Sabtu, 25 Mei 2013

Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PP Lakpesdam) NU ikut menyumbangkan ide, wacana, dan gagasan Islam Nusantara dengan menggelar diskusi bertajuk ‘Antara Agama Tradisi dan Tradisi Agama: Sebuah Upaya Meneguhkan Islam Nusantara’.

Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi

Acara yang digelar di lantai 8 Gedung PBNU, Selasa (7/7) ini menghadirkan Pakar Islam Nusantara, Drs Agus Sunyoto, dan Pengamat Kawasan Timur Tengah dan Maghrib Arabi, Dr Arwani Syaerozi dengan moderator Savic Ali, aktivis muda Nahdlatul Ulama dan Pimred Santri An Nur Slawi.

Dalam pengantarnya, Savic menjelaskan bahwa wacana Islam Nusantara semakin kaya dan berkembang. Kelompok yang kontra ditanggapi dengan baik oleh berbagai kalangan NU seperti para kiai, intelektual, maupun aktivis muda NU.?

Santri An Nur Slawi

Namun demikian, kata Savic, Islam Nusantara tetap mempunyai tantangan besar mengingat umat Islam di Indonesia masih ada yang menganggap bahwa Islam Nusantara bersifat Jawa sentris. Padahal menurutnya, Nusantara secara demografi mencakup seluruh wilayah Asia Tenggara.

Santri An Nur Slawi

Dalam pemaparannya, Agus Sunyoto menerangkan, bahwa Islam Nusantara harus melihat perjalanan sejarah. Selain memiliki paham inklusif, toleran, dan ramah, Agus menjelaskan bahwa Islam Nusantara mendorong kemajuan keilmuan dan peradaban seperti yang telah dibangun para Wali Songo.

“Seperti teknik metalurgi atau pengecoran, ilmu falak, palalindon atau ilmu gempa, ilmu fisionomi atau ilmu memahami karakter tubuh dan masih banyak lagi. Ilmu-ilmu yang kini modern itu justru dikembangkan oleh orang-orang Nusantara,” ungkap penulis buku Atlas Wali Songo itu.

Sementara itu, Arwani Syaerozi menjelaskan, bahwa masyarakat Indonesia yang multikultural dan lebih majemuk daripada masyarakat Timur Tengah (Asia Barat dan Afrika Timur) dan Maghrib Arabi (Afrika Utara) tidak tepat jika ber-Islam meniru corak Timur Tengah dan Maghrib Arabi.

“Konsep Islam Nusantara yang mengakomodir kearifan lokal dan memperhatikan nilai-nilai luhur bangsa sangat tepat diterapkan di Indonesia dan dijadikan model di negara-negara muslim di dunia,” jelasnya.

Menurutnya, Islam Nusantara mampu mengkombinasikan antara ber-Islam secara tekstual dan kontekstual. “Hal ini adalah konsep yang sejalan dengan Maqasid al-Syariah (tujuan-tujuan syariat),” tuturnya.?

Diskusi ini dihadiri oleh Ketua PP Lakpesdam NU, H Yahya Ma’shum beserta seluruh jajaran pengurus pusat lainnya dan peserta dari berbagai unsur organisasi NU dan aktivis Islam Nusantara. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Aswaja Santri An Nur Slawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar