Selasa, 31 Juli 2012

Santri Gus Dur Menjawab Tantangan Global

Oleh Moh. Abdul Aziz Nawawi?

Pengembangan sumber daya manusia dalam Kajian Bulanan Gusdurian Jogjakarta (KBGJ) merupakan bagian dari salah satu kegiatan Jaringan Gusdurian Jogjakarta. KBGJ memiliki harapan terhadap peran lembaga pendidikan tinggi di Indonesia belakangan ini makin membesar ketika masyarakat makin tidak memiliki harapan terhadap berbagai lembaga pemerintah yang mampu menjadi lokomatif perubahan.?

Alih-alih mampu menjadi lokomatif kemajuan, berbagai lembaga pemerintah yang memiliki mandat menjalankan agenda reformasi justru sibuk membersihkan dirinya dari hiruk-pikuk praktik korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN). Peran yang harus dimaninkan oleh Kajian Bulanan Gusdurian Jogjakarta (KBGJ) tentu sangat terkait dengan tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan.?

Santri Gus Dur Menjawab Tantangan Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Gus Dur Menjawab Tantangan Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Gus Dur Menjawab Tantangan Global

Eksistensi Indonesia dipertaruhkan ditengah-tengah sengitnya kompetisi merebut supremasi global. Urgensi untuk menjadi bangsa yang unggul tersebut makin terasa dengan diberlakukannya pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sejak tanggal 1 Januari 2016.

Tantangan Indonesia

Bagaimana tantangan besar bangsa Indonesia saat ini? Merefleksikan perkembangan kompleksitas persoalan Indonesia, beberapa masalah yang perlu diselesaikan, yakni membangun kembali kepercayaan (trust), menjaga pluralitas, dan membumikan berbagai teori global yang lebih relevan dengan tradisi lokal Nusantara. Indonesia mestinya dapat membanggakan diri. Sejak Indonesia mengadopsi sistem demokrasi, Indonesia telah dinobatkan sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.?

Santri An Nur Slawi

Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa kualitas kita berdemokrasi masih pada tataran demokrasi prosedural. Sudah beberapa kali bangsa kita menyelenggarakan pemilihan umum. Namun, kualitas Pemilu masih terlihat belum membaik. Pemilu gagal menghasilkan wakil rakyat yang aspiratif. Pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung juga gagal melahirkan pemimpin yang mumpuni. Data kementerian dalam negeri menyebut, sampai hari ini, ada sekitar 311 kepala daerah terlibat korupsi.

Akar persoalannya adalah karena buruknya kinerja partai politik. Partai politik yang mestinya menjadi simbol demokrasi saat ini malah identik dengan korupsi. Suramnya praktik demokratisasi di Indonesia itu terkulminasi pada tumbuhnya rasa ketidakpercayaan (distrust) masyarakat terhadap semua lembaga publik. Tantangan lain, menjaga pluralisme dan melindungi kelompok minoritas.?

Demokrasi yang cenderung liberal telah menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, demokrasi memberi ruang kebebasan kepada seluruh masyarakat. Namun, di sisi lain kebebasan tersebut sering disalahgunakan. Berbagai kasus penyerangan terhadap kelompok minoritas, menunjukkan bahwa demokrasi yang berbasis konstitusi sebagaimana dikatakan oleh Thomas Jefferson bahwa minoritas harus tetap dilindungi.?

Santri An Nur Slawi

Persoalan lainnya, merespon kebijakan liberalisasi. Adopsi prinsip-prinsip liberal tersebut telah membuat berbagai ukuran keberhasilan kehidupan masyarakat saat ini lebih banyak di dasarkan pada pencapaian hal-hal yang bersifat material/kebendaan sehingga mendorong banyak orang menggunakan jalan pintas: korupsi. Kecenderungan liberalisme yang berlebihan telah membuat banyak anak muda Indonesia mudah terpengaruh produk teknologi dan budaya luar.





Peran KBGJ

Kajian Bulanan Gusdurian Jogjakarta (KBGJ), termasuk aktivis santri Gus Dur, memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab tantangan tersebut. Oleh karena itu, kurikulum ? dalam KBGJ ? dirancang agar tidak hanya menghasilkan manusia cerdas, tetapi juag berbudaya dan memiliki wawasan global.?

Para aktivis KBGJ di berbagai titik di Indonesia diharapkan menjadi pribadi yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, dan memiliki kepercayaan diri untuk bersaing di level global terutama Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).?

Dan untuk mencapai tujuan tersebut, KBGJ harus ? dilakukan dengan cara: pertama, mengintegrasi dan menginterkoneksikan kurikulum yang bersifat intra dan ekstra kurikuler. Dengan cara ini mahasiswa diberi kesempatan menyeimbangkan waktu nya untuk belajar di tempat dimana KBGJ berada dan mengembangkan diri untuk mengikuti kegiatan yang bersipat soft-skill.?

Kedua, membekali mahasiswa baru dengan nilai-nilai kebangsaan dan ke-pluralisme-an agar para aktivis baru memiliki pemahaman terhadap jati diri bangsanya dan karakter plural bangsa Indonesia. Ketiga, mendorong mahasiswa untuk memiliki wawasan luas dengan melihat dunia luar (outward looking). Dengan cara ini mahasiswa akan memiliki rasa percaya diri sebagai bangsa besar dan mampu memposisikan dirinya sama tinggi ditengah-tengah ? negara lain.***

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Asisten Dosen Pemikiran Pendidikan Islam (PPI) di UIN Sunan Kalijaga.

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kiai, Sejarah, Tegal Santri An Nur Slawi

Kamis, 26 Juli 2012

Da’i juga Bisa Ndalang

Yogyakarta, Santri An Nur Slawi 

Ada yang berbeda di lingkungan Krapyak belum lama ini. Semarak kegiatan para da’i tidak luput dari pentas seni dan budaya. Bukan saja hadrah dan rebaan yang ditampilkan, tetapi juga tari saman Aceh, tari Bali, pantomime, dan pagelaran wayang. Masyarakat asyik menikmati, bahkan sampai larut malam.

Da’i  juga Bisa Ndalang (Sumber Gambar : Nu Online)
Da’i juga Bisa Ndalang (Sumber Gambar : Nu Online)

Da’i juga Bisa Ndalang

Buat masyarakat Yogya, pagelaran wayang menjadi pertunjukan yang menarik. Kebanyakan orang tua yang menyaksikan, karena digelarnya juga sampai larut. Saat itu, 10 Maret 2013, seorang da’i Kodama Krapyak bernama Miftah, masih muda, 24 tahun, mementaskan wayang kepada warga Krapyak dan Panggungharjo Sewon Bantul.

Setelah berbagai macam pertunjukan, tepat jam 11 malam, sang dalang memulai aksinya. Mengambil lakon Sunan Pandanaran, sang dalang yang masih muda ini tidak kaku, banyak dipenuhi humor khas santri, sehingga banyak penonton yang krasan (nyaman), walaupun angin malam mulai terasa dingin.

Santri An Nur Slawi

Selepas jam 12 malam, bukannya makin berkurang para penonton, tetapi makin bertambah banyak. Orang-orang tua berdatangan dari banyak penjuru, bukan saja dari lingkungan pesantren, tetapi juga masyarakat Bantul pada umumnya.      

Santri An Nur Slawi

Pertunjukan wayang selesai jam 2 fajar. Masyarakat terasa sumringah, karena dalangnya bukan sekedar ndalang, tetapi juga berdakwah. Sesekali sang dalang menyebut nama KH Munawwir, KH Ali Maksum, dan banyak kiai Krapyak lainnya. Masyarakat terasa mendapatkan pengajian, tetapi dalam kemasan budaya.

Miftah, sang dalang, melihat bahwa Krapyak memang gudangnya santri. Sementara selatan Krapyak adalah gudangnya pegiat seni, apalagi juga terdapat Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sinergi seni budaya dan agama menjadi senjata sangat tepat untuk berdakwah kepada masyarakat.

“Dai harus sinergi dengan seniman. Ini yang dilakukan Walisongo. Kita harus melanjutkan,” tegas Miftah.

Miftah sendiri selain anggota da’i Kodama Krapyak, juga seorang mahasiswa jurusan dalang di ISI Yogyakarta. Penampilannya di Krapyak juga didukung teman-temannya ISI Yogya.

Apa yang dilakukan Miftah ini mendapatkan sambutan dukungan penuh dari KH Asyhari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY sekaligus Ketua Dewan Pembina Dai Kodama Krapyak. Bagi Kiai Asyhari, dakwah dengan seni yang dilakukan dai’ Kodama Krapyak menjadi jembatan sangat baik bagi perkembangan dakwah masa depan.

“Sudah saatnya para da’i muda mampu mengkreasikan diri dalam menjawab problem masyarakat dengan berbagai cara, termasuk dengan seni budaya.” Tegas KH Asyhari. 

 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim Bangkit

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Amalan, Meme Islam Santri An Nur Slawi