Kamis, 31 Januari 2013

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat

Rembang, Santri An Nur Slawi. Wakil Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri membeberkan keriteria pemimpin yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini. Menurut pengasuh Pesantren Raudlotul Tholibien ini, pemimpin yang dibutuhkan adalah mereka yang bisa dicintai dan mengayomi rakyatnmya.

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat

Kiai yang akrab dipanggil Gus Mus itu menjelaskan, pemimpin harus mencintai dan dicintai masyarakatnya. Ia tidak menyebut kandidat atau calon pemimpin tertentu. Yang jelas pemimpin itu harus amanah, dapat dipercaya dan kuat.

Hal tersebut dikatakan kepada sejumlah awak media di sela sela menerima kedatangan Anies Baswedan di kediamanya di Jalan Bisri Musthofa Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (24/12).

Santri An Nur Slawi

Gus Mus menambahkan, pemimpin yang cinta terhadap rakyat pastilah mau melakukan apa saja untuk yang mereka cintai (rakyatnya). Dan kecintaan rakyat terhadap pemimpinya merupakan dukungan yang mampu membuat seorang pemimpin kuat dalam menghadapi segala hal.

Santri An Nur Slawi

Terlepas dari keriteria seorang pemimpin yang seperti itu, Gus Mus menyebut Anies Baswedan mewakili generasi muda. Dirinya mengaku mendukung peremajaan pemimpin di Indonesia. Gus Mus sangat setuju jika ada orang muda yang maju untuk sesuatu yang baik. Para pemuda dinilai bisa memberi angin segar bagi dalam roda pemerintahan, pasalnya energi yang dimiliki masih belum tercemar.

Tetapi, menurut ulama yang juga sastrawan itu, ada yang sedikit payah belakangan ini. Mereka yang sudah duduk di pemerintahan seringkali ingin bertahan lama menduduki kursi jabatannya meski usia dan tenaga sudah renta.

Gus Mus juga menyebut warga negara Indonesia termasuk warga yang paling baik. Mayoritas dari mereka masih mau membayar pajak, menaati peraturan, dan datang mencoblos dalam setiap musim pemilu. Seorang pemimpin menjadi wajib, dengan membalas kebaikan rakyatnya dengan sebaik baiknya.

Dalam kesepatan itu, Gus Mus juga mengajak kepada seluruh elemen bangsa agar menanamkan pola hidup sederhana. Sebab, jelasnya, kecintaan terhadap materi secara berlebihan bisa membuat seseorang nekat melakukan kejahatan, termasuk perampokan uang rakyatnya. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail, Hadits Santri An Nur Slawi

Selasa, 29 Januari 2013

Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Aizzuddin Abdurrahman (Gus Aiz) mengaku sangat menyayangkan pemasangan spanduk atas nama Pagar Nusa pada Muktamar Khilafah 2013 Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ia menegaskan, Pencak Silat NU Pagar Nusa tidak punya hubungan dengan HTI.

Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri

“Pagar Nusa sangat menyayangkan yang dilakukan HTI itu. Saya tegaskan, Pagar Nusa sama sekali tidak terlibat dan melibatkan diri dengan HTI baik terkait upaya atau amaliyah yang mereka lakukan,” kata Gus Aiz kepada Santri An Nur Slawi pertelepon, Sabtu (8/6).

“Tidak ada agenda Pagar Nusa yang terkait HTI. Saya harap mereka tahu diri, bahwa yang diurusi Pagar Nusa adalah NU, ulama dan NKRI,” tegasnya lagi.

Santri An Nur Slawi

Ditambahkan, Indonesia memang menjadi lahan subur bagi siapapun bagi berkembangnya berbagai pemikiran, dan bahkan ideologi baru. Namun Gus Aiz mengingatkan semua pihak untuk tidak melakukan aksi merorongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saya harap HTI sadar diri dan tahu betul keberadaannya. Mereka adalah kelompok baru dan tidak memahami dengan bijak dan baik beberapa dasar pendirian bangsa ini,” katanya terkait pelaksanaan muktamar khilafah.

Santri An Nur Slawi

Terkait kasus pemalsuan spanduk, dikatakannya, sampai saat ini belum ada agenda pertemuan dengan pihak HTI. “Belum ada agenda pertemuan dengan mereka. Tapi kami siap berkomunikasi dengan segala pihak,” katanya.

Namun ia tetap mengimbau para kader Pagar Nusa untuk tetap menahan diri dan tetap berkoordinasi sebelum melakukan tindakan apapun. “Pelajari dulu, jangan terburu-buru agar tidak berdampak pada ekses yang tidak baik,” tambahnya.

Seperti diwartakan PCNU Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, telah menegaskan spanduk yang menempel di tribun stadion Gelora Bung Karno yang mencatut nama “Pagar Nusa NU Wilayah Tanjungsari-Sumedang” itu adalah bentuk pemalsuan. 

Kepada Santri An Nur Slawi, Gus Aiz menyatakan Pagar Nusa mendukung PCNU Sumedang dan berharap warga nahdliyin lebih berhati-hati dan mencermati propaganda yang dilakukan HTI dan sejenisnya. “Bagi NU, Pancasila adalah harga mati. Dan Pagar Nusa adalah pagarnya NU dan Bangsa,” pungkasnya.

Penulis: A. Khoirul Anan

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ubudiyah Santri An Nur Slawi

Selasa, 15 Januari 2013

Ziarahi Makam, Siswa Kenang Perjuangan Pendiri

Solo, Santri An Nur Slawi

Ratusan siswa SD, MI dan SMP Ta’mirul Islam Surakarta, Jawa Tengah, mengikuti kegiatan ziarah ke beberapa makam para ulama setempat, akhir pekan kemarin (13/3). Rombongan dengan berjalan kaki berangkat dari kompleks Masjid Tegal Sari Laweyan dengan membawa spanduk bertuliskan “Ziarah Kyai”.

Ziarahi Makam, Siswa Kenang Perjuangan Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarahi Makam, Siswa Kenang Perjuangan Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ziarahi Makam, Siswa Kenang Perjuangan Pendiri

Kegiatan ini dilakukan untuk mendekatkan dan mengenalkan siswa kepada para pendiri sekolah. “Kita ingin mengenalkan kepada para siswa, para pendiri dan tokoh ulama terkemuka yang ada di Kota Solo, seperti KH Ahmad Shofawi, Prof. KH Adnan, Simbah Kiai Umar dan lainnya. Agar mereka dapat mengambil teladan dari para ulama tersebut,” terang koordinator tim Al-Qur’an SD Ta’mirul Islam, Mukhlisin, di sela acara ziarah.

Ditambahkan Mukhlisin, ziarah ini juga sebagai bagian dari tradisi pesantren, di mana sebelum mengikuti prosesi ujian dan khataman, para santri berziarah untuk berdoa kepada Allah agar diberikan kelancaran dan keberkahan.

Santri An Nur Slawi

Rombongan terlebih dahulu berziarah ke makam KH Naharussurur di Kompleks Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Tegalsari, setelah itu dilanjutkan ke makam KH Umar Abdul Mannan di Kompleks Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan.

Santri An Nur Slawi

Lebih lanjut, dikatakan Mukhlisin, kegiatan ziarah sebagai salah satu rangkaian acara khataman Alquran yang akan dilaksanakan, Sabtu (19/3) mendatang.

“Insyallah ada 200 lebih siswa yang akan diwisuda, yakni mereka yang sudah menyelesaikan hafalan bil ghaib juz 1, 27, 28, 29, dan 30,” ungkap dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Fragmen, Internasional Santri An Nur Slawi

Kamis, 03 Januari 2013

Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani

Presiden, guru, tukang catut karcis di stasiun, penyair, sipir rumah tahanan, atau siapa saja pernah mengalami nyeri kepala dengan aneka penyebab. Begitu pun Ahmad Tohari.

Saat menuju Gedung PBNU untuk menerima penghargaan, ia meminta obat sakit kepala dengan merk tertentu untuk mengatasi nyeri kepalanya akibat tersiram air hujan di Bandara Sukarno-Hatta.

Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani

Ahmad Tohari yang kerap disapa Kang Tohari menerima penghargaan Hadiah Asrul Sani (HAS) di Gedung PBNU, Kamis (28/3) malam lalu. Penghargaan HAS diberikan dalam rangka peluncuran peringatan 10 tahun Santri An Nur Slawi.

Kang Tohari menerima HAS atas kategori Penulis Serba Bisa. Selama usianya berkarya, pria yang berkemeja putih sederhana itu telah menghasilkan karya dengan aneka bentuk penulisan mulai dari novel, cerpen, puisi, esai, kritik sastra, karya jurnalistik, dan sejumlah bentuk penulisan lainnya.

Dalam sambutan penerimaan penghargaan, Kang Tohari di hadapan sedikitnya 200 orang yang menghadiri penganugerahan HAS mengajak masyarakat umum terutama anak muda untuk bersastra. “Dengan bersastra, tradisi keumatan yang kerap digaungkan NU akan terjaga.”

Santri An Nur Slawi

Kang Tohari yang sudah berusia 65 tahun kini tengah menggarap penerjemahan Alquran ke dalam bahasa ibunya, Bahasa Banyumas. “Niatnya sederhana; agar isi Alquran itu dibaca juga oleh penunggu warung nasi Tegal (warteg), orang pasar, orang-orang di terminal, dan lainnya,” tegas Kang Tohari dalam wawancara khusus dengan Santri An Nur Slawi di Yayasan LKiS, Yogyakarta Rabu (27/2) lalu.

Kang Tohari adalah novelis yang dibesarkan dalam keluarga pesantren. Berikut ini merupakan biografi lengkapnya yang ditulis oleh Hairus Salim dalam Ensiklopedi NU.

Ahmad Tohari (1948-...): Novelis, cerpenis dan esais. Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Sebagaimana lazimnya anak dari keluarga santri, pendidikan informalnya dimulai dari langgar dan pesantren di desanya. Setelah menyelesaikan pendidikan formal tingkat dasar, menengah dan atas, ia sempat mengecap bangku kuliah Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976), tetapi tak ada satu pun yang dituntaskannya.?

Tohari adalah seorang pembelajar otodidak di dunia kepengarangan dengan bakat dan hasrat yang besar. Masa awal kepengarannya beririsan dengan pekerjaannya sebagai redaktur ? majalah terbitan BNI 46, Harian Merdeka, majalah Keluarga, dan Amanah di Jakarta. Tetapi kemudian ia memilih pulang dan hidup di desanya.

Santri An Nur Slawi

Karier sastranya diawali dengan keikutsertaan dalam sejumlah sayembara menulis. Namanya muncul sebagai pengarang pada pertengahan tahun 1970an ketika cerpennya “Jasa-Jasa Buat Sanwirya” masuk sebagai salah satu dari duabelas cerpen terpilih untuk diterbitkan bersama tiga cerpen pemenang lain hasil Sayembara Kincir Emas 1975 (Dari Jodoh Sampai Supiyah, Djembatan 1976). Dua novel awalnya yang diikutsertakan dalam sayembara DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) memperoleh rekomendasi untuk diterbitkan dan salah satunya bahkan memenangkan salah satu nomor dalam sayembara tersebut.

Namanya kian menjulang setelah ceritanya Di Kaki Bukit Cibalak dan Ronggeng Dukuh Paruk dimuat bersambung dalam harian Kompas dan kemudian dibukukan. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, yang boleh dikatakan merupakan adi karyanya, memperoleh perhatian serius para pengamat sastra dan menempatkannya sebagai salah seorang dalam jajaran novelis penting di Indonesia. Novel ini bercerita bagaimana huru-hara berlangsung pada peralihan politik tahun 1965 di sebuah pedukuhan kecil. Jelas dari novel tersebut bahwa perubahan di sebuah dukuh kecil itu persambungan dan pengaruh belaka dari perubahan yang terjadi di tingkat nasional. Srinthil, penari ronggeng yang jelita, dengan segala kultur dan pandangan dunia yang dipeluknya, yang menjadi tokoh utama novel itu, adalah personifikasi dari rakyat kecil yang menjadi korban utama dari perubahan berdarah tersebut. Novel ini merupakan salah satu novel yang berhasil mengangkat latar peralihan politik pada tahun 1965 dengan cara yang subtil, tetapi menohok.

Dari segi latar belakangnya sebagai santri, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu juga sangat unik, karena di sini Tohari menunjukkan perhatiannya yang sangat rinci dan lengkap mengenai kebudayaan dan pandangan dunia kelompok masyarakat yang dalam kategori sosial disebut sebagai ‘abangan’ plus simpatinya yang mendalam. Ia memang sangat mengakrabi lingkungannya dan seperti tak mengenal marka-marka sosial yang diciptakan oleh ideologi politik maupun agama di hadapannya. ? ?

Tohari menjadikan pedukuhan di desanya sebagai latar cerita-ceritanya. Lukisan-lukisannya yang terperinci dan dalam mengenai lingkungan desa, lengkap dengan dunia flora dan faunanya, adalah kekuatan dan kelebihan dari cerita-ceritanya. Gaya menulisnya lugas, jernih, sederhana, dan lancar mengalir. Terutama yang penting dan tak tergantikan juga adalah penghadirannya pada pandangan dunia para orang desa, yang lugu, polos, jujur, dan apa adanya itu, berhadapan dengan laju dan ganasnya perubahan politik, sosial, dan ekonomi. Dalam hal ini, tak salah jika dikatakan kalau Tohari adalah salah seorang juru bicara dan pembela utama orang-orang desa yang miskin, kumuh, dan nelangsa di dalam jagat kesusasteraan Indonesia. ?

Cerpennya “Pengemis dan Shalawat Badar” yang pernah dimuat dalam bulanan Warta NU Februari 1989, barangkali bisa memperlihatkan ilustrasi menarik bagaimana orang kecil dan pandangan dunianya itu dihadirkan. Cerpen ini berkisah tentang seorang pengemis yang mendendangkan shalawat badar di dalam bus yang penuh jejalan penumpang. Tak ada seorang pun yang memperhatikannya, dan sebagian besar bahkan, mengabaikan dan mencibirnya. Ketika kemudian bus itu mengalami kecelakaan, dan penumpang banyak yang terluka dan bahkan tewas, si pengemis itu dengan menakjubkan melenggang keluar dari bus tanpa sedikit pun terluka sembari melantunkan lagi shalawat badar. Alur cerita tampak sederhana, tetapi muatannya jelas sangat dalam. Antara kemiskinan, formalisme keagamaan, kepekaan sosial, dan lain-lain berjalin berkelindan dalam sepersekian menit kehidupan di dalam bus yang kencang melaju itu. ? ? ?

Tohari termasuk penulis yang cukup produktif. Boleh dikata sejak awal kepengarangannya rata-rata setahun sekali ia mengeluarkan karya baik berupa novel, antologi cerpen, maupun kumpulan esai. Beberapa dari karyanya terus mengalami penerbitan ulang. Berikut daftar karyanya dan tahun pertama kali terbitnya: Kubah ? (novel, 1980); Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982); Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985); Jantera Bianglala (novel, 1986); Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986); Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989); Bekisar Merah (novel, 1993); Mas Mantri Gugat (Kumpulan Esai, 1994); Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995); Mas Mantri Menjenguk Tuhan (Kumpulan Esai, 1997); Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000); Belantik (novel, 2001); Orang Orang Proyek (novel, 2002); dan Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004). Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Inggris, Jepang, Tionghoa, Belanda, dan Jerman. Karya-karyanya juga telah menjadi bahan kajian akademis baik di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai sastrawan terkemuka telah banyak penghargaan yang telah ia terima. Dua kali ia memperoleh hadiah dari Yayasan Buku Utama dan sekali dari Pusat Pengembangan Bahasa Indonesia. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995). Novel Ronggeng Dukuh Paruk versi Banyumasan (2006), meraih Hadiah Sastera Rancagé tahun 2007.

Sejak pertengahan 1980an, Ahmad Tohari tinggal di desanya, meneruskan hobinya memancing dan terus mengakrabi lingkungan desanya. Seminggu sekali esainya yang kocak dan penuh sindiran muncul di Harian Suara Merdeka, Semarang. Sembari itu, ia juga menjadi aktivis sosial yang mendorong peningkatan ekonomi dan kehidupan harmoni masyarakat, serta memberikan banyak workshop menulis kepada kalangan anak muda dan prasaran seminar ke berbagai kota di Indonesia.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Makam Santri An Nur Slawi