

Gus Sholah Dirikan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia

Jombang, Santri An Nur Slawi - Kepercayaan masyarakat kepada pesantren semakin menggembirakan. Hal tersebut dibuktikan dengan kian banyaknya masyarakat yang mengirimkan anaknya untuk ditempa di pesantren. Momentum ini hendaknya dijadikan kesempatan bagi pesantren untuk terus berbenah.

Harapan ini disampaikan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid, Kamis (9/3).? "Ini adalah sebuah momentum yang tepat, supaya pesantren-pesantren dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan masyarakat," kata Gus Sholah di hadapan sejumlah wartawan. Sebab, pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, lanjutnya.

Gus Sholah Dirikan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Dirikan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Dirikan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia

?

Menurut adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, guna mengoptimalkan fungsi dan peran pesantren, ia bersama sejumlah kalangan telah mendirikan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I). Rencananya, lembaga yang dirintis oleh beberapa pengasuh pesantren, cendekiawan lintas profesi dan beberapa pengusaha itu akan diresmikan di Pesantren Tebuireng pada 18 Maret 2017 mendatang.

?

"KH Salahuddin Wahid telah diminta secara resmi dan bersedia menjadi Ketua Dewan Pembina YP3I," kata KH Imam Mawardi, salah satu pengurus YP3I. Mereka berharap di bawah bimbingan Gus Sholah, pesantren dapat menjadi garda terdepan pembangunan bangsa, lanjutnya.

Santri An Nur Slawi

?

Kiai Mawardi menambahkan, YP3I akan mengayomi seluruh pesantren dari berbagai madzhab dalam kelompok Ahlussunnah wal Jamaah. "Pengurus kami juga ada yang berasal dari Gontor, Darunnajah, dan beberapa pesantren lain," tegasnya.

Santri An Nur Slawi

?

Dalam agenda peresmian itu, ujar Kiai Mawardi, juga akan diadakan seminar dengan tiga topik. Pertama, penguatan peran pesantren sebagai benteng pendidikan karakter. Kedua, mensinergikan kekuatan pesantren dalam pembangunan ekonomi umat. Dan ketiga, menempatkan pesantren sebagai salah satu kekuatan kepemimpinan bangsa.

?

"Kita melihat pesantren sebagai potensi yang dapat kita kembangkan dan melalui YP3I kita berharap dapat melakukan hal itu," imbuh Gus Sholah.

?

Ditanya tentang agenda terdekat setelah peresmian, mantan anggota Komnas HAM ini menegaskan, salah satu agenda prioritas adalah pelatihan terhadap guru. "Karena, problem utama pesantren salah satunya terletak pada guru," tandasnya.

?

Gus Sholah juga berharap, kehadiran YP3I bisa dimanfaatkan untuk mendorong pemerintah dan sektor swasta lebih peduli kepada pesantren. "Kami juga bermimpi bisa mencetak wirausahawan yang lahir dari pesantren," ungkapnya.

?

Hal lain yang juga perlu dilakukan adalah memajukan pesantren di luar Jawa, yang sangat tertinggal. "Jumlah pesantren di luar Jawa juga masih jauh di bawah (jumlah) yang seharusnya," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail Santri An Nur Slawi

Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Sebagai salah satu pusat rujukan masyarakat, pesantren dituntut mengembangkan peran untuk menyesuaikan dengan kebutuhan lingkungannya. Di samping menjadi wahana dakwah Islam dan kaderisasi ulama, pesantren bisa pula menjadi lokomotif pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat.

Semangat inilah yang diperjuangkan Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama atau asosiasi pesantren NU melalui program “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Pesantren”. Selama tiga bulan terakhir RMI secara gencar melatih ratusan santri dan masyarakat di sekitar pesantren untuk aktif di bidang kewirausahaan.

Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Akhir April lalu (28-30/4), RMI menggelar pelatihan usaha kecil menengah (UKM) di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon. Sebelumnya, kegiatan serupa diadakan di Pesantren Al-Ikhlas, Boyolali, dengan segmen usaha penggemuakan sapi, serta di Pesantren Al-Huda, Ciamis, dengan segmen usaha pertukangan dan industri mebel.

Santri An Nur Slawi

Program yang diikuti para santri senior dan pemuda dari masyarakat di sekitar pesantren ini merupakan hasil kerja sama antara RMI dan Corporate Social Responbility (CSR) Bank Mandiri. Selain menggelar pelatihan, gerakan pemberdayaan ini disertai pendampingan selama kurang lebih satu tahun, untuk mematangkan kesiapan peserta menjadi wirausahaan sesuai bidang yang digelutinya.

Santri An Nur Slawi

Ketua Pengurus Pusat RMI KH Amin Haedari mengakui, pesantren sejak lama menyimpan potensi besar dan beragam. Karena itu, pesantren harus mampu berkontribusi untuk mengembangkan ekonomi masyarakat. “Yang penting, bagaimana semangat kita untuk membangun diri,” ujarnya.

Supaya tetap relevan, RMI sengaja memilih segmen pelatihan yang disesuaikan dengan potensi pesantren dan lingkungannya. Selanjutnya, pesantren bersangkutan diharapakan sanggup mengembangkan pengalaman ini kepada pesantren-pesantren lain.

Saat ini RMINU tengah mulai melakukan pendampingan dan bantuan modal usaha sebagai kelanjutan program ini. Di luar pembangkitan etos wirausaha, program kerja sama ini juga telah menyiapkan program pembangunan sanitasi dan air bersih di sejumlah pesantren di Indonesia.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pesantren, Pendidikan, Nahdlatul Santri An Nur Slawi

Budaya Toleransi Antaragama Harus Dipupuk Kembali

Jakarta, Santri An Nur Slawi 



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak seluruh umat beragama untuk terus memupuk persaudaraan dan toleransi antaragama di Indonesia. Ia menyampaikan ajakan itu pada Sarasehan Lintas Agama bertema "Merawat Kebhinekaan Menumbuh kembangkan Toleransi Antarumat Beragama dan Menolak Gerakan Intoleran" di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (27/9). 

“Alhamdulillah kita masih punya kapital yang sangat mahal, yaitu budaya, akhlak, moral,” katanya saat pada pidato membuka sarasehan yang dihadiri para pemuka agama dari lintas agama itu. 

Budaya Toleransi Antaragama Harus Dipupuk  Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Budaya Toleransi Antaragama Harus Dipupuk Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Budaya Toleransi Antaragama Harus Dipupuk Kembali

Menurut dia, leluhur bangsa Indonesia mampu mengusir penjajah Belanda bukan dengan senjata modern, tapi senjata ampuh yaitu budaya persatuan dan kesatuan, iman dan akhlak. 

“Kita bangun kembali budaya kita. Nenek moyang tidak mempersoalakan perbedaan agama, suku, keyakinan. Itu harus dipupuk kembali!” pintanya. 

Santri An Nur Slawi

Pada masa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) hidup, menurut dia, sepertinya masalah-masalah intoleranasi waktu itu sudah selesai. Para pemuka agama begitu sering bertemu, bertukar pikiran, dan membuat kesepakatan bersama. Sangat dekat sekali antara Islam dengan Hindu, Buddha, Katolik, Kristen dan Konghuchu. 

“Eh, ternyata sekarang, akhir-kahir ini terasa sekali ada ancaman ada intoleransi yang masif,” kata kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo dan Krapyak serta 13 tahun di Arab Saudi itu. 

Menurut dia, intoleransi itu sebagian terpengaruh dengan adanya sikap-sikap intoleran dari luar negeri yang dibawa ke Indonesia. Juga ada sebagian pihak yang sengaja bermain untuk menciptakan kondisi semacam itu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Pesantren, Amalan, Pertandingan Santri An Nur Slawi

Ketua PCNU Kota Tasik Raih BKPRMI Award

Tasikmalaya, Santri An Nur Slawi

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tasikmalaya KH Didi Hudaya meraih BKPRMI Award pada Festival Anak Saleh Indonesia (FASI), dan Festival Ustaz Ustazah TKA TPA TQA Tingkat Kota Tasikmalaya di Pondok Pesantren Al-Ihsan Ciharashas Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Ahad (18/12).

Ketua PCNU Kota Tasik Raih BKPRMI Award (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PCNU Kota Tasik Raih BKPRMI Award (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PCNU Kota Tasik Raih BKPRMI Award

Didi dinilai paling getol mendukung kegiatan Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Tasikmalaya, salah satunya tampak saat Festival Anak Shaleh Indonesia (FASI) tingkat Jabar dan MTQ tingkat Jabar di Kota Tasikmalaya.

Selain Didi ada enam tokoh lain yang mendapat penghargaan serupa. Antara lain Wali Kota Tasikmalaya H Budi Budiman, Ketua MUI Kota Tasikmalaya KH Achef Noor Mubarok, Anggota DPRD Jabar dari PKB H Oleh Soleh, Mantan Kepala Kemenag Kota Tasikmalaya Ahmad Fatoni, Kasipenda Kemenag Kota Tasikmalaya H Suryana, dan Pemimpin Pondok Pesantren Al-Ihsan Ciharashas Tamansari, KH Abas.

Santri An Nur Slawi

Ketua BKPRMI Kota Tasikmalaya Heryanto mengatakan, TKA, TPA dan TQA merupakan metode pendidikan keagamaan yang dilahirkan dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Maka sangat layak kalau Ketua PCNU Kota Tasikmalaya mendapat penghargaan dari BKPRMI.

Santri An Nur Slawi

"Sumbangsih NU begitu besar terhadap BKPRMI. Maka sangat layak KH Didi mendapat award," ujarnya.

Didi pun merasa apa yang diraih tidak ada apa-apanya. Pengembangan syiar Islam di Kota Tasikmalaya menurutnya adalah tanggung jawab semua, termasuk Nahdlatul Ulama. (Nurjani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail, Ulama Santri An Nur Slawi

Yenny Wahid Masuk Jajaran Ketua PP Muslimat NU

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Tim formatur pembentukan Kepengurusan Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU berkerja cepat. Dari batas waktu maksimal sepuluh hari yang ditetapkan untuk memilih delapan ketua, sekretaris umum (Sekum) dan bendahara umum (Bendum) terhitung sejak Ahad (27/11) dinihari bisa diselesaikan Senin (28/11) malam.

Yenny Wahid Masuk Jajaran Ketua PP Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid Masuk Jajaran Ketua PP Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid Masuk Jajaran Ketua PP Muslimat NU

Terdapat sejumlah wajah baru di jajaran ketua. Begitu juga untuk posisi Sekum dan Bendum. Zanuba Arifah Hafsoh, akrab dipanggil Yenny Wahid, putri kedua KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sebelumnya menjabat Sekretaris V naik menjadi Ketua V. Sedangkan Ariza Agustina yang di periode lalu sekretaris IV menjadi ketua VIII.

Lalu Erna Yulia Soefihara dari bendahara umum menjadi ketua VII, Ulfah Masfufah dari ketua bidang kesehatan menjadi Sekum. Sedangkan Andi Nur Hiyari dari Bendahara II di periode ini dipercaya menjabat Bendum.

“Tim formatur diberi waktu 10 hari terhitung sejak 26 November dinihari, tetapi sudah bisa menyelesaikan pada 27 November,” terang Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum periode 2016-2021, Selasa (29/11) dilansir laman resmi PP Muslimat NU, MSantri An Nur Slawi.

“Selanjutnya Ketum, delapan ketua, Sekum dan Bendum akan melengkapi susunan pengurus dalam minggu ini,” imbuh perempuan yang telah memimpin PP Muslimat NU selama 4 periode atau 20 tahun ini setelah di Kongres Ke-17 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, 23-27 November 2016 lalu terpilih kembali secara aklamasi.

Santri An Nur Slawi

Sebelumnya, usai ditetapkan sebagai Ketum terpilih, Khofifah meminta agar kepengurusan PP Muslimat yang terbentuk diberi wewenang untuk melakukan telaah dan sinkronisasi hasil sidang-sidang komisi mulai AD-ART, program maupun rekomendasi.

“Kami mohon diberi kesempatan melakukan telaah, barangkali secara teknis sinkronisasi masih harus kami lakukan. Secara teknis mungkin perumusan sesuai dengan konsistensi penggunaan terminologi tertentu di dalam keputusan hasil sidang-sidang komisi,” katanya.

Santri An Nur Slawi

Khofifah menegaskan telaah ini sama sekali bukan mengubah keputusan. “Tapi sinkronisasi dari keputusan bidang-bidang yang ada di AD/ART dan keputusan dari breakdown program yang sudah diputuskan komisi program,” katanya.?

Berikut susunan Pimpinan Pusat Muslimat NU Masa Khidmat 2016-2021:

Ketua Umum: Khofifah Indar Parawansa

Ketua I: Sri Mulyati

Ketua II: Nurhayati Said Aqil Siroj

Ketua III: Mursyidah Thahir

Ketua IV: Siti Aniroh SEY

Ketua V: Zanuba Arifah Hafsoh

Ketua VI: Yaniah Wardani

Ketua VII: Erna Yulia Soefihara

Ketua VIII: Ariza Agustina

Sekretaris Umum: Ulfah Masfufah

Bendahara Umum: Andi Nur Hiyari

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Jadwal Kajian, Santri, RMI NU Santri An Nur Slawi

STAINU Jakarta Bangun Gedung Baru di Kampus Parung

Bogor, Santri An Nur Slawi. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta memulai pembangunan gedung baru di kampus Parung, Rabu (11/12). Gedung baru ini berada di belakang gedung utama dan direncanakan tiga lantai.

STAINU Jakarta Bangun Gedung Baru di Kampus Parung (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Bangun Gedung Baru di Kampus Parung (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Bangun Gedung Baru di Kampus Parung

Peletakan batu pertama dan acara syukuran diadakan Rabu kemarin dihadiri civitas akademika STAINU dan tokoh masyarakat setempat. Gedung baru yang akan didirikan menempati lahan seluas sekitar 900 m2.

“Gedung baru ini terutama nanti kita peruntukan bagi mahasiswa STAINU dari luar negeri seperti Thailand dan Malaysia,” kata Ketua STAINU KH Mujib Qulyubi usai usai pembacaan doa dan tawassul, yang dilanjutkan dengan potong tumpeng.

Santri An Nur Slawi

Di luar gedung baru yang direncanakan itu, dan gedung lama, STAINU kampus Parung masih mempunyai tanah seluas sekitar 24.000 m2. Kegiatan pembangunan gedung diharapkan dapat berjalan lancar dan berkelanjutan, terutama menyongsong beralihnya STAINU menjadi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta.

Santri An Nur Slawi

“Bulan Januari depan kita juga merencanakan memulai pembangunan Rusunawa. Ini insyaallah dipersiapkan untuk mahasiswa dari luar daerah, terutama dari PCNU-PCNU,” kata Kiai Mujib Qulyubi yang juga Katib Syuriyah PBNU.

Selain kampus Parung, kegiatan belajar mengajar STAINU Jakarta juga diadakan di Kampus Utama Matraman Jakarta Pusat, Kampus STAINU Kedoya Jakarta Barat, dan Kampus STAINU Ciganjur, Jakarta Selatan. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Santri Santri An Nur Slawi

Sabtu, 30 Desember 2017

PCINU Jerman Kaji Konsep Politik Quraish Shihab

Berlin, Santri An Nur Slawi. Di Minggu kedua Ramadhan 1434 H, Sabtu, 20 Juli 2013, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman kembali menggelar acara pengkajian. Acara bertempat di kediaman Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Berlin Agus Rubiyanto.?

PCINU Jerman Kaji Konsep Politik Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Jerman Kaji Konsep Politik Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Jerman Kaji Konsep Politik Quraish Shihab

Topik yang diangkat kali ini adalah Konsep Politik dalam Perspektif Islam: Kajian Pemikiran Prof. Quraish Shihab. Pembicara pengkajian adalah Munirul Ikhwan Lc MA, Alumni Universitas Al-Azhar Kairo dan Universitas Leiden yang sekarang menjadi kandidat doktor Studi Islam di Freie Universität Berlin.?

Acara pengkajian selain dimaksudkan untuk mendiskusikan topik-topik keislaman dan keindonesiaan, juga untuk mempererat silaturrahim warga Indonesia di Berlin dan sekitarnya.?

Santri An Nur Slawi

Acara dimulai pada puku 20.10 waktu Berlin dan dihadiri oleh sekitar 40 orang warga Indonesia di Berlin, baik dari kalangan mahasiswa maupun unsur masyarakat lainnya. Acara ini juga terhubung dengan jaringan online (www.nujerman.de) yang tangani oleh Anggit Prashida selaku koordinator IT PCINU Jerman. Tujuannya agar bisa diikuti peserta dari luar Berlin, bahkan dari negara-negara lain di luar Jerman.?

Dalam pemaparannya, Munir menjelaskan bahwa Prof Quraish Shihab merupakan mufassir (ahli tafsir) Al-Qur’an terkenal asal Indonesia. Ia menulis banyak buku, salah satunya yang kemudian menjadi karya monumental adalah Tafsir al-Misbah. ? Quraish Shihab berpendapat bahwa Al-Qur’an hanya mengatur secara detil dan tegas urusan aqidah dan hal-hal yang tidak mengalami perubahan atau perkembangan. Sementara itu, dalam hal-hal yang mengalami perubahan dan perkembangan, Al-Qur’an hanya memberikan garis-garis besar sebagai petunjuk bagi keberlangsungan perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, Qurasih Shihab menekankan perlunya memahami wahyu ilahi Al-Qur’an secara kontekstual dan tidak semata-mata terpukau pada makna tekstual agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.?

Santri An Nur Slawi

Menurut Munir, Quraish Shihab mendiskusikan politik berangkat dari kata hukm dalam Al-Qur’an yang pada mulanya berarti “menghalangi atau melarang dalam rangka kebaikan.” Ayat seperti “inil hukmu illa lillahi” (hukum, putusan, itu hanya milik Allah) yang sering dijadikan dalil oleh kelompok Islam tertentu untuk menegaskan agenda mereka tentang kewajiban untuk mendirikan negara khilafah, menurut Quraish Shihab, tidak senada dengan konteks ayat tersebut berbicara. Penggunaan kata itu dalam surat al-An’am ayat 56-57, misalnya, berbicara dalam konteks ibadah. Sedangkan kata yang sama pada surat Yusuf ayat 40 tentang mengesakan Allah dan Surat Yusuf ayat 67 tentang kewajiban berusaha dan menyerahkan putusan hanya kepada Allah.?

Lebih lanjut menurut Munir, Quraish Shihab cenderung memasukkan urusan politik pada urusan shura (permufakatan). Khilafah adalah salah satu bentuk sistem pemerintahan yang pernah dikenal sejarah kaum Muslim, namun bukan satu-satunya sistem yang wajib diadopsi oleh umat Islam di generasi selanjutnya. Quraish Shihab menegaskan argumennya dengan tidak adanya petunjuk yang pasti dari teks agama, dan bukti historis proses suksesi yang berbeda pada 4 khalifah (Abu Bakar, Umar Ibn Khathab, Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib) setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Setelah pemaparan dilanjutkan dengan tanya-jawab, baik dengan peserta yang datang langsung ke acara pengkajian maupun peserta yang terhubung dengan jaringan online. Hamzah Ritchi, kandidat doktor bidang Sistem Informasi dari Humbolt Universität Berlin menanyakan bahwa ada kelompok Islam tertentu yang menganggap agama (Islam) itu mengatur setiap detail permasalahan. Munir menjawab bahwa menurut Quraish Shihab dalam masalah aqidah dan ibadah mahdhah (langsung) agama mengatur secara langsung, sedangkan untuk masalah mu’amalah yang bervariasi dan selalu mengalami perubahan, agama memberikan prinsip-prinsip umum dengan menghormati praktek dan tradisi dalam masyarakat, selama hal-hal tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip umum agama.

Acara Pengkajian ditutup pada pukul 21.21 waktu Berlin dan dilanjutkan dengan buka-puasa bersama, sholat Maghrib dan diskusi informal seputar pengalaman riset, publikasi dan pengalaman sehari-hari hidup jauh dari tanah air.?

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi RMI NU Santri An Nur Slawi

Soal Nasionalisme, Menhan: NU Harus Tetap Menjadi Panutan Bangsa Ini

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, Nahdlatul Ulama harus tetap menjadi garda terdepan dalam menyebarkan nasionalisme di tengah masyarakat Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Menhan saat menggelar silaturahim bersama warga Nahdlatul Ulama di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan RI, Senin (6/6).

"Bagaimana NU ke depan? Saya ingin NU tetap seperti didirikan oleh para pendirinya dulu dengan semboyan NKRI harga mati, sama dengan TNI," ujar Ryamizard.

Soal Nasionalisme, Menhan: NU Harus Tetap Menjadi Panutan Bangsa Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Nasionalisme, Menhan: NU Harus Tetap Menjadi Panutan Bangsa Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Nasionalisme, Menhan: NU Harus Tetap Menjadi Panutan Bangsa Ini

Ryamizard mengatakan, sebagai organisasi sosial keagamaan, NU memiliki semangat nasionalisme yang luar biasa. Ia meminta NU untuk selalu menjadi contoh dalam menjaga kesatuan Republik Indonesia.?

Santri An Nur Slawi

"Nasionalisme NU itu luar biasa. Hal ini yang saya ingin tidak pernah berubah. NU harus tetap menjadi panutan bangsa ini," kata Ryamizard.

Santri An Nur Slawi

Indonesia saat ini, menurut dia, membutuhkan organisasi keagamaan seperti NU.? Ryamizard? meyakini, nasionalisme NU tidak perlu diragukan lagi oleh siapapun. Bahkan, ia meminta kelompok-kelompok lain untuk belajar nasionalisme dan agama kepada NU.

"Bangsa ini sudah banyak berubah terutama moral sudah kemasukan paham-paham yang tidak benar dari luar. NU harus tetap menjadi panutan dan tempat bertanya tentang nasionalisme," kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015, KH Asad Said Ali mengatakan budaya yang ada di NU akan terus bertahan dan dapat menghalau dari paham-paham luar yang tidak sejalan dengan Pancasila.

"Mereka boleh belajar paham apa pun, tetapi ketika kembali ke NU semua itu hilang, budaya yang kuat dapat menghalau hal tersebut," kata dia. (Red/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Tegal, Pesantren Santri An Nur Slawi

Sunnah Puasa

Yang dimaksud dengan sunnah puasa adalah segala perbuatan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad s.a.w (disunnahkan) ketika sedang melakukan ibadah puasa, diantaranya Pertama, Menyegerakan Berbuka Puasa Ketika waktu magrib telah tiba atau waktu diperbolehkannya untuk berbuka puasa bagi semua muslim yang menjalankannya, maka dianjurkan untuk segera berbuka puasa dari pada menjalankan ibadah-ibadah yang lainnya, termasuk diantaranya menjalankan ibadah sholat maghrib.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?.

Diceritakan dari Sahal Ibn Sa’ad, Rasulullah s.a.w, bersabda:”manusia selamanya dalam kebaikan, selama ia menyegerakan berbuka puasa” (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Sunnah Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Sunnah Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Sunnah Puasa

Kedua, Membaca Do’a Berbuka Puasa. Membaca do’a berbuka puasa sebelum membatalkan puasa itu perbuatan yang dianjurkan oleh nabi Muhammad s.a.w, sebagai mana sabdanya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Diceritakan dari Ibnu Umar; Rasulullah s.a.w, apabila berbuka buasa, ia berdo’a: “wahai Tuhanku, karena Engkau aku berpuasa, dan atas rizkimu aku berbuka, maka sirnahlah rasa dahaga dan urat-uratku sekarang jadi basah, dan semoga pahala puasanya tetap kalau Engakau menghendaki. (Hadits Shahihm riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga, Berbuka dengan Makan Buah Kurma atau Minum Air Putih. Berbuka puasa diawali dengan memakan buah kurma, dan apabila tidak menemukan buah kurma atau tidak memilikinya, maka dianjurkan untuk meminum air putih terlebih dahulu sebelum memakan dan minum yang lainnya.

Santri An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Santri An Nur Slawi

Dari Anas r.a; “Nabi s.a.w, apbila ia berbuka puasa denga kurma gemading, sebelum Beliau shalat, apabila tidak ditemukannya, ia berbuka dengan kurma biasa, kalau tidak ditemukannya, Beliau berbuka dengan beberapa teguk dari air putih”. ( Hadits Shahih, riwayat Abu Daud dan al-Tirmidzi)

 

Keempat, Makan Sahur Sesudah Tengah Malam. Makan sahur sesudah tengah malam, dengan maksud supaya menambah kekuatan ketika puasa.

? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ?

Dari Anas r.a; Rasulullah s.a.w, bersabda: “makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terkandung berkah”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kelima Mengakhirkan SahurSahur atau memakan sesuatu di malam hari dengan tujuan memperkuat diri untuk dapat menjalankan ibadah puasa keesokan harinya, maka dianjurkan mengakhirkannya sebelum waktu shubuh tiba.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Abu Dzar r.a: Rasulullah s.a.w, bersabda: tidak akan hilang sifat kebaikan pada diri manusia, selama ia mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka puasa”. (Hadits Shahih, riwayat Ahmad)

Keenam, Meninggalkan Perkataan Jelek dan Jorok. Di saat menjalankan ibadah puasa, seorang muslim dianjurkan untuk tidak berkata-kata yang tidak bermanfaat, apalagi perkataan jelek dan jorok. Semisal berbohong, menghina orang lain, menggunjing kejelekan orang lain, memfitnah orang lain dsb.

Dan apabila ia dicaci maki oleh orang lain, maka ia dianjurkan untuk mengatakan “saya sedang berpuasa” sampai dua, tiga kali ucapan, menurut Imam Nawawi dalam kitab adzkarnya. Sedangkan menurut Imam Rafi’i, ia dianjurkan untuk mangatakannya dalam hati saja sebagai pengingat agar tidak terpancing emosi. (Sumber: Risalah Puasa/Red.Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hadits Santri An Nur Slawi

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Oleh Imam Ma’ruf



Hari-hari ini, banyak orang menyebut dirinya nasionalis, cinta NKRI, slogan ‘saya Pancasila’ dan sejenisnya. Namun dalam praktiknya, nasionalisme yang dilakukan cenderung berbau sektarian. Nasionalisme minus atau setengah nasionalisme, nasionalisme sempit, dan ‘kurang’ menghargai perbedaan dan keragaman yang muncul di masyarakat. Bahkan lebih jauh, perilaku yang mengemuka cenderung barbar atau setidaknya intoleran.

Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Kenapa fenomena semacam ini seolah muncul kembali? Apakah ini menunjukkan kegagalan demokrasi yang berujung pada istilah negara gagal (failed state)? Tentu kita semua perlu banyak melakukan refleksi secara mendalam. Melihat kembali kesepakatan berbangsa dan bernegara yang telah dilahirkan oleh para founding fathers negeri zamrud khatulistiwa ini. Bangsa ini pernah mengalami periode panjang dijajah dalam era kolonialisme, hingga melahirkan semangat bersama untuk merdeka. Kita juga pernah mengalami masa perpecahan dan banyak melahirkan gerakan separatis yang berbau sektarian dan SARA. Semua itu nampaknya masih belum cukup, sehingga tak jarang ‘bom waktu’ terkait sektarian begitu mudah meletup lagi.

Contoh yang faktual yang layak menjadi perbincangan dan referensi adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sebuah kawasan gurun pasir yang panas, namun memiliki banyak sumber daya yang terus berpotensi menjadi lahan perebutan dan tarikan berbagai kepentingan, baik internal maupun pihak luar. Apakah ini juga masih kurang untuk menjadi penanda bahwa kalau konflik sektarian dan nasionalisme sempit yang terus berulang, bisa memicu kegagalan negeri ini?

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi

Timur Tengah, Jalur Penghubung yang Terus Menegang



Membincang fenomena konflik di Timur Tengah dari kacamata Indonesia memiliki respon yang sangat beragam. Tidak sedikit dari masyarakat yang salah paham, gagal paham, bahkan menggunakan model untuk di-copy-paste secara serampangan, meski tak sedikit pula yang memiliki cara pandang yang clear atau proporsional.

Jika di Timur Tengah, negeri asalnya, terjadinyakonflik yang memporak-porandakan negeri dilatari banyaknya kepentingan politik dan perebutan kekuasaan. Namun di Indonesia, konflikpolitikseperti di Timur Tengah itu bisa berubah menjadi sangat ideologis, dan sektarian antaragama, atau aliran keagamaan, semisal Sunni-Syi’ah atau Muslim-Kristen dan sekte serta kabilah-kabilah. Apakah ketika melihat konflik Timur Tengah harus menggunakan kacamata kuda begitu? Nampaknya perlu pembacaan lebih luas, sehingga kita bisa melihat banyak hal, yang pada gilirannya pandangan kita juga bukan hanya sektarian dan lebih jauh hanya hitam-putih.

Dari penelusuran KBBI, sektarian memiliki dua makna; pertama berkaitan dengan anggota (pendukung, penganut) suatu sekte atau mazhab; sementara makna kedua adalah picik, terkungkung pada satu aliran saja. Nah, penyempitan makna menjadi sektarian dalam membaca konflik Timur Tengah inilah yang ingin kita bahas lebih dalam.

Dari sisi sejarah, kawasan Timur Tengah memiliki akar dan menjadi salah satu peradaban tua di dunia. Sejak dulu, kawasan ini memang selalu menjadi pusat perhatian, bahkan Adam dan Hawa bertemu setelah diturunkan ke bumi juga di Timur Tengah yang dikenal, Jabal Rahmah. Muncul peradaban kuno yang populer, antara lain kebudayaan dan peradaban Mesir kuno di lembah sungai Nil, Babilonia dan Assiria di Mesopotamia yang dialiri oleh sungai Tigris (Iraq) dan Eufrat (Persia), Pegunungan Armenia (Turki), Laut Mati/Sungai Yordan dan lain-lain. Sistem-sistem sungai dan laut inilah yang memberikan nafas hidup kepada peradaban-peradaban besar itu jauh sebelum kedatangan Islam. Berikutnya ada banyak kisah yang muncul, selain Nabi dan Rasul, ada juga muncul nama-nama besar seperti Fir’aun, Namruj dan lainnya, atau versi berbeda menyebut Darius, Nebukadnezar, Sultan Saladin, dan lain-lain.

Jadi, ada banyak alasan mengapa kawasan ini dari dulu hingga kini menjadi penting, salah satunya adalah kawasan penghubung tiga benua, Asia, Afrika dan Eropa, terlebih setelah terbukanya terusan Suez. Dengan banyaknya peluang, termasuk sumberdaya, mineral, air, minyak, dan sumber transportasi serta lainnya, maka wilayah dan kawasan ini selalu menjadi perhatian. Keberagaman penduduk dan latar belakang, termasuk aliran keagamaan dan ideologi juga menjadi bagian yang begitu mudah digerakkan untuk melahirkan konflik dan tarik-menarik kepentingan. Dan pemantik sebagai ‘bensin’ paling mudah dan mungkin juga murah, di Timur Tengah sendiri adalah sentimen agama dan aliran keagamaan. Jika di Timur Tengah sudah ‘meledak’, maka efek ledakannya bisa dengan mudah merembes ke kawasan lain, termasuk tanah air, Indonesia Raya tercinta ini.

Jalur laut yang menunjukkan superioritas militer, termasuk pengangkutan ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah, juga menjadi cerita tambahan dari rentetan konflik. Jalur tersebut juga memberi pemasukan penghasilan negara karena hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut.

Faktor Pemicu Ketegangan



Dalam catatan Sidik Jatmika yang mengutip dari Gerald Blake soal Middle East, sebagian besar perbatasan darat di Timur Tengah sudah ditentukan sejak 1880 dan 1930, namun, soal perbatasan laut justru baru mulai ditentukan pada tahun 1960-an, dan hingga hari ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. Berbagai perbedaan dan keragaman yang muncul, menyangkut perbatasan negara yang kecil dan besar, jalur laut yang kecil dan besar, kekayaan alam dan sumberdaya yang kecil dan besar, termasuk negara kaya-miskin, dan tingkat kemakmuran suatu negara, akan memiliki arah yang berbeda, baik secara politik maupun aspek lain dan tidak sedikit melahirkan ketegangan.

Ada banyak faktor yang menjadi pemicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, baik secara internal kawasan, maupun pihak di luar kawasan yang juga berkepentingan. Dua poin utama bisa disebutkan: Pertama, posisi strategis kawasan ini yang menjadi penghubung bagi ekonomi, perdagangan, dan pertahanan global ketiga benua, yakni Asia, Afrika dan Eropa. Kedua, soal keanekaragaman yang memang dimiliki Timur Tengah. Beberapa keanekaragaman yang tergambar bisa disebut, antara lain:

1. Geografis Timur Tengah yang melahirkan perbedaan wilayah, ada yang luas dan sempit sehingga menjadi pemicu dominasi, termasuk juga kedekatan regional yang tak jarang memicu ketegangan, seperti kawasan Arab inti (bulan sabit); Saudi Arabia, Mesir, Kuwait, Irak, Palestina, UEA, Bahrain, Qatar, Oman dan Yordania. Kawasan Arab periferal; Libya, Sudan, Yaman, Suriah dan Libanon. Kawasan Arab maghribi; Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Mauritania. Kawasan non-Arab; Turki, Iran, Siprus, Israel dan Afghanistan. Kawasan Asia Tengah yang merupakan eks Uni Soviet; Azarbaijan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turkmenistan.

2. Problem kepemilikan air, baik air tawar maupun air laut. Pemicunya bisa keterbatasan akses air, semisal perbatasan, potensi kekayaan air laut, mineral, pulau-pulau, dan pendapatan yang muncul dari kepemilikan laut. Sementara air tawar bisa berupa akses air bersih, irigasi untuk lahan, juga pembangkit listrik.

3. Keanekaragaman agama, akar budaya dan suku atau kabilah. Ada warisan peradaban yang muncul di lembah sungai Nil, Tigris dan Eufrat, lalu muncul ras Semit yang melahirkan etnis Arab dan Yahudi, Aria dengan Persianya, dan Berber di Afrika Utara. Ada juga ras gabungan semisal Turki yang ada unsur Mongolia dan Kurdi yang Indo-Persia.Belum lagi pecahan dalam bentuk suku-suku dan kabilah yang juga beritu beragam. Dari sisi agama, ada Yahudi, Islam, dan Kristen, begitu juga aliran-aliran keagamaan lain. Keragaman yang bisa menjadi potensi baik sebagai sebuah kekayaan budaya ataupun sebaliknya, bisa menjadi sumber ketegangan dan konflik.

4. Keanekaragaman ekonomi dengan melihat tingkat kemakmuran suatu negara, kaya-miskin hingga kekayaan alam dan sumberdaya yang dimiliki, bisa melahirkan arah yang berbeda dan memicu ketegangan.

5. Keanekaragaman ideologi juga hadir, ada Pan Islamisme, OKIdan juga Liga Arab yang merespon munculnya negara Israel. Ada sekularisme, liberalisme, komunisme, dan juga zionisme. Ada juga ideologi yang berbasis pada ajaran agama, semisal Islam, Kristen dan Yahudi dan aliran keagamaan, semisal Sunni-Syiah dan lainnya.

Nah, berbagai keragaman, termasuk letak geografis yang berujung pada perbatasan di atas, sangat mungkin menjadi salah satu faktor pemicu ketegangan, meskipun ujungnya juga soal beda kepentingan dan sudut pandang yang bermuara pada ekpresi politik, baik perorangan, kelompok, maupun atas nama negara. Maka melihatnya tidak hanya sektarian. Ada banyak model dan kamuflase yang mengemuka dalam ketegangan di kawasan ini yang musti dibaca secara mendalam dan dari berbagai aspek. Adakalanya tidak peduli dengan agama, asal kepentingannya sama. Adakalanya ideologi menjadi basis penyatuan kepentingan. Yang jelas basis kepentingan menjadi lebih penting dan menarik untuk dilihat, sementara pemicu dan ‘bahan bakar’ konflik dan ketegangan bisa bermacam-macam.

Suasana batin atas perasaan ketidakadilan, diskriminasi atau peminggiran kelompok, ketimpangan ekonomi menjadi awal mula perasaan kecewa dengan situasi dan kondisi, dan akumulasinya bisa melahirkan protes, ketegangan dan konflik yang mencari sasaran dan target permusuhan. Dorongan pihak luar juga bisa menguatkan ketegangan, sehingga memperkeruh dan muncul pihak yang mengambil keuntungan dari situasi krisis.

Krisis Politik yang Berulang



Menurut Carl J Friedrich, politik merupakan suatu upaya atau cara untuk memperoleh atau mempertahankan kekuatan. Politik juga dapat diartikan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki yang akan digunakan untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Kehidupan berpolitik tak pernah lepas dari kehidupan sosial suatu negara. Dan masyarakat di Timur Tengah dengan didominasi oleh bangsa Arab memiliki kultur pemerintahan yang sebagian besar adalah diktator. Salah satu faktor historis yang melatari karena di wilayah tersebut dulunya bersistem kekerajaan.

Arab Spring menjadi pintu masuk berbagai pihak melakukan koreksi terhadap kepemimpinan di Timur Tengah, mulai dari Tunisia hingga menyebar ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Beberapa tuntutan akibat reaksi ketidakpuasan publik Timur Tengah, ada yang menunjukkan hasil positif, namun tidak sedikit pula yang justru berakibat fatal dan melahirkan krisis dan konflik berkepanjangan. Kecepatan merespon dan kepiawaian negosiasi pemimpin di kawasan ini menjadi kunci, termasuk melihat berbagai efek dan dampak serta pengaruh para tokoh dan supporter yang menggerakkan aksi, baik secara internal maupun eksternal negara. Tidak sedikit para pemimpin yang tumbang dan harus menyerahkan mandat kepada desakan publik, semisal Tunisia, Libya, Mesir dan Yaman. Namun ada juga yang hanya melakukan reformasi internal tanpa penggulingan kekuasaan, semisal Saudi Arabia, Qatar, Bahrain dan juga Syuriah meski mengalami pergolakan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Di Mesir misalnya, pasca tumbangnya rezim Hosni Mubarak, rakyat Mesir justru terjerumus ke dalam konflik sektarian. Konflik sektarian tersebut terjadi antara warga muslim dan kristen. Dalam konflik yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)tersebut, setidaknya terdapat beberapa orang yang menjadi korban akibat brutalnya aksi.Konflik sektarian di Mesir adalah satu contoh resistensi politik di kawasan Timur Tengah setelah revolusi berhasil dilakukan.

Pascarevolusi, umumnya tuntutan sederhana yang dikehendaki rakyat dan para elite politik adalah melangsungkan pemilihan umum secara demokratis untuk memilih kepemimpinan baru. Harapan baru tersebutlah yang menjadi suara mayoritas rakyat kawasan Timur Tengah, termasuk harapan kehidupan yang lebih baik dan demokratis.

Situasi yang sekarang terjadi di beberapa negara Timur Tengah ternyata juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi di berbagai negara lain seperti Indonesia. Ada dua dampak yang dirasakan oleh Indonesia -dampak langsung dan tidak langsung. Kehidupan ekonomi suatu negara memang tidak pernah lepas dari hubungan antar negara. Hubungan antar negara diwujudkan dalam hubungan keilmuan, sosial, politik, diplomatik, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Krisis Timur Tengah juga melahirkan berbagai model dan varian yang juga sulit dibaca, kecuali pembacaan politik dan geopolitik yang melingkupi. Munculnya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah bagian dari kerumitan krisis di kawasan ini. Sebelumnya persoalan sengketa Israel-Palestina, muncul juga Al-Qaeda, hingga berbagai kelompok separatis semisal kelompok Houthi di Yaman dan gerakanseparatislain menjadi bagian dari varian krisis yang rumit.



Gelombang Demokrasi dan Nasionalisme SARA



Harapanperubahan yang lebihbaikadalahsuara yang berdengungmengiringigelombangrevolusi yang bergulir di kawasanTimur Tengah. Pemerintahan yang demokratis diharapkan mampu memberi ruang partisipasi publik yang lebih luas, meski dalam situasi transisi justru memiliki banyak kerentanan. Sebab, demokrasi yang berdampak positif membutuhkan prasyarat dan kondisi awal yang perlu diperhatikan. Kondisi dan prasyarat bagi demokrasi yang dibutuhkan antara lain; pengetahuan dan keterampilan politik yang memadai di antara penduduknya, dukungan elite politik terhadap demokrasi, tradisi rule of the law dan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang kuat, tingkat perkembangan ekonomi tertentu, kebudayaan yang menunjang dan sebagainya.

Nah, jika prasyarat ini tidak terpenuhi, justru akan melahirkan kerentanan yang dimaksud, meski kebebasan menyatakan pendapat, pemilihan umum langsung yang jurdil (jujur dan adil) dan luber (langsung, umum, bebas, rahasia) bisa diselenggarakan. Kerentanan pada proses politik awal dan masa transisi demokrasi seringkali melahirkan berbagai konflik kepentingan,terlebih di kalangan elit. Sebab, suara demokrasi ditentukan melalui suara mayoritas, sehingga pihak minoritas akan tersingkir. Dan kaum elit yang di periode sebelumnya berkuasa, bisa jadi punya peluang yang sama, menjadi tersingkir, maka elit tersebut akan menggunakan sentimen nasionalisme SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) untuk membangun kekuatan politik sesuai kepentingan elit. Dan cara-cara elit menarik sentimen SARA dalam proses pemenangan politik di era transisi demokrasi inilah yang mengganggu demokrasi yang diharapkan, bahkan tak sedikit melahirkan guncangan sosial-politik yang hebat.

Dalam bukunya, From Voting to Violence: Democratization and Nationalist Conflict, Jack Snyder mengungkapkan fakta keterkaitan antara demokratisasi dan konflik nasionalisme, dan itu banyak berhubungan dengan apa yang disebut nasionalisme SARA. Dasar legitimasinya diperoleh dengan cara benturan ras, agama, suku, golongan, bisa juga pengalaman sejarah, mitos dan seterusnya. SARA digunakan untuk memasukkan dan mengeluarkan orang dari term nasionalis, padahal ini bersifat rasis dan berangkat dari pemikiran yang sempit. Sementara perbedaan dan berbagai kesempitan dalam bentuk SARA tidak selayaknya menjadi basis demokrasi. Sebab demokrasi justru diharapkan melahirkan rasa nasionalisme yang tetap menghargai perbedaan dan tidak terkotak-kotak yang anti pluralisme.

Studi Snyder di atas menyebutkan, kebanyakan atau sebagian besar negara-negara yang tercebur dalam konflik SARA selama dasawarsa 1990-an adalah negara yaang sedang menuju tahapan transisi demokrasi. Lantas, bagi negara Indonesia yang dianggap sudah melampaui, tetapi masih menunjukkan situasi dan kondisi yang kurang lebih sama, adakah termasuk sebagian kecil dalam riset Snyder? Ada maksud yang disampaikan Snyder, bahwa dua tahun sebelum pecahnya konflik dan pertikaian SARA, umumnya dimulai dengan pra kondisi dengan menguatnya kemajuan parsial dalam hal kebebasan politik atau kebebasan sipil. Parsialitas yang merusak, menyempit dan rasis inilah yang menjadi penyubur bagi lahirnya nasionalisme SARA.

Beberapa contoh negara yang mengalami pecah SARA, antara lain di bekas Yugoslavia, antara orang Armenia dan orang bekas Soviet Azerbaijan, begitu juga di Burundi dengan minoritas Tutsi dan mayoritas Hutu. Begitu juga yang terakhir kasus SARA di kawasan Timur Tengah, semisal Mesir. Lantas bagaimana membuat nasionalisme SARA tidak muncul? Apakah demokrasi selalu melahirkan bahayanya yang juga semakin rumit dan membuat apriori? Nasionalisme sipil musti dikuatkan. Para elit, baik di level pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif), maupun tokoh masyarakat dan ulama, bersama seluruh lapisan masyarakat saling menjaga situasi kondusif, tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan institusi politik (kelembagaan negara) yang ada juga saling menopang dan cukup kuat menampung proses ini.

Penguatan nasionalisme sipil, seperti digagas Kim Holmes misalnya, adalah upaya untuk membangun basis pemersatu bangsa dan menciptakan kesetaraan warga negara tanpa melihat jenis suku, ras, warna kulit, keturunan dan agama, sehingga demokrasi yang dijalankan akan memberi dampak positif dan mencapai cita-cita bangsa yang diharapkan. Dengan cara yang setipe ini pula, pemahaman dan cara pandang sektarian, dengan sendirinya juga akan memudar. Berbagai perbedaan kepentingan dan konflik bisa dilihat secara lebih utuh dengan mempertimbangakan berbagai faktor dan penyebab yang menjadi pemicu konflik, dari berbagai aspek dan latar belakang secara menyeluruh.

Akhirnya kedewasaan setiap warga, kesadaran berdemokrasi yang semakin dipahami, akan berujung pada kondisi check and balances dan menjadi pupuk untuk terwujudnya proses demokrasi yang terus membaik dan saling menjaga melalui kritik-konstruktif, sehingga melahirkan kran demokrasi yang menyehatkandan berujung pada kemakmuran negeri.



Penulis adalah Kepala Divisi Media dan Publikasi Lakpesdam PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Syariah, Kiai, Ulama Santri An Nur Slawi

Daya Tampung Terbatas, Pesantren Ini Tolak 100 Santri Baru

Padangpariaman, Santri An Nur Slawi. Pondok Pesantren Nurul Yaqin, Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung Kabupaten Padangpariaman, Provinsi Sumatera Barat? tahun 2015 terpaksa menolak hampir sepertiga calon santrinya yang mendaftar. Alasannya, tempat dan fasilitas di Pesantren Nurul Yaqin hanya mampu menampung 200-an orang santri baru.

Daya Tampung Terbatas, Pesantren Ini Tolak 100 Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Daya Tampung Terbatas, Pesantren Ini Tolak 100 Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Daya Tampung Terbatas, Pesantren Ini Tolak 100 Santri Baru

Akibatnya, sekitar 100 pendaftar terpaksa batal menjadi santri Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan tahun 2015 ini. Padahal, jumlah pendaftar mencapai 330 orang. Ketua Yayasan Pembangunan Islam El Imraniyah (PYII) Ringan-Ringan Idarussalam Tuanku Sutan,? mengakui adanya lonjakan pendaftaran calon santri ke Pesantren Nurul Yaqin.

"Tingginya peminat ke Pesantren Nurul Yaqin ini menjadi tantangan yang harus dihadapi? Yayasan dan pengasuh dalam menyiapkan sarana prasarana santri," kata Idarussalam di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Senin (10/8),? kepada Santri An Nur Slawi.

Santri An Nur Slawi

Meski demikian, pihaknya merasa gembira dengan adanya lonjakan calon santri. Sebab, hal itu berarti kepercayaan masyarakat terhadap Pesantren Nurul Yaqin semakin besar. Namun, di sisi lain menuntut adanya penambahan sarana prasarana pendukung, terutama asrama dan ruang belajar.

Santri An Nur Slawi

“Untuk menampung santri baru putra tahun ini dibangun asrama semi permanen 16 x 40 meter. Asrama ini ditempati santri baru putra," kata Idarussalam yang juga Kepala BKD Kabupaten Padangpariaman ini.? ?

Idarussalam berharap adanya pembangunan ruang belajar,? asrama dan sarana ibadah (musalla) yang memadai. "Bagi dermawan yang ingin menyumbangkan sebagian hartanya membangun fasilitas tersebut , sangat diharapkan. Bantuan yang diberikan pasti sangat berarti dalam menyiapkan generasi masa depan bangsa," katanya. ?

Tim Penerimaan Seleksi Penerimaan santri Baru Nurul Yaqin Syekh Muda Muhammad Rais Tuanku Labai Nan Basa, Senin (10/8/2015), di kantornya menyebutkan, jumlah pendaftar calon santri baru dua gelombang mencapai? 330 orang. Sedangkan yang diterima hanya 235 orang. ?

Dikatakan, bagi mereka yang tidak bisa lagi tertampung di Nurul Yaqin Ringan-Ringan disarankan/direkomendasikan kepada cabang-cabang Pondok Pesantren Nurul Yaqin yang dikelola oleh alumni Pesantren Nurul Yaqin sendiri di Kabupaten Padangpariaman. Yakni di Pesantren Bustanul Yaqin di Punggungkasiak, Kecamatan Lubuk Alung, Pesantrenn Nurul Yaqin Sungai Abang, Kecamatan Lubuk Alung, Pesantren Aswaja Limpato Kecamatan VII Koto, Pesantren Nurul Yaqin Surau Batu Gadur, Kecamatan VI Lingkung dan Nurul Yaqin Ambung Kapur.

"Memang tidak semua yang direkomendasikan tersebut bersedia masuk pesantren di cabang Nurul Yaqin itu. "Kita memang ingin semuanya dapat nyantri di Nurul Yaqin Ringan-Ringan ini. Tapi kapasitas asrama dan ruang belajar yang tidak memungkinkan untuk menerimanya," katanya

Dikatakan, pada pendaftaran gelombang pertama dibuka mendaftar 119 orang dan diterima 94 orang. Meski jadwalnya? dipersingkat beberapa hari, tapi tetap saja banyak yang mendaftar.? Pada gelombang kedua, mendaftar 210 orang, hanya diterima 135 orang, ditambah 4 orang cadangan. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Foto: Bangunan semipermanen yang digunakan sebagai asrama putra santri baru Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Internasional Santri An Nur Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru

Semarang, Santri An Nur Slawi. Sebanyak 15 Madrasah Tsanawiyah di Semarang, Jawa Tengah, yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif Nadhaltul Ulama mengikuti pelatihan instruktur kurikulum 2013, 18-20 September 2014.

Kegiatan yang digelar di MTs Al Uswah? Bergas, Semarang, ini dimaksudkan untuk mempersiapkan para guru menghadapi kurikulum 2013 yang direncanakan pemerintah serentak diterapkan pada 2014.

15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru

KKM MTs Ma’arif Kabupaten Semarang menyelenggarakan pelatihan instruktur kurikulum 2013 dengan menghadirkan pemateri dari Balai Diklat Keagamaan Semarang, antara lain Agus Mujiono, Bisri Musthofa, dan H. Suyatno.

Santri An Nur Slawi

Ketua LP Ma’arif Kabupaten Semarang Moch Solichin menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap pelatihan dapat mengatarkan guru untuk lebih siap dalam menghadapi kurikulum? 2013. Menurutnya, madrasah-madrasah di lingkungan Ma’arif Kabupaten Semarang mesti mendapatkan pelatihan kurikulum baru ini secara menyeluruh.

Santri An Nur Slawi

Secara resmi kegiatan tersebut dibuka Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Semarang Subadi. Kemenag Semarang menyatakan dukungan penuh pelatihan yang digelar secara mandiri ini. Subadi yang juga memberikan materi “Penguatan Kebijakan Kementrian Agama dalam Implementasi Kurikulum 2013” mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk perhatian yang konkret pada kemajuan pendidikan khususnya madrasah.

Menurut Ketua KKM MTs Ma’arif Isro’i, pelatihan instruktur kurikulum 2013 diprogramkan dalam enam angkatan. Angkatan pertama untuk guru Quran-Hadits dan Aqidah-Akhlak, dan angkatan kedua untuk guru Fiqih dan SKI yang dilaksanakan di MTs Al Uswah Bergas. Angkatan ketiga dan keempat untuk guru mata pelajaran umum di MTs NU Ungaran dan angkatan kelima keenam untuk guru bahasa direncanakan menempati aula MTs Darul Ma’arif Pringapus. (Suharsini/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Fragmen, Pesantren Santri An Nur Slawi

PBNU Dukung Wanita TNI/Polri Berjilbab

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Wacana tentang bolehnya penggunaan jilbab bagi wanita TNI dan Polri mendapat banyak dukungan. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menyambut baik usulan ini karena sesuai dengan syariat Islam.

“Kita mendukung penggunaan jilbab bagi wanita TNI dan Polri agar mereka bisa melaksanakan ketentuan agama dengan baik,” kata Rais Syuriyah PBNU KH Hafidz Utsman di Gd. PBNU, Senin (16/12).

PBNU Dukung Wanita TNI/Polri Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Wanita TNI/Polri Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Wanita TNI/Polri Berjilbab

Meskipun demikian, model dan ketentuan jilbab tersebut harus mendukung tugas dan peran yang mereka jalankan. “Tentu berbeda model jilbab bagi mereka yang bertugas di lapangan dengan mereka berada di kantor,” imbuhnya.

Wacana wanita TNI boleh berjilbab muncul pertama kali saat ada siding fit and proper test bagi panglima TNI. Saat itu, salah satu anggota DPR menanyakan calon panglima TNI Djoko Santoso apakah anggota wanita TNI diperbolehkan berjilbab. Djoko sendiri menyatakan tidak ada larangan berjilbab bagi anggota Wanita TNI.

Sebenarnya, penggunaan jilbab bagi anggota wanita TNI/Polri sudah diberlakukan di Aceh yang menerapkan syariat Islam. Saat ini ketentuan pakaian yang berlaku secara nasional bagi perempuan TNI/Polri adalah celana panjang dan rok. (mkf)

Santri An Nur Slawi



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Habib, Aswaja Santri An Nur Slawi

Indikator Pengurus Ranting NU Tergolong “Aktif”, Menurut Lakpesdam

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (PP Lakpesdam NU) sedang menggalakkan program kaderisasi ranting NU, yakni kepengurusan NU di tingkat desa atau kelurahan. Program percontohan kaderisasi ranting telah dilakukan dengan melibatkan pengurus tingkat cabang (PCNU) dan diharapkan berlanjut ke sebanyak mungkin ranting (PRNU) seluruh Indonesia.

Indikator Pengurus Ranting NU Tergolong “Aktif”, Menurut Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)
Indikator Pengurus Ranting NU Tergolong “Aktif”, Menurut Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)

Indikator Pengurus Ranting NU Tergolong “Aktif”, Menurut Lakpesdam

Ketua PP Lakpesdam NU H Yahya Ma’shum kepada Santri An Nur Slawi di Jakarta, Senin (16/6) mengatakan, keberadaan organisasi NU harus dimanfaatkan sepenuhnya oleh warga di tingkat lapis paling bawah, yakni ranting atau jika perlu sampai ke anak ranting.

Dalam rangka meningkatkan peran NU di tingkat ranting atau desa dan kelurahan, maka SDM pengurus ranting harus dipersiapkan. Sementara program di tingkat ranting terdekat yang sudah berjalan bisa menjadi acuan.

Santri An Nur Slawi

Sebagai motivasi, PP Lakpesdam NU telah menyampaikan beberapa ciri atau indikator kepengurusan NU di tingkat ranting atau tingkat kecamatan (MWCNU) dapat dinilai sehat atau aktif.

Pertama, pengurus ranting telah terlibat atau bahkan menggerakkan berbagai aktivitas atau tradisi keagamaan di desa atau kelurahan setempat. “Jadi indikator pertama PRNU aktif adalah jika amaliyah NU berjalan,” kata Yahya Ma’shum.

Santri An Nur Slawi

Kedua, pengurus ranting NU telah meningkatkatkan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Para pengurus juga bisa menghimpung dana dalam bentuk zakat dan infaq dari masyakrat yang dikembalikan untuk keperlan masyarakat setempat. Dalam hal ini peran lembaga di tingkat kabupaten hanya menjadi partner yang menfasilitasi berbagai program di tingkat ranting aau kecamatan.

“Selanjutnya, bagaimana ranting sehat itu dicirikan dengan terjadinya proses kaderisasi secara sederhana melalui berbagai even atau kegiatan. Di dengan melibatkan warga arau anak-anak muda untuk menjadi panitia kegiatan itu sudah merupakan kaderisasi,” kata Yahya.

Indikator selanjutnya, PRNU dinilai aktif apabila pengurus telah telibat dalam kegiatan peningkatkan taraf perekonomian warga yang disesuaikan dengan  kondsi dan kebutuhan warga setempat.

Warga juga harus dikenalkan dengan politik anggaran. “Sekarang desa menjadi pusat perhatian dan alokasi anggaran untuk desa juga cukup besar,” katanya.

Di bidang pendidikan, pengurus NU di tingkat ranting dinilai aktif jika bisa membangun atau menggerakkan pendidikan yang ada, mulai dari PAUD, Taman Pendidikan Al-Quran, atau lembaga pendidikan lain dengan taraf lebih tinggi sesuai kapasistas ranting setempat.

“Yang juga perlu diperhatikan diperhatikan oleh ranting adalah syarat adminitrasi dan managemen keorganisasian. Lalu, kantor atau pusat kegiatan NU minimal ditandai dengan papan nama,” kata Yahya.

“Jadi buat apa NU berkibar di tingkat cabang, kalau di MWC dan ranting tidak,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

 

Ilustrasi: Kantor Pengurus Ranting NU di Desa Krecek, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, yang juga sekaligus sebagai kantor beberapa badan otonom dan unit usaha NU setempat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi IMNU Santri An Nur Slawi

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi

Keputusan untuk berkiprah dalam organisasi tanpa melalaikan kewajiban sebagai Ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Namun, hal itulah yang dilakukan Nyai Solichah Saifuddin Zuhri. Mertua KH Salahuddin Wahid ini berprinsip aktif dalam sebuah organisasi tak harus meninggalkan peran utama dalam keluarga.

Karena itu pula, dia selalu mengajak anak-anaknya dalam kegiatan organisasi yang dia lakukan. Seperti saat kampanye Pemilu 1955, saat itu Nyai Solichah diberi tanggung jawab sebagai Juru Kampanye (Jurkam) NU (ketika masih menjadi partai politik) keluar daerah. Bertepatan kala itu dia punya momongan yang masih kecil, yakni seorang putri berusia 10 tahun bernama Farida dan adiknya yang masih bayi bernama Baihaqi.

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi

Meski berada di panggung kampanye, Nyai Solichah tetap membawa kedua anaknya menghadiri undangan rapat kampanye. Alhasil, Nyai Solichah berpidato sementara si kecil Baihaqi digendong sang kakak tanpa bantuan baby sitter. Hal itu sebagai bukti kemandirian sosok Nyai Solichah Saifuddin Zuhri.

Santri An Nur Slawi

Memang, selama hidupnya Nyai Solichah berpandangan bahwa kaum perempuan harus bisa mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Selain itu, seorang perempuan harus menguatkan kehidupan keluarganya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berkarir atau pun berorganisasi. Karena tanggung jawab sebagai Ibu Rumah Tangga menjadi tanggung jawab utama. Karena prinsip-prinsip yang dia pegang itu lah tak ayal dia tetap membawa Sang Anak kala beraktivitas dalam organisasi.

Keterlibatan Nyai Sholihab dalam Muslimat NU dimulai dari bawah ketika menjadi Ketua Muslimat NU wilayah Jawa Tengah tahun 1950-1955. Baru sekitar 1956-1989, dia dipercaya sebagai salah satu ketua di PP Muslimat NU. Bahkan hingga Nyai Solichah wafat 6 Maret 1990, beliau masih berstatus sebagai pengurus PP Muslimat NU.

Santri An Nur Slawi

Kiprahnya dalam Muslimat NU tampak di bidang kesehatan. Dia pernah menjabat sebagai Direktris Rumah Bersalin Muslimat NU di Hang Tuah, Jakarta Selatan. Rumah bersalin itu dibangun di atas tanah wakaf suaminya KH Saifuddin Zuhri. Meski menjadi bagian dari Direktris, dia tetap menjalankan hobinya dalam hal menjahit dan berkebun.

Dari perkawinannya dengan KH Saifuddin Zuhri, Nyai Solichah dikaruniai 10 anak yakni Fahmi D Saifudin, Farida Salahuddin Wahid, Annisa S Hadi, Aisyah Wisnu, Andang Fatati, Ahmad Baehaqi Saifudin, Yulia Nur Soraya, Annie Lutfia, Adib Daruqutni, dan Lukman Hakim Saifudin yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama RI. (Mahbib)

Diolah dari buku "50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa", 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Budaya Santri An Nur Slawi

Kamis, 28 Desember 2017

PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan

Brebes, Santri An Nur Slawi - Ketua PCNU Brebes KH Athoillah menyampaikan tentang pentingnya dua amanat yang telah diembankan kepada NU yang artinya berlaku juga untuk seluruh lembaga dan badan otonom NU, yaitu amanat diniyah (keagamaan) dan amanat wathaniyah (kebangsaan).

Demikian disampaikan Kiai Athoillah pada pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) XI IPNU-IPPNU Kabupaten Brebes di SMK/MTs Al-Ikhlas Limbangan, Losari, Brebes, Rabu (12/7).

PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan

Dua amanah ini, kata Atho, dijalankan dengan tawasut artinya moderat pada posisi di tengah-tengah dan toleran. Dalam menjaga Islam yang mulia harus pula dengan kemuliaan. “Komitemen NU, yakni satu tekad, satu langkah untuk mempertahankan Islam dan negara,” kata Kiai Atho.

Santri An Nur Slawi

Ia mengingatkan, kebencian yang terlalu memuncak mendorong kelompok wahabi untuk melenyapkan NU antara tahun 2025 hingga 2030.

Santri An Nur Slawi

Tantangan ini, lanjutnya, justru menjadikan NU makin kuat apalagi sekarang sudah mendapat dukungan penuh dari tentara, polisi, dan negara. “Pendidikan kader penggerak NU di Kabupaten Brebes juga sudah digelar 6 angkatan, dan pengkaderan lainnya banom NU yang tiada henti menjadi kekuatan tersendiri,” tegasnya.

Sementara Wakil Bupati Brebes Narjo yang hadir pada pembukaan konferensi ini mengharapkan kelahiran kader yang mumpuni dan memberkahi. Jadikan forum konfercab sebagai ajang silaturahmi dan peningkatan SDM dalam mengawal NKRI.

Era sekarang, kata Narjo, organisasi pemuda tengah dihadapkan pada tantangan perubahan sosial. Untuk itu perlu peningkatan kapasitas dan kualitas yang memadai sehingga tidak tertinggal dan ditinggal oleh anggotanya.

Narjo juga meminta IPNU-IPPNU untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Terutama dalam penanganan dekadensi moral, merebaknya pornografi, narkoba, dan tindak negatif lainnya. “Pemkab memandang IPNU-IPPNU menjadi organisasi yang berakhlakul karimah sehingga mampu membentengi berbagai kegiatan negatif,” tandasnya.

Ketua Panitia Konferensi Abdul Azis menjelaskan, konferensi ini diikuti 750 peserta utusan dari 297 desa/kelurahan di 17 PAC se-Kabupaten Brebes. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Sunnah, Kajian Islam Santri An Nur Slawi

Wajah Berlapis

—untuk abahku

Manan melirik jam. Pukul 09.55. Menurut temannya, tamu yang ia tunggu akan datang pukul 10.00-an. Ia menunggu di ruang tamu. Di sudut pojok, beberapa lusin pakaian buatannya tersusun di rak lemari. Ia pebisnis pakaian anak-anak.

“Saya suka anak-anak,” begitu ia selalu bilang. Kesukaannya itu kemudian menjadi bisnis. Ada pakaian yang bergambar strawberry, Krisna kecil yang sedang meniup seruling, Teletubbies dan gambar-gambar lucu seperti di film kartun.

Wajah Berlapis (Sumber Gambar : Nu Online)
Wajah Berlapis (Sumber Gambar : Nu Online)

Wajah Berlapis

Selang sepuluh menit deru sepeda motor berhenti.

Santri An Nur Slawi

“Tok..tok..tok..”

Santri An Nur Slawi

Disusul pintu yang diketuk-ketuk. Lelaki berjaket hitam, bersepatu kulit dan tas yang mencantol di punggung berdiri di pintu rumahnya.

“Saya dapat info dari haji Somari kalau bisnis Bapak sedang berkembang,” kata lelaki itu setelah dipersilahkannya masuk. “Saya surveyor bank……”

“Benar. Kebetulan bulan-bulan ini bertambah ramai,” Manan mengangguk bangga.

Suara mesin jahit yang sibuk menyelingi percakapan mereka.

“Apa Bapak mau melihatnya? Tempat produksi di belakang rumah,” sambungnya.

“Tidak usah. Oke, besok pagi Bapak bisa mencairkannya di kantor,” jawab lelaki itu.

Manan mengangguk-angguk dan senang. Begitu lelaki itu pamitan, ia teringat Kyai Mui. Dalam hidupnya, jika ada hal penting Manan selalu sowan Kyai Mui. Ia sudah seperti orang tuanya. Ia guru ngajinya. Manan secepatnya pergi ke Kyai Mui. Sesampainya di rumahnya, ia lihat Kyai Mui baru selesai mengaji.

"Apa saya boleh kredit bank, Kyai?" tanyanya.

"Pebisnis sepertimu memang sulit tak berhubungan dengan bank, Nan," desah Kyai Mui dengan nafas yang berat, "Saya tahu, zaman telah berubah. Kondisi pasar semakin kompleks."

"Jadi, Kyai...."

Kyai Mui mengangguk.

"Tapi, ingat zakat dan shodaqohmu. Itu tulak balak."

Manan mencium tangan Kyai Mui bolak-balik. Ia pulang membawa restunya untuk kredit bank.

Bisnis saya bakal berkembang, pikirnya. Pasar-pasar baru bakal ia kembangkan di penjuru kota. Sepanjang matanya memandang, ia bakal melihat anak-anak memakai pakaian buatannya yang bagai dalam dongeng Tubbies yang penuh buah strawberry. Buah kesukaan anak-anak. Betapa lucu. Betapa menggemaskan. Dan tubuhnya serasa ringan seakan dari kedua bahunya mengepak sayap. Kepakan sayap itu menerbangkannya ke penjuru impiannya; beli mobil, punya rumah lagi, umroh. Dan naik haji berkali-kali. ”Tahun depan saya akan dipanggil pak haji,” ia tersenyum-senyum membayangkannya. Hmm...

Senyumnya terus mekar di antara deru sepeda motor yang berseliweran di depan rumahnya. Ia dengar sepeda motor berhenti.

“Tok..tok..tok..”

Disusul pintu yang diketuk-ketuk. Manan sibak korden jendela kamar. Lelaki berjaket hitam, bersepatu kulit dan tas yang mencantol di punggung berdiri di pintu.

"Saya petugas bank," lelaki itu mengenalkan diri. "Selamat ya, Bapak menang undian umroh. Ini bukti suratnya," ia mengulurkannya.

Awalnya, Manan ragu dan curiga. Ia membacanya. Tiga kali. Hingga yakin bahwa ia tak salah baca. Namun, keraguannya berganti puji-pujian kepada Allah ketika ia memencet nomor kantor dan mendengar customer service yang empuk di ujung telepon; “Betul. Bapak memenangkan program umroh bersama nasabah.”

Manan girang bukan kepalang. Lelaki itu segera pamitan. Surat itu ditimang-timangnya lama. Dan lalu sekonyong nongol wajah Kyai Mui di pikirannya. Ia secepatnya pergi ke Kyai Mui. Tergopoh-gopoh. Sesampainya di rumahnya, ia lihat Kyai Mui baru selesai mengaji.

"Segala puji bagi Allah, Kyai."

"Ada apa, Nan?"

"Segala puji bagi Allah, Kyai," puji-pujian melafal dari mulutnya berulang-ulang.

"Ya, ada apa?"

"Ini surat dari bank, Kyai. Saya dapat hadiah umroh," ia menyerahkannya.

"Dan saya ingin Kyai Mui yang naik umroh. Bagaimana, Kyai?"

Kyai Mui terpana. Matanya seperti binar-binar bintang di langit malam. Terharu sekali. Mulut Kyai Mui yang tipis dan tua komat-kamit, "Alhamdulillah." Berulang-ulang. Saking girangnya.

Manan pulang membawa binar-binar mata Kyai Mui. Ia belum pernah menjumpai mata Kyainya sebahagia itu. Di tanah suci, Kyai Mui pasti mendoakan bisnisnya. Ia jadi terharu sendiri menaikkannya umroh. Ia berharap Tuhannya kelak membalas ia dengan surga.

Aroma surga segera menguar ke bilik hati dan sudut-sudut rumahnya. Rumahku surgaku, begitu ia menyebutnya. Terletak di pinggir jalan perkampungan yang banyak motor-motor berseliweran melintas. Ia dengar sepeda motor berhenti dan pintu rumahnya yang diketuk-ketuk.

“Tok..tok..tok..”

“Siapa?” Manan sibak korden jendela kamar. Lelaki berjaket hitam, bersepatu kulit dan mencantol tas punggung berdiri di pintu rumahnya.

"Saya kagum. Bisnis bapak berkembang," lelaki itu basa-basi. Seorang marketing bank. "Ini ada brosur, Pak. Barangkali bapak tertarik," ia memasang senyum.

Sejak sebulan lalu, Manan memang berpikir untuk kredit bank. Jika tanpa suntikan modal bisnisnya bakal berkembang lambat.

"Bunga kreditnya kecil lho, Pak," lelaki itu terus memikatnya.

Manan terangguk-angguk dan terpikat. Lelaki itu pamitan.

Ia tercenung dan ingat Kyai Mui. Ia secepatnya pergi ke Kyai Mui. Sesampainya di rumahnya, ia lihat Kyai Mui baru selesai mengaji.

"Saya ingin kredit bank, Kyai," ucap Manan, tapi wajah Kyai Mui kecut.

"Ayat-ayat Allah mengutuk bunga riba," suara Kyai Mui ikut kecut.

"Tidakkah kau tahu Dia mengutuknya?" wajahnya kian kecut.

"Tahu, Kyai. Tapi…...”

“Kalau begitu, jauhkanlah dirimu dari riba yang terkutuk,” suara Kyai Mui semakin kecut.

“Kyai…”

"Manan,” suara Kyai Mui keras, “Tak ada suatu alasan pun dari manusia untuk menentang Tuhannya!"

Manan pulang menenteng wajah kecut Kyai Mui dan bayang-bayang kutukan Allah. Ia bergidik dan linglung. Segera cerita tentang malaikat-malaikat penjaga neraka yang bertombak api mengoyak batinnya. Tetapi, bagaimana dengan bisnisnya? Seluruh keluarga dan kolega-kolega sudah ia hubungi untuk meminjamkannya modal. Hasilnya nihil. "Tak ada pilihan kecuali bank," gerutunya.

Maka, tanggal 21 di bulan September Manan kredit bank. Tetapi, siapa yang tahu nasib? Nasib yang bengis pada akhirnya menghendaki kios pasar yang ia stok pakaian terbakar. Ludes. Manan bangkrut!

Dan apa yang bisa kau katakan tentang laki-laki yang bangkrut?

Bagi lelaki bangkrut, maka jaket hitam, tas punggung, sepatu kulit, lelaki yang tanpa senyum dan sepeda motor bahkan lebih menyeramkan dari iblis neraka. "Ini bukan rumahku surgaku," rutuknya. Tampangnya menyedihkan; "Ini rumah mirip neraka."

Manan tak lagi menyebut rumahnya surga, tapi neraka. Rumahnya yang terletak di pinggir jalan perkampungan setiap harinya berseliweran sepeda motor melintas. Dan deru motor-motor itu berubah teror yang abadi.

Manan dengar deru motor semakin jelas. Sebuah sepeda motor melintas.

"Hah...syukurlah bukan!" Gumamnya.

Jika ia bergumam begitu, artinya itu bukan motor dan lelaki juru tagih. Delapan bulan ini tagihannya macet. Itulah hari-hari laknat yang ia jalani sebagai lelaki bangkrut—setiap motor melintas di depan rumahnya. Kecuali Sabtu dan Minggu, semua hari adalah laknat yang mengapung dari pagi hingga petang.

Barangkali, di otaknya, kini hanya ada denyut kalender. Berdenyut-denyut dalam tanggal. Ini tanggal 18. Besok 19. 20. 21. Kurang tiga hari lagi tanggal 21. Ia terloncat. Didengarnya motor berhenti. Disusul pintu yang diketuk-ketuk. Juru tagih? Manan sibak korden jendela kamar. Lelaki tanpa senyum, berjaket hitam dan tas di punggung berdiri di pintu rumahnya. Ia merasa dadanya retak menjadi beberapa puing dan pisau-pisau belati beterbangan ke batok kepala. Sebelah kiri.

Manan menyelinap. Lewat pintu belakang dapur, ia lari. Terus berlari. Hingga sampailah di rumahnya Kyai Mui. Ia lihat Kyai Mui baru selesai mengaji.

"Kau pembangkang!" Desis Kyai Mui.

"Saya berdosa, Kyai."

"Hai, pemuja riba! Apakah kini hidupmu bagai di neraka?"

"Ya," ia merunduk.

"Maka, banjirilah waktu-waktumu dengan tangis sejadi-jadinya. Taubat. Kemudian bisikkan janji kepadaNya kau dan keturunanmu akan mengutuk riba selama langit belum ambruk."

Allah, cabutlah kutukanMu, batinnya menangis. Ia terseok pulang membongkok segepok dosa. Sementara otaknya sibuk menghitung kalender.

Ia merasa sangat lelah. Dan betapa lelahnya menghitung kalender. Manan ingin tidur. Namun, meski kelopaknya terkatup seringkali otaknya betah melek mengotak-atik tanggal 21. Tanggal jatuh tagihan. Ia berdoa, lelaki berjaket hitam yang tanpa senyum tak akan mengetuk-ketuk pintu. Setidaknya tidak di jam ia sedang tidur; pagi, siang atau sore. Hanya pada malamlah ia bisa tidur yang sebenarnya.

Disaat matanya mulai mengatup dalam hitungan detik ke-21—setelah diperjuangkannya berjam-jam—Manan terloncat oleh deru sepeda motor yang berhenti.

Tok..tok..tok..

Disusul pintu yang diketuk-ketuk. Juru tagih? Manan sibak korden jendela kamar. Lelaki tanpa senyum, berjaket hitam dan tas di punggung berdiri di depan pintu rumahnya. Dadanya menjadi puing-puing kesekian kali. Pisau belati beterbangan menghunjam migran.

Secepat kilat ia menyelinap. Lari. Lewat pintu belakang dapur, ia hendak berlari ke rumah Kyai Mui. Sekencang-kencangnya.

"Ada yang mencari Bapak," suara anaknya—Warso—membuatnya gemetaran. "Haji Sastro."

"Hah...syukurlah bukan!" gumamnya. Lega. Badai di dadanya sedikit mereda. Sepersekian %—yang bagai satu di antara pisau-pisau belati terlepas dari saraf migran.

"Tadi haji Sastro mampir. Dia habis menjenguk keponakannya yang sakit. Saya katakan kalau bapak tidak di rumah. Itu pesan bapak, kan? Kalau ada tamu siapa saja disuruh bilang bapak tidak di rumah. Begitu kan, pak? Dan haji Sastro langsung pulang. Dia titip salam."

Manan mengangguk lesu. Haji Sastro adalah temannya ngaji di Kyai Mui dulu. Hampir tiga tahun ini mereka tak ketemu.

Kepala Manan terasa berat dan sakit. Sungguh seperti digencet tembok. Ia ingin melanjutkan tidur. Meski sebentar. "Kamar ini sumpek," keluhnya sambil merebahkan badan. Tetapi, ia buru-buru terloncat lagi oleh deru beberapa sepeda motor yang berhenti.

Tok..tok..tok..

Tok..tok..tok..

Tok..tok..tok..

Suara pintu diketuk-ketuk keras. Makin lama makin keras. Ia sibak korden jendela kamar. Kali ini tiga orang lelaki berdiri di pintu rumahnya. Tanpa senyum, berjaket hitam dan tas yang mencantol di punggung. Ia kenal lelaki-lelaki itu. Juru tagih!

Manan cepat menyelinap. Lewat pintu belakang dapur, ia lari. Terus berlari kencang dengan lusinan pisau belati yang menancap di saraf migran. Hingga tibalah ia di rumah Kyai Mui. Tetapi, Kyai Mui tak ada. Kyai Mui sedang mengaji di luar kota.

Manan bingung. Jika kau melihatnya, kau akan saksikan ia seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Ia kembali berlari menyumpal kuping yang nyeri oleh fatwa-fatwa Kyai Mui.

"Kredit bank? Silahkan, Nan!"

"Tak ada pilihan, Nan. Pasar semakin kompleks!”

“Manan, bunga riba dikutuk Allah. Itu dosa!”

Kudus, 21 September 2012

AHMAD MUHIMMYA, berkhidmat di Yayasan Janur Wahid Siasem Brebes.

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kyai, Jadwal Kajian Santri An Nur Slawi

Prof Maksum: Pengusaha Kecil Butuh Proteksi

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof H Maksum Mahfudz menilai, usaha kecil dan rumah tangga selama ini belum mendapat perlindungan maksimal, baik dari pemerintah atau lainnya.

Pendapat ini disampaikan dalam acara peluncuran Badan Halal Nahdlatul Ulama (BHNU) di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (6/2) petang.

Prof Maksum: Pengusaha Kecil Butuh Proteksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Maksum: Pengusaha Kecil Butuh Proteksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Maksum: Pengusaha Kecil Butuh Proteksi

Menurut Maksum, akibat dari kondisi ini pengusaha mikro kerap kalah dalam persaingan pasar lantaran terbatasnya modal dan sejumlah peristiwa yang memojokkan pedagang kecil.

Santri An Nur Slawi

Guru besar Universitas Gajah Mada ini menyinggung kasus bakso oplosan daging babi beberapa waktu lalu. Meski yang ditunjuk sebagian kecil, namun dampaknya meluas ke mayoritas pedagang bakso. Untuk menghindarkan mereka dari generalisasi status haram, mereka perlu mendapat pendampingan dan pengakuan.

Santri An Nur Slawi

”Dan sampai sekarang negara tak memproteksi mereka,” katanya.

Maksum berpendapat, Badan Halal Nahdlatul Ulama (BHNU) yang diluncurkan PBNU dapat menjadi salah satu solusi yang akan melindungi pedagang kecil. Apalagi, proses sertifikasi halal saat ini masih terhitung mahal.

Sebagai Ketua BHNU, Maksum berkomitmen pihaknya tidak akan mempersulit proses sertifikasi para pengusaha kecil dan rumah tangga. Melalui proses yang relatif mudah, biayanya pun dijamin akan lebih murah.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Amalan, RMI NU Santri An Nur Slawi

Mainstream Perempuan dalam Karya Sastra

Mendung menggelayuti langit Jogja saat acara Saresehan Sastrawan Perempuan resmi dibuka, Ahad (17/3). Acara yang diselenggarakan atas hasil kerja sama antara PW Fatayat NU, Gadjah Wong Cinema, dan LKiS ini berlangsung di Pendopo Yayasan LKiS, Jl. Pura No 203 Sorowajan, Yogyakarta.

“Tujuan kami mengadakan acara ini ya agar menumbuhkan kesadaran kesetaraan gender,” ungkap Panitia penyelenggara.

Mainstream Perempuan dalam Karya Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Mainstream Perempuan dalam Karya Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)

Mainstream Perempuan dalam Karya Sastra

“Selain itu juga untuk mengeksplorasi karya-karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan perempuan. salah satu,” tambahnya.

Acara yang dimulai pukul 09.30 WIB tersebut menghadirkan tiga narasumber sekaligus, yakni Abidah El-Khalieqy, cerpenis asal Pati, Ulfatin ch, dan perwakilan dari komunitas mata pena, Isma Kazee.

Santri An Nur Slawi

Dalam acara tersebut, Abidah El-Khalieqy menyatakan bahwa ada kesamaan tema dengan novel perempuan berkalung surban yang pernah ia tulis.

Santri An Nur Slawi

“Ketika nanti saya akan membahas novel perempuan berkalung surban, maka nanti kita akan menemui bahasan yang sesuai degan tema tersebut”

Selain itu, Abidah juga menyoroti tentang hak-hak perempuan yang masih belum banyak diperhatikan.

“Kebanyakan dari kita, ketika berbicara tentang reproduksi, maka kita hanya akan berbicara tentang kehamilan, kelahiran dan sebagainya. Padahal di sana ada hak-hak perempuan yang harus ditegakkan,” ujarnya.

Berbeda dengan Abidah, Ulfatin Ch lebih menyoroti dunia pendidikan untuk mengubah pola pikir masyarakat yang masih menganggap laki-laki itu lebih mulia daripada perempuan. Menurutnya, bangsa ini masih hanya sebatas bisa membaca huruf saja. Bangsa ini belum bisa membaca fenomena di sekitarnya sendiri.

Sedangkan, Isma Kazee yang mewakili Komunita Mata Pena lebih banyak berbicara tentang bagaimana untuk melakukan mainstream perempuan dalam sebuah karya sastra.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengupayakan mainstream perempuan dalam sebuah karya sastra adalah dengan terus-menerus melakukan regenerasi penulis-penulis perempuan,” ujar Isma Kazze.

Setelah kurang lebih 3 jam, acara sarasehan yang mengambil tema “Pengarusutamaan Gender Dalam Karya Sastra” tersebut akhirnya selesai.

Selanjutnya, para peserta pelatihan disuguhi film tentang kepenulisan oleh Gadjang Wong Cinema. Gadjah Wong Cinema merupakan salah satu bioskop miliki Lesbumi DIY yang memiliki tempat pemutaran film di Ngeban Resto, Jl. Cendrawasih, Gaten, Depok, Sleman. (Rokhim Bangkit)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Meme Islam Santri An Nur Slawi

Jokowi dan Megawati akan Hadiri Munas Konbes NU

Mataram, Santri An Nur Slawi. Presiden Jokowi dan Mantan Presiden Megawati Soekarno Putri beserta puluhan Menteri Kabinet Indonesia Hebat akan menghadiri acara pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Islamic Center, Rabu siang, 23 November 2017.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Panitia Daerah Munas Konbes NU 2017, H Marinah Hardi di Aula PW NTB dalam siaran pers yang disampaikan Kamis (16/11).

Jokowi dan Megawati akan Hadiri Munas Konbes NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi dan Megawati akan Hadiri Munas Konbes NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi dan Megawati akan Hadiri Munas Konbes NU

Lebih jauh ia mengatakan besar kemungkinan Presiden Jokowi dan rombongan akan bermalam di Mataram, mengingat rangkaian jadwal dan acara Munas dan Konbes NU dimulai sebelum pembukaan seperti pawai taaruf yang akan dilaksanakan tanggal 22 November 2017 yang melibatkan 15 ribu jamaah dan santri NU . 

Selanjutnya Marinah memaparkan sejumlah rangkaian kegiatan Pra-Munas dan Konbes NU di Mataram yaitu Pasar Rakyat, Lomba Hadrah dan  khitanan massal yang akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Hikmah bekerjasama dengan NU Care-LAZISNU dan Alfamart.

"Kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung tanggal 21 hingga 24 November 2017 di lapangan Karang Genteng, Pagutan, Mataram dan Pesantren Darul Hikmah," kata Marinah. 

Santri An Nur Slawi

Marinah Hardi menambahkan, khitanan massal akan diikuti sedikitnya 50 anak yang masing-masing anak akan mendapat hadiah sepeda sumbangan dari Alfamart.

"Acara ini tujuannya untuk menghidupkan tradisi lama tentang nilai luhur khitanan massal di kalangan masyarakat," kata Marinah Hardi yang didampingi Ketua Panitia Daerah Lalu Winengan . 

Santri An Nur Slawi

Selain itu Marinah juga mengatakan rangkaian acara Pra-Munas dan Konbes NU juga diadakan sosialisasi Peraturan Presiden No 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter pada tanggal 22 November 2017 di Pesantreb Bagu Lombok Tengah. 

Koordinator kegiatan, M Husni Abidin menyampaikan untuk  kegiatan Pasar Rakyat, Dinas Perdagangan Kota Mataram dan Provinsi NTB akan menjual sembako murah untuk masyarakat sekitar agar bisa menikmati suasana Munas dan Konbes NU.

"Acara ini akan dibuka oleh Walikota Mataram langsung," ujar Husni sembari menunjukkan surat undangan yang ditandatangani langsung oleh Walikota Mataram .

Sementara itu Ketua PW Lakpesdam NU NTB, M. Akbar Jadi (Viken Madrid) dan Koordinator Riset dan Kajian PW Lakpesdam NU NTB, Habibul Umam Taqiuddin mengatakan untuk memeriahkan dan menyukseskan Munas dan Konbes NU di Mataram, pihaknya akan menggelar bedah buku Maha Karya Ulama Nusantara TGH. M. Saleh Hambali (TGH Bengkel).

TGH Bengkel yang hidup antara 1896-1968 yang telah menghasilkan 9 kitab karya diantaranya Talim al shinta bi Ghayat al-Bayan (1354 H), Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, Bintang Perniagaan (fiqih) pada 1376 H dan Wasiat Al Musthafa. 

Menurut Habibul Umam Taqiuddin maksud dan tujuan diadakan bedah buku ini untuk mengingatkan generasi muda dan pengurus NU tentang sejarah para kiai dan ulama.

"Menggali intisari dari pemikiran buah karya TGH Saleh Hambali untuk direlevansi dengan kondisi kekinian," ujar Viken Madrid sembari mengatakan acara bedah buku ini akan dilaksanakan tanggal 22 November 2017 jam 09.00 WITA di Aula PWNU NTB. Sejumlah pembicara akan hadir diantaranya Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi, H Muttawali, Ari Fadli, Fairuzzabadi, Akhdiansyah, TGH Sohimun Faisal, TGH Achmad Taqiuddin, TGH Khalisusabri.

Koordinator seksi Transportasi, Agus Mulyadi menegaskan untuk memperlancar antar-jemput peserta Munas dan Konbes NU , pihaknya sudah menyiapkan 92 kendaraan dari berbagai tipe dan jenis seperti minibus, bus , SUV.

"Semua kendaraan sudah ready untuk dipergunakan oleh peserta Munas dan Konbes beserta sopirnya selama kegiatan berlangsung," pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi IMNU Santri An Nur Slawi

IPPNU Targetkan Bangun 1000 Komisariat

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Meskipun secara formal, jumlah cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) lebih dari 300, tetapi harus diakui bahwa tak semua cabang tersebut benar-benar hidup dan mampu menjalankan aktifitasnya secara baik.



IPPNU Targetkan Bangun 1000 Komisariat (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Targetkan Bangun 1000 Komisariat (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Targetkan Bangun 1000 Komisariat

Untuk itu, Ketua Umum IPPNU periode 2009-2011 Margareth Aliyatul Maemunah menargetkan mampu membangun 1000 komisariat yang berada di sekolah dan pesantren dan struktur organisasi yang benar-benar hidup dan menjadi lahan pengkaderan yang baik.

“Masak dalam waktu 3 tahun ngak cukup, masak tak tercapai, yang penting ada keinginan bareng untuk mendirikan komisariat bersama-sama. Tak hanya ada struktur di pusat atau wilayah saja,” katanya, Kamis.

Santri An Nur Slawi

IPPNU saat ini masih dalam tahap transformasi dari organisasi Pemuda menjadi organisasi pelajar. Hal ini juga berpengaruh terhadap keberadaan struktur paling bawah yang dulu ranting, yang berbasis di desa menjadi komisariat yang berbasis di sekolah dan pesantren.

Santri An Nur Slawi

"Sekarang juga masih menjadi perdebatan apakah akan menghapus struktur ranting karena perubahan IPPNU menjadi organisasi pelajar sehingga basisnya harus di sekolah," katanya.

Evaluasi terhadap program 1000 komisariat ini menjadi salah satu agenda Rapimnas yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

Ia menuturkan, salah satu strategi untuk mengembangkan organisasi sampai tingkatan basis yang dilakukannya adalah memperkuat komunikasi dan jejaring sehingga bisa setiap fihak dapat menceritakan kiat sukses atau memberi solusi untuk menutupi kelemahan yang lain.

Dikatakannya, mengajak berorganisasi remaja sekarang cukup sulit karena kecenderungan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan atau ke mall, apalagi harus keluar duit. "Mereka yang mau berorganisasi harus benar-benar ikhlas atau memiliki latar belakang keluarga yang mendidiknya untuk aktif di NU sejak kecil," paparnya.

Beragam Minat

Ia menambahkan, para kader IPPNU juga memiliki keragaman minat, mulai dari kepanduan, pecinta alam, jurnalistik, konseling Palang Merah Remaja (PMR) dan lainnya. Ia juga berusaha menyalurkan kader-kader tersebut sesuai dengan bidang yang diminatinya.

Seringkali, terdapat pilihan berat yang harus ditempuh, ketika menyalurkan seorang kader pada bidang tertentu, waktu yang mampu diberikan pada organisasi menjadi semakin berkurang.

“Saya memikirkan arah teman-teman ke mana, rata-rata pengurus kalau di tingkatan pusat kan guru, terserah, mereka mau masuk ke birokrasi atau apa, tergantung orangnya,” paparnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pemurnian Aqidah Santri An Nur Slawi