Kamis, 30 April 2015

Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul

Yogyakarta, Santri An Nur Slawi - Nur Laily Fauziah, santri Pesantren Al-Imdad Bantul menjadi yang terbaik dalam Lomba Kader Poskestren Santri Siaga 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Rabu (13/4). Melewati tiga babak sengit, Nur Laily berhasil menyisihkan 102 peserta dari pesantren-pesantren seantero Bantul.

Di babak pertama, Nur Laily yang juga tercatat sebagai siswi MA unggulan Al-Imdad itu harus menjawab 50 soal tertulis. Ia berhasil terpilih bersama sembilan peserta lain untuk maju ke babak kedua, babak wawancara. Di babak ini, para peserta harus menghadapi cecaran pertanyaan dari dewan juri terkait lima materi uji seperti Lima Tatanan PHBS, Persiapan Pra Nikah, Pesantren Berwawasan Lingkungan, Bahaya NAPZA dan Kawasan Dilarang Merokok, serta Kesehatan Reproduksi Remaja dan IMS.

Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Kesehatan, Santri Ini Taklukkan 102 Santriwati Bantul

Di babak ini, Nur Laily kembali mampu menundukkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dewan juri. Ia pun menjadi sebagai salah satu dari lima peserta yang berhak maju ke babak ketiga, praktik kultum kesehatan. Pada putaran ini peserta harus menyampaikan kultum dengan satu materi dari lima tema yang sudah disediakan panitia, yaitu PHBS, NAPZA, Pesantren Berwawasan Lingkungan, Peran Aktif Remaja dalam Mewujudkan Kawasan Dilarang Merokok, dan Kesehatan Reproduksi Remaja.

Santri An Nur Slawi

Peserta di babak ini tidak bisa serta-merta membawakan kultum dengan tema yang ia inginkan. Mereka harus memilih nomor undian yang merepresentasikan tema. Saat diundi, Nur Laily Fauziah mendapatkan tema NAPZA. Di akhir lomba, ia pun berhasil menjadi yang terbaik.

Kepala Sub Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dr Guppianto Susilo mengatakan, “Lomba Kader Poskestren dengan tema Santri Sehat ini kita harap mampu meningkatkan pengetahuan anak-anak remaja kita di pesantren. Dengan harapan kelak mereka akan menyebarkan pengetahuan tersebut saat kembali ke masyarakat nantinya.” (Muhammad Yusuf Anas/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi

Santri An Nur Slawi Sejarah Santri An Nur Slawi

Kamis, 16 April 2015

Pesantren Ramadhan SMK NU 1 Slawi Bagikan Beasiswa

Tegal, Santri An Nur Slawi. Untuk kesekian kalinya, SMK Nahdlatul Ulama (NU) 01 Slawi, Kabupaten Tegal membagi-bagikan beasiswa saat acara pesantren ramadan. Di tahun lalu, sekolah yang memiliki siswa lebih dari 1000 anak didik ini membagikan beasiswa berupa SPP gratis selama tiga bulan kepada beberapa anak didiknya.?

Pesantren Ramadhan SMK NU 1 Slawi Bagikan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Ramadhan SMK NU 1 Slawi Bagikan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Ramadhan SMK NU 1 Slawi Bagikan Beasiswa

Sedangkan di tahun ini, kembali memberikan beasiswa kepada tujuh siswanya yang berhasil menjawab pertanyaan dari sang kiai. Dua ? siswa diantaranya sudah diberikan sepekan silam saat sekolah tersebut mendatangkan KH Lutful Hakim untuk memberikan tausyiah. Kemudian lima siswa lainnya, diberikan Kamis (15/6), saat pihak sekolah menghadirkan Habib Ali Zaenal Abidin.

"Setiap pesantren ramadan, kami selalu membagi-bagikan beasiswa. Caranya mudah, setiap kiai memberikan pertanyaan dan siswa mampu menjawab, langsung kami berikan SPP gratis selama tiga bulan," kata Kepala SMK NU 1 Slawi, H Ali Saefudin.

Ali mengungkapkan, kelima siswa yang berhasil menerima beasiswa antara lain, Siti Nurul Aeni siswa kelas XI AK1, Tika Herawati kelas XI AK3, Riza Septiani kelas X AP4, Riski Ayu Murniati kelas XI AP3, dan Yulis Nur kelas X TKJ 2.?

Sedangkan dua siswa yang mendapatkan beasiswa sepekan silam bernama, Putri Nurhaliza siswi kelas X AK3 dan Siti Roliah siswi kelas XI AK3. "Beasiswa ini sengaja kami berikan supaya siswa lebih giat belajar," ucapnya.

Santri An Nur Slawi

Menurut Ali, bonus ramadan yang dibagikan kepada anak didiknya, tidak hanya dari pihak sekolah. Habib Ali yang sengaja diundang untuk mengisi tausyiah, juga membagikan hadiah kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaannya.?

Adapun, siswa yang beruntung mendapatkan hadiah dari Habib Ali yaitu, Dewi Puspita siswa kelas XI AK1, Gita Apriliani kelas XI AK2, Siti Neli kelas XI ? AK2 dan Ikmaludin kelas XI TKR.

"Mereka mendapatkan hadiah uang tunai dari Habib Ali," ujarnya.

Santri An Nur Slawi

Sementara, mantan Wakil Wali Kota Tegal Habib Ali Zaenal Abidin saat menyampaikan tausyiahnya mengatakan, jika ingin hidup damai di dunia, maka dekatilah Allah SWT. Caranya dengan shalat, membaca Al Quran, dan melakukan sedekah.?

"Jika kita sudah melakukan itu, Insya Allah hidup kita akan damai dan tenang," ucapnya.?

Dalam kesempatan itu, Habib Ali juga menyampaikan tentang perbuatan yang dapat membatalkan pahala puasa. Diantaranya, bergunjing aib orang lain, menghasut orang lain, memandang lain jenis dengan syahwat, fitnah, dan saksi palsu. Diharapkan, umat muslim harus bisa menghindari hal itu.?

"Bulan puasa adalah bulan mulia, semua amalan dilipat gandakan. Amalan sunah akan diberi pahala seperti ibadah wajib. Untuk bulan puasa ini jangan disia-siakan. Lakukanlah yang terbaik untuk menimba pahala," tukasnya. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah, Kyai Santri An Nur Slawi

Minggu, 12 April 2015

Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution





Harun Nasution, profesor yang pernah menjabat Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pernah menulis sebuah buku yang berjudul Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. KH Said Aqil Siroj mengkritisi beberapa poin dalam buku itu.

Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution (Sumber Gambar : Nu Online)
Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution (Sumber Gambar : Nu Online)

Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution

Saat itu Ketua Umum PBNU yang punya spesialisasi kajian bidang tasawuf itu masih menjadi dosen di Pascasarjana IAIN Jakarta. “Terima kasih Pak Aqil, terima kasih,” kata Kang Said, menirukan ucapannya Harun Nasution ketika tahu bukunya itu dikritisi. hal itu disampaikan di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (2/11).

Poin yang dikritisi oleh Kang Said adalah kata anna yang dimaknai oleh Harun Nasution dengan ke-aku-an. Padahal makna yang terkandung dalam istilah yang dicetuskan oleh Ibnu Al-Arabi tersebut adalah anniyatul haq, yaitu alwujud alhaqiqi huwa Allah, artinya wujud yang hakiki adalah Allah. Adapun makna ke-aku-an ada dalam kata ananiyah.

Koreksi Kang Said selanjutnya adalah pada soal fana dan baqa yang ditempatkan oleh Prof. Harun sebagai maqamat, padahal fana dan baqa bukanlah bagian dari maqamat, keduanya adalah hal.

Santri An Nur Slawi

Selain itu, koreksi yang disampaikan Kang Said adalah mengenai konsep fana dan baqa, menurut Prof Harun, fana dan baqa ini pertama kali dicetuskan oleh Abu Yazid Al-Bustami, padahal itu adalah dari Imam Junaid Al-Bagdadi, konsep fana dari Abu Yazid, sementara konsep baqa dari Imam Junaid.

“Pak Harun bagus sekali, orangnya ikhlash,” kenang Kang Said. (Aiz Luthfi/Anam)

?

Santri An Nur Slawi

Koreksi Kang Said untuk Harun Nasution

Harun Nasution, profesor yang pernah menjabat Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pernah menulis sebuah buku yang berjudul Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. KH Said Aqil Siroj mengkritisi beberapa poin dalam buku itu.

?

Saat itu Ketua Umum PBNU yang punya spesialisasi kajian bidang tasawuf itu menjadi dosen di Pascasarjana IAIN Jakarta. “Terima kasih Pak Aqil, terima kasih,” kata Kang Said, menirukan ucapannya Harun Nasution ketika tahu bukunya itu dikritisi. hal itu disampaikan di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (2/11).

?

Poin yang dikritisi oleh Kang Said adalah kata anna yang dimaknai oleh Harun Nasution dengan ke-aku-an. Padahal makna yang terkandung dalam istilah yang dicetuskan oleh Ibnu Al-Arabi tersebut adalah anniyatul haq, yaitu alwujud alhaqiqi huwa Allah, artinya wujud yang hakiki adalah Allah. Adapun makna ke-aku-an ada dalam kata ananiyah.

?

Koreksi Kang Said selanjutnya adalah pada soal fana dan baqa yang ditempatkan oleh Prof. Harun sebagai maqamat, padahal fana dan baqa bukanlah bagian dari maqamat, keduanya adalah hal.

?

Selain itu, koreksi yang disampaikan Kang Said adalah mengenai konsep fana dan baqa, menurut Prof Harun, fana dan baqa ini pertama kali dicetuskan oleh Abu Yazid Al-Bustami, padahal itu adalah dari Imam Junaid Al-Bagdadi, konsep fana dari Abu Yazid, sementara konsep baqa dari Imam Junaid.

?

“Pak Harun bagus sekali, orangnya ikhlash,” kenang Kang Said. (Aiz Luthfi/Anam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Internasional, Hikmah Santri An Nur Slawi