Jumat, 10 Juli 2015

Tiga Teladan Metode Dakwah Rasulullah

Solo, Santri An Nur Slawi. Menurut catatan dalam sejarah Islam, dakwah Nabi Muhammad Saw dapat dikelompokkan menjadi dua fase, yakni sebelum dan sesudah hijrah. Pada kedua fase tersebut, ada beberapa perbedaan pendekatan dakwah yang dilakukan nabi, yang penting untuk dipelajari umat Islam.

“Mempelajari dakwah seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad yaitu pertama kita harus mengetahui ada dua fase yang dilewati oleh Rasulullah yaitu fase sebelum dan setelah hijrah,” kata pengasuh Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhah, Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus, pada acara “UNS Bersholawat”, Kamis malam, (31/3).

Tiga Teladan Metode Dakwah Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Teladan Metode Dakwah Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Teladan Metode Dakwah Rasulullah

Pada fase pertama, lanjut Habib Novel, yakni masa sebelum hijrah dapat diketahui dengan melihat bahwa sikap Rasulullah meliputi seluruh sifat kebaikan. “Meskipun terdapat perlakuan membenci maupun mengingkari dari beberapa orang kala itu, tapi Rasulullah membalasnya dengan kebaikan,” tutur penasihat GP Ansor Solo ini.

Sedangkan fase setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah mengajarkan metode dakwah yang sangat luar biasa. “Pertama, mengucapkan salam setiap bertemu dengan sesama. Kedua, memberi makan dan ketiga yaitu melakukan shalat malam dikala orang lain tertidur lelap,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut Habib Novel berulang kali mengingatkan para jamaah untuk senantiasa menghiasi kebaikan dalam segala hal. Selain itu, ia mengajak para jamaah untuk bergerak bersama dalam melakukan dakwah Islam di kampus.

Santri An Nur Slawi

Kegiatan “UNS Bersholawat” terselenggara atas kerjasama Komunitas PMII Kentingan Bersholawat dengan Takmir Masjid NH dan Himakesja.

“Ke depan komunitas bersholawat ini, diharapkan bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat mereka dalam seni. Rencana kita juga akan membuka dua kelas pelatihan yaitu masing-masing adalah kelas pelatihan rebana dan kelas pelatihan seni dan baca Al-Qur’an,” terang Miftah, mahasiswa program studi Fisika UNS yang ditunjuk sebagai ketua panitia. (Ajie Najmuddin/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi

Selasa, 07 Juli 2015

Dua Tahun, Keaktifan Pelajar NU MAN 3 Tak Terbantahkan

Cirebon, Santri An Nur Slawi. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Cirebon lantik salah satu Pimpinan Komisariat (PK) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Cirebon yang berada di wilayah lingkungan Pondok Pesantren Buntet, Ahad (19/11).  

Pimpinan Komisariat MAN 3 Cirebon baru terbentuk dua tahun yang lalu. Artinya kepengurusan yang baru saja dilantik ini adalah angkatan kedua. 

Dua Tahun, Keaktifan Pelajar NU MAN 3 Tak Terbantahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tahun, Keaktifan Pelajar NU MAN 3 Tak Terbantahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tahun, Keaktifan Pelajar NU MAN 3 Tak Terbantahkan

Ketua Pimpinan Cabang IPPNU Kabupaten Cirebon, Nurjannah mengatakan wwalaupun PK IPNU IPPNU 3 Cirebon terbilang masih sangat baru, namun termasuk sangat aktif di Kabupaten Cirebon. 

“Itu dibuktikan dengan selalu hadir dan terlibat dalam setiap undangan dan kegiatan yang diselenggarakan oleh PC IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon," ungkapnya.  

Tak sekadar itu, PK IPNU-IPPNU MAN 3 Cirebon juga kerap kali tampil mementaskan drama musikalisasi di momen-momen besar di Cirebon dan luar Cirebon.

Santri An Nur Slawi

"Tahun lalu pentas di Hari Santri Nasional yangg diselenggarakan oleh PBNU dan RMI di Yogyakara," Nurjannah menambahkan. 

Santri An Nur Slawi

Sementara Utami Barokah selaku Pembina PK IPNU-IPPNU MAN 3 Cirebon mengungkapkan rasa bersyukur karena MAN 3 Cirebon ini telah dibentuk IPNU-IPPNU.

“Mudah-mudahan PK IPNU IPPNU MAN 3 Cirebon selalu  semangat, antusias dan kompak dalam mengabdi di NU melalui IPNU-IPPNU," harapnya. (Jannet/Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Cerita, Tegal, Quote Santri An Nur Slawi

Jumat, 03 Juli 2015

Liburan Ala Guru Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan

Balikpapan, Santri An Nur Slawi? . Para guru Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan mengissi leiburan yang dikemas dengan kegiatan Family Day. Kegiatan yang mengikutsertakan keluarga para guru tersebut bertema "Kesederhanaan dalam Kebersamaan".

Kegiatan di pantai Manggar II Balikapapan, Kalimanatan Timur pada Ahad (20/12) tersebut dimeriahkan dengan berbagai lomba-lomba olahraga seperti voli, sepak bola, dan tarik tambang. Tim dibentuk dengan kategori putra bujangan melawan tim berkeluarga. Pada lomba voli dimenangkan tim guru bujangan dengan skors (2-1) dan untuk sepak bola dimenangkan tim guru berkeluarga dengan skors(5-4).?

Liburan Ala Guru Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Liburan Ala Guru Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Liburan Ala Guru Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pembagian dourprize sekaligus selamatan arisan bulanan guru-guru yang sudah biasa dilaksanakan pada akhir bulan.?

Santri An Nur Slawi

Menurut sala satu guru, Abdul Adzim, kegiatan seperti ini bisa dijadikan refreshing untuk para guru dalam mengisi di liburan semester. Menurut dia, ini adalah wahana bersama-sama walaupun dalam kesederhanaan.

Santri An Nur Slawi

Kepala Biro Pendidikan dan Pengajaran Pondok Pesantren Syaichona Cholil Siti Fatimah mengatakan kegiatan rutinan ini merupakan salah satu cara untuk memepererat tali silaturahim untuk semua guru mulai dari TK, SMP, SMA, SMK berserta keluarganya. (Sainuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Budaya, Quote Santri An Nur Slawi

Islam Tersebar di Nusantara Melalui Dua Cara, Apa Saja?

Tangerang Selatan, Santri An Nur Slawi. Dosen Fakultas Ilmu Politik dan Sosial UIN Jakarta M Zaki Mubarak mengatakan, Islam masuk ke Nusantara melalui dua cara. Pertama, lewat elit kerajaan. Biasanya raja-raja kerajaan Islam di Nusantara memiliki penasehat keagamaan. Tugas mereka tidak hanya memberikan nasehat kepada raja, tetapi juga berdakwah ke tengah masyarakat.  

“Mereka juga menyebarkan Islam dengan menggunakan fasilitas dan anggaran kerajaan,” kata Zaki saat menjadi pemateri diskusi di Islam Nusantara Center Ciputat Tangerang Selatan, Sabtu (16/12).

Kedua, lewat masyarakat bawah. Islam tersebar di hampir seluruh wilayah Nusantara juga dibawa masyarakat secara kultural. Mereka menyebarkan Islam tanpa campur tangan kerajaan pada waktu itu. 

Islam Tersebar di Nusantara Melalui Dua Cara, Apa Saja? (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Tersebar di Nusantara Melalui Dua Cara, Apa Saja? (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Tersebar di Nusantara Melalui Dua Cara, Apa Saja?

Zaki menuturkan, di dalam sejarahnya Islam berkembang dengan begitu baik dan pesat, baik melalui elit kerajaan atau pun masyarakat bawah.

“Dua-duanya berkembang dengan bagus,” tegasnya.

Santri An Nur Slawi

Menguatnya Islam di beberapa wilayah di Nusantara, lanjut Zaki, menyebabkan Kristenisasi yang dibawa penjajah terhambat dan bahkan tidak berkembang baik kecuali di wilayah-wilayah yang belum ada Islam. Selain itu, metode yang digunakan penjajah untuk menyebarkan Kristen juga kurang begitu baik. Berbeda dengan metode para pendakwah dalam menyebarkan Islam yang mudah diterima karena berbaur dengan budaya lokal. 

“Secara fisik berbeda jauh (antara penyebar Kristen dengan masyarakat Nusantara). Ini yang menyebabkan Kristenisasi tidak berjalan dengan bagus,” tambahnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Budaya, IMNU Santri An Nur Slawi