Rabu, 26 Maret 2014

Sowan Pesantren Tremas, Pangdam Brawijaya Paparkan Tantangan Bangsa

Pacitan, Santri An Nur Slawi 

Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Kustanto Widiatmoko, melakukan silaturahmi ke Pesantren Tremas Pacitan, Rabu (6/9). Pangdam diterima dengan hangat oleh pengasuh pesantren KH Fuad Habib Dimyathi dan Luqman KH Harits Dimyathi.

Pangdam mengaku terkesan dengan pesantren yang telah melahirkan para ulama dan tokoh nasional itu. Di hadapan ribuan santri, Pangdam menyatakan tantangan dan ancaman yang akan dihadapi oleh para santri kedepan sangat berat. Tantangan itu bukan berasal dari luar, tapi justru berasal dari sekitar kita sendiri.

Sowan Pesantren Tremas, Pangdam Brawijaya Paparkan Tantangan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Sowan Pesantren Tremas, Pangdam Brawijaya Paparkan Tantangan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Sowan Pesantren Tremas, Pangdam Brawijaya Paparkan Tantangan Bangsa

“Kalian harus tahu, bahwa tantangan kita sekarang bukan berasal dari luar. Tapi dari sini,” tegas Pangdam sambil menunjukkan telepon genggam miliknya kepada para santri.

Menurut pria kelahiran Banyumas ini, tantangan bangsa Indonesia dan generasi sekarang adalah dari sarana komunikasi, seperti halnya handphone dan internet.

Santri An Nur Slawi

“Dari sini terdapat berjuta manfaat. Tapi jangan salah, dari sini pula terdapat miliaran mudharat (bahaya). Percaya sama saya,” katanya.

Saat ini, lanjut Pangdam, melalui perkembangan internet justru banyak orang mudah dibujuk untuk mekakukan tindak kejahatan yang melanggar undang-undang dan ajaran agama. Banyak orang mudah terhasut oleh berbagai ujaran kebencian. 

“Untuk menghancurkan sebuah negara, kini tidak lagi harus mengirim pasukan. Kasih narkoba, kasih gambar tidak benar atau gambar porno, pemikiran yang merusak. Dan Itu bisa dilakukan kapan saja. Bagi yang suka membuka internet hati-hati juga,“ tuturnya.

Dari internet pula, warga Indonesia banyak dipengaruhi pemikiranya melalui doktrin-doktrin agama. “Dipengaruhi oleh internet untuk menjadi teroris, menjadi bagian dari mereka yang mengaku islam. Tapi sebenarnya bukan islam yang diperjuangkan,” tegasnya.

Pangdam lalu berpesan, agar para santri tetap teguh mengikuti kebijakan dari pesantren, yaitu dengan tidak menggunakan sarana komunikasi saat belajar. Pangdam mendorong para santri untuk semangat dan giat dalam mempelajari ilmu agama.

Santri An Nur Slawi

“Teruslah belajar mendalami, memperluas wawasan dan meningkatkan iman dan taqwa. Apapun cita-cita kalian, mau menjadi tentara, menjadi insinyur, mau menjadi kiai, menjadi Presiden sekalipun Insyaallah semuanya dapat diraih kalau kalian sungguh-sungguh belajar. Setuju ya,” tandas Pangdam mengakhiri sambutanya.

Pengasuh pesantren Tremas KH Fuad Habib Dimyathi mengungkapkan terima kasih atas kunjungan silaturahmi Pangdam V/Brawijaya. Kiai Fuad menyatakan, hubungan ulama dengan TNI sudah terjalin sejak zaman dahulu saat bersama-sama merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Rasa cinta terhadap tanah air, kata Kiai Fuad, sudah dipupuk sejak dini dalam lingkungan pesantren. Ia lalu menyebut, santri lulusan pesantren juga banyak yang menjadi tentara.

Bahkan salah satu pengasuh pesantren Tremas kala itu, KH Habib Dimyathi pada masa remajanya ikut berjuang dalam barisan tentara Hizbullah, dalam pertempuran di Ambarawa Semarang.

“Wujud daripada keimanan kita, Hubbul Wathan kita, rasa cinta kepada tanah air adalah menjaga ikut keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Kiai Fuad.

Tampak menyertai kunjungan silaturrahmi, Komandan Korem 081 Madiun Kolonel Inf R. Sidharta Wisnu, Dandim 0801 Pacitan Letnal Kolonel Infanteri Yudhi Diliyanto, Bupati Pacitan Indartato dan Wakil Bupati Yudhi Sumbogo, serta Kapolres Pacitan AKBP Suhandana Cakrawijaya. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Quote, Berita Santri An Nur Slawi

3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak

Demak, Santri An Nur Slawi. Rumah Sakit Islam (RSI) NU Demak memperingati hari lahirnya yang ke-23 dengan menyelenggarakan jalan sehat. Kegiatan yang menjadi rangkaian sepekan peringatan harlah ini diikuti 3000 peserta dari berbagai kalangan se-Kabupaten Demak.

Acara jalan sehat ini digelar, Ahad (23/3), dan berpusat di lapangan belakang RSI NU Demak. Direktur RSI NU Dema Dr H Abdul Azis di sela sela acara mengatakan, jalan sehat menjadi sarana silaturahmi antara pihak rumah sakit dan masyarakat.

3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)
3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)

3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak

Dia berharap, hadiah (doorprize) yang disediakan panitia juga bisa bermanfaat. Hadiah utama yang diberikan pada kesempatan tersebut adalah sepeda motor. “Kami berterima kasih atas kepercayaan semua pihak yang telah membantu rumah sakit. Semoga silaturahmi lewat jalan sehat bisa menambah kepercayaan demi kebesaran RSI NU,” tuturnya.

Santri An Nur Slawi

Di sisi lain Ketua PCNU Demak yang juga Ketua Yayasan RSI NU Demak, H Musadad Syarif, sesaat sebelum memberikan hadiah utama menyosialisasikan kepada masyarakat tentang kelengkapan peralatan medis RSI NU Demak yang kian canggih.

“Peserta jalan sehat semua kita kasih pamflet, brosur dan masukan tentang peralatan medis yang sudah kita miliki diantaranya, ICU, USG 4 Dimensi, CT Scan dan sebagainya, jadi mereka sekarang tahu” Imbuh Musadad.

Santri An Nur Slawi

Peserta jalan sehat terdiri dari para pengurus dari cabang hingga ranting di lingkungan PCNU Demak, serta Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, MWCNU, siswa sekolah di bawah naungan LP Maarif, santri pesantren sekitar Demak.

Ketua PCNU Demak H Musadad Syarif turut serta dalam acara jalan sehat bersama Sekretaris PCNU Khoirun Zain, Sekretaris Yayasan RSI NU Demak H Sa’dullah, dan masyarakat sekitar. Pemenang hadiah utama pada jalan sehat kali ini adalah seorang guru PAUD asal kelurahan Cabean Demak yang bernama Wilda. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pertandingan, Tegal Santri An Nur Slawi

Rabu, 19 Maret 2014

Pendidikan Pesantren Arahkan Pola Hidup Anak

Demak, Santri An Nur Slawi. Sistem pendidikan pesantren berusaha mencetak anak yang pandai dan cerdas. Selain itu, mengarahkan pola hidup anak dalam rangka menjalani hidupnya di masa mendatang.

“Menentukan pendidikan anak sangat vital termasuk pendidikan yang berlandaskan agama. Cerdas kalau tidak dasari agama maka anak manusia akan mengandalkan logika akal itu rentan dengan aqidahnya,” kata KH Buchori Masruri saat memperingati 1000 hari wafatnya Ibu Nyai Hj Mujahadah Musyafak, pengasuh Pesantren Nurul hikmah Merbotan Bintoro Demak, Selasa malam 10/3.

Pendidikan Pesantren Arahkan Pola Hidup Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Pesantren Arahkan Pola Hidup Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Pesantren Arahkan Pola Hidup Anak

Mantan ketua PWNU Jateng tersebut mengapresiasi perjuangan almarhumah yang peduli pada pendidikan anak lewat dunia pesantren. Menurutnya pesantren memiliki karakter, watak dan tradisi tersendiri yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

Santri An Nur Slawi

Dikatakannya, pesantren memiliki keunikan sendiri dalam aspek-aspek kehidupannya pola kepemimpinan pondok pesantren yang mandiri. Kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan dari berbagai abad dalam bentuk kitab kuning dan sistem nilai yang digunakan adalah bagian dari masyarakat luas dan dianggap mampu mengajarkan pendidikan dan tidak mudah kena dengan budaya negatif

“Jangan menyesal memasukkan anak ke pesantren karena di sini anak akan menerima pendidikan dengan sistim kehidupan berdasarkan agama, mereka disiapkan untuk masa depan maka anak tidak akan ketinggalan jaman,” jelas kiai Buchori. (A.Shiddiq Sugiarto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Makam, Ahlussunnah Santri An Nur Slawi

Selasa, 11 Maret 2014

Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1)

Guru Madrasah Ibtidaiyah Thoriqotul Islamiyah Desa Luwang, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati ini tergolong pemberani. Pasalnya, ketika terjadi ketidakadilan menimpa salah satu anak didiknya, ia tanpa ragu mendobrak birokrasi. Dengan  percaya diri, guru muda ini menghadapi pejabat yang melakukan diskriminasi.

Siapa gerangan guru muda pemberani itu? Dialah Ratih Agnityas Wulandari, guru yang selama 12 tahun telah jatuh bangun dalam mendidik anak bangsa. Perempuan kelahiran Pati, 5 Agustus 1983 ini mengajar di MI tersebut sejak 2004 hingga kini. Bagaimana kisah ibu guru yang menginspirasi ini melawan tindak diskriminasi?

Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1)

Ratih, sapaan akrabnya, memulai kisahnya melawan ketidakadilan sejak tahun 2013. Ketika itu, ia memiliki anak didik yang hobi berolahraga. Saking rajinnya berlatih, siswi ini sejak usia dini berprestasi di cabang bulutangkis tunggal putri. Beberapa kali ia menggondol piala juara pertama. Dialah, Faza Mantasya.

“Saat itu, siswi kami yang hobi main badminton ini ingin ikut serta di ajang POPDA dan O2SN. Lalu, saya cari tau untuk bisa daftar lomba tersebut. Ketika kami mau mendaftar, kami ditolak panitia,” ujar Ratih saat dihubungi Santri An Nur Slawi pekan ini.

Alasannya, lanjut Ratih, siswa MI tidak bisa ikut lomba lantaran tidak tertera dalam petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Pemuda dan Olahraga. “Kami pun diam,” ujarnya pilu.

Setahun kemudian, tepatnya pada 2014, Ratih mendaftarkan kembali anak didiknya tersebut. Rupanya, aral masih saja melintangi langkahnya. Pegawai Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan (UPT Disdik) Kecamatan Tayu mengatakan, jika ingin ikut POPDA harus membayar iuran terlebih dahulu.

Santri An Nur Slawi

“Kami pun bayar kepada Ketua K3S Kecamatan Tayu sebesar 550.000 rupiah. Lagi-lagi kami kaget. Sebab, begitu sampai di ruang seleksi, kami tidak diperbolehkan ikut lomba. Mereka bilang, MI belum iuran. Lalu kami tunjukkan kuitansi. Mereka berkilah lagi, ini khusus SD katanya,” ungkap Ratih.

Ia bersama timnya pun pulang dengan tangan hampa. Tahun ketiga, tepatnya pada Mei 2015, Ratih kembali mendaftar pada seleksi O2SN. Meski ditolak panitia, tetapi Kepala UPT Disdik Kecamatan Tayu, Diyono, memberi kesempatan kepadanya untuk mendaftar.

Lalu, pada Oktober 2015, panitia POPDA Kecamatan Tayu mengadakan seleksi POPDA tingkat kecamatan. “Kami pun mendaftar kembali dengan membawa uang iuran. Tapi ditolak. Kali ini dengan alasan harus bayar 12.000 rupiah kali jumlah siswa kali seluruh MI se-kecamatan,” paparnya.

Santri An Nur Slawi

Jika MI-nya saja yang membayar, kata Ratih, maka tidak boleh. Harus se-kecamatan. “Tentu, itu membebani kami dan sulit dipenuhi. Akhirnya gagal lagi. Tapi saya nggak putus asa. Saya lobby terus. Saya memohon kepada ketua panitia lomba, tapi saya tetap ditolak,” ujarnya tegar. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi News Santri An Nur Slawi