Kamis, 30 Januari 2014

PMII Sukoharjo Tolak Upaya Pelemahan KPK

Sukoharjo, Santri An Nur Slawi. Belasan kader PMII Sukoharjo menggelar aksi di Bundaran Tugu Kartasura Sukoharjo, Selasa (27/1). Mereka menggelar aksi teaterikal dan membentangkan sejumlah poster yang bertuliskan antara lain “Save Rakyat Indonesia”, “Bersihkan Polri dari Mafia”, dan “Presiden Harus Bersikap Tegas”.

Menurut Ketua PMII Sukoharjo David Zainuddin dalam orasinya menyatakan pihaknya menudukung upaya pemberantasan korupsi. Meski demikian, dalam aksinya kali ini PMII Sukoharjo tidak membela oknum dalam institusi Polri maupun KPK.

PMII Sukoharjo Tolak Upaya Pelemahan KPK (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sukoharjo Tolak Upaya Pelemahan KPK (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sukoharjo Tolak Upaya Pelemahan KPK

“Kami menolak segala pelemahan terhadap KPK. Kami ingin KPK tetap ada,” kata David.

Santri An Nur Slawi

Dalam kesempatan itu, David juga melontarkan sikapny terhadap Menpolhukam Tedjo Edhy Purdjianto yang dianggap memperkeruh konflik.

“Pernyataan menyebut ‘rakyat tidak jelas’ itu sangat tidak pantas diucapkan seorang menteri. Pernyataan itu melukai hati rakyat. Kami menuntut Tedjo dicopot dari jabatannya sebagai menteri,” tegas David.

Santri An Nur Slawi

Di sela aksi, kader PMII Sukoharjo juga menampilkan aksi teatrikal, di mana salah seorang dari mereka mengenakan pakaian ala pocong. Menurut mereka, pertunjukan ini menjadi simbol kematian atas gerakan pemberantasan korupsi.

Aksi damai ini kemudian ditutup dengan pembacaan tahlil dan doa untuk keselamatan bangsa Indonesia. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Sejarah Santri An Nur Slawi

IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad

Tasikmalaya, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU)Kota Tasikmalaya, mengerahkan seluruh kader dan anggotanya untuk menyambut para peserta Kirab Resolusi Jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabu (19/10).

IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad

Acara penyambutan ini bertempat didepan Kantor PC NU Kota Tasikmalaya di jalan Dr. Soekardjo Nomor 47. Selaian para anggota dan kader IPNU IPPNU se-Kota Tasikmalaya, para pengurus pun diwajibkan hadir pada acara tersebut. Mulai dari Pengurus Cabang, Anak Cabang, Ranting dan Komisariat se-Kota Tasikmalaya.

Dengan mengerahkan semua anggota, kader dan pengurusnya untuk menyambut peserta kirab, IPNU IPPNU harus menjadi lapisan terdepan untuk semua kegiatan-kegiatan yang berbaur NU.

Menurut ? Ketua PC IPNU Kota Tasikmalaya, Saepul Malik, ia sangat bangga dan senang menyambut peserta Kirab Resolusi Jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), disisi lain sebagai Anak dari NU, IPNU juga harus menjadi garda terdepan ketika ada acara-acara NU, karena biarkan IPNU yang terjun ke lapangan dengan basah-basahan demi keberlangsungan dan kebesaran NU.

“NU merupakan orang tua kita yang harus kita takdzimi dan kita hormati, biarkan IPNU cape terjun ke lapangan sehingga kecapean tersebut menjadikan spirit kita untuk tetap istiqomah mengabdi di organisasi tercinta ini yaitu NU,” tambah Saepul.

Santri An Nur Slawi

Ia juga mengingatkan semua anggota, kader dan pengurus IPNU baik di PAC, PR dan PK, harus kompak dalam mengawal dan menyukseskan serta ikut terjun dan berpasrtisipasi dalam semua acara-acara NU demi kemaslahatan dan kebesaran NU. (Agum Gumilar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Daerah, Hadits, Pendidikan Santri An Nur Slawi

Senin, 20 Januari 2014

Berita Nahdlatoel Oelama

Majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) diterbitkan Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (PBNU), dengan alamat kantor NU, Sasak No 66, Surabaya. Menurut sebuah sumber, majalah tersebut terbit pertama kali pada tahun 1931.?

Pada terbitan Nomor pertama Tahun kelima, Muharam ? terbit pada 1 Januari 1936, terdapat keterangan yang mengungkapkan kebahagiaan bahwa majalah ini bisa terbit ? half maandblad atau terbit sebulan dua kali. Di edisi itu pula tertulis keterangan bahwa majalah tersebut diupayakan oleh para ulama NU.?

Berita Nahdlatoel Oelama (Sumber Gambar : Nu Online)
Berita Nahdlatoel Oelama (Sumber Gambar : Nu Online)

Berita Nahdlatoel Oelama

Para ulama berharap, majalah tersebut dapat berperan sebagai obor kaum Muslimin pada umumnya dan Nahdliyin khususnya.?

Santri An Nur Slawi

Di dalam kota redaksi tercatat K. Machfoed Siddik Djember sebagai Hoofd Redacteur, dan K. Abdullah Oebaid Surabaya, KH Eljas Tubuireng dan KH A Wahid sebagai Redacteur. Sementara itu, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng, KH Abdul Wahab Chasbullah Surabaya, dan KH Bisri Kauman duduk sebagai Mede Redacteur.

Santri An Nur Slawi

Majalah BNO berbeda dengan majalah yang diterbitkan NU pada masanya. Jika majalah lain hanya berisi artikel-artikel keagamaan dan keorganisasian NU, maka BNO memuat banyak jenis tulisan, dari agama, organisasi, ekonomi, hingga permasalahan tanah dan pertanian. Dimuat juga tulisan-tulisan bertema politik dari dalam negeri ataupun luar negeri yang sedang berkembang pada masanya.?

Berita-berita NU di berbagai daerah juga termuat, bahkan hingga NU Teluk Lubuk, di Sumatra Selatan.?

Sebagai majalah berbasis aliran keagamaan, BNO tak lupa merespon dan membela keyakinannya. Nomor 9 Tahun 9 misalnya, majalah ini merespon tulisan yang ada di majalah Adil terbitan Muhammadiyah tentang hukum Azimat.?

BNO Nomor Pertama Tahun kesepuluh, Nopember 1940, juga merespon perselisihan Persatuan At-Tarbiyatul Islamiyah dengan Hamka tengang tarikat an-Naqsabandiyah yang diungkapkan dalam majalah Al-Mizan (majalah milik Persatuan At-Tarbiyatul Islamiyah yang terbit di Bukit Tinggi).?

BNO menolak keras padangan Hamka yang mengatakan tarikat itu sesat menyesatkan. dan mendukung terbitan majalah Al-Mizan.

Tak ketinggalan pula, seperti umumnya terbitan di NU, majalah ini, tiap terbitannya memuat nama-nama kyai, ulama, atau aktivis organisasi yang sudah meninggal. Maksdunya, meminta para pembaca untuk sholat ghoib atau berkirim doa.

Majalah BNO beredar di banyak kota, dari Madura, hampir semua kota di Jawa Timur, Yogyakarta, kota-kota di jawa Tengah hingga Cirebon, Tasikmalaya, Bandung dan Jakarta. Pertanyaan-pertanyaan seputar keagamaan juga dikirimkan dari Lampung.?

Keragaman iklan yang dimuat juga menggambarkan keragaman pembaca. Dari iklan toko kain hingga tiket kapal laut, dari tukang jahit hingga toko buku yang menjual buku-buku Kristen, dari toko emas imitasi hingga iklan hotel, hingga iklan toko dasi bergambar lambang Muhammadiyah, semua ada. Dari sisi tampilan, majalah ini juga lebih rapi, baik sampul dan tata letak halamannya yang menggunakan tiga kolom di tiap halaman.

Ditemukan edisi No. 6/Tahun XII/Juni - Juli 1952 kolektor majalah Kemala Atmojo. Ada perubahan besar di edisi nomor tersebut, terbitan tidak sebulan dua kali lagi, tapi terbit dua bulan sekali. Perubahan lain adalah perpindahan alamat ke Jalan Maluku II/1, Semarang dan untuk alamat administrasi di Jalan Pekodjan 157, Kudus.?

Penerbitan majalah dikelola oleh PBNU bagian Da’wah. Susunan redaksi pada edisi yang sampul berwarna merah memasang foto Kyai Wahab Chasbullah sedang berpidato tersebut terdiri dari Pemimpin Redaksi: Saifuddin Zuhri. Anggota Redaksi: K.H.A. Wahid Hasjim; K.H. M. Dahlan; K.H. M. Iljas; A.A. Achsien; Idham Chalid; A. Fattah Jasin; Ahmad Shiddieq; Umar Burhan; A. Ch. Widjaja; K. R. Amin Tjokrowidagdo; Nurjaman. Administrasi: M. Zainury Noor. Belum ditemukan waktu perubahan majalah ini. Dan belum ada informasi yang pasti kapan berakhirnya majalah ini. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi AlaSantri, Lomba Santri An Nur Slawi

Kamis, 09 Januari 2014

Soal Kuliah, Santri Tak Kalah dari Lulusan Sekolah

Padangpariaman, Santri An Nur Slawi

Prestasi santri yang belajar di pondok pesantren tidak kalah dibanding dengan murid di sekolah lain. Santri tamatan pondok pesantren dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi ke mana saja. Bahkan, sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) saat ini memberikan apresiasi kepada santri yang hafal Al-Qur’an, melalui program rekrutmen mahasiswa baru tanpa tes. Itu artinya santri mendapat apresiasi atas prestasinya.

Soal Kuliah, Santri Tak Kalah dari Lulusan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Kuliah, Santri Tak Kalah dari Lulusan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Kuliah, Santri Tak Kalah dari Lulusan Sekolah

Mantan Menteri Agama RI Prof Said Agil Husin Al Munawar mengungkapkan hal itu di hadapan ratusan santri, majelis guru dan ulama di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat, Sabtu (1/10) malam.

Said hadir sebagai pembicara utama dalam halaqah nasional bertemakan, “Mengkaji tentang Hisab dan Rukyat”, yang dihadiri Wakil Bupati Padangpariaman Suhatri Bur dan Ketua Yayasan Pembangunan Islam El Imraniyah (PYII) Ringan-Ringan Idarussalam Tuanku Sutan.

Santri An Nur Slawi

Menurut Said, santri tak boleh lupa dengan gurunya, serta wajib menghormati gurunya agar ilmu yang diperoleh berkah. “Setiap akan tidur wirid membaca al-Fatihah kepada guru yang sudah memberikan ilmunya. Termasuk kepada orang tua tentunya. Dengan membaca dan mengirimkan Al Fatihah kepada guru, berarti santri sudah menjalin hubungan rohani dengan gurunya. Sekalipun sang guru sudah wafat,” kata Said yang mengaku memiliki koleksi kitab (buku) satu rumah ini.

Dikatakan, keikhlasan menjadi ciri dari guru yang mengajar di pondok pesantren, sanad kitabnya pun jelas, sehingga ilmunya berkah. Ia juga mengingatkan santri agar tidak mudah puas dalam belajar. Justru, katanya, semakin banyak ilmu yang kita ketahui, semakin terasa kita ini banyak yang tidak diketahui.

Santri An Nur Slawi

“Ilmu agama Islam itu amat luas. Ada ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadist, kalam, dan lain-lainnya yang satu sama lain saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Semua ilmu itu menjadi satu rangkaian yang patut menjadi perhatian setiap santri yang mendalami agama Islam,” tutur Said.

“Untuk mendalami pemikiran ulama terdahulu dari kitab yang berjilid-jilid, pondok pesantren harus memiliki perpustakaan yang memadai, sehingga santri dapat merujuk hadist-hadist dan pemikiran ulama kepada kitab yang ada di perpustakaan. Ketika menjabat Menteri Agama RI, beberapa pesantren di Indonesia saya bantu perpustakaannya hingga Rp300 juta. Pesantren Nurul Yaqin juga harus memiliki perpustakaan,” kata Said Aqil Husein yang juga mantan pengurus PBNU ini.

Ketua Yayasan PYII Ringan-Ringan? Idarussalam Tuanku Sutan mengatakan, keluarga besar Pesantren Nurul Yaqin memang merasakan hausnya akan ilmu. Untuk itu, berbagai tokoh nasional terus didatangkan ke sini agar santri dan majelis guru mendapatkan ilmu? agama dan perkembangan terkini. Sebelumnya sudah datang mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan Ketua Umum PBNU Prof. KH Said Aqil Siraj. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Amalan Santri An Nur Slawi