Senin, 21 Desember 2015

Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta

Bogor, Santri An Nur Slawi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STAINU Jakarta Kampus Kemang, Bogor melaksanakan kegiatan tadabur alam sekaligus evaluasi Maulid Nabi dan Harlah NU Ke-91 bertempat di Villa Cengkoang, Gunungsalak Endah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (18/2).?

Tadabur alam ini diikuti oleh puluhan anggota dan kader PMII Komisariat STAINU Jakarta. Kegiatan dibuka dengan membaca Manakib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta

Ketua PMII Komisariat STAINU Jakarta Kampus Kemang Imam Shodiqul Wadi mengatakan, banyaknya dinamika organisasi, baik konflik horizontal antar sesama kader maupun konflik-konflik lainya harus dimininalisir sedini mungkin.

"Dengan kegiatan tadabur alam ini kita jadikan ajang untuk mempererat rasa kekeluargaan antar sesama kader PMII seperti yang tertera dalam kalimat Mars PMII yang sangat mengajarkan kita sebuah rasa kebersamaan yaitu Satu Angkatan dan Satu Jiwa," ujar Imam.

Sementara, Ketua Pelaksana, Reyhan el-Jinan mengatakan, kegiatan tadabbur alam tersebut sekaligus rapat evaluasi peringatan Mailid Nabi dan Harlah ke-91 NU yang beberapa hari yang lalu dilakukan oleh pengurus komisariat.

Santri An Nur Slawi

"Pada era saat ini terkadang mahasiswa lebih memilih hal-hal yang praktis dan tak mau berbelit-belit padahal evaluasi pasca acara sangatlah penting karena kita bisa mempelajari kesalahan dan menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya," kata Reyhan.

Oleh karenanya, kata Reyhan, mahasiswa khusunya kader PMII dituntut untuk menjadi pionir di masyarakat sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian saat pulang ke rumah masing-masing.?

Santri An Nur Slawi

"Dengan demikian, dengan rapat evaluasi ini menunjukkan jika suatu kegiatan itu menunjukkan kualitasnya tersendiri," pungkasnya.

Kegiatan yang dilakukan satu hari satu malam itu dimeriahkan dengan api unggun dan penampilan kreasi seni para kader-kader seperti stand up comedy, puisi dan kegiatan lainnya. (Ade Mahmudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Santri Santri An Nur Slawi

Rabu, 16 Desember 2015

Rekrut Kader, PMII Aceh Temui Rektor Universitas Syiah Kuala

Banda Aceh, Santri An Nur Slawi - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banda Aceh melakukan audiensi dengan Rektor Universitas Syiah Kuala Samsul Rizal. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Kerja Rektor, Selasa (3/10).

Rektor Unsyiah Kuala menyambut baik apa yang telah direncanakan oleh PMII Banda Aceh.

Rekrut Kader, PMII Aceh Temui Rektor Universitas Syiah Kuala (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekrut Kader, PMII Aceh Temui Rektor Universitas Syiah Kuala (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekrut Kader, PMII Aceh Temui Rektor Universitas Syiah Kuala

Ketua PMII Kota Banda Aceh Akmaluddin mengatakan, dalam rangka pembukaan Pengurus Komisariat (PK PMII) Unsyiah, PMII Banda Aceh bersilaturrahmi dengan Rektor Universitas Syiah Kuala Samsul Rizal.

Santri An Nur Slawi

Salah satu budaya yang diajarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU), kata Akmal, adalah bersilaturrahmi (sowan) sebelum bertindak dalam menggerakkan suatu pergerakan yang akan tumbuh wadahnya.

"Sebelum terbentuknya PK PMII Unsyiah, maka PMII Banda Aceh dalam waktu dekat ini akan mengadakan rekrutmen kader-kader yang khususnya para mahasiswa dan mahasiswi Unsyiah untuk menjalankan roda kepengurusan ke depan," kata Akmal.

Sementara Samsul Rizal menyatakan senang melihat anak-anak muda yang menjaga komunikasi dengan orang-orang tua sebelum membuat sesuatu.

Santri An Nur Slawi

“Dengan ini saya mengharapkan agar PMII di Kampus Unsyiah segara terbentuk serta dapat mengayomi dan mengarahkan mahasiswa dan mahasiswi dengan pemahaman nilai-nilai sejarah keislaman di Aceh ini semakin kuat," kata Rektor Unsyiah.

Ia berharap besar PMII di Unsyiah segera berkibar kembali karena PMII pernah bergema di kampus jantung hati rakyat Aceh. (Fauzan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Islam Santri An Nur Slawi

Senin, 07 Desember 2015

Terbaik, LBH Ansor DIY Terakreditasi A

Yogyakarta, Santri An Nur Slawi. Lembaga Bantuan Hukum Ansor berhasil lolos verifikasi dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan HAM RI dengan nilai akreditsi A.?

Berdasarkan rilis yang dilakukan BPHN dalam webnya www.bphn.go.id, untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, LBH Ansor merupakan satu-satunya LBH yang lolos verifikasi dengan akreditasi A, disusul LKBH UII dengan nilai B dan selainnya dinilai C.?

Terbaik, LBH Ansor DIY Terakreditasi A (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbaik, LBH Ansor DIY Terakreditasi A (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbaik, LBH Ansor DIY Terakreditasi A

Pengumuman yang langsung ditandatangani oleh Menteri Hukum dan HAM RI Amir Syamsudin juga memberikan catatan yakni bagi Lembaga Bantuan Hukum atau Organisasi Kemasyarakatan yang dinyatakan lulus, diharapkan segera mengajukan proposal bantuan hukum kepada Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI paling lambat tanggal 7 Juni 2013.?

Santri An Nur Slawi

Format Proposal dapat diunduh di www.bphn.go.id. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 021-8091908. Serta bagi Lembaga Bantuan Hukum atau Organisasi Kemasyarakatan yang dinyatakan lulus dan belum berbentuk Badan Hukum, diharapkan segera untuk mengajukan pengesahan Badan Hukum kepada Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kementerian Hukum dan HAM RI dengan melampirkan salinan akta yang dilegalisir paling lambat 2 (dua) minggu terhitung sejak tanggal 1 Juni 2013.

Santri An Nur Slawi

Menurut Direktur LBH Ansor DIY Agus Suprianto, ? lolosnya verifikasi dengan nilai A ini merupakan jerih payah sahabat-sahabat pengurus LBH Ansor DIY yang dengan perjuangan panjang dapat memberikan layanan hukum terbaik bagi masyarakat tanpa membedakan agama suku dan status sosial. Di LBH Ansor DIY tercatat ada lebih dari 10 advokat, 32 paralegal dan sejak tahun 2010 hingga 2012 telah memberikan bantuan hukum kepada masyarakat sebanyak 1827 perkara, baik berupa konsultasi hukum, pendampingan non litigasi maupun litigasi di pengadilan.

Redaktur: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Doa Santri An Nur Slawi

Jumat, 27 November 2015

Setya Novanto Sosok Mengesankan?

Jakarta, Santri An Nur Slawi

Budayawan Ahmad Tohari menilai Setya Novanto adalah sosok yang mengesankan.

“Mengesankan (bisa) karena kebaikannya atau karakternya yang menurut saya luar biasa,” kata dia kepada Santri An Nur Slawi di Jakarta, Rabu (20/12).

Setya Novanto Sosok Mengesankan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Setya Novanto Sosok Mengesankan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Setya Novanto Sosok Mengesankan?

Menurut Tohari, ditelisik dari namanya Setya Novanto dari unsur budaya Jawa adalah pribadi yang sangat ambisius untuk berkuasa. 

“Dan dengan kekuasaannya, Novanto terbukti serakah sekali,” kata budayawan asal Banyumas itu.

Karakter kenegarawanan juga tidak kelihatan dari sosok Novanto. Hal tersebut lantaran Novanto terbukti sejak kasus terdahulu seperti Papa Minta Saham, sampai e-KTP kelihatan ambisi keserakahan yang luar biasa.

Santri An Nur Slawi

“Dia melakukan itu pada saat berada pada puncak kekuasaan di Indonesia sebagai Ketua DPR. Ketua DPR kan bisa dikatakan sejajar dengan Presiden posisinya. Nah, dia jauh dari karakakter kenegarawanan,” urai Tohari.

Sayangnya, kata Tohari, Novanto bisa seperti itu bukan saja karena kesalahan sendiri. Tohari meyakini ada yang salah pada sistem yang berjalan di Indonesia.

“Sistem kita yang salah (kalau sampai Novanto) bisa mencapai puncak kekuasaan tertinggi,” tegas Tohari.

Santri An Nur Slawi

Ia mengindikasi pada proses pemilihan di Indonesa yang sangat jual beli.

“Jadi anggota DPR, bupati, gubernur, orang mengeluarkan banyak uang. Pemilihan dalam arti sebenarnya tidak terjadi, karena terjadi jual beli antara uang dan jabatan,” Tohari menambahkan.

Hal itu menjadi taruhan kita sebagai bangsa Indonesia karena pemilihan umum menjadi ajang transaksional. Risikonya, masyarakat akan mengalami hal itu terus menerus begitu orang yang tidak mempunyai kapasitas tetapi menjadi lurah, bupati, gubernur, anggota DPR.

Solusi atas permasalahan tersebut, Tohari menyebut masyarakat harus kembali kepada fungsi dan makna atas pemilihan umum yang sejati, yakni bisa menetapkan pemilihan umum sebagai mandat dari orang yang dipercaya sehingga kita pilih.





“Lalu orang yang terpilih mengembalikan kepada pemilih berupa tanggung jawab. Jika dia seorang eksekutif benar-benar bekerja untuk kemajuan, bukan untuk dirinya sendiri. Lalau jika dia legislatif dia akan benar-benar menghasilkan undang-undang yang benar-benar untuk kepentingan rakyat," urainya lagi.





JIka pemilihan umum yang terjadi tidak bergeser dari sistem yang salah itu, Tohari mengatakan masyarakat dan bangsa ini juga tidak akan berubah.

"Pemilihan yang sebenernya orang memilih karena memercayai, tapi yang terjadi adalah karena hal lain misalnya materi atau uang. Ini akan repot sekali," imbuh dia.

Materi atau uang sebagai imbal balik kepada pemilih sangat menghilangkan makna pemilihan.

"Setelah pemilihan, orang yang dipilih tidak merasa harus mewakili karena yang memilih sudah dibeli," sesal Tohari. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Lomba, Santri, Amalan Santri An Nur Slawi

Sabtu, 21 November 2015

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Tangerang, Santri An Nur Slawi

Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati oleh banyak elemen di berbagai daerah, tak terkecuali Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten.

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Sabtu (14/1), STISNU Nusantara menggelar acara tahunan ini di kampus setempat, Tangerang, dengan menghadirkan istri almarhum Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah Rahman Wahid.

H. Muhamad Qustulani, ketua panitia yang juga wakil ketua bidang akademik di STISNU Nusantara Tangerang, menjeleaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif Gusdurian Kota Tangerang bersama para mahasiswa STISNU Nusantara yang kangen terhadap Gus Dur.

Santri An Nur Slawi

"Iyah, jadi tema haulan Gus Dur di Tangerang (adalah) “Kangen Gus Dur”, kangen sosoknya yang mukhlis beragama, ajarannya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, pemikiran dan keilmuan yang tabahhur, luas dan penuh kemanfaatan, celotehannya penuh canda dan makna, sehingga kita semua kangen Gus Dur," ujarnya.

Santri An Nur Slawi

"Sebab itu, di tengah kondisi negeri yang sedang sakit, penuh fitnah, dan saling menghujat, apalagi di dunia maya (media sosial), maka pemikiran Gus Dur untuk Indonesia pantas kita gunakan dan aplikasikan, dengan mengedepankan persatuan dan penuh kasih sayang,” tambahnya.

Bu Sinta, sapaan akrab Nyai Sinta Nuriyah, mengaku tiap kali menghadiri haul Gus Dur ia merasa sedih dan haru. Sedih karena kangen dengan sosoknya, haru karena banyak orang masih cinta Gus Dur, termasuk orang-orang yang dahulu menghina dan mencaci Gus Dur.

Ia juga mengaku perihatin atas kondisi bangsa saat ini yang mudah disulut isu serta informasi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Rakyat saeakan sulit melakukan tabayun dan mencari informasi berimbang.

“Maka yang bisa dilakukan yaitu dengan cara kembali mengulang memori tentang ajaran-ajaran Gus Dur yang penuh kasih dan sayang, menunjukan Islam ramah bukan yang marah. NKRI harga mati," tegasnya.

KH Edi Junaedi Nawawi, Mustasyar PCNU Kota Tangerang dalam tausiyahnya menjelaskan tentang makna dari tahlilan, "la ilaha illallah", bahwa tidak ada Tuhan yang akan mengampuni kesalahan almagfurllah KH Abdurrahman Wahid bin KH Abdul Wahid Hasyim kecuali Allah. Sebab itu, insya Allah almarhum almagfurlah dalam kebahagiaan dan kesenangan di sisi Allah, dan ajaran-ajaranya pun dapat dirasakan untuk kita (rakyat), agama, bangsa, dan negara.

Acara ditutup? ? dengan doa oleh KH Edi Junaedi Nawawi. Hadir pada acara tersebut KH A. Syubakir Toyib (Pembina Gusdurian setempat), KH Aliyuddin Zen Pandawa (Murabbi Ruh STISNU Nusantara), KH Arif Hidayat (Katib Syuriah PCNU Kota Tangerang), KH A. Bunyamin (Ketua PCNU Kota Tangerang), KH Dedi Miftahudin (Ketua ISNU Kota Tangerang), Rudi (perwakilan Boen Tek Bio), Nur Asyik (Ketua Gusdurian Kota Tangerang), Khoirul Huda (Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang), dan para ulama lainnya bersama warga Nahdliyin serta mahasiswa STISNU Nusantara. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hadits Santri An Nur Slawi

Senin, 09 November 2015

33.347 Madrasah Sudah Terakreditasi

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Indonesia memiliki ribuan lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan madrasah. Data Direktorat Pendidikan Madrasah menunjukan bahwa ada 76.551 madrasah tersebar di seluruh pelosok negeri, baik Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).

33.347 Madrasah Sudah Terakreditasi (Sumber Gambar : Nu Online)
33.347 Madrasah Sudah Terakreditasi (Sumber Gambar : Nu Online)

33.347 Madrasah Sudah Terakreditasi

Untuk jenjang pendidikan anak usia dini, Kementerian Agama membina 26.098 RA. Sedangkan untuk jenjang pendidikan dasar dan menangah, ada 50.453 MI, MTs, dan MA.

Akreditasi RA belum menjadi target prioritas karena lembaga akreditasinya baru terbentuk 2015 (Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini/Non Formal atau BAN PAUD/NF). Sedangkan madrasah, sebanyak 33.347 madrasah sudah terakreditasi. Artinya, masih ada 17.106 madrasah yang belum terakreditasi.

Santri An Nur Slawi

Data ini terungkap pada pemaparan tim Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) di hadapan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin beserja jajarannya, Rabu (14/12).

Sebanyak 16.237 MI sudah terkareditas, sedang 8.693 MI lainnya belum. Untuk jenjang MTs, 11.573 madrasah sudah terakreditasi, sedang 6.009 madrasah belum. Adapun MA, 5.537 madrasah sudah terakreditasi, dan 2.404 madrasah belum.

Santri An Nur Slawi

Ketua BAN S/M Abdul Muti dalam paparannya berharap alokasi anggaran untuk mendukung pengembangan madrasah di Kementerian Agama RI dapat dinaikan, termasuk salah satunya untuk alokasi akreditasi madrasah.

Terkait hal ini, Dirjen Pendidikan Islam Kamarudin Amin mengakui bahwa tantangan madrasah memang sangat besar, baik dari pemenuhan standard sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, isi, dan standard lainnya. Tantangan tersebut semakin terasa seiring dengan terbatasnya anggaran yang tersedia.

"Pendidikan Madrasah adalah salah satu hal yang tidak didesentralisasi, sehingga tanggung jawabnya masih di bawah Kemenag. Mengingat anggarannya masih rendah, dibutuhkan peran Pemda untuk bersama-sama pemerintah pusat membantu madrasah," kata Kamaruddin Amin sebagaimana diberitakan laman Kemenag RI, kemenag.go.id Rabu (14/12).

Di hadapan BAN SM, Kamarudin Amin bertekad mempercepat akreditasi madrasah sehingga semua madrasah dapat terakreditasi dengan baik. Untuk itu, Kamaruddin memandang perlu penganggaran khusus berkaitan dengan percepatan akreditasi madrasah ke depan.

Salah satu anggota BAN SM, Toni Taharuddin, mensinyalir belum optimalnya akreditasi madrasah karena masih kurang optimalnya pemenuhan standard sarana dan prasarana. Selain itu, masih ditemukan adanya sarana pendidikan yang belum sesuai peruntukannya, misalnya, laboratorium IPA digunakan untuk ruang kelas. Ada juga madrasah tidak memiliki perpustakaan, dan lain sebagainya.

Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan berharap proses akreditasi madrasah yang belum terakreditasi bisa selesai pada tahun 2019. Menurutnya, setiap tahun Direktorat Pendikan Madrasah terus memberikan bantuan penyelenggaraan bimbingan teknis akreditasi madrasah.

"Seperti tahun 2016, anggaran langsung diletakkan di Kanwil, bukan di pusat," kata M. Nur Kholis.

"Proses bimbingan teknis akreditasi madrasah juga melibatkan tim Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah," tambahnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Budaya Santri An Nur Slawi

Kamis, 05 November 2015

"Semoga Ini Bukan karena Allah Murka kepada Kita"

Bantul, Santri An Nur Slawi. Pejabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH A Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus mengungkapkan keprihatinannya atas wafatnya kiai-kiai di lingkungan Nahdlatul Ulama akhir-akhir ini.

Semoga Ini Bukan karena Allah Murka kepada Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Semoga Ini Bukan karena Allah Murka kepada Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

"Semoga Ini Bukan karena Allah Murka kepada Kita"

“Saya itu, prihatinnya tumpuk-tumpuk. Prihatin terhadap Nahdlatul Ulama, kiai-kiai, pesantren, Gus Bik, diri saya sendiri dan prihatin terhadap Indonesia,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam acara Haul KH Ali Maksum yang ke-25, Senin (10/3) malam.

Gus Mus mengaku keprihatinannya terhadap bencana alam seperti letusan gunung dan banjir yang melanda sejumlah daerah di Indonesia tak lebih besar dari wafatnya ulama. “Yang membuat saya lebih prihatin adalah banyak kiai-kiai yang benar-benar kiai bukan kiai-kiaian dipanggil oleh Allah SWT,” ujar Gus Mus dengan mata berkaca-kaca.

Santri An Nur Slawi

“Berturut-turut, Rais Aam Nahdlatul Ulama, KH. Sahal Mahfudh; Rais yang paling rajin sendiri di PBNU, KH Masduqi Mahfudh; Pengasuh Pesantren Annuqayah, KH. Waris Ilyas. Krapyak sendiri juga berturut-turut, kiai-kiainya dipanggil oleh Allah SWT, KH. Dalhar Munawwir, KH Ali Maksum, KH Warsun Munawwir dan KH Zainal Abidin Munawwir. Semoga hal ini bukan karena Allah SWT murka kepada kita,” tambah Gus Mus yang diamini oleh jamaah yang hadir.

Santri An Nur Slawi

Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus juga mengungkapkan bahwa akibat dari wafatnya para kiai-kiai tersebut sangat luar biasa. “Mereka dipanggil oleh Allah SWT beserta ilmunya, akhlaknya dan teladan-teladannya. Mari kita semua berdoa agar kiai-kiai sepuh yang masih ada seperti Mbah Maimoen (KH Maimoen Zubair, red) ini panjang yuswonipun (usianya),” tutur Gus Mus yang sekali lagi diamini oleh jamaah yang hadir.?

Selain itu, Gus Mus juga menyindir banyaknya ustadz di televisi yang tidak memberikan keteladanan yang baik kepada umat. Bahkan, ustadz-Ustadz tersebut banyak menjadi bahan tertawaan masyarakat. Menurutnya, hal ini merupakan akibat dari dipanggilnya para kiai beserta ilmu dan akhlaknya.

Acara Haul KH. Ali Maksum yang ke-25 tersebut dihadiri tokoh-tokoh NU, di antaranya adalah Pengasuh Pesantren Sarang Rembang yang juga Mustasyar PBNU KH. Maimoen Zubair, Wakil Ketua Umum PBNU KH. As’ad Said Ali , Ketua PBNU Prof Maksum Mahfudh, dan Rais Suriah PWNU DIY KH Asyari Abta. (Nur Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ulama, Tegal Santri An Nur Slawi

Selasa, 27 Oktober 2015

Kitab "Al-Muqtathofat" Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi

Tradisi tahlilan, ziarah kubur, istighotsah, dibaan atau maulidan dan sejenisnya sudah mendarah daging di tengah masyarakat. Namun ketika ditanya mengenai dalil, sebagian masyarakat awam tidak tahu, dan itu dijadikan senjata kaum Salafi Wahabi untuk mengkafir-kafirkan banyak orang.

Adalah Kitab “al-Muqtathofat li Ahlil Bidayat” yang ditulis oleh KH Marzuki Mustamar, Ketua PCNU Kota Malang memberikan pedoman bagi masyarakat jika suatu ketika ada pihak-pihak yang tidak suka dengan tradisi itu.

Kitab Al-Muqtathofat Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Al-Muqtathofat Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab "Al-Muqtathofat" Bisa Jadi Senjata Atasi Wahabi

Semestinya tidak perlu menanggapi mereka yang tidak suka dengan tradisi. Namun ketika mereka mempertanyakan, menyerang, apalagi sampai mengkafirkan, maka kita juga perlu menyiapkan jawaban.

Santri An Nur Slawi

Al-Muqtathofat li Ahlil Bidayat” atau “catatan untuk para pemula” tidak lain untuk menyelamatkan masyarakat yang kerap mendapat tudingan sesat, sekaligus menyadarkan pihak-pihak tertentu agar tidak mudah mengkafirkan orang lain.

Semua tradisi keagamaan yang dijalankan oleh masyarakat itu ada dasaranya, “Semua itu ada dalam kitab yang berlandasakan Ahlussunnah wal jamaah,” kata Kiai Marzuki di Masjid Mujahidin, Jalan Ikan Hiu, Lowokwaru, Malang, Selasa (30/5).

Santri An Nur Slawi

Kitab tersebut dikaji secara rutin di beberapa Masjid di Kota Malang, tepatnya setiap Selasa pukul 19.00 ba’da shalat Isyak. Tidak hanya di satu tempat, jadwal rutin tersebut berjalan di seluruh Masjid Malang secara bergilir.

Hadirnya kitab ini diharapkan memberikan informasi mengenai keabsahan tradisi ubudiyah masyarakat secara syar’i. Dengan kata lain, buku ini memupuk kepercayaan masyarakat Muslim Indoensia secara umum, khususnya bagi kalangan nahdyiyin, bahwa tradisi ritual ubudiyyah seperti tahlilan, haul, upacara selatan kelahiran, ritual empat dan tujuh bulan kandungan, peringatan Maulid Nadi, qunut dan shalat, dan yang lainnya, tidak melenceng dari aqidah dan termasuk bagian dari sunnah Nabi Rasulullah SAW.?

“Semua itu ada dasarnya, tidak asal caplok,” seru pengasuh Pondok Pesantren Sabulur Rosyad, Malang itu sembari memaparkan dalil-dalil yang sudah ditulis dalam kitab karangannya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi PonPes, Kyai Santri An Nur Slawi

Selasa, 20 Oktober 2015

NU Sudan Gelar Seminar Internasional Bahas Metodologi Fatwa

Khartoum, Santri An Nur Slawi

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Sudan Sabtu (5/03) lalu menyelenggarakan Seminar Ineternasional bertajuk Metodologi Fatwa, dengan tema “Metodologi Fatwa Perspektif Majma’ Fiqih Sudan dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama’.?

NU Sudan Gelar Seminar Internasional Bahas Metodologi Fatwa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sudan Gelar Seminar Internasional Bahas Metodologi Fatwa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sudan Gelar Seminar Internasional Bahas Metodologi Fatwa

Bekerjasama sama dengan Majma’ Fiqih Sudan, sebuah lembaga nasional yang menangani perkara fatwa hukum Islam di Sudan, Seminar yang diselenggarakan di Aula Muktamar Holy Quran Society Khartoum Sudan ini menghadirkan narasumber dari Majma’ Fiqih pada bidang fatwa Syekh Muhmmad Ibrahim Muhammad Hamid sebagai perwakilan dari Syekh Prof Dr Ishom al Bashir, mufti Sudan yang dijadwalkan menjadi narasumber akan tetapi ? berhalangan hadir karena sedang sakit.?

Sedangkan narasumber dari pihak Nahdlatul Ulama adalah Dr Muhammad Afifullah al Rifa’i, yang juga sebagai salah satu Mustasyar PCINU Sudan. Dan hadir sebagai Moderator Ribut Nur Huda, selaku ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama Sudan (Lakpesdam).

Acara yang berlangsung sekitar tiga setengah jam tersebut diawali dengan penampilan Jamiyyah Syifaul Qulub, grup Rebana PCINU Sudan. Kemudian pembukaan dari pembawa acara, setelah itu pembacaan ayat suci al Quran dan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh H. Sidik Ismanto Rais Syuriah PCINU Sudan. Dan sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Djumara Supriadi yang mewakili Duta Besar RI untuk Sudan.

Aula Muktamar yang berkapasitas kurang lebih seratus tujuh puluhan orang tersebut penuh dengan peserta yang hadir dari berbagai Negara selain dari Indonesia sendiri, seperti Syria, Thailand, Filipina, Sudan, Nigeria, Somalia dan Negara Afrika yang secara umum adalah kalangan Mahasiswa. Adapun WNI yang hadir adalah sebagian staf KBRI Sudan, perwakilan PPI Sudan, delegasi kekeluargaan yang terdapat di Sudan dan seluruh warga Nahdliyin Sudan.?

Santri An Nur Slawi

Seminar yang bertepatan dengan rangkaian Hari Lahir Ke-90 Nahdlatul Ulama oleh PCINU Sudan, juga sebagai penutupan proyek kajian mingguan Lakpesdam tentang Metodologi Istinbath (Ushul Fiqih) Madzhab empat, yang mana makalah hasil kajian tersebut akan dibukukan di akhir periode.?

Narasumber pertama Syekh Muhammad Ibrahim menyampaikan bahwa Indonesia dan Sudan sama-sama memegang madzhab tasawuf. Dia yang pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 2011 ke PBNU Jakarta atas nama oraganisasi Darul Arqom Sudan mengenal dengan baik oraganisasi NU di Jakarta. Disamping itu dia juga menyampaikan bahwa NU merupakan organisasi terbesar di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Menurutnya jumlah warga NU jauh lebih banyak dari jumlah penduduk Sudan sebanding dua kali lipat atau bahkan lebih. ?

“Saya telah berkunjung ke Indonesia, dan juga ke Kantor Nahdlatul Ulama di Jakarta atas nama Organisasi Darul Arqam beberapa tahun lalu, dan saya melihat bahwa Nahdlatul Ulama adalah Organisasi Keagamaan terbesar di Dunia yang anggotanya melebihi penduduk Sudan dua kali lipat,” ujar Direktur Utama Organisasi Darul Arqam tersebut...

Santri An Nur Slawi

Fathoni, Santri An Nur Slawi | Senin, 07 Maret 2016 19:02

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pahlawan, Anti Hoax, Hikmah Santri An Nur Slawi

Selasa, 29 September 2015

Asal Tahu Aja, Mahasiswa Gaul itu Rajin Membaca

Temanggung, Santri An Nur Slawi 



Era digital, membuat mahasiswa terserat ke dalam gelombang teknologi informasi dan dimanjakan dengan media sosial, gadget, juga bahan bacaan yang berbasis elektronik. Semua dikonversikan menjadi elektronik, mulai dari adanya e-book, e-paper, e-journal,  dan lainnya. 

Akan tetapi, bahan bacaan cetak tetap menjadi prioritas nomor satu bagi mahasiswa, dan perpustakaan adalah benteng terakhir bagi masyarakat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan mendapatkan informasi.

Asal Tahu Aja, Mahasiswa Gaul itu Rajin Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)
Asal Tahu Aja, Mahasiswa Gaul itu Rajin Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)

Asal Tahu Aja, Mahasiswa Gaul itu Rajin Membaca

Di sisi lain, gaya hidup modern juga menjalar di kalangan mahasiswa. Sehingga yang disebut mahasiswa gaul tidak lagi yang intelektual, rajin baca buku, punya IPK tinggi, namun mahasiswa gaul sudah melekat pada mereka yang bermotor keren, memiliki ponsel mahal, baju bagus dan juga mereka yang memiliki alat-alat modern mulai dari laptop, gadget dan sejenisnya. 

Namun bagi Kepala Perpustakaan STAINU Temanggung, Jawa Tengah, Gufi Ulfah Inasari, hal itu justru tidak lah makna mahasiswa sebenarnya. Menurut dia, mahasiswa harus selalu dekat dengan literasi, terbukti dengan aktivitas membaca dan menulis yang berdekatan dengan ilmu pengetahuan.

"Mahasiswa Gaul adalah mahasiswa yang tahu hal baru, up to date dan punya rasa ingin tahu tentang hal-hal baru," ujar Gufi Ulfah Inasari Kepala Perpustakaan STAINU Temanggung, Sabtu (7/10).

Santri An Nur Slawi

Usaha untuk menjadi mahasiswa gaul, menurut dia, salah satunya adalah datang ke perpustakaan, untuk membaca buku atau mencari berita baru (koran).

"Perpustakaan STAINU Temanggung punya koleksi 3845 judul dan 4885 ekslempar buku dan difasilitasi dengan koran harian," beber dia di sela-sela melayani mahasiswa yang meminjam buku.

Ia juga menandaskan, bahwa kemampuan literasi mahasiswa tidak lain dimulai dari perpustakaan meski sekarang zamannya sudah milenial. Bahkan, perempuan berkerudung ini menegaskan bahwa mahasiswa gaul adalah yang sering ke perpustakaan.

Santri An Nur Slawi

"Bisa disebut bahwa mahasiswa gaul adalah mereka yang sering keperpustakaan. Oleh karena itu, mahasiswa harus menumbuhkan literasi membaca, selain untuk memenuhi tugas dari dosen saja," tegas dia.





Menumbuhkan Budaya Literasi

Sebagai pegiat literasi, ia juga memiliki beberap trik untuk menumbuhkan budaya literasi mahasiswa.  

"Menumbuhkan budaya literasi mahasiswa memang harus digalakkan sejak dini. Pertama, membuat program seperti 15 menit membaca (boleh buku atau koran). Kedua, perlombaan membuat karya tulis seperti artikel, puisi dan dimuat di mading perpustakaan," beber dia.

Ketiga, kata dia, menyediakan koleksi/bahan pustaka yang lengkap juga berkualitas. Keempat, bedah buku (kegiatan ini harus diagendakan 1 bulan sekali).

"Kelima, yaitu diskusi dosen juga diskusi antarmahasiswa dan keenam memberikan hadiah bagi mahasiswa yang aktif keperpustakaan," lanjut dia.

Ia juga mengakui, ada beberapa masalah atau kendala dalam menumbuhkan budaya literasi. Mulai dari biaya yang minim untuk menjangkau toko buku, tidak punya media/alat untuk mendapatkan/ mengakses bahan bacaan seperti HP, laptop, dan motor dan ketiga kurang tersedianya bahan bacaan yang dibutuhkan mahasiswa di perpustakaan.

Sampai saat ini, Perpustakaan STAINU Temanggung punya koleksi 3845 judul dan 4885 ekslempar buku dan difasilitasi dengan koran harian.

"Koleksi yang dimiliki sampai tahun 2017 yaitu koleksi buku  Bahasa Indonesia 3796 judul 4823 ekslempar, lalu koleksi buku Bahasa Arab 39 judul, 40 ekslempar. Sementara koleksi Bahasa Inggris ada 10 judul, 22 ekslempar," jelas dia.

"Minat baca mahasiswa STAINU memang kurang, karena mahasiswa yang datang ke perpustakaan untuk mencari dan membaca buku di luar ada tugas dari dosen," tandasnya.

Oleh karena itu, ke depan ia berharap agar mahasiswa STAINU Temanggung melek budaya literasi. Hal itu, menurut dia, tidak bisa dimulai jika tidak dimulai dari perpustakaan, cinta buku dan menjadikan membaca buku sebagai candu. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ulama, Nusantara, Sejarah Santri An Nur Slawi

Rabu, 23 September 2015

KH Masyhuri Malik: Masa Depan Aswaja Ada di Tangan Kader Muda

Kediri, Santri An Nur Slawi. Ketua Pelaksana Program Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik berkesempatan menyampaikan ceramah di Sekolah Tinggi Agama Islam Badrus Sholeh (STAIBA) Purwoasri Kediri di sela kegiatan Pendidikan Kader Penggerak NU di Jombang, Ahad (8/3).

Di hadapan puluhan mahasiswa, ia mengingatkan bahwa era reformasi di Indonesia ditandai dengan eforia kebebasan, tidak hanya bebas menyampaikan aspirasi tetapi juga bebas mengimpor berbagai ideologi dan paham keagamaan yang berkembang di luar negeri.

KH Masyhuri Malik: Masa Depan Aswaja Ada di Tangan Kader Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masyhuri Malik: Masa Depan Aswaja Ada di Tangan Kader Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masyhuri Malik: Masa Depan Aswaja Ada di Tangan Kader Muda

“Berbagai organisasi garis keras yang dilarang di beberapa negara, termasuk Timur Tengah di sini dibiarkan bebas-sebebas-bebasnya,” kata Masyhuri Malik yang didampingi instruktur kaderisasi PBNU Abdul Mun’im DZ dan Ketua STAIBA Hj. Lilik Nur Kholidah.

Santri An Nur Slawi

Dikatakannya, di era reformasi ini ada sekolompok orang mewacanakan apa yang disebut Negara Islam Indonesia atau NII. Di bagian lain bahkan ada yang mendeklarasikan sebuah negara khilafah islamiyah yang jelas-jelas bertentangan dengan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang telah digariskan dan disepakati oleh pendiri bangsa, yang tidak lain adalah para ulama Ahlusssunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Mantan Ketua PCNU Bekasi ini mengingatkan, beberapa kelompok baru ini juga seringkali menamakan diri kelompok Aswaja dan sering melakukan pendekatan kepada warga NU. Maka anak-anak muda dan mahasiswa NU diharapkan lebih aktif dalam melakukan kegiatan pendampingan masyarakat, agar tidak terpengaruh kelompok-kelompok baru itu.

Santri An Nur Slawi

“Tantangan ada di depan mata kita. Masa depan Aswaja dan masa depan NU ada di tangan para kader muda ini bukan di tangan orang-orang tua seperti saya,” kata KH Masyhuri Malik di hadapan para mahasiswa. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Santri, Cerita, Ubudiyah Santri An Nur Slawi

Kamis, 17 September 2015

Hari-hari Terakhir Rasulullah SAW

Anas bin Malik meriwayatkan, pada Hari Senin, ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shalat Subuh –sementara sahabat Abu Bakar RA sedang mengimami mereka—Nabi SAW tidak menemui mereka, tetapi hanya menyingkap tabir kamar Aisyah dan memperhatikan mereka yang berada di shaf-shaf shalat. Kemudian beliau tersenyum.

Abu Bakar mundur hendak berdiri di shaf, karena dia mengira Rasululah SAW hendak keluar untuk shalat. Selanjutnya Anas menuturkan bahwa kaum muslimin hampir terganggu di dalam shalat mereka, karena bergembira dengan keadaan Rasulullah SAW.

Hari-hari Terakhir Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari-hari Terakhir Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari-hari Terakhir Rasulullah SAW

Namun, beliau memberikan isyarat dengan tangan beliau agar mereka menyelesaikan shalat. Kemudian, beliau masuk kamar dan menurunkan tabir.

Setelah itu, Rasulullah SAW tidak mendapatkan waktu shalat lagi.

Santri An Nur Slawi

Ketika waktu Dhuha hampir habis, Nabi SAW memanggil Fatimah, lalu membisikan sesuatu kepadanya, dan Fatimah pun menangis. Kemudian memanggilnya lagi dan membisikan sesuatu, lalu Fatimah tersenyum.

Santri An Nur Slawi

Aisyah berkata, setelah itu, kami bertanya kepada Fatimah tentang hal tersebut.

Fatmah Ra menjawab, ”Nabi SAW membisikiku bahwa beliau akan wafat, lalu aku menangis. Kemudian, beliau membisiku lagi dan mengabarkan aku adalah orang pertama di antara keluarga beliau yang akan menyusul beliau.” (Shahihul Bukhari, II: 638).

Nabi SAW juga mengabarkan kepada Fatimah bahwa dia adalah kaum wanita semesta alam.

Fatimah melihat penderitaan berat yang dirasakan oleh Rasulullah SAW sehingga dia berkata,”Alangkah berat penderitaan ayah!” tetapi beliau menjawab,”Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi.”

Beliau memanggil Hasan dan Husain, lalu mencium keduanya, dan berpesan agar bersikap baik kepada keduanya. Beliau juga memanggil istri-istri beliau, lalu beliau memberi nasehat dan peringatan kepada mereka.

Sakit beliau semakin parah, dan pengaruh racun yang pernah beliau makan (dari daging yang disuguhkan oleh wanita Yahudi) ketika di Khaibar muncul, sampai-sampai beliau berkata,”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang kumakan ketika di Khaibar. Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut.”

Beliau juga memberi nasehat kepada orang-orang ,”(perhatikanlah) shalat; dan budak-budak yang kalian miliki!” Beliau menyampaikan wasiat ini hingga beberapa kali.

Saat Terakhir

Tanda-tanda datangnya ajal mulai tampak. Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah ke pangkuannya.

Aisyah lalu berkata,” Sesunguhnya di antara nikmat Allah yang dikaruniakan kepadaku adalah bahwa Rasulullah SAW wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan di pangkuanku, serta Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Ketika aku sedang memangku Rasulullah SAW, Abdurahman dan Abu Bakar masuk dan di tangannya ada siwak. Aku melihat Rasulullah SAW memandanginya, sehingga aku mengerti bahwa beliau menginginkan siwak. Aku bertanya ,’Kuambilkan siwak itu untukmu?’

Beliau memberi isyarat “ya” dengan kepala, lalu kuambilkan siwak itu untuk beliau. Rupanya siwak itu terasa keras bagi beliau, lalu kukatakan,’kulunakkan siwak itu untukmu?’ Beliau memberi isyarat”ya” lalu kulunakan siwak itu. Setelah itu aku menyikat gigi beliau dengan sebaik-baiknya siwak itu. Sementara itu, di hadapan beliau ada bejana berisi air. Beliau memasukan kedua tangannya ke dalam air itu, lalu mengusapkannya ke wajah seraya berkata,’La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekarat nya.” (Shahih Bukhari II, 640).

Seuasi bersiwak, beliau mengangkat kedua tangan beliau yang mulia, atau jari-jarinya mengarahkan pandangannya ke langit-langit, dan kedua bibirnya bergerak-gerak. Aisyah mendengarkan apa yang beliau katakan itu, beliau berkata,”Ya Allah ampunilah aku; Rahmatillah aku; dan pertemukan aku dengan Kekasih yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi.” (Ad Darimi, Misykatul Mashabih, II: 547)

Beliau mengulang kalimat terakhir tersebut sampai tiga kali, lalu tangan beliau lunglai dan beliau kembali kepada Kekasih Yang Maha Tinggi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Peristiwa ini terjadi ketika waktu Dhuha sedang memanas, yaitu pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H. Ketika itu beliau berusia 63 lebih empat hari. (Aji Setiawan/Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Daerah, Tegal Santri An Nur Slawi

Senin, 14 September 2015

Adakah yang Lebih Kuat Dibanding Gunung?

Di dunia ini, Gunung dianggap oleh sebagian orang, sebagai sebuah simbol kekuatan. Bentuknya yang kokoh dan menjulang, semakin menegaskan anggapan tersebut.

Namun, tahukah anda, kekuatan gunung tersebut ternyata dapat dikalahkan oleh seorang anak Adam. Manusia seperti apakah yang dapat menandingi kekuatan gunung, bahkan lebih dari itu?

Dalam sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa ketika Allah swt. menciptakan Bumi, pada awalnya Bumi terus bergoyang tidak stabil. Maka, Allah pun menciptakan gunung-gunung di atas bumi, sehingga bumi menjadi tenang.

Adakah yang Lebih Kuat Dibanding Gunung? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah yang Lebih Kuat Dibanding Gunung? (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakah yang Lebih Kuat Dibanding Gunung?

Para malaikat pun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk-Mu yang lebih kuat dari gunung?”

Pertanyaan serupa ‘Adakah yang lebih kuat’, terus diulangi oleh para malaikat, dan dijawab Allah swt. dengan jawaban yang berbeda.

Gunung rata oleh besi. Besi leleh dengan api. Api padam dengan air. Air dapat digerakkan kemanapun oleh angin. Hingga pertanyaan terakhir: ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada angin?”

Santri An Nur Slawi

Allah menjawab, ”Ada, yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Inilah dahsyatnya kekuatan ikhlas. Manusia yang ikhlas, meskipun mungkin dlohirnya terlihat lemah, namun di sisi Allah, ia adalah orang yang lebih kuat dibanding gunung dan lainnya.

Dengan keikhlasan pula, seseorang akan mendapatkan kemudahan, meskipun mesti melewati kesusahan. (Ajie Najmuddin)

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hadits, AlaNu Santri An Nur Slawi

Kamis, 10 September 2015

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng

Kudus, Santri An Nur Slawi. Kejuaraan Daerah (Kejurda) II  Pagar Nusa Jateng-DIY Yogyakarta di pesantren Azzuhri, Semarang (11-14/1), menobatkan kontingen Kudus sebagai juara umum. Mengungguli daerah lain, Pagar Nusa Kudus mengantongi  14 emas, 3 perak, dan 3 perunggu.

Dari daftar hasil Kejurda yang dirilis panitia, kontingen Kudus sangat mendominasi pada kategori remaja dengan meraih 10 emas, 1 perak, 2 perunggu. Sedangkan sisanya diperoleh dari kategori dewasa 4 emas dan 2 perak. Satu perunggu diraih pada semua kelas.

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng

Bahkan, salah satu pesilat Kudus Arum Maharani memperoleh predikat pesilat putri terbaik kategori remaja.

Santri An Nur Slawi

Wakil Ketua Pagar Nusa Kudus Miftah Baidhowi mengatakan. hasil juara umum yang diraih merupakan hasil kerja keras kesungguhan, keseriusan, dan kebersamaan antara atlet dan pelatih dalam menghadapi ajang bergengsi itu.

Santri An Nur Slawi

“Saya bangga anak-anak mampu menjaga diri baik kondisi maupun mental sehingga meraih prestasi luar biasa,” terang Miftah kepada Santri An Nur Slawi di sela-sela porseni IPNU-IPPNU Kudus, Selasa (14/1).

Menghadapi kejurda ini, Pagar Nusa Kudus mempersiapkan sejak dini dengan menggembleng setiap hari latihan serius di kantor NU Kudus.

Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi mengapresiasi hasil yang diraih Pagar Nusa. Prestasi ini, menurutnya, harus dijaga dan dilanjutkan melalui konsistensi latihan dan kedisiplinan.

“Yang lebih penting lagi, Pagar Nusa harus mampu menjadi benteng Aswaja, NU dan para kiai. Termasuk pula Pagar Nusa harus istiqomah mengembangkan diri untuk menjadi lebih besar memasyarakat di kalangan nahdliyyin,” harapnya kepada Santri An Nur Slawi.

Setelah Kudus, peraih juara umum kedua dan ketiga pada kejurda yang diikuti 236 atlet wiralaba dan 23 kontingen seni jurus ini adalah kontingen Pagar Nusa Demak dengan 3 emas, 6 perak, 8 perunggu dan Pati 2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Habib Santri An Nur Slawi

Jumat, 04 September 2015

Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai

Oleh Ali Romdhoni

Pada pertengahan Januari 2016 lalu saya mengunjungi perpustakaan di Gedung Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jalan Kramat Jakarta Pusat. Oleh pengelola, saya ditunjukkan koleksi berupa literature tua karya ulama-ulama Nusantara tahun 1600 hingga 1800-an. Terdapat tidak kurang dari 21 judul kitab.

Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Literatur Yunani dan Manuskrip Sang Kiai

Uniknya, kitab-kitab—yang semuanya ditulis dengan bahasa Melayu dan sebagian lagi dengan bahasa Jawa—ini telah diproduksi secara massal oleh penerbit di Mesir yang berjaya di tahun 1950 hingga 1970-an, Musthafa al-Babi al-Halabi.

Ada beberapa hal yang perlu penulis tegaskan di sini. Pertama, karya ulama Nusantara selama ini diidentifikasi sebagai karya lokal. Bahkan sebagian kita inferior karena hal itu. Namun masyarakat akademik dunia (atau setidaknya Asia) justru melihat dan mengapresiasi karya itu dengan baik.

Santri An Nur Slawi

Dalam penelusuran penulis, tahun 1930-an jumlah masyarakat Asia Tenggara yang tinggal di Mekah untuk kepentingan ibadah haji dan studi Islam cukup signifikan. Kementerian Agama RI mencatat, tahun 1930 jamaah haji Indonesia berjumlah 4.385 orang. Jumlah ini terus naik pada tahun 1936 mencapai 14.976 orang. Jumlah ini masih ditambah dengan masyarakat muslim yang berada di Mekah dari Negara Malaysia, Brunei Darussalam, Pattani (Thailand), dan Singapura.

Karya ulama Nusantara yang memiliki pasar pembaca cukup fanatik, dibaca oleh pengusaha percetakan ternama di Mesir kala itu sebagai peluang. Ini artinya, pengaruh ulama Nusantara sudah diakui oleh masyarakat Asia, bahkan popular di Timur Tengah.

Santri An Nur Slawi

Kedua, karya literature merupakan rekaman fenomena dan kondisi masyarakat di sekitar sang penulis. Khusus kitab keislaman tulisan ulama Indonesia, ia merupakan hasil interpretasi terhadap ajaran agama Islam. Sebagai generasi muda, kita harus melihat dan mengkaji manuskrip-manuskrip itu.

Langkah pertama adalah melacak dan mendata sebaran karya para intelektual muslim Indonesia. Kenapa ini penting kita lakukan. Karakter muslim di Indonesia unik dan tidak tumbuh di tempat lain. Ke depan, Islam Indonesia berpotensi menjadi rujukan bagi kehidupan keberagamaan di dunia.

Pembaacaan terhadap karya-karya keislaman masa lalu sangat dibutuhkan dalam rangka merumuskan bangunan keilmuan (epistemology) Islam yang khas, yang telah ada dan berkembang di Nusantara. Ini alasan bagi pentingnya melacak manuskrip karya para kiai masa lalu.

PELAJARAN DARI YUNANI

Catatan sejarah menginformasikan, pada masa kepemimpinan Bani Umayyah di Damaskus masyarakat muslim merintis gerakan penerjemahan ilmu pengetahuan. Pada masa ini sejumlah karya ilmuwan Yunani dan Koptic tentang ilmu kimia diterjemahkan. Di bawah kekuasaan Umar II (717-720), Masarjawaih, seorang Yahudi dari Basra menerjemahkan buku kedokteran dari bahasa Siria ke dalam bahasa Arab.

Buku lain yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab adalah tentang astronomi, fisika, dan matematika. Raja juga mengirim sarjana-sarjana ke berbagai tempat, termasuk ke Byzantium untuk mencari manuskrip.

Bernard Lewis dalam The Arabs in History menulis, beberapa periode kemudian lahir generasi penulis muslim orisinil, terutama dari bangsa non-Arab, seperti sejarawan dan teolog al-Thabari (m. 310 H/923 M), ahli fisika al-Razi (865-925), dokter dan filsuf Ibnu Sina (980-1037), serta astronom dan ilmuawan ensiklopedik al-Biruni (970-1048).

Penerjemahan khazanah pengetahuan Yunani mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan al-Mamun? (memerintah 198-219 H/ 813-833 M) di Baghdad. Raja ini dikenal sangat mencintai ilmu pengetahuan. Dia memprakarsai pendirian Bait al-Hikmah, semacam pusat riset dan lembaga ilmu pengetahuan Islam. Pusat kajian ilmiah ini kemudian menciptakan suasana kondusif bagi berkembangnya pemikiran rasional.

Hingga pada masa itu, para intelektual muslim telah berhasil menyerap khazanah keilmuan bangsa lain dan menyajikan kembali kepada masyarakat dalam bentuk buku berbahasa Arab. Kerja-kerja ini adalah upaya penting dalam rangka mempermudah akses keilmuan bagi masyarakat muslim. Bila sebelumnya pengetahuan Yunani hanya bisa diakses masyarakat Yunani, maka setelah terjemahan bahasa Arab-nya terbit, komunitas Arab bisa menyerap informasi yang lahir dari negeri itu.

Capaian kedua yang merupakan hasil dari program pemerintah kala itu adalah, generasi muslim telah mampu menuliskan informasi yang diperoleh dari buku-buku asing dalam bentuk ikhtisar. Prestasi ini selangkah lebih maju, bila dibandingkan dengan sekedar menerjemahkan. Meskipun keduanya memiliki orientasi dan kelebihan masing-masing. Namun yang lebih penting lagi, pasca itu lahir generasi penulis muslim, seperti al-Razi, Ibn Sina dan al-Biruni. Saat itulah, proses hegemoni ilmu pengetahuan oleh kaum intelektual muslim dimulai.

Nurcholish Madjid menandaskan, karena ketertarikan umat Islam yang begitu tinggi terhadap para filsuf Yunani, sampai terdapat satu buku filsafat yang menafsirkan pemikiran-pemikiran Aristoteles, Fi al-Khair al-Mahdh, yang aslinya hanya diketahui dalam bahasa Arab. Bahkan beredar dugaan, pengarangnya adalah seorang muslim, kalau bukan seorang Yahudi atau Kristen yang berbahasa Arab. Kelak, buku ini diterjemahkan ke dalm bahasa Latin, Liber de Causis. Artinya, saat itu ilmuwan muslim telah menjadi kunci bagi tradisi dan keilmuan dunia. Masyarakat Latin pun harus menerjemahkan buku-buku filsafat dari karya ilmuwan Islam.

Kelak sejarah mencatat, umat Islam menjadi pewaris tunggal bagi tradisi panjang sejak zaman Yunani-Romawi, Iran, Firaun, dan Assyria-Babilonia. Philip K. Hitti menggambarkan, dengan bekal rasa ingin tahu yang kuat ilmuwan muslim mulai berasimilasi, mengadaptasi dan menghasilkan khazanah intelektual dan estetikanya sendiri.

Di Ctesiphon, Edessa, Nisibis, Damaskus, Yerusalem, dan Iskandariyah, mereka menyaksikan, mengagumi dan meniru karya-karya para arsitek, seniman, perajin, dan pengusaha intan. Ke pusat-pusat peradaban kuno itulah mereka datang, melihat, dan kemudian menang.

Jelas, pengaruh gerakan penerjemahan sangat besar, melambungkan Islam hingga dikenal seluruh penghuni dunia.

Dalam konteks manuskrip kiai Nusantara, ulama al-Jawi pada masa lalu ternyata sudah mendunia. Perhatian dan tema tulisan mereka menembus batas teritorial benua. Di sana misalmya terdapat terjemahan kitab berjudul Nuzhat al-Ikhwan fi Ta’lim al-Lughat wa Tafsir Ikhtilaf al-Lisan, mengkaji gramatika empat bahasa: Melayu, Aceh, Arab dan Turki.

Selain itu ada Ikhtisar Kitab al-Hikam karya Ahmad Ibnu Atha’illah oleh pujangga besar muslim Indonesia, Kiai Haji Sholeh Darat (m. 1903), Semarang. Juga terdapat al-Shirath al-Mustaqim fi Fiqh Madzhab al-Syafi’I, karya Nuruddin Muhammad al-Raniri (m. 1658).

Belajar dari sejarah Yunani dan pekerjaan ambisius yang sudah pernah dilakukan para ilmuwan muslim, karya para ulama Nusantara harus kita rawat dan warisi. Merawat khazanah ini berarti mempelajari bangunan keislaman masa lalu yang kokoh di bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia, untuk selanjutnya mengenalkan kepada anak dan cucu kita. Mewarisi berarti menjaga keutuhan bangunan bangsa dan nilai-nilai agama yang menjadi ikat-pinggangnya.

Bila demikian, mengabaikan manuskrip Nusantara sama halnya dengan membiarkan negeri ini terancam oleh orang-orang yang bersiap memberangus keutuhan bangsa. Penulis mengajak kepada kaum muda untuk segera memulai kerja besar ini.



ALI ROMDHONI

Penulis buku Al-Qur’an dan Literasi

Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang


Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul, AlaNu, Santri Santri An Nur Slawi

Jumat, 10 Juli 2015

Tiga Teladan Metode Dakwah Rasulullah

Solo, Santri An Nur Slawi. Menurut catatan dalam sejarah Islam, dakwah Nabi Muhammad Saw dapat dikelompokkan menjadi dua fase, yakni sebelum dan sesudah hijrah. Pada kedua fase tersebut, ada beberapa perbedaan pendekatan dakwah yang dilakukan nabi, yang penting untuk dipelajari umat Islam.

“Mempelajari dakwah seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad yaitu pertama kita harus mengetahui ada dua fase yang dilewati oleh Rasulullah yaitu fase sebelum dan setelah hijrah,” kata pengasuh Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhah, Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus, pada acara “UNS Bersholawat”, Kamis malam, (31/3).

Tiga Teladan Metode Dakwah Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Teladan Metode Dakwah Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Teladan Metode Dakwah Rasulullah

Pada fase pertama, lanjut Habib Novel, yakni masa sebelum hijrah dapat diketahui dengan melihat bahwa sikap Rasulullah meliputi seluruh sifat kebaikan. “Meskipun terdapat perlakuan membenci maupun mengingkari dari beberapa orang kala itu, tapi Rasulullah membalasnya dengan kebaikan,” tutur penasihat GP Ansor Solo ini.

Sedangkan fase setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah mengajarkan metode dakwah yang sangat luar biasa. “Pertama, mengucapkan salam setiap bertemu dengan sesama. Kedua, memberi makan dan ketiga yaitu melakukan shalat malam dikala orang lain tertidur lelap,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut Habib Novel berulang kali mengingatkan para jamaah untuk senantiasa menghiasi kebaikan dalam segala hal. Selain itu, ia mengajak para jamaah untuk bergerak bersama dalam melakukan dakwah Islam di kampus.

Santri An Nur Slawi

Kegiatan “UNS Bersholawat” terselenggara atas kerjasama Komunitas PMII Kentingan Bersholawat dengan Takmir Masjid NH dan Himakesja.

“Ke depan komunitas bersholawat ini, diharapkan bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat mereka dalam seni. Rencana kita juga akan membuka dua kelas pelatihan yaitu masing-masing adalah kelas pelatihan rebana dan kelas pelatihan seni dan baca Al-Qur’an,” terang Miftah, mahasiswa program studi Fisika UNS yang ditunjuk sebagai ketua panitia. (Ajie Najmuddin/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi

Selasa, 07 Juli 2015

Dua Tahun, Keaktifan Pelajar NU MAN 3 Tak Terbantahkan

Cirebon, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Cirebon lantik salah satu Pimpinan Komisariat (PK) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Cirebon yang berada di wilayah lingkungan Pondok Pesantren Buntet, Ahad (19/11).  

Pimpinan Komisariat MAN 3 Cirebon baru terbentuk dua tahun yang lalu. Artinya kepengurusan yang baru saja dilantik ini adalah angkatan kedua. 

Dua Tahun, Keaktifan Pelajar NU MAN 3 Tak Terbantahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tahun, Keaktifan Pelajar NU MAN 3 Tak Terbantahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tahun, Keaktifan Pelajar NU MAN 3 Tak Terbantahkan

Ketua Pimpinan Cabang IPPNU Kabupaten Cirebon, Nurjannah mengatakan wwalaupun PK IPNU IPPNU 3 Cirebon terbilang masih sangat baru, namun termasuk sangat aktif di Kabupaten Cirebon. 

“Itu dibuktikan dengan selalu hadir dan terlibat dalam setiap undangan dan kegiatan yang diselenggarakan oleh PC IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon," ungkapnya.  

Tak sekadar itu, PK IPNU-IPPNU MAN 3 Cirebon juga kerap kali tampil mementaskan drama musikalisasi di momen-momen besar di Cirebon dan luar Cirebon.

Santri An Nur Slawi

"Tahun lalu pentas di Hari Santri Nasional yangg diselenggarakan oleh PBNU dan RMI di Yogyakara," Nurjannah menambahkan. 

Santri An Nur Slawi

Sementara Utami Barokah selaku Pembina PK IPNU-IPPNU MAN 3 Cirebon mengungkapkan rasa bersyukur karena MAN 3 Cirebon ini telah dibentuk IPNU-IPPNU.

“Mudah-mudahan PK IPNU IPPNU MAN 3 Cirebon selalu  semangat, antusias dan kompak dalam mengabdi di NU melalui IPNU-IPPNU," harapnya. (Jannet/Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Cerita, Tegal, Quote Santri An Nur Slawi

Jumat, 03 Juli 2015

Liburan Ala Guru Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan

Balikpapan, Santri An Nur Slawi? . Para guru Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan mengissi leiburan yang dikemas dengan kegiatan Family Day. Kegiatan yang mengikutsertakan keluarga para guru tersebut bertema "Kesederhanaan dalam Kebersamaan".

Kegiatan di pantai Manggar II Balikapapan, Kalimanatan Timur pada Ahad (20/12) tersebut dimeriahkan dengan berbagai lomba-lomba olahraga seperti voli, sepak bola, dan tarik tambang. Tim dibentuk dengan kategori putra bujangan melawan tim berkeluarga. Pada lomba voli dimenangkan tim guru bujangan dengan skors (2-1) dan untuk sepak bola dimenangkan tim guru berkeluarga dengan skors(5-4).?

Liburan Ala Guru Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Liburan Ala Guru Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Liburan Ala Guru Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pembagian dourprize sekaligus selamatan arisan bulanan guru-guru yang sudah biasa dilaksanakan pada akhir bulan.?

Santri An Nur Slawi

Menurut sala satu guru, Abdul Adzim, kegiatan seperti ini bisa dijadikan refreshing untuk para guru dalam mengisi di liburan semester. Menurut dia, ini adalah wahana bersama-sama walaupun dalam kesederhanaan.

Santri An Nur Slawi

Kepala Biro Pendidikan dan Pengajaran Pondok Pesantren Syaichona Cholil Siti Fatimah mengatakan kegiatan rutinan ini merupakan salah satu cara untuk memepererat tali silaturahim untuk semua guru mulai dari TK, SMP, SMA, SMK berserta keluarganya. (Sainuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Budaya, Quote Santri An Nur Slawi

Islam Tersebar di Nusantara Melalui Dua Cara, Apa Saja?

Tangerang Selatan, Santri An Nur Slawi. Dosen Fakultas Ilmu Politik dan Sosial UIN Jakarta M Zaki Mubarak mengatakan, Islam masuk ke Nusantara melalui dua cara. Pertama, lewat elit kerajaan. Biasanya raja-raja kerajaan Islam di Nusantara memiliki penasehat keagamaan. Tugas mereka tidak hanya memberikan nasehat kepada raja, tetapi juga berdakwah ke tengah masyarakat.  

“Mereka juga menyebarkan Islam dengan menggunakan fasilitas dan anggaran kerajaan,” kata Zaki saat menjadi pemateri diskusi di Islam Nusantara Center Ciputat Tangerang Selatan, Sabtu (16/12).

Kedua, lewat masyarakat bawah. Islam tersebar di hampir seluruh wilayah Nusantara juga dibawa masyarakat secara kultural. Mereka menyebarkan Islam tanpa campur tangan kerajaan pada waktu itu. 

Islam Tersebar di Nusantara Melalui Dua Cara, Apa Saja? (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Tersebar di Nusantara Melalui Dua Cara, Apa Saja? (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Tersebar di Nusantara Melalui Dua Cara, Apa Saja?

Zaki menuturkan, di dalam sejarahnya Islam berkembang dengan begitu baik dan pesat, baik melalui elit kerajaan atau pun masyarakat bawah.

“Dua-duanya berkembang dengan bagus,” tegasnya.

Santri An Nur Slawi

Menguatnya Islam di beberapa wilayah di Nusantara, lanjut Zaki, menyebabkan Kristenisasi yang dibawa penjajah terhambat dan bahkan tidak berkembang baik kecuali di wilayah-wilayah yang belum ada Islam. Selain itu, metode yang digunakan penjajah untuk menyebarkan Kristen juga kurang begitu baik. Berbeda dengan metode para pendakwah dalam menyebarkan Islam yang mudah diterima karena berbaur dengan budaya lokal. 

“Secara fisik berbeda jauh (antara penyebar Kristen dengan masyarakat Nusantara). Ini yang menyebabkan Kristenisasi tidak berjalan dengan bagus,” tambahnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Budaya, IMNU Santri An Nur Slawi

Senin, 29 Juni 2015

Kisah Nabi Sembuhkan Kebutaan Lewat Mimpi

Dirinya sungguh tak menyangka bakal sembuh dengan cara istimewa. Semula orang laki-laki ini sehari-hari diliputi gelap karena kondisi matanya yang sama sekali tak dapat melihat. Dalam kebutaan tersebut, hanya satu dalam dirinya yang menyala sangat terang: semangat untuk sembahyang berjamaah.

Kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ mengisahkan, laki-laki buta itu biasa berjalan menuju masjid tanpa dipandu tongkat selayaknya penyandang tunanetra pada umumnya. Jatuh cintanya yang amat pada shalat jamaah telah meruntuhkan rasa khawatir akan celaka akibat sikap pasrahnya itu.

Kisah Nabi Sembuhkan Kebutaan Lewat Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Nabi Sembuhkan Kebutaan Lewat Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Nabi Sembuhkan Kebutaan Lewat Mimpi

Namun musibah tak bisa ditolak. Suatu hari laki-laki tersebut terjatuh di jalan hingga kepalanya terluka. Perjalanan menuju masjid gagal. Ia harus dibawa kembali ke rumah untuk istirahat.

Santri An Nur Slawi

Sudah jatuh tertimpa tangga. Di rumah, laki-laki buta yang kini batok kepalanya terluka itu malah mendapatkan “semprot” dari istrinya.

“Beginilah akibatnya. Padahal, shalat jamaah itu tidak wajib!” sergah istrinya.

“Meski telah mengambil cahaya bola mataku, tapi Allah tetap memelihara cahaya hatiku. Aku sanggup tidak absen dari shalat jamaah,” jawabnya.

Santri An Nur Slawi

Malam harinya, tidur si lelaki buta terasa spesial. Rasulullah SAW menjumpainya dalam mimpi. “Kenapa kau bertengkar dengan istrimu?” tanya Nabi.

“Karena mengikuti sunnahmu, ya Rasulullah.”

Rasulullah lantas mengusapkan tangannya di atas mata laki-laki itu. Seketika penglihatan si buta pulih. Berkah tangan mulia Nabi dan sunnahnya memancarkan keajaiban bagi cahaya matanya yang tertutup sekian lama. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Warta Santri An Nur Slawi

Senin, 22 Juni 2015

Anjuran Minta Doa kepada Orang Sakit

Salah satu aktivitas rutin Rasulullah SAW setelah shalat Jum’at adalah membesuk orang sakit. Dalam banyak literatur sejarah dikisahkan bahwa Beliau SAW tidak hanya mengunjungi orang Muslim, tetapi Beliau juga kerap mengunjungi non-muslim yang sedang terkena musibah.

Sikap ini perlu ditiru dan diteladani dalam rangka memupuk tali persaudaraan antarsesama manusia.

Di samping menjalin keakraban, mengunjungi orang sakit juga memiliki hikmah dan manfaat bagi orang yang membesuk. Manfaat ini mungkin sering kali dilupakan oleh banyak orang. Acap kali ketika bertemu orang sakit kita mendoakan mereka agar lekas sembuh.

Anjuran Minta Doa kepada Orang Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Anjuran Minta Doa kepada Orang Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Anjuran Minta Doa kepada Orang Sakit

Namun, kita lupa meminta mereka untuk mendoakan diri kita sendiri. Padahal doa orang yang sakit itu sama dengan doa malaikat, sebagaimana yang dijelaskan al-Nawawi dalam kitabnya al-Azkar seraya mengutip hadis dari Umar Ibn Khatab,

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Umar bin Khatab berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila kamu mengunjungi orang sakit, mintalah ia untuk mendoakanmu, karena sesungguhnya doa mereka sama dengan doa malaikat.” (HR: Ibn Majah, dan lain-lain).

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi

Hadis yang dikutip An-Nawawi ini menunjukan bahwa selain mendoakan saudara dan teman yang sakit, seharusnya kita juga minta didoakan sebab doa mereka hampir sama dengan doa malaikat.

Orang yang sedang sakit biasanya mereka lebih ingat kepada Allah dan sering berdzikir kepada-Nya. Dirinya seakan-akan bersih dari dosa saking seringnya berdzkir seperti halnya para malaikat.

Orang yang dirinya bersih dosa biasanya permohonanya lebih didengar oleh Allah SWT. Maka dari itu, sering-seringlah mengunjungi orang sakit dan jangan lupa minta mereka agar mendoakan kita. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Hikmah, Kyai, Aswaja Santri An Nur Slawi

Senin, 08 Juni 2015

Gusdurian Baca Hizb Nashar dan Istighotsah di KPK

Jakarta,Santri An Nur Slawi. Puluhan anak muda pengagum dan pecinta KH Abdurrahman Wahid (Gusdurian) berkumpul di beranda gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, selepas magrib Ahad (1/2). Mereka berdoa dengan membacakan Hizb Nashar dan istigotsah.  

Hizb dan istigotsah itu merupakan doa yang dikeluarkan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama PBNU. Hal itu terlihat pada logo tiap lembar HVS yang dibaca tiap peserta.

Gusdurian Baca Hizb Nashar dan Istighotsah di KPK (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Baca Hizb Nashar dan Istighotsah di KPK (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Baca Hizb Nashar dan Istighotsah di KPK

Menurut salah seorang Gusdurian, Abdul Moqsith Ghazali, hal itu dilakukan untuk mendoakan supaya KPK selamat dari upaya kalangan tertentu yang akan melemahkan lembaga pemberantas korupsi tersebut.

Santri An Nur Slawi

Sengaja, kata dia, para Gusdurian berdoa dengan panjang karena tidak tahu bagian mana yang akan dikabulkan Allah. Tapi yakin, di antara doa itu ada yang dikabulkan. Berbeda dengan wali  yang berdoa dengan pendek karena sudah tahu doa mana yang akan diterima.

Santri An Nur Slawi

Ia menambahkan, para pengagum dan pecinta Gus Dur tersebut adalah para santri yang tinggal di Jakarta. Jangan diragukan lagi bahwa mereka orang-orang yang fanatik cinta tanah air. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Olahraga, Sunnah, Doa Santri An Nur Slawi

Kamis, 28 Mei 2015

Jeda Semester, Siswa MI Ma’arif Ziarahi Makam dan Tempat Bersejarah

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Usai ulangan akhir semester gasal siswa Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU Pojok Mojogedang Kabupaten Karanganyar memanfaatkan waktu luang untuk berziarah ke makam dan tempat bersejarah di Karanganyar. Kegiatan ini untuk pertama kalinya diikuti para siswa.

Jeda Semester, Siswa MI Ma’arif Ziarahi Makam dan Tempat Bersejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jeda Semester, Siswa MI Ma’arif Ziarahi Makam dan Tempat Bersejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jeda Semester, Siswa MI Ma’arif Ziarahi Makam dan Tempat Bersejarah

Menurut salah satu guru MI setempat Ahmad Rosyidi, ziarah ini dilaksanakan selama tiga hari Senin-Rabu (14-16/12), Senin khusus untuk kelas empat dan lima, Selasa kelas tiga, dan Rabu kelas dua.

Tempat yang dituju ialah makam Eyang Abdullah Fatah yang konon merupakan murid Sunan Kalijogo dan masjid tiban Darul Muttaqin yang menjadi masjid tertua di Karanganyar dan berlokasi di Kaliboto, Mojogedang.

Santri An Nur Slawi

“Meskipun lokasinya tidak jauh dari MI Ma’arif, para siswa mengaku baru pertama kali ziarah ke makam itu,” ungkapnya.

Selain berziarah para siswa juga mendapat kesempatan untuk masuk masjid untuk menunaikan shalat dhuha dan dilanjutkan dengan mendengarkan sejarah makam dan masjid tersebut dari Kiai Subhan.

Santri An Nur Slawi

Renacananya kegiatan semacam ini akan digelar kembali setiap usai semesteran, “mengingat banyaknya siswa yang tidak mengetahui sejarah dan makam-makam penyebar agama Islam di daerah Karanganyar khususnya, kegiatan ini akan dilanjutkan pada semester depan”, tandasnya. ? (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Sunnah Santri An Nur Slawi

Minggu, 24 Mei 2015

Ini Pemaknaan Simbol Pacul, Pedang, dan Keris

Sukoharjo, Santri An Nur Slawi. Kepolisian Resort (Polres) kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah menggelar acara bershalawat bersama Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjengnya. Acara yang dihadiri oleh ribuan masyarakat setempat tersebut digelar di halaman polres Jln. Jaksa Agung R. Suprapto 15 Grogol Sukoharjo, Jum’at (9/1).

Kegiatan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad 1436 H bertema “Jadikanlah akhlak dan kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai pijakan melakukan revolusi mental dalam pelaksanaan tugas”.

Ini Pemaknaan Simbol Pacul, Pedang, dan Keris (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pemaknaan Simbol Pacul, Pedang, dan Keris (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pemaknaan Simbol Pacul, Pedang, dan Keris

Tema tersebut dimaksudkan untuk mengajak? para pengemban amanah baik itu di lingkungan Polres, pejabat pemerintah, serta profesi apapun, untuk menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan? yang utama dalam bertindak, bertutur kata, maupun melaksanakan tugas kedinasan.

Santri An Nur Slawi

Emha Ainun Nadjib menyampaikan tema pusaka sebagai simbol kemuliaan yang ada didalam diri masing-masing. Dalem kesempatan itu, pria yang akrab disapa Cak Nun menjelaskan filosofi pacul, pedang, keris yang menjadi tiga simbol fungsi.

Santri An Nur Slawi

“Pacul atau cangkul itu adalah simbol dari fungsi ekonomi karena pacul biasa dipakai oleh petani untuk menggarap sawah,” katanya.

Sedangkan pedang, kata dia, biasa digunakan dalam peperangan. Benda itu merupakan simbol dari fungsi kekuasaan.

Sementara keris, lanjut dia, adalah simbol dari fungsi pusaka. “Nah kalau manusia ingin mulia harus punya pusaka, dan pusaka itu tidak harus keris namun amalan-amalan ringan yang dilakukan secara istiqomah itu bisa menjadi pusaka,” ungkap Cak Nun diiringi riuh tepuk tangan jama’ah.

Acara sholawatan dan taushiah pada malam tersebut menghadirkan keluasan dan kedalaman ilmu, juga kegembiraan bersama. Bahkan sebagian jama’ah tertahan di jalan dan mengikuti melalui proyektor yang disediakan. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Berita Santri An Nur Slawi

Rabu, 06 Mei 2015

Arief Mudatsir Kembali Pimpin IKA-PMII

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) ke-5 di Jakarta, Selasa (2/7) malam, memilih pemimpin baru. Forum menetapkan Arief Mudatsir Mandan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar IKA-PMII periode 2013-2018.

Arief terpilih untuk kedua kalinya setelah melalui proses pemilihan langsung satu putaran dalam sidang pleno yang dipimpin Ketua PBNU H Arvin Hakim Thoha. Hasil pemungutan suara menujukkan Arief meraih 71 suara dari 130 surat suara sah.

Arief Mudatsir Kembali Pimpin IKA-PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Arief Mudatsir Kembali Pimpin IKA-PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Arief Mudatsir Kembali Pimpin IKA-PMII

Sidang pleno pemilihan ketua umum ini berlangsung tanpa menetapkan bakal calon atau calon terlebih dahulu. Selain Arief, peserta Munas juga memilih 7 nama lainnya, antara lain, Andi Jamaro dengan 50 suara, Amsar Dulmanan (3 suara), Ali Masykur Musa (2 suara), Surya Dharma Ali (1 suara), As’ad Said Ali (1 suara), Muhaimin Iskandar (1 suara), dan Pantas Tarigan (1 suara).

Santri An Nur Slawi

Dalam sambutannya, Arief menegaskan bahwa tugas yang ia terima merupakan amanat yang mesti dilaksanakan secara maksimal. ”Seperti yang pernah saya sampaikan, ini adalah periode konsolidasi gagasan, memperteguh silaturahim dan jaringan, serta mengerjakan  program-program konkret,” ujarnya.

Santri An Nur Slawi

Menurut dia, masa kepemimpinannya 2008-2013 merupakan periode konsolidasi internal. Dia yakin, IKA-PMII mampu tampil unggul di antara alumni organisasi-organisasi lain. Namun, Arief meminta dukungan berbagai pihak dalam menggerakkan organisasi.

”Saya hanya seorang Arief. Tanpa dukungan dari sahabat-sahabat sekalian, dari pengurus cabang, pengurus wilayah, dan senior-senior, saya kira tidak akan menjalankan program,” pungkasnya.

Struktur kepengurusan ditetapkan malam ini oleh tim formatur yang terdiri dari ketua umum terpilih Arief Mudasir, sekretaris jendral PB IKA-PMII demisioner Effendy Choirie, dan 5 utusan Pengurus Wilayah IKA-PMII, yakni dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Timur.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pesantren Santri An Nur Slawi

Kamis, 30 April 2015

Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul

Yogyakarta, Santri An Nur Slawi - Nur Laily Fauziah, santri Pesantren Al-Imdad Bantul menjadi yang terbaik dalam Lomba Kader Poskestren Santri Siaga 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Rabu (13/4). Melewati tiga babak sengit, Nur Laily berhasil menyisihkan 102 peserta dari pesantren-pesantren seantero Bantul.

Di babak pertama, Nur Laily yang juga tercatat sebagai siswi MA unggulan Al-Imdad itu harus menjawab 50 soal tertulis. Ia berhasil terpilih bersama sembilan peserta lain untuk maju ke babak kedua, babak wawancara. Di babak ini, para peserta harus menghadapi cecaran pertanyaan dari dewan juri terkait lima materi uji seperti Lima Tatanan PHBS, Persiapan Pra Nikah, Pesantren Berwawasan Lingkungan, Bahaya NAPZA dan Kawasan Dilarang Merokok, serta Kesehatan Reproduksi Remaja dan IMS.

Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul

Di babak ini, Nur Laily kembali mampu menundukkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dewan juri. Ia pun menjadi sebagai salah satu dari lima peserta yang berhak maju ke babak ketiga, praktik kultum kesehatan. Pada putaran ini peserta harus menyampaikan kultum dengan satu materi dari lima tema yang sudah disediakan panitia, yaitu PHBS, NAPZA, Pesantren Berwawasan Lingkungan, Peran Aktif Remaja dalam Mewujudkan Kawasan Dilarang Merokok, dan Kesehatan Reproduksi Remaja.

Santri An Nur Slawi

Peserta di babak ini tidak bisa serta-merta membawakan kultum dengan tema yang ia inginkan. Mereka harus memilih nomor undian yang merepresentasikan tema. Saat diundi, Nur Laily Fauziah mendapatkan tema NAPZA. Di akhir lomba, ia pun berhasil menjadi yang terbaik.

Kepala Sub Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dr Guppianto Susilo mengatakan, “Lomba Kader Poskestren dengan tema Santri Sehat ini kita harap mampu meningkatkan pengetahuan anak-anak remaja kita di pesantren. Dengan harapan kelak mereka akan menyebarkan pengetahuan tersebut saat kembali ke masyarakat nantinya.” (Muhammad Yusuf Anas/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Sejarah Santri An Nur Slawi

Kamis, 16 April 2015

Pesantren Ramadhan SMK NU 1 Slawi Bagikan Beasiswa

Tegal, Santri An Nur Slawi. Untuk kesekian kalinya, SMK Nahdlatul Ulama (NU) 01 Slawi, Kabupaten Tegal membagi-bagikan beasiswa saat acara pesantren ramadan. Di tahun lalu, sekolah yang memiliki siswa lebih dari 1000 anak didik ini membagikan beasiswa berupa SPP gratis selama tiga bulan kepada beberapa anak didiknya.?

Pesantren Ramadhan SMK NU 1 Slawi Bagikan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Ramadhan SMK NU 1 Slawi Bagikan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Ramadhan SMK NU 1 Slawi Bagikan Beasiswa

Sedangkan di tahun ini, kembali memberikan beasiswa kepada tujuh siswanya yang berhasil menjawab pertanyaan dari sang kiai. Dua ? siswa diantaranya sudah diberikan sepekan silam saat sekolah tersebut mendatangkan KH Lutful Hakim untuk memberikan tausyiah. Kemudian lima siswa lainnya, diberikan Kamis (15/6), saat pihak sekolah menghadirkan Habib Ali Zaenal Abidin.

"Setiap pesantren ramadan, kami selalu membagi-bagikan beasiswa. Caranya mudah, setiap kiai memberikan pertanyaan dan siswa mampu menjawab, langsung kami berikan SPP gratis selama tiga bulan," kata Kepala SMK NU 1 Slawi, H Ali Saefudin.

Ali mengungkapkan, kelima siswa yang berhasil menerima beasiswa antara lain, Siti Nurul Aeni siswa kelas XI AK1, Tika Herawati kelas XI AK3, Riza Septiani kelas X AP4, Riski Ayu Murniati kelas XI AP3, dan Yulis Nur kelas X TKJ 2.?

Sedangkan dua siswa yang mendapatkan beasiswa sepekan silam bernama, Putri Nurhaliza siswi kelas X AK3 dan Siti Roliah siswi kelas XI AK3. "Beasiswa ini sengaja kami berikan supaya siswa lebih giat belajar," ucapnya.

Santri An Nur Slawi

Menurut Ali, bonus ramadan yang dibagikan kepada anak didiknya, tidak hanya dari pihak sekolah. Habib Ali yang sengaja diundang untuk mengisi tausyiah, juga membagikan hadiah kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaannya.?

Adapun, siswa yang beruntung mendapatkan hadiah dari Habib Ali yaitu, Dewi Puspita siswa kelas XI AK1, Gita Apriliani kelas XI AK2, Siti Neli kelas XI ? AK2 dan Ikmaludin kelas XI TKR.

"Mereka mendapatkan hadiah uang tunai dari Habib Ali," ujarnya.

Santri An Nur Slawi

Sementara, mantan Wakil Wali Kota Tegal Habib Ali Zaenal Abidin saat menyampaikan tausyiahnya mengatakan, jika ingin hidup damai di dunia, maka dekatilah Allah SWT. Caranya dengan shalat, membaca Al Quran, dan melakukan sedekah.?

"Jika kita sudah melakukan itu, Insya Allah hidup kita akan damai dan tenang," ucapnya.?

Dalam kesempatan itu, Habib Ali juga menyampaikan tentang perbuatan yang dapat membatalkan pahala puasa. Diantaranya, bergunjing aib orang lain, menghasut orang lain, memandang lain jenis dengan syahwat, fitnah, dan saksi palsu. Diharapkan, umat muslim harus bisa menghindari hal itu.?

"Bulan puasa adalah bulan mulia, semua amalan dilipat gandakan. Amalan sunah akan diberi pahala seperti ibadah wajib. Untuk bulan puasa ini jangan disia-siakan. Lakukanlah yang terbaik untuk menimba pahala," tukasnya. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah, Kyai Santri An Nur Slawi

Minggu, 12 April 2015

Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution





Harun Nasution, profesor yang pernah menjabat Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pernah menulis sebuah buku yang berjudul Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. KH Said Aqil Siroj mengkritisi beberapa poin dalam buku itu.

Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution (Sumber Gambar : Nu Online)
Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution (Sumber Gambar : Nu Online)

Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution

Saat itu Ketua Umum PBNU yang punya spesialisasi kajian bidang tasawuf itu masih menjadi dosen di Pascasarjana IAIN Jakarta. “Terima kasih Pak Aqil, terima kasih,” kata Kang Said, menirukan ucapannya Harun Nasution ketika tahu bukunya itu dikritisi. hal itu disampaikan di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (2/11).

Poin yang dikritisi oleh Kang Said adalah kata anna yang dimaknai oleh Harun Nasution dengan ke-aku-an. Padahal makna yang terkandung dalam istilah yang dicetuskan oleh Ibnu Al-Arabi tersebut adalah anniyatul haq, yaitu alwujud alhaqiqi huwa Allah, artinya wujud yang hakiki adalah Allah. Adapun makna ke-aku-an ada dalam kata ananiyah.

Koreksi Kang Said selanjutnya adalah pada soal fana dan baqa yang ditempatkan oleh Prof. Harun sebagai maqamat, padahal fana dan baqa bukanlah bagian dari maqamat, keduanya adalah hal.

Santri An Nur Slawi

Selain itu, koreksi yang disampaikan Kang Said adalah mengenai konsep fana dan baqa, menurut Prof Harun, fana dan baqa ini pertama kali dicetuskan oleh Abu Yazid Al-Bustami, padahal itu adalah dari Imam Junaid Al-Bagdadi, konsep fana dari Abu Yazid, sementara konsep baqa dari Imam Junaid.

“Pak Harun bagus sekali, orangnya ikhlash,” kenang Kang Said. (Aiz Luthfi/Anam)

?

Santri An Nur Slawi

Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution

Harun Nasution, profesor yang pernah menjabat Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pernah menulis sebuah buku yang berjudul Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. KH Said Aqil Siroj mengkritisi beberapa poin dalam buku itu.

?

Saat itu Ketua Umum PBNU yang punya spesialisasi kajian bidang tasawuf itu menjadi dosen di Pascasarjana IAIN Jakarta. “Terima kasih Pak Aqil, terima kasih,” kata Kang Said, menirukan ucapannya Harun Nasution ketika tahu bukunya itu dikritisi. hal itu disampaikan di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (2/11).

?

Poin yang dikritisi oleh Kang Said adalah kata anna yang dimaknai oleh Harun Nasution dengan ke-aku-an. Padahal makna yang terkandung dalam istilah yang dicetuskan oleh Ibnu Al-Arabi tersebut adalah anniyatul haq, yaitu alwujud alhaqiqi huwa Allah, artinya wujud yang hakiki adalah Allah. Adapun makna ke-aku-an ada dalam kata ananiyah.

?

Koreksi Kang Said selanjutnya adalah pada soal fana dan baqa yang ditempatkan oleh Prof. Harun sebagai maqamat, padahal fana dan baqa bukanlah bagian dari maqamat, keduanya adalah hal.

?

Selain itu, koreksi yang disampaikan Kang Said adalah mengenai konsep fana dan baqa, menurut Prof Harun, fana dan baqa ini pertama kali dicetuskan oleh Abu Yazid Al-Bustami, padahal itu adalah dari Imam Junaid Al-Bagdadi, konsep fana dari Abu Yazid, sementara konsep baqa dari Imam Junaid.

?

“Pak Harun bagus sekali, orangnya ikhlash,” kenang Kang Said. (Aiz Luthfi/Anam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Internasional, Hikmah Santri An Nur Slawi