Kamis, 30 November 2017

Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang

Jakarta, Santri An Nur Slawi. Ada perbedaan pelarangan ma lima versi Walisongo dengan ma lima zaman sekarang. Larangan Walisongo mengacu kepada ritual yang dilakukan agama Budha Shiwa dengan salah satu mazhabnya, Bairawa Tantra.

Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang

Menurut Sejarawan dan budayawan Agus Sunyoto, ritual mazhab itu adalah mamsa (daging), matsa (ikan), madya (arak) maiathuna (seks) mudras (semadhi) yang diamalkan dalam lingkaran jamaah di ksetra (kuburan).

Sementara ma lima versi sekarang mengacu kepada lima hal yang tak boleh dilakukan, yaitu madat, madon, main, minum, dan maling. Tetap sama-sama yang dilarang. Tapi acuan pelarangan Walisongo itu mengacu kepada ritual mazhab Bairawa Tantra tersebut.

Santri An Nur Slawi

“Oleh karena itu, wal-wali dulu mengatakan ojo mo limo! (jangan melakukan lima hal, red.) karena itu upacara Pancamakara lingkaran, upacara Pancamatara Bairawa Tantra,” katanya di kantor redaksi Santri An Nur Slawi, gedung PBNU, Jakarta, Sabtu, (9/3).  

Santri An Nur Slawi

Tapi, larangan Walisongo tidak menebar kebencian kepada kelompok yang melakukan, melainkan membuat budaya sendiri. Misalnya Sunan Bonang membuat tandingan dengan membentuk lingkaran jamaah yang disebut kenduri.

Lebih jauh, penulis Suluk Abdul Jalil (7 Jilid) dan Atlas Walisongo tersebut menagatakan, waktu itu, umat Islam tandanya sederhan saja; sudah khitan dan melakukan selamatan sudah dianggap sebagai Muslim.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri An Nur Slawi Meme Islam Santri An Nur Slawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar