Senin, 22 November 2010

Sejarah Tahlil

Judul Buku : Sejarah Tahlil

Penulis : KH Muhammad Danial Royyan

Tebal : viii, 72

Penerbit : LTN NU Kendal bekerjasama dengan Pustaka Amanah Kendal

Sejarah Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Tahlil

Cetakan : pertama, 17 Februari 2013

Peresensi : Fahroji

Santri An Nur Slawi

Munculnya kembali ideologi dan faham Salafi Wahabi dengan berbagai bentuk organisasinya yang telah menyebar ke tengah masyarakat lintas bangsa dan negara (ideologi transnasional) sekarang ini yang cenderung memusyrikkan dan membid’ahkan amaliah yang sudah ada, maka, mau tidak mau semua hal yang berkaitan dengan amaliah agama harus diketahui lengkap dengan dalil-dalilnya.

Santri An Nur Slawi

Kondisi tersebut telah menimbul keprihatinan di kalangan ulama dan pengurus NU di berbagai wilayah dan cabang, salah satunya PCNU Kendal. KH Muhammad Danial Royyan penulis buku ini yang juga ketua tanfidziyah PCNU Kendal periode 2012-2017 menuangkan kegelisahannya dengan menulis buku Sejarah Tahlil. Tradisi Tahlilan yang merupakan salah satu sasaran tembak bagi kaum salafi wahabi perlu mendapatkan pembelaan agar kaum Nahdliyyin tidak menjadi ragu atas amaliah yang dilakukan secara turun-temurun dan masih berkembang di masyarakat hingga saat ini.

Buku Sejarah Tahlil yang dicetak dalam ukuran saku tersebut memaparkan bagaimana tradisi bacaan Tahlil sebagaimana yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini tidak terdapat secara khusus pada zaman nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tetapi tradisi itu mulai ada sejak zaman ulama muta’akhirin sekitar abad sebelas hijriyah yang mereka lakukan berdasarkan istimbath dari Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, lalu mereka menyusun rangkaian bacaan tahlil, mengamalkannya secara rutin dan mengajarkannya kepada kaum muslimin.

Dalam buku tersebut juga diulas siapa sebenarnya yang pertama kali menyusun rangkaian bacaan tahlil dan mentradisikannya. Menurut penulis buku ini, hal tersebut pernah dibahas dalam forum Bahtsul Masail oleh para kyai Ahli Thariqah. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang pertama menyusun tahlil adalah Sayyid Ja’far Al- Barzanji. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa yang menyusun tahlil pertama kali adalah Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Dari dua pendapat tersebut, pendapat yang paling kuat tentang siapa penyusun pertama tahlil adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa Imam Al- Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid Ja’far Al – Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H.

Pendapat tersebut diperkuat oleh tulisan Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam syarah Ratib Al Haddad, bahwa kebiasaan imam Abdullah Al Haddad sesudah membaca Ratib adalah bacaan tahlil. Para hadirin yang hadir dalam majlis Imam Al Haddad ikut membaca tahlil secara bersama-sama tidak ada yang saling mendahului sampai dengan 500 kali.

Disamping mengulas sejarah tahlil, buku setebal 72 hal itu juga membahas argumentasi tahlil dan pahala bacaanya yang diyakini bisa sampai kepada mayyit. Pada bab-bab berikutnya penulis juga mengupas tentang talqin dan ziarah kubur lengkap dengan pengertian, tatacara dan argumentasi pelaksanaannya. Buku ini wajib dibaca oleh warga Nahdliyyin di Kendal karena memang diterbitkan dalam rangka penggalian dana NU Kendal dan menggantikan model penggalian dana dengan lewat stiker. Sungguhpun demikian buku ini juga perlu dibaca oleh warga NU dimana saja berada.

Peresensi adalah kontributor Santri An Nur Slawi Kendal

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kyai Santri An Nur Slawi

Minggu, 14 November 2010

Ratusan Orang Peringati Haul ke-7 KH M Syafii Hadzami

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Sedikitnya 600 orang memadati kompleks perguruan Al-Asyiratus Syafi‘iyah, jalan KH M Syafi‘i Hadzami nomor 40, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Mereka memperingati acara haul ke-7 KH M Syafi‘i Hadzami, Ahad (24/2) pagi.

Peringatan haul ke-7 KH M Syafi‘i Hadzami berbarengan dengan peringatan maulid Nabi Muhamad SAW. Peringatan haul kali ini menghadirkan Syuriah PWNU DKI Jakarta KH Maulana Kamal Yusuf, Syuriah NU Yogyakarta KH Abdul Ghofur Maimun, dan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf.

Ratusan Orang Peringati Haul ke-7 KH M Syafii Hadzami (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Orang Peringati Haul ke-7 KH M Syafii Hadzami (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Orang Peringati Haul ke-7 KH M Syafii Hadzami

Peringatan haul berlangsung mulai pukul 80.00 hingga 12.00. Para hadirin memenuhi pekarangan masjid perguruan hingga muka pesantren Ma’had Ali Al-Arba‘in perguruan perguruan Al-Asyiratus Syafi‘iyah. Sementara kelompok ibu memenuhi masjid perguruan.

“Kiai Syafi‘i memiliki keluasan ilmu agama. Kedalaman pemahamannya terhadap kitab-kitab para ulama tidak diragukan. Kiai Syafi‘i telah menghabiskan masa hidupnya untuk ilmu agama baik mengaji maupun untuk mengajar ngaji masyarakat,” kata KH Abdul Ghofur Maimun putra KH Maimun Zubair dalam ceramahnya.

Sementara Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf menyatakan bahwa KH M Syafi‘i Hadzami merupakan salah seorang santri yang mewarisi penguasaan kitab-kitab para ulama dari sang guru Habib Ali bin Husein Al-Attas.

Santri An Nur Slawi

Dengan kehadiran itu, mereka membuktikan cinta mereka kepada guru agama mereka KH M Syafi‘i Hadzami. KH M Syafi‘i Hadzami merupakan Rais Syuriah PBNU 1994-1999 hasil muktamar 1994 di Cipasung.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Santri, Hikmah, Habib Santri An Nur Slawi

Jumat, 05 November 2010

Jalur Kultural Efektif untuk Rekonsiliasi

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Jalur kultural merupakan jalan paling efektif untuk menyelesaikan konflik bangsa ini. Konflik yang dipicu pemberontakan PKI 1965 juga harus diselesaikan dengan jalan kebudayaan.

Jalur Kultural Efektif untuk Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalur Kultural Efektif untuk Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalur Kultural Efektif untuk Rekonsiliasi

Demikian salah satu poin dalam seminar nasional bertema Rekonsiliasi Nasional; Telaah jalur Kultural sebagai Alternatif. Seminar tersebut digelar Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan (eLSIK) dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), di gedung Juang 45, Menteng, Jakarta, (18/10).

Salah satu pembicara Agus Sunyoto mengatakan bahwa rekonsiliasi melalui jalur kultural sudah berjalan alamiah di kalangan masyarakat yang konflik. Ia mencontohkan di desa Trisula, Ploso Klaten, Kediri Jawa Timur.

Santri An Nur Slawi

Hampir seluruh warga desa itu anggota PKI. Tahun 1965 desa itu “dibersihkan”. Yang tersisa adalah janda-janda dan para anak yatim.

Santri An Nur Slawi

Tokoh agama dari desa tetangga mengambil inisiatif untuk memelihara anak yatim dan membantu para janda. Kemudian berkeliling dari rumah ke rumah mendoakan warga yang meninggal.

"Begitu juga yang terjadi di Madiun. Seorang kiai ada yang mengangkat anak yatim sampai 40 orang. Mereka dibesarkan, dididik, hingga bisa masuk menjadi pegawai negeri. Padahal pada waktu itu, pemerintah melarang anak PKI jadi pegawai negeri. Itu disebabkan orang tua anak-anak tersebut diatasnamakan kiai tersebut," ungkap Agus Sunyoto yang juga sastrawan.

Senada dengan Agus Sunyoto, Rais Syuriah PBNU KH Masdar F. Mas’udi mengatakan jalur kultural lebih tepat, karena lembaga hukum sudah rusak dan tidak netral dalam kasus 1965.

“Saya juga sepakat dengan dengan rekonsiliasi jalur kultural,” tegasnya. Begitupun jika dibawa ke pengdilan internasional, pasti akan dimasuki kepentingan-epentingan. “Lebih baik kita doakan saja supaya yang merasa benar dan merasa disalahkan itu bisa bertemu di surga,” katanya disambut tepuk tangan sekira 60 peserta.

Ia juga menganjurkan supaya setiap tahun digelar doa bersama untuk tragedi tersebut. Mengungkapnya dengan pengadilan tidak akan selesai karena setiap elemen masyarakat tersangkut-paut.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Kajian Islam, News Santri An Nur Slawi

Kamis, 16 September 2010

Tak Semua Pelajaran Umum Relevan untuk Madrasah

Bandung, Santri An Nur Slawi. Tidak semua pelajaran umum yang dijejalkan melalui sistem pendidikan nasional relevan untuk madrasah. Malahan dengan begitu madrasah semakin kehilangan identitas dan fungsinya dalam sistem pendidikan nasional itu sendiri.

Demikian dalam Rapat kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Cigondewah Bandung, Kamis (30/8).

Tak Semua Pelajaran Umum Relevan untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Semua Pelajaran Umum Relevan untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Semua Pelajaran Umum Relevan untuk Madrasah

Menurut H Thayyib IM, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif, salah satu lembaga NU yang membidangi pendidikan, keberadaan materi-materi keagamaan yang diajarkan di madrasah madrasah semakin terasa penting di tengah perubahan zaman yang semakin tidak menentu.

Dikatakan, kalaupun ada beberapa aspek yang kurang memadai dalam proses pendidikan di madrasah, kebijakan pemintah yang yang kenakan tidak bisa disamaratakan dengan kebijakan untuk lembaga pendidikan umum.

“Memperbaiki madrasah tak harus dengan cara sekolah umum. Perlu diingat bahwa memperbaiki bus tentu berbeda dengan perbaiki kereta api. Ini yang selama ini tidak terfikirkan,” kata H Thayyib sesaat sebelum penandatanganan MoU LP Ma’arif-IPPNU mengenai pendirian komisariat IPPNU di lembaga pendidikan yang dikelola LP Ma’arif.

Para peserta Rakernas IPPNU yang hadir dari 26 Wilayah di Indonesia menyerukan, pendidikan nasional jangan sampai hanya terpaku pada aspek kognitif saja, tetapi juga ketemrampilan (psikomotorik) dan terutama aspek pembentukan sikap (afektif). Rakernas menyerukan disertakannya pelajaran agama dalam Ujian Nasional, selain pelajaran bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan matematika.

Santri An Nur Slawi

KH Agus Haidar Ruslan, salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma’arif kepada Santri An Nur Slawi di tempat terpisah mengeluhkan berkurangnya porsi pelajaran pesantren dalam madrasah.

“Akibatnya kemappuan ilmu agama yang dimiliki siswa sekarang jauh mengalami kemunduran dibanding siswa-siswa dulu. Padahal tantangan ke depan semakin berat. Arus globalisasi perlu dikendalikan dengan penanaman nilai-nilai keagamaan pada diri siswa sejak dini,” katanya.(nam)

Santri An Nur Slawi



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Bahtsul Masail Santri An Nur Slawi

Kamis, 19 Agustus 2010

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122

Jepara, Santri An Nur Slawi. Musytasar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Sya’roni Ahmadi mengatakan, keberadaan pesantren perlu mendapatkan dukungan dari masyarakat supaya tetap eksis sebgai lembaga yang mengajarkan Islam.

Ia menyampaikan hal itu pada tausiyah tahtiman Al-Qur’an bin nadlor pesantren Roudlotul Huda dan Roudlotul Hidayah desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Senin (16/6) sore.

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122

Keberadaan pesantren menurut dia, termaktub dalam Surat Baraah: 122. Intinya, orang Islam tidak baik berperang semua, namun harus ada yang menuntut ilmu agama. “Jika sudah pandai ilmu ditularkan kepada yang lain,” tambahnya.

Saking pentingnya pesantren, Kiai kharismatik asal kota Kretek tersebut menyebut beberapa madrasah di Kudus semisal Qudsiyah, TBS, Banat, Muallimat dan MAN Kudus 2 memiliki pesantren.

Santri An Nur Slawi

Ia menjelaskan ganjaran perang hampir sama dengan menuntut ilmu. Perang yang dihukumi fardlu kifayah dikatakan sahid dunia akhirat. “Sedangkan santri yang wafat dalam majlis pengajian maka dikatakan sahid akhirat,” imbuh Kiai Sya’roni.

Ke depan, santri tersebut akan menjadi pemimpin yang disegani bukan ditakuti. Pemimpin disegani ialah yang dicintai rakyatnya. Sedangkan yang ditakuti, pemimpin yang dibenci rakyat. Kiai Sya’roni menegaskan pemimpin yang disegani ialah yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)  

Santri An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pertandingan, Sejarah Santri An Nur Slawi

Kamis, 08 Juli 2010

Kaderisasi di Jawa Pun Belum Selesai

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Pekerjaan besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di hampir setiap periode adalah penguatan kader. Kaderisasi dinilai belum maksimal, bahkan untuk kawasan Pulau Jawa sebagai basis terbesar umat Nahdliyin.

Kaderisasi di Jawa Pun Belum Selesai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi di Jawa Pun Belum Selesai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi di Jawa Pun Belum Selesai

Demikian pandangan Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU masa bakti 2006-2009 Idy Muzayyad saat dihubungi Santri An Nur Slawi, Selasa (18/12) petang. Idy memaklumi tuntutan sejumlah pihak tentang penguatan kader di luar Jawa, namun itu bukan berarti kaderisasi di tempat kelahiran NU itu sudah optimal.

“Jangan anggap (kaderisasi, red.) yang di Jawa ini sudah selesai,” ujarnya.

Santri An Nur Slawi

Idy menyatakan, kaderisasi di luar Jawa harus diperhatikan dengan tidak menelantarkan proses kaderisasi yang ada di Jawa. Baginya, Jawa-Luar Jawa bukan dua hal yang dikotomis. Masalah keduanya akan teratasi ketika pegurus mengoptimalkan kerja penguatan dan distribusi kader secara nyata.

Santri An Nur Slawi

Tantangan pelajar NU sejak dulu, lanjut senior IPNU ini, adalah sejumlah pengaruh eksternal yang dapat menjerumuskan mereka sebagai generasi bangsa. Godaan yang akan tetap muncul, antara lain, meliputi ideologi ekstrem baik kiri maupun kanan, penyalahgunaan teknologi, narkoba, serta pergaulan bebas.

Ditambahkan, IPNU merupakan pintu masuk awal sistem pengkaderan yang ada di NU baik secara struktural maupun kultural. Kerja keras pengurus sangat dibutuhkan karena peran IPNU sekarang akan menentukan nasib NU di masa mendatang.

“Tiga tahun (periode kepemimpinan IPNU) itu kan waktu yang sempit, jadi jangan asyik dengan diri sendiri,” tuturnya.

Sebagaimana diberitakan, sejumlah ketua Pimpinan Wilayah IPNU luar Jawa mengeluhkan lemahnya proses kaderisasi di daerahnya. Mereka berharap, pemimpin baru periode 2012-2015 hasil Kongres XVII IPNU di Palembang, 3 Desember lalu, dapat serius menangani persoalan ini.

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Fragmen, Nahdlatul, Warta Santri An Nur Slawi

Rabu, 07 Juli 2010

NU Sulsel dan UIM Kurban 8 Ekor Sapi

Makassar, Santri An Nur Slawi. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan bekerja sama Universitas Islam Makassar melaksanakan Sholat Idul Adha 1436 H, yang bertempat di lapangan Universitas Islam Makassar, Kamis (24/9), Adapun bertindak sebagai khatib yaitu Bendahara LFNU Sulsel Dr Mukhlis Mukhtar dan sebagai Imam Musbaing diikuti sekitar 1000 jamaah berasal dari civitas akademika UIM dan warga Nahdliyin Makassar.

NU Sulsel dan UIM Kurban 8 Ekor Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sulsel dan UIM Kurban 8 Ekor Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sulsel dan UIM Kurban 8 Ekor Sapi

Kemudian dilanjutkan pemotongan hewan kurban sebanyak 8 ekor yang berasal dari Ketua Tanfidiziyah NU Sulsel Prof Iskandar Idy, keluarga besar Rektor UIM Dr Majdah M Zain masing-masing 1 ekor, 5 ekor berasal dari hasil patungan keluarga besar Universitas Islam Makassar, mulai dari pejabat struktural dan staf yang berasal dari 7 fakultas yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Ilmu Kesehatan, Sospol, Teknik, MIPA, Agama Islam, Pertanian, Sastra dan Humaniora serta program pascasarjana.

Kemudian 1 ekor berasal dari Ekstra Joss bekerja sama PP Lazisnu, adapun serah terima diwakili perwakilan Ekstra Joss Makassar M Yamin kepada Wakil Ketua NU Sulsel Dr M Arfah Shiddiq, disaksikan Sekretaris NU Sulsel Prof Arfin Hamid, Wakil Ketua NU Sulsel Dr Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Rektor I UIM Dr Musdalifah Mahmud.

Santri An Nur Slawi

Tampak hadir menyaksikan pemotongan kurban, Wakil Ketua NU Sulsel H Nurdin Tajry, Wakil Rektor II Saripuddin Muddin, MT, Wakil Sekretaris Lazisnu Sulsel Takbir Muhayyang, S.Pd dan beberapa dosen serta mahasiswa UIM. (Andy Muhammad Idris/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi AlaSantri Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi

Senin, 28 Juni 2010

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Saya sedang belajar Iqro’ melalui guru privat namun masih dalam proses, sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sementara ini saya membaca Al-Qur’an sehari-hari untuk shalat, atau surat-surat pendek dari huruf latin. Yang ingin saya tanyakan, apakah sah saya membaca atau menghafal Al-Qur’an untuk shalat dari tulisan bahasa latin?

Apakah kalau saya membaca surat-surat pendek atau potongan ayat hikmah dalam bahasa latin saya tetap mendapatkan pahala? Mohon maaf sebelumnya, karena saya sedang dalam proses belajar. Tapi karena sudah mulai tua dan sibuk, saya tidak secepat anak saya yang sama-sama belajar membaca Al-Qur’an.

Anggie, tinggal di Tangerang

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

?

Jawaban:

Ibu Anggie yang saya hormati, belajar adalah kewajiban bagi setiap orang Islam. Kita patut bersyukur karena masih diberi kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk belajar, apalagi belajar membaca Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an terkait dengan ibadah sholat. Bacaan dalam sholat berisi ayat-ayat AlQur’an dan beberapa bacaan do’a dalam sholat harus disesuaikan dengan cara baca yang benar dalam aturan membaca Al-Qur’an seperti memperjelas Tasydid/Syiddah dalam bacaan Tasyahhud Akhir. Al-Qur’an ditulis dengan bahasa arab dan tidak ada transliterasi yang tepat dalam bahasa lain. Pemindahan tulisan dari bahasa Arab ke bahasa lain bisa menghilangkan kekhasan Al-Qur’an dan berpengaruh pada cara baca dan arti yang dikandung dalam tiap kata. Ini pada gilirannya akan merubah makna dan perubahan makna bisa berakibat fatal.

Santri An Nur Slawi

Ibu Anggie yang baik, ulama’ mengharamkan membaca al-Qur’an dengan tulisan latin karena dapat merubah cara baca dan arti dari Al-Qur’an. Imam Qulyubi memperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab tapi melarang membacanya. Penjelasan tentang hal ini disebutkan dalam kitab Hasyiyah Al-Jamal ’Ala Syarhil Minhaj juz I hal. 76 sebagai berikut :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya : Imam Qulyubi berpendapat boleh menulis Al-Qur’an dengan selain bahasa arab namun tidak boleh membacanya, dan Al-Qur’an yang ditulis dengan selain bahasa arab tersebut dihukumi seperti mushaf(Al-Qur’an dalam bahasa Arab) dalam hal membawanya dan menyentuhnya.

?

Namun demikian, ibu Anggie harus terus belajar hingga bisa membaca Al-Qur’an dengan tulisan Arab lengkap dengan tajwid-nya. Sholat ibu tetap sah karena masih dalam tahap belajar membaca Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an ibu dengan tulisan latin tetap berpahala asal dengan niat yang baik. Semoga Ibu Anggie selalu diberi kemudahan dalam belajar, khususnya belajar membaca Al-Qur’an dan semoga amal Ibu Anggie dan kita semua diterima oleh Allah SWT. Aaamiin…

Santri An Nur Slawi

? Wallaahu Alamu bishshawab

?

Maftuhan

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul, Lomba, Tegal Santri An Nur Slawi

Senin, 21 Juni 2010

Ramadhan Ini, Beberapa Pesantren di Tambakberas Gelar Ngaji Kilatan

Jombang, Santri An Nur Slawi - Sejumlah masyarakat dari berbagai daerah mulai mendatangi beberapa pondok pesantren di wilayah Tambakberas Kabupaten Jombang untuk mengikuti kegiatan kajian kitab kuning di Ramadhan ini. Mereka hendak mengikuti pengajian kilatan.

Tampak hadir membuka ngaji kilatan di antaranya Rais Syuriyah PCNU Jombang KH Abdul Nashir Fattah, KH Sulthon Abdul Hadi, KH Hasib Wahab, dan Kiai Muhammad Djamaludin Ahmad.

Ramadhan Ini, Beberapa Pesantren di Tambakberas Gelar Ngaji Kilatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Ini, Beberapa Pesantren di Tambakberas Gelar Ngaji Kilatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Ini, Beberapa Pesantren di Tambakberas Gelar Ngaji Kilatan

Salah satu jamaah ngaji Humaidi Nur Syarifudin warga Dusun Warugunung Love, Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, sudah berada di Jombang sejak sehari sebelum puasa Ramadhan 1438 H.

Santri An Nur Slawi

Selain mengikuti ngaji kilatan, kedatangannya juga untuk mencari berkah para kiai sepuh Tambakberas. "Pengen cari berkah doa dan ilmu dari kiai sepuh seperti Kiai Nasir, Kiai Jamal, Kiai Sulton dan Kiai Hasib," jelasnya, Sabtu (27/5).

Ia mengaku sering ke Jombang untuk mengikuti kegiatan Ramadhan di pesantren-pesantren tua dalam rangka mengisi waktu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Santri An Nur Slawi

Ia merasa senang dengan sistem yang diterapkan Pondok Tambakberas, sebab bisa memilih kitab yang diinginkan. Kelimuan para kiainya juga sangat mumpuni sesuai bidangnya masing-masing. Di samping itu setiap pondok juga menyediakan tempat khusus untuk menginap.

"Enaknya di sini itu bisa milih kelompok kajian yang kita inginkan. Ada kiai yang fokus pada tafsir, fikih, hadits, dan tasawuf tergantung keahlian beliau-beliau," tambahnya.

Selain itu, banyaknya teman dalam proses belajar ini juga membuat suasana tambah ramai dan menyenangkan. Terutama bila kajian keislamannya membahas terkait hubungan suami-istri seperti kitab Fathul Izar.

Di sekitar pesantren juga banyak pedagang yang menyiadakan berbagai jenis tajil dan beragam makanan untuk berbuka puasa dengan harga sangat terjangkau dari Rp. 2000-10.000.

"Banyak teman dari berbagai daerah yang menghabiskan Ramadhan di sini karena suasananya asyik dan makanannya juga murah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi PonPes, Nahdlatul Ulama, Doa Santri An Nur Slawi

Selasa, 08 Juni 2010

Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah

Jakarta, Santri An Nur Slawi - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) dalam doa di Istana Negara memuji Allah SWT atas nikmat kemerdekaan yang dikaruniakan kepada Bangsa Indonesia. Mbah Moen menyebut kemerdekaan Indonesia dari negara penjajah merupakan sebuah nikmat besar Allah yang patut disyukuri oleh anak bangsa Indonesia.

“Ya ilâhana, Agustus syahrul mu‘azzham ‘indanâ wa syahrul mu‘azzham ‘indaka (Agustus adalah bulan agung bagi kami dan bulan agung bagi-Mu),” kata Mbah Moen dalam salah satu rangkaian doanya pada majelis zikir Hubbul Wathan di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (1/8) malam.

Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah

Pada bulan Agustus Kaukirim utusan-Mu. Pada bulan Agustus ini Kauberikan pada kami nikmat hurriyah (kemerdekaan) wal istiqlal (berdikari). Kami sudah merdeka 72 tahun lalu, kata Mbah Moen dalam doanya.

Mbah Moen juga meminta kepada Allah SWT untuk memberikan kekuatan kepada para pemimpin Republik Indonesia.

Santri An Nur Slawi

“Ya Allah, keberagaman Indonesia adalah nikmat-Mu. Semua ini meski berbeda-beda pada hakikatnya adalah satu, sesuai dengan firman-Mu li ta‘ârafû (untuk saling memahami). Kami berbeda-beda suku, ratusan bahasa, dan berbeda agama,” tegas Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang.

Santri An Nur Slawi

Ia juga memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia dijauhkan dari perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa.

Doa Mbah Moen ini diamini oleh ratusan jamaah yang hadir. Tampak puluhan ulama dan kiai dari pelbagai daerah di Indonesia, Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, dan jajaran kabinet. Zikir ini diadakan dalam rangka mensyukuri nikmat kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada bulan Agustus. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Internasional, Tegal, Kajian Sunnah Santri An Nur Slawi

Rabu, 26 Mei 2010

PBNU Siap Salurkan 24 Ribu Daging Kaleng Ke Aceh

Jakarta, Santri An Nur Slawi
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama akan mengirimkan 24 ribu bantuan makanan berupa daging dalam kaleng siap saji kepada para korban gempa dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam. Bantuan tersebut akan dikirim pada 10 Februari mendatang, sekaligus bersamaan dengan 50 relawan NU yang akan bertugas menggantikan 50 rekannya yang sudah dua minggu di Aceh.

"Insya Allah pada tanggal 10 Februari PBNU juga akan mengirimkan 1 Mobil Ambulan untuk operasi kemanusiaan yang di lengkapi sarana medis berjalan. Bantuan ini berasal dari Lembaga Islamic Help asal Inggris, Moslem Charity dan dari PBNU," kata ketua umum Tanfidziah PBNU, KH. Hasyim Muzadi usai menerima kunjungan dari Vatikan, Roma, di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (1/2).

Menurut Hasyim Muzadi, pengiriman daging qurban siap saji tersebut didasarkan pada kondisi keadaan darurat. "Jika dikirim dalam bentuk daging segar, dikhawatirkan terjadi pembusukan karena adanya kesulitan transportasi ke Aceh, sebagaiman kita ketahui kondisi transportasi dari dan menuju Aceh sangat parah," katanya.

Pertimbangan lain mengirimkan daging siap saji menurut Hasyim adalah faktor sosial. Berdasarkan pemantauan PBNU, saat ini masyarakat korban bencana gempa dan tsunami kekurangan peralatan masak. Sehingga dikhawatirkan mereka kesulitan untuk memasak daging qurban ini. Dengan memberikan daging siap saji, masyarakat Aceh tak perlu repot memasak. "Bisa langsung dimakan, dengan atau tanpa dipanaskan" tutur Hasyim.

Faktor keadilan juga menjadi pertimbangan. Dengan memproses menjadi daging siap saji, PBNU mempunyai waktu untuk mendistribusikan daging kurban ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Sebagaimana diketahui masih banyak daerah-daerah di Aceh yang belum tersentuh bantuan, sehingga bantuan berupa daging yang siap saji dapat lebih mudah dinikmati dan praktis.

Sebelumnya PBNU juga sempat mengirimkan bantuan hewan qurban menjelang Hari Raya Idul Adha. Namun karena dalam jumlah yang banyak dan tidak dapat dikirmkan langsung pada Hari Raya PBNU mengirimkannya dalam makanan kaleng siap saji. Hal ini dilakukan sesuai pendapat hukum KH Ma’ruf Amin, salah seorang pengurus PBNU, pengiriman daging siap saji ini diperbolehkan, asalkan penyembelihan dilakukan pada masa hari tasyrik (tanggal 10 – 13 Dzulhijah). "Jika sudah melewati batas masa tasrik, namanya sodaqoh," ujar Hasyim.

Hasyim mengakui secara syariah, daging kurban memang seharusnya diberikan dalam bentuk daging segar. Untuk pemberian dalam bentuk daging matang baru boleh diberikan untuk keperluan Aqiqah. Tapi pengiriman daging qurban kalengan ini, menurut Hasyim, sudah dikonsultasikan dengan Pengurus Syuriah PBNU. Hasilnya, pengurus Syuriah membolehkan dengan syarat si penyumbang rela dikirim dalam betuk siap saji. Adapun penyumbang hewan qurban ini adalah Lembaga Islamic Help asal Inggris, Moslem Charity dan PBNU.

Daging kaleng siap saji ini, lanjut Hasyim diolah oleh PT Suryajaya Abadi Perkasa (SAP) Probolinggo, Jawa Timur. untuk tahap pertama ada 60 ekor sapi yang disembelih. Daging sapi tersebut kemudian dikemas dalam kaleng dengan berat 425 gram sebanyak 10 ribu kaleng. Dalam kemasan kaleng tertulis Daging Siap Saji PBNU dengan sertifikasi halal. Makanan kaleng siap saji tersebut dikemas dalam tiga rasa: semur, rendang dan kare, serta dalam bentuk kornet.

Ditambahkan Hasyim, daging siap saji ini, terutama akan didistribusikan ke pesantren-pesantren yang selama ini menjadi konsentrasi bantuan PBNU. Jumlahnya ada 15 pesantren yang mengasuh sekitar 330 santri korban tsunami. Selebihnya akan diberikan secara langsung di tenda-tenda pengungsi (cih)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Budaya, Cerita Santri An Nur Slawi

PBNU Siap Salurkan 24 Ribu Daging Kaleng Ke Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siap Salurkan 24 Ribu Daging Kaleng Ke Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siap Salurkan 24 Ribu Daging Kaleng Ke Aceh

Minggu, 14 Maret 2010

Mbah Muchith Persilakan Kader NU Bergabung ke Partai Apapun

Jember, Santri An Nur Slawi. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchith Muzadi (Mbah Muchith) mempersilakan para kader NU bergabung dengan lembaga, instansi atau partai apapun asal tidak meninggalkan identitas ke-NU-an.



Mbah Muchith Persilakan Kader NU Bergabung ke Partai Apapun (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muchith Persilakan Kader NU Bergabung ke Partai Apapun (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muchith Persilakan Kader NU Bergabung ke Partai Apapun

“Partainya boleh apa saja, instansinya boleh apa saja, kelompoknya boleh apa saja, yang penting organisasinya tetap NU,” katanya kepada Santri An Nur Slawi di Jember, Jawa Timur, Kamis (6/3).

Satu hal yang perlu mendapatkan perhatian ketika kader NU bergabung dengan partai apapun, bahwa kesetiaan pada instansi baru itu tidak boleh mengalahkan kesetiaannya pada NU. “Jangan sampai terlalu menuruti orang lain, tapi malah mengabaikan NU,” pesannya.

Santri An Nur Slawi

Kakak kandung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi itu menyatakan bahwa kesetiannya kepada NU tidak pernah luntur. Di sela acara harlah IPNU yang ditempatkan di Kantor PCNU Bondowoso, pekan lalu, Mbah Muchith menuturkan perjalanan pengabdiannya.

Dirinya telah masuk resmi ke dalam NU dengan memiliki kartu anggota sejak tahun 1941. Setiap bulan ia harus membayar iuran wajib anggota NU. Segala hal yang diperintahkan NU ia taati.

Santri An Nur Slawi

Ketika NU bergabung dengan Masyumi, ia ikut. Ketika keluar dari Masyumi, ia ikut keluar. Ketia NU bergabung dengan PPP, ia juga masuk di dalamnya, dan di saat keluar dari PPP ia juga ikut keluar. Ketika diputuskan untuk kembali ke Khittah, ia malah menjadi salah seorang motor penggeraknya.

Ketika NU mendirikan PKB, Mbah Muchith malah menjadi pembaca naskah deklarasinya. Di saat NU melepaskan PKB, Mbah Muchith juga tidak keberatan. “Pokoknya disuruh apa saja Muchith nurut,” tandasnya.

Murid Rais Akbar NU KH Hasyim As’ari itu berpesan kepada pengurus badan otonom NU untuk tunduk kepada semua keputusan organisasi NU.

“Orang itu mengira NU adalah kumpulan dari banom-banom, lembaga dan lajnah, kemudian bersatu membentuk NU. Pandangan yang seperti itu jelas tidak benar,” kata Mbah Muchith.

Dikatakannya, badan otonom, lembaga dan lajnah di bawah naungan NU lahir belakangan sebagai kepanjangan tangan NU. “Dengan begitu sudah jelas, apa yang dilakukan oleh mereka harus sejalan dengan garis NU. Tidak boleh berjalan seenak sendiri tanpa kontrol,” kata sesepuh NU itu. (sbh)Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Kajian Islam, Sholawat, IMNU Santri An Nur Slawi

Senin, 01 Februari 2010

LPM STKQ Al-Hikam Bedakan Opini dan Fakta

Depok, Santri An Nur Slawi. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok mengadakan pelatihan Jurnalistik pada Kamis (2/4). Panitia mengarahkan pembahasan pelatihan yang diikuti puluhan mahasiswa pada dua jenis tulisan yang mengandung opini dan fakta.

Pihak panitia menilai pelatihan ini penting di tengah kecepatan media massa memberikan informasi dari manapun, baik itu positif maupun negatif. Bahkan opini masyarakat bisa digiring melalui isu-isu yang sedang berkembang saat ini.

LPM STKQ Al-Hikam Bedakan Opini dan Fakta (Sumber Gambar : Nu Online)
LPM STKQ Al-Hikam Bedakan Opini dan Fakta (Sumber Gambar : Nu Online)

LPM STKQ Al-Hikam Bedakan Opini dan Fakta

Karenanya pelatihan ini menitikberatkan pada pembuatan berita dan opini di media massa serta menganalisanya.

Santri An Nur Slawi

Menurut Ketua panitia Ahmad Yahya yang kini dipercaya sebagai Ketua LPM STKQ Al-Hikam mengatakan, “Akhir-akhir ini banyak sekali informasi yang sifatnya opini kemudian dibuat menjadi sebuah berita. Sehingga, bisa menjerumuskan kita dalam menangkap informasi tersebut. Hal itu terbukti ketika Pilpres tahun lalu”.

Yahya berharap kegiatan workshop ini, nantinya akan melahirkan jurnalis yang disiplin pada kaidah jurnalistik.

Santri An Nur Slawi

Pelatihan ini menghadirkan Selamet Widodo dari LPM INSTITUT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara penutup dirangakai dengan peluncuran logo LPM oleh Ketua BEM STKQ Al-Hikam. (Zaki Muttaqien/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah Santri An Nur Slawi