Selasa, 30 September 2014

Masalah Umat Islam bukan Akidah, tapi Peradaban

Kuala Lumpur, Santri An Nur Slawi. Masalah besar yang sedang dihadapi oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, bukan di bidang akidah atau dalam hal berkeyakinan, tapi dalam mewujudkan sebuah peradaban.

Demikian dikatakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Agil Siroj (Kang Said) di Malaysia pekan lalu dalam satu seminar yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Malaysia dalam rangka peringatan hari lahir (Harlah) ke-82 NU.

Masalah Umat Islam bukan Akidah, tapi Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Masalah Umat Islam bukan Akidah, tapi Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)

Masalah Umat Islam bukan Akidah, tapi Peradaban

Penanaman nilai-nilai akidah dilakukan oleh Nabi Muhammd SAW pada saat berada di Makkah, pada saat orang-orang belum mempunyai sandaran teologis yang kuat. Sementara saat berada di Madinah, tibalah saat membentuk sebuah peradaban.

Santri An Nur Slawi

Dikatakan Kang Said, pada saat berada di Madinah, Nabi menjumpai masyarakat yang lebih plural dan majemuk, yang terdiri dari masyarakat Muslim Muhajirin, Ansor dan masyarakat Yahudi, dan di situlah peradaban Islam mulai dibentuk.

Santri An Nur Slawi

Nabi kemudian membangun sistem sosial untuk hidup bersama, satu bangsa, satu cita-cita, satu komitmen ummatan wahidah, di mana hak dan kewajiban sama, pelayanan dan kedudukan di muka hukum adalah sama.

“Sistem ini namanya tamaddun. Oleh karena itu, kota yang semula bernama Yatsrib, kemudian diganti namanya menjadi kota Madinah al-Munawwarah, kota berperadaban yang dicerahkan oleh Rasulullah, kota yang tertata baik, tertib, moderen dan maju,” kata Kang Said seperti dikutip situs PCINU Malaysia www.nucim.org.

Tugas NU saat ini, menurut Kang Said, adalah bagaimana memperjuangkan Islam yang tidak hanya beraqidah dan bersyariah, tapi juga yang bertamaddun, yaitu menjadikan masyarakatnya moderen, ummatan wasatan, umat yang moderat.

“Usaha yang kemudian harus dilakukan oleh NU adalah meningkatkan kualitas masyarakat yang maju, berpendidikan, sejahtera dan modern,” katanya.

Dikatakannya, NU sudah teruji dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Komitmen NU untuk senantiasa berpegang teguh pada Indonesia sebagai darus salam (negara yang menyejahterakan), bukan darul Islam (negara Islam), terbukti tidak disangsikan.

“Komitmen kebangsaan NU yang demikian ini menjadikannya sebagai pilar infrastruktur sosial yang mendapat legitimasi historis bangsa Indonesia,” katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Internasional, Nasional Santri An Nur Slawi

Sabtu, 27 September 2014

Tutup Pesantren Kilat, Sekolah NU Ajari Siswa Berbagi

Bojonegoro, Santri An Nur Slawi. Penutupan kegiatan pesantren kilat di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Wali Songo, Sumuragung, Sumberrejo dilakukan dengan mengajak para siswa berbagi dengan para pengguna jalan pada Sabtu (27/7) sore.

Tutup Pesantren Kilat, Sekolah NU Ajari Siswa Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Pesantren Kilat, Sekolah NU Ajari Siswa Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Pesantren Kilat, Sekolah NU Ajari Siswa Berbagi

Kegiatan pesantren kilat yang berlangsung selama 3 hari ini ditutup oleh panitia dengan berbagai rangkaian kegiatan mulai dari metode pendidikan fiqih yaitu bertoharoh dengan baik dan benar (berwudlu ala imam Syafi’i), shalat dhuha yang dilisankan (seluruh bacaan dikeraskan), tartil Al-Qur’an bil ghoib, kursus tilawatil qur’an, dan berbagai  amalan-amalan ala Ahlusunnah waljama’ah an-nahdliyah.

Semua rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kebiasaan hasanah sedini mungkin. Walaupun sebenarnya kegiatan ini juga sejujurnya sering dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar sebelum Ramadhan.

Santri An Nur Slawi

Kegiatan yang dimulai dari hari Kamis (25/07) ini sejatinya diikuti oleh seluruh siswa, kecuali yang berhalangan.untuk kelas bawah seluruh kegiatan dihandle oleh dewan asatidzah dengan materi yang dirampingkan dan jadwal yang sedikit dimodifikasi guna memangkas waktu kegiatan sebagaimana rapat dewan asatidz/asatidzah. 

Adapun bagi siswa kelas atas seluruh materi dan jadwal sebagaimana umunya namun dengan sedikit muatan islami yang berbobot dan beraneka ragam syar’i (sholat rawatib dan sunnah berjamaah). Pendamping kegiatan kelas atas di bawah kendali dewan asatidz.

Santri An Nur Slawi

Sore sebelum berbuka bersama, sebagian dewan asatidz membagi seluruh siswanya dalam dua regu, regu pertama membagikan beras kepada fakir miskin dan dhuafa dan satu regu yang lain bersama para siswa yang tertunjuk melakukan aksi simpatik dengan membagikan takjil gratis berupa snack/nyamilan dan kolak cincau gratis kepada pengguna jalan sepanjang arah pintu masuk komplek minu walisongo jalan PUK Sumberrejo Kanor.

“Dengan melibatkan mereka (anak didik) membagikan takjil gratis kepada pengguna jalan ini kami memberikan edukasi islami yang lebih nyata, tidak sekedar teori kelas/ruangan,” tutup Mubarok firdaus, yang menjadi penanggung jawab seluruh kegiatan pesantren kilat tahun 2013 ini.

Pesantren kilat di MINU Walisongo Sumuragung ini ditutup Ahad pagi ini setelah jamaah shalat subuh dan olahraga sederhana. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahsanul Amilin

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Islam Santri An Nur Slawi

Jumat, 26 September 2014

Kedahsyatan Sedekah di Malam Lailatul Qadar

Oleh Nur Rohman

Satu malam sama dengan 83 tahun. Itulah malam Lailatul Qadar. Kalau kita sedekah di hari-hari biasa Allah berjanji setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Bahkan Allah mencontohkan orang yang bersedekah itu bagaikan orang yang menanam satu bebijian yang kemudian tumbuh menjadi 7 ranting, dan setiap ranting itu akan menghasilkan 100 buah.

Bagi yang Allah kehendaki, sebiji itu akan menjadi buah yang tak dapat hitung jumlahnya. Subhanallah, bagaimana misalnya jika kita bersedekah seribu rupiah saja di bulan Ramadhan dan di malam Lailatul Qadar? Berapa kebaikan yang akan kita dapatkan. Tidak terhitung.

Kedahsyatan Sedekah di Malam Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kedahsyatan Sedekah di Malam Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kedahsyatan Sedekah di Malam Lailatul Qadar

Di hari-hari akhir bulan Ramadhan, kita akan sering dengar kata: Te-Ha-eR. Ya, THR atau Tunjangan Hari Raya dinantikan baik oleh yang puasa maupun yang tidak. Suatu perusahaan, misalnya, memberikan THR kepada semua karyawan tujuannya adalah agar seorang karyawan dan keluarganya berbahagia pada hari raya.

Santri An Nur Slawi

Begitu pun sebuah warung yang berbagi THR kepada para konsumennya, senang semua senang. Betapa senang melihat semua orang senang berbagi, memberi, dan menerima THR. Sebab, semua orang berhak bahagia di Hari Raya Idul Fitri. Tanpa terkecuali.

Santri An Nur Slawi

Tentang THR, manfaat, dan kebahagiaan di hari Lebaran, kita juga menemukannya dalam kisah Baginda Nabi Muhammad SAW yang pada suatu pagi berjalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat Idul Fitri. Kemudian Nabi melihat banyak anak-anak yang sedang mengekspresikan kegembiraan Hari Raya dengan pakaian baru dan mainan yang bagus-bagus. Di antara anak-anak itu Nabi menyaksikan seorang bocah yang pakaiannya lusuh dan kumal. Bocah itu menangis sesenggukan.

Maka, Nabi pun mengampiri bocah itu dan bertanya, “Nak, kenapa di saat teman-teman kamu bergembira merayakan Hari Raya, kamu malah tampak bersedih dan menangis.”

Kemudian anak itu menjawab, “Wahai, Tuan, bagaimana saya tidak sedih. Ayahku sudah tiada. Ia meninggal ketika perang bersama Rosulullah. Sedangkan ibuku, ia nikah lagi dengan pria lain dan membawa harta peninggalan Ayah. Karena itu, di saat teman-temanku bergembira saya merasa sedih.”

Selanjutnya, Nabi mengajak anak yatim itu ke rumah. Sang kekasih Allah itu memberikan pakaian baru dan mainan bagus. Nabi pun meminta kepada anak yatim, “Maukah kau jika aku menjadi ayahmu, Fatimah jadi bibimu, dan Hasan Husain menjadi saudaramu?”

Maka anak itu pun mengangguk dan senang bukan kepalang serta mengucapkan banyak terimakasih kepada Baginda Nabi. Lalu, anak itu pun pamit kepada Nabi untuk keluar rumah dan bermain bersama teman-temannya dalam keadaan riang gembira.

Anak-anak di tempat bermain pun heran dan bertanya, “Tadi kamu sedih dan menagis. Kenapa sekarang kamu sangat riang sekali?”

Anak itu pun menjawab, “Bagaimana saya tidak riang, Rasulullah menjadikanku putranya, kemudian Fatimah jadi bibiku, dan Hasan Husain menjadi saudaraku. Aku pun sekarang punya baju baru, mainan bagus, dan bisa makan enak.”

Begitulah kisah singkat dari Baginda Nabi, yang bisa kita jadikan teladan betapa memberi THR kepada orang yang membutuhkan adalah perbuatan yang mulia.

Mari, di akhir Ramadhan, menjelang Lebaran ini, kita tebarkan kasih dan sayang kepada sesama saudara yang membutuhkan uluran tangan, kepedulian kita. Semoga di antara kebaikan yang kita tanam adalah perbuatan yang kita lakukan tepat di malam Lailatul Qodar. Sehingga pahala dan keberkahan melimpah ruah pada kita. Amiin…

*) Pengurus Pusat NU CARE-LAZISNU dan Pembina Majlis Rajeg, Tangerang.. Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nasional, Internasional Santri An Nur Slawi

Seribu Tumpeng Warnai Peringatan Hari Jadi Kota Kudus

Kudus, Santri An Nur Slawi. Dalam rangka memperingati hari jadi ke-465 Kota Kudus, Jawa Tengah, pemerintah daerah setempat mengadakan kenduri massal, Jumat malam (26/9). Acara yang bertempat di Alun-alun Kudus itu, panitia menyediakan seribu tumpeng yang dinikmati bersama pejabat pemerintahan dan masyarakat.

Seribu Tumpeng Warnai Peringatan Hari Jadi Kota Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Seribu Tumpeng Warnai Peringatan Hari Jadi Kota Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Seribu Tumpeng Warnai Peringatan Hari Jadi Kota Kudus

Pada kesempatan itu, Bupati Kudus H Musthofa mengatakan, kenduri massal ini merupakan wujud kesyukuran terhadap Allah SWT. Di samping itu juga sebagai simbol kebersamaan dan kerukunan seluruh masyarakat. Karena situasi dan kondisi Kabupaten Kudus yang aman dan kondusif.

"Saya mengucapkan terima kasih untuk seluruh masyarakat Kudus tanpa terkecuali mulai dari jajaran pejabat, kepala desa, hingga masyarakat secara luas telah berpartisipasi menjaga wilayah Kudus dengan baik, aman, dan kondusif," kata Musthofa.

Santri An Nur Slawi

Usai sambutan, Bupati memotong tumpeng sebagai tanda menikmati ribuan tumpeng yang disediakan. Pada malam itu, ribuan masyarakat berdatangan memadati alun-alun untuk ikut menikmati tumpeng. Selesai tumpengan, masyarakat dihibur Ketoprak Langen Marsudi Budoyo, kesenian asli asal Wonosoco, Kudus.

Santri An Nur Slawi

Aida M, Seorang warga Klumpit, Kecamatan Gebog, Kudus, mengapresiasi pemerintah kabupaten menyelenggarakan tumpengan ini. Ia menyatakan, tumpengan membawa hikmah kebersamaan antarwarga di samping keberkahan doa bersama yang dibacakan secara bersama-sama.

"Pada usia ke-465 tahun, semoga masyarakatnya akan bertambah makmur dan sejahtera," tutur Guru SMPN 3 Gebog ini.

Hari jadi kota Kudus yang semestinya jatuh pada tanggal 23 September lalu. Selain tumpengan juga akan dimeriahkan juga karnaval budaya yang diselenggarakan pada Senin (29/9). (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Syariah Santri An Nur Slawi

Jumat, 19 September 2014

Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit

Kudus, Santri An Nur Slawi. Buku Biografi ulama kharismatik dan guru mujiz Dalailul Khairat KH Ahmad Basyir akan segera terbit. Rencananya, karya santri senior Pesantren Darul Falah Widi Muryono setebal 248 halaman ini  mulai beredar pada peringatan 40 hari wafatnya almarhum (26/4).

Widi Muryono mengatakan buku berjudul Syaikhina Ahmad Basyir; Syaikh Mujiz Dalailul Khairot ini diterbitkan Lembaga Pers Santri (LPS) Al-Fiqro Pesantren Darul Falah Dusun Bareng Jekulo Kudus. Tujuannya, untuk menghadirkan terus menerus sosok dan ruh KH Ahmad Basyir alam dinamika spiritual santri dan masyarakat.

Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit (Sumber Gambar : Nu Online)
Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit (Sumber Gambar : Nu Online)

Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit

 

“Disamping itu, untuk mengenang dan menggali keteladanana dari sosok Mbah Basyir,” katanya kepada Santri An Nur Slawi, Selasa (22/4).

Santri An Nur Slawi

Widi menjelaskan, buku ini mengisahkan sejarah singkat perjalanan pengasuh pesantren Darul Falah yang dikenal sebagai mujiz Dalailul Khairat. Riwayat Mbah Basyir mulai proses belajar di sekolah dasar hingga mengabdi dan menjadi badal gurunya KH Ahmad Yasin di pesantren.

 

“Termasuk pula saat menikah, mendirikan pondok, menjadi mujiz dan akhlak beliau serta kehidupan bermasyarakat, semua tertulis dalam buku dengan bentuk kisah murni,” paparnya.

Santri An Nur Slawi

Widi menambahkan buku ini juga mengisahkan kebersamaan Mbah Basyir bersama ulama ahli Al-Quran KH Arwani dan ulama lainnya. Terdapat juga, tulisan yang membahas persinggungan pondok pesantren dengan orde baru.

Pada cetakan pertama ini, kata dia, merupakan buku edisi jilid satu dengan mencetak 1000 eksemplar yang akan diedarkan secara gratis kepada santri atau masyarakat luas. “Saya berharap akan ada buku edisi bertahap ke jilid 2 dan 3 dilanjutkan pada peringatan 100 dan 1000 hari wafatnya beliau,” terang Widi yang juga alumnus STAIN Kudus.

Putra bungsu Mbah Basyir KH Muhammad Alamul Yaqin mengatakan, buku biografi diterbitkan untuk berbagi kisah tentang sosok orang tua, kiai, guru, dan sahabat. Harapannya bisa menjadi inspirasi dan penyemangat bagi generasi penerusnya.

 

“Untuk para santri, bisa sebagai motivasi supaya lebih giat mencari ilmu dan berkhidmah ke masyarakat,” ujar Gus Alamul yang juga selaku editor buku biografi ini seraya minta maaf atas kekurangan dalam tulisan di dalamnya.

 

Sebagaiamana diketahui, ulama kharismatik yang juga Guru Mujiz Dalailul Khairat KH Ahmad Basyir wafat pada selasa (18/4) pukul 01.00 dan dimakamkan di komplek makam dusun Mbareng Jekulo Kauman Kudus. Keluarga dan santri akan memperingati 40 hari wafatnya pada Sabtu malam (26/4). (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pertandingan, Nahdlatul Ulama Santri An Nur Slawi

Sabtu, 06 September 2014

PWNU NTT Awasi “Proyek Khilafah”

Kupang, Santri An Nur Slawi. Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Jamal Ahmad mengatakan, akhir-akhir gerakan kelompok Islam dengan ideologi yang sangat keras mengembangkan dakwahnya di NTT, bahkan mampu untuk mengembangkan organisasi formal. PWNU betul-betul cermat dan melihat perkembangan-perkembangan kelompok ini.

“Saya melihat melalui tulisan yang disampaikan oleh organisasi-organisasi tersebut ada kecenderungan bicara khilafah. Maka perlu kita awasi bersama,” kata Ketua PWNU NTT kepada Santri An Nur Slawi di Kupang, Rabu (29/5). 

PWNU NTT Awasi “Proyek Khilafah” (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU NTT Awasi “Proyek Khilafah” (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU NTT Awasi “Proyek Khilafah”

“Dakwah yang mengembangkan khilafah akan bertabrakan dengan nilai -nilai ideologi agama dan ideologi Pancasila. Maka NU menilai dakwah tidak bisa dengan cara khilafah,” katanya. 

Santri An Nur Slawi

Menurutnya, Dakwah NU di NTT adalah mengajak orang dengan senyum, bukan dakwah mempertajam perbedaan. Dakwah NU adalah mengajak orang mewujudkan kemaslahatan umat. 

Santri An Nur Slawi

Dikatakannya, NU senantiasa menjaga keharmonisan, kedamian dan kerukunan umat beragama dan menjaga hubungan personal antara suku bangsa, ras, golongan dan agama.

Dikatakan Jamal, pihaknya selalu mengikuti perkembangan bagaimana kelompok-kelompok mengembangkan dakwah-dakwah dari setiap masjid ke masjid lain.

“Kita jangan membiarkan persoalan dakwah yang bertentangan dengan keutuhan bangsa ke depan. Kalau kita tidak jaga maka, masa depan generasi  akan menjadi gejolak,” katanya.

Ditambahkan, PWNU NTT mengharapkan masyarakat tidak terpancing dengan nilai-nilai baru masuk bahwa mereka lebih benar dengan Islam yang ada sekarang. Jangan agenda luar itu menyebabkan disintegritas. 

Mentri Agama Suryadharma Ali, saat berdialog bersama imam masjid se-Kota Kupang  beberapa waktu lalu berpesan agar kelompok-kelompok khilafah harus diangkul. NU harus rangkul dan memberikan pemahaman kepada mereka bahwa Islam yang baik dan Islam yang benar seperti apa.

“Jangan lakukan tindakan-tindakan sepihak dalam menghadapi kelompok-kelompok garis keras. Jika memberikan pemahaman yang baik, pasti pemahaman itu diterima oleh kelompok-kelompok tertentu,” kata Suryadharma. 

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Ajhar Jowe

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hikmah Santri An Nur Slawi