Rabu, 14 Maret 2018

Tangani HIV/AIDS, Kemensos Dirikan Tiga Panti ODHA

Surabaya, Santri An Nur Slawi. Kementerian Sosial mendirikan tiga panti ODHA untuk memberikan layanan rehabilitasi sosial orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menyusul semakin mengkhawatirkannya tingkat penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia. 

Ketiga panti tersebut masing-masing adalah Panti Sosial Rehabilitasi Sosial Wasana Bahagia yang merupakan transformasi dari Panti Sosial untuk penyakit kronis di Ternate. Kedua, Panti Sosial Rehabilitasi Sosial Bahagia yang merupakan transformasi dari panti Sosial Rehabilitasi Sosial Bina Daksa di Medan. Dan, ketiga Panti Sosial Rehabilitasi Sosial Kahuripan Sukabumi yang semula adalah shelter.

Tangani HIV/AIDS, Kemensos Dirikan Tiga Panti ODHA (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangani HIV/AIDS, Kemensos Dirikan Tiga Panti ODHA (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangani HIV/AIDS, Kemensos Dirikan Tiga Panti ODHA

"Ini ikhtiar pemerintah melalui Kementerian Sosial ditengah makin menggunungnya masyarakat yang terinveksi virus HIV AIDS," ungkap Khofifah saat menutup Pentas Sahabat ODHA dalam rangka Hari AIDS Sedunia, di Surabaya, Ahad (3/11) lalu. 

Khofifah menjelaskan, ketiga panti tersebut bertugas memberikan bimbingan, pelayanan dan rehabilitasi sosial dalam bentuk bimbingan pendidikan, fisik, metal, sosial, pelatihan keterampilan,resosialisasi, bimbingan lanjut bagi orang dengan HIV agar mampu mandiri dan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Santri An Nur Slawi

"Dalam UU No 23 Tahun 2014 tegas menyebutkan bahwa tanggung jawab penanganan ODHA baik dalam maupun luar panti menjadi kewenangan Kementerian Sosial," imbuhnya. 

Sementara untuk penderita HIV/AIDS anak, lanjut Khofifah, Kementerian Sosial telah menyiapkan Panti rehabilitasi sosial anak yang dikenal dengan Anak Dengan HIV/AIDS (ADHA) di Surakarta. Panti tersebut nantinya hanya akan melayani penderita HIV/AIDS khusus anak. 

Santri An Nur Slawi

Khofifah menerangkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan secara kumulatif hingga triwulan I 2017, jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 320.152. Jumlah tersebut menurutnya, bisa jadi jauh lebih kecil dari angka sebetulnya mengingat banyak ahli yang menyebut ini sebagai fenomena gunung es. Mengingat data tersebut tercatat yang telah melakukan akses layanan rumah sakit.

"Persoalan ini harus menjadi perhatian semua pihak. Tidak cuma pemerintah, namun juga masyarakat umum mengingat virus ini bisa menular kepada siapa saja, terutama ibu rumah tangga yang terinveksi dari suami " tuturnya. 

Khofifah menjelaskan HIV merupakan virus yang menurunkan dan merusak kekebalan tubuh. Akibatnya, penderitanya mudah terinfeksi penyakit lain. HIV ditularkan melalui hubungan seksual, dalam darah, jarum suntik, dan ASI. Penyakit ini umumnya menurunkan sistem kekebalan tubuh dan membutuhkan waktu tahunan untuk memperlihatkan gejalanya, yaitu sekitar 5-10 tahun

Kukuhkan 1000 Sahabat Peduli AIDS

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengukuhkan 1000 orang sahabat peduli AIDS yang berasal dari Ternate, Medan, dan Jawa Timur. Sahabat Peduli AIDS yang terdiri dari berbagai unsur ini bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai seluk beluk penyakit HIV/AIDS. 

Menurutnya, masalah yang sering terjadi adalah perlakuan yang kurang baik hingga diskriminasi hak hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Kondisi ini terjadi umumnya karena masyarakat kurang mendapat informasi tentang penyakit HIV/AIDS secara menyeluruh. 

"Seharusnya yang dijauhi penyakitnya, bukan orangnya. Tapi di masyarakat, yang terjadi justru sebaliknya," tuturnya.

"Tugas kita bersama adalah berupaya membangun pengetahuan dan pemahaman yang memadai ke masyarakat luas akan kesehatan reproduksi," tambah dia. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail Santri An Nur Slawi

Sabtu, 10 Maret 2018

Gairah Seni dari Pesantren Al-Mukhtariyah

Subang, Santri An Nur Slawi. Malam mulai beranjak di perkampungan Caracas, Subang, Jawa Barat. Ketika anak-anak kota nongkrong di pinggir jalan atau di depan tivi, sejumlah anak di kampung itu bernyanyi bersama. Suaranya nyaris dengung tawon hijrah.

Suara tawon hijrah itu bersumber dari majelis ta’lim Pondok Pesantren A-Mukhtariyah. Di situ, santriwan dan santriwati sedang melantunkan pupujian (Sunda) atau pujian (Jawa) pada kegiatan rutin muhadhorohan.

Gairah Seni dari Pesantren Al-Mukhtariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gairah Seni dari Pesantren Al-Mukhtariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gairah Seni dari Pesantren Al-Mukhtariyah

Pupujian yang dilantunkan adalah Anak Adam, sebuah pujian yang menceritakan kehidupan umat manusia di dunia. Pujian tidak diketahui pengarangnya, tapi tersebar di hampir seluruh Jawa Barat. Kemudian pujian Eling-eling Umat, silsilah leluhur Nabi Muhammad, dan pujian lain.

Santri An Nur Slawi

Muhadhorohan tersebut menjadi ajang kreativitas para santri. Biasanya diisi dengan pidato, pembacaan puisi, bercerita, “Bisa mendongeng, pengalaman pribadi, atau menceritakan hasil membaca buku,” kata Irbah Fikriyah, salah seorang santriwati, di komplek pesantren, Selasa, (19/3).

Santri An Nur Slawi

Jika ada santri yang mengikuti kegiatan seperti Makesta (Masa Kesetiaan Anggota, jenjang penerimaan pertama di IPNU-IPPNU, red.) atau pelatihan jurnalistik harus bisa berbagi dengan santri-santri lain di acara tersebut.

Irbah menambahkan kadang seorang peserta membacakan cerpen. Cerpen tersebut bisa hasil karya sendiri, teman atau didapat dari koran. “Kemudian menyanyi, tapi bukan lagu pop atau dangdut, nyanyi religi,”tambahnya.

Bahkan sambung Irbah, pada acara tersebut ada yang pernah ada santri yang mempromosikan produk sabun.

Ajengan Anis Hisyam Karim, salah seorang pengajar mengatakan di antara mereka ada juga yang tampil dengan menabuh alat musik alakadrnya seperti galon dan kendang. “Kami juga sedang memesan alat musik tiup khas Sunda Karinding,” tambahnya.

Kegiatan tersebut merupakan penempaan mental santri untuk bisa tampil di muka umum pada acara muludan atau rajaban serta di masyarakat ketika mereka lulus dari pesantren.

Lebih jauh ia menceritakan, kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2009. Biasanya dimulai ba’da maghrib sampai pukul 20.30.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Halaqoh, Tegal Santri An Nur Slawi

Rabu, 07 Maret 2018

Menag Ajak Masyarakat Terusan Tradisi Maghrib Mengaji

Serang, Santri An Nur Slawi?

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengajak umat Muslim untuk meneruskan tradisi magrib mengaji sebagai warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan,

"Melalui momentum MTQ ini kami mengajak semua kalangan Pemda dan masyarakat untuk terus dekatkan diri terhadap Al-Quran dan mengamalkan isi yang terkandung di dalamnya. Mari kembangkan tradisi mengaji Al-Quran selepas magrib, ramaikan mesjid-mesjid dengan mengaji Al-Quran karena itu warisan luhur nenek moyang," kata Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin saat membuka MTQ ke-XIII tingkat Provinsi Banten di Serang, Kamis malam.

Menag Ajak Masyarakat Terusan Tradisi Maghrib Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Ajak Masyarakat Terusan Tradisi Maghrib Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Ajak Masyarakat Terusan Tradisi Maghrib Mengaji

Menag mengatakan, MTQ bertujuan untuk membentuk masyarakat cinta Al-Quran dan sebagai sarana pembelajaran serta syiar Islam, jadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dan menjadi imam.

"Al-Quran bukan benda pusaka yang terletak rapi di atas lemari, tetapi Al-Quran harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan," katanya.

Oleh karena itu, kata Menag, ia mengajak umat Muslim untuk terus dekatkan diri dengan Al-Quran dan mengembangkan tradisi mengaji Al-Quran selepas magrib. Apalagi masyarakat Banten yang sangat dekat dengan tradisi keislaman.

Santri An Nur Slawi

"Gerakan masyarakat magrib mengaji atau gemar mengaji, menjadi media bagi keluarga untuk menyediakan waktu selepas magrib membiasakan diri mengaji dan mengkaji isi kandungan Al-Quran sehingga terwujud akhlaqul karimah sesuai tuntunan Al-Quran," katanya.

Sementara Gubernur Banten Rano Karno meminta kepada para dewan hakim untuk bekerja secara objektif dan profesional dalam memberikan penilaian. Sehingga hasil dari MTQ tersebut benar-benar merupakan hasil penilaian yang objektif dan prestasi yang baik untuk mewakili Banten di MTQ nasional maupun internasional.

"Kita ingin peserta dari Banten nanti di nasional bahkan di internasional, menjadi peserta yang berprestasi bukan sekedar partisipasi," kata Rano.?

Santri An Nur Slawi

Pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Banten berlangsung mulai 7 sampai 11 2016 dengan jumlah peserta 464 orang dari delapan kabupaten/kota. Adapun cabang yang dilombakan sebanyak 9 cabang diantaranya tilawah, tahfidz, tafsir sahril, fahmil dan qiroatul qutub. (Antara/Mukafi Niam)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Halaqoh, Pertandingan, Aswaja Santri An Nur Slawi

NU Tak Perlu Ngos-ngosan Cari Panggung Dunia

Bandung, Santri An Nur Slawi 



Katib ‘Aam PBNU KH Yahya C. Staquf menegaskan, saat ini NU tidak perlu ngos-ngosan mencari peluang internasional. Bahkan saat ini NU justru yang ngos-ngosan memenuhi undangan dunia. 

“Undangan itu sudah tidak karu-karuan. Orang-orang itu ingin mendengar apa yang dikatakan NU. Semakin lama, kantor ini semakin sepi. Apa tidak terasa?” tanyanya di ruangannya, di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/1). 

NU Tak Perlu Ngos-ngosan Cari Panggung Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Perlu Ngos-ngosan Cari Panggung Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Perlu Ngos-ngosan Cari Panggung Dunia

Menurut dia, saat ini, Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin pergi ke luar negeri untuk memenuhi undangan-undangan. Begitu juga Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Ia diundang ke mana-mana untuk memenuhi permintaan ke luar negeri. 

“Semua ingin mendengar tentang NU. Bukan cuma itu, ada Pak Marsudi ke mana-mana, Savic Ali ini sekarang ke London. Sekarang ini kita tidak perlu ngos-ngosan mencari platform (rencana kerja; program), panggung untuk internasional,” jelasnya. 

Santri An Nur Slawi

Nah, sekarang tinggal bagaimana kita konsisten dengan artikulasi tentang NU. 

“Jangan bolak-balik, ke sana ke mari; sudah, NU adalah Khittah Nahdliyah, Pembukaan UUD 45, Pancsila, Bhineka Tunggal Ika, itu sudah. Jangan ngomong yang enggak-enggak,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Kajian Islam Santri An Nur Slawi

Selasa, 06 Maret 2018

Tujuh Anggota Ahwa Ini Pilih Rais Syuriyah PWNU Jakarta

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud memimpin sidang pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi pada Konferensi Wilayah NU DKI Jakarta di Museum Listrik, TMII, Jakarta, Sabtu (26/3) sore. Ia membacakan tujuh nama kiai yang diusulkan oleh enam PCNU di Jakarta.

Mereka adalah KH Ibnu Abidin, KH Ahmad Zahari, KH Saifudin Rowi, KH Abdurrahman Shoheh, KH Nurjali, KH Lukman Hakim, dan KH Mahfud Asirun.

Tujuh Anggota Ahwa Ini Pilih Rais Syuriyah PWNU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Anggota Ahwa Ini Pilih Rais Syuriyah PWNU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Anggota Ahwa Ini Pilih Rais Syuriyah PWNU Jakarta

Mereka akan memilih Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta untuk periode kepengurusan lima tahun mendatang.

Sidang pemilihan tujuh anggota Ahwa ini diawali dengan tawassul kepada almarhum para kiai NU Jakarta.

Santri An Nur Slawi

"Alhamdulillah relatif nggak ada kendala," kata Ketua PBNU H Imam Aziz yang bertugas mengoordinasi PWNU DKI Jakarta.

Mereka kini sedang bermusyawarah untuk menentukan nama Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta. Nama ini akan diumumkan sebelum pemilihan Ketua PWNU DKI Jakarta malam ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Habib, Anti Hoax Santri An Nur Slawi

Minggu, 04 Maret 2018

Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dalam sebuah khutbah mengatakan, “Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis. Para sahabat yang lainnya pun heran. Hingga akhirnya diketahui bahwa hamba yang dimaksud Nabi itu tak lain adalah Abu Bakar. Mereka memeng mengakui keutamaan pribadi sahabat yang juga mertua Rasulullah itu.

Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kain Kafan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq

Dalam kesempatan lain, Nabi menyebut orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. "Andai saja aku diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Tapi cukuplah antara aku dengan Abu Bakar ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam," kata Rasulullah.

Sayyidina Abu Bakar termasuk kelompok orang yang paling awal masuk Islam (as-sâbiqûnal awwalûn). Selain loyalitasnya yang sangat tinggi terhadap Rasulullah, ia juga dikenal sebagai sosok yang amat zuhud dan punya keistimewaan lebih dari para sahabat lain. Reputasi di mata Nabi dan sahabat-sahabat inilah yang membuatnya dipercaya mengemban amanat sebagai khalifah pertama selepas Rasulullah wafat.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan Sayyidina Abu Bakar, baik melalui keteladanannya atau petuah-petuah yang disampaikannya. Salah satu yang bisa ditimba adalah cerita tentang saat-saat beliau menjelang wafat. 

Seperti ditulis dalam kitab Anîsul Muminîn karya Shafuk al-Mukhtar, suatu kali Sayyidah Aisyah, putri beliau yang juga istri Rasulullah, datang kepada Abu Bakar yang kala itu sedang sakit.

Santri An Nur Slawi

"Wahai Ayah, bagaimana bila aku panggilkan dokter?" tanya Aisyah.

"Ayah sudah ditangani dokter."

Santri An Nur Slawi

"Lalu apa kata dokter?" tanya Aisyah penasaran.

"Ayah boleh melakukan apa yang Ayah inginkan." Pernyataan dokter semacam ini menunjukkan bahwa sakit Abu Bakar cukup parah dan mendekati kematian. 

"Dengan kain mana aku nanti mengafani jenazah Ayah?"

"Dengan baju yang biasa aku pakai saat makmum shalat bersama Rasulullah."

"Baju itu sudah usang. Apa tidak sebaiknya aku belikan kain kafan yang baru?" tanya Aisyah.

Jawab Abu Bakar, "Orang hidup lebih berhak atas sesuatu yang baru ketimbang orang mati."

Dialog Aisyah dan Abu Bakar tersebut membuktikan kematangan psikologi mereka dalam menyikapi fenomena kematian. Kematian bukan hal yang menyeramkan. Mati pasti terjadi sebagai jembatan berjumpa seorang hamba kepada Rabb-Nya, lalu mempertanggungjawabkan apa yang manusia perbuat selama di dunia.

Pilihan Abu Bakar agar dikafani menggunakan baju lusuh yang biasa dikenakan saat shalat berjamaah dengan Nabi mengesankan setidaknya dua hal. Pertama, kecintaan beliau yang begitu mendalam terhadap Rasulullah. Kedua, bukti kebersahajaan Abu Bakar yang istiqamah, saat hidup hingga maut menjemput.

Yang paling menarik adalah saat ia menjawab tawaran Aisyah yang hendak membelikan kain kafan baru. Ia menampiknya dengan alasan bahwa barang baru hanya layak untuk orang hidup, bukan orang mati. Pernyataan yang terakhir ini sejatinya bukan sekadar penolakan, melainkan pula pesan untuk mereka yang masih hidup bahwa gemerlap duniawi tak lagi relevan ketika jasad seseorang sudah tertimbun di dalam tanah. Wallahu alam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Halaqoh, Kyai, Nusantara Santri An Nur Slawi

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel

 Jakarta, Santri An Nur Slawi

NU merupakan faktor penting tidak terjadinya kekerasan antarmasyarakat sipil di Kalimantan Selatan ketika pecah peristiwa politik pada tahun 1965. Pernyataan ini dikemukakan oleh Toga Tambunan, ketika bertindak sebagai salah seorang pembahas dalam diskusi buku “Berlayar di Tengah Badai: Misbach Tamrin dalam Gemuruh Politik-Seni” yang berlangsung di Galeri Nasional.

Di dalam buku yang membahas kehidupan perupa Misbach Tamrin, kelahiran tahun 1941 di Amuntai, Kalimantan Selatan, yang pernah mendekam selama 13 tahun di penjara Orde Baru karena tuduhan komunis, terungkap bahwa di Kalimantan Selatan relatif tidak terjadi kekerasan antar masyarakat sipil pada tahun peralihan politik tersebut.

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel

Memang ada penangkapan-panangkapan dan kemudian juga penahanan-penahanan tanpa pengadilan –seperti yang dialami Misbach Tamrin dan Toga Tambunan—tetapi berbeda dengan di beberapa daerah di Jawa, Bali atau bahkan Kalimantan Tengah. Di Kalsel tidak ada misalnya perburuan, penyerangan, penangkapan, atau bahkan pembantaian masyarakat sipil terhadap masyarakat sipil lainnya, dalam hal ini para aktivis PKI dan atau yang dianggap terkait dengannya. “Tidak ada yang namanya ‘dibon’ seperti di Jawa seperti yang saya dengar belakangan,” demikian pengakuan Misbach seperti dikemukakan dalam buku.

Acara yang berlangsung akhir pekan lalu (22/11) itu dihadiri Hairus Salim HS dan Hajriansyah yang merupakan penulis buku, dan E. Z. Halim, Sihar Ramses Simatupang, dan Sulistyono yang juga turut menjadi pembahas. 

Misbach sendiri beranggapan  bahwa relatif tidak adanya kekerasan itu karena faktor Jenderal Amir Machmud, Pangdam Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan kala itu, yang menurutnya merupakan pengagum Sukarno. Namun anggapan itu diragukan oleh Toga Tambunan. Menurutnya, ada tiga faktor mengapa masyarakat setempat yang bukan PKI tidak turut mengejar-ngejar atau menumpas orang yang dianggap PKI.

Pertama, lanjutnya, di kalangan masyarakat Banjar saat itu sangat kuat ikatan kekeluargaan. Mereka mengenal istilah bubuhan, artinya anggota keluarga besar. Beberapa orang Banjar sendiri banyak yang aktif di PKI atau pun organisasi yang dekat dengannya. Jadi kekerabatan ini mampu mencegah kekerasan. Tapi selain itu, tambah Toga, orientasi keagamaan orang Banjar sangat moderat. Kebanyakan mereka orang NU. Jadi NU dan juga peran seorang tuan guru di Martapura yang sangat dihormati masyarakat setempat saat itu, punya pengaruh besar tidak terjadinya kekerasan.

Santri An Nur Slawi

Toga menceritakan bahwa sebelum ia tertangkap ia sempat bersembunyi dari satu daerah ke daerah lain di pelosok Kalimantan Selatan dan bertemu dengan banyak orang. Toga yakin mereka tahu siapa tahu siapa sebenarnya ia, tetapi mereka seperti tidak peduli. Bahkan sebagian ada yang membantu, tambahnya.      

Santri An Nur Slawi

Memang Kalimantan Selatan tercatat sebagai basis Partai NU di luar Jawa saat itu, bahkan hingga kini. Ketua Umum NU saat itu adalah KH. Idham Chalid yang berasal dari Kalimantan Selatan. Tak heran kalau di Kalimantan Selatan NU merupakan partai terbesar pada tahun 1965 itu.

Apa yang dikemukakan Toga bisa disebut sebagai kesaksian. Toga bercerita datang ke Banjarmasin tahun 1962 sebagai pegawai kesehatan yang dikirim pemerintah pusat untuk ikut menangani penyakit malaria yang menyebar di kawasan tersebut. Karena senang menulis dan berkesenian, ia kemudian turut mengelola LEKRA Kalimantan Selatan bersama Misbach Tamrin. Hal itulah yang menyeretnya ke tahanan selama 14 tahun, meski ia mengaku bukanlah anggota PKI. “Saya sebenarnya anggota Partindo (Partai Indonesia),” katanya. “Sebelum ke Banjarmasin, saya redaktur kebudayaan Bintang Timur, milik Partindo,” tambahnya seusai diskusi.

Kesaksian Toga Tambunan yang dikemuakan dalam diskusi buku ini cukup menarik perhatian peserta diskusi. Diskusi buku ini sendiri sebenarnya merupakan bagian dari Pameran Tunggal Misbach Tamrin berjudul “Arus Balik” yang pembukaannya berlangsung pada 20 November dan dihelat hingga 30 November 2015 di Galeri Nasional. (Red: Mahbib)

 

Foto: Ilustrasi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Khutbah, Jadwal Kajian, Daerah Santri An Nur Slawi

Gelar Safari, Nusantara Mengaji Ajak Tadarus Al-Quran

Lampung, Santri An Nur Slawi - Nusantara Mengaji menggelar safari dakwah (Safda) bersama Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) di Pesantren Roudlotul Quran Kota Metro, Kamis (26/1). Dihadiri ribuan santri dan masyarakat, safari dakwah diisi dengan khataman Al-Quran 30 juz.

Ketua Koordinator Nasional Nusantara Mengaji Jazilul Fawaid Al-Hafidz mengajak agar masyarakat kembali pada Al-Quran.

Gelar Safari, Nusantara Mengaji Ajak Tadarus Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Safari, Nusantara Mengaji Ajak Tadarus Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Safari, Nusantara Mengaji Ajak Tadarus Al-Quran

"Kita syiarkan lagi gerakan membaca Al-Quran. Kalau masyarakatnya cinta Al-Quran, insya Allah akan lahir pemimpin-pemimpin yang berjiwa Qurani," katanya.

Santri An Nur Slawi

Kegiatan yang dirangkai dengan Haflah Qori-Qoriah ini bertujuan menggerakkan masyarakat untuk cinta dan gemar membaca Al-Quran. Safari ini juga merupakan bentuk penghargaan kepada para penghafal Al-Quran dan napak tilas daerah-daerah yang mempunyai tradisi melahirkan para penghafal dan pembaca Al-Quran.

Santri An Nur Slawi

"Dewasa ini alhamdulillah penghargaan kepada para hamalatil Quran mulai tumbuh di masyarakat, walaupun mereka tidak minta dihargai. Namun dengan memuliakan mereka semoga kita mendapat keberkahan Al-Quran," lanjutnya.

Jazilul yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (Ikaptiq) Jakarta itu mengatakan, selain mengadakan khataman Al-Quran, perjalanan Safda Nusantara Mangaji menelusuri daerah Kalianda, Pringsewu, dan Metro.

Safari ini bertujuan untuk napak tilas ulama-ulama penghafal Al-Quran dan telah banyak berdiri pesantren-pesantren yang berbabasis Al-Quran. (Fa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pertandingan, Khutbah Santri An Nur Slawi

Inilah Beda Puasa Ular dan Puasa Ulat

Jakarta, Santri An Nur Slawi - Wakil Ketua PCNU Sugiarso pada ceramah Tarawih menyampaikan perlunya membaca ayat kauniyah, berupa aktivitas belajar dari alam raya termasuk hewan. Menurutnya, semua hewan pernah berpuasa dengan caranya masing-masing. Ayam berpuasa untuk meneruskan keturunannya dengan cara mengerami telur hingga pecah dan keluar anak ayam.

“Ada dua jenis hewan yang mejadi pelajaran puasa, yakni puasa ular dan ulat. Ulat jika ingin panjang umurnya, maka harus ganti kulit dengan cara berpuasa. Ulat pun sama, jika ingin lebih lama umurnya maka berpuasa yang dalam istilah ilmiahnya mengalami metamorfosis,” terang Wakil Ketua PCNU pada tarawih berjamaah yang diawali dengan buka puasa bersama di Masjid Al-Haq, Pomako, Distik Mimika Timur, Mimika, Ahad (4/6).

Inilah Beda Puasa Ular dan Puasa Ulat (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Beda Puasa Ular dan Puasa Ulat (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Beda Puasa Ular dan Puasa Ulat

Sebelum puasa namanya ular juga ular. Setelah puasa namanya juga ular. Sebelum puasa makanan ular adalah katak. Setelah puasa makanan ular juga katak. Sebelum puasa perilaku ular adalah melata. Setelah puasa ular juga tetap melata.

Santri An Nur Slawi

Ini berbeda dengan ulat. Sebelum puasa namanya ulat. Setelah puasa namanya menjadi kupu-kupu. Sebelum puasa makanan ulat adalah daun. Setelah puasa, makanan ulat sari putik bunga. Sebelum puasa, cara jalan ulat menggeliat. Setelah puasa ulat dapat terbang. ”Bapak dan ibu mau seperti apa, ulat atau ular kah?”

”Ini ular dan ulatnya mau shalawatan ya. Coba kita ikuti ya?” ajak Kang Sugiarso untuk melantunkan Syair Puasa Ulat dan Ulat dengan nada Shalli wa Sallim Da’iman.

Ibu Bapak semua puasa dijaga // jangan sampai tidak dapat apa-apa // dapatnya hanya lapar dan dahaga.

Santri An Nur Slawi

Itu model puasa ular namanya // tidak mengubah itu namanya // tidak mengubah itu bentuknya.

Tidak mengubah itu makanannya //tidak mengubah itu wataknya // tidak mengubah mutu hidupnya.

Beda dengan ulat lalu jadi kupu // telah berubah itu namamu // telah berubah itu makananmu.

Indah bentukmu wahai kupu-kupu //menjadi terbang cara jalanmu // semua orang suka padamu.


Acara ditutup dengan pengumuman program wakaf tanah untuk Kantor PCNU Mimika dengan Bapak? Hamid dan H Taher sebagai petugas wakaf di Daerah Pomako. Panitia juga membagikan lembaran tuntunan shalat malam (qiyamul lail), berupa zzikir, shalat tahajud, shalat tobat, shalat tasbih, dan shalat hajat. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul, Kyai Santri An Nur Slawi

Jumat, 02 Maret 2018

Kisah Kiai Masduqie Machfudh Berdialog dengan Dosen Antiziarah

Ketika Almarhum Kiai Masduqie Machfudh masih kuliah di Jogja, ada salah satu dosennya yang anti terhadap ziarah kubur. Dosen tersebut menyatakan secara terang-terangan bahwa hukum ziarah kubur adalah haram.

Suatu saat Kiai Masduqie Machfudh mendapatkan kesempatan untuk berdialog dengan dosen itu seputar hukum ziarah yang hingga kini masih diperdebatkan itu.

Kisah Kiai Masduqie Machfudh Berdialog dengan Dosen Antiziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kiai Masduqie Machfudh Berdialog dengan Dosen Antiziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kiai Masduqie Machfudh Berdialog dengan Dosen Antiziarah

“Kalau ada ‘amr jatuh setelah nahyi itu hukumnya apa, Pak?” Abah membuka dialog dengan pertanyaan. Dalam kaidah usuhul fiqih, redaksi perintah (‘amr) yang datang setelah adanya larangan (nahy) membuat status hukum suatu perbuatan menjadi boleh.

Sang dosen mengerti tentang kaidah ini dan menjawab, “Mubah.”

Santri An Nur Slawi

“Kalau amr-nya ada qarinah-nya bagaimana, Pak?” Qarinah merupakan keterangan nash yang memperjelas status hukum.

Santri An Nur Slawi

“Ya, sunnah.”

“Pak, mengharamkan suatu hal yang sunah itu hukumnya bagaimana?”

“Ya kufur, dong.”

“Sekarang saya tanya, bagaimana hukumnya ziarah kubur, Pak?”

“Haram.”

Kiai Masduqie lantas menunjukkan bahwa sang dosen sedang mengharamkan perbuatan yang berstatus sunnah. Dengan logika itu, dosen ini secara otomatis masuk dalam kategori orang yang kufur.

Mendengar kata-kata tersebut, sang dosen bertanya keheranan, “Lho, kok gitu?”

Kiai Masduqie lalu menyodorkan hadits shahih yang menunjukan bahwa ziarah kubur itu adalah sunnah, alias mendapat pahala bagi yang mengamalkannya. Dalam hadits tersebut termuat amr yang jatuh setelah nahyi dan amr tersebut juga disertai qarinah yang memberi kesan bahwa perbuatan bersifat positif.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Aku (Nabi SAW) dulu melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah karena yang demikian itu mengingatkan akan kehidupan akhirat.”

Ternyata sang dosen tidak mengetahui keberadaan hadits ini. Sehingga ketika Kiai Masduqie menyodorkan hadits tersebut, sang dosen hanya diam.

Tak semua perbedaan pendapat disebabkan perilaku “asal beda”, atau karena hasrat ingin memusuhi. Seringkali perbedaan dipicu oleh ketakseragaman cara persepsi atau lantaran tidak tahu. Di sinilah pentingnya kemauan untuk terus belajar, berdialog dan tabayun (klarifikasi), sehingga perbedaan yang merupakan rahmat menjadi kian indah karena disikapi secara dewasa tanpa saling membenci.

Indirijal Lutofa, Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Nurul Huda Mergosono Malang asuhan Almarhum Kiai Masduqie Machfudh;? mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Islam, Budaya, Kiai Santri An Nur Slawi

Selasa, 27 Februari 2018

PBNU Siap Bantu Bebaskan Warga Korsel yang Disandera Taliban

Jakarta, Santri An Nur Slawi

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan siap membantu upaya pembebasan 21 warga sipil Korea Selatan (Korsel) yang disandera kelompok militan dan gerilyawan Taliban di Afganistan. Namun, upaya pembebasan itu tetap terbatas pada wilayah-wilayah tertentu yang menjadi kewenangan PBNU.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan usai menerima dua Duta Besar (Dubes) negara sahabat untuk Indonesia; Dubes Korsel Mr Lee Sun Jin, Dubes Afganistan Zherazamin Kunary dan Kuasa Usaha Dubes Pakistan Ali Baz Khan, di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (1/8)

PBNU Siap Bantu Bebaskan Warga Korsel yang Disandera Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siap Bantu Bebaskan Warga Korsel yang Disandera Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siap Bantu Bebaskan Warga Korsel yang Disandera Taliban

Hasyim berjanji siap berpartisipasi secara moral dalam upaya pembebasan sandera yang diculik sejak 19 Juli lalu itu. Hanya saja, katanya, partisipasi itu tidak akan sampai memasuki wilayah diplomatik negara-negara yang bersangkutan. “Itu urusannya lebih ke pemerintah masing-masing. Yang kita lakukan adalah intensifikasi negosiasi,” ujarnya.

Santri An Nur Slawi

Presiden World Conference on Religions for Peace juga mengatakan akan mengusahakan berkomunikasi dan mendesak sejumlah ulama berpengaruh di beberapa negara, terutama negara-negara yang berdekatan dengan Afganistan. Pun ia berharap, organisasi-organisasi Islam di dunia turut melakukan hal yang sama.

“Saya minta juga kepada ulama-ulama dan komunitas Muslim di dunia untuk menyuarakan upaya-upaya pembebasan, demi kemanusiaan. Saya berharap juga pihak Korsel mampu mengikutsertakan komunitas Muslim di negaranya,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, itu.

Santri An Nur Slawi

Meski tak memiliki akses dengan pihak Taliban, namun Hasyim mengatakan akan mencoba menghubungkan dengan para ulama di negara tersebut. Utamanya para ulama yang telah berkomunikasi dengan NU saat hadir pada Konferensi Ulama/Cendikiawan Muslim se-Dunia (International Conference of Islamic Scholars/ICIS) yang digelar PBNU beberapa waktu lalu. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pesantren Santri An Nur Slawi

Ratusan Pendekar Se-Jawa-Bali Bertanding di UNU Sidoarjo

Sidoarjo, Santri An Nur Slawi

Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencak Silat NU Pagar Nusa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) pada Senin (23/5) telah resmi dilantik. Pengukuhan tersebut bertepatan dengan pembukaan kejuaraan pencak silat Pagar Nusa Unusida Open 2016 se-Jawa-Bali yang diikuti sekitar 500 peserta dan tim pendamping.

Acara yang digelar di Hall Rahmatul Ummah Annahdliyah itu berlangsung selama 4 hari, 23-26 Mei 2016, dengan mempertandingkan lima kelas putra-putri dan dua kategori, yakni tarung dan seni.

Ratusan Pendekar Se-Jawa-Bali Bertanding di UNU Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Pendekar Se-Jawa-Bali Bertanding di UNU Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Pendekar Se-Jawa-Bali Bertanding di UNU Sidoarjo

Ilham Athoillah, ketua UKM yang juga ketua panitia kejuaraan tersebut mengatakan, Unusida Open 2016 merupakan program kerja pertama UKM yang dipimpinnya yang sengaja dilaksanakan bersamaan dengan acara pengukuhan.

Santri An Nur Slawi

Wakil Bupati Sidoarjo H. Nur Ahmad Saifudin yang merupakan mantan ketua Pimpinan Cabang PSNU Pagar Nusa Sidoarjo membuka secara resmi Unusida Open 2016, yang ditandai dengan pemukulan gong pertandingan dan diiringi Shalawat Nabi.

Santri An Nur Slawi

Cak Nur, sapaan Wakil Bupati Sidoarjo, saat memberi sambutannya di depan para peserta menyampaikan, pendekar Pagar Nusa merupakan benteng NU dan NKRI, karena itu masa depan NU dan Indonesia salah satunya berada di pundak mereka. "Kalian-kalianlah yang menjaga masa depan NU dan keutuhan NKRI dari berbagai hal yang mengancam," tegasnya.

Menurut Cak Nur, Pagar Nusa merupakan organisasi yang punya andil besar dalam membentuk karakter, terutama membentuk mental para pemimpin. Diharapkan para peserta yang sebagian besar masih berstatus pelajar dan mahasiswa kelak menjadi manusia yang memiliki jiwa besar.? ? ? ?

?

Dukungan pun datang dari Rektor Universitas NU Sidoarjo Dr. Fatkul Anam. Ia berharap, ajang kejuaraan tersebut menjadi agenda tahunan UKM Pagar Nusa UNU Sidoarjo. "Ini salah satu agenda yang mudah-mudahan bisa jadi agenda tahunan," ungkapnya. (Aprilia Zahrani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nasional, Ulama Santri An Nur Slawi

Nahdliyin di BPN Lippo Cikarang Peringati Maulid

Bekasi, Santri An Nur Slawi. Masyarakat di lingkungan kompleks BPN Lippo Cikarang, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Harlah ke-89 NU, Ahad (1/2) malam. Grup hadroh Ahbaburrosul Karawang, menambah khidmat peringatan tersebut yang bertempat di masjid Attaqwa kompleks BPN Lippo Cikarang.

Nahdliyin di BPN Lippo Cikarang Peringati Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin di BPN Lippo Cikarang Peringati Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin di BPN Lippo Cikarang Peringati Maulid

Penyampai taushiyah pada malam itu ialah KH Hasanuri Hidayatullah dan pengasuh Majelis Ahbaburrasul Karawang Habib Alwi Ba’alawi.

Ketua Panitia Arief Widhiharto dalam sambutannya mengingatkan warga NU untuk tetap menjaga keutuhan NKRI. “Penting sekali untuk ikut kepada para guru dan ulama.”

Santri An Nur Slawi

Sementara Habib Alwi mengatakan, peringatan maulid Nabi SAW merupakan bukti cinta umat kapada Nabi Muhammad SAW. peringatan ini menurutnya, layak menjadi media untuk memperbaiki akhlak keseharian umat dengan mencontoh akhlak mulia kanjeng Nabi.

Ia menegaskan pentingnya beristiqomah mengamalkan Aqidah Aswaja. “Jangan pedulikan sekelompak orang yang mengharamkan maulid. Mereka yang mengharamkan maulid, bukti bahwa mereka tidak cinta kepada Nabi Muhammad SAW.”

Santri An Nur Slawi

Sementara KH Hasanuri menjelaskan dengan detil makna dan fadillah istighfar. “Walaupun Nabi SAW terbilang ma’shum, Beliau tetap beristighfar kepada Allah. Beristigfar dan bersholawat akan membawa Indonesia lebih baik.” (Bahrudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Daerah, Nasional Santri An Nur Slawi

Senin, 26 Februari 2018

PBNU Gelar Tahlil 7 Hari dan Sembahyang Ghaib

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar upacara tahlilan selama 7 hari dan sembahyang ghaib untuk? KH Achmad Warsun Munawwir yang akrab disapa Mbah Warson. Keduanya diadakan di Masjid An-Nahdlah, Gedung PBNU, Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat.

Sembahyang jenazah ghaib dimulai besok setelah menunaikan sembahyang Jumat. Setelah itu, ucapara tahlilan dan doa bersama digelar selama 7 hari berturut-turut untuk mendiang alm KH Achmad Warson Munawwir, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

PBNU Gelar Tahlil 7 Hari dan Sembahyang Ghaib (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Gelar Tahlil 7 Hari dan Sembahyang Ghaib (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Gelar Tahlil 7 Hari dan Sembahyang Ghaib

Selain itu, PBNU mengimbau kepada seluruh lembaga, lajnah, dan badan otonom NU untuk menggelar tahlilan dan doa bagi alm Mbah Warson, seorang putra pengasuh pondok pesantren salafiyah tertua di Yogyakarta, KH Munawwir.

Santri An Nur Slawi

Upacara tahlil 7 hari dan doa bersama merupakan satu bentuk belasungkawa segenap warga NU atas wafatnya Mbah Warson.

Mbah Warson, penulis Kamus Bahasa Arab-Indonesia terkenal yang berjumlah sedikitnya 1600 halaman, menutup usia di kota Yogyakarta pada pukul 6.00, Kamis (18/4) pagi. Mbah Warson wafat pada usia kurang lebih 79 tahun (1934-2013).?

Santri An Nur Slawi

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Aswaja Santri An Nur Slawi

Minggu, 25 Februari 2018

Beduk Ditabuh, Munas NU Dibuka

Cirebon, Santri An Nur Slawi. Perhelatan akbar Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012 yang digelar di Pondok Pesantren Kempek Cirebon dibuka secara resmi oleh Rais Aam KH MA Sahal Mahfudh, Sabtu (15/9).



Beduk Ditabuh, Munas NU Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Beduk Ditabuh, Munas NU Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Beduk Ditabuh, Munas NU Dibuka

Pembukaan ditandai dengan pemukulan beduk pada pukul 10.09 WIB. Turut hadir dalam kesempatan ini Wakil Rais Aam KH A Mustofa Bisri, Katib Aam KH Malik Madani, Ketua Umum PBNU KH Said AAqil Siroj, Wakil Ketua Umum KH As’ad Said Ali, serta segenap jajaran pengurus syuriyah dan tanfidziyah PBNU, PWNU, dan ratusan ulama non-struktural NU. Ribuan massa nahdliyin lainnya juga hadir menyemarakkan upacara pembukaan.

Dalam khutbah iftitah, Kiai Sahal mengajak semua warga Nahdliyin untuk mengoptimalkan perannya di berbagai bidang, baik untuk kepentingan internal umat maupun bangsa secara umum.

“Peran NU di bidang sosial harus terus menerus dipertahankan. Di bidang ekonomi, pendidikan harus selalu ditingkatkan,” pintanya.

Santri An Nur Slawi

Menurutnya, Munas dan Konbes NU ini merupakan bentuk evaluasi diri sekaligus tanggung jawab ormas terbesar ini kepada masyarakat. “NU merasa berkewajiban menyumbangkan pikiran-pikiran dan proaktif untuk kelangsungan tujuan NKRI,” tuturnya.

Santri An Nur Slawi

“Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kesuksesan Munas, atas nama PBNU mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Jazakumullah khairan katsiran,” katanya sebelum akhirnya ditutup doa oleh Tuan Guru Turmuzi.

Redaktur : Hamzah Sahal

Redaktur : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kiai, Humor Islam Santri An Nur Slawi

Kedatangan Ketua Umum PBNU ke Istana Dianggap Wajar

Jakarta, Santri An Nur Slawi. kedatangan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj ke Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), baik dalam kapasitas sebagai Ketua Umum PBNU atau Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dinilai sebagai sesuatu yang wajar.

“Kami tidak merasa keberatan dengan kedatangan Kiai Said ke Istana Negara," kata seorang aktivis NU Ahmad Joyo Bintoro di kantor PBNU, Jakarta, Rabu (20/3). Kunjungan itu, menurutnya, merupakan bagian dari cara komunikasi pimpinan Ormas dan Kepala Negara.

Kedatangan Ketua Umum PBNU ke Istana Dianggap Wajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kedatangan Ketua Umum PBNU ke Istana Dianggap Wajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kedatangan Ketua Umum PBNU ke Istana Dianggap Wajar

Pernyataan ini disampaikannya terkait kritik Ketua Lembaga Kajian dan Survey Nusantara (LAKSNU) Gugus Joko Waskito atas kedatangan KH Said Aqil Siroj dan pimpinan 13 Ormas Islam ke Istana Negara.

Santri An Nur Slawi

"Jika saudara Gugus Joko mengatakan dirinya kader muda NU, saya juga kader muda NU. Menurut saya kunjungan itu adalah bentuk komunikasi pimpinan Ormas dengan pemimpin pemerintahan. Komunikasi antara Ormas yang mewakili masyarakat sebagai anggotanya dengan Presiden atas kedudukannya sebagai Kepala Negara. Itu hal wajar yang tidak perlu diperdebatkan," urai Bintoro. 

Santri An Nur Slawi

Dalam keterangannya Bintoro juga meminta sesama aktivis NU untuk menyampaikan kritik dengan sopan santun. Ada adab yang harus diindahkan oleh setiap Nahdliyin, katanya.

Mengenai tudingan Kiai Said sudah mempolitisir NU melalui kedatangannya ke Istana Negara, dengan tegas Bintoro menyampaikan bantahannya.

"Saya menolak anggapan Kiai Said sudah mempolitisir NU. Sebaliknya, saya menganggap kritik atas kedatangan Kiai Said ke Istana penuh muatan politik," pungkas Bintoro.

Lebih lanjut Bintoro juga mengatakan, Ormas Islam itu tidak boleh tidak peduli dengan kondisi dan perkembangan pengelolaan Negara, karena terselenggaranya pemerintahan yang baik merupakan prasyarat terwujudknya penegakan hukum, terbinanya tertib sipil dan terjaminnya masyarakat dalam menjalankan syari’at agama. 

Seperti diwartakan, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Kamis (14/3) kemarin memimpin pimpinan 13 Ormas Islam yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) memenuhi undangan Presiden SBY ke Istana Negara.

Dalam pertemuan tersebut selain dilaporkan keberadaan LPOI yang sudah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), juga disampaikan pernyataan sikap perihal penuntasan sejumlah kasus hukum, pemberantasan narkoba dan terorisme.

Foto: KH Said Aqil Siroj dan Presiden SBY saat menghadiri Munas-Konbes NU di Cirebon, September 2012 lalu.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis    : Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Jadwal Kajian, Hadits, Anti Hoax Santri An Nur Slawi

Sabtu, 24 Februari 2018

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten

Jakarta, Santri An Nur Slawi

Kementerian Agama akan kembali menggelar  Pekan Olahraga Seni Pesantren Nasional (Pospenas). Kali ini, gelaran Pospenas yang ke-7 ini akan diselenggarakan di Provinsi Banten. Proses persiapan terus dilakukan dan sampai saat ini telah mencapai 60–70%.

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Olah Raga Santri Ke-7 Akan Digelar di Banten

Hal ini diketahui saat Rapat Koordinasi Pospenas, di Ruang Sidang Setjen Kementerian Agama, Gedung Kemenag Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (07/03) sore. Hadir dalam rapat tersebut, perwakilan dari Kemenag Pusat yang dipimpin Direktur PD Pontren yang juga Ketua I Panjatapnas Pospenas, Mohsen, Kakanwil Kemenag Banten, Agus Salim, Perwakilan dari Kemenko PMK, Kemenpora, Kemendikbud, Kemenpar, Kemendagri, Pemrov Banten dan lain sebagainya. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

Popenas sendiri disepakai digelar pada 22–28 Oktober 2016 mendatang. Masih didiskusikan, tentang Maskot Pospenas. Sementara, ada usulan Maskot diberi nama Si Udin, yang merupakan kependekan dari Santi Indoensia Ulet Dedikatif Integritas dan Nasionalis.

Sebelumnya, Sekjen Nur Syam menyatakan, Pospenas diadakan bertujuan untuk membina para santri terutama yang ada di pondok pesantren untuk menggali potensi di bidang olahraga dan seni. “Yang terpenting adalah meningkatkan ukhuwah islamiyah di kalangan santri, serta meningkatkan budaya berolahraga dan seni yang bernuansa islami,” terang Sekjen.

Selain itu, Pospenas juga digelar untuk memberikan  apresiasi dan mengembangkan khazanah budaya bangsa. “Pospenas ini adalah salah atu bagian dari membangun manusia yang beriman dan bertakwa, sehat jasmani dan rohani, berkualitas unggul, sportif, dan berdaya saing tinggi,” terangnya.

Santri An Nur Slawi

Sementara itu, Gubernur Banten Rano Karno beberapa waktu lalu juga berjanji, Banten siap menjadi tuan rumah yang sukses. Baik sukses pelaksanaan, sukses prestasi, sukses ekonomi maupun administrasi. 

Santri An Nur Slawi

Dalam Pospenas VII ini kali, akan mempertandingkan 11 cabang olahraga, yakni atletik, bola basket, bola voli, bulu tangkis, futsal, sepak takraw, tenis meja, pencak silat, senam santri, dan panahan. Sementara 12 cabang seni yakni kasidah, hadrah, stand up comedy, pidato tiga bahasa, seni lukis islami, cipta puisi, kaligrafi hiasan mushaf Alquran, kriya, fragmen, pakeraf, dan fotografi Islam. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Santri, Sholawat, Pondok Pesantren Santri An Nur Slawi

Jumat, 23 Februari 2018

NU Tegaskan Kembali Haramnya Kuis SMS

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Nahdlatul Ulama kembali menegaskan keharaman mengikuti dan menyelenggarakan kuis layanan pesan singkat (SMS) dan telfon. Kuis yang sedang marak ini mengandung unsur maisir atau gambling alias taruhan yang dilarang secara tegas dalam kitab suci Al-Quran.

Penegasan itu disampaikan dalam Bahtsul Masail Diniyah Waqiiyyah (pembahasan masalah-masalah aktual keagamaan) di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (15/8) malam. Bahtsul masail dilakukan oleh para kiai dari jajaran syuriah PBNU dan utusan dari Lajnah Bahtsul Masail NU (LBM) dari beberapa daerah yang telah diamatkan oleh Munas dan Konbes lalu untuk merampungkan beberapa persoalan keagamaan yang belum selesai dibahas waktu itu.

Ditegaskan bahwa hadiah yang diterima oleh satu dari ribuan peserta kuis yang membayar harga pulsa melebihi tarif biasa itu tidak bisa disebut sebagai hadiah dalam pengertian hukum Islam. Hadiah dalam kuis itu lebih tepat disebut sebagai judi yang secara tegas dan jelas haram hukumnya.

NU Tegaskan Kembali Haramnya Kuis SMS (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tegaskan Kembali Haramnya Kuis SMS (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tegaskan Kembali Haramnya Kuis SMS

"Bayangkan jika satu SMS sang bandar memperoleh Rp. 2000 dikalikan ribuan peserta kuis, semantara yang menang hanya mendapatkan 1 sampai lima juta. Kuis ini hanya menjadi sarana untuk mencari keuntungan bagai para pemberi hadiah atau bandarnya," kata M. Kholil Nafis, salah seorang peserta sekaligus sekretaris Bahtsul Masail.

Warga Nahdliyyin dan masyarakat secara umum dihimbau untuk tidak terpengaruh dengan iming-iming para penyelenggara kuis. Dikatakan, kuis semacam itu hanya menyebabkan masyarakat malas dan mengharap sesuatu keuntungan tanpa melalui kerja.

Selain kuis berhadiah, bahtsul masail juga membahas dan mengesahkan 4 masalah yang belum sepenuhnya tuntas dibahas pada Munas Surabaya yakni tentang kalimat sumpah jabatan, merubah bentuk wajah (face of), infotainment, dan perdagangan orang.

Santri An Nur Slawi

Hingga Rabu (16/8) pagi, bahtsul masail yang dipimpin oleh Rais Syuriah PBNU KH. Masyhuri Naim dan KH. Maruf Amin itu masih berlangsung. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Kajian Sunnah, Aswaja Santri An Nur Slawi

Mengenang KH Abdul Hamid Baidlowi

KH Abdul Hamid Baidlowi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem lahir di Lasem 30 Desember 1945 wafat 15 Juni 2014 atau 17 Sya’ban 1435 H. Beliau putra KH Baidlowi Lasem salah seorang pendiri NU, Raisul Akbar Thariqah NU se Indonesia, pencetus gagasan status Presiden RI Ir H Soekarno sebagai "Waliyyul Amri ad-Dhoruri bis Syaukah" pada saat Indonesia dalam keadaan ? genting krisis kepemimpinan nasional terancam berbagai pemberontakan di beebagai daerah.

Silsilah keturunan selengkapnya beliau? menyambung sampai Ki Joyotirto selanjutnya sampai Mbah Sambu keturunan Pangeran Benawa putra Jaka Tingkir atau Sultan Pajang.? Pendidikannya di masa muda di Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem, Tebuireng Jombang, Pesantren Sarang Kab. Rembang dan Makkah.

KH Musthofa Bisri Rais Am PBNU setelah menjadi imam shalat jenazah beliau di Masjid Jami’ Lasem menyatakan almarhum sebagai ulama yang sangat teguh memegang prinsip dan juga hatinya sangat lembut. Demikian menurut Gus Mus yang pernah menjadi kakak iparnya.

Kiai Hamid kemudian menikah dengan Ning Jamilah alumni Pesantren Al-Hidayat Lasem di bawah pengasuh Nyai Nuriyyah Ma’shoem. Putri dari Kiai Kholil Pengasuh PP Darul Ulum Burneo Bojonegoro yang di masa mudanya secara heroik dengan jadug membawa bom berupa kerikil dan ikut naik merobek bendera Belanda di Hotel Yamato dalam pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Mengenang KH Abdul Hamid Baidlowi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang KH Abdul Hamid Baidlowi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang KH Abdul Hamid Baidlowi

Nyai Hj Jamilah kini dikenal sebagai muballighah yang istiqamah? mengisi pengajian di berbagai daerah. Pernikahannya dengan KH A. Hamid dikaruniai beberapa putra-putri antara lain Gus Ahfas, alumni Makkah. KH A. Hamid besanan dengan Pengasuh Pesantren Ploso Kediri, Pesantren Mranggen Demak, dan almarhum? Kiai Chudori Magelang

Beliau seorang orator, kharismatik, unik dan politisi ulung. Ketokohannya sampai tingkat nasional diakui seperti yang disampaikan oleh KH Maemun Zubair Sarang menilai adik iparnya itu. Kepiawaiannya berbagi peran dan zig zag di banyak kaki sering membuat bingung lawan bahkan kadang kawannya sendiri.

Santri An Nur Slawi

Di masa mudanya sampai beberapa tahun lamanya memimpin PCNU Lasem. Setahun sebelum wafatnya beliau sempat tercatat sebagai Ketua Dewan Syuro atau penasehat nasional FPI (Front Pembela Islam). Di kalangan NU, ormas Islam lainnya serta kalangan luas beliau sangat disegani karena kewibawaannya, keberaniannya, keteguhannya, kealimannya sebagai ahli hadits dan keturunannya.

Keihlasannya berjuang amar ma’ruf nahi munkar membuat dirinya rela berkorban, bersikap tegas menerima resiko meski tidak populer atau tidak disukai orang.

Di masa adanya NU tandingan pimpinan Abu Hasan, beliau Mbah Mik biasa dipanggil duduk di dalamnya sebagai pengurus penting. Kedudukannya sebagai ulama sesuai sifat ulama menurut penulis berperan besar dalam rangka hidmah menjaga keseimbangan, check and balance, mengontrol dari dalam agar tandingan NU tersebut terkendali tidak bertindak melampaui batas, sehingga NU tetap selamat, kuat dan aman melewati gelombang bahtera pemerintahan refresif masa itu.

Ketika ada beberapa tokoh NU rame-rame membela Syiah mengamankan stempel status sosial dirinya ? sebagai tokoh toleran, Kiai Hamid secara tegas berpidato dimana-mana menolak ajaran Syiah sambil menulis makalah bahkan mengarang Kitab kelemahan Syiah secara syar’i. Menurut penulis adanya tokoh besar yang keras menolak untuk menjaga keseimbangan, memberi petunjuk kepada ummat, membuat garis bahwa antara NU dan Syiah ajarannya berbeda, Agar keaslian/ kemurnian ajaran Islam yang diamalkan NU tetap terjaga, tidak disusupi/diinfiltrasi ajaran lain.Artinya kalau membela Syiah bukan berarti kebablasan atau salah kaprah mengakui atau menyatakan ajarannya benar. Yang benar adalah ajaran NU, sesuai i’tiqad nahdliyyin.

Santri An Nur Slawi

Keponakannya, KH Najih Maimoen Zubair kerap diajak Mbah Mik mengikuti forum lintas ormas menghadapi tantangan dakwah terkini. Beliau sesungguhnya menerima toleransi perbedaan, namun tidak setuju istilah pluralisme karena ideologi asing dan liberal itu dinilai tidak sejalan dengan Islam dan Pancasila. Kata beliau, sambil mengoreksi, yang ? benar adalah pluralitas tanpa isme, seperti dituturkan kepada penulis semasa hidup.

Ketika Pesantren Azzaitun Indramayu membeli lahan cukup luas untuk membuka cabang di Kec.Sluke tidak jauh dari Lasem, Kiai Hamid dengan enteng dan lantang menentang keras kehadiran Az-Zaitun. Siapa pun segan dan tidak berani berhadapan dengan ulama besar tanpa kompromi itu dengan pergaulan cukup luas lintas ormas bahkan dunia Islam.

Di masa kepemimpinannya di PCNU Lasem, PP Al-Wahdah Lesem yang diasuhnya menjadi tuan rumah Kongres PP IPNU-IPPNU. Juga konsolidasi lahan dan pembangunan lembaga pendidikan di bawah LP Ma’arif terdiri dari dari MA NU, SMP NU dan SMK NU yang berdiri cukup megah, kemudian dilanjutkan pada periode PCNU di bawah KH.Rogib Mabrur dan KH M. Zaim Ahmad Ma’shoem semakin maju.

Jasanya terhadap umat Islam termasuk di dalamnya terhadap NU seperti disebutkan di atas. Atas jasanya juga telah berdiri megah Masjid Al-Khitthah, Tulis Lasem.

Secara tidak langsung di bawah pengaruh beliau selama bertahun-tahun stabilitas Kota Lasem dan sekitarnya kondusif, contohnya terbukti atas dasar ? penolakan warga setempat dan berbagai elemen ummat Islam akhirnya Bupati? Rembang secara resmi menutup selamanya rencana pendirian megaproyek Stakong yang beralasan dibangun di tengah-tengah mayoritas mutlak komunitas muslim. Apalagi kondisi pembangunan lembaga Islam di sekitarnya masih berbenah.

KH Abdul Hamid Baidlowi tercatat sebagai Anggota DPA RI tahun 1998-2004. Kedudukan beliau sebagai penasehat presiden dalam kapasitas dirinya sebagai ulama sejak masa Kepresidenan Prof.Ir.B.J.Habibie, KH.Abdurrahman Wahid, Megawati sampai DR.H.Susilo Bambang Yudhoyono tentu masukan/ pertimbangan beliau tersebut bagi pembangunan Indonesia menorehkan tinta emas yang dicatat dalam berita acara lembaran negara.

Dan di masa Pilpres sekarang ini yang menegangkan bagi masing-masing kubu mungkin bertanya-tanya termasuk yang dulu berseberangan dengannya baru menyadari dan membutuhkan figur beliau andaikan beliau masih hidup begitu berarti dan pentingnya beliau, memiliki pengaruh dan relasi? yang? sangat kuat sebagai perekat persatuan.

Sebagai pribadi beliau dikenal mencintai keluarga. Bahkan terhadap ? keluarganya yang relatif agak jauh yang mendapat cobaan fitnah yang cukup besar dan agak lama belum silaturahmi beliau menanyakan kepada saya bagaimana kabarnya sambil bergumam bagaimana pun masih keluarga saya.

Kalau kita lebih dekat padanya akan mendapatkan beliau pribadi yang santai meski sikapnya tegas, mungkin orang lain melihatnya keras. Seperti panutannya, pribadi mulia Sayyidina Umar bin Khatthab RA, dakwahnya efektif.

KH A.Thoyfur,MC Lasem yang di masa karirnya di politik sempat berseberangan dengannya menyampaikan pada kadernya: Justru sikapnya itu sebenarnya beliau ingin mengangkat level saya. Ketika KH.A.Thoyfur wafat ada yang melihat beliau menitikkan air mata, bahkan beliau juga yang menikahkan putranya.

Demikian riwayat singkat beliau. Kutulis selaku santri sebagai tanda cintaku pada ulama. Sebagai penghormatan masa 7-40 hari wafatnya. Lahul Faatihah…!

Lasem, 30 Juni 2014

Abdullah Hamid, Pengelola Pustaka Sambua Lasem

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul, Sejarah, Pemurnian Aqidah Santri An Nur Slawi

Kamis, 22 Februari 2018

Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua

Kudus, Santri An Nur Slawi

Konferensi Pimpinan Cabang IX Fatayat NU Kabupaten Kudus IX memberikan amanah kepada Miftahurrohmah untuk memimpin PC Fatayat NU Kudus lima tahun ke depan. Konfercab yang berlangsung di SMU Islam Almaruf, Senin (24/4), itu bertepatan dengan hari lahir ke-64 Fatayat NU.

Ditemui terpisah setelah terpilih? Miftahurrohmah yang juga Dosen STAIN Kudus tersebut menyatakan, tantangan ke depan adalah bagaimana PC Fatayat NU Kabupaten Kudus mampu menyiapkan, mendidik, menata dan mendistribusikan kader perempuan NU. Menurutnya, usia yang ke-67 tahun adalah usia yang dewasa untuk sebuah organisasi kader perempuan NU.

Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua

"PC Fatayat NU Kudus sebagai salah satu basis terbesar kader NU Jawa Tengah punya peranan yang sangat strategis dalam rangka menyiapkan, mendidik, menata, dan mendistribusikan kader kader perempuan NU di tengah masyarakat," katanya.

Santri An Nur Slawi

Miftahurrohmah menambahkan, ke depan Fatayat NU Kudus harus mampu melakukan konsolidasi sampai tingkat basis dalam rangka proses kaderisasi sehingga tercipta kader-kader perempuan yang militan, profesional, berwawasan luas, dan berakhlakul karimah. Fatayat NU Kudus juga mesti mampu mendistribusikan kader kadernya pada semua level tingkatan dalam rangka mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah yang toleran di tengah berkembangnya paradigma masyarakat yang semakin ekslusif dan diskriminatif.

Santri An Nur Slawi

Menyinggung soal isu nasionalisme, mantan pengurus PW IPPNU Jateng tersebut berkomentar bahwa Fatayat NU Kudus mesti mampu bersinergi dengan organisasi kepemudaan lainnya dalam rangka menjaga stabilitas, persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI.

Forum tertinggi tingkat cabang Fatayat ini dibuka secara resmi oleh Agus Hari Ageng, Sekretaris PCNU Kudus. Turut hadir Hj. Tazkiyyatul Mutmainnah dari Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Tengah, serta utusan sejumlah badan otonom NU dan organisasi kepemudaan di Kabupaten Kudus. Dalam amanahnya, PCNU menitikberatkan pada pentingnya kaderisasi dan pembinaan kader perempuan NU.

Pemilihan ketua Fatayat NU yang berlangsung dua kali putaran tersebut memilih Miftahurrohmah sebagai ketua PC Fatayat NU Kabupaten Kudus masa khidmah 2017-2022. Suara Miftahurrohmah unggul dari calon laonnya mengalahkan,? Siti Nafisatun, dengan selisih 20 suara. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Tegal Santri An Nur Slawi

Rabu, 21 Februari 2018

Percaya pada Pantangan

Masih umum kita temukan di lingkungan masyarakat awam adanya kepercayaan yang tidak sejalan dengan syariah. Terutama kepercayaan memantang (meninggalkan) sesuatu perkara dengan alasan kalau-kalau apa yang dilakukan itu mendatangkan mudharat pada dirinya ataupun keluarganya.

Misalkan saja kepercayaan yang masih mengakar adalah pantangan menyembelih bagi seorang suami yang istrinya dalam keadaan hamil. Takut jikalau si jabang bayi yang ada dalam kandungan ibunya akan menuruti sifat hewan yang disembelih bapaknya. Demikian juga dengan kepercayaan terhadap pantangan yang lain.

Hal ini perlu diluruskan, bahwasanya Allah swt telah menentukan nasib seseorang di zaman azali yang dikenal dalam bahasa ilmu tauhid dengan istilah taqdir. Yang mana taqdir ini tidak dapat dirubah oleh siapapun dan apapun. Dalam sebuah hadits disebutkan:

Percaya pada Pantangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Percaya pada Pantangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Percaya pada Pantangan

فرغ الله من أربع من الخلق والأجل والرزق والخلق

Allah telah usai menetapkan empat perkara, kejadian, ajal, rizqi dan perangai.

Demikianlah jikalau ingin menyembelih hewan ketika istri hamil, sembelihlah secara syariah dengan membaca bismillah. Insyaallah si jabang bayi akan menurui karakter bapak ibunya bukan karakter hewan sembelihan. (ulil H)

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi AlaNu, Olahraga, AlaSantri Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan

Semarang, Santri An Nur Slawi. Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri (Gus Mus) berpesan agar para ulama mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam berdakwah kepada masyarakat. Ulama hendaknya meresapi dan mengawali sendiri setiap petunjuk atau ajaran yang didakwahkan, termasuk ajaran hidup sederhana.

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan

"Jangan sampai para ulama justru pamer kemewahan dan kekayaan, padahal agama mengajarkan untuk hidup sederhana. Ajaran-ajaran agama adalah ajaran yang Universal yang bukan hanya harus dilaksanakan oleh rakyat saja, tetapi juga oleh para ulama," tutur Gus Mus di hadapan ribuan hadirin di halaman Masjid Baitur Rahman Simpang Lima Semarang, Sabtu (30/6).

Menurut Gus Mus, para ulama hendaknya memiliki empati yang sangat tinggi terhadap keadaan masyarakat di sekitarnya. Para ulama harus meneladankan kehidupan yang sederhana, ramah dan santun.

Santri An Nur Slawi

"Jangan sampai ada ulama mengajarkan kesantunan tetapi dia sangat garang. Jangan sampai ada ulama mengajarkan kesabaran tetapi dia sendiri amat rakus pada dunia," tandas Kyai asal Rembang ini.

?

Lebih lanjut Gus Mus juga berpesan, hendaknya selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong. para ulama harus mengayomi dan mendamaikan rakyatnya.

Santri An Nur Slawi

"Jangan sampai ada ulama bermanis-manis menyerukan perdamaian saat di hadapan publik, tetapi padahal sebenarnya ia adalah profokator," paparnya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Cerita Santri An Nur Slawi

Selasa, 20 Februari 2018

Gus Mus Jelaskan Sikap Muslim kepada Kesesatan

Solo, Santri An Nur Slawi. Sesama muslim seharusnya saling membantu, bukan saling menghancurkan. Sesama muslim juga harus saling mengingatkan. Ketika mengingatkan pun ada adabnya, mesti dengan cara yang baik pula. Juga jangan mudah memberi stempel syirik dan sesat kepada sesama.

Gus Mus Jelaskan Sikap Muslim kepada Kesesatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Jelaskan Sikap Muslim kepada Kesesatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Jelaskan Sikap Muslim kepada Kesesatan

Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Leteh Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri pada acara Khotmil Qur’an dan Pengajian Akbar Pondok Pesantren Tahfidz wa Ta’limil Quran dan Jamuro Solo di Masjid Agung, belum lama ini (29/11).

“Orang Islam yang mengetahui terjadi kesesatan seharusnya memberitahu kepada pengikut aliran sesat itu dengan cara yang baik. Tidak boleh langsung memusuhi orang yang dianggap sesat,” tutur kiai yang disapa Gus Mus yang pernah mengemban Rais ‘Aam PBNU.

Santri An Nur Slawi

Lebih lanjut dijelaskan Gus Mus, mengatakan persoalan sesat dan tidak sesat itu, sejatinya urusan Allah SWT yang menentukan.

“Itu ada di Al-Quran. Kita harus tahu mana yang haknya Gusti Allah dan kewajiban kita. Kewajiban kita memberi tahu dia. Tahu enggak tahu, itu Gusti Allah. Menunjukkan jalan kepada orang yang sesat itu kewajiban kita,” kata dia.

Santri An Nur Slawi

Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus juga menyinggung penting bagi para tokoh, utamanya tokoh agama untuk ikut memberikan arahan agar terjadi perdamaian antar umat beragama. “Masing-masing harus menyadari kewajiban tersebut. Isu S ARA itu salah satu yang harus kita lakukan kalau ingin damai. Seruan menghindari isu itu juga tidak hanya saat Pemilukada, tetapi dilakukan setiap saat,” terangnya.

Umat Islam, lanjutnya, harus paham agama Islam dengan belajar mengaji dan mengkaji Al-Quran agar tidak mudah terpengaruh isu SARA atau isu lain yang membahayakan agamanya. Pemahaman Al-Quran ini sangat penting untuk menangkal perilaku menyimpang yang akhirnya bisa merugikan bangsa dan negara.

Ia menilai sekarang ini banyak orang yang mengklaim beragama Islam tapi justru menjadi sumber perpecahan dan tindak pelanggaran seperti korupsi.?

“Mereka itu yang tidak mau memahami Al-Quran. Jangan sampai orang Islam malah jadi lawan Islam, Indonesia jadi lawan Indonesia. Islam nggak paham Islam, Indonesia nggak paham Indonesia,” ujar dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ubudiyah, Tokoh, Quote Santri An Nur Slawi

56 Tahun PMII Harus Dijadikan Momentum Kebangkitan Kader

Bantul, Santri An Nur Slawi

Kader pergerakan adalah mereka yang selalu mempunyai jiwa dan semangat muda dalam berjuang. Nasib bangsa ini salah satunya ada dipundak pemuda pergerakan seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). 

56 Tahun PMII Harus Dijadikan Momentum Kebangkitan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
56 Tahun PMII Harus Dijadikan Momentum Kebangkitan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

56 Tahun PMII Harus Dijadikan Momentum Kebangkitan Kader

Demikian yang disampaikan oleh anggota DPD RI, H Hafidz Asrom saat mengisi stadium general, Ahad (17/4) di Gedung KNPI Bantul, Yogyakarta. Stadium general digelar oleh Pengurus Komisariat PMII STIQ Annur Bantul, Yogyakarta dalam rangka memperingati Harlah ke-56 PMII.

Lebih lanjut, Hafidz Asrom mengatakan bahwa Harlah PMII kali ini harus dijadikan sebagai momentum bangkitnya kaum muda Nahdliyin, khususnya kalangan mahasiswa. "Terlebih para kader PMII," katanya.

Pria kelahiran Jepara ini juga berpesan kepada kader-kader PMII STIQ Annur untuk tetap tidak meninggalkan tradisi spiritual seperti Ziarah, Manaqiban, dan tardisi-tradisi lainnya. Karena hal seperti itu merupakan warisan para pejuang bangsa ini, khususnya tokoh Nahdlatul Ulama.

Santri An Nur Slawi

"Kader PMII terus melanjutkan perjuangan para sesepuh, dan terus menjaga tradisi yang baik, juga mendoakan semoga PMII bisa terus berbuat banyak untuk bangsa dan negara," sambungnya.

Lebih kurang 110 kader PMII STIQ Annur mengikuti kegiatan ini. Usai stadium general, kegiatan ditutup dengan ziarah ke makam pendiri pesantren al-Mahad Annur, KH Nawawi Abdul Aziz dimana sebelumnya dilakukan syukuran potong tumpeng. (Ade Chariri/Fathoni)

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Tokoh, Budaya, Kiai Santri An Nur Slawi

Saya Kira Pesantren Cuma Agama

Bekasi, Santri An Nur Slawi. "Saya kaget, ternyata di pesantren santai sekali, ada orang baca puisi, baca cerpen. Saya kira pesantren cuma agama."

Demikian diungkapkan Yoko Sariputra, murid kelas 11 SMAN 2 Cikarang Utara, tadi sore (10/3) seusai mengikuti pelatihan jurnalistik di Pesntren Riyadul Jannah, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Saya Kira Pesantren Cuma Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Saya Kira Pesantren Cuma Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Saya Kira Pesantren Cuma Agama

Yoko yang datang ke pesantren mengenakann kaos kesebelasan MU itu mengaku baru ke pesantren pertama kali. Dia mengaku juga bahwa ke mushola saja kalau tidak ada temannya tidak begitu bersemangat, apalagi ke peseantren. "Saya tidak merasakan bahwa sekarang ini seharian saya di pesantren."

Santri An Nur Slawi

"Anggapan serem, ketat, ngaji terus, pakaian diatur, hilang seketika setelah seharian tadi di pesantren. Saya juga merasa nyaman. Mungkin karena di luar panas dan berdebu kali ya?" tuturnya.

Senada dengan Yoko, Putri Karlina yang juga dari SMAN 1 Cikarang mengatakan kesannya bahwa pesantren tidak bisa diajak kompromi, sangat ketat misalnya tidak boleh seruangan dengan lain jenis. 

Santri An Nur Slawi

"Dan saya kira tinggal di pesantren banyak kelebihan, bareng teman terus, mandiri, dan bisa mendalami agama," Karlina berpendapat.

"Emmm.. Tapi kayaknya saya belum ingin jadi santri ya," jawab Karlina saat ditanya apakah ingin belajar di pesantren.

Pesantren Riyadul Jannah mengadakan pelatihan jurnalistik seharian tadi tidak hanya untuk santri, tapi juga untuk SMA Al-Amin, SMA Al-Ikhwan, SMAN 2 Cikarang Utara.

Sementara itu, Iwan Rs, guru di pesantren Riyadul Jannah mengatakan bahwa program pelatihan jurnalistik tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan santri di bidang tulis-menulis, tapi juga untuk mengenalkan pesantren pada anak-anak remaja.

"Bekasi ini bagian dari kota besar Jakarta, tapi di sini banyak kena imbas negatifnya, mereka hanya lihat mobil besar-besar keluar masuk pabrik, asapnya mengganggung. Maka kami ingin mengenalkan anak-anak remaja pada dunia yang lebih ekspresif dan kejiwaan. Makanya kami undang murid dari sekolah lain juga," terang Iwan yang alumni Pesantren Krapyak.

Kami juga, lanjutnya, punya kesempatan untuk mengenalkan pesantren kepada orang luar. "Jangan lihat dari jauh saja, tidak sehat," ujarnya.

Saat ditanya tetang persepsi di pesantren hanya belajar agama, Iwan dengan bersemangat mengatakan, "Lho.. Kami undang anak SMA umum agar mereka tahu bahwa kayaknya yang tiap hari ada baca puisi, syiir, hikayat, dongeng-dongen, itu ya hanya di pesantren." 

Siang itu, Iwan yang alumni ISI Yogyakarta dan seorang cerpenis, membacakan cerita pendek, di langgar di mana pelatihan jurnalistik dilaksanakan. Setelahnya, 33 peserta, putra dan putri, menghadiahinya tepuk tangan.

Penulis: Hamzah Sahal 

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Sejarah Santri An Nur Slawi

Senin, 19 Februari 2018

Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah

Mataram, Santri An Nur Slawi - Tim keseblasan Pesantren Al-Mansuriah Bonder asuhan Ketua PWNU NTB TGH Achmad Taqiuddin Mansur ditaklukkan Pesantren Darul Quran Bengkel Labuapi Lombok Barat dengan skor 0-1. Pertandingan yang digelar? di lapangan TNI AU Rembige Kota Mataram,? Jumat (19/8) pagi berlangsung seru.

Pesantren Al-Mansuriah yang dijaga Ipan Dirgantara kebobolan lewat tendangan ringan? Kaspul.? Pemain dengan nomor punggung 9 ini membawa tim? Pesantren Darul Quran? Bengkel unggul hingga peluit panjang dibunyikan.

Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah

Tim ini sudah diprediksi oleh Satkorwil Banser Ansor NU NTB Murakib KH yang juga alumi Al-Mansuriah dari satu hari sebelum pertandingan. Karena Ketua PWNU NTB merupakan alumnus Pesantren Darul Quran Bengkel.

"Tidak akan menang Al-Mansuriah karena ibarat ibu sama anak," kata Abah Roket Sapaan akrabnya Murakib.

Santri An Nur Slawi

Menurut Abah Roket dengan nada canda, kalau pun menang, kita akan malu sama orang tua karena ibarat ibu dan anak menjadi berkah kalau pun kalah. (Hadi/Alhafiz K)

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Humor Islam Santri An Nur Slawi

Minggu, 18 Februari 2018

Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far

Riuh tepuk tangan menggema di gedung olah raga yang baru dua kali menjadi tempat perhelatan tahunan ini. Kiai Musthofa Aqil, seperti –entah sengaja atau tidak- menekan saklar bunyi tersebut, menggetarkan ribuan hati yang hadir, dan bagi para alumni,? menenggelamkan pada ingatan masing-masing.

“Jika saja tidak berkat Buya Ja’far, maka pesantren ini tidak akan seperti sekarang,” begitu, Kiai Musthofa, memberi penghargaan kepada kakaknya, Buya KH Ja’far Aqil Siroj.

Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far

Buya KH Ja’far Aqil Siroj -selanjutnya, Buya Ja’far-, merupakan nama paling sulung dari kelima putra KH Aqil Siroj, tokoh pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Secara berurutan, kelima putra tersebut disusul KH Said Aqil Siroj, KH Musthofa Aqil Siroj, KH Ahsin Syifa Aqil Siroj, serta paling akhir, KH Niamillah Aqil Siroj.

Kembali soal tepuk riuh penghargaan pada malam puncak peringatan Haul Almaghfurlah KH Aqil Siroj Ke-24 yang berlangsung hari Sabtu, 14 Desember 2013 yang lalu di Gedung Olah Raga (GOR) KHAS Kempek Cirebon itu, tentu tidak tanpa sebab. Selama 23 tahun, semenjak didaulat menggantikan ayahnya di tahun 1990, Buya Ja’far dikenal sebagai sosok yang gigih, istiqamah, penuh dedikasi dan semangat pengabdian yang tinggi.

Santri An Nur Slawi

Banyak kenangan bersama Buya Ja’far, konon, komentar antar? alumni saat berkesempatan saling sapa di acara haul. Hampir sama, katanya, hari-hari bersama Buya Ja’far adalah hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi? buta.

Bangun pagi, tak boleh telat, sudah siap setoran nazam? Atau, akankah namanya disebut untuk giliran membaca keterangan kitab Alfiyah Ibnu Malik yang njlimet itu? Seperti itulah rasanya menghabiskan dua tahun bersama Buya Ja’far, dari kelas Alfiyah Ula dan Alfiyah Tsani di pesantren yang terletak di wilayah Cirebon bagian barat ini.

Santri An Nur Slawi

Buya Ja’far tidak akrab dengan waktu senggang, selain sebagai seorang pengasuh pesantren, dua periode dipercaya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon membuat langkah dan nafasnya seolah sama-sama menjadi derap semangat, tak kenal lelah, apalagi putus asa. Pukul 3 pagi, kata seorang putranya, Buya Ja’far sudah bangun untuk sembahyang barang dua rakaat. Subuh pun tiba, memimpin jamaah, mengajari santri kelas sorogan Al-Quran, disambung dengan pengajian Alfiyah Ibnu Malik mulai pukul enam.

Jika matahari sudah sedikit terangkat, usai sarapan, Buya Ja’far langsung berangkat memenuhi undangan masyarakat, atau siapa pun yang membutuhkan kehadirannya. Bukan sekadar urusan-urusan besar, Buya Ja’far tak sungkan menjadi wali nikah bagi siapa pun yang pernah mengaji kepadanya, atau saat? diminta menghadiri acara selametan, tahlil, begitu pun kendurian, di kampung-kampung sekitarnya.

Jelang sore hari, Buya Ja’far kembali ke kediaman, selalu begitu, tepat waktu, terkecuali saat terpaksa berada di luar kota untuk mengikuti agenda-agenda tertentu.

Boleh di bilang, pesantren Kempek Cirebon merupakan pesantren dengan basis pengajaran Al-Quran serta sepasang fan yang dikenal dengan istilah ilmu alat, Nahwu dan Sharaf. Maka di setiap jenjang kelasnya, para santri selalu disajikan pelajaran? dengan bingkai yang serupa. Puncaknya, dua tahun sebelum usai, santri harus bersama Buya Ja’far untuk mengkhatamkan Al-Quran, juga melunasi sebanyak 1002 bait nazam Alfiyah dalam bentuk hafalan.

Boleh dibilang juga, -di mata santri- Buya Ja’far adalah sosok yang galak, terlebih bagi kelas pengajian Alfiyah. Dalam mengaji, pertama-tama, paling tidak Buya Ja’far membacakan 2 sampai 5 nazam perhari, berikut keterangannya, besoknya, 2 sampai 3 nama akan disebut untuk membacakan nazam dan keterangan sesuai dengan apa yang Buya Ja’far berikan sebelumnya.

Yang menarik adalah, Buya Ja’far masih menggunakan kitab yang ia afsahi semasa menempuh pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur puluhan tahun lalu, juga, santrinya, tidak diperkenankan untuk menganggap remeh dalam hal mengafsahi makna kitab, harus lengkap, tak boleh asal rujukan, jika hal-hal itu diabaikan, maka bersiaplah untuk menerima hukuman mencabuti rumput di lapangan asrama putri, berdiri 3 jam lebih, atau jika terlampau salah, tangkai kipas bambu mendarat di punggung telapak tangan, setidaknya, dua kali pukulan.

Tak sebatas itu, di mata Buya Ja’far, ilmu, berikut kemanfaatannya tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan ingatan dan daya nalar. Kebersihan adalah utama, hati, badan dan pakaian. Tak jarang, santri yang diketahuinya tak sempat mandi saat mengaji, akan dipaksa keluar dan pulang ke kamar. Maka wajar, jika hari-hari bersama Buya Ja’far dianggap sebagai hari-hari menegangkan, hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi? buta.

Lalu apa yang menjadikan alumni Kempek terasa begitu tersekap rindu untuk selalu bertemu Buya Ja’far? Entahlah. Selain banyak hal yang tak bisa diungkapkan, paling tidak, ada beberapa poin yang karenanya bisa dianggap sebagai manfaat;

1.? ? ? Buya Ja’far pernah berkata; “Jangan berharap jadi orang sukses jika tidak mau capek dan lelah,”

2.? ? ? Mengaji kepada Buya Ja’far berarti menelusuri jalan panjang tentang pengabdian, kedisiplinan, keistiqamahan, dan kebersihan. Sesuatu yang kerap dibutuhkan santri sebagai modal dan tanggung jawab di tengah masyarakat.

3.? ? ? Kecintaan terhadap shalawat digambarkan dalam perkataan Buya Ja’far; “Dengan rajin bershalawat kepada Nabi, apapun yang dicita-citakan oleh kita, Insyaallah tercapai. Itulah sebabnya mengapa saya menekankan kepada para santri untuk rajin-rajin bershalawat,” [Santri An Nur Slawi, 19/1/2013]

Dan masih banyak lagi yang oleh penulis sendiri layak dianggap sebagai kurikulum Buya Ja’far dalam mendidik dan mencita-citakan santrinya sebagai sosok yang tangguh, tahan banting, pekerja keras, tidak malas, namun tetap santun. []

?

SOBIH ADNAN, pernah nyantri di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hikmah Santri An Nur Slawi

Gus Dur Tabayun

Judul        : Tabayun Gus Dur

Penulis     : Abdurrahman Wahid

Penerbit   : LKiS Yogyakarta

Gus Dur Tabayun (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Tabayun (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Tabayun

Cetakan 1 : 1998

KH ABDURRAHMAN WAHID sudah “pulang” dua tahun lalu. Secara jasadi, ia tak tampak. Namun, pemikirannya masih terus (bias) dibaca banyak orang. Itulah fungsi menulis kata Pramoedya Ananta Toer. “Menulis adalah kerja untuk keabadian,” katanya. Gus Dur sadar betul pentingnya menulis. Sehingga ia tak pernah berhenti mengemukakan gagasan-gagasannya, lewat tulisan.

Membaca buku “Tabayun Gus Dur, Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural” saya dipertemukan dengan sebuah padang luas pikiran-pikiran mantan Pengurus Besar PBNU ini. Ragam tema yang diangkatnya membuktikan bahwa ia memang seorang ulama yang jenius. Dari tema politik hingga sepakbola, dan tak lupa: humor.

Buku ini adalah kumpulan wawancara sejumlah media dengan Gus Dur pada kisaran waktu tahun 80-an sampai 90-an. Karena sifatnya wawancara, maka ada sejumlah hal yang ia jelaskan tidak terlalu mendetail. Pun, hal ini berkaitan dengan konteks yang terjadi pada saat itu, sehingga pembaca yang awam seperti saya harus mendapat bantuan dari membaca berita-berita lain untuk memperoleh gambaran umum akan kondisi Indonesia pada waktu wawancara ini dilangsungkan.

Santri An Nur Slawi

Salah satu yang dibahas dalam buku ini adalah kasus Tabloid Monitor pada 1990.

Santri An Nur Slawi

Pada tema “Monitor”, tampak sekali keberpihakan Gus Dur membela hak-hak (minoritas) warga negara. Ia membela bukan pada pendapat Arswendo Atmowiloto, yang melakukan jajak pendapat dengan hasil Nabi berada di peringkat nomer 11, lebih rendah ketimbang Arswendo yang berada di nomer 10. Gus Dur kritik juga dengan perbuatan Arswendo. “Itu hanya bentuk kekenesan orang yang cepat sukses,” kata beliau.

Tapi, pembelaan Gus Dur adalah hak-hak Arswendo sebagai warga negara Indonesia. Ia menentang desakan pencabutan SIUPP Tabloid Monitor.

Selain Monitor, buku ini juga membahas tentang sepakbola. Pada tahun 1994, Indonesia dihinggapi demam Piala Dunia. Gus Dur pun sangat lihai dalam membahas dinamika persepakbolaan dunia. Dalam wawancara tersebut, ia meramalkan ada lima kesebelasan yang akan menjadi bintang pada Piala Dunia kali ini, yaitu Brazil, Argentina, Jerman, Belanda dan Italia. Mereka akan masuk di perempat final. Pada akhinrya, Brazil menjadi juara dan Italia runner up.

Di luar dua hal di atas, tentu saja orang berkacamata tebal sejak kecil itu juga sangat paham tentang dunia politik. Beberapa lontarannya soal isu suksesi 1998 seringkali mendapat reaksi dari masyarakat dan ulama NU.

Ia katakan, orang Kristen boleh saja menjadi Presiden. Pendapat itu mendapat kritik tajam karena ada nama Benny Moerdani, orang Kristen diisukan ingin menjadi presiden.

Membincang sosok Gus Dur memang tak akan ada habisnya. Menurut Mahfud MD, ia adalah sosok yang nyeleneh dan menghargai masyarakat dari semua kalangan, lebih-lebih rakyat kecil. Pada kiai-kiai, ia selalu mencium tangan ketika bersalaman, dan buru-buru menarik tangannya sendiri ketika dicium.

Meski pikiran-pikiran Gus Dur sarat rasionalitas, namun ia tetap percaya kepada hal-hal yang di luar kuasa akal. Berziarah ke makam-makam para wali adalah kebiasaan yang tidak bisa beliau tinggalkan. Bahkan, ziarah itu tidak hanya dilakukannya di dalam negeri. Di luar negeri pun Gus Dur sering berziarah, antara lain ke makam Ali al-Humaidy dan Imam Al-Ghazali.

Buku itu, meski tidak tebal-tebal amat, tapi sangat berguna untuk mengikuti jalan pikir mantan presiden kita ini, Gus Dur menjelaskan, atau Gus Dur tabayun. (Fahrur Rozi, santri PP. Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pendidikan Santri An Nur Slawi