Senin, 22 November 2010

Sejarah Tahlil

Judul Buku : Sejarah Tahlil

Penulis : KH Muhammad Danial Royyan

Tebal : viii, 72

Penerbit : LTN NU Kendal bekerjasama dengan Pustaka Amanah Kendal

Sejarah Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Tahlil

Cetakan : pertama, 17 Februari 2013

Peresensi : Fahroji

Santri An Nur Slawi

Munculnya kembali ideologi dan faham Salafi Wahabi dengan berbagai bentuk organisasinya yang telah menyebar ke tengah masyarakat lintas bangsa dan negara (ideologi transnasional) sekarang ini yang cenderung memusyrikkan dan membid’ahkan amaliah yang sudah ada, maka, mau tidak mau semua hal yang berkaitan dengan amaliah agama harus diketahui lengkap dengan dalil-dalilnya.

Santri An Nur Slawi

Kondisi tersebut telah menimbul keprihatinan di kalangan ulama dan pengurus NU di berbagai wilayah dan cabang, salah satunya PCNU Kendal. KH Muhammad Danial Royyan penulis buku ini yang juga ketua tanfidziyah PCNU Kendal periode 2012-2017 menuangkan kegelisahannya dengan menulis buku Sejarah Tahlil. Tradisi Tahlilan yang merupakan salah satu sasaran tembak bagi kaum salafi wahabi perlu mendapatkan pembelaan agar kaum Nahdliyyin tidak menjadi ragu atas amaliah yang dilakukan secara turun-temurun dan masih berkembang di masyarakat hingga saat ini.

Buku Sejarah Tahlil yang dicetak dalam ukuran saku tersebut memaparkan bagaimana tradisi bacaan Tahlil sebagaimana yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini tidak terdapat secara khusus pada zaman nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tetapi tradisi itu mulai ada sejak zaman ulama muta’akhirin sekitar abad sebelas hijriyah yang mereka lakukan berdasarkan istimbath dari Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, lalu mereka menyusun rangkaian bacaan tahlil, mengamalkannya secara rutin dan mengajarkannya kepada kaum muslimin.

Dalam buku tersebut juga diulas siapa sebenarnya yang pertama kali menyusun rangkaian bacaan tahlil dan mentradisikannya. Menurut penulis buku ini, hal tersebut pernah dibahas dalam forum Bahtsul Masail oleh para kyai Ahli Thariqah. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang pertama menyusun tahlil adalah Sayyid Ja’far Al- Barzanji. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa yang menyusun tahlil pertama kali adalah Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Dari dua pendapat tersebut, pendapat yang paling kuat tentang siapa penyusun pertama tahlil adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa Imam Al- Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid Ja’far Al – Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H.

Pendapat tersebut diperkuat oleh tulisan Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam syarah Ratib Al Haddad, bahwa kebiasaan imam Abdullah Al Haddad sesudah membaca Ratib adalah bacaan tahlil. Para hadirin yang hadir dalam majlis Imam Al Haddad ikut membaca tahlil secara bersama-sama tidak ada yang saling mendahului sampai dengan 500 kali.

Disamping mengulas sejarah tahlil, buku setebal 72 hal itu juga membahas argumentasi tahlil dan pahala bacaanya yang diyakini bisa sampai kepada mayyit. Pada bab-bab berikutnya penulis juga mengupas tentang talqin dan ziarah kubur lengkap dengan pengertian, tatacara dan argumentasi pelaksanaannya. Buku ini wajib dibaca oleh warga Nahdliyyin di Kendal karena memang diterbitkan dalam rangka penggalian dana NU Kendal dan menggantikan model penggalian dana dengan lewat stiker. Sungguhpun demikian buku ini juga perlu dibaca oleh warga NU dimana saja berada.

Peresensi adalah kontributor Santri An Nur Slawi Kendal

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kyai Santri An Nur Slawi

Minggu, 14 November 2010

Ratusan Orang Peringati Haul ke-7 KH M Syafii Hadzami

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Sedikitnya 600 orang memadati kompleks perguruan Al-Asyiratus Syafi‘iyah, jalan KH M Syafi‘i Hadzami nomor 40, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Mereka memperingati acara haul ke-7 KH M Syafi‘i Hadzami, Ahad (24/2) pagi.

Peringatan haul ke-7 KH M Syafi‘i Hadzami berbarengan dengan peringatan maulid Nabi Muhamad SAW. Peringatan haul kali ini menghadirkan Syuriah PWNU DKI Jakarta KH Maulana Kamal Yusuf, Syuriah NU Yogyakarta KH Abdul Ghofur Maimun, dan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf.

Ratusan Orang Peringati Haul ke-7 KH M Syafii Hadzami (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Orang Peringati Haul ke-7 KH M Syafii Hadzami (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Orang Peringati Haul ke-7 KH M Syafii Hadzami

Peringatan haul berlangsung mulai pukul 80.00 hingga 12.00. Para hadirin memenuhi pekarangan masjid perguruan hingga muka pesantren Ma’had Ali Al-Arba‘in perguruan perguruan Al-Asyiratus Syafi‘iyah. Sementara kelompok ibu memenuhi masjid perguruan.

“Kiai Syafi‘i memiliki keluasan ilmu agama. Kedalaman pemahamannya terhadap kitab-kitab para ulama tidak diragukan. Kiai Syafi‘i telah menghabiskan masa hidupnya untuk ilmu agama baik mengaji maupun untuk mengajar ngaji masyarakat,” kata KH Abdul Ghofur Maimun putra KH Maimun Zubair dalam ceramahnya.

Sementara Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf menyatakan bahwa KH M Syafi‘i Hadzami merupakan salah seorang santri yang mewarisi penguasaan kitab-kitab para ulama dari sang guru Habib Ali bin Husein Al-Attas.

Santri An Nur Slawi

Dengan kehadiran itu, mereka membuktikan cinta mereka kepada guru agama mereka KH M Syafi‘i Hadzami. KH M Syafi‘i Hadzami merupakan Rais Syuriah PBNU 1994-1999 hasil muktamar 1994 di Cipasung.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Santri, Hikmah, Habib Santri An Nur Slawi

Jumat, 05 November 2010

Jalur Kultural Efektif untuk Rekonsiliasi

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Jalur kultural merupakan jalan paling efektif untuk menyelesaikan konflik bangsa ini. Konflik yang dipicu pemberontakan PKI 1965 juga harus diselesaikan dengan jalan kebudayaan.

Jalur Kultural Efektif untuk Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalur Kultural Efektif untuk Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalur Kultural Efektif untuk Rekonsiliasi

Demikian salah satu poin dalam seminar nasional bertema Rekonsiliasi Nasional; Telaah jalur Kultural sebagai Alternatif. Seminar tersebut digelar Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan (eLSIK) dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), di gedung Juang 45, Menteng, Jakarta, (18/10).

Salah satu pembicara Agus Sunyoto mengatakan bahwa rekonsiliasi melalui jalur kultural sudah berjalan alamiah di kalangan masyarakat yang konflik. Ia mencontohkan di desa Trisula, Ploso Klaten, Kediri Jawa Timur.

Santri An Nur Slawi

Hampir seluruh warga desa itu anggota PKI. Tahun 1965 desa itu “dibersihkan”. Yang tersisa adalah janda-janda dan para anak yatim.

Santri An Nur Slawi

Tokoh agama dari desa tetangga mengambil inisiatif untuk memelihara anak yatim dan membantu para janda. Kemudian berkeliling dari rumah ke rumah mendoakan warga yang meninggal.

"Begitu juga yang terjadi di Madiun. Seorang kiai ada yang mengangkat anak yatim sampai 40 orang. Mereka dibesarkan, dididik, hingga bisa masuk menjadi pegawai negeri. Padahal pada waktu itu, pemerintah melarang anak PKI jadi pegawai negeri. Itu disebabkan orang tua anak-anak tersebut diatasnamakan kiai tersebut," ungkap Agus Sunyoto yang juga sastrawan.

Senada dengan Agus Sunyoto, Rais Syuriah PBNU KH Masdar F. Mas’udi mengatakan jalur kultural lebih tepat, karena lembaga hukum sudah rusak dan tidak netral dalam kasus 1965.

“Saya juga sepakat dengan dengan rekonsiliasi jalur kultural,” tegasnya. Begitupun jika dibawa ke pengdilan internasional, pasti akan dimasuki kepentingan-epentingan. “Lebih baik kita doakan saja supaya yang merasa benar dan merasa disalahkan itu bisa bertemu di surga,” katanya disambut tepuk tangan sekira 60 peserta.

Ia juga menganjurkan supaya setiap tahun digelar doa bersama untuk tragedi tersebut. Mengungkapnya dengan pengadilan tidak akan selesai karena setiap elemen masyarakat tersangkut-paut.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Kajian Islam, News Santri An Nur Slawi